Yang Perlu Diwaspadai Hingga Akhir Tahun


dreamstime.com
dreamstime.com

Ada gejala cukup unik belakangan ini yang perlu diwaspadai. Hampir semua indikator makroekonomi menunjukkan perbaikan secara serempak. Laju inflasi terus turun dan kerap beradas di bawah 4 persen, bahkan pada Oktober 2017 hanya 3,6 persen. Suhu tubuh perekonomian yang semakin “sejuk” ini diikuti oleh penurunan suku bunga yang bisa dianalogikan dengan penurunan tekanan darah. Suku bunga BI 7-day Repo Rate sudah lima kali turun sejak Juni 2016. Bahkan sempat turun dua bulan terturut-turut pada Agustus dan September 2017 dan bertahan di aras 4,25 persen pada Oktober 2017.

Indeks harga saham gabungan sudah 27 kali mencatatkan rekor baru sejak Maret 2017 dan menembus aras 6.000 untuk pertama kalinya pada 25 Oktober 2017. Pada penutupan bursa kemarin (8/11), indeks bertengger pada aras 6.049.

inflasireporate

Perbankan cukup solid dan sehat sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai indikator seperti CAR, NPL, return on asset, net interest margin, LDR, dan BOPO.

stockbank

Ekspor tumbuh positif dua digit pada 2017 setelah merosot selama lima tahun berturut-turut (2012-2016). Meskipun akun lancar (current account) masih mengalami defisit, namun karena lalu lintas modal (penanaman modal asing langsung (FDI) maupun investasi portofolio dan investasi lainnya) menunjukkan peningkatan lebih besar, menyebabkan neraca pembayaran menikmati surplus dalam dua tahun terakhir.

Itulah salah satu faktor yang mendorong nilai tukar rupiah sangat stabil untuk kurun waktu cukup lama hingga akhir Oktober 2017.

Di tengah sebagaian besar indikator makroekonomi yang secara simultan cukup cemerlang, pertumbuhan ekonomi tak kunjung beringsut dari 5 persen. Memang pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2017 naik tipis menjadi 5,06 persen, namun secara kumulatif dari triwulan I-2017 hingga triwulan IIII-2017 (Januari-September) hanya 5,03 persen. Pertumbuhan sekitar 5 persen sudah berlangsung sejak 2014, bahkan pada 2015 hanya 4,88 persen.

Ada indikasi kestabilan makroekonomi yang membaik itu kurang ditopang oleh fondasi yang kokoh. Sedikit saja ada gejolak bisa menghasilkan instabilitas.

Tengok misalnya dampak seketika tatkala Bank Indonesia menurunkan BI 7-day Repo Rate untuk kedua kalinya pada Oktober 2017.  Nilai rupiah serta merta lunglai, menembus Rp 13,630 per dollar AS pada 27 Oktober 2017. Bank Indonesia melakukan intervensi lebih gencar untuk menjaga agar nilai tukar rupiah tidak merosot lebih tajam. Akibatnya, dalam sebulan cadangan merosot sebesar 2,9 miliar dollar AS.

reserves

Potensi pelemahan rupiah masih terbuka hingga akhir tahun, mengingat besar kemungkinan The Fed (bank sentral AS) akan menaikkan suku bunga acuan pada pertengahan Desember mendatang.

Data ketenagakerjaan yang sangat meyakinkan seperti penurunan angka pengangguran  ke aras terendah dalam 17 tahun terakhir menjadi hanya 4,1 persen pada Oktober dan penciptaan lapangan kerja baru di atas 200.000 rata-rata sebulan, serta laju inflasi yang telah melampaui target The Fed, membuat probalbilitas kenaikan suku bunga acuan sangat tinggi, sekitar 80 persen.

