Asa untuk Menteri Kesehatan yang Baru


Saya tidak mengenal dekat sosok Budi Gunadi Sadikin (BGS). Hanya sekali bertemu pada acara diskusi panel Kompas beberapa tahun lalu ketika ia masih menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri. Kesan pertama saya adalah pemaparannya sistematis, fokus, dan berbasis riset dan data.

Nyaris bertemu untuk kedua kalinya sewaktu BGS menjabat Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum. Ia mengutus Rendi Wilutar menemui saya untuk menjelaskan proses pembelian saham PT Freeport oleh pemerintah lewat Inalum. Saya menjelaskan kepada Rendi Witular penilaian saya terhadap aksi pembelian saham itu. Intinya saya mengritik langkah pemerintah itu. Bung Rendi menyampaikan BGS ingin berdiskusi lebih lanjut. Tiba pada hari yang disepakati, Bung Rendi menyampaikan permohonan maaf karena BGS berhalangan.

Pada 18 Desember lalu secara tak terduga saya bertemu BGS dalam acara Diskusi Pakar bertajuk “Health Outlook 2021” yang diselenggarakan secara virtual oleh CISDI (Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives). Mbak Diah sebagai pendiri CISDI yang mengundang saya.

Sebagai ketua Satgas Pemulihan Ekonomi Nasional, BGS sadar betul bahwa apa pun yang dilakukan Satgas PEN akhirnya berpulang pada kemampuan kita mengendalikan wabah COVID-19. Kesadaran tinggi betapa penanganan wabah menjadi prasyarat mutlak pemulihan ekonomi tercermin dari desakan BSG kepada Kementerian Kesehatan untuk mengajukan segala kebutuhan demi mempercepat pengendalian wabah. BGS berjanji akan memperjuangkan ketersediaan anggarannya.

BGS bercerita telah melakukan langkah-langkah terinci dengan segenap pengelola rumah sakit dan klinik untuk memastikan vaksinasi berjalan lancar. Menurut hitungannya, jika seluruh sumber daya dimobilisasikan, vaksinasi bisa tuntas dalam waktu enam bulan. BGS terlibat juga dalam diplomasi pengadaan vaksin dari berbagai sumber.

Tugas yang amat berat sekarang disandang oleh BGS. Ia tak bisa bekerja sendirian. Ia harus melibatkan dan merangkul para pakar untuk memastikan setiap langkahnya berdasarkan science. Sekarang BGS menjadi panglima perang melawan COVID-19. Jangan lagi para menteri yang lain menggerecoki, apalagi menyusupkan kepentingan pribadi atau kelompoknya. Komando harus efektif, menjamin satu suara hingga ke medan laga.

BGS niscaya akan beroleh kepercayaan dari masyarakat jika setiap keputusannya kredibel berdasarkan science dan data yang akurat. Dengan begitu setiap keputusan lebih terukur.

Langkah segera yang harus dilakukan adalah pembenahan data. Datalah yang membimbing pengambilan keputusan yang benar. Jangan ada yang ditutup-tutupi supaya keputusan yang diambil efektif menyelesaikan masalah. Jangan berandai-andai atau berasumsi subyektif.

Pergencar testing dan penelusuran kontak agar kecepatan penyebaran virus serendah mungkin. Siapkan segera segala kebutuhan yang harus dipenuhi agar kapasitas pelayanan kesehatan tidak kolaps akibat penggalakan testing dan penelusuran kontak. Kita berpacu dengan waktu. Kita tak memiliki kemewahan untuk lengah sekejap pun.

Tak perlu menunggu segalanya sampai vaksinasi tuntas 100 persen. Jika langkah awal sudah benar dan kemajuan terlihat nyata dari waktu ke waktu, keyakinan masyarakat dan dunia usaha segera merebak. Dan pemulihan ekonomi bisa lebih cepat.

Saatnya Ada Panglima Perang Purnawaktu Taklukkan Wabah COVID-19


Menghadapi wabah COVID-19 bisa dianalogikan dengan perang. Dalam peperangan, niscaya ada panglima perang yang mendedikasikan segenap jiwa dan raganya melawan musuh tanpa dibebani pekerjaan lain. Dalam perang butuh mobilisasi prajurit dan logistik a la perang, bukan dengan cara-cara biasa dalam keadaan normal.

Untuk kebutuhan perang, segala sumber daya yang ada didedikasikan untuk perang. Kapasitas pabrik bisa didayagunakan untuk menghasilkan barang-barang untuk kebutuhan perang. Kapal-kapal niaga bisa dimodifikasi untuk mengangkut prajurit, persenjataan, dan kebutuhan penunjang lainnya.

Jalur komando harus jelas, siapa bertanggung jawab untuk apa. Informasi harus jelas dan akurat sampai ke komandan pertempuran dan segenap prajuritnya.

Untuk itu semua, aturan yang ada tidak cukup. Harus ada payung hukum yang jelas dalam menghadapi darurat perang. Namanya juga darurat. Pengadaan barang dan jasa tak bisa menunggu lelang. Alokasi anggaran tak bisa mengikuti alur pembahasan baku yang memerlukan berbagai tahapan. Jadi butuh undang-undang darurat perang. Karena mendesak, buat segera Perppu (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang)

***

Perkembangan COVID-19 di Indonesia

COVID-19 sudah menjamah semua provinsi dan 494 (96,1 persen) kabupaten/kota. Jadi, COVID-19 telah merambak sampai ke pelosok, tak hanya di kawasan perkotaan, melainkan telah merasuk ke kawasan pedesaan.

