Rongrongan Baru: Defisit Migas


Print
reforminer.com

Cadangan devisa akhir Oktober 2017 turun hampir 3 miliar dollar AS dibandingkan akhir September 2017. Penurunan cadangan devisa itu antara lain karena Bank Indonesia mengamankan nilai tukar rupiah agar tidak merosot lebih dalam pasca Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan dua bulan berturut-turut pada Agustus dan September, sehingga depresiasi rupiah hanya 1,7 persen pada bulan Oktober 2017.

Tekanan terjadi pula karena berbulan-bulan investor asing di pasar saham melakukan penjualan bersih. Lalu lintas modal menikmati peningkatan surplus tertolong oleh peningkatan penanaman modal asing langsung (foreign direct investment).

Tekanan baru muncul dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Sudah memasuki bulan kelima harga minyak mentah terus merangkak naik. Harga rerata harian minyak keranjang OPEC (OPEC basket price) pada November hingga akhir minggu lalu sudah bertengger di atas 60 dollar AS per barrel. Dibandingkan harga rerata harian bulan Juni sudah naik 34 persen.

price

Sementara itu pemerintah telah mengumumkan tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi. Akibatnya permintaan BBM di dalam negeri terus naik tanpa adanya koreksi harga. Karena produksi dalam negeri bergeming, maka impor minyak mentah dan BBM meningkat.

Akibatnya, defisit minyak, terutama BBM, melonjak. Selama Januari-Oktober 2017 impor defisit minyak (minyak mentah dan BBM) mencapai 11,8 miliar dollar AS, naik 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan sudah lebih besar dibandingkan keseluruhan tahun 2016 sebesar 11 miliar dollar AS. Sampai akhir tahun ini defisit minyak berpotensi mendekati atau bahkan melebihi defisit tahun 2015 yang mencapai 14,4 miliar dollar AS.

Defisit minyak Januari-Oktober 2017 sudah melampaui penerimaan devisa dari turis asing Januari-September 2017 sebesar 9,4 miliar dollar AS dan tahun 2016 sebesar 11,2 miliar dollar AS. Kementerian Pariwisata mengklaim tahun ini sektor pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar.

migas

Sedemikian besarnya defisit minyak, sehingga surplus gas tidak bisa menutupi defisit minyak, sekedar separuhnya sekalipun. Secara keseluruhan, perdagangan migas defisit 6,7 miliar dollar AS selama Januari-Oktober 2017.

Indonesia Economic and Tourism Outlook 2018


baliCatatan: Hari ini (17/11), komunitas pariwisata Bali menggelar acara ITO 2018 Hospitality Talk dengan tema “Indonesia Outlook 2018: Leveraging Creativity through Digital Emotional Media Revolution in Tourism Industry,” di Ayodya Resort, Nusa Dua.

Bahan yang saya siapkan untuk acara pagi ini merupakan pemutakhiran data (terutama data neraca pembayaran triwulan III yang baru dikeluarkan oleh Bank Indonesia) serta beberapa tambahan dari bahan presentasi acara serupa di Jakarta pada awal November.

Bagi yang berminat, silakan tengok presentasi dalam bentuk pdf:

20171117-ITO_Hospitality_Talk-tourism_outlook

 

Tantangan Meningkatkan Penerimaan Devisa Netto Sektor Pariwisata


Mount Bromo - 10 of The Best Indonesia Tourist Attractions
captureindonesia.com

Pada tulisan sebelumnya (14/11), ditunjukkan penerimaan devisa dari tulis asing yang datang ke Indonesia menunjukkan peningkatakan dari tahun ke tahun tanpa henti, tidak seperti pendapatan ekspor komoditas yang berfluktuasi seperti roller coaster. Data yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia ini lebih rendah ketimbang yang disampaikan oleh Kementerian Pariwisata.

