Meningkatkan Kualitas Demokrasi


will
ecohustler.co.uk

Jangan pernah lelah berikhtiar untuk meningkatkan kualitas demokrasi. Jangan beringsut sejengkal pun. Modal utama yang harus terus dijaga adalah kebebasan. Tentu saja kebebasan yang tidak merampas free will orang lain. Kebebasan yang dibingkai oleh keadaban publik, yang mampu mewujudkan keadilan sosial dan harmoni sosial. Bukan kebebasan yang mengumbar kebencian dan permusuhan.

Kebebasanlah yang menjamin pendulum terus bergerak, membawanya ke tengah kala pendulum melaju kencang ke ekstrim kiri atau kanan. Kita harus menghimpun dan mengerahkan energi sosial agar pendulum bergerak dinamis berirama seperti lonceng jam, jangan sampai lonceng jam berhenti mengayun karena kehabisan batere atau ada komponen yang rusak.

Kekuatan yang memaksakan pendulum berayun ke titik ekstrim kiri atau kanan lantas berhenti di sana berkepanjangan hanya bisa terjadi kalau kita hanya berdiam diri, ketika energi kebajikan membeku.

Pemilu atau pilkada merupakan pembaruan kontrak politik, semacam pelumas untuk melancarkan gerak pendulum, ke kiri dan ke kanan tak jauh dari titik tengah keseimbangannya. Bukan statik persis di titik tengah dan berhenti bergerak dengan mematikan energi atau merusak komponen lonceng. Pemilu sejatinya membawa ke arah perbaikan dan keseimbangan politik yang lebih tinggi.

Setiap kita bebas memilih peran yang dipandang paling cocok untuk mengerek keseimbangan politik yang lebih tinggi dan lebih berkualitas. Ada yang menempuh pilihan bergabung dengan kubu salah satu calon. Ada pula yang merasa dirinya tak bakal bisa mengubah keadaan dengan cara tidak mendatangi bilik suara atau golput.

Pada pilkada Jakarta 2012, saya memilih ikut berlaga sebagai salah satu calon gubernur lewat jalur non-partai atau independen. Bukan karena saya anti partai politik, melainkan sebagai pengimbang kekuatan partai politik menuju keseimbangan politik yang lebih tinggi dan berkualitas: semacam peran checks and balances terhadap partai politik. Tim kami menempuh cara-cara baru dalam kampanye, antara lain dengan keterbukaan, crowd funding, dan menawarkan program  yang terukur dan dapat diterapkan, terutama lewat media sosial. Kami mengutamakan tata sosial ketimbang tata ruang, mendengarkan langsung asa masyarakat yang orisinil dengan bermalam di rumah warga, mendengarkan masukan dari para ahli, dan metode-metode baru lainnya yang belum pernah ditempuh sebelumnya. Dua hari setelah pilkada, tim kami menyerahkan laporan keuangan dan alhamdulillah dinilai baik (bahkan kalau tak salah yang terbaik).

Semangat independen terus kami kumandangkan. Karena itu pula, pada pilkada serentak lalu, saya hanya sekali terlibat langsung dan ikut berkampanye untuk calon independen pada pilkada di Tapanuli Tengah.

Saya sama sekali tidak menjadi anggota tim pemenangan calon mana pun di tempat lain, termasuk di Jakarta. Namun, saya terbuka dan dengan suka cita berbagi pengalaman dan pandangan dengan tim pemenangan mana pun, mendorong mereka ikut aktif mewujudkan keseimbangan politik yang lebih tinggi dan berkualitas, bagi kemajuan negeri dan cita-cita keadilan sosial. Bahkan kritik pedas sekalipun saya sampaikan kepada mereka, dengan harapan mereka semua kembali ke jalur persaingan gagasan dengan cara-cara yang sehat.

Semoga yang terbaiklah yang bakal memimpin Jakarta dan melayani warganya.

 

 

 

Prospek Penerimaan Pajak Pasca Tax Amnesty


Ilustrasi Opini - Memburu Fasilitas Pengampunan Pajak
http://www.kontan.co.id

Program pengampunan pajak telah berakhir pada 31 Maret 2017. Antusiasme masyarakat tergolong luar biasa. Sampai akhir batas waktu program, tercatat satu juta lebih jumlah Surat Pernyataan Harta (SPH).

Nilai harta yang dideklarasikan mencapai 4.866 triliun, sekitar 40 persen Produk Domestik Bruto (PDB). Harta yang dideklarasikan itu setara dengan 365 miliar dollar AS atau tiga kali lipat dari cadangan devisa per akhir Februari 2017.