Kasus terkonfirmasi COVID-19 harian sudah menembus 4.000. Pertambahan kasus semakin cepat. Sejak pengumuman kasus pertama 2 Maret 2020 hingga mencapai 50.000 kasus butuh waktu 115 hari. Tambahan 50.000 berikutnya hanya 32 hari, lalu turun lagi menjadi 26 hari untuk mencapai 150.000 kasus, 17 hari untuk mencapai 200.000 kasus, dan 14 hari untuk menembus 250.000 kasus.

Pasien meninggal dunia per hari selalu di atas 100 dalam delapan hari terakhir dan kematian kumulatif hampir mencapai 10.000. Jumlah kematian itu hanya yang meninggal dunia setelah dites PCR dengan hasil positif. Yang meninggal dunia belum dites usap (PCR) tetapi memiliki gejala yang sama dengan pengidap COVID-19 dan dimakamkan dengan protokol COVID-19 tidak dicatat sebagai kematian karena COVID-19. Lebih ironis lagi, untuk menurunkan angka kematian, ada rencana dari Kemenkes untuk mempersempit definisi kematian menjadi yang semata-mata (murni) karena COVID-19 dan mencoret akibat penyakit penyerta.

Dengan definisi kematian yang tidak menggunakan standar WHO saja, angka kematian (case fatality rate/CFR) Indonesia tertinggi di ASEAN dan tertinggi kedua di Asia, juga lebih tinggi dari rerata dunia.

Karena sosok COVID-19 tak kasat mata, maka untuk mengenalinya hanya ada satu cara, yaitu dengan testing. Bagaimana hendak menjinakkan wabaah kalau kita tak tahu sosok musuh kita.

Sudah hampir tujuh bulan coronavirus leluasa menyebar karena jumlah testing di Indonesia sangat rendah, baru sekitar 10.000 per satu juta penduduk.

Nyaris tak ada alasan mengapa sedemikian buruk kinerja testing Indonesia. Anggaran untuk penanganan COVID-19 cukup besar. Kesulitan mendapatkan peralatan dan reagen pun tak bisa diterima akal sehat. Negara-negara yang lebih miskin dari Indonesia seperti Bangladesh, Pakistan, dan Filipina bisa melakukan tes lebih banyak. Di antara negara-negara dengan kasus di atas 10.000, jumlah tes di Indonesia hanya lebih tinggi ketimbang 10 negara berpendapatan rendah dan berpendapatan menengah-bawah di Afrika dan satu negara berpendapatan rendah di Asia (Afganistan). Status Indonesia yang baru naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah-atas tak tercermin dari jumlah tes.

Sudah jumlah tes sedikit, tidak efektif pula. Jumlah tes yang sudah lumayan naik walaupun secara nasional lebih rendah ketimbang standar WHO, tidak disertai dengan strategi penelusuran/pelacakan kontak. Nisbah pelacakan kontak secara nasional sangat rendah, sekitar 3. Bahkan di DKI Jakarta—yang merupakan episentrum wabah COVID-19—berdasarkan data dari kawalcovid19.id, rasio lacak isolasi (RLI) justru turun dari sekitar 4 pada bulan Juni menjadi kurang dari 2 pada bulan September. Ini ibarat tawanan perang yang bebas berkeliaran sesuka hati, bahkan sampai ke jantung pertahanan kita sendiri. WHO menganjurkan pelacakan antara 10-30 per satu kasus terkonfirmasi (kawalcovid19.id).

Bagaimana mau menang perang kalau tanpa melalui berbagai medan pertempuran.

Perlu Organisasi Perang yang Mumpuni dan Panglima Perang

Perang menghadapi wabah COVID-19 lebih pelik. Musuhnya tak kelihatan kasat mata. Tak tahu jumlahnya berapa dan lokasinya dimana. Untuk menggempur musuh tak bisa pakai senjata pemusnah yang paling canggih sekalipun. Tak bisa pula menggunakan intelejen tentara untuk memata-matai posisi dan pergerakan musuh. Strategi menyerangnya pun berbeda. Tak bisa sekali menyerang meskipun dengan bom atom lantas musuh serta-merta takluk, dan perang usai.

Mengapa sejauh ini kita belum berhasil menjinakkan COVID-19 dan bahkan mengalami kemunduran? Salah satu faktor terpenting adalah tidak ada rencana darurat “perang”, organisasi yang dibentuk tidak efektif, dan tidak ada panglima perang.

Yang sudah ada adalah rencana darurat menghadapi dampak dari perang, bukannya perang itu sendiri. Lihat saja judul Perppu No.1/2020 yang telah ditetapkan menjadi Undang-undang No.2/2020:

Karena hukum daruratnya seperti itu, maka tak heran kalau struktur organisasinya pun tidak mencerminkan kedaruratan kesehatan. Posisi/jabatan berwarna merah tidak tertera di dalam Perpres No.82./2020, hanya diumumkan oleh Ketua Pelaksana.

Kita menghadapi perang semesta, namun tanpa perencanaan komprehensif dan menggigit. Presiden sebagai panglima tertinggi belum kunjung mengangkat panglima perang. Yang ada adalah sejumlah panglima pertempuran atau panglima ad hoc: ada Menko Perekonomian, Menteri BUMN, Menteri Kesehatan, Menko Maritim dan Investasi. Mereka semua tidak purnawaktu mengurus wabah. Pekerjaan mereka sudah sangat banyak. Masalah yang mereka hadapi sangat banyak dan rumit.

