Strategi Menyerang Lebih Menjanjikan


marketing_strategies
tutorialspoint.com

Dua kompetisi sepakbola paling bergengsi di dunia adalah Premier League di Inggris dan LaLiga Santander di Spanyol. Pada musim 2016/2017, juara Premier League adalah Chelsea dan juara LaLiga adalah Real Madrid. Kedua juara itu bukanlah yang paling sedikit kebobolan.

Di Liga Inggris, yang paling sedikit kebobolan adalah Tottenham Hotspur (26) di posisi kedua dalam klasemen akhir, menyusul Manchester United (29) di posisi keenam. Sang juara, Chelsea, kebobolan sebanyak 33.

Di Liga Spanyol, yang paling sedikit kebobolan adalah Atletico Madrid (27) di posisi ketiga dalam klasemen akhir, menyusul Villarreal (33) di posisi kelima. Real Madrid yang menyabet piala LaLiga kebobolan cukup banyak, 41 kali.

Walaupun bukan yang terbanyak, namun kedua pemenang di liga paling bergengsi di dunia itu adalah yang sangat subur menjebolkan gawang lawan. Kedua tim masing-masing menjadi tersubur kedua.  Di kedua ajang kompetisi itu, yang paling subur sama-sama menduduki posisi kedua klasemen akhir.

Menyerang lebih menjajikan untuk meraih gelar juara.

bola

Dalam kancah persaingan dunia yang kian terbuka, negara yang paling banyak meraih keuntungan dan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya lebih cepat adalah yang melakukan penetrasi ke segala penjuru dunia. Mereka tidak menerapkan taktik mercantilism seperti banyak dipraktekkan pada abad pertengahan, yakni dengan memacu ekspor tetapi membentengi diri dari impor agar menghasilkan surplus perdagangan sebesar-besarnya. Mereka membuka diri terhadap barang-barang impor, bukan dengan strategi “memarkir bus berjejeran di depan gawang” seperti diterapkan beberapa kali oleh Jose Mourinho ketika melatih Chelsea.

Indonesia cenderung menggunakan taktik “parkir bus di depan gawang” dengan menerapkan paling banyak pembatasan perdagangan dan investasi dibandingkan negara-negara tetangga. Perbedaan Indonesia dengan negara-negara tetangga sedemikian sangat kontras.

restrictive_measures

Hampir seluruh negara melibatkan diri semakin mendalam di kancah perdagangan dunia. Produksi barang dan jasa yang diekspor semakin besar. Porsi barang dan jasa yang mereka impor pun semakin besar. Peningkatan porsi barang yang diekspor dan diimpor yang semakin besar itu mencerminkan strategi permainan terbuka. Jika kita menuntut negara lain membuka pasarnya untuk produk-produk kita, maka kita pun harus berani membuka pasar domestik untuk produk-produk mereka. Itulah azas resiprositas.

Sangat ironis, Indonesia adalah satu-satunya negara–dengan pengecualian Singapura–yang perekonomiannya semakin tertutup. Baik ekspor maupun impor mengalami penurunan dinyatakan dalam persentase terhadap produk domestik bruto (PDB). Tidak peduli perbedaan ideologi, jumlah penduduk, lokasi, negara maju atau negara berkembang, semua menunjukkan peningkatan keterbukaan ekonomi.

openness

Mungkin ada yang bertanya-tanya apakah data di atas semacam rekayasa untuk tujuan dramatisasi yang menghasilkan ironi bagi Indonesia. Data itu bisa saja dipilih yang paling kontras karena hanya menyajikan dua titik waktu, 1981 dan 2016.

Untuk mengurangi–syukur-syukur menghilangkan–keraguan, berikut disajikan data jangka panjang dengan menggunakan rerata lima tahun. Hasilnya, selama 16 tahun terakhir, perekonomian Indonesia konsisten semakin tertutup.

openness-ina

Agar bisa meraih keuntungan maksimum dari peningkatan perdagangan dua arah (ekspor dan impor), suatu negara harus siap tempur, yakni dengan memperkokoh perdagangan intra-industri. Semakin banyak porsi perdagangan intra-industri dalam perdagangan total suatu negara, semakin besar keuntungan perdagangan yang digapai. Bukan sekedar memperoleh gains from trade tetapi juga additional gains from trade. Keuntungan ganda hanya bisa diraih jika yang diperdagangkan semakin banyak produk manufaktur. Untuk itu harus didorong secara total football akselerasi industrialisasi. Data mendukungnya.

