Utang Membengkak, Apakah Benar untuk Infrastruktur?

23 komentar

Tulisan “76 Tahun Merdeka: Utang Kian Membubung dan Mencekik” yang diposting 18 Agustus lalu cukup banyak mendapat tanggapan. Salah satu yang masuk lewat kolom komentar di blog ini mengatakan:

“Ya, lihat juga donk utangnya untuk apa? Kalau utangnya adalah untuk membangun infrastructure diberbagai wilayah ya malah you harus bersyukur donk!! Lihat bagaimana lincahnya konesksitas lintas Sumatera sa’at ini setelah sebagian besar jalan toll sudah terhubung!! Bagaimana di NTT terbangun 8 bendungan untuk berbagai kebutuhan dasar disana!! Penambahan jumlah ruas toll lintas pulau jawa yg sangat significant yg membuat akselerasi kegiatan perekonomian berjalan begitu cepat dan masih banyak lagi infrastructure lain diseluruh Indonesia. Bicara itu harus juga berbanding lurus dgn realitas lapangan!!! Kalau you org dagang you pasti sangat bersemangat manakala banyak modal masuk untuk Pembangunan berbagai infrastructure, namun sayangnya maybe you hanya bisa kritik saja.”

Mari kita lihat ke mana peningkatan utang yang memungkinkan peningkatan belanja pemerintah lebih cepat ketimbang penerimaan pemerintah dari pajak. Apakah benar seperti komentar di atas? Serahkan pada data untuk menjawabnya.

Selama pemerintahan Jokowi, lonjakan belanja paling tinggi bukan untuk pembangunan infrastruktur. Karena infrastruktur “murni” sejatinya tidak habis dipakai dalam satu tahun, maka alokasinya akan tercermin dari belanja modal. Kita bisa lihat sendiri dengan kasat mata pada tabel di atas bahwa belanja modal selama kurun waktu 20014-2019 hanya meningkat sebesar 21 persen. Peningkatan terbesar ternyata untuk bayar bunga utang (106 persen). Menyusul belanja barang yang naik 89 persen, lalu belanja pegawai 54 persen.

Belanja sosial hanya naik sebesar 15 persen.

Jika kita keluarkan pos belanja hibah dan belanja lainnya, maka setelah pandemi pun–sebagaimana terlihat dari perkembangan 2019-2022–peningkatan belanja terbesar masih dipegang oleh pos pembayaran bunga utang. Pos bantuan sosial menduduki posisi kedua dengan kenaikan 30 persen. Tentu kita bisa memahami kenaikan ini mengingat pemerintah harus lebih banyak mengalokasikan dana untuk membantu masyarakat yang terdampak pandemi.

Kondisi primary balance yang selalu negatif selama pemerintahan Jokowi menunjukkan pembayaran bunga utang memang sudah sangat membebani dan semakin berat. Praktik “gali lubang, tutup lubang” tak terhindari sepanjang pemerimaan pajak lebih lambat ketimbang pertumbuhan ekonomi.

Lalu, dari mana dana untuk pembangunan infrastruktur yang nyata-nyata kasat mata dan telah dirasakan oleh masyarakat luas? Sebagian besar dana untuk pembangunan infrastruktur tidak berasal dari APBN. Pemerintah banyak menugaskan BUMN untuk mencari dana sendiri di pasar dengan berutang ke bank maupun menerbitkan obligasi. Oleh karena itu, utang BUMN nonkeuangan turut melonjak. Pada akhir Maret 2021 telah melampaui satu kuadriliun rupiah.

Ada pula pelibatan swasta dalam pembangunan infrastrutur seperti skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KBPU).

Semoga penjelasan ringkas ini bisa menambah jelas duduk perkara tentang utang pemerintah,

23 comments on “Utang Membengkak, Apakah Benar untuk Infrastruktur?”

  1. terima kasih utk penjelasannya pak. saya rasa cukup jelas. yg ingin saya garis bawahi adalah bagi masyarakat awam agak susah membedakan hutang negara dan hutang BUMN. memang secara teknis berbeda tapi ada keterkaitan. kalau hutang BUMN tinggi tentunya setoran ke negara juga kurang. akibatnya defisit anggaran makin dalam.

