Dua Dunia Senantiasa Saling Bersandingan


Dua dunia, hadir berdampingan. Tuhan menciptakan keduanya: kehidupan duniawi dan kehidupan rohani. Dalam hampir segala aspek kehidupan pun selalu begitu, berpasang-pasangan: ada suka dan duka, ada baik dan buruk, ada amarah dan cinta kasih.

Dalam berbisnis, ada laba-rugi, keberhasilan-kegagalan, dan kemajuan-kemunduran. Ada pula tantangan, ancaman, dan bahaya; namun senantiasa hadir pula kesempatan (opportunity). Berbekal ilmu pengetahuan, kita memiliki perangkat bagaimana menyikapi dan bertindak atas setiap keadaan yang kita hadapi.

Persoalannya bukan melulu pada pilihan, melainkan bagaimana kita menyikapinya. Bagaimana kita merespon ancaman dan bagaimana pula kita menyiasati kesempatan atau peluang.

Kita bisa memanfaatkan peluang dengan segala cara, walau merugikan orang lain sekalipun, karena kita menganggap peluang itu sebagai zero sum game. Memang dalam kasus-kasus tertentu demikian adanya. Namun, kebanyakan kasus bisa bermuara pada win win solution. Karena, karunia Tuhan mengucur tanpa henti, tak berbatas. Tepat kiranya kalau Jon M. Huntsman berujar: “There should not be tension between making profits and adhering to traditional principles of decency and fairness.”                                                                              

Apakah karena menerapkan kesantunan dan kepatutan usaha kita akan mundur dan kalah bersaing? Apakah perusahaan-perusahaan yang memenuhi kebutuhan normatif pegawainya dengan standar yang lebih tinggi akan kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang memperlakukan buruhnya sebagai faktor produksi semata?

Jika kita bertolak pada keyakinan bahwa manusia adalah economic animal, memang tak ada tempat bagi kesantunan dan kepatutan. Jika ukuran kebahagiaan adalah perolehan material sebanyak-banyaknya bagi diri sendiri, sangat boleh jadi kita tak pernah peduli atas nasib orang banyak atau kebahagiaan banyak orang sekalipun mereka memberikan sumbangsih besar bagi kebahagiaan kita itu.

Boleh jadi kita akan menggapai kebahagiaan sesaat dengan memperoleh kemelimpahan material. Namun, kebahagiaan tersebut semu belaka, hanya sesaat, tak akan langgeng. Bisa jadi, bahkan, bermuara pada derita berkepanjangan. Mungkin, mendekam di penjara.

Kebahagiaan hakiki tak akan tergapai dengan hanya mengakumulasikan modal fisik (physical capital)semata. Melainkan, secara bersamaan harus menghimpun modal spiritual (spiritual capital) dan modal sosial (social capital). Dengan ketiganya, kita tidak hanya mengakumulasikan modal bagi diri sendiri, tetapi juga secara tak langsung turut aktif menghimpun modal bagi kemajuan masyarakat, bangsa dan negara.

Refleksi Akhir Tahun: Mengapa Perekonomian Indonesia Kian Loyo?


Pada 11 Desember 2015, di blog ini saya menayangkan tulisan berjudul “Jatuh-Bangun Perekonomian Indonesia” (http://wp.me/p1CsPE-1f6). Mengapa perekonomian Indonesia kerap terantuk dan mengalami stagnasi sehingga semakin tertinggal dengan negara-negara tetangga? Belum mencapai tingkat pendapatan per kapita yang cukup tinggi tetapi sudah melambat dan cenderung melandai.

Banyak faktor yang memengaruhinya. Di antara yang terpenting dan bersifat mendasar, sangat boleh jadi salah satunya adalah kecenderungan perekonomian Indonesia semakin tertutup. Salah satu ukuran yang lazim digunakan untuk mengukur tingkat keterbukaan (degree of openness) suatu perekonomian ialah  nisbah ekspor (X) dan impor (M) terhadap produk domestik bruto (PDB) atau gross domestic product (GDP).

