Apakah Petani Tidak Pantas Dibantu?


Pada triwulan I-2020, subsektor tanaman pangan mengalami kontraksi paling parah (10,3 persen) setelah subsektor transportasi udara (13,3 persen). Ditinjau dari peranannya terhadap produk domestik bruto (PDB), subsektor tanaman pangan lebih besar ketimbang subsektor transportasi udara, masing-masing 2,82 persen dan 1,63 persen pada tahun 2019.

Namun, perlakuan pemerintah terhadap transportasi udara sangat besar sejak awal pandemik COVID-19, antara lain dengan memberikan rabat jumbo untuk tarif pesawat hingga kucuran dana Rp8,5 triliun untuk PT Garuda Indonesia (Tbk) berupa Dana Talangan Investasi.

Tapi, apa yang diperoleh petani tanaman pangan yang sangat terpuruk? Tidak ada sama sekali.

Karena rakyat harus tetap makan padahal produksi merosot, maka impor pangan menunjukkan trend peningkatan, sehingga defisit perdagangan pangan terus naik. Lihat Lampu Kuning Impor Pangan.

Bukan hanya pangan yang defisit. Untuk produk manufaktur pun Indonesia mengalami defisit, lebih besar impor ketimbang ekspor. Migas juga demikian. Untuk jasa, kita selalu defisit, terbesar adalah jasa transportasi laut.

Jadi, dari mana kita membiayai triple deficits itu? Ya dari mana lagi kalau bukan dengan menguras kekayaan alam atau komoditas primer. Petik, jual; tebang, jual; keruk, jual.

Sungguh, kebijakan pemerintah dalam menangani pandemik COVID-19 sangat bias kota.

Lampu Kuning Impor Pangan


Berita Tempo berjudul Impor Sayur Capai Rp 11,55 T, Faisal Basri: Saya Kaget mendapat tanggapan dari Kementerian Pertanian.

Berita Tempo yang menjadi obyek tanggapan bersumber dari presentasi saya pada acara webinar yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (BEM IPB) yang digelar pada 22 Mei 2020.

Impor sayuran hanyalah salah satu yang saya ungkapkan. Sebagaimana isi berita Tempo, pembahasan saya mencakup pangan secara keseluruhan. Bahkan, saya mengatakan bahwa bukan pangan saja yang mengalami defisit, melainkan juga manufaktur dan migas. Jadi, secara keseluruhan, kinerja perdagangan luar negeri Indonesia menunjukkan perkembangan yang memburuk.

Sebagaimana terlihat pada peraga di bawah, nilai impor sayuran mengalami kenaikan signifikan dibandingkan tahun 2010. Memang nilainya tidak seberapa dibandingkan berbagai jenis pangan lainnya, termasuk buha-buahan.

Nilai impor buah-buahan jauh lebih besar. Laju pertumbuhannya jauh lebih tinggi. Nilai impor buah-buahan mencapai rekor tertinggi tahun lalu, mencapai 1,5 miliar dollar AS dan meningkat lebih dua kali lipat dibandingkan tahun 2015.

Laju impor buah-buahan tidak diiringi oleh peningkatan ekspornya. Pada tahun 2019, ekspor buah-buahan hanya 324 juta dollar AS atau sekitar seperlima dari impornya. Nilai ekspor buah-buahan tahun 2019 lebih rendah dari tahun 2017.

Impor sayuran maupun buah-buahan sangat didominasi dari China.

Yang paling parah adalah gula. Sejak masa kolonial hingga tahun 1967, Indonesia adalah negara pengekspor gula, bahkan sempat menjadi negara pengekspor terpandang di dunia. Pergulaan di Indonesia kian memburuk dan mencapai puncaknya pada 2016 ketika Indonesia menjelma sebagai negara pengimpor gula terbesar di dunia, sampai sekarang.

Pangan terpenting kedua setelah beras adalah terigu. Sayangnya diversifikasi pangan kita sangat bias ke terigu yang seluruh gandumnya diimpor. Volume impor gandum dan meslin meningkat pesat. Tak tanggung-tanggung, dalam waktu hanya sembilan tahun, impor gandum dan meslin melonjak lebih dari lima kali lipat. Tak kurang sebanyak 2,8 miliar dollar AS devisa yang terkuras hanya untuk produk ini.