  2. Salam Bung Faisal,

    Bagaimana tanggapan Bung Faisal terhadap respon bahwa belanja infrastruktur pemerintah lebih banyak tercermin di belanja barang dan personnel mengingat dalam hal pembangunan infrastruktur mayoritas anggaran dari pemerintah digunakan untuk belanja material dan upah tenaga kerja lapangan?

    1. Konsep dalam APBN sudah jelas bahwa belanja infrastruktur adalah bagian dari belanja modal. Pak Hasan, lagi pula sudah kasat mata kok bahwa sebagian besar pembangunan infrastruktur bukan dari APBN.

  3. Pak Faisal Basri, data yang tidak membohongi, jika gali lubang tutup lubang mungkin masih terkendali jika gali lubang berikutnya lebih kecil. Kalo gali lubang, gali lubang, gali lubang, tutup lubang maka kiranya makin banyak dan lebar lubangnya.

  4. Sangat menyedihkan negeri ini, sudah utang tambah gede, distribusi penggunaan utang juga tidak jelas. Infrastruktur ekonomi di wilayah Pulau Kalimantan misalnya hingga saat ini kualitasnya masih sangat buruk.

  5. Kalau melihatnya dengan ratio terhadap PDB kira kira bagaimana pak. Tahun 2014 interest payment 133,4 triliun, sedangkan PDB nya 10.542,7 triliun. Artinya, ratio besarnya interest payment terhadap PDB sebesar 1,26%. Sedangkan tahun 2019, interest payment sebesar 275,5 triliun, PDB tercatat sebesar 15.833,9 triliun. Ratio besarnya interest payment terhadap PDB sebesar 1,73%. Dengan demikian ratio interest payment terhadap PDB dari tahun 2014 ke 2019, hanya melonjak 0.47 basis point. Kalau melihay dengan cara begini, lonjakan tidak semengerikan kalau kita melihat hanya berdasarkan jumlahnya ansih, sebesar 106% seperti penjelasan pak Faisal. Ini apakah bisa diibaratkan begini pak? Seorang pegawai perusahaan baru masuk digaji 4 juta. Kemudian dia mau utang karena ada kebutuhan beli motor untuk menunjang pekerjaannya. Dia hanya mampu nyicil 500 ribu per bulan. 10 tahun kemudian ternyata karirnya melonjak. Gajinya naik jadi 30 juta per bulan. Dia ingin membeli mobil yg juga digunakan untuk menunjang produktifitasnya. Dia harus nyicil 4 juta sebulan. Kira kira lonjakan cicilannya, dari 500 ribu menjadi 4 juta, make sense atau tidak pak Faisal. Terima kasih

    1. Pengamatan yang jeli. Masalahnya, membayar bunga utang dari penerimaan pajak dan penerimaan pajak lebih lamban dari pertambahan PDB. Kedua, dengan kenaikan porsi pembayaran bunga dalam pengeluaran pemerintah pusat, alokasi untuk belanja lainnya jadi tersendat.

  6. Dear pak Faisal,
    Klo tdk salah tahun lalu S&P menurunkan outlook utang kita jdi negatif meskipun msih investment grade. Menurut bpk apakah di tahun2 mendatang S&P akan menurunkan rating kita ke bawah investment grade klo fiskal kita terus2an begini? Thx

    1. Mas Fajar yang baik, kalau tak salah outlook negatif diumumkan oleh S&P April lalu. Saya setuju ancaman penurunan rating terutama berasal dari indikator fiskal. Senadainya pelonggaran defisit di atas 3 persen diperpanjang, sangat boleh jadi rating diturunkan. Syukur current account membaik selama pandemi, sehingga tidak terjadi double punch.

  7. Yg aneh agi, katanya pengusaha meubel export, tpi kok jargonnya bangun toll setelah selesai biaya 10 T dijual 15 – 20 T, bangun lagi ditempat lain, jual lagi untung lagi??Emang yg beli oon, tdk membuat analisis untung rugi??Akhirnya toll jual rugi kan?? Terus kritis Bang FB .Cerahkan yg masih mimpi siang bolong…

  8. Teruntuk, Bapak Faisal Basri

    Perkenalkan saya Aurellia Atha, mahasiswi Hubungan Internasional UI yang saat ini menjabat sebagai panitia International Relations Project Universitas Indonesia (IR Project UI) 2021. IR Project UI merupakan sebuah program kerja tahunan di bawah Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HMHI UI). Terdapat tiga mata acara dalam IR Project UI, yaitu Indonesia Foreign Policy Review (IFPR), Workshop From Home (WFH), dan Hubungan Internasional-Day (HI-Day).

