Presiden: “New Normal!!!” Apa Iya?


rebecaschiller.com
rebecaschiller.com

Harian Kompas hari ini (29/11) mewartakan pidato Presiden pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia kemarin. “Presiden menyampaikan, situasi saat ini adalah situasi normal baru. Banyak perbedaan dan pergeseran yang mengubah perekonomian dunia dan nasional. Pada periode harga komoditas yang tinggi, pertumbuhan konsumsi rumah tangga bisa mencapai 17 persen. Namun, saat ini konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,93 persen.”

 

Perekonomian dunia dan Indonesia memang telah banyak berubah.

Dalam tataran makroekonomi misalnya, sejumlah ekonom meyakini Phillips curve yang menjelaskan hubungan negatif antara inflasi dan pengangguran tak lagi hadir atau setidaknya meredup di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Tidak semua ekonom mengamini, antara lain Olivier Blanchard dan Janet Yellen. Muncul pula fenomena secular stagnation  sebagaimana dikemukakan Lawrence Summers yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi rendah beriringan dengan inflasi rendah dan suku bunga rendah di negara-negara maju. Yang tidak sepakat pun cukup banyak. Jika beberapa fenomena baru belum beroleh konsensus, apatah lagi cara menanganinya.

phillips_curve

Telah hadir pula Revolusi Industri IV dan era ekonomi digital. Jika fenomena makroekonomi baru sebatas terjadi di negara-negara maju, era ekonomi digital telah merasuk ke seluruh penjuru dunia. Inilah pesan penting Presiden Joko Widodo. Kita sudah memasuki era baru: pola pikir harus berubah dan pendekatan pembangunan pun harus berubah.

Betapa penting memahami perubahan dalam konteks. Kita potret dulu persoalan mendasar yang menghadang dan akar masalahnya. Apakah kita sudah berada di jalur yang benar sehingga yang dibutuhkan adalah penguatan dan percepatan atau kita berada di rel yang salah.

Kembali ke ucapan Presiden. Data menunjukkan sepanjang sejarah Indonesia merdeka, pertumbuhan konsumsi rumahtangga hampir mencapai 17 persen hanya sekali, yakni pada 1981. Sejak 1979 sampai 1981 konsumsi rumah tangga tumbuh dua digit. Tetapi setelah itu anjlok menjadi 3,4 persen. Pertumbuhan dua digit hanya terjadi sekali  sebelumnya pada 1974 dan setelahnya pada 1995. Boom komoditas memang menjadi pemicunya. Namun, boom komoditas terakhir hanya mampu mendongkrak pertumbuhan konsumsi rumahtangga ke aras tertinggi 5,5 persen pada 2012-2013.

cp
Sumber: Bank Dunia

Setelah krisis ekonomi 1998 pertumbuhan konsumsi rumahtangga tak pernah menembus 6 persen. Pada periode yang sama, pertumbuhan konsumsi rumahtangga di China dan India relatif jauh lebih tinggi dari Indonesia. Bahkan, China menikmati pertumbuhan rerata 11,1 persen selama 1991-2016 (data yang tersedia hanya sejak 1991). Sementara itu, India menunjukkan akselerasi pertumbuhan konsumsi rumahtangga.

Dibandingkan dengan Filipina dan Malaysia pun, pertumbuhan konsumsi rumahtangga Indonesia kerap lebih rendah. Tampak jelas pola di Indonesia mendatar, seolah kekurangan tenaga untuk mengakselerasi.

c

Jangan-jangan pola Indonesia menunjukkan ketidaknormalan sudah sejak lama, sebelum fenomena baru dunia sekalipun.

Banyak faktor di balik fenomena ganjil yang dialami Indonesia. Antara lain adalah transformasi struktural yang tidak mulus atau tidak mengikuti pola normal. Industrialisasi meredup ketika kita belum mencapai tingkat matang berindustri. Pekerja informal lebih banyak ketimbang pekerja formal. Pekerja di sektor pertanian masih dominan sedangkan peranannya di dalam produk domestik bruto turu lebih cepat. Akibat dari semua itu, nisbah pajak rendah dan bahkan terus turun.

Perlu cetak biru baru bagi Indonesia agar terhindar dari middle income trap.

Presiden berjanji menawarkan strategi baru setelah melakukan akselerasi pembangunan infrastruktur.

 

 

Manufaktur dan Penerimaan Pajak


Pada 31 Oktober, Menseskab @pramonoanung menyampaikan data menarik di twitter tentang perkembangan penerimaan pajak per sektor. Data yang dipaparkan tergolong sangat jarang digunakan atau diberitakan.

Screen Shot 2017-11-05 at 13.20.42

Di situ tampak bahwa sektor industri merupakan penyumbang terbesar dalam penerimaan pajak, yaitu 31,2 persen selama Januari-Oktober 2017, naik dari 30,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Seandainya industrialisasi di Indonesia tidak “layu sebelum merekah penuh” mencapai titik optimalnya sebagaimana dialami banyak negara yang perekonomiannya berhasil melaju kencang, niscaya penerimaan pajak kita tidak akan semerana sekarang dan nisbah pajak (tax ratio) tidak akan serendah sekarang dengan kecenderungan yang terus turun.