Idealnya ada panglima perang purnawaktu yang diberikan otoritas penuh oleh panglima tertinggi untuk menundukkan musuh. Panglima perang dibantu oleh staf-staf profesional yang juga purnawaktu sesuai dengan keahlian masing-masing, bukan jabatan ex-officio. Pejabat-pejabat itu bertugas sebagai pendukung operasi dengan memobilisasi sumber daya yang mereka miliki. Misalnya, panglima tertinggi butuh ratusan ribu tenaga untuk pelacakan kontak kepada polisi dan petugas sensus yang diurus oleh BPS. Kalau masih kurang, dibuka pesempatan untuk relawan dari mahasiswa dan oraganisasi kemasyarakatan. Dananya diminta ke Menteri Keuangan. Pengadaan logistik tak perlu tender. Mobilisasi pabrik untuk menghasilkan kebutuhan perang dimintakan ke Menteri Perindustrian. Harus ada undang-undang darurat yang menaunginya.

Panglima tertinggi memiliki pusat data sendiri dan menggunakan standar WHO. Tidak boleh lagi suka-suka Menteri Kesehatan menentukan definisi kematian. Seluruh data yang dikumpulkan Kemenkes wajib diserahkan ke pusat data di kantor komandan perang. Kantor komandolah yang mengolah data.

Pendek kata perencanaan dan operasi harus terpusat. Bukan seperti sekarang yang terlalu banyak satgas: satgas percepatan vaksin, satgas percepatan penurunan kasus di delapan daerah dengan kasus tertinggi, dan sejenis satgas lainnya. Orangnya itu-itu saja. Hanya ada satu juru bicara perang.

Sosok panglima perang harus yang memiliki pengalaman panjang dan berprestasi luar biasa di berbagai medan pertempuran.

Ada dua sosok ideal sebagai panglima perang: Pak JK dan Pak Kuntoro.

Mobilisasi Nasional untuk “Triple T” Kunci Perangi Coronavirus


Berita baik terus berlanjut hingga hari ini (19/4) sejak tulisan yang saya unduh tiga hari yang lalu. Sudah lima hari berturut-turut jumlah pengidap coronavirus COVID-19 yang dinyatakan sembuh lebih banyak ketimbang yang meninggal dunia.

Perkembangan itu menghasilkan jumlah kumulatif pasien yang sembuh sudah lebih banyak dari jumlah kumulatif yang wafat sejak 16 April. Hal ini tercermin dari bidang berwarna hijau kian lebar (luas) dibandingkan bidang berwarna merah.

Sayangnya jumlah kematian kembali melonjak, dari 15 orang kemarin menjadi 47 orang hari ini, menyebabkan tingkat kematian (case fatality rate) naik lagi dari 8,6 persen menjadi 8,9 persen, masih tetap tertinggi di Asia.

Peningkatan jumlah pasien sembuh yang lebih banyak ketimbang pasien yang meninggal dunia belum diimbangi oleh penurunan kasus positif baru, sehingga jumlah kasus aktif terus menunjukkan kecenderungan meningkat.

Kapan kasus aktif (active cases) mencapai puncaknya sangat bergantung pada jumlah tes. Per hari ini, baru 42.219 orang atau 154 orang per satu juta penduduk yang sudah dites. India jauh lebih tinggi, yaitu 270 orang per satu juta penduduk, Fulipina 547, dan Malaysia 3.114.

Kunci untuk menjinakkan wabah coronavirus adalah dengan testing, karena dengan cara inilah kita akan mengetahui jumlah potensi musuh yang mendekati sebenarnya, bukan dengan tebak-tebakan. Dari hasil testing itulah kita bisa melakukan tracing, baru kemudian treating (Triple T)

Tanpa melakukan “Triple T” dengan benar dan efektif, maka Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akan mubazir dan berkepanjangan, sehingga ongkos sosial dan ekonominya tak terperikan.

Sejatinya Perpu yang diterbitkan adalah untuk mobilisasi nasional mengatasi wabah coronavirus, bukan Perpu yang fokus pada penyelamatan ekonomi, penambahan utang, dan jaminan kebal hukum bagi para pembuat kebijakan. Perpu cuma menangani hilir, sedangkan hulunya keropos. Sehebat apa pun penanganan hilir akhirnya akan jebol juga kalau hulunya tidak ditangani secara tuntas dan efektif.

Tanpa “Triple T” yang benar dan efektif, kebijakan apa pun yang ditempuh akan bersifat tambal-sulam.

Berita Baik COVID-19, Semoga Berlanjut


Hari ini (16/4), terjadi lonjakan luar biasa jumlah pasien coronavirus COVID-19 yang dinyatakan sembuh, dari hanya 20 pasien kemarin menjadi 102 pasien atau kenaikan lebih lima kali lipat. Juga tergolong peningkatan sangat tajam jika dibandingkan dengan rerata harian selama seminggu sebelumnya yang berjumah 32 pasien.

Berita baik kedua, dalam dua hari berturut-turut jumlah pasien sembuh lebih banyak ketimbang jumlah kematian.

Karena tambahan kasus positif harian (daily cases) masih mengalami trend peningkatan, maka kasus aktif (active cases) pun masih terus meningkat dan tampaknya masih jauh untuk mencapai titik puncak. Namun, untuk pertama kalinya hari ini jumlah kumulatif pasien sembuh sudah lebih banyak dari jumlah kumulatif kematian. Ini berita baik ketiga.

Jika kita mampu menekan jumlah kasus positif baru, mempercepat penyembuhan, dan menekan kematian, maka puncak kurva bisa lebih cepat seperti yang telah dialami Iran. Jerman, Swiss, Korea Selatan, dan China telah melampauai fase ini lebih awal.