Sebaliknya, Bank Indonesia cukup agresif menurunkan suku bunga acuan, sehingga menyebabkan selisih suku bunga acuan riil semakin kecil antara Indonesia dan Amerika Serikat sangat berpotensi menekan rupiah. Apalagi mengingat sudah berbulan-bulan investor asing di pasar saham melakukan penjualan netto (net sale) dan porsi pemilikan asing dalam surat berharga negara yang diterbitan pemerintah cukup besar.

fed

Tekanan di sisi fiskal tidak kalah berat. Sampai 6 November 2017, penerimaan pajak yang menjadi tanggung jawab Direktorat Jenderal Pajak baru mencapai Rp 869,6 triliun atau hanya 67,7 persen dari target yang tercantum dalam APBN-P 2017. Jadi dalam waktu sangat singkat, sekitar 7 minggu, harus terkumpul tanbahan penerimaan pajak sekitar Rp 414 triliun.

Dengan asumsi yang cukup optimistik bahwa penerimaan pajak pada November dan Desember masing-masing naik sebesar 15 persen (year-on-year), maka penerimaan pajak pada bulan ini sekitar Rp 103 triliun dan bulan depan Rp 158 triliun, sehingga ada tambahan sekitar Rp 261 triliun hingga akhir tahun ini. Dengan demikian, penerimaan pajak sepanjang tahun 2017 akan mencapai sekitar Rp 1.119 triliun atau 87 persen dari target APBN-P 2017. Berarti terjadi shortfall penerimaan pajak sebesar Rpo 165 triliun.

Jika pos penerimaan lainnya dan pengeluaran dalam APBN sesuai dengan target (ceteris paribus), maka defisit akan mencapai 4,1 persen dari produk domestik bruto (PDB), cukup jauh di atas batas maksimum yang dibolehkan oleh Undang-Undang Keuangan Negara sebesar 3 persen.

Entah apa lagi yang bakal dilakukan pemerintah untuk menjaga defisit di bawah 3 persen dalam waktu sangat singkat. Yang hampir pasti, tindakan-tindakan itu cenderung drastik, sehingga bakal berdampak negatif terhadap kestabilan makroekonomi.

 

Pembantu Terdekat Harus Selalu Ingatkan Presiden


Wajar apabila Presiden menghendaki suku bunga kredit turun lebih cepat agar investasi naik (syukur-syukur bisa ikut membiayai pembangunan infrastruktur), sehingga pertumbuhan mengakselerasi lebih tinggi. Namun, para pembantu Presiden harus berani mengingatkan agar Presiden tidak kebablasan dengan memanggil dan memberikan arahan kepada Gubernur Bank Indonesia dan Ketua OJK supaya suku bunga kredit bisa diturunkan. Bank Indonesia dan OJK merupakan lembaga independen yang kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh siapa pun, termasuk oleh Presiden.

Presiden bisa dengan amat leluasa memerintahkan para menteri ekonomi bahu membahu menekan suku bunga kredit. Pertama, bunga kredit perbankan sulit diturunkan sesuai keinginan Presiden karena perbankan tidak bisa melawan mekanisme pasar. Bagaimana mau turun cepat kalau pada waktu bersamaan pemerintah semakin kerap masuk ke pasar modal dengan menerbitkan surat utang. Perbankan dipaksa bersaing dengan pemerintah untuk memperebutkan dana masyarakat. Lebih-lebih, perbankan tidak bisa berdiam diri jika pemerintah menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi ketimbang  suku bunga tabungan dan deposito sekalipun.

Jadi, kalau menghendaki suku bunga kredit turun lebih cepat, pemerintah harus rela mengurangi utang dalam bentuk sekuritas. Pemerintah harus menambah porsi utang luar negeri, baik bilateral maupun multilateral, karena tidak menimbulkan efek mendesak (crowding-out effect). Dan, yang tak kalah penting adalah menaikkan penerimaan pajak. Presiden bisa memberikan target peningkatan tax ratio –yang selama bertahun-tahun justru turun terus– kepada menterinya. Jika tax ratio naik, kebutuhan untuk menambah utang bisa turun, dan tekanan perbankan dalam meraup dana masyarakat berkurang.

