Mengerek Turun Suku Bunga


bunga
kontan.co.id

Desakan dari berbagai kalangan agar suku bunga turun kian menggema. Kebanyakan berharap bunga pinjaman turun ke aras satu digit alias di bawah 10 persen. Berita di Kompas.com hari ini (Suku Bunga di Indonesia Tinggi) menunjukkan suku  bunga di Indonesia paling tinggi di antara negara tetangga, baik untuk suku bunga pinjaman maupun deposit.

Berikut perbandingan beberapa indikator suku bunga tahun 2014 (data terbaru yang tersedia).

Brazil sedang mengalami tekanan ekonomi yang amat parah. Suku bunga deposit minus 15,7 persen, sehingga tidak heran dana keluar (capital flight) sangat besar sehingga membuat mata uang Brazil (Brazilian real) terpuruk.

interest_rate-asean-and brics

definition

Banyak tudingan perbankan kita tidak efisien sebagaimana terlihat dari perbedaan suku bunga pinjaman dan suku bunga deposito yang tinggi, di atas 5 persen. Data teranyar BI per Desember 2015 menunjukkan net interest margin (NIM) 5,2 persen. Posisi Desember 2014 sebetulnya sudah di bawah 5 persen, persisnya 4,1 persen.

Untuk membandingkan dengan negara lain, ada baiknya menggunakan sumber data yang sama. Peraga di atas menunjukkan selisih antara suku bunga pinjaman dan suku bunga deposit  di Indonesia bukanlah yang tertinggi, hanya 3,8 persen. Perbedaan paling tinggi adalah di Thailand, menyusul Filipina, masing-masing 4,8 persen dan 4,3 persen. Yang terendah adalah Malaysia (1,6 persen). Vietnam di posisi kedua sebesar 2,9 persen.

Jika dikoreksi dengan laju inflasi sehingga diperoleh tingkat suku bunga riil, Indonesia tertinggi baik untuk pinjaman maupun deposit.

Negara-negara ASEAN yang menikmati suku bunga rendah disebabkan setidaknya oleh dua faktor. Pertama, beberapa negara ASEAN telah berhasil melakukan konsolidasi perbankan. Yang paling berhasil adalah Singapura, lalu Malaysia. Di luar ASEAN, Korea juga dipandang cukup berhasil. Dengan konsolidasi, modal semakin kuat dan tercapai keekonomian skala (economies of scale), sehingga efisiensi meningkat.

Tak heran jika dalam hal aset maupun ekuitas, bank-bank papan atas Indonesia tercecer di bawah bank-bank Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Jika saja Bank Mandiri dan bank BNI digabung, posisi bank gabungan (katakanlah diberi nama Bank Garuda) langsung melesat ke urutan ke-7 menurut besarnya aset dan ke-5 menurut besarnya ekuitas.

asetequity

Bagaimana mau konsolidasi kalau bank-bank pemerintah saja tidak kunjung terkonsolidasikan. Padahal tidak ada perbedaan karakteristik antara Bank Mandiri dan Bank BNI. Sepatutnya kedua bank itu digabung secepatnya.

Artitektur Perbankan Indonesia (API) cuma di atas kertas. Sampai sekarang tidak ada satu pun bank yang menjelma menjadi bank internasional sebagaimana ditargetkan oleh API.

konsolidasi

Kedua, pasokan kredit relatif besar, sehingga memunculkan persaingan yang lebih ketat. Kredit domestik ke sektor swasta di Indonesia amat rendah, hanya 38 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka untuk Thailand, Singapura, dan Malaysia di atas 100 persen sedangkan Vietnam nyaris 100 persen. Di ASEAN, Indonesia hanya sedikit lebih baik ketimbang Filipina.

Untuk kredit domestik yang disalurkan oleh lembaga keuangan, posisi Indonesia hanya lebih baik dibandingkan dengan Kamboja. Thailand, Malaysia, Singapura, dan Vietnam mencapai di atas 100 persen. Filipina sekalipun lumayan jauh di atas Indonesia.

penetrasi_kredit

Penghambat lainnya yang membuat suku bunga sulit turun berasal dari pemerintah sendiri. Katakanlah suku bunga kredit ditekan ke aras 9 persen. Seandainya NIM turun dari 5,2 persen menjadi 4 persen, maka bunga deposit (katakanlah deposito berjangka) adalah 5 persen. Bagaimana mungkin perbankan bisa bersaing dengan pemerintah yang sedang menjajakan Sukuk Negara Ritel (Sukri) seri SR-003 dengan coupon rate 8,15 persen. Tentu saja jualan pemerintah laris manis, mengakibatkan pengalihan dana dari perbankan ke pemerintah.