Peranan industri manufaktur dalam produk domestik bruto (PDB) menurun ketika baru mencapai 29 persen. Sejak 2009 laju penurunannya lebih cepat ketimbang negara Asia Timur dan Pasifik.

share

Industri manufaktur tidak hanya sebagai penyumbang penerimaan pajak terbesar, tetapi juga memiliki koefisien pajak yang relatif tinggi, yaitu sebesar 1,5. Artinya, kenaikan satu persen pangsa industri manufaktur dalam PDB akan meningkatkan penerimaan pajak 1,5 persen. Memang angka koefisiennya jauh lebih rendah ketimbang sektor keuangan, tetapi karena peranan sektor keuangan dalam PDB masih sangat rendah (sekitar 4 persen), maka dampaknya terhadap penerimaan pajak total belum bisa diandalkan.

industry-tax

Industri manufaktur kita tertatih-tatih. Pertumbuhannya hampir selalu di bawah pertumbuhan PDB. Selama 2017 (Januari-September), pertumbuhan industri manufaktur masih di bawah 5 persen, lebih rendah ketimbang rata-rata 2011-2016. Bahkan, selama 2017 tercatat empat subsektor manufaktur mengalami pertumbuhan negatif.

mfg-share

Ada empat kelompok industri yang menunjukkan kinerja menonjol, namun hanya dua di antaranya yang konsisten dengan pertumbuhan tinggi. Lima kelompok industri terbesar menyumbang 70 persen dalam pembentukan nilai tambah industri manufaktur non-migas.

top-5

Ruang untuk melakukan akselerasi industrialisasi masih terbuka lebar. Selain memperkokoh daya saing kelima industri utama, harapan tertumpu pada industri berbasis sumber daya alam.

Jika potensi besar yang masih berserakan bisa dihimpun, rasanya tidak terlalu sulit untuk menaikkan tax ratio.

Surat Terbuka kepada Presiden: Mohon Ditertibkan Praktek Pemburuan Rente


theguardian.com
theguardian.com

Kepada yang terhormat Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo

Sungguh banyak persoalan yang Bapak hadapi dan tangani. Sementara yang saya sampaikan hanya sejumput masalah yang mungkin tidak menjadi prioritas untuk ditangani. Namun, saya memiliki keyakinan kuat masalah kecil ini berpotensi mengganggu kinerja perekonomian dan juga kredibilitas pemerintah secara keseluruhan, yang ujung-ujungnya menambah beban Bapak Presiden.

***

Sekalipun sumbangan industri manufaktur dalam perekonomian mengalami penurunan yang cukup tajam dari 29,05 persen pada tahun 2001 menjadi hanya 20,26 persen pada triwulan II-2017, sektor ini masih merupakan penyumbang terbesar dalam produk domestik bruto (PDB).

Industri makanan & minuman adalah motor penggerak utama atau terbesar dalam penciptaan nilai tambah industri manufaktur. Pada triwulan II-2017, peranannya  mencapai lebih dari sepertiga –persisnya 34,4 persen– terhadap industri manufaktur non-migas.

Selama kurun waktu 2011-2016, industri makanan & minuman mencatat rekor pertumbuhan tertinggi sebesar 8,48 persen rata-rata setahun, hampir dua kali lipat dari pertumbuhan keseluruhan industri manufaktur yang hanya 4,92 persen. Pada triwulan I-2017, pertumbuhan industri makanan & minuman sedikit menurun tetapi masih di atas 8 persen atau tepatnya 8,24 persen, kedua tertinggi setelah industri kimia, farmasi, dan obat tradisional yang mencapai 8,85 persen. Penurunan laju pertumbuhan industri makanan & minuman berlanjut menjadi 7,19 persen pada triwulan II-2017. Kemerosotan ini perlu diwaspadai karena berimplikasi cukup luas.

Industri makanan & minuman juga merupakan penyerap tenaga kerja terbesar. Pada tahun 2015 (data terbaru publikasi Badan Pusat Statistik), industri makanan & minuman skala besar dan sedang menyerap 918.143 tenaga kerja atau 17,5 persen dari keseluruhan tenaga kerja di industri manufaktur besar dan sedang yang berjumlah 5,2 juta pekerja. Di industri manufaktur mikro dan kecil, industri makanan & minuman menyerap jauh lebih banyak pekerja, yaitu 3,75 juta atau 43 persen dari keseluruhan tenaga kerja di industri mikro dan kecil yang berjumlah 8,7 juta.

Hampir seluruh industri makanan & minuman menggunakan gula sebagai salah satu bahan baku atau penolong. Gula yang digunakan pada umumnya berupa gula rafinasi mengingat harganya relatif jauh lebih murah daripada gula tebu yang dihasilkan di dalam negeri.  Pada bulan Agustus 2017, harga gula di pasaran dunia (Bank Dunia, Commodity Price Data, The Pink Sheet) hanya 0,32 sen dollar AS per kilogram (Rp 4.320 per kilogram dengan kurs Rp 13.500 per dollar AS ), sedangkan harga eceran yang dikutip dari BPS sebesar Rp 13.160 per kilogram. Lagi pula, produksi gula berbasis tebu di dalam negeri hanya sekitar 2,5 juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan gula nasional sekitar 5,5 juta ton per tahun. Kekurangannya diisi oleh gula rafinasi.