    Sehubungan dengan acara IFPR, kami selaku panitia bermaksud untuk mengundang Bapak menjadi narasumber webinar IFPR yang bertemakan “How Covid-19 Affects Indonesia’s Outlook on Foreign Policy.”

    Jika Bapak berkenan, kami mohon informasi kontak yang dapat dihubungi untuk kami kirimi surat undangan dan Terms of Reference. Apabila terdapat pertanyaan, Bapak dapat menghubungi kontak narahubung yang tertera di bawah ini.

    Kami sangat mengharapkan kesediaan Bapak untuk menjadi narasumber dalam kegiatan IR Project UI 2021. Atas perhatian dan kerja sama Bapak, kami ucapkan terima kasih.

    Hormat kami,
    Panitia IR Project Universitas Indonesia 2021

    Narahubung:
    Riaad Setiawan Ali (+6287894585218/riaad.setiawan@gmail.com)
    Aurellia Atha Nismara (+628161661001/aurelliatha@gmail.com)

    International Relations Project UI 2021
    #TransformTheBoundaries

    1. Dear Sdri. Aurellia Atha. Terima kasih banyak atas undangannya. Emailnya pun sudah saya terima. Saya sudah meminta sekretaris saya untuk membalas dan menyatakan kesediaan jika waktunya masih tersedia. Salam sehat, faisal basri

  9. Analisisnya mencerahkan Bang….solusi yg Abang tawarkan spt apa? Baik jangka pendek…middle dan long term…

    1. Bung Ahmad Nazir yang baik, sebetulnya secara implisit sudah saya sampaikan solusinya. Pertama dan yang terpenting adalah transformasi ekonomi, dari value extraaction menjadi value creation. Di dalam transformasi ekonomi itu ada transformasi perpajakan. Kedua, perangi ekonomi “boros”. Ketiga, hentikan obral fasilitas perpajakan. Terkait dengan perpajakan, insya Allah segera akan saya unduh bahan FGD yang diselenggarakan oleh Fraksi Partai Nasdem kemarin (24/08). Terima kasih banyak.

  10. Kepada Bapak Faisal Basri,

    Perkenalkan nama saya Juan Rhema C. T. dari MnM’s 2021, juga mahasiswa Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT UI. Pertama-tama izinkan saya untuk sedikit memberi penjelasan terkait MnM’s 2021. MnM’s merupakan acara tahunan yang diadakan oleh Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT UI. Dimana acara ini berisi tentang seminar dan kompetisi terkait core competence Departemen Teknik Metalurgi dan Material. Pada acara National Dialogue MnM’s 2021, akan diambil tema “Enhancing Indonesia’s Economic Growth with Advance Deployment of Renewable Energy”

    Terkait dengan acara tersebut, saya ingin menawarkan bahwasanya apakah bapak berkenan untuk menjadi Speaker pada acara National Dialogue MnM’s kami? Yang mana akan dilaksanakan pada 6 November 2021. Untuk konsiderasi, saya sudah mengirim TOR ke email Bapak Faisal. Jika masih ada pertanyaan yang belum terjawab, saya dengan senang hati akan membantu menjawabnya.

    Besar harapan saya dan seluruh panitia agar Bapak berkenan untuk menjadi Speaker dan ikut berpartisipasi pada acara kami nanti. Terima kasih atas waktu dan perhatian Bapak.

    Salam hormat,
    Juan Rhema Christopher Togatorop
    (+6281331490623/juan.rhema@ui.ac.id)

    Speaker Hospitality
    The 16th MnMs’ Week

      1. Baik Pak, terima kasih atas kesediaan Bapak untuk menjadi Speaker di acara kami nanti. Lalu, saya ingin memberikan informasi bahwa saya sudah e-mail ke email Bapak (faisal.basri@gmail.com), tetapi masih belum ada jawaban. Apakah e-mailnya sudah betul ya Pak?
        Terima kasih atas waktunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.