Peraga di bawah menunjukkan derajat keterbukaan (X + M) perekonomian Indonesia turun dari 53,0 persen tahun 1981 menjadi 48,2 persen tahun 2014. Penyebabnya ialah komponen ekspor (X) yang turun dari 29,0 persen menjadi 23,7 persen, sedangkan komponen impor (M) naik tipis dari 24,0 persen menjadi 24,5 persen.

Gambar1

Kasus Indonesia bisa dikatakan ganjil karena hampir seluruh negara semakin terbuka dan kian terlibat dalam perdagangan internasional, tak peduli negara kapitalis ataupun negara sosialis, tak peduli negara yang berpenduduk banyak (di atas 100 juta jiwa), sedang (50-99 juta jiwa) ataupun sedikit (di bawah 50 juta jiwa). Singapura satu-satunya pengecualian namun sangat bisa dipahami karena tingkat keterbukaannya sangat ekstrem tinggi sebagaimana tercermin dari nisbah ekspor dan impor terhadap PDB  yang mencapai 351 persen.

Untuk mengetahui pola jangka panjang yang lebih stabil, mari kita tengok peraga selanjutnya yang menggunakan rerata lima tahunan. Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten bahwa perekonomian Indonesia semakin tertutup sejak memasuki dasawarsa 2000-an. Kondisi dewasa ini sama dengan 30 tahun silam.

Gambar3

Sekalipun nilai ekspor Indonesia telah masuk kelompok top-30, pertumbuhannya relatif rendah dibandingkan negara di Asia (berwarna merah) kecuali Jepang. Pangsa ekspor Indonesia dalam keseluruhan ekspor dunia terkecil di antara seluruh negara Asia yang masuk top-30, yakni hanya 0,9 persen pada tahun 2014, turun dari 1,0 persen pada tahun 2009.

Kunci untuk masuk ke jajaran elit negara pengekspor dunia adalah keberhasilan industrialisasi yang membuat produk manufaktur mendominasi ekspor. Peraga di bawah menunjukkan Indonesia dan Brazil  yang ekspornya masih didominasi komoditas primer, sedangkan Saudi Arabia merupakan kasus khusus karena dominasi ekspor minyak mentah.

Ketergantungan yang masih tinggi terhadap ekspor komoditas primer (bahan mentah) yang harganya amat berfluktuasi menyebabkan kinerja ekspor Indonesia dan Brazil tidak secemerlang 10 negara Asia yang mendominasi jajaran top-30 dunia. Sekali lagi Jepang merupakan pengecualian karena telah memasuki tahapan aging population, sehingga industrinya semakin banyak yang direlokasi ke luar Jepang.

Gambar4

Nilai ekspor Indonesia selama kurun waktu 2009-2014 hanya tumbuh 47 persen, jauh lebih rendah ketimbang China (95 persen) dan India (108 persen), juga lebih rendah dibandingkan tetangga dekat seperti Thailand (50%) dan Malaysia (49 persen).

Memperdagangkan jenis barang apa pun niscaya berpotensi meraih keuntungan (gains from trade). Kalau hendak meraih keuntungan dari perdagangan (gains from trade). Namun, jika hendak menikmati keuntungan ekstra (additional gains from trade), tidak ada pilihan lain kecuali membuat produk manufaktur lebih mengedepan dalam ekspor kita, karena sekitar 62 persen barang-barang yang diperdagangkan adalah produk manufaktur.

Lebih jauh, perdagangan atau pertukaran di antara produk manufaktur (intra-industry trade) itulah yang merupakan sumber dari additional gains from trade sesuai dengan kaidah increasing return to scale.

Gambar6

Seraya tertatih-tatih melakukan penetrasi di pasar global, produk-produk impor kian merangsek pasar lokal. Pertumbuhan nilai impor Indonesia selama periode 2009-2014 tertinggi setelah China. Berbeda dengan China dan India yang pertumbuhan impor yang tinggi diimbangi dengan pertumbuhan ekspor yang tinggi pula, pertumbuhan impor Indonesia dua kali lipat dari pertumbuhan ekspornya. Pertumbuhan pesat strata menengah di Indonesia menjadi  sasaran empuk  produk-produk impor.