Kedua, Pemerintah bisa menurunkan target sumbangan dividen bank-bank BUMN. Jika pemerintah menurunkan target sumbangan dividen dari bank BUMN, pemerintah bisa meminta imbalan penurunan suku bunga. Karena bank BUMN sebagai market leaders, maka penurunan suku bunga oleh bank BUMN akan diikuti oleh bank-bank non-BUMN.

Ketiga, pemerintah mendesak bank-bank BUMN untuk lebih efisien, menjual aset-aset yang tidak terkait dengan bisnis inti, seperti bangunan dan tanah. kantor-kantor bank BUMN tak usah dimiliki sendiri, cukup kontrak. Juga rampingkan jajaran direksi dan komisaris.

Pendek kata, sangat banyak yang bisa dilakukan pemerintah tanpa harus “bermain api” yang bisa jadi santapan partai oposisi.

Wajar pula jika Presiden kecewa jumlah penduduk miskin naik walau sedikit sekali. yang tidak wajar adalah ketika Presiden meminta BPS berkoordinasi dengan kementerian untuk mengurangi jumlah penduduk miskin. Lihat Pak Presiden, BPS Jangan Diajak Koordinasi Kurangi Penduduk Miskin.

 

Bursa Saham Indonesia Cetak Rekor Baru


ec
economist.com

Keputusan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 0,75 persen pada 15 Maret 2017 lalu direspon dengan penuh gairah. The Economist menyebutnya: “The global economy enjoys a synchronsed upswing.”

Hampir semua pasar saham dunia yang masuk dalam radar majalah mingguan The Economist mencatatkan kenaikan indeks. Hanya tiga negara yang mengalami penurunan (year-to-date) dalam $ term, yaitu Saudi Arabia, Colombia, dan Rusia yang mengalami kemerosotan terdalam.

Indonesia tercecer di antara Emerging Markets dengan kenaikan dalam $ term hanya 3,4 persen, hanya lebih baik ketimbang Thailand dan Pakistan. Tahun lalu Indonesia terbaik ketiga di Asia.

global

Indonesia berpeluang menempati posisi lebih baik seandainya bisa menjaga momentum dalam dua hari terakhir. Kemarin (16/3) indeks harga saham gabungan melesat 86 poin atau 1,6 persen.

Hari ini indeks memecahkan rekor baru setelah penantian hampir dua tahun. Bank Indonesia cukup percaya diri dengan mempertahankan 7-Day Repo Rate di aras 4,75 persen hari ini.

idx

Pertumbuhan Memengaruhi Kredit atau Sebaliknya?


Gubernur Bank Indonesia (BI) hari ini (9/9) mengatakan pertumbuhan kredit tahun 2017 bakal mencapai 11 persen. Menurut Gubernur BI, perkiraan itu akan tercapai jika pertumbuhan ekonomi 5,1 persen. Jika asumsi pertumbuhan 5,2 persen, pertumbuhan kredit bisa di atas 12 persen. Jadi, pertumbuhan kredit sangat ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB).

Besarnya kredit menentukan investasi atau pembentukan modal domestik bruto. Sedangkan investasi merupakan komponen dari PDB.

Identitas pendapatan nasional adalah sebagai berikut:

Y = Cp + I + G + (X – M)

yang mana Y adalah pendapatan nasional atau PDB; Cp adalah konsumsi rumah tangga; G adalah belanja pemerintah; I investasi atau pembentukan modal tetap bruto; X ekspor barang dan jasa; dan M impor barang dan jasa.

Dari situ tampak Y dipengaruhi oleh I atau pertumbuhan ekonomi dipengaruhi pertumbuhan investasi, yang mana pertumbuhan investasi ditentukan oleh pertumbuhan kredit. Pertumbuhan kredit perbankan tidak terlalu penting jika investasi didominasi oleh investasi pemerintah dan investasi asing langsung. Namun, selama ini yang terpenting selalu pertumbuhan kredit perbankan.

