Menemukenali Akar Masalah Keterpurukan Ekonomi


Perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah memasuki tahun keempat. kemerosotan ekspor juga sudah memasuki tahun keempat. Nilai tukar rupiah terus mengalami kecenderungan melemah pun sejak empat tahun silam setelah mencapai titik terkuatnya Rp 8.460 pada 2 Agustus 2011.

Jadi tidak ada yang baru dan serba mendadak. Bedanya, belakangan ini pemburukan mengakselerasi. Tak usah menyalahkan pihak atau faktor luar sebagaimana kerap diklaim oleh pemerintah dan Bank Indonesia. Bahkan berkali-kali Menteri Keuangan mengatakan kemerosotan rupiah murni disebabkan faktor eksternal.

Kalau memang murni faktor eksternal, mengapa Indonesia terpuruk sedemikian dalam dibandingkan negara-negara tetangga seperti Vietnam, Filipina, dan Thailand.

Ibarat virus yang senantiasa gentayangan di seputar kita, tubuh kita tidak akan mudah terserang penyakit jika daya tahan tubuh kita prima. Kalau ternyata kita amat mudah terserang virus, berarti daya tahan kita lemah. Ada sesuatu yang bermasalah di dalam tubuh kita.

Demikian pula dengan sosok perekonomian. Jika perekonomian sangat rentan terhadap gejolak eksternal, berarti daya tahan perekonomian Indonesia sangat rapuh, sedemikian mudah diombang-ambingkan oleh hembusan dari luar. Bank Sentral Amerika Serikat baru saja mewacanakan kenaikan suku bunga, kita sudah muntah darah berkepanjangan. Yunani mengalami gagal bayar utang-utangya, kita juga terkena imbasnya. China mendevaluasi mata uangnya, pasar saham dan rupiah lungkai.

Dulu, di masa Orde Baru hingga krisis besar tahun 1998, ketika rupiah anjlok ekspor naik tajam. Sekarang, rupiah lunglai dari Rp 8.460 per dollar AS menjadi Rp 14.102 per dollar AS (kurs kemarin, 26/8), ekspor terus merosot, bahkan merosotnya semakin tajam.

Sepatutnya kita menelisik akar masalahnya, seperti kita menemukenali akar masalah mengapa tubuh kita kerap terserang penyakit, sering lemas, dan tak bisa berlari kencang. Mungkin kurang darah, mungkin jantung lemah sehingga tidak bisa menyedot dan memompakan darah secara optimal, mungkin ada pembuluh darah yang tersumbat, boleh jadi ada luka di dalam tubuh sehingga demam tinggi, dan sebagainya. Untuk itu, ada baiknya melakukan check-up atau general medical examination.

Setelah mencermati dengan lebih mendalam berdasarkan data yang tersedia, kita menjumpai beberapa masalah struktural.

Pertama, jantung perekonomian amat lemah. Kemampuannya menyedot dan memompakan darah amat rendah. Kemampuan menyedot darah, sebagaimana tercermin dari besarnya dana pihak ketiga perbankan hanya 40 persen PDB; sedangkan kemampuan memompakan darah, sebagaimana terlihat dari besarnya kredit perbankan hanya 35,6 persen PDB. Bandingkan dengan negara tetangga di ASEAN yang kebanyakan di atas 100 persen.

akredit

Bagaimana mungkin jantung bakal berfungsi optimal jika financial inclusion index kita masih teramat rendah. Jumlah kantor bank saja hanya 20.118, melayani penduduk yang berjumlah 250 juta lebih. Hanya 36 persen orang dewasa yang terhubung dengan layanan perbankan dan lembaga keuangan lainnya.

afininc

Jumlah bank di Indonesia teramat banyak, tidak kunjung mengalami konsolidasi. Ada 119 bank tetapi kecil-kecil. Di kancah ASEAN bank-bank kita tercecer. Menurut besarnya ekuitas, bank terbesar, Bank Mandiri, hanya di urutan ke-8. Tiga bank terbesar di ASEAN semuanya bank Singapura. Berdasarkan besaran asset, Bank Mandiri di urutan ke-11. Tiga besar juga diduduki seluruhnya oleh bank Singapura. Di urutan 4-6 seluruhnya diduduki bank Malaysia, dan di urutan 7-10 seluruhnya diduduki bank Thailand.

aequity

aaset

Kalaulah pemerintah memiliki komitmen yang kuat untuk memperkokoh jantung perekonomian, gabungkan saja Bank Mandiri dan Bank BNI menjadi “Bank Nusantara”. Serta merta posisi “Bank Nusantara” naik ke urutan ke-5 dari segi ekuitas dan urutan ke-7 dari segi asset.

Dengan begitu, jantung perekonomian bakal semakin kuat, mampu merambah ke berbagai pelosok tanah air dan menyalurkan kredit ke semakin banyak pengusaha. Sehingga, ketergantungan kita pada kucuran darah dari luar negeri bakal berkurang.

(bersambung)

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Development, Financial Sector, Makroekonomi. Bookmark the permalink.

One Response to Menemukenali Akar Masalah Keterpurukan Ekonomi

  1. luar negeri says:

    Ketrpurukan Ekonomi pada saat ini salah presiden atau salah sistem di negara ini kah ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s