Di sisi lain, pengeluaran devisa yang dibelanjakan oleh pelancong Indonesia di luar negeri juga menunjukkan kecenderungan meningkat sejak 2013 dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya, walaupun tidak secepat devisa yang masuk.

t3

Jika kita menelaah lebih dalam, tampak ada kecenderungan pengeluaran turis asing per kapita mengalami penurunan. Sebaliknya, pengeluaran turis Indonesia di luar negeri menunjukkan peningkatan.

capita

Ada baiknya promosi untuk turis domestik lebih digencarkan mengingat sedemikian banyak obyek wisata di dalam negeri yang bisa dikunjungi yang tak kalah menarik ketimbang obyek wisata di luar negeri.

 

Sedikit Koreksi untuk Menteri Pariwisata


t-0Tak diragukan lagi, pariwisata Indonesia tumbuh sangat pesat dalam tiga tahun terakhir. Wisatawan mancanegara telah menembus 10 juta pada 2015. Setahun berikutnya tumbuh dua digit (12,6 persen) dan Januari-September tahun ini kian mengakselerasi dengan pertumbuhan tahunan (year-on-year) sebesar 25 persen. Tiga bulan tersisa tahun ini diperkirakan turis asing akan bertambah sekitar 3,5 juta sampai 4 juta.

t-1

Kinerja sektor turisme sudah menonjol  dan memperoleh pengakuan dari dalam negeri maupun luar negeri. Kerja keras pemerintah pusat dan daerah telah membuahan hasil nyata, tanpa harus dibumbui dengan penggunaan indikator yang salah kaprah.

Salah satu contoh yang menunjukkan salah kaprah adalah dengan mengklaim sektor pariwisata bakal menjadi penyumbang devisa terbesar mulai tahun ini. Saya mendengarkan langsung presentasi Menteri Pariwisata pada awal bulan ini. Salah satu peraga yang ditampilkan adalah sumbangan pariwisata berada pada posisi ketiga selama 2013-2015 dan naik ke peringkat kedua pada 2016.

t-2

Pertama, membandingkan sumbangan sektor pariwisata dalam penerimaan devisa dengan ekspor komoditas atau barang tidaklah apple to apple. Di dalam sektor pariwisata terkandung berbagai produk seperti hotel, restoran, transportasi udara, dan mungkin banyak lagi. Sedangkan komoditas ekspor yang diperbandingkan bersifat tunggal. Ada kemungkinan  tumpang tindih di situ.

Sektor lain bisa pula mengklaim seperti sektor pariwisata. Misalnya sektor industri kreatif.

Jika kecenderungan seperti itu semakin menjamur, penerimaan devisa Indonesia menggelembung, lebih besar atau jauh lebih besar dari yang tercatat resmi di neraca pembayaran Indonesia yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.

Data yang disampaikan oleh Menteri Pariwisata saja sudah berbeda dengan data Bank Indonesia.

Menurut data Kementerian Pariwisata, pada tahun 2016 sektor pariwisata menyumbang devisa sebanyak 12,2 miliar dollar AS. Sementara itu, data Bank Indonesia untuk tahun yang sama hanya 11,2 miliar dollar AS.

t3

Kedua, yang dihitung oleh Kementerian Pariwisata hanya devisa yang masuk. Padahal kian banyak orang Indonesia yang melancong ke luar negeri. Menurut survei turisme global yang dilakukan Visa, turis Indonesia berniat melancong lebih jauh, lebih lama, dan lebih banyak pengeluaran per kunjungan. jadi ada baiknya indokator sumbangan devisa pariwisata menggunakan konsep neto. Jika demikian, sumbangan netto sektor turisme dalam penerimaan devisa pada 2016 hanya 3,7 miliar dollar AS, jauh lebih rendah ketimbang batubara dan minyak sawit yang praktis tidak ada impornya.

Memang sumbangan netto sektor pariwisata masih positif. Berbeda dengan ekspor migas yang menduduki posisi teratas hingga 2015, tetapi nilai impornya lebih banyak, sehingga sumbangan netto migas sudah negatif.

Ketiga, mungkin karena khilaf, sumbangan sektor listrik (electricity) pada peraga yang disampaikan menteri Pariwisata menduduki posisi keenam selama 2014-2016. Rasanya kita belum pernah mengekspor listrik. Dari penelusuran terhadap data ekspor, sangat boleh jadi itu bukan listrik, melainkan ekspor kendaraan bermotor dan komponennya (kode HS 87).

