Pekerja dari China Diperkirakan Masih Mengalir Masuk


Menurut perkiraan lembaga di bawah naungan PBB yang mengurusi turisme, The World Tourism Organization (UNWTO), kedatangan turis internasional pada 2020 akan merosot tajam sebesar 58 persen sampai 78 persen dibandingkan tahun lalu.

Kemerosotan pelancong mancanegara yang masuk ke Indonesia berada dalam rentang itu. Selama Januari-Agustus, kedatangan pengunjung mancanegara tercatat sebanyak 3,4 juta, merosot 68 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar 10,7 juta.

Sebelum pengumuman resmi kasus COVID-19 pada 2 Maret sekalipun, sebetulnya pertumbuhan kunjungan sudah mengalami penurunan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada 2017 yaitu sebesar 21,9 persen. Setelah itu terus-menerus melemah, menjadi 12,6 persen pada 2018 dan hanya 1,9 persen pada 2019. Dua bulan pertama tahun 2020 jumlah kunjungan merosot atau minus 11,80 persen. Kemerosotan kian tajam setelah pengumuman kasus pertama.

Mengingat perkembangan COVID-19 semakin memburuk, agaknya kemerosotan yang tajam akan terus berlangsung hingga akhir tahun.

Pada Agustus 2020 terlihat ada kenaikan kunjungan dibandingkan dengan Juli, dari 157.939 menjadi 164.970 atau tumbuh positif sebesar 4,45 persen. Apakah wisman sudah berangsur pulih? Agaknya belum. Peningkatan ini bersumber dari negara-negara tetangga yang berbatasan darat dengan Indonesia. Timor-Leste dan Malaysia masing-masing menyumbang 54,2 persen dan 35,3 persen dari total kunjungan pada Agustus lalu.

Kunjungan lewat udara praktis masih mati suri. Pada Agustus, kunjungan lewat udara hanya 5.500 atau 3,3 persen dari total kunjungan.

Yang menarik adalah China mendominasi pengunjung lewat udara, yaitu 2.500 dari 5.500 pelancong. Ditambah yang lewat darat dan laut, pengunjung dari China ke Indonesia mencapai 3.700, ketiga terbanyak setelah Timor-Leste dan Malaysia.

Karena pemerintah Indonesia tetap membuka kedatangan pekerja dari China, maka patut diduga bahwa sebagian besar pengunjung dari China itu adalah pekerja.

Waspada Tinggi Dampak Ekonomi Coronavirus


[Update 8 Februari 2020 pk.03:15: Hingga Jumar (7/2), total kematian 722 orang (termasuk 1 warga AS) dan 34.546 di China Daratan. Di luar China telah menyerang 27 negara dengan 2 meninggal dan 320 terjangkiti.]

satu kematian lagi di luar China Daratan, yaitu di Hongkong. Total kematian 427orang. Penderita di China Daratan naik menjadi 20.438 orang, dari 3.235 orang pada hari Senin. Sekitar 3.000 yang terjangkit dalam kondisi kr

Akhir Januari lalu, WHO (World Health Organization) menetapkan wabah coronavirus sebagai darurat kesehatan dunia. Risiko virus yang berasal dari China ini telah menjalar ke lebih 26 negara di empat benua.

Dari hari ke hari korban berjatuhan terus bertambah. Wabah yang bermula dari Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, sejak awal Desember 2019 sampai hari Minggu lalu telah menjangkiti 17.300 orang di seluruh dunia, merenggut 362 jiwa di seluruh wilayah China dan satu orang di Filipina. Itu data pada 2 Februari 2020. Empat hari sebelumnya jumlah kematian baru 170 jiwa dan yang terjangkit baru 7.678 orang.

Kematian akibat coronavirus baru telah melampaui korban meninggal dunia akibat wabah SARS (severe acute respiratory syndrome) tahun 2002 dan 2003 di China Daratan yang menelan 349 jiwa (The New York Times).

A man with a protective mask walked in a large empty Beijing shopping area that would usually be busy during the Lunar New Year holiday. PHOTO: KEVIN FRAYER/GETTY IMAGES
Sumber: Wall Street Journal

Lima negara ASEAN telah terjangkiti, yaitu Malaysia, Singapura, Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Negara tetangga dekat kita, Australia, pun turut terkena.