Muncul pertanyaan: apakah tingkat suku bunga menjadi penghambat utama investasi dan pertumbuhan ekonomi serta peningkatan daya saing? Singapura dan Malaysia dengan tingkat suku bunga jauh lebih rendah dari Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi jauh lebih rendah dari Indonesia. Suku bunga di Jepang dan Euro Zone mendekati nol tetapi pertumbuhan ekonominya juga mendekati nol.

Keberhasilan pemerintah menekan inflasi jauh lebih penting bagi penurunan suku bunga. Juga kebijakan yang membuat pasokan kredit naik tajam sehingga meningkatkan persaingan di pasar kredit sangat berarti untuk menurunkan suku bunga. Yang tak kalah penting adalah konsolidasi perbankan dimulai dari bank-bank milik negara atau bank BUMN.

Cara komando diyakini bakal menimbulkan komplikasi yang merusak dunia perbankan dalam negeri.

 

Hentikan Akrobat Fiskal


acrobat
clipartpal.com

Mengelola keuangan negara tidak bisa dengan cara berakrobat. Semua variabel ada pakemnya. Asumsi di balik variabel tidak turun dari langit. Perkembangan lingkungan strategis harus dicermati dengan seksama. Energi yang kita miliki harus diukur dengan baik agar di tengah jalan tidak kehabisan bensin. Hindari juga perubahan rute berulang kali.

Komplikasi permasalahan berawal dari target penerimaan pajak tahun 2015 yang “selangit” dengan kenaikan 30 persen dibandingkan dengan realisasi tahun 2014. Padahal, pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang mengalami tekanan. Bukan baru terjadi pada tahun 2015, melainkan sudah berlangsung lima tahun sejak 2015. Pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi terlalu tinggi, yatu 5,7 persen untuk tahun 2015. Realisasinya jauh meleset, hanya 4,8 persen.

APBN-P 2015 sepenuhnya disusun oleh pemerintahan Jokowi-JK. Target pertumbuhan ekonomi memang diturunkan dari 5,8 persen pada APBN 2015. Namun, anehnya target pajak dinaikkan dari Rp 1.380 triliun (APBN 2015) menjadi Rp 1.489 triliun (APBN-P 2015) atau meningkat sebesar 7,9 persen. Target APBN 2015 saja sudah naik 20,3 persen dibandingkan dengan realisasi APBN 2014.

gdp-growth
Berbeda dengan pernyataan-pernyataan Menteri Keuangan selama tahun 2015 yang sejak jauh hari hampir selalu bernada optimistik bisa mencapai target penerimaan pajak, belakangan ini sejak dini sudah pesimistik target pajak pada APBN 2016 tak bakal tercapai. Lihat Target Meleset Rp 290 Triliun.

Berbagai alasan dikemukakan, antara lain target penerimaan dari sektor migas dan komoditas bakal terpangkas Rp 90 triliun karena kemerosotan harga. Bukankah harga semua jenis komoditas sudah mengalami penurunan sejak tahun 2011 dan diperkirakan bakal berlanjut pada tahun ini.

Yang mencengangkan adalah pengakuan Menteri Keuangan bahwa pertumbuhan alami penerimaan pajak adalah pertumbuhan ekonomi ditambah inflasi. Berarti, pertumbuhan alami berdasarkan asumsi APBN-P 2015 adalah 10,7 persen (5,7 persen pertumbuhan ekonomi ditambah 5 persen inflasi). Ditambah usaha ekstra 3 persen, pertumbuhan penerimaan pajak paling tinggi 13,8 persen. Jadi, dari mana datangnya angka 30 persen? Bayangkan, kenaikan lebih dua kali lipat dari kenaikan alamiah plus usaha ekstra. Berarti harus ada usaha ektra luar biasa agar kenaikan lebih dua kali lipat itu tercapai.

apbnp-2015
Sepertinya pemerintah tidak belajar dari pengalaman APBN-P 2015. Pada APBN 2016 kembali target penerimaan pajak naik tinggi, yaitu 25,2 persen. Padahal, sebagaimana diakui oleh Menteri Keuangan, peningkatan pajak alamiah plus usaha ekstra hanya 13. Peningkatan alamiah berasal dari asumsi APBN 2016 untuk pertumbuhan ekonomi 5,3 persen dan inflasi 4,7 persen serta usaha ekstra 3 persen.