Kalau terus mengandalkan ekspor komoditas, lama kelamaan kita akan kebobolan juga walau sepiawai apa pun taktik pertahanan yang kita terapkan.

xm

 

Indonesia Tetap di Urutan ke-8 PDB Dunia


topgdp
youtube.com

Minggu lalu Bank Dunia memutakhirkan data produk domestik bruto (PDB) dunia untuk tahun 2016. Posisi Indonesia 2016 tidak berubah dibandingkan dengan 2015, yakni di urutan ke-8 sebagai produsen barang dan jasa berdasarkan purchasing power parity (PPP).

Nilai PDB Indonesia berdasarkan PPP tahun 2016 telah menembus 3 triliun dollar AS. Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2017 sekitar 5 persen dan Brazil diperkirakan di bawah 1 persen, maka tahun ini (2017) Indonesia akan naik satu peringkat menggantikan posisi Brazil. Dalam waktu tidak sampai 5 tahun Indonesia diperkirakan bisa menyusul Rusia, karena pertumbuhan PDB Rusia diperkirakan paling banter hanya sekitar separuh pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Asia menempatkan 8 negara dalam 20 besar PDB berdasarkan PPP.

ppp

Berdasarkan PDB berdasarkan dollar AS yang berlaku (current US$), posisi Indonesia 2016 juga tidak mengalami perubahan dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu di urutan ke-16 dengan nilai hampir satu triliun dollar AS. Indonesia merupakan satu-satunya anggota ASEAN yang terwakili dalam G-20.

gdp

 

 

Indonesia di Tengah Gelombang Populisme Dunia


populism
webassign.net

Kehidupan ibarat pendulum, kadang bergerak ke kiri, kadang ke kanan. Kecepatannya berubah-ubah, bergantung pada besar kekuatan yang menggerakkannya. Keteraturan hanya ditemukan pada benda mati seperti lonceng jam.

Pergerakan ke kiri dan ke kanan amat jarang mencapai titik maksimum. Hanya dalam situasi ekstrem saja bisa terjadi, antara lain karena tumbangnya rezim otoriter atau monarki absolut yang digantikan oleh rezim demokrasi. Bisa pula penggantinya adalah rezim nondemokratik dengan mengusung populisme.

Di masyarakat terbuka dan demokratik, selalu muncul kekuatan pengimbang yang membawa ke arah sebaliknya. Dalam jangka panjang posisinya berada di sekitar titik keseimbangan.

krugmanApakah janji-janji kampanye Donald Trump yang sangat populis itu bakal terwujud? Tidak semudah membalikkan telapak tangan.Apakah Donald Trump akan sesegera mungkin menghapus Obama care? Bagaimana nasib 20 juga rakyat AS yang terancam tidak dilindungi oleh asuransi kesehatan? Yang dirugikan juga warga kulit putih yang juga memilih Donald Trump pada pemilihan presiden November tahun lalu.

Industri AS “dipaksa” bangun pabrik di dalam negeri –tidak kompetitif dan kehadiran artificial intelligence.

Hendak membatalkan perjanjian Trans Pacific Partnership (TPP) pada hari pertama menjadi presiden sebagaimana dikatakan Trump? Ingat, Asia Pasifik merupakan mitra dagang Amerika Serikat yang lebih penting ketimbang Eropa.

tpppppeta

Pengertian populisme menurut Fareed Zakaria (Foreign Affairs, November/December Issue, 2016):

It means different things to different groups, but all versions share a suspicion of and hostility toward elites, mainstream politics, and established institutions. Populism sees itself as speaking for the forgotten “ordinary” person and often imagines itself as the voice of genuine patriotism. “The only antidote to decades of ruinous rule by a small handful of elites is a bold infusion of popular will.

