Mau Tumbuh Lebih Tinggi? Jangan “Grusa-grusu”


startup_trends
yourstorys.com

Pertumbuhan ekonomi berdasarkan pendekatan pengeluaran dipengaruhi oleh konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, pembentukan modal tetap bruto, serta ekspor dan impor. Porsi terbesar dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia adalah konsumsi masyarakat. Komponen terbesar kedua adalah pembentukan modal tetap bruto atau invetasi. Ekspor menduduki posisi ketiga, sedangkan impor merupakan pengurang yang porsinya hampir sama dengan ekspor, sehingga secara netto (ekspor minus impor) mendekati nol. Penyumbang terendah adalah belanja atau konsumsi pemerintah.

growth-exp

Dalam tiga tahun terakhir konsumsi rumah tangga (private consumption) tumbuh sekitar 5 persen. Jika pertumbuhan konsumsi rumah tangga bisa dipertahankan di kisaran 5 persen dan komponen lainnya tidak tumbuh, pertumbuhan ekonomi sudah bisa mencapai 2,8  persen. Artinya, sumbangan konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 56 persen. Sisanya sebesar 44 persen berasal dari tiga komponen lainnya.

Mengingat komponen belanja pemerintah paling kecil dan tidak bisa diharapkan naik tajam karena kendala penerimaan pajak, sumbangannya terhadap pertumbuhan ekonomi sangat tidak berarti.

Nilai ekspor dalam dua bulan terakhir tumbuh cukup tinggi sebesar 19,2 persen. Ini pertanda baik mengingat selama 5 tahun berturut-turut (2012-2016) nilai ekspor terus menerus mengalami penurunan. Namun, impor pun naik cukup tajam, sehingga sumbangan ekspor dan impor bagi pertumbuhan ekonomi bakal relatif sangat rendah.

Jika hendak tumbuh 5 persen atau lebih, mau tak mau harus bertumpu pada investasi. Sektor swasta menyumbang sekitar 90 persen terhadap investasi total sedangkan sektor pemerintah (pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dan BUMD) hanya menyumbang 10 persen. Jadi, geliat investasi swasta paling menentukan. Tak heran jika pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi oleh fluktuasi pertumbuhan investasi.

swasta credit_gdp_growth

Investasi swasta sangat ditopang oleh kredit perbankan. Amat berat pertumbuhan bisa mencapai di atas 5 persen jika pertumbuhan kredit hanya satu digit. Sudah 13 bulan pertumbuhan kredit selalu di bawah 10 persen. Ruang gerak untuk ekspansi kredit terbatas karena loan-to-deposit ratio telah mendekati 90 persen dan kredit macet naik ke aras 3,1 persen pada Januari 2017 dibandingkan 2,9 persen sebulan sebelumnya.

Jika pemerintah semakin agresif menerbitkan surat utang di dalam negeri, perbankan bakal kesulitan mendapatkan tambahan dana masyarakat dalam jumlah yang memadai agar pertumbuhan kredit bisa mencapai dua digit.

credit_tpf

Tidak banyak yang bisa dilakukan dalam jangka pendek untuk menggenjot dana pihak ketiga dan penyaluran kredit. Kapasitas perbankan kita masih sangat rendah dalam penetrasi kredit, hanya separuh dari Malaysia dan Vietnam, hanya sepertiga dibandingkan dengan Thailand dan China.

Meskipun nisbah kredit terhadap PDB merangkak naik namun belum kunjung mencapai aras sebelum krisis 1998. Setelah krisis, pertumbuhan ekonomi tak pernah lagi mencapai 7 persen. Pertumbuhan  ekonomi rerata 2000-2009 hanya 5,1 persen dan selama 2001-2016 naik menjadi 5,6 persen.

kreditcredit_penetration

Satu-satunya pendorong agar pertumbuhan ekonomi lebih tinggi mendekati 6 persen adalah suntikan dari penanaman modal asing langsung. Peningkatan PMA langsung tahun 2016 sebesar 4 miliar dollar AS turut membantu peningkatan pertumbuhan PDB dari 4,8 persen tahun 2015 menjadi 5,0 persen tahun 2016.

Semoga pemerintah tidak gegabah mengambil tindakan dalam kasus divestasi perusahaan-perusahaan asing di Indonesia, setidaknya untuk sementara. Pengalihan saham dari asing ke pemerintah atau BUMN tidak akan meningkatkan produksi karena sebatas pengalihan kepemilikan. Kalau ada dana “menganggur” yang direncanakan untuk mengambil alih pemilikan perusahaan asing, sebaiknya dana itu dialihkan untuk proyek baru atau proyek perluasan atau ekspansi yang nyata-nyata lebih prospektif ketimbang pengambilalihan saham.

Jangan pula pemerintah “grusa-grusu” atau “ugal-ugalan” dalam menyelesaikan suatu masalah. Misalnya memaksa perbankan, khususnya bank-bank BUMN, untuk menyalurkan kredit bagi percepatan pembangunan proyek infrastruktur yang sebenarnya bisa ditunda satu-dua tahun dan atau menekan perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit. Tindakan-tindakan itu bakal merusak fondasi perbankan dalam jangka menengah dan jangka panjang sehingga justru kontra-produktif dalam meningkatkan penetrasi kredit perbankan.