Optimisme penerimaan pajak 2015 dan 2016 tampaknya sudah memperhitungkan tambahan penerimaan dari pemberlakuan undang-undang pengampunan pajak. Pernyataan Menteri Keuangan yang memperkirakan penerimaan pajak bakal terpangkas Rp 290 triliun dari target APBN 2016 secara implisit belum memperhitungkan kehadiran pengampunan pajak. Memang sebaiknya target penerimaan pajak hanya memerhitungkan variabel yang sudah pasti saja. Seandainya pun undang-undang pengampunan pajak (tax amnesty) segera diberlakukan, tetap saja target penerimaan pajak 2016 sangat sulit tercapai, karena paling banter hanya menambah Rp 100 triliun.

Perlu dicermati penerimaan pajak tahun ini menghadapi tantangan berat karena sebagian potensinya sudah dieksploitasi untuk memenuhi target tahun lalu. Praktek demikian lazim di masa Dirjen Pajak Hadi Purnomo, tetapi ditertibkan semasa Dirjen Darmin Nasution. Praktek “tsunami pajak” tidak sehat karena sangat mendistorsi penerencanaan perpajakan.

Untuk menghadirkan APBN yang sehat lewat perubahan APBN (APBN-P) tinggal tiga alternatif. Pertama, menaikkan defisit APBN dari 2,15 persen PDB menjadi 2,5 persen PDB. Pemerintah harus menerbitkan lebih banyak surat utang. Dengan lingkungan global yang kurang kondusif dan pasar keuangan dunia yang sangat bergejolak, pemerintah harus menawarkan obligasi dengan bunga yang relatif tinggi. Tampaknya pasar domestik hendak digenjot, antara lain dengan menambah kewajiban lembaga keuangan, asuransi, dan dana pensiun untuk membeli surat utang negara.

Akibatnya, terjadi peralihan dari dana deposito ke surat utang negara yang jumlahnya diperkirakan sekitar Rp 90 triliun. Padahal, penurunan giro wajib minimum sebesar 1 persen oleh Bank Indonesia hanya menambah likuiditas perbankan sekitar Rop 34 triliun. Lihat Dampak terhadap Likuiditas.

Akibat selanjutnya dari pengetatan likuiditas perbankan adalah suku bunga sulit turun. Inilah yang di buku teks ekonomi disebut <em>crowding-out effect: </em>ekspansi fiskal menyebabkan kenaikan suku bunga, lalu kredit turun dan selanjutnya menekan pertumbuhan ekonomi.

Kedua, mendorong badan usaha milik negara (BUMN) mencari dana dari pasar ketimpang bergantung pada penyertaan modal negara (PMN). BUMN yang memperoleh penerimaan dalam valuta asing masuk ke pasar modal global. Pelindo II berhasil meraup dana relatif murah, bahkan jauh lebih murah dari obligasi global pemerintah. Sebelumnya Pelindo III sudah pula menerbitkan obligasi senilai 500 juta dollar AS. Pengelola bandara (Angkasa Pura) juga memiliki potensi besar meraup dana dari pasar global. Untuk BUMN yang tidak memiliki pendapatan valuta asing perlu didorong untuk masuk bursa (go public).

pelindo bonds
Ketiga, memotong belanja. Kalau diibaratkan kondisi fiskal kita terjangkit kanker akibat kekeliruan masa lalu, ada baiknya kaki atau tangan diamputasi agar kanker tidak menjalan ke sekujur tubuh. Yang paling mungkin adalah meninjau kembali proyek jalan tol Sumatera. Pilih saja ruas-ruas yang padat dan ditenderkan terbuka agar swasta maupun BUMN membiayai sepenuhnya proyek itu. Skema private-public partnership bisa digalakkan.

Kalaupun dengan perpaduan ketiga alternatif itu masih juga kurang, tak apa defisit naik ke 2,4 persen sampai 2,5 persen dari PDB, asalkan kualitas belanja terjaga dan target pertumbuhan berkelanjutan dan berkualitas tercapai.