Selama tahun 2016, pertumbuhan kredit melemah, tidak pernah menembus dua digit. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan kredit pada Juni 2016 hanya 8,9 persen. BI memperkirakan pertumbuhan kredit selama tahun 2016 bakal di kisaran 7 persen sampai 9 persen. Mungkin karena itu BI baru-baru ini mengoreksi perkiraan pertumbuhan tahun 2016 dari 5,0 persen sampai 5,4 persen menjadi 4,9 persen sampai 5,3 persen. Pola hubungan ini lebih cocok ketimbang pernyataan Gubernur BI di atas.

 

credit.png

Pola hubungan pertumbuhan kredit dipengaruhi pertumbuhan ekonomi mencerminkan sikap pasif BI. Kalau BI hendak proaktif, maka BI melakukan berbagai upaya untuk mendorong kredit. Katakanlah pertumbuhan kredit dipacu menjadi 15 persen. Pendorongnya antara lain hasil dari program amnesti pajak. Lalu diluncurkan kebijakan pendukung seperti penurunan LTV untuk properti dan kendaraan bermotor. Dari itu semua keluarlah prediksi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Kalau target pertumbuhan ekonominya relatif rendah, berarti BI sendiri ragu dengan kemungkinan kredit tumbuh lebih tinggi.

Inflasi Turun tetapi Relatif Masih Tinggi


Kemerosotan harga minyak dunia sungguh sangat membantu penurunan inflasi di Indonesia. Walaupun seminggu terakhir harga minyak dunia naik cukup tajam (Brent menembus 50 dollar AS hari ini, 19 Agustus), namun masih jauh lebih rendah ketimbang harga tertinggi yang sempat bertengger di atas 100 dollar AS.

Adalah kenaikan harga BBM di dalam negeri yang membuat pola inflasi di Indonesia sangat berfluktuasi tajam.

inflation-ina

Walaupun begitu, inflasi di Indonesia tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara ASEAN. Inflasi di Indonesia tertinggi dibandingkan dengan ASEAN-5.

inflation-asean

Yang masih menjadi momok inflasi di Indonesia adalah harga pangan yang amat kerap menjadi penyumbang inflasi terbesar. Beberapa di antaranya adalah daging ayam ras, telur ayam ras, daging sapi, beras, dan bawang merah. Kebanyakan komoditas pangan itu tata niaganya tidak sehat.

inflasi-pangan

BI Rate Harusnya Turun Lagi


Bank Indonesia akan menggelar rapat dewan gubernur (RDG) bulanan pada 17-18 Februari 2016. Rapat bulanan itu hampir bisa dipastikan bakal menurunkan BI rate. Yang ditunggu adalah seberapa besar penurunannya. Kalau BI bersikukuh dengan konservatismenya, penurunan paling banter hanya 25 basis poin seperti bulan lalu.

Ruang untuk menurunkan BI rate lebih progresif terbuka lebar. Faktor pertama, laju inflasi menunjukkan kecenderungan menurun. Tingkat inflasi Februari (year-on-year) diperkirakan turun. Pengaruh imported inflation sangat tidak berarti, bahkan sebaliknya berpotensi menyumbang bagi penurunan inflasi. Sangat ironis kalau kita tidak bisa memanfaatkan tren inflasi dunia yang sangat rendah akibat kemerosotan harga seluruh jenis komoditas. Negara tetangga Singapura sudah mengalami deflasi, demikian juga di Thailand. Inflasi di Vietnam hanya 0,6 persen. Kalau inflasi di Indonesia relatif sangat tinggi dan tertinggi di ASEAN-6, niscaya ada yang salah dengan kita. Segeralah dibenahi. Dengan ekspektasi inflasi yang menurun, peluang BI rate turun lebih dari 25 basis poin semakin besar.

inflasi

Faktor kedua, ketakutan terhadap kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS (The Fed) hampir pupus sama sekali, setidaknya sampai April atau bahkan Juni. Sudah muncul wacana di AS tentang kemungkinan The Fed menerapkan suku bunga negatif. Setidaknya The Fed sudah mengingatkan lembaga keuangan AS untuk melakukan stress test kalau mereka menghadapi kemungkinan suku bunga negatif. Lihat Janet Yellen: Negative rates possible in U.S.