Semoga presentasi Pak Menteri di kemdian hari akan jauh lebih akurat.

Selamat bekerja dan sukses selalu untuk dunia pariwisata Indonesia.

 

Target Devisa Wisata Dikhawatirkan Tidak Tercapai


Kompas, 2 November 2017, hal. 19

JAKARTA, KOMPAS — Target pemerintah untuk bisa mengantongi devisa Rp 280 triliun dari sektor pariwisata dikhawatirkan tidak tercapai. Hal ini dikarenakan banyak warga Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri, baik untuk liburan, ibadah, maupun keperluan lainnya.

“Jika banyak devisa yang keluar, tentu jumlah bersih devisa yang terkumpul tidak terlalu besar,” kata pengamat ekonomi Faisal Basri dalam Indonesia Tourism Outlook 2018 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata di Jakarta, Rabu (1/11).

Faisal mengatakan, upaya yang dilakukan para penggiat pariwisata tidak sejalan dengan keinginan pemerintah. Misalnya, saat ini banyak pameran perjalanan diselenggarakan. Pameran perjalanan itu memungkinkan orang mendapatkan tiket ke luar negeri dengan mudah. “Bahkan, bahasa promosi yang dipakai adalah bahasa yang mendorong orang untuk ke luar negeri. Misalnya, tiket ke Thailand lebih murah daripada ke Bali. Tiket ke Jepang lebih murah daripada ke Papua,” kata Faisal.

Dengan banyaknya orang ke luar negeri, maka sisa devisa yang terkumpul, menurut Faisal, hanya sekitar 6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 81 triliun (dengan kurs Rp 13.500. “Sementara menurut perhitungan saya, jumlah devisa yang terkumpul pada tahun 2019 hanya sekitar Rp 200 triliun, bukan Rp 280 triliun. Hal ini karena kita tidak bisa mengendalikan angka kunjungan turis asing. Ada banyak faktor yang memengaruhinya,” kata Faisal.

Faisal mengatakan, dengan dijadikannya pariwisata sebagai sektor unggulan untuk pertumbuhan, ada banyak sektor lain yang ikut terdongkrak. Misalnya, sektor transportasi, hotel, restoran, dan hospitality (jasa kenyamanan). Sektor transportasi seperti pesawat terbang dan kereta api juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

Dia mengusulkan agar pemerintah memperhatikan generasi milenial yang menempatkan berlibur sebagai cita-cita utama. “Ciptakan destinasi wisata baru yang menarik bagi mereka dan permudah akses ke sana. Jumlah mereka cukup besar, 78 juta orang,” ujar Faisal.

Senior Vice President of Government and Industry Affairs World Travel and Tourism Council Helen Marano mengatakan, sektor pariwisata memberikan kontribusi yang sangat baik terhadap pertumbuhan dunia. Pariwisata juga telah menciptakan lapangan kerja hingga 292 juta pekerjaan di dunia. “Pariwisata tidak akan mati. Bahkan, isu terorisme tidak bisa menghentikan orang untuk berlibur. Saat ini ada 1,2 miliar turis yang berlibur di seluruh dunia,” kata Marano.

Dia mengatakan, yang menjadi tantangan dalam pengembangan pariwisata adalah perubahan iklim, berkurangnya destinasi, dan penggerusan terhadap pariwisata.

Head of Destination Marketing Asia Pacific TripAdvisor Sarah Mathew mengatakan, Indonesia memiliki potensi pariwisata yang sangat besar. Sementara Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, tantangan terbesar adalah mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan. “Nilai kita untuk sektor ini masih rendah,” kata Arief. (ARN)

Faisal Basri: Pemerintah Perlu Genjot Belanja Turis Asing


turis-asing
Turis Asing – Setkab.go.id
 finansial.bisnis.com, 1 November 2017, 16:57 WIB
Oleh : Amanda Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah diharapkan mulai beranjak untuk mengejar peningkatan kualitas dari sisi konsumsi wisatawan mancanegara (wisman) dari kuantitas yang selama ini terus digenjot.