Pelajaran yang bias dipetik dari peraga di bawah adalah negara-negara yang maju lebih pesat dari Indonesia ditandai oleh dominannya produk manufaktur dalam ekspor maupun impor mereka. Jadi, industrialisasi nyaris mutlak untuk memajukan kesejahteraan rakyat, karena dengan begitu bias meningkatkan porsi perdagangan intra-industri sebagai sumber tambahan dalam peningkatan kesejahteraan.

Gambar5

Sungguh sangat ironis perjalanan 70 tahun merdeka tetapi struktur ekspor masih seperti zaman kolonial.

Dalam satu dekade terakhir, ekspor kita bukannya semakin beragam, malahan impor yang semakin meriah. Peraga di bawah menunjukkan selama periode 2004-2014 impor semakin beragam, sedangkan ekspor justru sebaliknya.

Gambar7

Kita memiliki modal yang cukup untuk membalikkan kondisi ini. Kita pernah jauh lebih baik dari kondisi sekarang.

Di pengujung tahun ini, ada baiknya kita merenungi perjalanan bangsa yang sudah lumayan panjang, memetik hikmah dari keberhasilan maupun kegagalan, agar ke depan kita tidak mengulangi kesalahan yang sama, tidak jumud.

Kita harus berubah kalau tidak mau digilas oleh globalisasi.

 

Tak Perlu Gentar Menghadapi MEA


Pada abad kedua masehi, serombongan warga Nusantara dengan kapal dan sistem navigasi yang didisain sendiri telah menjelajah hingga ke Afrika, menjual hasil bumi Nusantara dan membeli produksi lokal di sana untuk dibawa pulang. Setengah abad kemudian, kerajaan Sriwijaya menguasai perairan Nusantara dan sangat disegani di Selat Malaka dan Samudera Hindia. Tidak sebatas melakukan perdagangan lintas samudera, kerajaan Sriwijaya juga melakukan perjanjian bilateral dengan kerajaan di Tiongkok untuk memajukan perdagangan dan bekerja sama menumpas kawanan perompak di sepanjang jalur perdagangan. Kejayaan Majapahit pada abad XII juga tidak terlepas dari ketangguhan armada laut dan dagangnya sehingga mampu berkiprah dalam perdagangan luar negeri.

Kodrat negara kepulauan sejatinya memang terbuka. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia—dengan hamparan pulau-pulau yang dipertautkan oleh lautan membentuk zamrud khatulistiwa—perdaganganlah yang menjadi motor penggerak kemakmuran. Tanpa perdagangan, sebagian besar hasil bumi bakal teronggok membusuk dan berbagai kebutuhan yang belum mampu dihasilkan sendiri bisa didatangkan dari luar negeri.

Sebagian besar negara ASEAN juga berkarakter terbuka sejak lama. Porsi ekspor dan impor dalam produk domestik bruto (PDB) rata-rata negara ASEAN relatif sangat tinggi. Sejak awal tahun 2000-an perdagangan di antara sesama negara ASEAN praktis sudah bebas, nyaris tanpa hambatan.

Tidak sebatas perdagangan. Mobilitas manusia antar negara ASEAN juga tanpa hambatan berarti. Jutaan tenaga kerja Indonesia bekerja di Malaysia dan Singapura. Maskapai penerbangan ASEAN sudah lama leluasa mendarat di berbagai kota di Indonesia. Bank-bank milik Malaysia dan Singapura dengan mudah dijumpai di berbagai kota. Bahkan, bank-bank asing di luar ASEAN sekalipun memperoleh perlakuan yang sama. Tenaga profesional seperti akuntan, penasihat keuangan, dan manajer pabrik dengan mudah ditemui di berbagai perusahaan nasional maupun multinasional.

Lantas, apa yang hendak dicapai dengan MEA? Jangan terpukau dengan kepanjangannya: Masyarakat Ekonomi ASEAN. MEA jauh apa dari panggang dengan Uni Eropa. Dari namanya saja sudah mencerminkan perbedaan mendasar. Uni Eropa sejak berdirinya sudah menerapkan berbagai instrumen untuk berintegrasi. Mereka punya mata uang tunggal, anggaran tersendiri, dan Parlemen Eropa. Semua negara anggota menganut demokrasi dan standar sosial yang tinggi.