Dengan begitu, kita tidak perlu lagi berakrobat.

Pasar Saham Indonesia Terbaik Dua Minggu Berturut-turut


Walaupun dalam seminggu terakhir mengalami fluktuasi, indeks saham gabungan di Bursa Efek Indonesia menunjukkan kinerja terbaik di dunia. Per 24 Februari 2016 (year-to-date), indeks saham Indonesia mengalami pertumbuhan 4,2 persen dalam US dollar terms. Kali ini Indonesia ditemani Thailand pada posisi teratas. Minggu lalu, Indonesia juga menduduki posisi teratas, dengan kenaikan indeks 5,9 persen, sedangkan Thailand di posisi kedua..

Dalam rupiah (local currency) indeks saham Indonesia hanya naik 1,4 persen. Penguatan rupiah dari Rp 13.504 per dollar AS pada 17 Februari menjadi Rp 13,416  per dollar AS turut membantu kinerja indeks saham dalam US dollar terms.

Emerging markets secara keseluruhan berdasarkan MSCI (Morgan Stanley Capital International) masih mengalami tekanan (minus 7,3 persen), namun lebih baik ketimbang hampir semua negara maju, termasuk indeks saham Euro area (FTSE Euro 100) yang turun 11,7 persen.

global_stock_market-1global_stock_market-2

Jika kestabilan makroekonomi kian membaik dan nilai tukar rupiah lambat laun menguat, ada harapan indeks saham Indonesia bisa mencetak rekor baru tahun ini. Rekor tertinggi terakhir tercatat pada aras 5.514,787 yang terjadi pada 6 Maret 2015. Kemarin (25 Februari), indeks bertengger di aras 4.658,323.

 

Government Must Cut Spending to Reach Targeted Economic Growth: Faisal


TEMPO.CO, THURSDAY, 25 FEBRUARY, 2016 | 10:34 WIB

TEMPO.CO, Jakarta – Economist Faisal Basri has suggested the government to cut its spending in 2016 State Budget (APBN) to help in achieving the target of economic growth of 5.3 percent.

“There’s no other way, spending must be cut. However, it doesn’t mean that planned projects should be canceled,” he said in Jakarta, Wednesday evening, February 24, 2016.

The total state budget in 2016 State Budget is Rp2,095.7 trillion, an increase from 2015 Revised State Budget (APBNP) of Rp1,984.1 trillion.

Therefore, the lecturer of Economy and Business Faculty of University of Indonesia went on, SOEs must be encouraged to fund temselves, among others by issuing their own bonds.

“So Indonesian government won’t need to issue bonds,” he said.

As an example, he said, PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) had done it before by issuing bonds worth Rp9 trillion-Rp10 trillion to fund seaport project.

In mid-2016, PT Angkasa Pura II (Persero) or AP II will also issue bonds worth Rp2 trillion to fund company capital expenditure in 2016 which is around Rp11 trillion.

“As a consequences, the project must be attractive; if not, the bonds will not be sold out,” said the economist.

He also added that the government can not rely on tax amnesty which bill is still being deliberated in the House of Representatives.

Asked about the economic growth of 5.3 percent targeted by the government, Basri is pesimistic that it could be achieved. Even after what he had suggested, he projected that the 2016 economic growth would be at a maximum of 5.2 percent.

“Economic growth of 2016 will be better than in 2015; even though it would be lower than the government’s target, it would still be higher than the IMF’s estimate,” said Basri.

ANTARA

Source: http://en.tempo.co/read/news/2016/02/25/056748115/Govt-Must-Cut-Spending-to-Reach-Targeted-Economic-Growth-Faisal

 

Berapa Uang Gelap Keluar-Masuk Indonesia?


IFF-Update_2015-Cover-327x423Harian Kompas edisi hari ini (Minggu,21 Februari 2016) menurunkan berita berjudul Aliran Dana Gelap ke Luar Negeri Capai Rp 914 Triliun. Aliran uang gelap sebanyak itu terjadi selama kurun waktu 2010-2014. Kompas mengutip dari hasil riset Perkumpulan Prakarsa.