Pasalnya, data Bank Indonesia mencatat konsumsi per kapita terus menunjukkan penurunan sejak 2016 menjadi US$1.035 dari US$1.099 pada 2015. Sebaliknya, angka sementara pada 2017 senilai US$1.011.

“Selama dua tahun terakhir, pengeluaran wisman ketika berlibur di Indonesia terus turun. Secara kuantitas memang ada peningkatan kunjungan, tetapi secara kualitas justru pengeluaran mereka turun,” kata Ekonomi Faisal Basri di Jakarta, Rabu (1/11/2017).

Faisal Basri menilai penurunan pengeluaran wisman tersebut bersumber dari tingginya kunjungan wisman China selama dua tahun terakhir. Posisi China mulai merajai portofolio pariwisata Tanah Air sejak 2016, yang sebelumnya dipegang oleh Singapura.

Faisal merinci pengeluaran per kapita wisman China hanya US$900-US$1.000. Angka itu masih jauh di bawah wisman asal Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia yang rata-rata berada di angka US$1.000-US$2.000.

Tak hanya itu, periode menginap wisatawan asal China relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan wisman pada umumnya. Untuk itu dia menyarankan pemerintah melakukan diversifikasi pangsa pasar wisman dan tidak lagi tergantung pada pasar China.

“Harusnya strategi mulai diubah dengan membidik pasar Eropa, Australia, dan Jepang karena mereka terkenal sangat loyal ketika berlibur ke Indonesia. Dari segi deregulasi, saya rasa sudah cukup memfasilitasi turis untuk masuk ke Indonesia,” tukasnya.

Padahal, setahun terakhir pemerintah cukup gencar membidik turis China untuk berkunjung ke Indonesia. Bahkan, penerbangan charter ke Indonesia mulai masuk hingga ke kota tier dua di China misalnya Hangzhou, Wuhan, Fuzhao, dan Guiyang.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisman sepanjang Januari-September 2017 mencapai 10,46 juta atau naik 25,05% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Untuk tahun ini, saya optimis jumlah kunjungan wisman hanya mencapai 13 juta dari target tahun ini yakni 15 juta. Tapi untuk 2018 dan 2019, Indonesia akan diuntungkan dari perbaikan ekonomi dunia sehingga target sebanyak 20 juta wisman bukanlah sebuah mimpi lagi,” katanya.

Selain menggenjot wisman, Faisal juga menyebutkan pemerintah seharusnya tidak mengabaikan potensi wisatawan nusantara (wisnus) dalam mendongkrak kontribusi pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.

Sepanjang Januari-Agustus 2017, Kementerian Pariwisata mencatat jumlah kunjungan wisnus sebanyak 199,8 juta atau sudah mencapai 75% dari target yang ditetapkan tahun ini yakni 265 juta wisnus.

“Dari data yang saya kompilasi, sudah ada 78 juta masyarakat Indonesia yang siap untuk berlibur. Angka itu adalah 30% dari total populasi Indonesia yang masuk ke kelas menengah. Pemerintah harus cepat mengambil kesempatan ini karena mereka juga menjadi pasar potensial bagi pasar outbound,” tuturnya.

Meski jumlah kunjungan wisman ke Indonesia secara nilai masih cukup besar, tapi dia mengungkapkan pertumbuhan masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri juga signifikan.

Bahkan, Bank Indonesia sempat merilis dalam laporannya bahwa jumlah dan belanja turis Indonesia ke luar negeri diproyeksikan meningkat sehingga penerimaan netto diperkirakan menembus US$56 miliar pada 2019.