Coronavirus diperkirakan bakal memukul ekonomi dunia lebih keras ketimbang dampak epidemik SARS. Fatality rate coronavirus sangat boleh jadi jauh lebih rendah dari wabah SARS, namun karena beberapa faktor, dampak ekonominya bagi perekonomian global lebih parah.

Pertama, pada tahun 2003 perekonomian China masih di urutan keenam dunia dengan produk domestik bruto (PDB) senilai 1,7 triliun dollar AS. PDB Amerika Serikat, yang merupakan perekonomian terbesar di dunia, tujuh kali lipat dari PDB China. Sumbangan PDB China baru 4 persen terhadap PDB dunia pada 2003 dan kini melonjak menjadi 16 persen.

Kini perekonomian China telah melonjak delapan kali lipat menjadi 13,6 triliun dollar AS, menempatkannya sebagai perekonomian terbesar kedua di dunia dan kian mendekati PDB AS. PDB AS tinggal 1,5 kali lipat dari China. Pada tahun 2019, PDB China (sekitar 14,55 triliun dollar AS) hampir sama dengan PDB semua negara Uni Eropa.

Sumber: Bank Dunia

Kedua, China telah menjelma sebagai pusat grafitasi perdagangan dunia. Tak ada satu pun negara yang menandingi nilai perdagangan China. Nilai ekspor dan impor China tahun 2018 mencapai 4,6 triliun dollar AS, melampaui nilai perdagangan AS sebesar 4,3 triliun dollar AS. Lima negara terbesar di dunia memiliki hubungan dagang paling erat dengan China. Amerika Serikat, Jepang, dan India mengimpor barang dari China lebih besar ketimbang dari negara mana pun di dunia. Uni Eropa dan Brazil mengekspor barang paling banyak ke China daripada ke negara-negara lainnya.

Posisi China sangat vital sebagai pemasok kompanen dan berbagai material banyak perusahaan di dunia. Gangguan produksi yang cukup lama di China sangat mengganggu sistem produksi banyak produk di dunia yang terjalin dalam sistem global supply chain.

Indonesia pun memiliki hubungan dagang paling erat dengan China. Tujuan ekspor terbesar Indonesia adalah China. Asal impor terbesar Indonesia juga dari China.

Banyak lagi yang disandang China sebagai pemegang rekor dunia, di antaranya: penduduk terbesar, eksportir terbesar, produsen dan eksportir manufaktur terbesar, pasar terbesar untuk berbagai kategori barang konsumsi dan barang mewah, dan pengimpor minyak mentah terbesar.

Dampak nyatanya sudah terlihat. Dalam tiga minggu terakhir harga minyak merosot tajam. Bagi Indonesia itu berita baik, karena kita sudah menjadi negara pengimpor netto, tetapi berdampak negatif terhadap penerimaan negara. Penurunan harga terjadi pula terhadap sejumlah komoditas ekspor Indonesia sehingga bakal menekan transaksi perdagangan luar negeri dan akun lancar (current account).

Sumber: Wall Street Journal.

Berdasarkan data terbaru dari World Tourism Organization (UNWTO), sekitar 150 juta perjalanan ke luar negeri dari China membelanjakan tak kurang dari 277 miliar dollar AS, juga terbesar di dunia. Pelancong dari AS yang di urutan kedua, pengeluarannya jauh di bawah China, yaitu 144 miliar dollar AS.

Bagi Indonesia, pelancong dari China merupakan yang terbanyak kedua setelah Malaysia. Pada tahun 2018, pelancong dari China mencapai 2,1 juta orang atau 13,5 persen dari keseluruhan turis mancanegara yang datang ke Indonesia. Sebelum coronavirus merebak sebagai masalah dunia sekalipun, jumlah turis China ke Indonesia sudah turun tahun lalu. Apatah lagi tahun ini.

Sumber: Badan Pusat Statistik.