Dua raksasa ekonomi dunia sudah menerapkan suku bunga negatif. Bank Sentral Eropa (European Central Bank) memberlakukannya sejak tahun lalu, Jepang mengumumkan akhir Januari lalu akan mulai memberlakukannya mulai besok (16 Februari). Tiga negara Eropa juga sudah menerapkan kebijakan suku bunga negatif. Bahkan minggu lalu bank sentral Swedia memangkas kembali suku bunga acuan dari minus 0,35 persen menjadi 0,5 persen.

negatif_rate

Kemungkinan modal akan lari dari Indonesia relatif sangat kecil karena suku bunga riil obligasi Indonesia jauh lebih tinggi dari negara-negara maju. Bahkan, perbedaan suku bunga yang cukup tinggi itu mendorong modal asing masuk.

Bank Indonesia tentu berbagi keyakinan dengan serangkaian kebijakan pemerintah yang mendorong modal masuk, terutama penanaman modal asing langsung. Selain itu pasar saham Indonesia belakangan ini cukup menarik minat asing. Beberapa hari terakhir, pembelian bersih asing mencapai triliunan rupiah. Kinerja pasar saham Indonesia jauh di atas rerata emerging markets.

stock_market

Faktor ketiga, harga bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini kerap menjadi momok Bank Indonesia untuk sementara waktu sirna. Bank Dunia baru saja memotong prediksi harga minyak menjadi hanya 37 dollar AS untuk tahun 2016. Risiko kenaikan harga BBM di dalam negeri hampir nihil, bahkan seharusnya harga BBM turun dari tingkat sekarang. Harga BBM di Indonesia sudah teramat mahal jika dibandingkan dengan Malaysia.

oil_price_projectiongasoline_malaysia

Sudah saatnya Bank Indonesia menerapkan kebijakan moneter yang proaktif meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Ingat, angka pengangguran sudah naik. Kita tidak memiliki keleluasaan mendorong terus kebijkan fiskal yang ekspansif karena basis pajak masih sangat rendah dan dunia usaha butuh waktu untuk konsolidasi.

Bukankah sekarang perbedaan BI rate dan laju inflasi relatif tinggi sampai mencapai 311 basis poin dan berpotensi lebih tinggi lagi sejalan dengan ekspektasi inflasi yang menurun?

birate-inflation

Saatnya Bank Indonesia membayar utang atas kekeliruannya menerapkan suku bunga tinggi sejak 2013.

bi rate

 

Apakah Suku Bunga Negatif Solusi Menghindari Resesi?


Investopedia.com: “A negative interest rate means the central bank and perhaps private banks will charge negative interest: instead of receiving money on deposits, depositors must pay regularly to keep their money with the bank.”

Setidaknya bank sentral beberapa negara telah mengenakan pungutan atau ongkos atas deposit tertentu yang ditempatkan di bank sentral oleh lembaga keuangan.

negatif_rate

Dengan menerapkan disinsentif diharapkan lembaga keuangan lebih gencar menyalurkan kredit, mendorong investasi dan konsumsi. Bank Sentral Jepang (Bank of Japan) juga berharap nilai tukar yen akan melemah sehingga memacu ekspor. Namun, setelah meluncurkan kebijakan suku bunga negatif, nilai tukar yen justru menguat.