 

Editor : Fajar Sidik
Sumber: http://bit.ly/2gWJeRe

Faisal Basri: Pariwisata sebagai Jalan Keluar Ekonomi Bangsa


viva.co.id, Kamis, 2 November 2017 | 11:16 WIB

Ririn Aprilia

VIVA – Setelah ditetapkan sebagai salah satu leading sector oleh Presiden Joko Widodo sektor pariwisata kian pesat. Pada tahun 2018 dan 2019 pertumbuhan dan perkembangan dunia pariwisata diprediksi semakin meroket bertambah baik dan menjadi kebangkitan pariwisata Indonesia.

Hal tersebut disampaikan pengamat ekonomi Faisal Basri dalam acara Indonesia Tourism Outlook 2018 yang diinisiasi Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) di Grand ballroom DoubleTree by Hilton Jakarta, Rabu 1 November 2017.

“Tidak hanya dari negara Amerika atau Eropa tetapi juga dari hampir semua wilayah dunia. Baik di negara maju atau negara berkembang. Termasuk Indonesia. Kondisi ini sangat baik, hampir sudah tidak terjadi di dunia selama 10 tahun terakhir,” ujar Faisal Basri saat menyampaikan paparannya di Indonesia Tourism Outlook, Rabu 1 November 2017.

Dirinya juga menyebut, pariwisata adalah jalan keluar atas ekonomi bangsa. Di saat banyak komoditas melemah, termasuk oil and gas, coal atau batubara, pariwisata makin melejit. “Jalan keluarnya ada di pariwisata dan kelautan yang potensinya semakin terbuka lebar,” katanya.

Lantas apa upayanya untuk bisa survive? Pemilik nama lengkap Faisal Batubara itu menjawab, harus ada upaya perubahan mindset, jangan lagi mengurus dan fokus hal-hal kecil. Misalnya perdebatan soal bebas visa. Karena dibanding kerugian akibat biaya visa yang hilang, keuntungan akan didapat dari mudahnya proses bagi calon wisatawan berkunjung.

“Yang harus dilakukan ialah melakukannya dengan tepat dan pengawasan baik. Tourism punya peran untuk menyebar pertumbuhan yang lebih merata di Indonesia yang kondisi geografisnya khas dan sangat luas. Semua bisa berubah total dengan wisata,” ujarnya.

Kata Faisal, tantangan pemerintah yang utama bagaimana mengajak warga negara Indonesia sendiri bisa berkunjung dan berwisata ke wilayah Indonesia sendiri. Buat orang Indonesia berwisata nyaman di negaranya sendiri. Karena sekitar 78 Juta WNI siap untuk berwisata. Kata Faisal, jangan kalah perkembangan dengan negara-negara lain yang berlomba meningkatkan layanan untuk wisatawan Indonesia.

”Contohnya saja di Jepang saat ini sudah banyak bangun Mushala dan fasilitas yang ramah Indonesia lainnya. Kita harus membenahi itu dan kesadaran lingkungan yang semakin dirasakan dan dijaga oleh masyarakat sekitar lokasi wisata harus terus dikampanyekan, sehingga pariwisata kita terus menjadi lebih baik,” tambahnya.

Menteri Pariwisata menjadi Keynote Speaker dalam acara Indonesia Tourism Outlook: Prospek dan Persoalan Pariwisata di Indonesia yang diselenggarakan oleh Forwapar (Forum Wartawan Pariwisata Indonesia) di Double Tree by Hilton, Jakarta (1 November 2017).

Nara sumber lain, Faisal Basri, Senior Vice President WTTC Helen Marano, dan Sarah Matthew dari TripAdvisor.. Menpar menjabarkan Kebijakan Pengembangan Pariwisata Indonesia yang mencakup Marketing Performance, Digital Tourism, and Investment Opportunity.

Menpar Arief Yahya memaparkan masalah dan solusi dalam pengembangan Pariwisata Indonesia. Pertama promosi yaitu mengintensifkan penggunaan digital tourism. “Kita harus berubah, karena saat ini terjadi 3 revolusi, 3T (Telecommunication, Transportation, Tourism). digital tourism revolution is a natural revolution, we must adapt or die!” katanya.

