Revisi UU Minerba: Diam-diam Jadi ini Barang (Audio)


Episode Description

Pagebluk COVID-19 seakan menjadi kambing hitam dalam percepatan pengesahan UU Minerba tahun 2020. Sempat ditolak publik pada September silam, nyatanya revisi ini disahkan pada Mei 2020. Dalam revisi UU Minerba setidaknya ada 83 pasal diubah dan 50 pasal baru.

Prosesnya yang cepat mengundang banyak pertanyaan. Siapa yang diuntungkan dari revisi UU Minerba? Benarkah ini upaya pemerintah untuk hilirisasi industri tambang? Asumsi Bersuara kembali kedatangan Ekonom Senior Faisal Basri untuk membahas secara komprehensif mengenai isu ini. Selengkapnya di Asumsi Bersuara!

—Redaksi Asumsi Bersuara

Bisa diunduh di sini

Jangan Biarkan Pemerintah Sendiri Lawan Corona! (Podcast)


NEWS – Redaksi CNBC Indonesia, CNBC Indonesia 22 March 2020 14:04

Jakarta, CNBC Indonesia- Ekonomi dan pendiri INDEF Faisal Basri menyebut kondisi saat ini adalah kondisi darurat. Di mana untuk perang melawan mencegah penyebaran covid-19 harus dilakukan bersama-sama oleh berbagai kalangan.

“Jangan biarkan pemerintah sendiri. Rakyat, dunia usaha, semuanya harus bergerak bersama untuk melawan corona,” kata Faisal dalam wawancara Podcast CNBC Indonesia, Sabtu (21/3/2020).

Agar semua pihak bisa membantu, Faisal juga mendorong pemerintah untuk transparan dan memangkas jalur birokrasi agar semuanya cepat ditangani. Buka saluran-saluran yang memudahkan pengusaha untuk berkontribusi. 

Ia bahkan menyarankan pemerintah mulai melakukan tindakan tegas bagi oknum-oknum yang diketahui memburu rente di tengah krisis saat ini. Misal ditemukan kelangkaan salah satu barang bahan pokok, dan serta ditelusuri ternyata ada penimbunan yang disengaja oleh oknum, disarankan dikenakan sanksi yang tidak main-main.

“Kalau perlu hukum gantung, meski hukumnya memang tidak ada saat ini. Tapi lagi masa seperti ini harus tegas, kalau ada yang manfaatkan langung hukum.” 

PILIHAN REDAKSIFaisal Basri: 176 Negara Kena, Corona Itu Perang DuniaFaisal Basri: Trump Dikelilingi Ahli Virus & Pandemi, Jokowi?

Wabah corona, semestinya tidak menganggu perjalanan barang sampai ke tujuan. Sebab hal tersebut juga tidak terjadi di negara lain, jadi ketika ada barang yang langka mesti ditelusuri. 

Faisal sangat yakin Indonesia bisa melampaui masa-masa krisis ini. “Kita sangat mampu, kita punya dokter-dokter hebat yang mestinya diberdayakan. Kita kritik pemerintah itu kkarena kita sayang.”

Kondisi lainnya yang menurut Faisal juga menguntungkan Indonesia adalah kondisi geografis sebagai negara kepulauan. Jika lockdown atau isolasi terbatas diberlakukan, sangat mudah bagi pemerintah ketimbang negara kontinen seperti Amerika Serikat yang semuanya daratanya. “Kalau kita ingin lockdown, kita bisa kunci di Jawa dan tidak menyebar ke pulau lainnya.”

Obrolan dan masukan Faisal Basri lebih lanjut bisa disimak dan didengarkan di podcast Cuap-Cuap Cuan by CNBC Indonesia di bawah ini:

(gus/gus)

Corona Itu Ibarat Perang Dunia, RI Butuh Lockdown (Podcast)


NEWS – Gustidha Budiartie, CNBC Indonesia 20 March 2020 13:17

Jakarta, CNBC Indonesia- Ekonom senior dan pendiri INDEF Faisal Basri mengatakan dampak dari virus corona yang makin mewabah ini semakin dahsyat di dunia. Saat ini sudah 176 dari 195 negara yang ada di dunia mencatatkan kasus positif covid-19. 