***

Gula rafinasi dihasilkan oleh pabrik gula rafinasi di dalam negeri yang mengimpor bahan bakunya berupa gula mentah (raw sugar).

Karut marut pergulaan di Indonesia dipicu oleh pembedaan gula kristal putihi (GKP)  yang dihasilkan dari pabrik gula berbasis tebu di dalam negeri dan gula rafinasi hasil dari pengolahan raw sugar yang seluruhnya diimpor.

Regulasi pemerintah hanya membolehkan gula rafinasi diserap oleh industri pengguna, tidak boleh dijual di pasar untuk kebutuhan konsumsi masyarakat. Belakangan, aturan itu dilanggar sendiri oleh pemerintah yang menggunakan gula rafinasi dalam melakukan operasi pasar untuk menekan harga jual gula di pasar. Penggelontoran gula rafinasi ke pasaran dalam bentuk operasi pasar oleh pemerintah memang cukup ampuh menurunkan harga eceran di pasar.

Sebelum kehadiran pabrik gula refinasi di Indonesia, industri makanan & minuman diperbolehkan mengimpor langsung gula rafinasi untuk kebutuhan sendiri. Dengan kehadiran pabrik gula rafinasi di dalam negeri, industri makanan & minuman wajib membeli dari industri rafinasi lokal.

Volume gula rafinasi yang diperdagangkan sekitar 3 juta ton per tahun.  Dengan harga rata-rata Rp 8.000 saja per kilogram menghasilkan omzet sekitar Rp 24 triliun setahun.

Rupanya ada yang hendak menikmati bisnis yang cukup menggiurkan ini. Pintu masuk terbuka dengan kemunculan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 16/M-DAG/PER/3/2017 tentang Perdagangan Gula Kristal Rafinasi Melalui Pasar Lelang Komoditas yang diundangkan pada 17 Maret 2017.

Pasal 2 Peraturan Menteri Perdagangan itu mewajibkan seluruh gula rafinasi diperdagangkan melalui pasar lelang.

Pasal 4 ayat (1) menyebutkan bahwa penyelengara pasar lelang gula kristal rafinasi ditetapkan oleh Menteri Perdagangan. Tanpa kejelasan proses dan mekanismenya, tiba-tiba ditunjuklah PT Pasar Komoditas Jakarta sebagai penyelenggara pasar lelang melalui Surat Keputusan Menteri Perdagangan No. 684/M-DAG/KEP/5/2017 yang ditandatangani pada 12 Mei 2017.

Sedemikian besar kuasa penyelenggara pasar lelang yang telah ditunjuk itu terlihat dari keleluasaannya menentukan besaran biaya dan mekanisme pembayaran. Biaya yang akan dikenakan meliputi biaya transaksi lelang, biaya pendaftaran, biaya kepesertaan tahunan, dan biaya pelayanan lainnya.

***

PT Pasar Komoditas Jakarta ternyata adalah perusahaan yang baru memperoleh pengesahan pendirian pada 29 November 2016. Pemegang saham adalah PT Global Nusa Lestari yang beralamat di Gedung Artha Graha lantai 27, SCBD, Jl. Jenderal Sudirman Kav 52-53, Jakarta; dan PT Bursa Berjangka Jakarta yang informasinya bisa dilihat di sini. PT Global Nusa Lestari merupakan pemegang saham maroritas dengan penguasaan 90 persen. Susunan direksi PT Pasar Komoditas Jakarta terdiri dari Randy Suparman sebagai Direktur Utama, Jansen Tri Utama dan Haryanto sebagai direktur, serta Daniel Rusli sebagai Komisaris Utama dan Hansen Wibowo sebagai Komisaris.

Sempat beredar kabar PT Pasar Komoditas Jakarta mengenakan biaya transaksi sebesar Rp 200.000 per ton ton, Rp 50.000 ditanggung penjual dan Rp 150.000 ditanggung pembeli. Lihat Swara Senayan. Kabar terakhir yang diperoleh dari kalangan industri, biaya transaksi per ton Rp 85.000 ditanggung oleh pembeli.

Dengan volume perdagangan sekitar 3 juta ton setahun, maka pendapatan penyelenggara lelang hanya dari transaksi lelang gula rafinasi sekitar Rp 255 miliar. Penyelenggara lelang masih memperoleh pemasukan dari berbagai pungutan sebagaimana diutarakan di atas. Sewaktu-waktu penyelenggara lelang bisa menaikkan biaya lelang dan biaya lainnya.