Kedua, lanjut Menpar Arief, destinasi, environmental sustainability, ranking Indonesia masih buruk. Dalam pertemuan dengan Helen Marano, Senior Vice President WTTC, Menpar berharap untuk mendapatkan masukan benchmarking dari negara lain melalui WTTC dalam mengatasi masalah-masalah environmental sustainability.

Ketiga, ungkap Menpar Arief, kelembagaan, de-regulasi. Di Indonesia terdapat 42.000 peraturan. Maka dari, deregulasi sangat penting. “Yang sudah dilakukan: ease of entering Indonesia; visa free, pencabutan Clearance Approval for Indonesia Territory (CAIT) Policy, pencabutan asas cabotage,” jelasnya.

Lalu, lanjut Arief Yahya, harus dibuat Ease of Doing Business (FDI) yaitu 10 Bali Baru, KEK. “Harus diakui, kalau kita ingin hasil yang luar biasa, harus mengguanakan cara yang tidak biasa!” ujarnya.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya juga memaparkan perkembangan pariwisata Indonesia terkini dimana jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sampai Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 1,35 juta wisman.

Dengan capaian ini optimis target 15 juta wisman akhir tahun 2017 akan terlampaui. “Pertumbuhan pariwisata Indonesia sangat tinggi mencapai 25,6 persen dari Januari hingga Agustus 2017. Indonesia masuk daftar top 20 in the world,” kata Arief Yahya.(webtorial)

Sumber: http://www.viva.co.id/berita/nasional/973505-faisal-basri-pariwisata-sebagai-jalan-keluar-ekonomi-bangsa

Outlook Pariwisata Indonesia


Screen Shot 2017-11-02 at 05.08.36Rabu kemarin (1/11), saya menghadiri seminar bertajuk “Indonesia Tourism Outlook 2018: Prospek dan Persoalan Pariwisata di Indonesia.” Seminar dibuka dengan piddato kunci oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya. Pada sesi panel diskusi pertama dengan tema “Global and Regional Outlook,” saya diminta membahas/menjawab tujuh persoalan sebagai berikut:

(1) Pariwisata sebagai “new economy” dan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia

(2) Pariwisata diproyeksikan menjadi sektor  penyumbang devisa terbesar pada 2019 senilai Rp280 triliun. Mentri Pariwisata yakin pada 2018 pariwisata sudah menjadi penyumbang devisa terbesar. Seberapa optimis? Apa yang harus dilakukan untuk mendongkrak devisa pariwisata?

(3) Dalam perhitungan PDB, pariwisata masih digabung dengan sektor lain, di antaranya perdagangan, hotel dan restoran. Jika ke depan pariwisata menjadi  sektor unggulan penghasil devisa terbesar, apakah harus dilakukan perhitungan tersendiri?

(4) Travel balance Indonesia. Posisi pariwisata dalam neraca jasa Indonesia.

(5) Perbandingan inbound dan outbound turis Indonesia.

(6) Menurut BPS ada kenaikan pada indeks leisure, sedangkan non-leisure turun. Apakah ini cukup untuk menggambarkan adanya pergeseran pola konsumsi dan belanja masyarakat dari belanja barang ke jasa (wisata)?. Atau ada indikator lainnya?

(7) Investasi pariwisata masih seret.

IMG_1296

 

IMG_1275

 

Tidak semua pertanyaan atau persoalan bisa saya jawab. Yang  saya sajikan pada acara itu bisa dilihat pada powerpoint yang tersaji dalam bentuk pdf di bawah ini. Semoga bermanfaat.

 

20171101-Forum_ITO-tourism_outlook

Sekali Lagi tentang Daya Beli


Daya beli (purchasing power) merupakan sekedar istilah, bukan teori. Menurut Oxford Dictionary of Economics, puchasing power adalah

“The amount of real goods and services each unit of money will buy. Purchasing power is thus the reciprocal of a suitable price index: if prices go up, the purchasing power of money goes down.”

Definisi tidak jauh berbeda oleh Investopedia:

“Purchasing power is the value of a currency expressed in terms of the amount of goods or services that one unit of money can buy. Purchasing power is important because, all else being equal, inflation decreases the amount of goods or services you would be able to purchase.”