Menurut berita itu,  berdasarkan hasil survei Global Financial Integrity selama periode 2004-2013, besarnya aliran dana gelap dari Indonesia menduduki peringkat ke-9 dari 149 negara. Peringkat berdasarkan rata-rata tahunan dua komponen arus keluar dana gelap (illicit financial outflows), yaitu: (1) deliberate trade misinvoicing (gross excluding reversals atau GER); dan (2) leakages in the balance of payments (hot money narrow atau HMN).

Komponen pertama bisa berupa under-invoicing maupun over-invoicing untuk nilai ekspor dan impor.

Komponen kedua diperoleh dari pos “selisih perhitungan bersih” (net errors and omissions) di dalam neraca pembayaran (balance of payments). Pos ini kerap dijadikan proksi dari pelarian modal (capital flights).

Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang aliran dana gelap, ada baiknya kita menelusuri data dari Global Financial Integrity. Peraga di bawah menunjukkan top-10 negara berdasarnya rerata tahunan nilai illicit financial flows (IFF).

top10_illicit_money

Asia paling menonjol dalam illicit financial flows. Selama kurun waktu 2004-2014, Asia menyumbang 38,8 persen, menyusul negara berkembang Eropa sebesar 25,5 persen, dan Western Hemisphere 20,0 persen. Asia pun tercatat dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 8,6 persen.

Sumber terbesar dari illicit financial flows adalah GER, yaitu rata-rata sebesar 83 persen selama kurun waktu 2004-2013, dengan rincian 52 persen  dalam bentuk export under-invoicing dan 31 persen dalam bentuk import over-invoicing. Sedangkan HMN hanya 17 persen.

Pola untuk Indonesia menunjukkan porsi HMN jauh lebih kecil, yaitu 7,3 persen. Perbedaan tampak pula dari kecenderungan Indonesia yang mengalami penurunan sejak 2009, sedangkan trend dunia naik.

Hasil perhitungan Perkumpulan Prakarsa sebesar Rp 941 triliun sangat boleh jadi merupakan penjumlahan dari HMN dan GER lalu dikalikan dengan kurs.

Illicit-ina

Untuk HMN, kita bisa menganalisis dengan data time series lebih panjang bersumber dari database IMF yang tertera pada sumber peraga di bawah. Selama periode 1984-2015 (data 2014 dan 2015 bersumber dari Bank Indonesia), Indonesia mengalami aliran dana gelap keluar sebanyak 24 kali sedangkan aliran dana gelap masuk sebanyak 8 kali.  Sejak 2004 Indonesia hanya sekali mengalami aliran dana gelap masuk, yaitu tahun 2006. Kenyataan ini membuat HMN lebih sering menekan neraca pembayaran Indonesia.

GFI hanya menggunakan dana gelap keluar dalam menghitung illicit financial outflow. Dengan kata lain data GFI bukan nilai bersih atau neto.

errors_and_omissions_ina

Kita patut memberikan apresiasi kepada Perkumpulan Prakarsa yang telah mengangkat fenomena uang haram yang membuat perekonomian kurang darah. Dan yang lebih penting lagi, lalulintas uang haram itu turut memberikan andil bagi politik uang yang merusak demokrasi di Tanah Air.

Wow … Indonesia Terbaik


Majalah Economist terbaru yang terbit kemarin (19Februari 2016) dalam Global Stock Markets menunjukkan kinerja pasar saham Indonesia adalah yang terbaik per 17 Februari 2016 (year-to-date). Dalam US$ terms kinerja pasar saham Indonesia naik 5,9 persen dibandingkan dengan indeks akhir tahun 2015.

globa_stock_markets

Sampai kemarin, bursa saham Indonesia (dalam rupiah) tumbuh positif 4,04 persen (year-to-date). Pertumbuhan positif yang lebih tinggi dalam US$ terms dibandingkan dengan dalam rupiah disebabkan oleh nilai tukar rupiah yang menguat (apresiasi).

idx

Secara tahunan (year-on-year) index saham Indonesia masih negatif 11,35 persen dalam rupiah dan dalam US$ minus 16,7 persen per 10 Februari 2016. Namun, jika dibandingkan dengan kebanyakan negara berkembang atau emerging markets dan beberapa  negara maju, posisi Indonesia masih lebih baik.

idx-$

Pasar saham Indonesia pernah menghasilkan kinerja terbaik seperti sekarang pada 2 April 2014.

saham-2014

Kinerja pasar saham Indonesia sangat dipengaruhi oleh investor asing. Perkembangan positif dalam dua minggu terakhir diharapkan berlanjut. Tidak hanya di pasar saham, tetapi juga diharapkan terjadi di pasar obligasi, dan terutama penanaman modal asing langsung.