Menteri Perdagangan berkilah kehadiran pasar lelang bertujuan untuk mencegah perembesan gula rafinasi pasar bebas dan menciptakan keadilan bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

UMKM tentu saja dirugikan oleh kebijakan pemerintah sendiri, karena UMKM membeli gula rafinasi dalam skala kecil. Mengingat pula UMKM tersebar di seantero negeri dan pabrik gula rafinasi terkonsentrasi di Banten, amat sulit bagi UMKM bertransaksi langsung dengan pabrik. Beberapa kasus memilikan terjadi karena pembelian UMKM dari distributor dianggap tidak legal. Truk-truk yang mengangkut gula rafinasi ditangkap oleh polisi.

Apakah dengan mekanisme lelang UMKM bakal memperoleh keadilan? Tentu saja tidak. Karena penyelenggara lelang mensyaratkan transaksi minimum sebanyak satu ton. Dengan asumsi harga per ton Rp 8.000, UKM butuh dana Rp 8 juta hanya untuk gula. padahal kebutuhan gula rata-rata UKM tidak banyak. Kalau membeli satu ton, boleh jadi sebagian stok gula mereka bakal rusak.

Ternyata sudah ada yang siap membantu UMKM dengan dukungan dana besar untuk menyerap 500.000 ton gula kristal rafinasi melalui lelang. Yang menyatakan siap itu ialah Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) yang diketuai Ikhsan Ingratubun.

Jika Akumindo merupakan wadah tunggal UMKM, boleh jadi tidak banyak bedanya dengan peran distributor jika dibolehkan berfungsi sebagai penyalur ke UMKM.

Menteri Perdagangan peduli dengan praktek perembesan ke pasar atau konsumen langsung yang diklaim sekitar 200 ribu ton. Angka itu tidak sampai 10 persen dari keseluruhan pasokan gula rafinasi. Untuk mengatasi yang tidak sampai 10 persen itu, seluruh pengusaha pengguna gula rafinasi terkena getahnya. Kecil kemungkinan pelaku industri makanan & minuman besar ikut cawe-cawe terjun ke bisnis gula rafinasi rembesan yang melanggar hukum. Mengawasi mereka relatif mudah, karena produsen yang memasok gula rafinasi hanya belasan saja dan pembelian oleh industri besar dan sedang pada umumnya diikat dengan kontrak jangka panjang.  Beberapa pabrik telah ditindak karena dinyatakan melakukan perembesan.

Kebijakan Menteri Perdagangan yang mengatur transaksi lewat pasar lelang nyata-nyata merupakan praktek pemburuan rente yang mudaratnya jauh lebih besar ketimbang maslahatnya.

***

Bagi Menteri Perdagangan, kebijakan wajib lelang gula rafinasi adalah “harga mati.” Ancaman sangat nyata di depan mata. Hanya Bapak Presiden yang bisa membatalkannya.

Mari kita mencari pemecahan menyeluruh atas persoalan pergulaan nasional yang mampu menyejahterakan petani, memajukan industri gula nasional yang berdaya saing, dan menguntungkan konsumen. Kebijakan yang menghasilkan win win solution.

Terima kasih banyak atas perhatian Bapak Presiden. Tindakan tegas sangat dinantikan mengingat mekanisme lelang akan segera diberlakukan, yakni per 1 Oktober 2017.

***

 

 

Pengapuran Tulang Kaki Akibatkan Tak Bisa Berlari Kencang: Gejala Dini Deindustrialisasi


playbuzz.com
playbuzz.com

Kestabilan makroekonomi yang terjaga tidak otomatis mengindikasikan seluruh organ tubuh perekonomian berfungsi baik. Bisa saja inflasi (suhu tubuh) rendah, suku bunga (tekanan darah) menurun, nilai tukar rupiah (detak jantung) “anteng” (volatilitas rendah), dan sebagainya, mengahasilkan pertumbuhan ekonomi yang melemah.

Terbukti, hasil pemeriksaan dengan MRI (magnetic resonance imaging) menemukan ada organ tubuh yang tidak berfungsi normal. Di tulang kaki terjadi pengapuran yang menyebabkan kaki tidak bisa leluasa mengayun, apalagi berlari kencang. Ternyata, pengapuran tidak hanya dialami orang berusia lanjut. Indonesia yang masih tergolong belia pun terkena pengapuran. Tes dengan menggunakan X-ray maupun CT scan tak mampu mengidentifikasi pengapuran itu, apalagi sekedar dari pengukuran suhu tubuh, tekanan darah, dan detak jantung.

Kedua kaki bisa diibaratkan sebagai sektor industri manufaktur dalam perekonomian. Negara-negara yang menjalani tahapan pembangunan dengan mulus menjadi negara maju pada umumnya melewati tahapan industrialisasi yang matang.

Di awal pembangunan, sektor pertanian mendominasi perekonomian. Ketergantungan pada alam dan tenaga kerja tidak bisa membuat sektor pertanian sebagai motor pertumbuhan terus menerus. Tuntutan modernisasi pertanian dan peningkatan produktivitas petani menyebabkan sektor ini mengurangi jumlah pekerja. Oleh karena itu harus ada sektor yang menampung kelebihan tenaga kerja di sektor pertanian. Sehingga, industrialisasi menjadi keharusan.