Tekanan terhadap perekonomian dunia bertambah berat karena pertumbuhan ekonomi China terus mengalami kecenderungan menurun sejak 2008. Tahun ini diperkirakan pertumbuhan ekonomi China memasuki zona lebih rendah baru: lima persenan. Tahun lalu pemerintah China masih mampu meredam perlambatan ekonomi lewat pelonggaran kebijakan moneter. Kali ini yang dihadapi jauh lebih berat, tidak sekedar faktor ekonomi teknis, melainkan juga faktor psikologis. Oleh karena itu bisa dimaklumi ada prediksi pertumbuhan China tahun ini berpotensi di bawah 5 persen.

*Prediksi IMF per Januari 2020. Prediksi IMF untuk tahun 2020 belum memperhitungkan dampak wabah coronavirus.
Sumber: Bank Dunia.

Hampir bisa dipastikan target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen tahun ini sebagaimana tercantum dalam APBN 2020 dan RPJM 2020-2024 tidak akan tercapai. Bisa tumbuh 5 persen saja seperti tahun 2019 sudah amat bagus.

[Diperbarui 9 Februari 2019 pk.00:34]

Pertumbuhan Turis Asing Anjlok


Dua tahun terakhir pertumbuhan turis asing yang masuk ke Indonesia turun sangat tajam. Padahal tiga tahun sebelumnya, arus masuk pelancong mancanegara tumbuh mengakselerasi, yang mencapai aras tertinggi tahun 2017 sebesar 21,9 persen, dari 11,5 juta menjadi 14,0 juta. Setahun kemudian meluncur hampir separuhnya dan tahun lalu mencapai aras terendah, hanya 1,9 persen.

Dari 16,1 juta wisatawan asing yang masuk ke Indonesia, China berada di urutan kedua sebanyak 2,1 juta dengan porsi 13 persen pada 2019. Jumlah turis China turun dibandingkan tahun 2018. Akibat wabah coronavirus, sangat boleh jadi turis dari negara Tirai Bambu ini akan merosot jauh lebih tajam tahun ini, tidak saja ke Indonesia melainkan juga ke seluruh dunia.

Berdasarkan data terbaru dari World Tourism Organization (UNWTO), sekitar 150 juta perjalanan ke luar negeri dari China membelanjakan tak kurang dari 277 miliar dollar AS, juga terbesar di dunia. Pelancong dari AS yang di urutan kedua, pengeluarannya jauh di bawah China, yaitu 144 miliar dollar AS.

Sumber: Badan Pusat Statistik.

Padahal, hanya turis asing dan tenaga kerja Indonesia di luar negeri yang paling diandalkan sebagai penyumbang devisa dari sektor jasa. Pukulan dari turis asing ini sudah barang tentu menambah tekanan terhadap defisit akun lancar (current account).

Pada tahun 2018, turis asing menyumbang 16,4 miliar dollar AS. Dikurangi dengan belanja turis Indonesia ke luar negeri sebesar 10,3 miliar dollar AS, berarti masih ada surplus sebanyak 6,1 miliar dollar AS dari sektor turisme. Pencapaian ini sedikit lebih rendah ketimbang sumbangan neto TKI yang sebesar 6,9 miliar dollar AS.

Sungguh semakin berat bagi Indonesia untuk berselancar di tengah terpaan eksternal dan seonggok masalah domestik yang muncul secara bersamaan. Dibutuhkan langkah-langkah terukur untuk menghadapinya, bukan dengan akrobat dan grasah-grusuh. Lemak tebal yang menyelubungi sekujur tubuh perekonomian harus segera dibakar agar lebih gesit. Pemburu rente harus dienyahkan.

Rongrongan Baru: Defisit Migas


Print
reforminer.com

Cadangan devisa akhir Oktober 2017 turun hampir 3 miliar dollar AS dibandingkan akhir September 2017. Penurunan cadangan devisa itu antara lain karena Bank Indonesia mengamankan nilai tukar rupiah agar tidak merosot lebih dalam pasca Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan dua bulan berturut-turut pada Agustus dan September, sehingga depresiasi rupiah hanya 1,7 persen pada bulan Oktober 2017.

Tekanan terjadi pula karena berbulan-bulan investor asing di pasar saham melakukan penjualan bersih. Lalu lintas modal menikmati peningkatan surplus tertolong oleh peningkatan penanaman modal asing langsung (foreign direct investment).