Arus modal masuk asing sangat menentukan stabilitas makroekonomi karena defisit perdagangan barang dan jasa (current account) diperkirakan bakal meningkat. Kinerja ekspor barang (merchandise exports) masih terus tertekan hingga Januari lalu. Lihat Kinerja Ekspor Indonesia Terus Melemah.

Harus pula diantisipasi risiko arus modal keluar dari emerging markets yang diperkirakan bakal terjadi cukup besar walaupun tidak sebesar tahun lalu.

Kinerja Ekspor Indonesia Terus Melemah


Sudah empat tahun nilai ekspor Indonesia mengalami penurunan. Nilai ekspor tahun 2015 turun 26,1 persen dibandingkan tahun 2011. Memasuki tahun 2016 penurunan ekspor berlanjut. Pada Januari 2016 nilai ekspor tercatat sebesar 10,5 miliar dollar AS, turun dibandingkan bulan yang sama tahun lalu sebesar 13,24 miliar dollar AS maupun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 11,92 miliar dollar AS. Penurunan nilai ekspor terjadi untuk migas maupun nonmigas.

Indonesia maupun negara-negara tetangga ASEAN menghadapi lingkungan ekonomi dunia yang sama, namun kinerja ekspor Indonesia paling parah. Vietnam menunjukkan kinerja paling bagus, terus menerus naik dalam empat tahun terakhir.

exports-asean

Jangan bangga dengan transaksi perdagangan yang surplus kalau itu disebabkan oleh penurunan impor yang lebih cepat dari penurunan ekspor, apalagi surplusnya hanya 50 juta dollar AS pada januari 2016. Dua bulan sebelumnya (November dan Desember 2015) transaksi perdagangan mengalami defisit.

Karena sekitar tiga per empat impor berupa bahan baku dan penolong, penurunan impor mencerminkan kegiatan industri yang melemah. Ditambah kenyataan bahwa banyak produk ekspor manufaktur yang memiliki kandungan impor tinggi, sehingga pada gilirannya memperlemah ekspor.

Sudah saatnya pemerintah lebih memerhatikan sektor tradable, khususnya industri manufaktur, karena sektor ini menjadi tumpuan kebangkitan ekspor yang berkelanjutan.

 

BI Rate Harusnya Turun Lagi


Bank Indonesia akan menggelar rapat dewan gubernur (RDG) bulanan pada 17-18 Februari 2016. Rapat bulanan itu hampir bisa dipastikan bakal menurunkan BI rate. Yang ditunggu adalah seberapa besar penurunannya. Kalau BI bersikukuh dengan konservatismenya, penurunan paling banter hanya 25 basis poin seperti bulan lalu.

Ruang untuk menurunkan BI rate lebih progresif terbuka lebar. Faktor pertama, laju inflasi menunjukkan kecenderungan menurun. Tingkat inflasi Februari (year-on-year) diperkirakan turun. Pengaruh imported inflation sangat tidak berarti, bahkan sebaliknya berpotensi menyumbang bagi penurunan inflasi. Sangat ironis kalau kita tidak bisa memanfaatkan tren inflasi dunia yang sangat rendah akibat kemerosotan harga seluruh jenis komoditas. Negara tetangga Singapura sudah mengalami deflasi, demikian juga di Thailand. Inflasi di Vietnam hanya 0,6 persen. Kalau inflasi di Indonesia relatif sangat tinggi dan tertinggi di ASEAN-6, niscaya ada yang salah dengan kita. Segeralah dibenahi. Dengan ekspektasi inflasi yang menurun, peluang BI rate turun lebih dari 25 basis poin semakin besar.

inflasi

Faktor kedua, ketakutan terhadap kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS (The Fed) hampir pupus sama sekali, setidaknya sampai April atau bahkan Juni. Sudah muncul wacana di AS tentang kemungkinan The Fed menerapkan suku bunga negatif. Setidaknya The Fed sudah mengingatkan lembaga keuangan AS untuk melakukan stress test kalau mereka menghadapi kemungkinan suku bunga negatif. Lihat Janet Yellen: Negative rates possible in U.S.