 

 

 

 

Bursa Saham Indonesia Cetak Rekor Baru


ec
economist.com

Keputusan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 0,75 persen pada 15 Maret 2017 lalu direspon dengan penuh gairah. The Economist menyebutnya: “The global economy enjoys a synchronsed upswing.”

Hampir semua pasar saham dunia yang masuk dalam radar majalah mingguan The Economist mencatatkan kenaikan indeks. Hanya tiga negara yang mengalami penurunan (year-to-date) dalam $ term, yaitu Saudi Arabia, Colombia, dan Rusia yang mengalami kemerosotan terdalam.

Indonesia tercecer di antara Emerging Markets dengan kenaikan dalam $ term hanya 3,4 persen, hanya lebih baik ketimbang Thailand dan Pakistan. Tahun lalu Indonesia terbaik ketiga di Asia.

global

Indonesia berpeluang menempati posisi lebih baik seandainya bisa menjaga momentum dalam dua hari terakhir. Kemarin (16/3) indeks harga saham gabungan melesat 86 poin atau 1,6 persen.

Hari ini indeks memecahkan rekor baru setelah penantian hampir dua tahun. Bank Indonesia cukup percaya diri dengan mempertahankan 7-Day Repo Rate di aras 4,75 persen hari ini.

idx

Sesat Pikir Wapres “Bunga Deposito Harus Turun”


Wakil Presiden dan para petinggi pemerintahan, termasuk Presiden dan Gubernur Bank Indonesia dan Ketua OJK, kerap mengatakan suku bunga harus turun. Hari ini (28/8) kembali Wapres mengatakan hal serupa: Bunga Deposito Harus Turun Agar Pasar Modal RI Lebih Menarik. Menurut Wapres, pasar modal baru menarik jika bunga deposito sekitar 5 persen.

Kenyataannya, pasar modal kita sudah lumayan bergairah. Indeks harga saham gabungan naik tajam sejak awal Juli 2016. Hingga akhir pekan ini, indeks saham naik 18,42 persen (year-to-date). Jika dibandingkan dengan setahun yang lalu, indeks sudah melaju 28,34 persen.

idx

Pasar saham Indonesia sangat bergairah jika dibandingkan dengan emerging markets. Per 24 Agustus 2016, kinerja pasar saham Indonesia tahun ini dalam US$ term terbaik kedua di Asia dan keempat di dunia.

global

Arus modal portofolio sebagaimana dilaporkan oleh Bank Indonesia pun cukup besar selama semester I 2016, yaitu 13 miliar dollar AS, dua kali lipat lebih dari penanaman modal asing langsung. Tahun ini diperkirakan modal portofolio bakal melampaui tahun lalu.pdi

Mengapa suku bunga deposito dan suku bunga kredit sulit turun secara signifikan? Pertama, pemerintah semakin gencar berutang akibat tekanan fiskal (APBN). Agar surat utang pemerintah laku, imbal hasilnya harus menarik. Maret lalu pemerintah mengeluarkan Sukuk Ritel dengan imbal hasil sangat menarik, 8,3 persen, di atas rata-rata bunga deposito. Dewasa ini pemerintah sedang menawarkan Sukuk Tabungan perdana (ST001) yang imbal hasilnya bersaing dengan deposito.

Pak Wapres, salah satu penyebab bunga deposito susah turun adalah pemerintah sendiri yang gencar berutang, menjadi pesaing utama perbankan. Bapak baiknya melihat laju pertumbuhan deposito yang nyaris stagnan, hanya naik 1,97 persen pada Juni 2016 dibandingkan Juni 2015. Sudah hampir setahun pertumbuhan deposito melorot tajam, terjun bebas dari tingkat tertingginya sebesar 26,1 persen pada Februari 2015.

Berharap Pak Wapres lebih piawai menakhodai negeri ini bersama Pak Presiden.

td

 

 

 

Bertaburan Berita Baik


Hari ini Badan Pusat Statistik mengumumkan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2016 mencapai 5,18 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 4,91. Walhasil, selama paruh pertama 2016 pertumbuhan ekonomi bisa menembus 5 persen, persisnya 5,04 persen. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga kembali menembus 5 persen. Konsumsi pemerintah naik tajam dari hanya 2,94 persen pada triwulan I-2016 menjadi 6,28 pada triwulan II-2016. Sayangnya pertumbuhan investasi menurun dan ekspor masih saja berkontribusi negatif (pertumbuhan minus). Impor juga mengkerut, menandakan industri manufaktur belum mampu mengakselerasi. Dengan demikian, penguatan pertumbuhan lebih didorong oleh konsumsi. Sejauh ini 12 paket kebijakan ekonomi belum menunjukkan hasil nyata.