Tekanan baru muncul dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Sudah memasuki bulan kelima harga minyak mentah terus merangkak naik. Harga rerata harian minyak keranjang OPEC (OPEC basket price) pada November hingga akhir minggu lalu sudah bertengger di atas 60 dollar AS per barrel. Dibandingkan harga rerata harian bulan Juni sudah naik 34 persen.

price

Sementara itu pemerintah telah mengumumkan tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi. Akibatnya permintaan BBM di dalam negeri terus naik tanpa adanya koreksi harga. Karena produksi dalam negeri bergeming, maka impor minyak mentah dan BBM meningkat.

Akibatnya, defisit minyak, terutama BBM, melonjak. Selama Januari-Oktober 2017 impor defisit minyak (minyak mentah dan BBM) mencapai 11,8 miliar dollar AS, naik 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan sudah lebih besar dibandingkan keseluruhan tahun 2016 sebesar 11 miliar dollar AS. Sampai akhir tahun ini defisit minyak berpotensi mendekati atau bahkan melebihi defisit tahun 2015 yang mencapai 14,4 miliar dollar AS.

Defisit minyak Januari-Oktober 2017 sudah melampaui penerimaan devisa dari turis asing Januari-September 2017 sebesar 9,4 miliar dollar AS dan tahun 2016 sebesar 11,2 miliar dollar AS. Kementerian Pariwisata mengklaim tahun ini sektor pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar.

migas

Sedemikian besarnya defisit minyak, sehingga surplus gas tidak bisa menutupi defisit minyak, sekedar separuhnya sekalipun. Secara keseluruhan, perdagangan migas defisit 6,7 miliar dollar AS selama Januari-Oktober 2017.

Indonesia Economic and Tourism Outlook 2018


bali

Catatan: Hari ini (17/11), komunitas pariwisata Bali menggelar acara ITO 2018 Hospitality Talk dengan tema “Indonesia Outlook 2018: Leveraging Creativity through Digital Emotional Media Revolution in Tourism Industry,” di Ayodya Resort, Nusa Dua.

Bahan yang saya siapkan untuk acara pagi ini merupakan pemutakhiran data (terutama data neraca pembayaran triwulan III yang baru dikeluarkan oleh Bank Indonesia) serta beberapa tambahan dari bahan presentasi acara serupa di Jakarta pada awal November.

Bagi yang berminat, silakan tengok presentasi dalam bentuk pdf:

20171117-ITO_Hospitality_Talk-tourism_outlook

Tantangan Meningkatkan Penerimaan Devisa Netto Sektor Pariwisata


Mount Bromo - 10 of The Best Indonesia Tourist Attractions
captureindonesia.com

Pada tulisan sebelumnya (14/11), ditunjukkan penerimaan devisa dari tulis asing yang datang ke Indonesia menunjukkan peningkatakan dari tahun ke tahun tanpa henti, tidak seperti pendapatan ekspor komoditas yang berfluktuasi seperti roller coaster. Data yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia ini lebih rendah ketimbang yang disampaikan oleh Kementerian Pariwisata.

Di sisi lain, pengeluaran devisa yang dibelanjakan oleh pelancong Indonesia di luar negeri juga menunjukkan kecenderungan meningkat sejak 2013 dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya, walaupun tidak secepat devisa yang masuk.

t3

Jika kita menelaah lebih dalam, tampak ada kecenderungan pengeluaran turis asing per kapita mengalami penurunan. Sebaliknya, pengeluaran turis Indonesia di luar negeri menunjukkan peningkatan.

capita

Ada baiknya promosi untuk turis domestik lebih digencarkan mengingat sedemikian banyak obyek wisata di dalam negeri yang bisa dikunjungi yang tak kalah menarik ketimbang obyek wisata di luar negeri.

