Memacu Industrialisasi untuk Menopang Pertumbuhan Berkualitas


Pada tulisan sebelumnya bertajuk “Menemukenali Akar Masalah Keterpurukan Ekonomi” (http://wp.me/p1CsPE-1cc),  detak jantung perekonomian yang lemah menjadi salah satu kendala laju perekonomian Indonesia tidak bisa mengakselerasi.

Persoalan mendasar kedua yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi relatif tinggi tidak berkelanjutan, bahkan cenderung melemah, adalah derap industrialisasi yang meredup. Setelah krisis 1998, pertumbuhan sektor industri manufaktur hampir selalu lebih rendah ketimbang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Padahal Indonesia belum tuntas melalui tahapan industrializing.

Sebelum krisis 1998, pertumbuhan industri manufaktur sempat dua kali lebih tinggi daripada pertumbuhan PDB. Kredit perbankan untuk sektor manufaktur pernah mencapai di atas 40 persen. Namun, setelah krisis sektor ini hanya menikmati belasan persen saja dari keseluruhan kedit perbankan.

Tak ayal, peranan industri manufaktur dalam PDB mengalami kemerostan persisten. Setelah mencapai tingkat tertinggi pada tahun 2001 sebesar 29 persen, sumbangsih industri manufaktur terus merosot sampai mencapai titik terendah pada triwulan II-2015 sebesar 20,9 persen.

ashare

Memasuki tahun 2015, industri manufaktur kian terpuruk. Lima subsektor industri sudah mengalami pertumbuhan negatif, praktis seluruh kelompok industri terkena: migas dan nonmigas, padat karya dan padat modal.

agrowth_mfg

Indonesia mengalami perlambatan industrialisasi ketika peranan sektor industri manufaktur dalam PDB masih relatif rendah. Negara-negara yang telah mencapai kematangan industri pada umumnya sektor industri manufaktur telah mencapai 35 persen PDB baru kemudian berangsur turun digantikan oleh sektor jasa. Peranan sektor industri manufaktur di Indonesia baru mencapai 29 persen PDB sudah turun.

China  mampu menggenjot industri manufaktur sampai mencapai di atas 40 persen PDB. Sedangkan Malaysia di atas 30 persen. Sebaliknya, negara yang tidak kunjung mencapai tahapan industrializing seperti Niger terperangkap sebagai negara termiskin.

amfg_comp

Salah satu implikasi dari pelemahan dini sektor industri manufaktur adalah keterbatasannya menyerap tenaga kerja. Daya serap sektor ini hanya 13,6 persen dari keseluruhan pekerja. Transformasi ketenagakerjaan menjadi terhambat. Pekerja masih saja bertumpuk di sektor pertanian. Karena industri manufaktur gagal menyerap lebih banyak tenaga kerja, maka sektor jasa menjadi andalan dalam menyerap kelebihan tenaga kerja di sektor pertanian. Namun, mengingat sekitar dua pertiga pekerja hanya tamatan SLTP ke bawah, maka bisa dipastikan sebagian besar yang bekerja di sektor jasa adalah pekerja informal.

alabor

Kondisi yang jauh dari optimal itu tampaknya tidak menjadi perhatian utama pemerintahan Jokowi. Tidak terlihat tekat kuat untuk mengakselerasikan industrialisasi. Peranan sektor ini dipatok hanya naik tipis menjadi 21,6 persen pada tahun 2019.

arpjm

Kekayaan Buah Tropis Kita


Pagi ini sarapan berbagai buah yang tersaji di restoran salah satu hotel di Bangkok, persis di sebelah lokasi ledakan bom minggu lalu. Semua buah dicicipi. Ada langsat, markisa, pisang, rambutan, pepaya, semangka, dan lengkeng.

aaaaaaa

Semua buah yang saya cicipi rasanya kalah dengan buah-buahan tropis kita. Duku Palembang dan langsat Pontianak jauh lebih nikmat. Markisa Brastagi dan markisa hutan Sarongge jauh lebih manis ketimbang markisa yang saya santap pagi ini. Pisang kita lebih enak daripada pisang yang tertera di foto. Pepaya pun demikian. Rambutan kita jauh lebih unggul ketimbang rambutan Bangkok.