Trend peningkatan volume impor juga terjadi untuk kedelai. Sekitar satu miliar dollar kita belanjakan untuk impor bahan baku utama tempe dan tahu ini.

Berulang kali pencanangan swasembada daging selalu kandas. Bukannya turun, impor daging malahan melonjak 10 kali lipat sejak 2001. Pada tahun 2019, impor daging sejenis lembu terbesar adalah dari Australia (44 persen) dan India (37 persen). Kapal tol laut pengangkut khusus sapi dari Nusa Tenggara tidak pernah terdengar lagi.

Demikian juga dengan impor binatang hidup. Kita menghabiskan 1,3 miliar dollar untuk impor daging dan binatang (ternak) hidup.

Bersyukur impor beras tahun lalu bisa ditekan setelah pada tahun sebelumnya mengalami lonjakan.

Impor garam kembali melonjak dalam dua tahun terakhir. Kebanyakan garam impor digunakan oleh industri. Kalau sekedar untuk konsumsi rumah tangga, sebetulnya produksi dalam negeri sudah mencukupi. Namun, dalam kenyataan sebagian garam impor merembes ke pasar bebas.

Secara keseluruhan, Indonesia mengalami defisit pangan sejak 2007. Sebagai negara dengan wilayah yang cukup luas, curah hujan relatif tinggi, sinar mentari sepanjang tahun, tanah yang relatif subur, rasanya untuk urusan pangan Indonesia tak sepatutnya mengalami defisit perdagangan. Ditambah lagi dengan potensi kekayaan laut kita.

Teringat ucapan ini:

Impor Sayur Capai Rp 11,55 T, Faisal Basri: Saya Kaget


Sumber: TEMPO/M. Taufan Rengganis

Reporter: Caesar Akbar

Editor: Kodrat Setiawan

Tempo.co/Sabtu, 23 Mei 2020 03:47 WIB

Salah satu komoditas pangan yang banyak diimpor adalah sayuran. “Impor sayur, saya kaget. Impor sayur itu sudah mencapai 770 juta dolar setahun pada 2019,” ujar Faisal menyitir data dari Badan Pusat Statistik dalam diskusi daring, Jumat, 22 Mei 2020.

TEMPO.CO, Jakarta – Ekonom senior Universitas Indonesia Faisal Basri mengatakan adanya krisis akibat Covid-19 menunjukkan kurangnya ketahanan pangan di Tanah Air. Karena secara umum, menurut dia, impor pangan Indonesia selama ini tergolong tinggi.

Apabila dikonversi ke rupiah, nilai impor sayur itu mencapai sekitar Rp 11,55 triliun dengan asumsi nilai tukar Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat. Faisal mengatakan impor sayuran tersebut paling banyak didatangkan dari Cina dan trennya terus menanjak.

Selain sayuran, Indonesia juga tercatat sebagai importir buah-buahan. Berdasarkan data 2019, dalam setahun Indonesia bisa mendatangkan buah dengan total US$ 1,5 miliar atau senilai Rp 22,5 triliun. “Raja impor buah juga Indonesia, ini grafiknya naik seperti roket,” kata Faisal.

Belum lagi kalau melihat komoditas pangan lainnya seperti gula. Sejak 2016, kata Faisal, Indonesia sudah menduduki sebagai importir gula terbesar di dunia dengan nilai sebesar US$ 2,1 miliar per tahun. Tren kenaikan impor itu sudah terlihat sejak tahun 2010.https://6da10f6173ab19dc75b4cca6fa84d778.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-37/html/container.html

Kendati demikian, pada 2019 angka tersebut cenderung turun menjadi hanya US$ 1,4 miliar. “Karena harganya turun,” kata Faisal. Selain itu, turunnya impor gula Tanah Air pada tahun lalu juga disebabkan oleh stok yang masih melimpah pada tahun lalu.

Komoditas lain yang impornya cenderung tinggi adalah daging. Faisal mengatakan impor daging setara lembu Indonesia mencapai US$ 830 juta pada 2019. Apabila dijumlahkan dengan binatang hidup lain yang dapat dimakan, impornya menjadi US$ 1,3 miliar.