Istilah purchasing power memiliki arti yang berbeda sesuai konteks. Masih menurut Investopedia, dalam terminologi investasi,  purchasing power adalah

“the dollar amount of credit available to a customer to buy additional securities against the existing marginable securities in the brokerage account.”

Dalam khazanal ekonomi internasional, kita mengenal teori paritas daya beli (purchasing power parity (PPP) theory). Teori ini menjelaskan daya beli suatu mata uang terhadap mata uang lain yang mengaitkannya dengan kemampuan masing-masing mata uang membeli barang dan jasa yang sama. Berikut penjelasan Oxford Dictionary of Economics tentang teori PPP:

“The theory that exchange rates between currencies are determined in the long run by  the amount of goods and services that each can buy. In the absence of transport cost and tariffs, if the price of tradable goods are lower in the one country than another, traders could gain by buying buying goods in the country where they are cheaper and selling in the other one: relative price levels thus determine the equilibrium exchange rate. Not all goods are tradables, and even for tradables transport costs and tariffs mean that prices need not be equal, but the same forces of arbitragelimit their differences, and thus limit the deviations of exchange rates from PPP. An alternative form of PPP says that changes in the equilibrium exchange rate are determined by changes in relative price levels.”

Badan Pusat Statistik (BPS) setiap bulan merilis data nilai tukar petani (NTP) dengan tujuan untuk menangkap perkembangan tingkat “kesejahteraan” petani di pedesaan. BPS mendefinisikan NTP sebagai berikut:

“Perbandingan indeks harga yg diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani, mencerminkan tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga mencerminkan daya tukar (terms of trade) produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi petani.”

Jika harga produk pertanian yang dihasilkan petani naik lebih lambat dari harga barang dan jasa yang dibeli petani, ceteris paribus, berarti daya beli petani menurun. Dengan uang yang sama yang diperoleh dari penjualan produk pertanian yang dihasilkan, kian sedikit barang dan jasa yang bisa dibeli petani, baik untuk konsumsi maupun untuk ongkos produksi petani.

Petani bisa membeli lebih banyak kebutuhannya jika produktivitas petani naik dan atau petani melakukan ekspansi lahan tanam.

***

Perbincangan yang marak belakangan ini tentang sinyalemen daya beli masyarakat yang merosot  di tengah data makroekonomi yang tidak mengalami pemburukan sangat boleh jadi disebabkan oleh duduk perkara yang tidak jelas. Jika duduk perkaranya jelas, boleh jadi tidak terjadi anomali antara data makro dan data mikro.

Pihak yang mengatakan daya beli masyarakat merosot bertolak dari kenyataan omzet beberapa outlet penjualan ritel modern dan penjualan sejumlah barang mengalami penurunan. Sudah barang tentu kenyataan itu tidak mencerminkan daya beli masyarakat secara keseluruhan. Lihat Daya Beli Masyarakat Tidak Merosot dan Data PDB Terbaru dan Daya Beli.

Jika kembali ke definisi pertama yang diperluas, daya beli masyarakat secara keseluruhan akan turun seandainya peningkatan pendapatan masyarakat lebih lambat ketimbang peningkatan harga-harga umum sebagaimana terefleksikan dari laju inflasi. Pendapatan masyarakat sebagaimana tercermin dari pendapatan nasional berdasarkan harga berlaku selama kurun waktu 2013-2016 mengalami kenaikan rerata 9,8 persen. Bahkan pada tahun 2016 kenaikannya tertinggi selama periode itu, yaitu 11,7 persen.

Karena selalu terjadi kenaikan jumlah penduduk, pertumbuhan pendapatan nasional per kapita lebih rendah dari pertumbuhan pendapatan nasional. Selama periode 2013-2016, pendapatan nasional per kapita rerata setahun naik sebesar 8,23 persen, dengan peningkatan tertinggi 10,3 persen pada tahun 2016.