Satu-satunya yang kita kalah barangkali cuma lengkeng. Namun, dua minggu lalu saya menikmati lengkeng Singkawang ketika bertandang ke Pontianak. Ukuran lengkeng Singkawang sama besar dengan lengkeng Bangkok tetapi rasa manisnya tidak kalah. Karena pasokannya masih terbatas, harga lengkeng Singkawang lebih mahal ketimbang lengkeng Bangkok.

Kita agaknya masih kalah dalam hal kemasan atau penyajian. Langsat Bangkok disajikan masih utuh di tangkainya seperti buah anggur.

Masalah mendasar yang kita hadapi adalah soal harga. Akibat ongkos transportasi yang mahal karena urusan logistik yang buruk, harga buah-buahan di daerah produsen jatuh ketika musim panen. Perbedaan harga di tingkat konsumen bisa sampai lima-delapan kali lipat lebih tinggi ketimbang di tingkat produsen.

aduku

Faisal Basri Nilai Instruksi Buyback Saham BUMN Blunder


Gentur Putro Jati, CNN Indonesia

Selasa, 25/08/2015 18:10 WIB

Jakarta, CNN Indonesia — Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri mempertanyakan kebijakan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno yang menitahkan 13 perusahaan pelat merah membeli kembali (buyback) sahamnya di pasar modal.

Bagi Faisal, menggelontorkan uang sampai Rp 10 triliun untuk melakukan buyback saham sama saja menggarami laut yang tidak memiliki dampak positif bagi perekonomian.

“Perintah Menteri BUMN kepada sejumlah BUMN untuk membeli balik saham-sahamnya patut dipertanyakan. Apakah tindakan itu merupakan inisiatif pribadi Rini Soemarno tanpa konsultasi dengan jajaran menteri ekonomi?” kata Faisal dalam kajiannya, dikutip Selasa (25/8).

Faisal menuturkan harga saham di hampir seluruh pasar modal dunia berguguran. Dow Jones Industrial Average disebutnya turun 588,4 poin atau minus 3,57 persen. Indeks harga saham di Eropa juga turun rata-rata sekitar 4 sampai 5,3 persen.

Sementara intervensi yang dilakukan Pemerintah China terbukti tak kuasa menahan laju kemerosotan indeks harga saham yang sempat minus 8,5 persen kemarin.

“China yang punya kemewahan dalam bentuk likuiditas yang melimpah saja tak mampu menjinakkan pasar saham, apalagi Indonesa yang modalnya paspasan,” tegasnya.

Dalam situasi karut marut ekonomi seperti sekarang, mantan komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tersebut mengatakan seharusnya tidak boleh pejabat publik melakukan inisiatif pribadi dalam menjalankan kebijakannya.

“Semua harus dibicarakan dengan menteri-menteri lainnya, juga dengan Bank Indonesia. Setelah itu satu suara sampaikan pesan ke publik,” kata Faisal.

Dorong Investasi

Kalaupun perusahaan-perusahaan pelat merah memiliki uang berlebih, Faisal menilai akan lebih tepat jika seluruhnya didorong untuk mempercepat investasi. Jangan sampai uang tersebut dihabiskan untuk buyback saham.

“Karena kalau melakukan buyback, dana BUMN yang disimpan di bank akan ditarik. Bank akan mengalami kekeringan dana dan pasti muncul masalah baru,” tegasnya.

Di Istana Bogor kemarin, Menteri BUMN Rini Soemarno mengungkapkan telah menginstruksikan 13 BUMN besar di pasar modal untuk melakukan pembelian kembali sahamnya di pasar modal dengan nilai mencapai Rp 10 triliun. Kebijakan tersebut menurut Rini tepat dilakukan untuk merespons anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir.

“Kami targetkan rencananya mulai besok masuk, pada saat sekarang minimum kita sedang siapkan minimal kita sediakan dana Rp 10 triliun. Total BUMN ada 13 yang besar yang kita lihat. Kita pada dasarnya berkisar di situ Rp 10 triliun kita sediakan, yang listed (terdaftar di bursa),” kata Rini.