Diunduh dari: https://bisnis.tempo.co/read/1345351/impor-sayur-capai-rp-1155-t-faisal-basri-saya-kaget/full&view=ok

Ketimpangan dan Mobilitas Sosial


Pada 19 Januari 2020, World Economic Forum (WEF) menerbitkan indikator baru yang dinamakan Social Mobility Index (SMI). Indeks ini mengukur pergerakan dalam status pribadi dari seorang individu dibandingkan dengan status orang tua mereka. Secara absolut, SMI menggambarkan seberapa besar kemampuan seorang anak untuk mengalami kehidupan yang lebih baik daripada orang tua mereka. Di sisi lain, mobilitas sosial relatif adalah penilaian dampak latar belakang sosial ekonomi pada keberhasilan individu dalam kehidupan.

Keberhasilan itu dapat diukur dari berbagai indikator mulai dari kesehatan hingga pendidikan dan pendapatan. Akses yang lebih baik terhadap pendidikan dan kesehatan diyakini mempermudah mobilitas vertikal.

Globalisasi dan teknologi kerap disinyalir sebagai penyebab memburuknya mobilitas sosial. Namun, laporan WEF menyoroti faktor pembuatan kebijakan yang buruk sebagai alasan signifikan.

Lima terbaik diborong oleh negara-negara Nordic.

Dari 82 negara yang dicakup dalam indeks mobilitas sosial, Indonesia berada di peringkat ke-67 atau ke-16 dari bawah dengan skor 49,3. Di antara negara ASEAN, Indonesia hanya lebih baik dari Laos. Peringkat tertinggi di ASEAN ialah Singapura (20). Menyusul kemudian Malaysia (43), Vietnam (50), Thailand (55), dan Filipina (61). Kempat negara itu memiliki skor di atas 50.

Sumber: World Economic Forum

Ada korelasi yang cukup kuat antara SMI dan ketimpangan. Indikator ketimpangan yang digunakan di sini ialah data penguasaan satu persen terkaya terhadap kekayaan nasional berdasarkan publikasi Credit Suisse “Global Wealth Databook.”

Semakin tinggi SMI kian rendah ketimpangan. Indonesia berada di atas garis trend, bertetangga dengan Turki dan Thailand. India memiliki SMI terendah kedua setelah Afrika Selatan, namun negara terakhir ini berada di bawah garis trend.

Faisal Basri: Corona Itu Perang Dunia, RI Butuh Lockdown (video)


Cuap Cuap Cuan – Podcast CNBC Indonesia

Ekonom senior dan pendiri INDEF, Faisal Basri akan membahas habis habisan soal efek corona ke Indonesia. Inilah perang dunia sesungguhnya. Faisal Basri mengatakan dampak dari virus corona yang makin mewabah ini semakin dahsyat di dunia, tanpa lockdown dan isolasi yang serius, RI bisa jatuh ke dalam bahaya. Simak wawancara Tim Redaksi CNBC Indonesia dengan Ekonom Senior dan pendiri INDEF, Faisal Basri dalam Podcast Cuap Cuap Cuan berikut.

Rekaman berlangsung pada 19 Maret 2020.

Selengkapnya bisa dilihat di sini.

Ekonomi Global dan Indonesia di Tengah Kecamuk Pandemik COVID-19


Nestapa tak terperikan akibat wabah pandemik coronavirus COVID-19 sudah kian terasa. Hingga Jumat (8/5), pk.22:15, COVID-19 telah menjangkiti hampir 4 juta orang dan menewaskan 272 ribu orang di 212 negara dan teritori di setiap benua kecuali Antartika.

Ongkos ekonomi berdasarkan perhiutngan konservatif Asian Development Bank (ADB) setara dengan Depresi Besar 1929-1939 yang mencapai titik terdalam pada 1933, yaitu US$4,1 triliun atau hampir 5 persen produk domestik bruto (PDB) dunia. Angka itu tampaknya akan terus menggelembung untuk waktu yang lebih lama.

Hari in (8/5) Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan tingkat pengangguran meroket ke 14,7 persen. Bulan Maret angkanya masih 4,4 persen. Akibat lonjakan luar biasa, peraga di bawah yang menjadi berantakan. Jadi sengaja saya tampilkan hanya sampai kondisi Maret 2020.