MEA tidak pernah menggunakan kata integrasi dengan kelengkapan instrumennya. ASEAN lebih menekankan pada integrasi dengan perekonomian global. Memang, pendirian ASEAN lebih sarat dengan muatan politik ketimbang ekonomi. ASEAN berdiri ketika perang Vietnam sedang berkecamuk, muncul ketakutan penetrasi komunisme di Asia Tenggara, serta Indonesia dan Malaysia baru saja selesai berkonfrontasi. Kala itu tidak satu pun negara ASEAN memiliki hubungan diplomatik dengan Tiongkok.

Instrumen yang diandalkan adalah kerja sama. Kesepakatan hampir selalu diiringi oleh pengeculian atau exclusion list yang panjang. Dalam kerangka MEA, yang mengemuka bukanlah integrasi atau unifikasi melainkan konektivitas lewat physical connectivity, institutional connectivity, dan people-to-people connectivity.

Karakteristik ASEAN yang outward looking terlihat dari porsi perdagangan intra-ASEAN yang sangat rendah dan cenderung mandek. Pada tahun 2004, perdagangan intra-ASEAN hanya 24,3 persen dari keseluruhan perdagangan luar negerinya dan turun menjadi 24 persen pada tahun 2014. Bandingkan dengan perdagangan intra-Uni Eropa yang mencapai hampir dua pertiga dari total perdagangan luar negerinya pada tahun 2013 dan NAFTA sekitar separuh dari total perdagangan luar negeri Amerika, Kanada, dan Meksiko. Mitra dagang utama mayoritas negara ASEAN adalah Tiongkok, Uni Eropa, Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan, Australia, India, Rusia, Kanada, dan Selandia Baru.

Apakah dengan begitu MEA tidak membawa manfaat bagi negara-negara ASEAN? Tentu saja tidak. Dengan mengedepankan konektivitas, pasar ASEAN lebih terintegrasi. Pihak luar ASEAN memandang ASEAN sebagai satu pasar sehingga lebih memikat. Betapa tidak. PDB berdasarkan paritas daya beli (GDP based on purchasing power parity) ASEAN pada tahun 2014 senilai lebih dari 6 triliun dollar AS, terbesar keempat setelah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Jepang di urutan kelima.

Pasar ASEAN yang relatif besar ini menambah daya Tarik bagi investor dari luar ASEAN dan juga investor dari dalam ASEAN. Sekalipun MEA terwujud, investasi asing langsung di ASEAN melonjak tajam dari 21 miliar dollar AS pada tahun 2000 menjadi 112 miliar dollar AS pada tahun 2014. Pada periode yang sama, investasi asing langsung dari dalam ASEAN sendiri juga melonjak dari 0,8 miliar dollar AS menjadi 24,4 miliar dollar AS. Walaupun porsi penanaman modal asing langsung intra-ASEAN relatif rendah, namun peningkatannya cukup menakjubkan, dari hanya 2,8 persen tahun 2000 menjadi 17,5 persen tahun 2014.

Tantangan terbesar bagi Indonesia adalah bagaimana menarik sebanyak mungkin penanaman modal asing langsung itu. Bukan hanya menjadikan Indonesia sebagai target pasar semata, melainkan memilih Indonesia sebagai production base untuk pasar regional maupun global. Sejauh ini Indonesia agak tercecer. Vietnam dan Malaysia lebih banyak dipilih oleh produsen kelas dunia. Belakangan Vietnam menjadi primadona baru. Boleh jadi Myanmar akan menyusul.

Indonesia tidak boleh terpaku pada konsep komoditi unggulan. Kelebihan dari ketiga negara yang disebutkan terdahulu adalah pada kemampuannya beradaptasi dengan sistem global supply chain. Ketiga negara itu mempersiapkan infrastruktur pendukung agar dilirik oleh produsen parts and components.Jadi, yang dijadikan target adalah kegiatan unggulan, bukan produk unggulan.