Populisme sudah muncul sejak ratusan tahun silam, mulai dari gerakan petani, krisis representasi politik, perlawanan terhadap kelas menengah yang mapan, perlawanan berbasis agama hingga gerakan sosial yang menuntut tatanan baru.

books

Gerakan populisme kontemporer, terutama yang merebak di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa dipicu oleh beberapa faktor. Pertama, pergeseran kekuatan ekonomi dunia. Berdasarkan produk domestik bruto (PDB) yang disesuailan dengan paritas daya beli (gross domestic product based on purchasing power parity/PPP), empat dari sepuluh negara terbesar dunia adalah new emerging economic powers, yaitu China (peringkat pertama), India (ketiga), Brazil (ketujuh), dan Indonesia (kedelapan). Ditambah dengan Rusia (keenam), maka kekuatan baru dan kekuatan lama masing-masing lima negara. Jika PDB-PPP masing-masing kelompok digabung, kekuatan lima negara ekonomi baru pada tahun 2015 lebih besar ketimbang kekuatan lama, masing-masing 37,1 triliun dollar AS dan 31,9 triliun dollar AS.

top-10-pppSalah satu penyebab utama pergeseran itu adalah penduduk di negara-negara mapan sudah menua (aging population), sebaliknya penduduk usia produktif masih dominan di negara-negara emerging economic powers. Negara-negara maju bisa memperpanjang tahapan pertumbuhan lebih tinggi dengan mengandalkan masuknya tenaga kerja produktif (in-migration). Sistem jaminan sosial yang baik juga turut membantu.

Kedua, kemajuan teknologi di negara-negara maju ternyata tidak banyak meningkatkan produktivitas. Lihat misalnya The curious case of missing global productivity growth. Semakin banyak pekerja konvensional yang tersisih akibat kemajuan artificial intelligence. s

Ketiga, gelombang penolakan terhadap globalisasi. Perdagangan bebas yang sudah terbukti berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin dunia dalam jumlah yang cukup signifikan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara berkembang juga menimbulkan dampak negatif di banyak negara. Di negara maju, relokasi pabrik dan kegiatan ekonomi lainnya ke negara berkembang menimbulkan pengangguran. Ditambah lagi dengan barang-barang impor dengan harga yang lebih murah yang mengalir deras.

Keempat, ketimpangan pendapatan dan kekayaan. Di tingkat dunia, kekayaan semakin terkonsentrasi pada segelintir orang. Hampir tiga perempat penduduk dunia berpendapatan di bawah 10 ribu dollar AS yang hanya menikmati 2,4 persen dari kekayaan total dunia. Sebaliknya, hanya 33 juta (0,7 persen) yang berpendapatan di atas 1 juta dollar AS dengan penguasaan 45,6 persen kekayaan dunia.

global-inequality

Di puncak piramid bertengger 140.900 penduduk dewasa dengan kekayaan di atas 50 juta dollar AS.

top_pyramid

Di puncak piramid itu bertengger 8 orang terkaya dunia dengan kekayan setara dengan kekayaan separuh penduduk dunia. Lihat The World’s 8 Richest Men Are Now as Wealthy as Half the World’s Population

8gambar

Bagaimana dengan Indonesia? Cukup banyak faktor yang membuat populisme di Indonesia pun marak. Penyebabnya telah saya kemukakan dalam tulisan berjudul Mendeteksi Akar Ekonomi dari Radikalisme dan Disharmoni Sosial.

Tugas sejarah kita untuk membuat pendulum tetap bergerak dinamis agar keseimbangan tetap terjaga dan proses koreksi berlangsung secara konstruktif.

Kedua, membuktikan kepada dunia bahwa demokrasi di Indonesia kompatibel dengan Islam.

Kita tidak bisa bergerak mundur. Tantangan ke depan harus dijawab dengan mentransformasikan institusi politik dan ekonomi.

institutions

Indonesia di Tengah Arus Populisme Dunia


Acara bertajuk “Kebangkitan Populisme” yang digelar dalam rangka ulang tahun Indonesian Democracy Monitor (inDEMO) ke-17 dan peringatan 43 tahun peristiwa Malari berlangsung pada 15 Januari 2017 di Balai Kartini. Presentasi ringkas saya bisa dilihat di  youtube: Indonesia di Tengah Arus Populisme Dunia.

Tidak semua bahan yang saya siapkan sempat dipaparkan karena keterbatasan waktu. Insya Allah dalam waktu dekat akan saya tuangkan versi yang lebih lengkap dalam bentuk tulisan di blog ini.