Industrialisasi dan modernisasi pertanian berlangsung seirama, Pertama, industrialisasi memungkinkan komoditas pertanian diolah lebih lanjut untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi. Kedua, sektor industri menghasilkan beragam produk manufaktur yang dibutuhkan petani sejalan dengan peningkatan pendapatan mereka dan tuntutan peningkatan produktivitas. Petani butuh pacul, linggis, alat pengering, mesin penggiling, traktor, dan berbagai kebutuhan rumahtangga. Petani mampu menyerap produk manufaktur karena kenaikan daya beli sebagai hasil dari peningkatan produktivitas berkelanjutan.

Kelebihan tenaga kerja di sektor pertanian beransur-angsur beralih ke sektor industri, sehingga semakin banyak penduduk yang bekerja di sektor industri. Di negara yang penduduknya banyak, pasar domestik menjadi andalan, sedangkan di negara kecil industrialisasi berorientasi pada pasar luar negara (export oriented).

Indonesia memulai industrialisasi dengan kombinasi orientasi pasar dalam negeri dan orientasi ekspor. Opsi kedua sempat dominan karena pertimbangan keterbatasan daya beli petani akibat pembangunan pertanian belum mencapai titik optimum dan tidak berkelanjutan.

Diselipi dengan unsur pragmatisme, sektor industri manufaktur Indonesia tumbuh pesat pada awal pemerintahan Orde Baru (1968-71) dengan pertumbuhan rerata setahun 11,6 persen. Industri manufaktur mulai menonjol peranannya sebagai motor pertumbuhan. Pada kurun waktu yang sama pertumbuhan ekonomi rerata setahun mencapai 8,1 persen.

Akselerasi industrialisasi selanjutnya terjadi pada periode 1974-81 yang menghasilkan pertumbuhan 14,2 persen per tahun. Pertumbuhan ekonomi pada kuwun waktu yang sama mencapai 7,5 persen. Dengan demikian pertumbuhan industri manufaktur hampir dua kali lipat dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

Pada paruh pertama 1980-an, banyak tantangan menghadang. Kemerosotan harga minyak dunia dan krisis Pertamina menginterupsi gerak maju industri manufatur. Namun, mulai 1985 kembali bangkit, bahkan akreselerasi industri berlangsung paling panjang (1985-96) dengan mencetak pertumbuhan 10,7 persen per tahun. Selama 1974-81 dan 1985-96, pertumbuhan industri manufaktur selalu lebih tinggi dari pertumbuhan PDB, bahkan sempat dua kali lipat lebih.

Pasca krisis 1998 pertumbuhan manufaktur meredup, tetapi masih kerap lebih tinggi dari pertumbuhan PDB. Sejak 2005 industri manufaktur mamasuki era baru:  pertumbuhannya selalu lebih rendah dari pertumbuhan PDB, dengan pengecualian tahun 2011.

mfg-gdp

Perlambatan laju industri manufaktur terjadi tatkala industrialisasi belum mencapai titik matang. Di tengah jalan muncul ambisi melakukan lompatan dengan menerapkan perlindungan berlebihan. Fondasi yang belum kokoh dan dana terbatas ditambah dengan praktek pemburuan rente yang masif turut memperparah krisis 1998.

Sumbangan industri manufaktur baru mencapai 29 persen pada 2001 tetapi sudah mencapai titik puncak dan setelah itu mengalami trend penurunan hingga kini hanya 20,4 persen. Negara-negara Asia Timur & Pasifik baru mengalami penurunan setelah mencapai 37,8 persen dan data terakhir masih 28 persen. China mencapai puncak pada aras 40,1 persen dan kini masih 29,7 persen. Korea yang telah menjema sebagai negara industri maju mencapai titik puncak pada aras 31 persen dan setelah turun sedikit hingga sekarang masih cukup tinggi di aras 29,7 persen. Malaysia dan Thailand mencapai titik tertinggi hampir sama, masing-masing 30,9 persen dan 31,1 persen. Brazil, yang penduduknya lebih banyak dari Indonesia, sumbangan industri manufakturnya terhadap PDB mencapai puncak sebesar 34,6 persen, namun mengalami kemerosotan yang relatif cepat menjadi hanya 11,7 persen pada 2016. Brazil sempat mengalami lost decade dan belakangan ini mengalami penurunan pendapatan per kapita dalam dollar AS yang relatif tajam selama tiga tahun terakhir.

share

Dibandingkan dengan kebanyakan negara dalam kelompok Emerging markets, penurunan sumbangan industri manufaktur dalam PDB di Indonesia berlangsung lebih cepat. Sebaliknya, sektor jasa menyeruak relatif cepat dan sudah melampaui 50 persen PDB sejak 2010. Pada semester pertama 2017, peranan sektor jasa sudah mencapai 58,2 persen. Indonesia telah menjelma sebagai negara jasa. Sebagai perbandingan, sampai 2015, sektor jasa di China masih seimbang dengan sektor barang, padahal China jauh lebih maju dari Indonesia.

structure

Apakah kinerja industrialisasi yang terseok-seok menyebabkan Indonesia semakin tertinggal dalam memajukan kesejahteraan rakyatnya sebagaimana terlihat pada indikator pendapatan nasional bruto per kapita baik berdasarkan nilai dollar berlaku maupun  paritas daya beli (purchasing power parity/PPP) ataupun dengan menggunakan indikator PDB per kapita.