Di era MEA, ancaman utama bukanlah membanjirnya barang impor dari ASEAN, karena era ASEAN Free Trade Area (AFTA) sudah lama terwujud. Durian Bangkok telah lama membanjiri Indonesia. Produk minuman dari Malaysia sudah merajalela. Sebaliknya, Indonesia memiliki peluang memasarkan beragam buah-buahan dan sayur mayur. Kuncinya adalah pembenahan pasca panen dan dukungan logistik.

Jika hendak memperoleh maslahat (benefit) lebih besar, mau tak mau Indonesia harus memperkokoh industrialisasi agar porsi produk manufaktur dalam ekspor naik signifikan. Hanya dengan meningkatkan ekspor manufaktur Indonesia dapat menikmati additional gains from trade dari peningkatan perdagangan intra-industri.

Namun, bagaimanapun, karena pasar Indonesia terbesar di ASEAN—dua kali lipat lebih besar dari Thailand yang di urutan kedua—potensi maslahat yang bias digapai Indonesia relatif lebih kecil. Dengan pertimbangan itu, Indonesia selayaknya mendorong ASEAN memperlebar jangkauan dengan menggandeng negara-negara yang pasarnya lebih besar. Dengan Tiongkok ASEAN telah mengikatkan lewat ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA).

Vietnam tampaknya tak bias menunggu inisiatif ASEAN selanjutnya. Dengan kesadaran penuh, Vietnam lebih maju dua-tiga langkah. Vietnam bergabung dengan Trans-Pacific Partnership (TPP) yang dimotori Amerika Serikat dan telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa.

Indonesia baru menyatakan minat. Produk-produk Indonesia yang hendak masuk ke Amerika Serikat harus melewati jalan biasa sedangkan Vietnam menikmati jalan tol bebas hambatan. Ironis kalau kita menatap kembali ke sejarah panjang Nusantara.

Untuk jasa keuangan, khususnya perbankan, Indonesia sangat tertinggal. Tiga bank terbesar dari segi aset diborong oleh Singapura. Tiga posisi berikutnya diduduki oleh bank-bank Malaysia. Di posisi ke-7 sampai ke-10 diisi oleh bank-bank Thailand. Bank Mandiri sebagai bank terbesar di tanah air menyusul di posisi ke-11. BRI, BCA, dan BNI menguntil setelah Mandiri. Supaya lebih bertaji, tidak ada pilihan lain bagi bank-bank nasional kecuali melakukan konsolidasi dengan bergabung. Jika misalnya Mandiri dan BNI bergabung, posisinya langsung naik ke urutan ke-7. Singapura, Malaysia, dan Thailand jauh hari sudah melakukan konsolidasi secara konsisten.

Bank ibarat jantung perekonomian. Fungsinya menyedot dana dari masyarakat dan memompakan kembali dana itu ke masyarakat dalam bentuk kredit. Betapa lemah fungsi jantung dalam perekonomian Indonesia tercermin dari besarnya kredit yang disalurkan sektor keuangan hanya 46 persen dari PDB, jauh lebih kecil dibandingkan Thailand sebesar 173 persen, Malaysia 143 persen, dan Vietnam 108 persen. Kita hanya menang tipis terhadap Kamboja (40 persen).

Tentu saja, kondisi di atas disebabkan oleh dana pihak ketiga yang juga masih relatif rendah. Tak heran karena jumlah orang dewasa yang memiliki akses ke perbankan (financial inclusion index) juga sangat rendah yaitu hanya 36,1 persen. Bandingkan dengan 80,7 persen untuk Malaysia dan 78,1 persen untuk Thailand.

Tiada jalan mundur bagi Indonesia. Sejarah panjang bangsa ini membuktikan hanya dengan menyerang (outward looking) rakyat Indonesia bias lebih sejahtera. Jangan karena alasan tidak siap membuat kita semakin menutup diri. Dengan lebih menutup diri dan defensif risikonya adalah keterpurukan relatif lebih dalam. Kita akan semakin tercecer dalam kancah global.