Sedikit Koreksi untuk Menteri Pariwisata


t-0

Tak diragukan lagi, pariwisata Indonesia tumbuh sangat pesat dalam tiga tahun terakhir. Wisatawan mancanegara telah menembus 10 juta pada 2015. Setahun berikutnya tumbuh dua digit (12,6 persen) dan Januari-September tahun ini kian mengakselerasi dengan pertumbuhan tahunan (year-on-year) sebesar 25 persen. Tiga bulan tersisa tahun ini diperkirakan turis asing akan bertambah sekitar 3,5 juta sampai 4 juta.

t-1

Kinerja sektor turisme sudah menonjol  dan memperoleh pengakuan dari dalam negeri maupun luar negeri. Kerja keras pemerintah pusat dan daerah telah membuahan hasil nyata, tanpa harus dibumbui dengan penggunaan indikator yang salah kaprah.

Salah satu contoh yang menunjukkan salah kaprah adalah dengan mengklaim sektor pariwisata bakal menjadi penyumbang devisa terbesar mulai tahun ini. Saya mendengarkan langsung presentasi Menteri Pariwisata pada awal bulan ini. Salah satu peraga yang ditampilkan adalah sumbangan pariwisata berada pada posisi ketiga selama 2013-2015 dan naik ke peringkat kedua pada 2016.

t-2

Pertama, membandingkan sumbangan sektor pariwisata dalam penerimaan devisa dengan ekspor komoditas atau barang tidaklah apple to apple. Di dalam sektor pariwisata terkandung berbagai produk seperti hotel, restoran, transportasi udara, dan mungkin banyak lagi. Sedangkan komoditas ekspor yang diperbandingkan bersifat tunggal. Ada kemungkinan  tumpang tindih di situ.

Sektor lain bisa pula mengklaim seperti sektor pariwisata. Misalnya sektor industri kreatif.

Jika kecenderungan seperti itu semakin menjamur, penerimaan devisa Indonesia menggelembung, lebih besar atau jauh lebih besar dari yang tercatat resmi di neraca pembayaran Indonesia yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.

Data yang disampaikan oleh Menteri Pariwisata saja sudah berbeda dengan data Bank Indonesia.

Menurut data Kementerian Pariwisata, pada tahun 2016 sektor pariwisata menyumbang devisa sebanyak 12,2 miliar dollar AS. Sementara itu, data Bank Indonesia untuk tahun yang sama hanya 11,2 miliar dollar AS.

t3

Kedua, yang dihitung oleh Kementerian Pariwisata hanya devisa yang masuk. Padahal kian banyak orang Indonesia yang melancong ke luar negeri. Menurut survei turisme global yang dilakukan Visa, turis Indonesia berniat melancong lebih jauh, lebih lama, dan lebih banyak pengeluaran per kunjungan. jadi ada baiknya indokator sumbangan devisa pariwisata menggunakan konsep neto. Jika demikian, sumbangan netto sektor turisme dalam penerimaan devisa pada 2016 hanya 3,7 miliar dollar AS, jauh lebih rendah ketimbang batubara dan minyak sawit yang praktis tidak ada impornya.

Memang sumbangan netto sektor pariwisata masih positif. Berbeda dengan ekspor migas yang menduduki posisi teratas hingga 2015, tetapi nilai impornya lebih banyak, sehingga sumbangan netto migas sudah negatif.

Ketiga, mungkin karena khilaf, sumbangan sektor listrik (electricity) pada peraga yang disampaikan menteri Pariwisata menduduki posisi keenam selama 2014-2016. Rasanya kita belum pernah mengekspor listrik. Dari penelusuran terhadap data ekspor, sangat boleh jadi itu bukan listrik, melainkan ekspor kendaraan bermotor dan komponennya (kode HS 87).

Semoga presentasi Pak Menteri di kemdian hari akan jauh lebih akurat.

Selamat bekerja dan sukses selalu untuk dunia pariwisata Indonesia.

Target Devisa Wisata Dikhawatirkan Tidak Tercapai


Kompas, 2 November 2017, hal. 19

JAKARTA, KOMPAS — Target pemerintah untuk bisa mengantongi devisa Rp 280 triliun dari sektor pariwisata dikhawatirkan tidak tercapai. Hal ini dikarenakan banyak warga Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri, baik untuk liburan, ibadah, maupun keperluan lainnya.

“Jika banyak devisa yang keluar, tentu jumlah bersih devisa yang terkumpul tidak terlalu besar,” kata pengamat ekonomi Faisal Basri dalam Indonesia Tourism Outlook 2018 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata di Jakarta, Rabu (1/11).