Dua raksasa ekonomi dunia sudah menerapkan suku bunga negatif. Bank Sentral Eropa (European Central Bank) memberlakukannya sejak tahun lalu, Jepang mengumumkan akhir Januari lalu akan mulai memberlakukannya mulai besok (16 Februari). Tiga negara Eropa juga sudah menerapkan kebijakan suku bunga negatif. Bahkan minggu lalu bank sentral Swedia memangkas kembali suku bunga acuan dari minus 0,35 persen menjadi 0,5 persen.

negatif_rate

Kemungkinan modal akan lari dari Indonesia relatif sangat kecil karena suku bunga riil obligasi Indonesia jauh lebih tinggi dari negara-negara maju. Bahkan, perbedaan suku bunga yang cukup tinggi itu mendorong modal asing masuk.

Bank Indonesia tentu berbagi keyakinan dengan serangkaian kebijakan pemerintah yang mendorong modal masuk, terutama penanaman modal asing langsung. Selain itu pasar saham Indonesia belakangan ini cukup menarik minat asing. Beberapa hari terakhir, pembelian bersih asing mencapai triliunan rupiah. Kinerja pasar saham Indonesia jauh di atas rerata emerging markets.

stock_market

Faktor ketiga, harga bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini kerap menjadi momok Bank Indonesia untuk sementara waktu sirna. Bank Dunia baru saja memotong prediksi harga minyak menjadi hanya 37 dollar AS untuk tahun 2016. Risiko kenaikan harga BBM di dalam negeri hampir nihil, bahkan seharusnya harga BBM turun dari tingkat sekarang. Harga BBM di Indonesia sudah teramat mahal jika dibandingkan dengan Malaysia.

oil_price_projectiongasoline_malaysia

Sudah saatnya Bank Indonesia menerapkan kebijakan moneter yang proaktif meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Ingat, angka pengangguran sudah naik. Kita tidak memiliki keleluasaan mendorong terus kebijkan fiskal yang ekspansif karena basis pajak masih sangat rendah dan dunia usaha butuh waktu untuk konsolidasi.

Bukankah sekarang perbedaan BI rate dan laju inflasi relatif tinggi sampai mencapai 311 basis poin dan berpotensi lebih tinggi lagi sejalan dengan ekspektasi inflasi yang menurun?

birate-inflation

Saatnya Bank Indonesia membayar utang atas kekeliruannya menerapkan suku bunga tinggi sejak 2013.

bi rate

 

Peringkat Indonesia Rendah dalam Investasi Global Tiongkok


Dalam pemberitaan media massa terkesan investasi Tiongkok di Indonesia sangat massif. Ditambah dengan kontroversi proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung yang merupakan proyek bersama (konsorsium) BUMN Tiongkok dan beberapa BUMN Indonesia. Belakangan ini Tiongkok juga menonjol di proyek pembangkit listrik.

Ternyata peringkat Indonesia dalam China Going Global Investment Index (CGGII) tahun 2015 hanya di urutan ke-44 dari 67 negara. Peringkat Indonesia tahun 2015 tidak berbeda dengan tahun lalu. Selengkapnya bisa dilihat di CGGII.

CGGII

Tiongkok merupakan investor terbesar ketiga di dunia. Sejak Tiongkok melakukan ekspansi ke seantero dunia tahun 2005, investasi langsung ke luar negeri (outbond direct investment) tumbuh rata-rata 35 persen setahun, mencapai 123 miliar dollar AS tahun 2014.

Sebagian besar investasi asing langsung Tiongkok mengalir ke negara maju. Selain yang tertera di peraga, banyak lagi yang menjadi tujuan investasi Tiongkok, antara lain Norwegia, Denmark, Swedia, Belanda, Belgia, Austria, dan Spanyol. Semua negara itu dengan peringkat jauh di atas Indonesia.

Di antara negara ASEAN pun, peringkat Indonesia tercecer. Yang paling atraktif bagi investasi asing Tiongkok di Asean adalah Singapura (peringkat ke-2), Malaysia (ke-20), Thailand (ke-38), Filipina (ke-39), dan Vietnam (ke-40).

Berdasarkan rencana investasi, Tiongkok cukup menonjol di Indonesia. Namun, realisasinya sejauh ini relatif kecil. Boleh jadi ke depan Tiongkok bakal lebih agresif menanamkan modalnya di Indonesia.***

 

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