Lebih dari tiga perempat harta yang dideklarasikan adalah harta bersih dalam negeri, sedangkan harta bersih yang ditempatkan di luar negeri sebesar 21,2 persen. Yang sangat jauh dari target pemerintah sebesar Rp 1.000 triliun adalah deklarasi harta bersih repatriasi, hanya 3 persen atau sebesar Rp 147 triliun.

komposisi_harta

Target dana repatriasi yang tergolong sangat ambisius dibuat berdasarkan perkiraan dana WNI yang berada di luar negeri versi Kementerian Keuangan minimal sekitar Rp 11.000 triliun. Angka ini mirip dengan versi Credit Suisse. Sedangkan menurut versi Bank Indonesia jumlahnya sekitar Rp 3.000 triliun, hampir sama dengan versi McKinsey&Company. Perbedaan antara Rp 3.000 triliun dengan Rp 11.000 triliun amatlah besar.

Harta WNI yang ditempatkan di luar negeri bersumber dari beragam motif dan modus operandi, baik yang legal maupun ilegal seperti uang korupsi, penggelapan pajak, under-invoicing exports, over-invoicing imports, dan pelarian modal (capital flights) yang diestimasi dari pos net errors and omissions dalam neraca pembayaran. Bentuknya pun beragam, yang berupa aset fisik maupun finansial.

estimasi

Puncak pencapaian program amnesti pajak terjadi pada akhir periode pertama 30 September 2016. Hal ini bisa dimaklumi mengingat tarif pembayaran tebusan pada periode pertama sangat rendah dan paling rendah. Tarif untuk repatriasi dan deklarasi harta dalam negeri pada periode I adalah 2 persen, periode II 3 persen, dan periode III 5 persen. Untuk deklarasi harta luar negeri masing-masing 4 persen, 6 persen, dan 10 persen. Tak sampai tiga bulan sejak diberlakukan, dana repatriasi mencapai Rp 137 triliun. Enam bulan selanjutnya sampai akhir program, dana repatriasi hanya bertambah Rp 10 triliun.

Pola serupa terjadi pula pada perolehan dari pembayaran tebusan. Uang tebusan “murni” (tidak termasuk pembayaran tunggakan dan pembayaran bukti permulaan (bukper). Per 30 September 2016, pembayaran tebusan “murni” mencapai Rp 89,1 triliun dan enam bulan kemudian hanya naik sebesar Rp 25,2 triliun. Adapun penerimaan total dari program amnesti pajak yang masuk ke APBN per 31 Maret 2017 adalah Rp 135 triliun.

1

Realisasi pembayaran tebusan tidak banyak berubah selama periode ketiga. Sampai akhir program, realisasi pembayaran tebusan mencapai 69,3 persen, sedangkan realisasi berdasarkan surat setoran pajak (SSP)–meliputi pembayaran tunggakan dan pembayaran bukti permulaan–mencapai 81,8 persen dari target.

Mayoritas pembayar pajak besar mengikuti program pengampunan pajak pada periode pertama. Hal ini terlihat dari angka rerata tertinggi per SPH sebesar 12,1 miliar pada 27 September 2016. Setelah itu terus mengalami penurunan hingga titik terendahnya pada akhir periode menjadi Rp 4,8 miliar per SPH.

2

Program amnesti pajak terbukti tidak mampu menambah kekuarangan penerimaan pajak pada APBN 2016. Sekalipun sudah dinambah dengan pembayaran tebusan, penerimaan pajak pada 2016 hanya Rp 1.284 triliun atau 83,4 persen dari target APBN-P 2016 sebesar Rp 1.539 triliun.

Tahun ini target penerimaan pajak dipatok Rp 1,435 triliun, naik 16,7 persen dibandingkan dengan realisasi 2016. Sungguh tantangan yang sangat berat mengingat pertumbuhan penerimaan pajak selama lima tahun terakhir rata-rata hanya 8 persen, tidak sampai separuh dari target.

koreksi

Sudah empat tahun berturut-turut nisbah pajak (tax ratio) mengalami penurunan terus menerus. Estimasi penulis untuk tahun ini pun masih akan turun (lihat garis putus-putus).

compare

Menaikkan nisbah pajak tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, dengan partisipasi yang cukup tinggi dalam program amnesti pajak, ada secercah harapan untuk jangka menengah.

Tahun ini adalah masa konsolidasi. Pengesahan undang-undang perpajakan yang baru perlu dipercepat agar mulai tahun 2018 mulai terjadi peningkatan penerimaan pajak yang melebihi potensi alamiahnya.

Hampir tidak ada pilihan untuk tahun ini kecuali memangkas belanja modal, termasuk untuk pembangunan infrastruktur. Itulah syarat cukup agar konsolidasi fiskal berlangsung lebih mulus.

taxratio

Padahal, nisbah pajak Indonesia tergolong masih relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga, dengan Kamboja sekalipun.

[Diperbaiki pada 9 April 2017, pk. 18:44]

Blog at WordPress.com.

Up ↑