Transformasi


 

republika.co.id dari AP Photo:Hassan Ammar
Republika.co.id dari AP Photo / Hassan Ammar
arafah
Kompas.com dari AFT Photo / Fayez Nureldine

 

Dua helai kain putih membalut tubuh

Seperti itu pula kala jasad menyatu dengan tanah

Bersih dari harta benda dan perhiasan

Memanjatkan doa dan ampunan

 

Lemparilah nafsu duniawi

Lumatkan iri dan dengki

Usirlah sifat kikir dan kufur nikmat

Benamkan sombong dan keangkuhan

Merdeka Bukan untuk Suka-suka


Mari raih kemenangan

Melawan para koruptor

Melawan para pendukung koruptor

Tidak berteman dengan koruptor

 

Kobarkan perang

Menentang perilaku korup

Yang membuat orang miskin semakin papa

Yang membuat kaum tak berdaya kian terpinggirkan

Yang membuat Negeri kian dibelit utang

 

Koruptor tak kunjung jera

Menari di tengah derita rakyat

Koruptor hidup berfoya-foya

Sementara petani terkikis daya belinya

Koruptor melarikan hasil jarahannya ke luar negeri

Membuat wajah perekonomian pucat pasi

 

Hanya ada satu kata

LAWAN

 

Hanya ada satu tekad

BASMI

Setelah Fitri Kembali


Mari raih kemenangan

Melawan para koruptor

Melawan para pendukung koruptor

Tidak berteman dengan koruptor

 

Kobarkan perang

Menentang perilaku korup

Yang membuat orang miskin semakin papa

Yang membuat kaum tak berdaya kian terpinggirkan

Yang membuat Negeri kian dibelit utang

 

Koruptor tak kunjung jera

Menari di tengah derita rakyat

Koruptor hidup berfoya-foya

Sementara petani terkikis daya belinya

Koruptor melarikan hasil jarahannya ke luar negeri

Membuat wajah perekonomian pucat pasi

 

Hanya ada satu kata

LAWAN

 

Hanya ada satu tekad

BASMI

Kupu Kupu Hitam Berkedok Hitam


kupu2

Hitam kelam warnanya // Kenakan topeng hitam pula // Tak berani tampilkan sosok seutuhnya

Ia hinggap sejenak merapikan posisi topengnya // Seraya menghirup sari pati bunga hingga kering melayu // Tak seorang pun tahu, pikirnya

Mengembara di kebun bunga // Mencari lembayung gemulai // Hitam tetap hitam

Dari kejauhan ia melihat rangkaian melati pancarkan pesona // Melati putih sibakkan diri, tak rela disentuh // Muak dengan keangkuhannya

Semerbak melati tak kuasa menyingkirkan bau anyir kupu kupu hitam // Karena terbiasa di kerumunan lalat // Karena yang ia tahu hanya memangsa bangkai

***

 

 

 

 

 

 

Selepas Berpuasa


Lapar dan dahaga sebulan penuh

Mengingatkan derita kaum papa

Memperkokoh kesadaran dan solidaritas

Bagi sesama yang kekurangan

Lahirkan kebahagiaan hakiki

Ketika bisa membahagiakan orang banyak


Menerawang tahun ke hadapan

Dengan #bening tampak satu-satu

Dengan tekad taburkan kebaikan

Hadirkan asa bagi sesama

Dengan jubah api menjilat-jilat

Tiada gentar melawan gelap

Mencairkan lemak-lemak

Agar gerak pantang surut

Pesan “Ayah” di Hari Kemerdekaan


Anak-anakku,

Kami cuma bisa memerdekakan negeri ini dari penjajah, tetapi belum sempat menaman bibit dan memupuknya. Kami tak punya waktu lagi menyirami tanaman setiap hari kala musim kemarau. Jangan salahkan kami jika dedaunan kerontang dan hasil panen tak menggembirakan.

Anak-anakku,

Kami telah mengusir penjajah, tapi kami tak lagi kuasa menjinakkan hama dan parasit yang membuat dirimu gersang. Kami wariskan seisi darat dan lautan untuk mencukupi hidup kalian. Olahlah dengan kemerdekaan yang kalian miliki untuk memakmurkan anak bangsa. Jangan ada yang sampai tidak kebagian.

Anak-anakku,

Kami wariskan negeri merdeka ini untuk kalian sempurnakan. Dunia kalian berbeda dengan dunia kami. Yang baik menurut kami dulu, belum tentu baik bagi masa depan kalian. Kami tak mewariskan negeri ini langsung jadi. Sempurnakanlah, bangunlah negeri ini sehingga menjadi Indonesia. Ibarat mobil, kami baru membuat kerangkanya. Kalian tak bisa langsung menikmatinya dan mengggunakannya untuk capai tujuan. Lengkapilah kerangka itu dengan body, mesin, rem, gas, kursi, bagasi, dan lainnya, agar nyaman dikendarai mencapai cita-cita.

Anak-anakku,

Janganlah di antara kalian bersilang sengketa semata untuk kepentingan diri sendiri. Jangan biarkan segelintir dari kalian menghisap sesamanya, merampas hak warga kebanyakan. Bumi Indonesia cukup untuk memakmurkan seluruh warganya. Namun, bagi si tamak, seisi dunia sekalipun tak bakal memuaskannya.

Anak-anakku,

Berdayakanlah yang lemah, bawa ke tengah orang-orang yang terpinggirkan. Kalian tak bakal kekurangan kalau selalu berbagi. Bangunlah modal sosial, jangan semata modal finansial untuk pribadi. Kalian akan memetik hasil dari kebajikan yang kalian taburkan. Buat senang orang lain. Sesungguhnya puncak kebahagiaan akan kalian gapai jikalau menyenangkan banyak orang, makin banyak dan makin banyak.

Anak-anakku,

Kami tak mewariskan modal, tidak pula teknologi. Jangan elu-elukan kami. Setiap eluan membuat pedih hati kami, karena itu pertanda kalian tak mampu berkarya yang lebih besar dari kami. Kami bangga seandainya kalian menghasilkan karya-karya gemilang dan fondasi untuk menghasilkan kegemilangan yang lebih hebat oleh generasi setelah kalian.

Anak-anakku,

Rawatlah negeri ini. Tumbuh kembangkan. Pagari agar pencoleng tak kuasa merampas harta-harta kalian. Kata teman kalian nun jauh di sana, kuncinya adalah membangun institusi. Transformasikanlah extractive economic institutions menjadi inclusive economic institutions serta extractive political institutions menjadi inclusive political institutions. Dengan begitu, negara kita tak bakal menjadi negara gagal. Tak terjerumus ke dalam middle-income trap.

Blog at WordPress.com.

Up ↑