Untuk mendapatkan pendapatan nasional riil, kita harus memperhitungkan kenaikan harga dengan menggunakan deflator PDB atau deflator pendapatan nasional. BPS menyajikan data itu. Agar lebih mengerucut pada daya beli, kita gunakan saja indeks harga konsumen yang lazim dipakai untuk mengukur laju inflasi. Ternyata laju inflasi selalu lebih rendah dari pertumbuhan nominal pendapatan nasional maupun pendapatan nasional per kapita, bahkan laju inflasi menunjukkan kecenderungan menurun hingga di bawah 4 persen pada Juli 2017.

inflasi

Pendapatan nasional (national income) telah mengeluarkan pajak tidak langsung.

Pendapatan perseorangan (personal income) diperoleh dari national income dikurangi transfer payments bersih. Jika personal income dikurangi dengan pajak perseorangan, maka didapat pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable income).

Karena tarif pajak perseorangan tidak naik, maka tidak terjadi tekanan terhadap pendapatan yang siap dibelanjakan atau tidak terjadi tekanan terhadap daya beli karena faktor pajak. Jika pemerintah menurunkan pendapatan tidak kena pajak, barulah daya beli masyarakat menurun.

Selain itu, bisa saja kelompok masyarakat tertentu menikmati peningkatan pendapatan tetapi konsumsinya tidak naik, karena porsi pendapatan yang ditabung meningkat. Kecenderungan demikian terlihat dari peningkatan pertumbuhan dana pihak ketiga di perbankan sejak Oktober 2016. Jadi penurunan konsumsi bukan berarti daya beli turun, melainkan karena switching ke tabungan.

dpk

Riitel modern dan beberapa barang yang penjualannya turun seperti semen dan pakaian tidak mencerminkan seluruh belanja masyarakat. Terbukti survei Bank Indonesia  terbaru menunjukkan penjualan eceran Juni 2017 meningkat sejalan dengan kenaikan permintaan total masyarakat selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri, yang tercermin dari  peningkatan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2017 sebesar 6,3% dibandingkan Juni tahun lalu.

Tulisan Ari Kuncoro menjelaskan tidak terjadi anomali data mikro dan makro. Yang terjadi adalah pergeseran pola konsumsi, antara lain karena perubahan gaya hidup kelas menengah-atas.

Oleh karena itu wajar saja terjadi penurunan di sektor tertentu tetapi lebih banyak sektor yang menikmati peningkatan. Analisis Ari Kuncoro ditopang oleh data.

Rilis BPS terbaru menunjukkan, walaupun pertumbuhan subsektor perdagangan besar dan eceran mengalami penurunan (tumbuh tapi melambat) dari 5,41 persen pada triwulan I-2017 menjadi 3,94 persen pada triwulan II-2017, selama semester I-2017 subsektor ini tumbuh 5,41 persen–lebih tinggi dari pertumbuhan PDB sebesar 5,01 persen.

Kelas menengah-atas yang semakin gandrung melancong tampak dari nilai tambah sektor transportasi & pergudangan serta sektor hospitality yang terus tumbuh, bahkan beberapa subsektor tumbuh dua digit.

nt-tranport-hospotality

Tengok pula peningkatan jumlah penumpang dan volume barang yang diangkut yang juga naik relatif tinggi.

transport

Turis mancanegara dan turis domestik juga sangat berperan menggairahkan kedua sektor itu. Sejak 2015 jumlah turis asing telah menembus 10 juta dengan peningkatan dua digit pada 2016 dan diperkirakan berlanjut seperti itu tahun ini. Pada semster I-2017 jumlah turis mancanegara tumbuh 22,42 persen dibandingkan semester yang sama tahun lalu.

turis

Sudah barang tentu tidak semua kenaikan sektor transportasi dan hospitality berasal dari turisme, melainkan juga dari kegiatan bisnis yang terus meningkat. Ikhwal peningkatannya tidak mengakselerasi, itulah yang menjadi tantangan kita bersama.

Indonesia tidak cukup dengan pertumbuhan ekonomi 5 persen, apalagi kalau kurang berkualitas sebagaimana tampak pada perkembangan lima tahun terakhir.

Blog at WordPress.com.

Up ↑