Saatnya Menggenjot Ekspor


Genap sudah lima tahun nilai ekspor Indonesia mengalami penurunan terus menerus.

total

Tren penurunan terjadi pada semua kelompok barang. Yang cukup tajam dialami kelompok tambang & lainnya.

semua

Namun, produk pertanian pun mengalami kemerosotan tajam.

agri

Memang perdagangan dunia melemah, tetapi tetap tumbuh. Cukup banyak negara tetangga yang tidak sampai mengalami penurunan ekspor, walaupun pertumbuhannya turun.

exports
Source: https://www.bloomberg.com/politics/articles/2017-01-15/trump-nominees-give-vietnam-s-premier-hope-of-trade-pact-support

Perekonomian Indonesia Menghadapi Tekanan Eksternal dan Internal


Dinamika Eksternal

Globalisasi menjadi istilah yang sangat populer pasca Perang Dingin. Arus perdagangan internasional, pergerakan modal lintas negara, dan migrasi internasional meningkat sangat pesat sejak keruntuhan Tembok Berlin tahun 1989 hingga awal krisis finansial global tahun 2007.[1]

Kini globalisasi meredup. Justru negara-negara kampiun liberalisasi ekonomi menjadi simbol deglobalisasi. Integrasi perekonomian global dihadang oleh gejala fragmentasi. Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, sesumbar akan membatalkan perjanjian Trans Pacific Partnership (TPP) pada hari pertama menjabat sebagai presiden. Ia pun akan meninjau perjanjian North American Free Trade Agreement (NAFTA) yang beranggotakan tiga negara (Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko). Bahkan, Donald Trump berencana membangun tembok pemisah di perbatasan dengan Meksiko.

Rakyat Inggris telah menentukan pilihan lewat Referendum 23 Juni 2016 untuk keluar dari keanggotaan Uni Eropa. Semakin banyak pula negara Uni Eropa yang menolak gelombang pengunggsi akibat perang saudara tak berkesudahan di Timur Tengah.

Kemunculan populisme yang meluas di Eropa. Fenomena ini dijumpai mulai Swedia yang sangat makmur hingga Yunani yang sedang dilanda krisis ekonomi parah. Salah satu pengertian yang lebih umum tentang populism adalah kecurigaan dan permusuhan terhadap elit, politik mainstream, dan lembaga-lembaga mapan. Populisme melihat dirinya berbicara untuk orang “biasa” yang dilupakan atau tersingkirkan dan sering memandang dirinya sebagai suara patriotisme sejati.[2]

Kajian International Monetary Fund (IMF)[3] menunjukkan pada dasawarsa 1990-an pertumbuhan 1 persen pertumbuhan global meningkatkan volume perdagangan sebesar 2,5 persen, sedangkan dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan yang sama hanya meningkatkan perdagangan sebesar 0,7 persen.

trade

Kecenderungan deglobalisasi ditunjukkan secara mencolok oleh anjloknya arus modal lintas negara dari aras tertinggi seperlima produk domestik bruto (PDB) dunia pada 2007 menjadi hanya 2,6 persen pada tahun 2015.

capital

Dinamika Internal

Indonesia merupakan warga dunia yang mau tak mau terimbas oleh perubahan yang melanda dunia. Dinamika yang terjadi di berbagai belahan dunia turut memengaruhi perjalanan kita, baik dalam kehidupan politik, ekonomi maupun sosial.

Perekonomian kita sedang mengalami tekanan cukup berat. Sejak krisis multidimensional tahun 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak pernah lagi menembus 7 persen. Tingkat kesejahteraan rata-rata rakyat Indonesia tumbuh melambat sehingga semakin jauh tertingal dibandingkan negara-negara sekawasan seperti Korea, Malaysia, Thailand, dan China. Kita kekurangan tenaga dan darah untuk memacu pertumbuhan. Semakin berat tantangan yang kita hadapi di tengah perekonomian dunia yang sudah cukup lama tumbuh melambat (too slow for too long).

Akibat pertumbuhan ekonomi dan perdagangan dunia yang tertekan, ekspor tidak bisa diandalkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Demikian pula dengan pengeluaran pemerintah. Peningkatan belanja pemerintah untuk memacu pembangunan infrastruktur terkendala oleh pembiaayaan dari pajak sebagaimana tercermin dari tax ratio yang tak beringsut dari sekitar 12 persen. Program pengampunan pajak merupakan jalan pintas. Agar penerimaan pajak semakin tinggi, mau tak mau pemerintah harus berusaha keras untuk mendorong transformasi struktural, menjadikan perekonomian lebih modern, mempercepat penurunan ketergantungan pada sektor primer, mengurangi secara drastis sektor informal dan pekerja informal serta memacu industrialisasi.