Ia menyebut BUMN yang dimintanya melakukan buyback mencakup berbagai sektor seperti perbankan, konstruksi, dan lainnya.

“Kita sedang melihat yang turun berapa, yang turunnya tinggi, ini juga tidak terlepas, dan kita juga ada program untuk ESOP (employee stock option program). Jadi dana yang kita siapkan minimal Rp 10 triliun,” katanya.

Rini mengatakan langkah buyback saham para BUMN bagian dari investasi khususnya BUMN-BUMN yang melantai di bursa, ketika pasar saham sedang lesu. “Sekarang adalah saat yang baik untuk investasi,” kata Rini.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperbolehkan emiten untuk membeli kembali saham tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Ketentuan tersebut ditetapkan melalui Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 22/SEOJK.04/2015 tentang Kondisi Lain sebagai Kondisi Pasar Yang Berfluktuasi Secara Signifikan dalam Pelaksanaan Pembelian Kembali Saham Yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik.

Diunduh dari: Faisal Basri Nilai Instruksi Buyback Saham BUMN Blunder @cnnindonesia http://cnn.id/74430

Buyback Saham Sama Saja dengan Menggarami Laut


Menteri BUMN memerintahkan BUMN yang melantai di bursa melakukan buyback sahamnya (lihat berita bertajuk “Pemerintah Akan “Buyback” Saham BUMN Rp 10 Triliun Besok – Kompas.com http://kom.ps/AFtKlw). Informasi yang saya peroleh dari kalangan istana, tidak ada pembicaraan resmi di antara para menteri ekonomi dan Presiden tentang langkah Menteri BUMN ini. Apakah langkah itu merupakan inisiatif Rini sendiri? Entahlah.

Lebih parah lagi kalau mengunakan dana pensiun seperti tertera di berita @cnnindonesia: “Buyback Saham, Menteri Rini Minta BUMN Gunakan Dana Pensiun”  (http://cnn.id/74489). Uang dana pensiun bukan milik pemerintah atau BUMN. Uang pensiun adalah milik peserta dan hanya dikelola semata-mata untuk kepentingan anggota/peserta. Pengelola dana pensiun bertindak hanya untuk kepentingan terbaik anggotanya. Jika dana pensiun membeli saham, keputusannya dilakukan secara profesional oleh pengelola dana pensiun itu dengan pertimbangan matang demi hasil terbaik bagi peserta. Itu merupakan fiduciary duty dari pengelola dana pesiun.

Mengapa buyback dalam keadaan gonjang-ganjing ekonomi dunia ibarat menggarami lautan? Tengok saja kondisi pasar saham dunia pada akhir April 2015. Hampir semua negara maju dan emerging markets menikmati imbal hasil positif dalam dollar AS.

aapril

Namun, setelah gejolak besar di China, ketika indeks saham Shanghai melorot 8,5 persen, harga saham di hampir seluruh dunia pun berguguran. China yang bergelimangan dana tak kuasa menahan kemerosotan harga sahamnya. Jika pada akhir April indeks saham China (SSEA) paling perkasa di dunia, pada 26 Agustus menderita pertumbuhan negatif 12,4 pesen. Hanya segelintir negara yang mencatatkan pertumbuhan positif.

Posisi Indonesia di kedua titik waktu itu berada di kelompok terburuk bersama dengan Yunani, Turki, dan Brazil.

aaugustHari Kamis (27/8), indeks saham Indonesia mengalami rebound cukup tinggi, yakni 193 poin atau 4,6 persen. Apakah kenaikan ini karena buyback? Tanpa buyback pun, indeks saham kita bakal cenderung menguat sebagaimana terjadi di hampir semua pasar saham dunia. Indeks Shanghai naik 5,34 persen, Hang Seng naik 3,6 persen, Jerman DAX naik 3,18 persen, dan Prancis CAC 40 naik 3,49 persen.

Dalam kondisi pertumbuhan melambat dan laju investasi sangat rendah, sangat bijak kalau dana BUMN digunakan untuk investasi. Kalau BUMN memiliki dana valuta asing, segerakan tukar ke rupiah.