12

3

Bolehlah sebagai pelipur lara kita membandingkan ukuran PDB nominal yang menempatkan Indonesia di urutan ke-16 dunia, sehingga kita menjadi satu-satunya negara ASEAN yang masuk sebagai anggota G-20. [Pada Sea Games baru-baru ini di Malaysia, perolehan medali Indonesia di urutan kelima, di bawah Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Singapura.] PDB Indonesia pada 2016 senilai 932 miliar dollar AS, lebih tinggi ketimbang bekas penjajah Belanda, Swiss, dan Saudi Arabia.

Lebih mencolok lagi kalau menggunakan PDB berdasarkan PPP yang mendudukkan Indonesia di posisi ke-8 dunia dengan nilai 3 triliun dollar AS pada tahun 2016. Posisi Indonesia itu lebih tinggi dibandingkan dengan Inggris, Prancis, dan Italia.

 

 

 

 

 

Mitos “Negara dengan Garis Pantai Terpanjang Kedua di Dunia Kok Impor Garam”


Sebagai negara maritim dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia tidak sepatutnya mengimpor garam jutaan ton setiap tahun. 

Begitulah mitos yang melekat pada banyak orang, tidak hanya di kalangan awam, melainkan juga kerap didengungkan oleh kaum berpendidikan dan pejabat tinggi.

Mitos itu benar adanya jika garam diproduksi di laut, karena dua pertiga luas Indonesia berupa laut.

Masalahnya, garam diproses di darat. Perlu hamparan lahan untuk memproses air laut menjadi garam. Lokasi produksi pada umumnya di pantai. Padahal, pantai bisa pula digunakan untuk kegiatan ekonomi lain seperti hotel dan sarana rekreasi yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi ketimbang untuk memproduksi garam.

Kawasan pantai yang luas tidak otomatis layak untuk usaha garam jika curah hujan tinggi. Selain itu tingkat kelembaban juga menjadi faktor penentu.

Kasus seperti Indonesia juga dialami oleh empat negara lain yang masuk dalam kelompok 10 besar negara dengan garis pantai terpanjang, yaitu Rusia, Filipina, Jepang, dan Selandia Baru. Serupa seperti Indonesia, keempat negara itu bukan merupakan produsen garam terkemuka. Bahkan, Jepang justru merupakan pengimpor terbesar kedua di dunia.

Produsen terbesar di dunia adalah China. Padahal, panjang garis pantainya hanya seperempat dari Indonesia. Amerika Serikat, sebagai produsen terbesar kedua, hanya memiliki garis pantai yang panjangnya hanya sepertiga dari garis pantai Indonesia.

Sekalipun China dan Amerika Serikat berada di urutan pertama dan kedua produsen garam dunia, kedua negara itu juga merupakan negara pengimpor terbesar ketiga dan pertama. Tak ada jargon swasembada walaupun keduanya memiliki garis pantai yang lumayan panjang dan menjadi produsen garam terkemuka.

Mengapa Amerika Serikat dan China butuh banyak garam? Karena kebutuhan garam paling banyak adalah untuk industri. Industri jauh lebih banyak menyerap garam ketimbang rumah tangga. Tengoklah negara-negara pengimpor utama adalah negara industri maju. Di luar Amerika Serikat (urutan pertama), Jepang (ke-2), dan China (ke-3), ada Jerman, Korea, dan Taiwan.

salt

Mengapa India yang panjang garis pantainya hanya di urutan ke-20 bisa menjadi produsen garam terbesar ke-3 di dunia? Karena, sumber produksi garam tidak hanya dari air laut (sea brine), melainkan juga dari air danau (lake brine), sub-soil brine, dan deposit garam tambang (rock salt deposits). Hampir semua garam di Indonesia dihasilkan dari air laut.

himalayan rock salt
usefulinnovation.com
morton salt
mortonsalt.com

 

Sumber data:

Central Intelligence Agency 2010, The World Factbook 2010, ISSN 1553-8133, Washington, DC, viewed 6th February, 2010, <https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/index.html>.

http://www.indexmundi.com/minerals/?product=salt

http://www.worldatlas.com/articles/20-top-salt-exporting-countries.html

http://www.worldsrichestcountries.com/top-salt-importers.html

 

 

 

 

mortonsalt.com

Meningkatkan Pajak dengan Memacu Industrialisasi


manufacturing-industries-1-638
slideshare.net

Walaupun terus menerus mengalami penurunan, peranan sektor industri manufaktur dalam produk domestik bruto (PDB) masih tetap yang tertinggi, yaitu 20,5 persen pada tahun 2016. Tiga sektor lainnya yang menyumbang PDB di atas 10 persen adalah sektor pertanian (13,5 persen), sektor perdagangan dan reparasi mobil dan sepeda motor (13,2 persen), dan sektor konstruksi (10,4 persen).