Faisal mengatakan, upaya yang dilakukan para penggiat pariwisata tidak sejalan dengan keinginan pemerintah. Misalnya, saat ini banyak pameran perjalanan diselenggarakan. Pameran perjalanan itu memungkinkan orang mendapatkan tiket ke luar negeri dengan mudah. “Bahkan, bahasa promosi yang dipakai adalah bahasa yang mendorong orang untuk ke luar negeri. Misalnya, tiket ke Thailand lebih murah daripada ke Bali. Tiket ke Jepang lebih murah daripada ke Papua,” kata Faisal.

Dengan banyaknya orang ke luar negeri, maka sisa devisa yang terkumpul, menurut Faisal, hanya sekitar 6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 81 triliun (dengan kurs Rp 13.500. “Sementara menurut perhitungan saya, jumlah devisa yang terkumpul pada tahun 2019 hanya sekitar Rp 200 triliun, bukan Rp 280 triliun. Hal ini karena kita tidak bisa mengendalikan angka kunjungan turis asing. Ada banyak faktor yang memengaruhinya,” kata Faisal.

Faisal mengatakan, dengan dijadikannya pariwisata sebagai sektor unggulan untuk pertumbuhan, ada banyak sektor lain yang ikut terdongkrak. Misalnya, sektor transportasi, hotel, restoran, dan hospitality (jasa kenyamanan). Sektor transportasi seperti pesawat terbang dan kereta api juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

Dia mengusulkan agar pemerintah memperhatikan generasi milenial yang menempatkan berlibur sebagai cita-cita utama. “Ciptakan destinasi wisata baru yang menarik bagi mereka dan permudah akses ke sana. Jumlah mereka cukup besar, 78 juta orang,” ujar Faisal.

Senior Vice President of Government and Industry Affairs World Travel and Tourism Council Helen Marano mengatakan, sektor pariwisata memberikan kontribusi yang sangat baik terhadap pertumbuhan dunia. Pariwisata juga telah menciptakan lapangan kerja hingga 292 juta pekerjaan di dunia. “Pariwisata tidak akan mati. Bahkan, isu terorisme tidak bisa menghentikan orang untuk berlibur. Saat ini ada 1,2 miliar turis yang berlibur di seluruh dunia,” kata Marano.

Dia mengatakan, yang menjadi tantangan dalam pengembangan pariwisata adalah perubahan iklim, berkurangnya destinasi, dan penggerusan terhadap pariwisata.

Head of Destination Marketing Asia Pacific TripAdvisor Sarah Mathew mengatakan, Indonesia memiliki potensi pariwisata yang sangat besar. Sementara Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, tantangan terbesar adalah mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan. “Nilai kita untuk sektor ini masih rendah,” kata Arief. (ARN)

Faisal Basri: Pemerintah Perlu Genjot Belanja Turis Asing


turis-asing
Turis Asing – Setkab.go.id

 finansial.bisnis.com, 1 November 2017, 16:57 WIB
Oleh : Amanda Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah diharapkan mulai beranjak untuk mengejar peningkatan kualitas dari sisi konsumsi wisatawan mancanegara (wisman) dari kuantitas yang selama ini terus digenjot.

Pasalnya, data Bank Indonesia mencatat konsumsi per kapita terus menunjukkan penurunan sejak 2016 menjadi US$1.035 dari US$1.099 pada 2015. Sebaliknya, angka sementara pada 2017 senilai US$1.011.

“Selama dua tahun terakhir, pengeluaran wisman ketika berlibur di Indonesia terus turun. Secara kuantitas memang ada peningkatan kunjungan, tetapi secara kualitas justru pengeluaran mereka turun,” kata Ekonomi Faisal Basri di Jakarta, Rabu (1/11/2017).

Faisal Basri menilai penurunan pengeluaran wisman tersebut bersumber dari tingginya kunjungan wisman China selama dua tahun terakhir. Posisi China mulai merajai portofolio pariwisata Tanah Air sejak 2016, yang sebelumnya dipegang oleh Singapura.

Faisal merinci pengeluaran per kapita wisman China hanya US$900-US$1.000. Angka itu masih jauh di bawah wisman asal Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia yang rata-rata berada di angka US$1.000-US$2.000.