Harga BBM Belum Turun karena Pemerintah Bayar Utang ke Pertamina?


Rabu, 26 Agustus 2015 | 09:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengamat ekonomi politik dari Universitas Indonesia yang juga mantan Ketua Tim Reformasi dan Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi (TRTKM), Faisal Basri, menengarai belum juga diturunkannya harga jual bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan premium yang menjadi domain pemerintah, lantaran pemerintah ingin memperkecil utang ke PT Pertamina (Persero).

Kepada Kompas.com, Faisal menuturkan, pada April 2015 lalu seharusnya harga BBM bersubsidi jenis premium naik menjadi di atas Rp 8.000 per liter. Lebih tepatnya, kata Faisal, di level Rp 8.400 per liter. Lebih jauh dia menerangkan, lantaran premium tidak lagi mendapat subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maka selisih (rugi jual) pada waktu itu dibebankan kepada Pertamina sebagai badan usaha penyalur.

“Nah kalau seharusnya (sekarang) harga premium dan solar turun tapi pemerintah tak menurunkan, sangat boleh jadi pemerintah bayar utang agar kerugian Pertamina berkurang,” kata Faisal, Rabu (26/8/2015).

Kendati begitu, Faisal mengatakan ia yakin harga BBM bisa turun apabila rumus yang digunakan Pertamina untuk menyusun harga jual, direformasi. “Ingat pula kemerosotan rupiah, karena impor pakai dollar. Jika penurunan harga minyak lebih besar dari depresiasi rupiah, harga bbm berpeluang turun,” kata Faisal.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahaean mencoba menghitung harga jual BBM dengan rumus yang biasa digunakan Pertamina dan pemerintah. Pada harga minyak mentah berjalan 40 dollar AS per barel dan kurs 14.000 per dollar AS, maka harga premium seharusnya Rp 5.700 per liter.

Sedangkan pada harga minyak mentah berjalan 50 dollar AS per barel, dan kurs 14.000 per dollar AS, maka harga premium seharusnya Rp 6.900 per liter. Perhitungan Ferdinand, pada saat harga minyak mentah 40 dollar AS per barel dan kurs 14.000 per dollar AS, maka MOPS yang telah dikonversikan, menjadi Rp 3.552,01 per liter. Sedang pada saat harga minyak mentah 50 dollar AS per barel, maka MOPS-nya Rp 4.402,52 per liter.

Namun demikian, Ferdinand mengaku besar kemungkinan teradapat perbedaan hasil hitungan. “Yang suka beda itu, perhitungan kita dengan Pertamina adalah MOPS. Pertamina suka pakai harga beli lama karena stok. Pertanyaannya sekarang, MOPS di angka berapa dollar AS per barel menurut Pertamina?” kata Ferdinand.

Sekadar informasi, harga jual premium saat ini adalah Rp 7.400 per liter di wilayah Jawa dan Bali, sedangkan di luar Jawa dan Bali Rp 7.300 per liter. Adapun solar bersubsidi dijual Rp 6.900 per liter, sedangkan minyak tanah Rp 2.500 per liter.

Pihak Pertamina telah menyampaikan, perseroan menanggung kerugian Rp 12 triliun lantaran menjual premium dan solar di bawah harga keekonomian, sepanjang periode Januari-Juli tahun ini.

Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang menegaskan, harga jual BBM saat ini bisa turun, jika dan hanya jika pada waktu harga crude naik beberapa waktu lalu, harga jual BBM juga dinaikkan.

“Waktu crude naik dulu, harganya belum dinaikkan. Sehingga harus dilihat apakah harga rata-rata satu bulan, tiga bulan, dan enam bulan crude sekarang ini sudah di bawah harga jual sekarang,” kata Ahmad kepada Kompas.com, Senin (25/8/2015).

Penulis: Estu Suryowati

Editor: Erlangga Djumena

Sumber: http://kom.ps/AFtLQs

Faisal Basri: Menurunkan Harga BBM Bentuk Stimulus Nyata bagi Rakyat


Selasa, 25 Agustus 2015 | 11:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Faisal Basri menyarankan pemerintah melakukan tiga langkah yang dia sebut sebagai upaya “menolong” rakyat di tengah merosotnya ekonomi saat ini. Menurut dia, pemerintah harus menjaga daya beli masyakat sekaligus menjaga inflasi terkendali di level rendah.