Untuk kasus Uni Eropa, penerapan suku bunga negatif oleh ECB menghasilkan peningkatan pertumbuhan. Pada tahun 2013 perekonomian Euro Zone masih mengalami kontraksi 0,4 persen. Setahun berikutnya kembali ekspansi sebesar 0,9 persen, dan tahun lalu naik lagi menjadi 1,5 persen.

Czech Republic, yang menerapkan suku bunga negatif, menunjukkan kinerja lebih baik ketimbang negara-negara bekas komunis lainnya di Eropa. Daya tahan ekonominya berada di zona positif.

Walaupun bank sentral AS (The Fed) telah meningkatkan suku bunga akhir tahun lalu, mulai muncul wacana suku bunga negatif. Lihat misalnya Former Fed President Urges Negative Interest Rates.

Apakah kebijakan fiskal semakin tersisih untuk menggairahkan perekonomian?

 

 

Kecenderungan Baru Dunia: Suku Bunga Negatif


Bank sentral Jepang, Bank of Japan (BOJ), Jumat minggu lalu (29/1) menerapkan kebijakan suku bunga negatif terhadap deposit lembaga keuangan yang ditempatkan di BOJ. Langkah terakhir itu diharapkan bisa melemahkan yen, memacu konsumsi, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tahun lalu hanya 0,6 persen. Namun, sejak pengumuman yang tak terduga itu, justru nilai tukar yen menguat. Hampir tak ada lagi peluru tersisa untuk menggairahkan perekonomian.

japan.png

Jepang mengikuti langkah Bank Sentral Eropa (European Central Bank) yang lebih dulu menerapkan suku bunga negatif. Bank sentral Denmark, Swiss, dan Swedia juga demikian.

europe

Bagaimana dengan Bank sentral AS (The Fed)? Pada Desember lalu, The Fed akhirnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis point menjadi 0,5 persen. Tersirat dalam pernyataan The Fed akan menaikkan kembali suku bunga secara bertahap.

Awal tahun ini lebih banyak berita kurang menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi AS pada triwulan IV-2015 hanya 0,7 persen, turun tajam dibandingkan triwulan III-2015 sebesar 2,0 persen dan triwulan I-2015 sebesar 3,9 persen. The Fed juga khawatir perekonomian dunia yang tertekan bakal berimbas pada perekonomian AS. Mulai nyaring suara-suara AS mengalami ancaman resesi.

Alih-alih akan kembali menaikkan suku bunga, hari-hari belakangan ini muncul wacana suku bunga negatif juga di AS.

us

Bagaimana dampak kebijakan suku bunga negatif yang diterapkan sejumlah bank sentral negara maju terhadap Indonesia? Rasanya Bank Indonesia perlu memikirkan ulang langkah-langkahnya selama ini.

 

 

 

BI Aneh?


Hari ini (14/1) Bank Indonesia (BI) menurunkan BI rate hanya sebesar 25 basis poin menjadi 7,25 persen. Judul peraga di bawah saya buat sekitar dua bulan lalu. Kala itu inflasi sudah menunjukkan kecenderungan menurun dan diperkirakan mencapai titik terendah pada Desember 2015 karena dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) November 2014 terhadap inflasi sudah sirna. Bahkan sejumlah petinggi BI beberapa kali mengatakan kemungkinan laju inflasi tahun 2015 bisa di bawah 3 persen atau setidaknya mengarah ke 3 persen.

Periode kepemimpinan BI sekarang terkesan paling konservatif jika dilihat dari perilakunya terhadap BI rate. Selama kepemimpinan Gubernur BI sekarang , BI rate sudah enam kali naik dan dua kali turun. Sekitar sebulan menjabat Gubernur BI, BI rate naik 25 basis poin dari 5,75 persen menjadi 6,00 persen. Dua bulan berturut-turut kemudian (Juli dan Agustus 2013) dinaikkan lagi masing-masing sebesar 50 basis poin. September kembali dinaikkan 25 basis poin menjadi 7,25 persen dan sekali lagi sebesar 25 basis poin pada bulan November 2013. Jadi, selama 6 bulan menjabat, Gubernur BI yang sekarang sudah menaikkan BI rate sebanyak 5 kali dengan kenaikan total 175 basis poin.

bi_rate-1

Yang hampir selalu menjadi alasan untuk menaikkan BI rate ialah tekanan eksternal, khususnya setelah muncul rencana pemotongan dana stimulus oleh The Fed.