Tak hanya itu, periode menginap wisatawan asal China relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan wisman pada umumnya. Untuk itu dia menyarankan pemerintah melakukan diversifikasi pangsa pasar wisman dan tidak lagi tergantung pada pasar China.

“Harusnya strategi mulai diubah dengan membidik pasar Eropa, Australia, dan Jepang karena mereka terkenal sangat loyal ketika berlibur ke Indonesia. Dari segi deregulasi, saya rasa sudah cukup memfasilitasi turis untuk masuk ke Indonesia,” tukasnya.

Padahal, setahun terakhir pemerintah cukup gencar membidik turis China untuk berkunjung ke Indonesia. Bahkan, penerbangan charter ke Indonesia mulai masuk hingga ke kota tier dua di China misalnya Hangzhou, Wuhan, Fuzhao, dan Guiyang.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisman sepanjang Januari-September 2017 mencapai 10,46 juta atau naik 25,05% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Untuk tahun ini, saya optimis jumlah kunjungan wisman hanya mencapai 13 juta dari target tahun ini yakni 15 juta. Tapi untuk 2018 dan 2019, Indonesia akan diuntungkan dari perbaikan ekonomi dunia sehingga target sebanyak 20 juta wisman bukanlah sebuah mimpi lagi,” katanya.

Selain menggenjot wisman, Faisal juga menyebutkan pemerintah seharusnya tidak mengabaikan potensi wisatawan nusantara (wisnus) dalam mendongkrak kontribusi pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.

Sepanjang Januari-Agustus 2017, Kementerian Pariwisata mencatat jumlah kunjungan wisnus sebanyak 199,8 juta atau sudah mencapai 75% dari target yang ditetapkan tahun ini yakni 265 juta wisnus.

“Dari data yang saya kompilasi, sudah ada 78 juta masyarakat Indonesia yang siap untuk berlibur. Angka itu adalah 30% dari total populasi Indonesia yang masuk ke kelas menengah. Pemerintah harus cepat mengambil kesempatan ini karena mereka juga menjadi pasar potensial bagi pasar outbound,” tuturnya.

Meski jumlah kunjungan wisman ke Indonesia secara nilai masih cukup besar, tapi dia mengungkapkan pertumbuhan masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri juga signifikan.

Bahkan, Bank Indonesia sempat merilis dalam laporannya bahwa jumlah dan belanja turis Indonesia ke luar negeri diproyeksikan meningkat sehingga penerimaan netto diperkirakan menembus US$56 miliar pada 2019.

 

Editor : Fajar Sidik
Sumber: http://bit.ly/2gWJeRe

Faisal Basri: Pariwisata sebagai Jalan Keluar Ekonomi Bangsa


viva.co.id, Kamis, 2 November 2017 | 11:16 WIB

Ririn Aprilia

VIVA – Setelah ditetapkan sebagai salah satu leading sector oleh Presiden Joko Widodo sektor pariwisata kian pesat. Pada tahun 2018 dan 2019 pertumbuhan dan perkembangan dunia pariwisata diprediksi semakin meroket bertambah baik dan menjadi kebangkitan pariwisata Indonesia.

Hal tersebut disampaikan pengamat ekonomi Faisal Basri dalam acara Indonesia Tourism Outlook 2018 yang diinisiasi Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) di Grand ballroom DoubleTree by Hilton Jakarta, Rabu 1 November 2017.

“Tidak hanya dari negara Amerika atau Eropa tetapi juga dari hampir semua wilayah dunia. Baik di negara maju atau negara berkembang. Termasuk Indonesia. Kondisi ini sangat baik, hampir sudah tidak terjadi di dunia selama 10 tahun terakhir,” ujar Faisal Basri saat menyampaikan paparannya di Indonesia Tourism Outlook, Rabu 1 November 2017.

Dirinya juga menyebut, pariwisata adalah jalan keluar atas ekonomi bangsa. Di saat banyak komoditas melemah, termasuk oil and gas, coal atau batubara, pariwisata makin melejit. “Jalan keluarnya ada di pariwisata dan kelautan yang potensinya semakin terbuka lebar,” katanya.