Untuk menggambarkan kondisi terbaru sampai April, sengaja saya tampilkan khusus mulai tahun 2020. Hasilnya seperti ini:

Pada bulan Maret 2020, nonfarm payroll yang tertendang keluar dari pasar kerja masih hanya 870,000. Sebulan kemudian melonjak 23,6 kali lipat menjadi 20.500.000.

Sejak 15 Maret hingga 2 Mei 2020, tercatat sebanyak 33,5 juta orang telah mengajukan klaim asuransi kehilangan pekerjaan (initial jobless claims).

Laju pertumbuhan AS pada triwulan I-2020 mengalami kontraksi sebesar 4,8 persen. Pada triwulan II-2020 diperkirakan kontraksi akan lebih dalam.

Kondisi di Zona Eropa lebih parah dan lebih buruk dari krisis finansial global tahun 2008-2009. Uni Eropa telah mengambil ancang-ancang menggelontorkan dana penyelamatan senilai US$2,2 triliun.

Namun, tampaknya belum akan mampu untuk membuat negara-negara Eropa utama terhindar dari kontraksi terdalam tahun ini. Italia merupakan negara terparah, menyusul kemudian Spanyol. Derajat keterpurukan sangat terkait dengan keparahan akibat COVID-19.

Sekalipun sebagai asal COVID-19, perekonomian China tahun ini masih bisa tumbuh positif sebesar 1,2 persen. India juga diperkirakan masih tumbuh positif tahun ini.

IMF memperkirakan perekonomian dunia akan mengalami kontrasi 3 persen tahun ini.

Penulis memperkirakan perekonomian Indonesia akan mengalami kontraksi sebesar 1,5 perssen.

Perkiraan baseline penulis lebih baik ketimbang proyeksi Bank Dunia dengan skenario rendah (lower case).

Pada triwulan I-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di zona positif, yaitu 2,97 persen, merosot dari 4,97 pada triwulan sebelumnya.

Sektor yang paling dalam kemerosotan pertumbuhannya adalah sektor transportasi dan pergudangan, jasa perusahaan, dan penyediaan akomodosi dan makan minum. Sementara itu, pertumbuhan sektor industri pengolahan mengalami penurunan pertumbuhan yang relatif rendah dan lebih kecil ketimbang pertumbuhan PDB. Hal ini disebabkan karena petumbuhan industri manufaktur sudah dalam kecenderungan melambat cukup lama dan hampir selalu tumbuh lebih rendah daripada pertumbuhan PDB.

Pada triwulan I-2020 belum satu pun dari 17 sektor yang mengalami kontraksi. Puncak kemerosotan diperkirakan terjadi pada triwulan II dan triwulan III.

Sampai awal Maret 2020 sudah tiga juta lebih pekerja yang terdampak COVID-19.

Mengantisipasi Gejolak Sosial (Update)


[Dimutakhirkan dengan data BPS terbaru dan ditambahkan berbagai informasi terkait pada 8 Mei pk.20:10.]

Angkatan kerja pada Agustus 2019 berjumlah 133,56 juta orang. Sebanyak 126,51 juta orang dengan status bekerja dan sisanya 7,05 juta orang menganggur, sehingga tingkat pengangguran terbuka (TPT) adalah 5,28 persen. Seseorang dikategorikan tidak mengganggur jika dalam seminggu terakhir bekerja setidaknya selama satu jam.

Berdasarkan data terbaru yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) hari Selasa kemarin (5/5), jumlah angkatan kerja pada Februari 2020 adalah 137,91 orang, terdiri dari 131,03 bekerja dan sisanya 6,88 juta (4,99 persen) penganggur. Tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2020 terendah sejak tahun 1998.

Data terbaru BPS yang menunjukkan penurunan TPT terjadi karena belum ada kasus terkonfirmasi COVID-19 di Indonesia. Kasus pertama diumumkan pemerintah pada 2 Maret.

Dewasa ini diperkirakan jumlah angkatan kerja sekitar 135 juta orang lebih. Akibat pandemik COVID-15 ada tambahan sekitar 3 juta orang tidak bekerja, baik karena pemutusan hubungan kerja, dirumahkan, dan cuti di luar tanggungan. Dengan demikian TPT naik menjadi sekitar 7,4 persen, tertinggi sejak tahun 2009.