Saatnya untuk membangkitkan semangat dan tekad baru, kembali ke jati diri sebagai bangsa maritim dengan memperkokoh sarana dan prasarana perhubungan laut. Penguatan transportasi laut dengan kelengkapan sarana pendukungnya menjadi modal dasar untuk memenuhi prasyarat mutlak untuk berjaya mengarungi integrasi regional dan global. Prasyarat itu adalah mengintegrasikan perekonomian nasional. Bagaimana mungkin kita berhasil berintegrasi dengan perekonomian regional dan global kalau perekonomian nasional sendiri belum terintegrasi.

* Versi yang dimuat di liputan6.com bisa dilihat di tautan http://bisnis.liputan6.com/read/2400238/opini-tak-perlu-gentar-menyongsong-mea

Jatuh-Bangun Perekonomian Indonesia


Setelah krisis politik dan ekonomi terdahsyat sepanjang sejarah Indonesia merdeka pada tahun 1998, pertumbuhan ekonomi tidak pernah lagi menyentuh 7 persen. Pemulihan pertumbuhan pasca-krisis terhenti pada 2007 sebagai imbas dari krisis finansial global yang dipicu oleh letupan subprime mortgage di Amerika Serikat pada 2008. Sempat naik kembali tahun 2010, namun setelah itu, selama lima tahun berturut-turut, Indonesia mengalami kemerosotan pertumbuhan ekonomi. Lihat Peraga 1.

peraga-1

Dengan menggunakan trend line polinomial tampak pertumbuhan jangka panjang Indonesia mengalami kecenderungan melambat. Padahal, Indonesia masih dalam tahapan negara sedang membangun (developing country) yang sedang menempuh industrialisasi (industrializing) dengan pendapatan per kepala (income per capita) yang masih relatif rendah. Dengan pendapatan per kapita 3.630 dollar AS pada tahun 2014, Indonesia masih berada dalam kelompok negara berpendapatan menengah-bawah (lower-middle income).

Perlambatan pertumbuhan ekonomi terus berlanjut selama lima tahun terakhir. Lihat Peraga 2. Optimisme yang dikumandangkan setiap masa kampanye tidak kunjung menjadi kenyataan. Target pertumbuhan ekonomi yang tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) selalu meleset ke bawah. Bahkan, belakangan ini sudah berada di bawah 5 persen.

peraga-2

Jika Indonesia gagal mengakselerasikan pembangunan dan kerap terantuk sebagaimana terjadi sejak kemerdekaan, maka ancaman di depan mata adalah masuk ke dalam perangkap pendapatan menengah (middle income trap). Lebih baik saja tidak cukup. Alon-alon asal kelakon akan membuat Indonesia semakin tercecer dalam kancah regional dan global. Lihat Peraga 3.

peraga-3

Setelah Perang Dunia II, banyak negara meraih kemerdekaan. Negara-negara di Asia mulai meletakkan dasar-dasar pembangunan pada waktu yang hampir bersamaan. Sebagaimana terlihat pada Peraga 4, sampai awal tahun 1970-an, tingkat pendapatan per kapita Indonesia, China, Korea, Malaysia, dan Thailand tidak jauh berbeda. Bahkan, sampai tahun 1997 pendapatan per kapita Indonesia lebih tinggi ketimbang China. Namun, sejak 1998 China kian meninggalkan Indonesia. Kesenjangan antara China dan Indonesia semakin melebar. Pendapatan per kapita China terus melaju kencang, sedangkan gerak maju Indonsia sudah melandai. Lihat Peraga 5.

peraga-4peraga-5

Korea paling melesat, disusul kemudian oleh China, Malaysia, dan Thailand. Indonesia paling tertinggal dibandingkan dengan keempat negara itu.

Memang, Indonesia bukanlah negara yang paling tercecer. Indonesia menyusul Filipina pada tahun 2011. Bertolak dari kinerja kedua negara dalam beberapa tahun terakhir, posisi Indonesia bisa kembali disusul oleh Filipina. Sementara itu, walaupun dalam banyak hal perekonomian Timor-Leste masih tertinggal dari Indonesia, negara baru yang memisahkan diri dari Indonesia ini sempat menyusul Indonesia dan berpeluang menyusul kembali. Lihat Peraga 6.

peraga-6

Blog at WordPress.com.

Up ↑