Indeks harga saham gabungan di bursa saham Indonesia meresponsnya dengan positif. Hari ini indeks menembus 5.400. Dengan bertengger di angka  5.420 membuat kenaikan year-to-date sebesar 18,01 persen. Persentase kenaikan dalam dollar AS lebih tinggi lagi sejalan dengan penguatan rupiah. Per Rabu, 3 Agustus 2016, peningkatan dalam dollar AS year-to-date mencapai 22,4 persen, tertinggi di Asia dan tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Pencapaian Indonesia jauh di atas rerata Emerging Market.

global_stock_markets

Hampir semua negara maju mengalami tekanan sepanjang tahun ini. Pasar saham AS, Dow Jones, agak lumayan tetapi relatif jauh di bawah kinerja Emerging Markets. Bahkan disparitasnya kian melebar.

us_em-1x-1

Nilai tukar rupiah bergerak tipis selama minggu ini di kisaran Rp 13.100 per dollar AS. Ada peluang minggu depan menguat ke Rp 12.000-an per dollar AS.

Berita positif lain hari ini diumumkan oleh Bank Indonesia. Cadangan devisa pada akhir Juli bertambah 1,62 miliar dollar AS dibandingkan poses akhir Juni, menjadi 111,4 miliar dollar AS.

Pekerjaan rumah masih banyak. Pemerintah fokus membenahi sisi fiskal, dengan menempuh pilihan amputasi. Tak tanggung-tanggung, belanja negara dipotong 134 triliun, pertanda tim ekonomi baru pesimistik dengan program tax amnesty.

Tantangan ke depan adalah penajaman kebijakan yang menohok ke masalah struktural. Modal politik pemerintah lebih dari cukup, asalkan jangan justru menimbulkan praktek kroniisme dan pemburuan rente yang kian marak karena partai-partai haus menyongsong pemilu 2019.

 

Perkasa Tiga Minggu Berturut-turut


Luar biasa. Kinerja indeks saham Indonesia dalam USD terms terbaik di dunia tiga minggu berturut-turut. Per 2 Maret, meningkat 9,2 persen (year-to-date). Selain karena indeks meningkat hingga menembus aras 4.800, juga disebabkan oleh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

tiga

Hingga 4 Maret 2016, indeks saham Indonesia telah mengalami peningkatan 17,56 persen dibandingkan posisi terendah 28 September2015. Jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2015, indeks saham Indonesia naik 5,47 persen. Namun, jika dibandingkan posisi setahun yang lalu (year-on-year), indeks kita masih mengalami penurunan sebesar 11.52 persen.

Bloomberg juga menangkap geliat pasar saham dan rupiah.

bloom

Hari ini indeks saham dan rupiah melanjutkan trend kenaikan. Indeks ditutup pada aras 4.850,883 sedangkan rupiah menguat ke aras Rp 13.159.

Sentimen positif selama tiga minggu terakhir diharapkan bakal berlanjut jika pemerintah tidak  melakukan kesalahan tak perlu. Pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan di antara para pembantu presiden tidak sepatutnya dihumbar ke publik. Serahkan saja ke Menko Perekonomian agar sinyal ke pasar kuat.

Harus terus diantisipasi efek balik lalulintas modal, karena tahun ini diperkirakan modal keluar dari emerging markets masih cukup besar walaupun tidak sebesar tahun lalu yang mencapai lebih dari setengah triliun dollar AS.

Kunci bagi perbaikan berkelanjutan adalah pembenahan struktural, antara lain menyemaraskkan industrialisasi dan memerangi berbagai distorsi pasar yang kian meruyak.

 

Pasar Saham Indonesia Terbaik Dua Minggu Berturut-turut


Walaupun dalam seminggu terakhir mengalami fluktuasi, indeks saham gabungan di Bursa Efek Indonesia menunjukkan kinerja terbaik di dunia. Per 24 Februari 2016 (year-to-date), indeks saham Indonesia mengalami pertumbuhan 4,2 persen dalam US dollar terms. Kali ini Indonesia ditemani Thailand pada posisi teratas. Minggu lalu, Indonesia juga menduduki posisi teratas, dengan kenaikan indeks 5,9 persen, sedangkan Thailand di posisi kedua..

Dalam rupiah (local currency) indeks saham Indonesia hanya naik 1,4 persen. Penguatan rupiah dari Rp 13.504 per dollar AS pada 17 Februari menjadi Rp 13,416  per dollar AS turut membantu kinerja indeks saham dalam US dollar terms.

Emerging markets secara keseluruhan berdasarkan MSCI (Morgan Stanley Capital International) masih mengalami tekanan (minus 7,3 persen), namun lebih baik ketimbang hampir semua negara maju, termasuk indeks saham Euro area (FTSE Euro 100) yang turun 11,7 persen.

global_stock_market-1global_stock_market-2

Jika kestabilan makroekonomi kian membaik dan nilai tukar rupiah lambat laun menguat, ada harapan indeks saham Indonesia bisa mencetak rekor baru tahun ini. Rekor tertinggi terakhir tercatat pada aras 5.514,787 yang terjadi pada 6 Maret 2015. Kemarin (25 Februari), indeks bertengger di aras 4.658,323.

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