Kebanyakan yang mengalami pertumbuhan tinggi adalah sektor-sektor yang peranannya dalam PDB masih relatif kecil, seperti sektor informasi dan komunikasi, jasa usaha, serta sektor kesehatan dan kegiatan sosial.

pertumbuhan per sektor

Karena sebagian besar industri manufaktur merupakan usaha formal dan berwujud, sumbangannya terhadap penerimaan pajak tergolong sangat besar dan terbesar pula, yakni sekitar 31 persen. Berarti sumbangan sektor industri manufaktur terhadap penerimaan pajak lebih besar ketimbang sumbangannya terhadap PDB, yaitu hampir 1,5 kali lipat.

Jadi bisa dipahami jika pertumbuhan sektor industri manufaktur melambat dan lebih rendah dari pertumbuhan PDB, maka sumbangan sektor ini terhadap penerimaan pajak pun akan relatif berkurang.

Sumbangan sektor perdagangan dan reparasi mobil dan sepeda motor terhadap PDB hampir sama dengan sumbangannya terhadap penerimaan pajak.

Sementara itu, sektor pertanian sumbangannya hanya 1,6 persen terhadap penerimaan pajak, padahal sektor ini merupakan penyumbang kedua terbesar dalam PDB. Sehingga, nisbah dalam penerimaan pajak terhadap nisbah dalam PDB hanya 0,12 persen. Ini bisa dipahami mengingat produk pertanian banyak dikecualikan dalam perpajakan demi menolong petani kecil.

Nisbah peranan penerimaan pajak terhadap nisbah PDB untuk sektor konstruksi juga relatif rendah walaupun tidak serendah sektor pertanian.

Dari gambaran di atas tampak betapa penting peranan sektor industri manufaktur dalam penerimaan pajak.

Peranan sektor keuangan dalam penerimaan pajak 3,2 kali dari peranannya dalam PDB. Pertumbuhan sektor ini pun tergolong sangat tinggi, kerap jauh lebih tinggi ketimbang pertumbuhan PDB. Namun, karena peranan sektor keuangan dalam PDB masih relatif sangat rendah (4,2 persen), sektor ini belum bisa diandalkan sebagai sumber utama penerimaan pajak.

pajak

Mengingat tahapan industrialisasi Indonesia belum mencapai tingkat yang optimal, maka ruang gerak masih cukup leluasa untuk mengakselerasikan pertumbuhan sektor industri manufaktur.

Memajukan industrialisasi ibarat menanam bibit unggul bagi perekonomian, khususnya dalam upaya meningkatkan penerimaan pajak dan tax ratio.

 

Negara Paling Inovatif dan Posisi Indonesia


Innovation-shutterstock_304453115-e1447343782999
oxfordinnovationservices.co.uk

Dua minggu lalu, INSEAD, WIPO, dan Cornell SC Johnson College of Business meluncurkan The Global Innovation Index 2017 edisi ke-10. Laporan dari proyek bersama ini menghasilkan pemeringkatan kinerja inovasi dari 127 negara yang meliputi 97 persen dari produk domestik bruto (PDB) dunia.

Sama seperti Laporan tahun lalu, Switzerland berada pada posisi puncak. Di urutan lima besar selanjutnya adalah Swedia, Belanda, Amerika Serikat, dan Inggris.

Satu-satunya negara Asia yang menduduki posisi sepuluh besar adalah Singapura. China semakin menunjukkan taringnya di urutan ke-22. Dua negara ASEAN lainnya masuk dalam 50 besar, yaitu Malaysia di peringkat ke-37 dan Vietnam ke-47. Thailand berada di urutan ke-51 dan Filipina ke-73.

Indonesia berada di uturan ke-87 dengan skor 30,1, tidak sampai separuh dari skor tertinggi yang disandang oleh Switzerland sebesar 67,7. Di bawah Indonesia adalah Kamboja di peringkat ke-101.

gii-1

Skor tertinggi Indonesia tercapai pada tahun 2008-09 sebesar 32,6. Namun waktu itu skor tertinggi adalah 10. Skor tertinggi 100 baru diterapkan pada tahun 2011. Penulis melakukan penyesuaian sehingga seluruhnya menggunakan skor 0-100.

Sejak menggunakan skor 0-100, pencapaian terbaik Indonesia adalah pada tahun 2013. Tiga tahun selanjutnya terus meningkat menjadi 31,81 pada tahun 2014, 29,79 pada 2015, dan 29,07 pada 2016. Tahun ini skor Indonesia naik menjadi 30,10.

Menarik untuk membandingkan perkembangan GII Indonesia dan Vietnam. Posisi Indonesia pada mulanya lebih tinggi dari Vietnam. Pada tahun 2007, skor Indonesia 2,71 di urutan ke-49, sedangkan Vietnam dengan skor 2,38 di urutan ke-65. Pada tahun 2009-10, skor Indonesia persis sama dengan Vietnam, yaitu 2,95, namun Vietnam satu peringkat lebih tinggi. Setelah itu, Vietnam melesat dan kian meninggalkan Indonesia. Pada edisi terakhir, Vietnam telah masuk 50 besar, sementara Indonesia di posisi ke-87. Skor Indonesia 30,10 sedangkan Vietnam 38,34.

ina-viet

Ketertinggilan Indonesia juga terlihat dalam aplikasi paten. Tak heran jika kemajukan industri di Vietnam sangat pesat. Sebaliknya industrialisasi di Indonesia cenderung melambat.