Lantas apa upayanya untuk bisa survive? Pemilik nama lengkap Faisal Batubara itu menjawab, harus ada upaya perubahan mindset, jangan lagi mengurus dan fokus hal-hal kecil. Misalnya perdebatan soal bebas visa. Karena dibanding kerugian akibat biaya visa yang hilang, keuntungan akan didapat dari mudahnya proses bagi calon wisatawan berkunjung.

“Yang harus dilakukan ialah melakukannya dengan tepat dan pengawasan baik. Tourism punya peran untuk menyebar pertumbuhan yang lebih merata di Indonesia yang kondisi geografisnya khas dan sangat luas. Semua bisa berubah total dengan wisata,” ujarnya.

Kata Faisal, tantangan pemerintah yang utama bagaimana mengajak warga negara Indonesia sendiri bisa berkunjung dan berwisata ke wilayah Indonesia sendiri. Buat orang Indonesia berwisata nyaman di negaranya sendiri. Karena sekitar 78 Juta WNI siap untuk berwisata. Kata Faisal, jangan kalah perkembangan dengan negara-negara lain yang berlomba meningkatkan layanan untuk wisatawan Indonesia.

”Contohnya saja di Jepang saat ini sudah banyak bangun Mushala dan fasilitas yang ramah Indonesia lainnya. Kita harus membenahi itu dan kesadaran lingkungan yang semakin dirasakan dan dijaga oleh masyarakat sekitar lokasi wisata harus terus dikampanyekan, sehingga pariwisata kita terus menjadi lebih baik,” tambahnya.

Menteri Pariwisata menjadi Keynote Speaker dalam acara Indonesia Tourism Outlook: Prospek dan Persoalan Pariwisata di Indonesia yang diselenggarakan oleh Forwapar (Forum Wartawan Pariwisata Indonesia) di Double Tree by Hilton, Jakarta (1 November 2017).

Nara sumber lain, Faisal Basri, Senior Vice President WTTC Helen Marano, dan Sarah Matthew dari TripAdvisor.. Menpar menjabarkan Kebijakan Pengembangan Pariwisata Indonesia yang mencakup Marketing Performance, Digital Tourism, and Investment Opportunity.

Menpar Arief Yahya memaparkan masalah dan solusi dalam pengembangan Pariwisata Indonesia. Pertama promosi yaitu mengintensifkan penggunaan digital tourism. “Kita harus berubah, karena saat ini terjadi 3 revolusi, 3T (Telecommunication, Transportation, Tourism). digital tourism revolution is a natural revolution, we must adapt or die!” katanya.

Kedua, lanjut Menpar Arief, destinasi, environmental sustainability, ranking Indonesia masih buruk. Dalam pertemuan dengan Helen Marano, Senior Vice President WTTC, Menpar berharap untuk mendapatkan masukan benchmarking dari negara lain melalui WTTC dalam mengatasi masalah-masalah environmental sustainability.

Ketiga, ungkap Menpar Arief, kelembagaan, de-regulasi. Di Indonesia terdapat 42.000 peraturan. Maka dari, deregulasi sangat penting. “Yang sudah dilakukan: ease of entering Indonesia; visa free, pencabutan Clearance Approval for Indonesia Territory (CAIT) Policy, pencabutan asas cabotage,” jelasnya.

Lalu, lanjut Arief Yahya, harus dibuat Ease of Doing Business (FDI) yaitu 10 Bali Baru, KEK. “Harus diakui, kalau kita ingin hasil yang luar biasa, harus mengguanakan cara yang tidak biasa!” ujarnya.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya juga memaparkan perkembangan pariwisata Indonesia terkini dimana jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sampai Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 1,35 juta wisman.

Dengan capaian ini optimis target 15 juta wisman akhir tahun 2017 akan terlampaui. “Pertumbuhan pariwisata Indonesia sangat tinggi mencapai 25,6 persen dari Januari hingga Agustus 2017. Indonesia masuk daftar top 20 in the world,” kata Arief Yahya.(webtorial)

Sumber: http://www.viva.co.id/berita/nasional/973505-faisal-basri-pariwisata-sebagai-jalan-keluar-ekonomi-bangsa