Walapun jumlah kasus di Indonesia relatif sedikit, di urutan ke-37, namun tingkat kematian (case fatality rate/CFR)) tergolong tinggi, yaitu 9,0 peren. Di antara negara dengan penduduk di atas 10 juta, CFR Indonesia berada di urutan ke-13 di dunia dan tertinggi di Asia.

Jumlah kasus yang relatif rendah dengan tingkat kematian yang relatif tinggi di Indonesia boleh jadi karena jumlah test sangat rendah. Baru dilakukan 30.000 test sejauh ini atau hanya 132 test per satu juta penduduk. Di Malaysia sudah 87,183 test atau 2.694 test per sejuta penduduk. Vietnam yang jumlah kasusnya sangat sedikit (268) dan belum ada kasus kematian telah melakukan 135.938 test atau 1.398 per satu juta penduduk.

Setiap celah yang bisa mengakibatkan lonjakan dan pemburukan patut kita tutup rapat-rapat. Yang terpenting adalah menekan jumlah pemudik. Terlalu mahal ongkos yang harus ditanggung jika terjadi gelombang mudik sekalipun hanya sepertiga dari biasanya.

Berharap Coronavirus di Indonesia Tak Seganas di AS dan Eropa


Sampai hari ini pk. 16:16, jumlah kumulatif pengidap coronavirus COVID-19 di dunia (210 negara dan teritori) mencapai 1.786.769 orang. Ada pun yang meninggal dunia telah menembus 100.000 orang, persisnya 109.275 orang. Dengan demikian, tingkat kematian karena coronavirus (case fatality rate/CFR) dunia adalah 6.1 persen.

CFR Indonesia tertinggi di Asia. Bidang berwarna biru adalah negara dengan penduduk di atas 10 juta dan yang berwarna kuning adalah negara dengan penduduk di bawah 10 juta.

Sudah barang tentu CFR Indonesia juga tertinggi di ASEAN. Ada tiga negara ASEAN yang belum mengalami kasus kematian, yaitu Vietnam, Cambodia, dan Laos. Dua tetangga dekat kita (Timor-Leste dan PNG) sejauh ini masing-masing hanya ada dua kasus terkonfirmasi dan tidak ada kasus kematian.

CountryPopulation (2018)Total casesTotal deathsCase fatality rate
Indonesia267,663,4354,2413738.795
Myanmar53,708,3953837.895
Philippines106,651,9224,6482976.390
Malaysia31,528,5854,683761.623
Thailand69,428,5242,551381.490
Brunei Darussalam428,96213610.735
Singapore5,638,6762,29980.348
Vietnam95,540,39525800.000
Cambodia16,249,79812200.000
Lao PDR7,061,5071800.000
Timor-Leste1267972200.000
Papua New Guinea8606316200.000

Jumlah kematian di Indonesia lebih banyak ketimbang jumlah pasien yang telah sembuh.

Akumulasi kasus yang terjangkit coronavirus di Indonesia hari ini (12/4) berjumlah 4.241 orang. Sebanyak 359 pasien dinyatakan telah sembuh dan 373 orang meninggal dunia. Sisanya adalah kasus aktif (active cases).

Banyak kajian dengan menggunakan modelling mengindikasikan kasus di Indonesia jauh lebih banyak daripada yang setiap hari dilaporkan oleh juru bicara Gugus Tugas COVID-19, setidaknya puluhan kali lipat.

Jika pengujian cepat dan pengujian lainnya lebih banyak, maka diperkirakan sampai beberapa minggu ke depan jumlah kasus akan terus meningkat. Ada yang memperkirakan puncak kasus terjadi bulan Mei sampai Juni.

Jika kita membandingkan dengan kasus global, tampak bahwa pola Indonesia masih menunjukkan bahwa puncak pada fase awal pun belum terjadi. Untuk kasus global, jumlah yang sudah sembuh jauh lebih besar ketimbang jumlah kematian. CFR global adalah 6,1 persen. Jadi CFR Indonesia di atas CFR dunia.

Iran adalah salah satu negara yang telah mengalami fase stabil dengan active cases yang sudah menurun. Jumlah kematian harian juga mengalami penurunan, walaupun kembali meningkat dalam dua hari terakhir. Yang menggembirikan jumlah yang sembuh terus menunjukkan peningkatan dan jauh di atas jumlah kematian.

Setelah kawasan Jobodetabek ditetapkan dengan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kita berharap puncak wabah coronavirus akan lebh cepat dengan kurva yang melandai.

Kuncinya adalah faktor jumlah pemudi, terutama dari Jabodetadek.

Ketika Gelombang Mudik Tak Terbendung


Jakarta adalah episentrum wabah coronavirus di Indonesia. Sekitar separuh kasus terkonfirmasi (confirmed cases) dan jumlah kematian disumbang oleh Jakarta. 

Per 8 April 2020NasionalDKI JakartaPersen DKI Jakarta
Kasus terkonfirmasi2.9561.47049,7
Meninggal24011447,5

Jika pusat episentrum diperluas dengan memasukkan kota/kabupaten di sekitar Jakarta atau Jabodetabek (Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Depok, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi), porsinya mencapai sekitar 70 persen.

Oleh karena itu, keberhasilan mengendalikan penyebaran coronavirus COVID-19 secara nasional sangat bergantung pada penanganan di Jabodetabek. Jangan sampai medan pertempuran meluas dan massif ke seluruh penjuru Tanah Air. Walaupun coronavirus telah menyebar ke 32 provinsi, kita masih punya waktu untuk meredamnya jika episentrum coronavirus bisa ditaklukkan.