Kerangka dalam penghitungan Global Innovation Index 2017 adalah sebagai berikut:

framework

Saatnya Memajukan Riset


Salah satu ujung tombak peningkatan daya saing dan kemajuan industri adalah perbaikan kualitas produk dan produktivitas secara berkelanjutan. Kemampuan itu bergantung pada kemampuan inovasi lewat riset dan pengembangan (R & D).

Jumlah aplikasi paten mencerminkan daya inovasi. Korea Selatan merupakan negara yang terbanyak mengajukan aplikasi paten. Pertumbuhannya pun terpesat dalam 25 tahun terakhir. Di luar Jepang, Amerika Serikat dan Jerman, negara kecil tetangga dekat kita, Singapura, menduduki urutan kedua. Negara kecil lainnya, Hongkong berada di urutan ketiga.

Empat negara ASEAN di luar Singapura lebih agresif mengajukan aplikasi paten ketimbang Indonesia. India juga lebih banyak mengajukan aplikasi paten ketimbang Indonesia. Hanya Pakistan yang berada di bawah Indonesia

patent

Jika kita hendak memajukan penemuan baru, mau tak mau jumlah scientists dan engineers harus meningkat signifikan. Juga tentunya pengeluaran untuk R&D. Peraga di bawah menunjukkan tidak ada negara yang lebih rendah dari Indonesia. Kalau pada peraga di atas Indonesia sedikit lebih baik dari Pakistan, pada peraga di bawah Indonesia kalah dengan Pakistan.

ppi

 

 

Quiz Produk Makanan dan Minuman


c2Jika mengunjungi pasar swalayan atau minimarket, kita dengan mudah menemui kuaci yang diolah dari biji bunga matahari dengan kemasan berbahasa Indonesia. Susuri rak demi rak, kita akan menemukan beragam cemilan. Untuk jenis kacang-kacangan, berjejer produk Garuda dan Dua Kelinci. Keduanya merupakan unggulan di pasar. Persaingan di antara keduanya sangat tajam. Iklannya kerap muncul di televisi, terutama pada siaran langsung olahraga.

Beberapa merek lain mulai unjuk gigi. Di antaranya dengan merek ChaCheer, sama dengan merek kuaci. Silakan terka dari mana asal kuaci dan kacang tanah itu. Yang pasti, bahan baku kuaci dan kacang tanah tersedia cukup melimpah di Tanah Air.

c23

Jawab: buatan China.

Jenis kacang-kacangan yang lebih beragam hadir dengan merek Tong Garden. Hampir semua jenis kacang yang tertera di gambar tersedia di Indonesia. Kita merupakan negara produsen jambu mente terkemuka di dunia. Di mana lokasi pabrik Tong Garden?

tg

Jawab: di Malaysia.

Produk kacang-kacangan bermerek Camel tidak kalah beraneka dengan kemasan yang lebih menarik. Ada mente, kacang kulit, kacang kupas atau kacang asin, dan kacang campur serta kacang camour buah. Diolah di mana gerangan produk kacang-kacangan Camel itu?

camel

Jawab: manufacted in Singapore.

Jika masih punya waktu luang, jangan lewatkan menengok lemari berpendingin yang berisi beraneka produk minuman dalam kemasan. Tengok jejeran kopidingin. Saya menemukan produk bermerek Mr. Brown. Dari mana Brown berasal?

brown

Jawab: dari Taiwan.

Bergeser ke lemari berpendingin yang berdekatan. Kita leluasa memilih berbagai jenis minuman. Tiga jenis minuman botol plastik yang cukup eksotik di bawah dibuat dimana?

taiwan

Jawab: di Taiwan.

Masih banyak lagi produk sejenis dari sejumlah merek yang lebih beraneka. Ada keluaran Nestle, ada pula yang bermerek dagang FOCO. Nestle memiliki pabrik di berbagai negara. Yang di bawah ini, baik Nestle dan FOCO berasal dari negara yang sama. Negara mana?

fo

Jawab: Thailand.

Kumpulan produk terakhir berikut mungkin sudah lebih kerap dijumpai dan sudah cukup lama beredar serta lebihluas jangkauan pasarnya. Minuman dalam kaleng bermerek Yeos berasal dari tempat yang sama dengan dua produk lainnya. Buatan manakah ketiga produk itu?

mal

Jawab: buatan Malaysia.

Komponen utama hampir semua produk minuman dalam kemasan itu adalah air dan gula. Kita sejatinya memiliki keunggulan absolut atau keunggulan komparatif.

Untuk cemilan sepertikacang kulit, apa modal yang dimiliki Singapura? Tidak ada yang menanam kacang tanah di sana. Lahan dan buruhnya mahal.

Ada yang berminat menguakkan misteri ini?

Blog at WordPress.com.

Up ↑