“Tidak banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk menolong rakyat. APBN sedang dalam tekanan. Penerimaan negara dari pajak dan dari minyak sangat tertekan. Belanja harus dipangkas. Pemerintah berkonsentrasi saja mengurus dirinya sendiri. Yang penting jangan ganggu konsumsi rumah tangga dan investasi swasta,” tulis Faisal seperti dikutip dalam blog pribadinya, Jakarta, Senin (24/8/2015).

Langkah pertama, Faisal menyarankan pemerintah menurunkan harga BBM bersubsidi dan mencermati penetapan harga BBM tak bersubsidi agar tetap sesuai dengan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM yakni terdapat margin keuntungan maksimum 10 persen. “Inilah bentuk stimulus nyata bagi rakyat banyak”, kata dia.

Selanjutnya langkah kedua, Faisal meminta pemerintah jangan main-main dengan kuota impor sapi. Menurut dia apabila pemerintah main-main dengan kuota impor sapi, justru hanya menguntungkan para pengusaha penggemukan sapi. Di sisi lain, masyakat justru menanggung beban lantaran harga daging sapi menjadi mahal.

Sementara langkah ketiga, pemerintah disarankan harus memermudah investasi. Saat ini kata dia, ada perusahaan minyak asing besar (major oil company) yang hendak investasi senilai 12 miliar dollar AS tetapi kesulitan investasi di Indonesia.

Ada lagi kata Faisal, perusahaan asing yang hendak menjual gas ke PLN, sudah lima bulan tetapi tidak ditanggapi oleh PLN.

Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas itu yakin, jika ketiga hal yang ia sarankan terealisasi, maka rakyat akan amat terbantu di tengah kondisi ekonomi yang sulit saat ini.

Penulis: Yoga Sukmana

Editor: Erlangga Djumena

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2015/08/25/110100426/Faisal.Basri.Menurunkan.Harga.BBM.Ben

Menemukenali Akar Masalah Keterpurukan Ekonomi


Perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah memasuki tahun keempat. kemerosotan ekspor juga sudah memasuki tahun keempat. Nilai tukar rupiah terus mengalami kecenderungan melemah pun sejak empat tahun silam setelah mencapai titik terkuatnya Rp 8.460 pada 2 Agustus 2011.

Jadi tidak ada yang baru dan serba mendadak. Bedanya, belakangan ini pemburukan mengakselerasi. Tak usah menyalahkan pihak atau faktor luar sebagaimana kerap diklaim oleh pemerintah dan Bank Indonesia. Bahkan berkali-kali Menteri Keuangan mengatakan kemerosotan rupiah murni disebabkan faktor eksternal.

Kalau memang murni faktor eksternal, mengapa Indonesia terpuruk sedemikian dalam dibandingkan negara-negara tetangga seperti Vietnam, Filipina, dan Thailand.

Ibarat virus yang senantiasa gentayangan di seputar kita, tubuh kita tidak akan mudah terserang penyakit jika daya tahan tubuh kita prima. Kalau ternyata kita amat mudah terserang virus, berarti daya tahan kita lemah. Ada sesuatu yang bermasalah di dalam tubuh kita.

Demikian pula dengan sosok perekonomian. Jika perekonomian sangat rentan terhadap gejolak eksternal, berarti daya tahan perekonomian Indonesia sangat rapuh, sedemikian mudah diombang-ambingkan oleh hembusan dari luar. Bank Sentral Amerika Serikat baru saja mewacanakan kenaikan suku bunga, kita sudah muntah darah berkepanjangan. Yunani mengalami gagal bayar utang-utangya, kita juga terkena imbasnya. China mendevaluasi mata uangnya, pasar saham dan rupiah lungkai.