Tak terbayangkan jika penyebaran kian merata ke selruh provinsi mengingat daya dukung kita sangat terbatas.

Jumlah dokter per 1.000 penduduk di Indonesia sangat sedikit dan jauh lebih rendah ketimbang negara-negara tetangga. Untuk jumlah perawat dan bidan, Indonesia hanya lebih baik dibandingkan Vietnam dan Iran.

Jumlah tempat tidur di rumah sakit (hospital beds) sangat terbatas.

Masalah semakin pelik karena persebaran dokter, perawat, dan tempat tidur di rumah sakit tidak merata. Lebih mengkhawatirkan lagi kondisi di daerah-daerah tujuan mudik utama. Jumlah dokter per 10.000 penduduk di semua tujuan mudik utama di bawah rerata nasional, dengan Jawa Barat yang paling parah.

Untuk jumlah perawat (tidak termasuk bidan) per 10.000 penduduk, Jawa Barat menduduki peringkat terbawah. Jawa Timur dan Lampung di bawah rerata nasional, sedangkan Jawa tengah sama dengan rerata nasional.

Ketersediaan tempat tidur rumah sakit sama mengkhawatirkannya. Semua tujuan mudik utama di bawah rerata nasional.

Jadi bisa dibayangkan betapa akan tunggang-langgang daerah-daerah tujuan utama mudik jika mengalami ledakan wabah coronavirus yag dibawa oleh pemudik dari pusat episentrum Jabodetabek.

Belum terlambat untuk menerapkan strategi nasional dengan kehadiran komandan perang di pusat medan laga. Sejauh ini, pemerintah daerah di Jabodetabek sudah amat sadar akan bahaya yang menghadang, tidak saja terhadap penduduk mereka, melainkan juga bagi kepentingan nasional.

Jabodetabek butuh panglima perang. Juga Indonesia, tentunya. Teramat berat rasanya kalau diserahkan kepada masing-masing kepala daerah dan kerja sama sesama mereka semata. Sekali lagi, ini bukan persoalan Jabodetabek, melainkan sudah menjadi persoalan nasional yang genting.

Sekalipun Jakarta sudah mulai kewalahan, bagaimanapun kesiapan Jakarta jauh lebih baik ketimbang daerah-daerah tujuan utama mudik. Semoga ini jadi pertimbangan bagi saudara-saudara kita yang hendak mudik.

Top-Notch Human Resources Yet Haven for Smokers?


February 14, 2020

Greetings to the audience of Cokro TV.

One of the seven development agendas outlined by President Jokowi for his second term in office is “Building High-Quality and Competitive Human Resources”. The issue of human resource development had been referred to earlier in Jokowi’s victory speech with his running mate Ma’ruf in Sentul on 14 July 2019. In his speech, the President put forward six development agendas under the “Vision for Indonesia” framework. One of which concerns the health of school-aged children. 

The commitment to develop resilient and superior human capital has in fact already been pledged during Jokowi’s first term in office. One of the ways to achieve this is by distancing the people – especially the golden generation now living in the time period of demographic bonus, more so for school-aged children – away from tobacco. 

In the previous RPJM (Medium-Term Development Plan), the target was to bring smoking prevalence among adolescents aged 10-18 down from 7.2 percent in 2013 to 5.4 percent in 2019. Instead of meeting the target or at least nearing it, smoking prevalence among children has risen to 8.8 percent in 2016 and climbing further to 9.1 percent

This is a yellow alert.

These children became first-time smokers as a result of the government’s neglect in protecting them against the tobacco industry’s ruthless market penetration strategy.

The tobacco industry spends one million dollars per hour on product advertising, and billions of dollars more on discounts to retailers. 

In Indonesia, cigarettes are easily accessible and relatively cheap. Want it even cheaper? Buy a pack with fewer cigarette sticks, some contain 16, and others even less with only 12 cigarettes. Modern retail kiosks and traditional shops sell cigarettes right next to or across schools. Cigarette advertisements are pervasive, outdoors, on television and social media–at every turn.

Nearly all leading white cigarette brands are subject to ridiculously low taxes, and therefore can be sold at a relatively cheaper price. The industry strategizes by reducing cigarette size, smaller diameter and shorter length, in a bid to keep prices even lower. An example is provided in this video.

To offset the tax rate levied on its products, tobacco companies introduce kretek cigarette packs with quantities that vary. For the same brand, a pack of 20 cigarettes is of course more expensive than a pack of 16 or 12. If you calculate, the price of each stick in a pack of 16 or 12 is in fact usually more expensive. This is the industry’s tactic to lure new smokers, as if cigarettes are still cheap. 

The government is giving the tobacco industry free rein to “hoodwink” consumers. Unlike many other countries where only 20-stick packs are being sold, in Indonesia the options are mindboggling. Worse still, consumers can buy them in singles.

The government knows all too well that poor families spend a lot on cigarettes, second only to rice. Household expenditure for filtered kretek cigarettes amounts to nearly the same as total spending on protein intake for bean curd, tempe, chicken and eggs. 

The government should also realize that 30 percent of BPJS Kesehatan (National Health Insurance Program) expenditure are used up for patients with smoking-related diseases, and therefore significantly contributes to BPJS Kesehatan’s deficit that the government to this day still has not covered.