* Februari. **Mei (perkiraan penulis). Sumber: BPS

Catatan: Sampai 2004 adalah data tahunan, sejak 2005 data tahunan berdasarkan rerata Februari dan Agustus. Sejak 2013 TPT Februari selalu lebih rendah dari Agustus, karena pengaruh musiman, terutama karena Februari adalah musim panen sehingga menyerap lebih banyak pekerja.

Jika pandemik berkepanjangan, jumlah penganggur tentu bakal lebih tinggi, berpotensi menembus dua digit seperti yang terjadi tahun 2005. Belum lagi dengan memperhitungkan tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri yang terpaksa kembali ke tanah air akibat pandemik global.

Jakarta dan Jawa Barat merupakan pusat pandemik. Banten berbatasan dengan Jakarta dan masuk sepuluh provinsi dengan kasus COVID-19 terbanyak.

Banten merupakan provinsi yang TPT-nya tertinggi (8,01 persen). Disusul oleh Jawa Barat (7,69 persen). Ada pun TPT Jakarta hanya sedikit bi bawah TPT nasional, yaitu 4,93 persen.

Pada Februari 2020, usia 15-24 tahun adalah kelompok dengan TPT tertinggi (16,3 persen), naik dibandingkan posisi Februari 2019. Sedangkan kelompok usia 25-59 tahun hanya 3,1 persen dan kelompok usia 60 tahun ke atas hanya 1,1 persen. Pada kedua kelompok terakhir ini terjadi penurunan tingkat pengangguran dibandingkan setahun sebelumnya.

Pengangguran usia muda yang cukup tinggi membuat kondisi kian rentan terhadap gejolak. Mereka berpendidikan cukup tinggi tetapi banyak yang tidak terserap di pasar kerja. TPT tertinggi justru dialami oleh tamatan sekolah menengah kejuruan (8,5 persen), lalu sekolah menengah atas dan tamatan Diploma I/II/III, masing-masing 6,8 persen.

Jadi profil umum penganggur kita adalah berusia muda dan berpendidikan cukup tinggi. Jutaan tambahan angkatan kerja dengan ciri itu niscaya amat sulit terserap di pasar kerja, apalagi kalau pandemik COVID-19 berkepanjangan. Untuk mempertahankan pekerja yang sudah ada saja, dunia usaha sudah babak-belur.

Dilihat secara sektoral, pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan merupakan penyerap terbanyak tenaga kerja. Sekitar 18,5 juta pekerja diserap oleh industri pengolahan. Kelompok pekerja ini paling rentan karena hampir semua tidak bisa bekerja dari rumah (WFH). Selain itu sektor ini terdisrupsi oleh sistem mata rantai pasokan global dan kemerosotan nilai tukar rupiah. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan kebanyakan perusahaan hanya bisa bertahan sampai bulan Juni.

Pemetaan yang seksama atas profil ketenagakerjaan akan sangat membantu untuk meredam keresahan sosial. Bukan dengan kursus atau pelatihan online tentunya. Yang paling dibutuhkan adalah cash transfer agar mereka bisa bertahan hidup. Setidaknya butuh dana untuk itu sampai Agustus-Desember.

Segala pembangunan fisik harus ditinjau ulang. Pembangunan ibukota baru sangat bisa ditunda sampai setidaknya lima tahun ke depan. Anggaran pertahanan sangat memungkinkan dipangkas separuhnya dari Rp122,4 triliun. Juga anggaran kementerian PUPR yang berjumlah Rp95,6. Alihkan separuhnya untuk infrastruktur terkait dengan penguatan sumber daya manusia.

Ingat, kita sedang mengalami keadaan sangat tidak normal. Dibutuhkan tindakan luar biasa untuk menghadapinya. Relokasi anggaran yang dilakukan pemerintah masih mencerminkan kondisi “normal” atau sedikit tidak normal, belum menunjukkan kegentingan yang dihadapi oleh masyarakat luas dan tekanan sosial yang amat berat.

