Memacu Industrialisasi untuk Menopang Pertumbuhan Berkualitas

Pada tulisan sebelumnya bertajuk “Menemukenali Akar Masalah Keterpurukan Ekonomi” (http://wp.me/p1CsPE-1cc),  detak jantung perekonomian yang lemah menjadi salah satu kendala laju perekonomian Indonesia tidak bisa mengakselerasi.

Persoalan mendasar kedua yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi relatif tinggi tidak berkelanjutan, bahkan cenderung melemah, adalah derap industrialisasi yang meredup. Setelah krisis 1998, pertumbuhan sektor industri manufaktur hampir selalu lebih rendah ketimbang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Padahal Indonesia belum tuntas melalui tahapan industrializing.

Sebelum krisis 1998, pertumbuhan industri manufaktur sempat dua kali lebih tinggi daripada pertumbuhan PDB. Kredit perbankan untuk sektor manufaktur pernah mencapai di atas 40 persen. Namun, setelah krisis sektor ini hanya menikmati belasan persen saja dari keseluruhan kedit perbankan.

Tak ayal, peranan industri manufaktur dalam PDB mengalami kemerostan persisten. Setelah mencapai tingkat tertinggi pada tahun 2001 sebesar 29 persen, sumbangsih industri manufaktur terus merosot sampai mencapai titik terendah pada triwulan II-2015 sebesar 20,9 persen.

ashare

Memasuki tahun 2015, industri manufaktur kian terpuruk. Lima subsektor industri sudah mengalami pertumbuhan negatif, praktis seluruh kelompok industri terkena: migas dan nonmigas, padat karya dan padat modal.

agrowth_mfg

Indonesia mengalami perlambatan industrialisasi ketika peranan sektor industri manufaktur dalam PDB masih relatif rendah. Negara-negara yang telah mencapai kematangan industri pada umumnya sektor industri manufaktur telah mencapai 35 persen PDB baru kemudian berangsur turun digantikan oleh sektor jasa. Peranan sektor industri manufaktur di Indonesia baru mencapai 29 persen PDB sudah turun.

China  mampu menggenjot industri manufaktur sampai mencapai di atas 40 persen PDB. Sedangkan Malaysia di atas 30 persen. Sebaliknya, negara yang tidak kunjung mencapai tahapan industrializing seperti Niger terperangkap sebagai negara termiskin.

amfg_comp

Salah satu implikasi dari pelemahan dini sektor industri manufaktur adalah keterbatasannya menyerap tenaga kerja. Daya serap sektor ini hanya 13,6 persen dari keseluruhan pekerja. Transformasi ketenagakerjaan menjadi terhambat. Pekerja masih saja bertumpuk di sektor pertanian. Karena industri manufaktur gagal menyerap lebih banyak tenaga kerja, maka sektor jasa menjadi andalan dalam menyerap kelebihan tenaga kerja di sektor pertanian. Namun, mengingat sekitar dua pertiga pekerja hanya tamatan SLTP ke bawah, maka bisa dipastikan sebagian besar yang bekerja di sektor jasa adalah pekerja informal.

alabor

Kondisi yang jauh dari optimal itu tampaknya tidak menjadi perhatian utama pemerintahan Jokowi. Tidak terlihat tekat kuat untuk mengakselerasikan industrialisasi. Peranan sektor ini dipatok hanya naik tipis menjadi 21,6 persen pada tahun 2019.

arpjm

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Development, Industri. Bookmark the permalink.

3 Responses to Memacu Industrialisasi untuk Menopang Pertumbuhan Berkualitas

  1. Bacan says:

    bagus bang, mencerahkan seperti biasa, alhamdulillah bisa enikmati pemikiran bang faisal lewat blog ini

    mahasiswa UI

  2. Michael A. Purwoadi says:

    Sayang tabel perbandingan share manufactur industry dan sektor lainnya terhadap GDPnya tidak lengkap terlihat pak Faisal. Bandingkan dng sektor pariwisata, atau sektor pertanian / perikanan. (industri pengolahan makanan ternyata cukup besar growthnya).

    • faisal basri says:

      Maaf datanya tidak rinci. Tapi yang tertera sudah mewakili hampir semua populasi. Industri makanan dan minuman memang kinerjanya bagus. Ini sejalan dengan pertumbuhan kelas menengah dan dinamika demografi.

      Terima kasih banyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s