And what’s more, the government is fully aware that smoking does more harm than good. For this reason, cigarette tax is imposed. Bear in mind that the purpose of tobacco taxation is not to be the mainstay of revenue for the government, but as an instrument for controlling tobacco production and consumption. The government also needs to draw the line when it comes to tobacco industry tactics in spreading its tentacles far and wide in society.

Let’s not regress yet again like when the government cancelled plans to raise tobacco tax and simplify the tax structure in the run-up to elections. Let’s treasure our golden generation.

The government’s sheer passivity has led to an alarming rising trend in total smoking prevalence in Indonesia. 

Specifically. among the male population, the smoking prevalence in Indonesia is the world’s second highest after Timor-Leste. Over 70 percent of the male population in Indonesia smokes, and that includes me. 

While the rest of the world have been successful in reducing the percentage of the population who smokes, in Indonesia the figures continue to soar, never once falling, not since 2000.  

If the government is indeed deeply concern about improving the quality of human capital and create top-notch human resources, prove it with concrete actions. Immediately ratify the FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). 

We should be ashamed for being among the seven countries left in the world who have not ratified the FCTC. The six other countries are Somalia, Malawi, Eritrea, Andorra, Liechtenstein, and Monaco. 180 countries worldwide have signed the FCTC.  They include the world’s largest tobacco producers like Indonesia, such as China, India, Brazil, and the United States.

No more sitting at the same table as the tobacco industry in formulating stringent policies and measures to rein in the tobacco industry. No more government ministers who say whatever they want for the sake of sectoral interests.

So please Mr. President, sign it in golden ink, protect our golden generation and create a Golden Indonesia. Let’s hope this comes true when we celebrate a century of independence.

Thank you. 

Menangi Pertempuran agar Peperangan Lebih Cepat Usai dan Sedikit Korban Jiwa


[Diperbarui 25 Maret pk.03:06]

Perang Dunia II mungkin akan lebih lama dan lebih banyak menelan korban seandaikan Amerika Serikat tidak menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang membuat Jepang takluk. Momen itu pula yang membuat Indonesia mempercepat proklamasi kemerdekaan. 

Indonesia bukan peserta Perang Dunia Kedua, namun dari sekitar 62,5 juta jiwa yang tewas di seluruh dunia akibat perang itu, Indonesia menduduki peringkat keempat dengan korban jiwa total sekitar 4 juta orang atau sekitar 6 persen dari total penduduk di tahun 1939. Indonesia hanya kalah dari Uni Soviet (hampir 24 juta), China (lebih dari 19 juta) dan Polandia (sekitar 5 juta jiwa). Sekitar 2,5 juta orang Indonesia itu tewas akibat kelaparan, dan sekitar satu juta orang tewas akibat kerja paksa. Generasi milenial di Indonesia tampaknya tidak bisa membayangkan kekejian bala tentara Jepang itu. Jika China dan Korea (Utara maupun Selatan) sampai kini terus mewaspadai kemungkinan bangkitnya militerisme Jepang, mereka memang punya alasan kuat untuk itu.

Jumlah korban tewas di Hindia Belanda menunjukkan betapa buruknya perekonomian di masa itu. Jutaan orang tidak hanya tidak bisa makan, melainkan juga tidak bisa berpakaian layak, sampai banyak yang harus mengenakan karung goni, ban dalam, kertas bekas dan bahan lainnya yang tentu saja tidak layak menjadi bahan pakaian. Pagar rumah dan alat-alat pertanian dari besi, kotak tembakau dari aluminium, sepeda, apalagi motor dan mobil, dirampas. Siapa yang kedapatan punya kendaraan bermotor atau radio, bakal dihukum mati. Jepang adalah seburuk-buruknya penjajah, dan penjajahan Jepang adalah era teror yang jangan sampai terulang lagi kapan pun.

***

Kini seluruh dunia sedang berjibaku memerangi coronavirus. Hingga Selasa siang (24 Maret) coronavirus sudah menyebar ke 196 negara dan teritori. Tinggal segelintir negara yang belum tersentuh oleh virus yang tak mengenal suku, ras, musim, kaya-miskin, jabatan, dan agama.

Korban jiwa memang belum seberapa dibandingkan dengan korban Perang Dunia II dan wadah virus di awal abad XX yang menelan jutaan orang.

Belum ada ahli yang bisa memastikan kapan coronavirus bisa ditaklukkan. Tak seorang pun tahu berapa banyak “musuh” yang telah menyusup ke jantung pertahanan dan menyeberang ke garis perbatasan kita. Kita tak bisa membedakan siapa musuh dan siapa kawan. Yang pasti, pasukan elite (dokter dan perawat) kita sudah mulai bertumbangan, puluhan telah kena peluru musuh. 

Prajurit dari berbagai jenjang kian banyak tewas. Sampai hari ini sudah 55 orang meninggal dunia. Untuk pertama kali, tambahan pasukan Indoenesia yang terjangkit menembus 100 orang hari ini, persisnya 107 orang. Tak ada tambahan satu pun yang pulih atau sembuh. Korban terjangkit coronavirus (confirmed cases) di Indonesia mencapai 686 orang, mendekati jumlah korban di beberapa negara Eropa yang sudah menjadi pusat pandemik seperti Yunani, Finlandia, Polandia, dan Luksemburg. Yang masih terbaring di rumah sakit (active cases) sebanyak 601 orang.

Per 25 Maret 2020 pk.02:50. Sumber menggunakan GMT.
Sumber: https://www.worldometers.info/coronavirus/

Jumlah pasukan elit (dokter) per 1.000 penduduk di Indonesia hanya 0,4. Itu cuma separuh dari India (0,8), seperlima dari Brazil (2,1) dan China (1.8). Juga jauh lebih kecil ketimbang Thailand (0,8), dan Vietnam (0,8), dan Malaysia (1.5). Jumlah dokter paru tentu jauh lebih sedikit lagi.