Nasib Kopi Indonesia Semoga Tak Seperti Gula


Kamis lalu (30/4), saya menerima kiriman dua bungkus kopi Sarongge masing-masing 250 gram dari Mas Tosca Santoso. Saya sudah menikmati varian 1535 (100 persen Arabica). Ketika membuat tulisan ini, saya ditemani secangkir kopi yang saya seduh dengan menggunakan moka pot. Sunguh nikmat dan meninggalkan jejak rasa (after taste) cukup lama. Insya Allah besok saya akan mencoba varian Ki Hujan yang diracik dengan sedikit Robusta.

Perjuangan tak kenal lelah dan totalitas Mas Tosca membina petani dari nol telah membuahkan hasil yang membanggakan. Ia menggunakan pendekatan community development sebagai bagian dari pelestarian hutan.

Sebagian besar produksi kopi nasional dihasilkan oleh perkebunan rakyat. Pada tahun 2019, perkebunan rakyat menyumbang 96 persen produksi nasional yang berjumlah 761,1 ribu ton.

Sejak masa kolonial, kopi merupakan salah satu andalan ekspor Indonesia. Komoditas andalan lainnya adalah karet, tembakau, kopra, dan gula. Minyak bumi mulai diekspor sekitar tahun 1910 dan di puncak kejayaan pada tahun 1977 ketika produksi mencapai tingkat tertinggi sebanyak 1,7 juta barrel per hari. Produksi minyak sekarang tak sampai separuh dari tahun 1977.

Sayangnya gula meredup. Indonesia terakhir kali mengekspor gula pada tahun 1967. Lambat-laun Indonesia menjadi negara pengimpor gula. Impor gula meningkat pesat sejak 2011 dan mencapai puncaknya tahun 2018. Dalam sepuluh tahun, impor gula meningkat 5 kali lipat. Sangat ironis, Indonesia yang tadinya pengekspor gula terpandang di dunia menjelma sebagai pengimpor, bahkan sejak 2016 menjadi pengimpor gula terbesar di dunia. Puncak impor terjadi tahun 2018. Manisnya rente impor gula tak terperikan, keuntungannya mencapai triliunan rupiah. Lihat Benalu di Lingkungan Presiden.

Keuntungan trilunan rupiah diperoleh para pemburu rente ketika pemerintah mematok harga eceran gula tertinggi Rp12.500 per kg. Bayangkan sekarang harga gula terus merangkak naik mendekati Rp20.000 per kg. Tak terdengar lagi “polisi pasar” menindak pedagang yang menjual di atas harga eceran tertinggi.

Ada tanda-tanda dunia perkopian Indonesia mengalami kemunduran. Indonesia sempat menjadi negara pengekspor kopi terbesar ketiga di dunia. Namun, mulai tahun 2000-an, Vietnam menyusul Indonesia dan sejak 2006 Vietnam telah menjadi negara pengekspor terbesar kedua setelah Brazil. Posisi Indonesia tahun 2019 melorot di urutan keenam.

Produktivitas tanaman kopi di Indonesia relatif rendah, tak beranjak dari kisaran 600-700 kg per hektar, jauh tertinggal dari Vietnam yang mencapai hampir 3 ton per hektar.

Pada tahun 2018 terjadi lonjakan impor kopi, dari hanya 14 ribu ton tahun 2017 menjad 79 ribu ton. Sebagian besar impor berasal dari Vietnam, yaitu 31,7 ribu ton. Tentu saja hampir semua adalah Robusta yang merupakan andalan Vietnam. Negeri ini memang pengekspor Robusta terbesar di dunia. Robusta impor ini terutama diserap oleh industri pengolah kopi yang tidak membutuhkan kopi berkualitas tinggi.

Jika kita lengah dan salah arah dalam menerapkan kebijakan perkopian nasional, boleh jadi sebentar lagi Indonesia bakal menjadi pengimpor neto kopi.

Sosok seperti Mas Tosca sangat dibutuhkan untuk memajukan kopi Indonesia sekaligus menyejahterakan petaninya. Riset mutlak harus digalakkan.

Memasuki tahun 2020 harga kopi Robusta terus tertekan dan kembali di bawah US$2 per kg. Sebaliknya harga kopi Arabica mulai mencoba bangkit dan menembus US$3 per kg dalam lima bulan terakhir.