Dulu, di masa Orde Baru hingga krisis besar tahun 1998, ketika rupiah anjlok ekspor naik tajam. Sekarang, rupiah lunglai dari Rp 8.460 per dollar AS menjadi Rp 14.102 per dollar AS (kurs kemarin, 26/8), ekspor terus merosot, bahkan merosotnya semakin tajam.

Sepatutnya kita menelisik akar masalahnya, seperti kita menemukenali akar masalah mengapa tubuh kita kerap terserang penyakit, sering lemas, dan tak bisa berlari kencang. Mungkin kurang darah, mungkin jantung lemah sehingga tidak bisa menyedot dan memompakan darah secara optimal, mungkin ada pembuluh darah yang tersumbat, boleh jadi ada luka di dalam tubuh sehingga demam tinggi, dan sebagainya. Untuk itu, ada baiknya melakukan check-up atau general medical examination.

Setelah mencermati dengan lebih mendalam berdasarkan data yang tersedia, kita menjumpai beberapa masalah struktural.

Pertama, jantung perekonomian amat lemah. Kemampuannya menyedot dan memompakan darah amat rendah. Kemampuan menyedot darah, sebagaimana tercermin dari besarnya dana pihak ketiga perbankan hanya 40 persen PDB; sedangkan kemampuan memompakan darah, sebagaimana terlihat dari besarnya kredit perbankan hanya 35,6 persen PDB. Bandingkan dengan negara tetangga di ASEAN yang kebanyakan di atas 100 persen.

akredit

Bagaimana mungkin jantung bakal berfungsi optimal jika financial inclusion index kita masih teramat rendah. Jumlah kantor bank saja hanya 20.118, melayani penduduk yang berjumlah 250 juta lebih. Hanya 36 persen orang dewasa yang terhubung dengan layanan perbankan dan lembaga keuangan lainnya.

afininc

Jumlah bank di Indonesia teramat banyak, tidak kunjung mengalami konsolidasi. Ada 119 bank tetapi kecil-kecil. Di kancah ASEAN bank-bank kita tercecer. Menurut besarnya ekuitas, bank terbesar, Bank Mandiri, hanya di urutan ke-8. Tiga bank terbesar di ASEAN semuanya bank Singapura. Berdasarkan besaran asset, Bank Mandiri di urutan ke-11. Tiga besar juga diduduki seluruhnya oleh bank Singapura. Di urutan 4-6 seluruhnya diduduki bank Malaysia, dan di urutan 7-10 seluruhnya diduduki bank Thailand.

aequity

aaset

Kalaulah pemerintah memiliki komitmen yang kuat untuk memperkokoh jantung perekonomian, gabungkan saja Bank Mandiri dan Bank BNI menjadi “Bank Nusantara”. Serta merta posisi “Bank Nusantara” naik ke urutan ke-5 dari segi ekuitas dan urutan ke-7 dari segi asset.

Dengan begitu, jantung perekonomian bakal semakin kuat, mampu merambah ke berbagai pelosok tanah air dan menyalurkan kredit ke semakin banyak pengusaha. Sehingga, ketergantungan kita pada kucuran darah dari luar negeri bakal berkurang.

(bersambung)

Tindakan Segera: Amputasi Belanja Pemerintah


Harga saham berguguran di seantero dunia. Dow Jones Industrial Average turun 588,4 poin atau minus 3,57 persen. Indeks harga saham di Eropa juga turun rata-rata sekitar 4 sampai 5,3 persen. Intervensi pemerintah China tak kuasa menahan laju kemerosotan indeks harga saham. Kemarin indeks Shanghai melorot 8,5 persen.

China yag punya kemewahan dalam bentuk kemelimpahan likuiditas saja tak mampu menjinakkan pasar saham, apatah lagi Indonesa yang modalnya paspasan. Perintah menteri BUMN kepada sejumlah BUMN untuk membeli balik saham-sahamnya (buyback) patut dipertanyakan. Apakah tindakan itu merupakan inisiatif pribadi Rini Sumarno tanpa konsultasi dengan jajaran menteri ekonomi?

Menghadapi situasi genting seperti sekarang, tidak boleh ada inisiatif pribadi. Semua harus dibicarakan dengan menteri-menteri lainnya, juga dengan Bank Indonesia. Setelah itu satu suara sampaikan pesan ke publik.