Peralatan tempur mereka terbatas sehingga amat rentan jadi sasaran tembak musuh. Amunisi pun terbatas. Bentengi segera mereka dengan pelindung diri yang memadai.

Intelejen kita belum mengetahui secara persis kekuatan musuh dan kesiapan prajurit (rakyat). Presiden sudah memerintahkan semua gubernur membuat peta kesadaran coronavirus dan menyusun rencana aksi.

Sungguh kita dan hampir semua negara di dunia belum pernah menghadapi peperangan dengan “hantu” seganas coronavirus. Untuk menghadapinya, mau tak mau seluruh medan lagi harus dibuat seterang mungkin, karena hantu takut menghadapi medan yang terang benderang. Hantu leluasa dalam kegelapan.

Dalam menghadapi musuh nyata di masa lalu, kerajaan-kerajaan membangun benteng agar musuh tak gampang menyerang maupun menyusup.

Image result for benteng-benteng yang mengelilingi kota di masa lalu
Benteng Salahudin di Kairo yang dibangun pada abad ke-12. Sumber: tfamanasek.com

Kini, ketika informasi intelejen masih minim, hampir tak ada pilihan kecuali dengan melakukan isolasi terbatas dan mengecek kesiapan sebanyak mungkin pasukan. Ongkosnya memang sangat mahal. Derita tak terperikan. Namun, sekali kita berhasil memetakan musuh, peperangan bisa lebih cepat kita akhiri dengan kemenangan, dengan korban sekecil mungkin.

Kita jatuhkan bom atom itu. Bom atom berisi unsur: isolasi terbatas, pendekatan berbasis scientific, logistik yang tangguh, dan pertahanan rakyat semesta. Dan tertu saja kehadiran panglima perang yang dikelilingi oleh para kepala staf yang mumpuni dan penesehat kelas wahid yang dimiliki Negeri ini.

Tentara dan polisi kita siagakan sebagai pendukung utama. Kini saatnya para dokter dan ahli yang dijajaran terdepan. Betul kata Menteri Pertahanan bahwa tenaga medis yang di jajaran terdepan. Merekalah pahlawan dalam perang ini. Masih menurut Menhan, ia hanya terlatih menghadapi musuh yang terlihat.

Mari kita semua menyiapkan amunisi dan logistik yang memadai. Lindungi pasukan yang paling rentan. Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah. Seiring dengan itu, solidaritas sosial kita gaungkan. Satu orang yang mampu menanggung dua orang tak mampu.

Insya Allah kita bisa.

Catatan:

Lockdown a situation in which people are nor allowed to enter or leave a building or area freely because of an emergency. –Cambridge Dictionary

Data Coronavirus Terkini yang Perlu Dicermati (Update)


[Deperbarui 26 Maret pk.17:47]

1. Wabah coronavirus sudah menjelma sebagai pandemik dunia, telah merasuk ke 198 negara dan teritori di setiap benua kecuali Antarika. Jumlah anggota PBB adalah 193 negara dan dua negara dengan status negara peninjau bukan anggota. Selebihnya adalah teritori..

Diperbarui pada 26 Maret pk.17:15. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

2. Per 26 Maret pk.17:15 (10:12 GMT), jumlah terjangkit di seluruh dunia sudah mendekati setengah juta orang dan jumlah kematian melampaui 20.000 jiwa. Lebih dari 70 persen yang terjangkit dan 85 persen yang meninggal dunia berada di luar China.

Diperbarui pada 26 Maret pk.17:15. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/
Diperbarui pada 26 Maret pk.17:15. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

3. Jumlah kumulatif kematian di China melandai dalam sebulan terakhir, sebaliknya di luar China mengakselerasi dengan kecepatan tinggi.

Diperbarui pada 26 Maret pk.17:15. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

4. Dalam 10 hari terakhir jumlah kematian setiap hari terus meningkat. Pada 26 Maret pk.17:15 tercatat 2.390 kematian. Jumlah kematian harian di Italia mencapai rekor tertinggi baru pada 21 Maret sebanyak 793 jiwa. Jumlah kematian tertinggi di China jauh lebih kecil, yaitu hanya 150 jiwa pada 23 Februari 2020.

Diperbarui pada 26 Maret pk.17:15. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

5. Jumlah kasus terjangkit di Italia dan Spanyol sudah melampauii China.

6. Kematian kumulatif di Italia telah melampaui China sejak 19 Maret dan kini sudah hampir dua kali lipat dari China. Kini jumlah kematian di Italia sudah dua kali lipat lebih dari kematian di China. Jumlah kematian di Spanyol juga telah melampaui kematian di China.

7. Indonesia mengalami tingkat kematian (case fatality rate) tertinggi kedua di Asia dan di urutan ke-13 di dunia.

Case fatality rate (CFR) atau tingkat fatalitas kasus (coronavirus) adalah jumlah kematian yang dilaporkan per jumlah kasus yang dilaporkan, dinyatakan dalam persentase.