“…. Kami bergabung dengan Bank Indonesia pada 24 Mei 2013, tepat dua hari setelah Chairman dari Federal Reserve memberikan sinyalemen akan mengurangi stimulus moneter (tapering). Sinyalemen yang singkat, namun pengaruhnya mendunia. Sejak saat itu, hari demi hari hingga akhir Agustus lalu, ekonomi kita ditandai dengan derasnya aliran keluar modal portofolio asing, yang kemudian menekan nilai tukar rupiah dengan cukup tajam.” (Paragraf pembuka isi pidato Gubernur Bank Indonesia pada acara “Governor’s Address & Annual Bankers’ Dinner 2013,” Jakarta, 14 November 2013).

Pernyataan itu sangat berlebihan. Kenyataannya nilai tukar rupiah melemah sejak Agustus 2011, jauh sebelum Mei 2013. Tidak  benar pula pernyataan “derasnya aliran keluar modal portfolio asing.” Bahkan sebaliknya, pada triwulan II-2013 dan setelahnya justru arus deras masuklah yang terjadi. Tekanan terberat justru terjadi sebelum pernyataan The Fed dan Gubebernur BI yang sekarang belum menjabat.

portfolio

Lagi-lagi alasan The Fed yang mendorong BI melakukan  pertemuan bulanan tambahan pada akhir Agustus yang menaikkan BI rate sebesar 50 basis poin.

“Berlanjutnya ketidakpastian pengurangan bertahap (tapering) stimulus moneter oleh the Fed terus memberikan tekanan pada pasar keuangan di berbagai negara. Penarikan modal dan meningkatnya risiko investasi menyebabkan penurunan harga saham, meningkatnya yield obligasi, dan pelemahan nilai tukar di hampir seluruh negara emerging market, tidak terkecuali Indonesia. Tekanan yang tinggi pada pasar keuangan global ini terjadi di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dan kawasan Asia, termasuk China dan India, serta terus menurunnya harga komoditas primer, kecuali harga minyak. Kondisi ini telah memberikan tekanan pada kinerja perdagangan dan pasar keuangan Indonesia.” (Siaran Pers BI, 29 Agustus 2013)

BI kembali sangat reaktif dengan menaikkan BI rate pada November 2014 sehari setelah pemerintah menaikkan harga BBM yang mulai berlaku pada 17 November 2014. Pertemuan itu seakan merupakan pertemuan “darurat” karena 5 hari sebelumnya berlangsung pertemuan bulanan Dewan Gubernur BI. Sebaliknya, beberapa kali penurunan harga BBM tidak diikuti oleh langkah penurunan BI rate.

Tak ayal, penurunan BI rate hari ini menyisakan rongga menganga yang sangat lebar antara BI rate dan laju inflasi: 390 basis poin.

bi_rate

Dengan perilaku BI seperti itu, tak haran jika prediksinya sering meleset, targetnya juga begitu. Peraga di bawah menunjukkan prediksi BI tentang pertumbuhan ekonomi 2014 sejak Juli 2013. Berubah terus dalam waktu sangat singkat. Realisasi pertumbuhan ekonomi tahun 2014 adalah 5,0 persen.

bi

Kalau keliru baca medan dan kerap meleset, kredibilitas BI bakal tergerus. Apa-apa yang disampaikannya tidak didengar dan diikuti oleh pelaku pasar. Kebijakannya jadi makin tumpul alias tidak efektif mendorong pertumbuhan ekonomi.

Blog at WordPress.com.

Up ↑