Harga BBM Belum Turun karena Pemerintah Bayar Utang ke Pertamina?


Rabu, 26 Agustus 2015 | 09:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengamat ekonomi politik dari Universitas Indonesia yang juga mantan Ketua Tim Reformasi dan Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi (TRTKM), Faisal Basri, menengarai belum juga diturunkannya harga jual bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan premium yang menjadi domain pemerintah, lantaran pemerintah ingin memperkecil utang ke PT Pertamina (Persero).

Kepada Kompas.com, Faisal menuturkan, pada April 2015 lalu seharusnya harga BBM bersubsidi jenis premium naik menjadi di atas Rp 8.000 per liter. Lebih tepatnya, kata Faisal, di level Rp 8.400 per liter. Lebih jauh dia menerangkan, lantaran premium tidak lagi mendapat subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maka selisih (rugi jual) pada waktu itu dibebankan kepada Pertamina sebagai badan usaha penyalur.

“Nah kalau seharusnya (sekarang) harga premium dan solar turun tapi pemerintah tak menurunkan, sangat boleh jadi pemerintah bayar utang agar kerugian Pertamina berkurang,” kata Faisal, Rabu (26/8/2015).

Kendati begitu, Faisal mengatakan ia yakin harga BBM bisa turun apabila rumus yang digunakan Pertamina untuk menyusun harga jual, direformasi. “Ingat pula kemerosotan rupiah, karena impor pakai dollar. Jika penurunan harga minyak lebih besar dari depresiasi rupiah, harga bbm berpeluang turun,” kata Faisal.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahaean mencoba menghitung harga jual BBM dengan rumus yang biasa digunakan Pertamina dan pemerintah. Pada harga minyak mentah berjalan 40 dollar AS per barel dan kurs 14.000 per dollar AS, maka harga premium seharusnya Rp 5.700 per liter.

Sedangkan pada harga minyak mentah berjalan 50 dollar AS per barel, dan kurs 14.000 per dollar AS, maka harga premium seharusnya Rp 6.900 per liter. Perhitungan Ferdinand, pada saat harga minyak mentah 40 dollar AS per barel dan kurs 14.000 per dollar AS, maka MOPS yang telah dikonversikan, menjadi Rp 3.552,01 per liter. Sedang pada saat harga minyak mentah 50 dollar AS per barel, maka MOPS-nya Rp 4.402,52 per liter.

Namun demikian, Ferdinand mengaku besar kemungkinan teradapat perbedaan hasil hitungan. “Yang suka beda itu, perhitungan kita dengan Pertamina adalah MOPS. Pertamina suka pakai harga beli lama karena stok. Pertanyaannya sekarang, MOPS di angka berapa dollar AS per barel menurut Pertamina?” kata Ferdinand.

Sekadar informasi, harga jual premium saat ini adalah Rp 7.400 per liter di wilayah Jawa dan Bali, sedangkan di luar Jawa dan Bali Rp 7.300 per liter. Adapun solar bersubsidi dijual Rp 6.900 per liter, sedangkan minyak tanah Rp 2.500 per liter.

Pihak Pertamina telah menyampaikan, perseroan menanggung kerugian Rp 12 triliun lantaran menjual premium dan solar di bawah harga keekonomian, sepanjang periode Januari-Juli tahun ini.

Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang menegaskan, harga jual BBM saat ini bisa turun, jika dan hanya jika pada waktu harga crude naik beberapa waktu lalu, harga jual BBM juga dinaikkan.

“Waktu crude naik dulu, harganya belum dinaikkan. Sehingga harus dilihat apakah harga rata-rata satu bulan, tiga bulan, dan enam bulan crude sekarang ini sudah di bawah harga jual sekarang,” kata Ahmad kepada Kompas.com, Senin (25/8/2015).

Penulis: Estu Suryowati

Editor: Erlangga Djumena

Sumber: http://kom.ps/AFtLQs

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Migas, News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s