“Ini artinya 90% negara di dunia ini sudah kena. Ini tidak pernah terjadi pandemi sedemikian rupa di dunia. Dulu pernah ada tapi tahun 400,” ujar Faisal Basri dalam wawancara podcast CNBC Indonesia, Kamis (19/3/2020).

Persebaran virus ini luar biasa, dan tidak ada yang bisa memprediksi kapan berakhirnya dan masih meraba-raba bagaimana cara mengatasinya. 

“Semua orang masih belajar, sampai kapan dan seberapa jauh,” kata dia.

Ia menjelaskan, semua negara kewalahan mengatasi virus satu ini bahkan untuk negara adidaya seperti AS. Negara tersebut lewat pemerintahnya sudah mengucurkan stimulus besar-besaran untuk menjaga kondisi ekonominya, sampai US$ 850 miliar. Tapi toh, tetap tidak tertolong.

“Indeks tetap turun, dan ada ketakutan akan terjadinya resesi serta angka pengangguran bisa tembus 20%. Padahal sekarang angka pengangguran di Amerika Serikat terendah sepanjang sejarah, hanya 3,5%” 

Amerika, lanjutnya, sebagai negara terbesar di dunia pun tak mempan tak berdaya dengan corona. Ia membandingkan dengan kondisi 2008 juga di mana dunia terkena krisis keuangan global, tapi itu masalah ekomomi ada obat ekonominya dan ampuh.” 

Sementara, yang dihadapi dunia saat ini bukan masalah ekonomi. “Ini adalah ketakutan, psikologi, dan bahkan nyawa. Virus ini sudah 90% menjangkiti negara di dunia, ini ibaratnya perang dunia.”

Pernyataan Faisal Basri lebih jauh bisa didengarkan di podcast “Cuap Cuap Cuan” dari CNBC Indonesia di bawah ini: 

(gus/gus)

Mafia Migas


Mafia Migas, sempat ramai dibicarakan di tahun 2014 lalu. Laporan dari Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi Nasional yang diketuai Faisal Basri sempat mencengangkan khalayak ramai. Laporan ini menguak kerja para mafia migas yang bekerja di Petral, anak perusahaan Pertamina. Berkat laporan ini pula, Petral akhirnya dibubarkan. Empat tahun berlalu, KPK baru saja mengumumkan satu tersangka pada pertengahan September 2019. Apa yang sebenarnya dimuat dalam laporan itu hingga memakan waktu 4 tahun bagi KPK untuk menentukan tersangkanya? Apakah para mafia migas ini sudah merugikan negara? Simak penjelasan lengkap Faisal Basri terkait hal ini pada Rayestu! Selain itu, Asumsi Bersuara juga membahas kondisi perekonomian Indonesia dari kacamata sang ekonom senior.

Membedah Utang sampai ke Bunganya


By Idekonomi

Bagaimana perkembangan utang Indonesia terkini?  Mengapa sebuah negara berutang?  Kedua pertanyaan tersebut serta serta seluk-beluk lainnya mengenai utang, bahkan hingga ke bunganya, akan dibahas tuntas dalam episode kali ini bersama dengan Pak Faisal Basri, ekonom dari Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) News Courtesy : CNBC Indonesia.

Silakan mendengarkan di sini atau klik simbol play di bawah.

Saatnya Kejujuran


frankysahilatua200411
jagad-music.blogspot.co.id

Saatnya kejujuran yang memimpin bangsa ini.
Saatnya kejujuran yang memimpin bangsa ini.
                                                  (Franky Sahilatua)

Lirik dan lagu “Saatnya Kejujuran” serta untaian kata di selanya diciptakan oleh Mas Franky Sihilatua yang prihatin terhadap kondisi Negeri tercinta, utamanya para elit politik. Versi videonya sempat ditanyangkan beberapa kali di Metro TV sebagai iklan layanan masyarakat, atas budi baik Bang Maruli Gultom.

Semoga kita tidak pernah lelah memperjuangkan keadilan dan menegakkan kejujuran.