Menggelontorkan uang sampai Rp 10 triliun untuk buyback saham sama saja menggarami lautan.

Kalau BUMN punya uang lebih, dorong mereka untuk mempercepat investasi, jangan buyback saham. Seandainya melakukan buyback, dana BUMN yang disimpan di bank akan ditarik. Bank akan mengalami kekeringan dana. Muncul masalah baru.

Pemerintah jangan ngotot dengan rencana belanja. Amputasilah besaran belanja. Tunda proyek-proyek yang kurang mendesak. Kalau dipaksakan, seraya penerimaan negara diperkirakan bakal seret, amat bahaya kalau pembiayaan belanja pemerintah diperoleh dari tambahan utang dengan mengeluarkan surat utang negara atau global bonds. Paling banter pinjam dari lembaga internasional seperti Bank Dunia dan ADB.

Bijak Menghadapi Gejolak Ekonomi Dunia


Hari ini (24/8) nilai tukar rupiah nyaris (Rp 2 rupiah lagi) menembus Rp 14.000 per dollar AS. Indeks harga saham sudah turun 20,34 persen (year-to-date) dan 19,91 persen (year-on-year) dan hari ini ditutup di aras 4.163,729, turun 3,97 persen.

Kemerosotan nilai tukar dan pasar saham dialami semua emerging markets tanpa kecuali. Hari ini, indeks saham Shanghai melorot 8,49 persen. Indeks Hang Seng turun 5,17 persen.

Beberapa menit lalu, harga minyak mentah WTI sudah menjauh dari 40 dollar AS per barrel, persisnya 38,97 dollar per barrel; sedangkan harga minyak mentah Brent merosot ke aras 43,88 dollar AS per barrel.

Semua harga komoditi di laman http://online.wsj.com/mdc/public/page/mdc_commodities.html berwarna merah, tanpa kecuali, termasuk harga emas.

Di tengah gejolak perekonomian dunia yang dipicu oleh ketidakmampuan pemerintah China mengendalikan pasar saham (dan boleh jadi juga dalam meredam kemerosotan perekonomian) serta ketidakpastian langkah The Fed, ada baiknya pemerintah bekerja keras untuk melindungi sebagian besar rakyatnya.

Langkah yang diperlukan untuk itu adalah menjaga agar inflasi terkendali di level rendah, terutama harga pangan dan kebutuhan pokok lainnya. Jika Indonesia bisa memanfaatkan momentum penurunan harga berbagai komoditas di pasar dunia, rasanya inflasi bakal rendah. Memang ada efek negatif terhadap inflasi dari pelemahan rupiah. Namun, penurunan harga-harga komoditas di pasar dunia cukup banyak yang lebih tajam dari penurunan nilai tukar rupiah, sehingga efek nettonya positif terhadap inflasi.

Tidak banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk menolong rakyat. APBN sedang dalam tekanan. Penerimaan negara dari pajak dan dari minyak sangat tertekan. Belanja harus dipangkas. Pemerintah berkonsentrasi saja mengurus dirinya sendiri. Yang penting jangan ganggu konsumsi rumah tangga dan investasi swasta.

Ada tiga langkah yang dapat dilakukan pemerintah untuk mencapai tujuan itu. Pertama, turunkan harga BBM bersubsidi dan cermati penetapan harga BBM tak bersubsidi agar sesuai dengan kepmen ESDM (margin maksimum 10 persen). Inilah bentuk stimulus nyata bagi rakyat banyak.

Kedua, jangan main-main dengan kuota impor. Kuota impor daging, misalnya, hanya menguntungkan para pengusaha penggemukan sapi.

Ketiga, permudah investasi. Ada perusahaan minyak asing besar (major oil company) yang hendak investasi 12 miliar dollar AS tetapi sulitnya setengah mati. Ada perusahaan asing yang hendak menjual gas ke PLN sudah lima bulan dicueki oleh dirut PLN.

Kalau ketiga hal itu terealisasikan, rakyat kebanyakan akan amat terbantu.

Blog at WordPress.com.

Up ↑