Bijak Menghadapi Gejolak Ekonomi Dunia


Hari ini (24/8) nilai tukar rupiah nyaris (Rp 2 rupiah lagi) menembus Rp 14.000 per dollar AS. Indeks harga saham sudah turun 20,34 persen (year-to-date) dan 19,91 persen (year-on-year) dan hari ini ditutup di aras 4.163,729, turun 3,97 persen.

Kemerosotan nilai tukar dan pasar saham dialami semua emerging markets tanpa kecuali. Hari ini, indeks saham Shanghai melorot 8,49 persen. Indeks Hang Seng turun 5,17 persen.

Beberapa menit lalu, harga minyak mentah WTI sudah menjauh dari 40 dollar AS per barrel, persisnya 38,97 dollar per barrel; sedangkan harga minyak mentah Brent merosot ke aras 43,88 dollar AS per barrel.

Semua harga komoditi di laman http://online.wsj.com/mdc/public/page/mdc_commodities.html berwarna merah, tanpa kecuali, termasuk harga emas.

Di tengah gejolak perekonomian dunia yang dipicu oleh ketidakmampuan pemerintah China mengendalikan pasar saham (dan boleh jadi juga dalam meredam kemerosotan perekonomian) serta ketidakpastian langkah The Fed, ada baiknya pemerintah bekerja keras untuk melindungi sebagian besar rakyatnya.

Langkah yang diperlukan untuk itu adalah menjaga agar inflasi terkendali di level rendah, terutama harga pangan dan kebutuhan pokok lainnya. Jika Indonesia bisa memanfaatkan momentum penurunan harga berbagai komoditas di pasar dunia, rasanya inflasi bakal rendah. Memang ada efek negatif terhadap inflasi dari pelemahan rupiah. Namun, penurunan harga-harga komoditas di pasar dunia cukup banyak yang lebih tajam dari penurunan nilai tukar rupiah, sehingga efek nettonya positif terhadap inflasi.

Tidak banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk menolong rakyat. APBN sedang dalam tekanan. Penerimaan negara dari pajak dan dari minyak sangat tertekan. Belanja harus dipangkas. Pemerintah berkonsentrasi saja mengurus dirinya sendiri. Yang penting jangan ganggu konsumsi rumah tangga dan investasi swasta.

Ada tiga langkah yang dapat dilakukan pemerintah untuk mencapai tujuan itu. Pertama, turunkan harga BBM bersubsidi dan cermati penetapan harga BBM tak bersubsidi agar sesuai dengan kepmen ESDM (margin maksimum 10 persen). Inilah bentuk stimulus nyata bagi rakyat banyak.

Kedua, jangan main-main dengan kuota impor. Kuota impor daging, misalnya, hanya menguntungkan para pengusaha penggemukan sapi.

Ketiga, permudah investasi. Ada perusahaan minyak asing besar (major oil company) yang hendak investasi 12 miliar dollar AS tetapi sulitnya setengah mati. Ada perusahaan asing yang hendak menjual gas ke PLN sudah lima bulan dicueki oleh dirut PLN.

Kalau ketiga hal itu terealisasikan, rakyat kebanyakan akan amat terbantu.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Ekonomi Internasional, Makroekonomi, Migas, Public Policy. Bookmark the permalink.

3 Responses to Bijak Menghadapi Gejolak Ekonomi Dunia

  1. Sepakat pak dg poin menurunkan harga bbm bersubsidi

  2. fajar says:

    Ketika BPD dijadikan “kasir” oleh Daerah apakah ini menjadi kesamaan saat bank swasta dijadikan kasir oleh pemiliknya saat itu ?

  3. Pingback: Obrolan Pergerakan : Sesi II | abirekso

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s