CountryPopulation (2018)Total casesTotal deathsCase fatality rate
Gambia2,280,1023133.333
Zimbabwe14,439,0183133.333
Sudan41,801,5333133.333
Cabo Verde543,7674125.000
Guyana779,0045120.000
Cayman Islands64,1746116.667
Curacao159,8496116.667
Gabon2,119,2757114.286
Niger 22,442,9487114.286
Bangladesh161,356,03939512.821
San Marino33,7852082110.096
Italy60,431,28374,3867,50310.087
Indonesia267,663,435893788.735
Iraq38,433,600346298.382
Paraguay6,956,0713738.108
Iran81,800,26929,4062,2347.597
Spain46,723,74947,6103,4347.213
Algeria42,228,429302216.954
Philippines106,651,922707456.365
Netherlands17,231,0176,4123565.552
France66,987,24425,2331,3315.275
United Kingdom66,488,9919,5294654.880
Egypt98,423,595456214.605
Hungary9,768,785226104.425
Mauritius1,265,3034824.167
Congo, Dem. Rep.84,068,0914824.167
Guatemala17,247,8072414.167
China1,392,730,00081,2853,2874.044
Jamaica2,934,8552514.000
Belgium11,422,0684,9371783.605
Burkina Faso19,751,53511443.509
Ukraine44,622,51611643.448
Japan126,529,1001,307453.443
Albania2,866,37614653.425
Tunisia11,565,20417352.890
Greece10,727,668821222.680
Morocco36,029,13822562.667
Dominican Republic10,627,165392102.551
Turkey82,319,7242,433592.425
Equador17,084,3571,173282.387
Afganistan37,172,3868422.381
Cyprus1,189,26513232.273
Nigeria195,874,7404612.174
Azerbaijan9,942,3349322.151
Brazil209,469,3332,297482.090
Argentina44,494,50238782.067
Denmark5,797,4461,724341.972
Montenegro622,3455211.923
India1,352,617,328693131.876
Peru31,989,25648091.875
Panama4,176,87344381.806
Lebanon6,848,92533361.802
Cuba11,338,1385711.754
Sweden10,183,1752,526441.742
Bosnia and Herzegonina3,323,92917331.734
North Macedonia2,082,95817731.695
Romania19,473,936906141.545
United States327,167,43468,5731,0361.511
Lithuania2,789,53327441.460
Portugal10,281,7622,995431.436
South Korea51,635,2569,2411311.418
Switzerland8,516,54310,8971531.404
Guadeloupe395,7007311.370
Poland37,978,5481,031141.358
Bulgaria7,024,21624231.240
Mexico126,190,78840551.235
Malaysia31,528,5852,031231.132
Serbia6,982,08438441.042
Costa Rica4,999,44120120.995
Hong Kong7,451,00041040.976
Bahrain1,569,43941940.955
Slovenia2,067,37252850.947
Canada37,058,8563,290300.912
Taiwan23,780,45223520.851
Colombia49,648,68547040.851
Pakistan212,215,0301,06380.753
Austria8,847,0376,001420.700
Moldova3,545,88314910.671
UAE9,630,95933320.601
Luxembourg607,7281,33380.600
Ireland4,853,5061,56490.575
Germany82,927,92237,3232060.552
Norway5,314,3363,066140.457
Russia144,478,05065830.456
Thailand69,428,52493440.428
Australia24,992,3692,43190.370
Czechia10,625,6951,65460.363
Finland5,518,05088030.341
Singapore5,638,67663120.317
Iceland353,57473720.271
Chile18,729,1601,14230.263
Croatia4,089,40044210.226
Saudi Arabia33,699,94790020.222
Israel8,883,8002,36950.211
Diperbarui pada 26 Maret pk.17:15. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

8. Semua negara di Eropa dan semua negara bagian di Amerika Serikat telah terjangkit coronavirus. Di Amerika Serikat setiap dua hari kasus kumulatif meningkat dua kali lipat. Amerika Serikat menyusul Jerman dalam hal jumlah kasus pada 21/3. Keesokan harinya (22/3), Amerika Serikat menyusul Spanyol, sehingga berada di urutan ketiga setelah China dan Italia.

9. Pola kumulatif kasus terkonfirmasi Indonesia paling tajam dibandingkan dengan beberapa negara yang kasusnya paling banyak. Belakangan pola Amerika Serikat yang menunjukkan peningkatan paling tajam

10. Negara yang lebih efektif menangani wabah coronavirus memiliki kinerja lebih baik di pasar saham.

11. Kita harus memobilisasi segala sumber daya agar penularan coronavurus terkendali dan menelan korban jiwa disedikit mungkin.

12. Angka kematian semakin tinggi sejalan dengan usia.

13. Bagi yang mengidap pre-existing medical condition harus lebih berhati-hati dan waspada.

14. Dari negara-negara yang kasus terkonfirmasinya melebihi 100 orang, ada 19 negara yang tidak/belum mengalami kasus kematian. Berikut adalah senarai berdasarkan jumlah kasus:

CountryPopulation (2018)Total casesTotal deaths
South Africa57,779,6227090
Qatar2,781,6775370
Estonia1,320,8844040
Armenia2,951,7762650
Latvia1,926,5422210
Slovakia5,447,0112160
New Zealand4,885,5002050
Kuwait4,137,3091950
Uruguay3,449,2991890
Jordan9,956,0111720
Vietnam95,540,391410
Faeroe Islands48,4971320
Malta483,5301290
Brunei Darussalam428,9621090
Sri Lanka21,670,0001020
Oman4,829,483990
Cambodia16,249,798960
Venezuela28,870,195910
Belarus9,485,386860

15. Kasus di Indonesia sudah menjalar ke 27 provinsi, bertambah tiga provinsi dalam 24 jam terakhir. Semua pulau besar telah terjangkit coronavirus.

Semoga kita bisa belajar dari pengalaman banyak negara.