Konsumsi masyarakat yang menyumbang sekitar 57 persen terhadap perekonomian nasional sedang mengalami tekanan cukup berat, terutama kelompok pendapatan terbawah. Nilai tukar petani merosot dalam dua tahun terakhir. Pada kurun waktu yang sama, upah riil buruh tani terkikis lebih dari 4 persen. Padahal mayoritas penduduk Indonesia masih bertopang pada sektor pertanian.

Penurunan upah riil dialami pula oleh pekerja di sektor lainnya. Peningkatan upah minimum setiap tahun tidak membantu karena diiringi oleh penurunan jam kerja di pabrik. Akibatnya, anggota keluarga yang tadinya tidak bekerja dipaksa masuk ke pasar kerja. Itulah yang membuat tingkat partisipasi angkatan kerja meningkat cukup tajam. Para pencari kerja semakin sulit memperoleh pekerjaan. Hal ini terlihat dari waktu untuk memperoleh pekerjaan yang naik dari rata-rata 6 bulan menjadi satu tahun.

Tekanan pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah serta praktek kapitalisme kroni yang semakin marak menyebabkan ketimpangan pendapatan dan kekayaan memburuk. Satu persen orang terkaya menguasai 50,3 persen kekayaan nasional dan 10 persen terkaya menguasai 77 persen kekayaan nasional. Kondisi demikian tak boleh dibiarkan karena menjadi benih-benih subur kemunculan radikalisme yang mengancam harmoni sosial dan kerawanan politik.

Pembentukan modal tetap bruto atau investasi sebagai penyumbang terbesar kedua terhadap perekonomian sudah empat tahun tumbuh rendah, tak pernah menembus 7 persen, bahkan lebih kerap di bawah 5 persen. Itu pun, dalam lima tahun terakhir, sebagian besar ((74 persen) dalam bentuk bangunan, sedangkan dalam bentuk mesin dan peralatan hanya 11 persen.

Belanja pemerintah yang terlalu agresif seraya penerimaan pajak tak bisa dipaksakan naik tinggi membuat defisit APBN meningkat hingga mendekati 3 persen PDB, sehingga utang pemerintah pun mau tak mau menggelembung. Konsekuensi logisnya, dana masyarakat semakin banyak yang berpindah dari perbankan ke kas pemerintah, yang pada gilirannya membuat perbankan tidak bisa memacu penyaluran kredit. Akibatnya terjadi crowding out sehingga menekan pertumbuhan ekonomi.

Mau tidak mau, kalau hendak memaksakan pertumbuhan lebih tinggi, kita harus mengundang lebih banyak modal asing. Di tengah perekonomian dunia yang serba tidak menentu, stabilitas makroekonomi menjadi taruhannya, apalagi kebanyakan modal asing yang masuk adalah portofolio yang gampang masuk tetapi juga gampang keluar.

[1] Sebastian Mallaby, “Globalization Resets: The retrenchment in cross-border capital flows and trade may be less dire than it seems,”Finance & Development, Vol.53, No.5, December 2016: 6-10.

[2] Fareed Zakaria, “Populism on the March: Why the West Is in Trouble,” Foreign Affairs, December 2016 issue.

[3] International Monetary Fund, World Economic Outlook, October 2016

Terlalu Cepatkah Rupiah Menguat?


Hingga hari ini (year-to-date) nilai tukar rupiah telah menguat 5,64 persen, terbaik kedua di antara Emerging Markets setelah Brazilian real. Menurut Bloomberg, rupiah mengalami kenaikan harian 13 hari berturut-turut, terlama dalam enam tahun terakhir. Menurut data Bank Indonesia, kenaikan harian di luar hari libur hanya delapan hari berturut-turut.

currency
Source: Bloomberg

Sementara kalangan, termasuk pejabat tinggi, mulai khawatir rupiah menguat terlalu terlalu cepat. Mereka takut penguatan rupiah mengganggu ekspor dan meningkatkan impor terutama impor barang konsumsi.

Mereka barangkali lupa bahwa rupiah sudah tergolong lama mengalami kemerosotan. Tahun lalu saja nilai tukar rupiah merosotan sebesar 9,39 persen. Jika dibandingkan dengan aras tertingginya pada 2 Agustus 2011, nilai tukar rupiah hari ini melemah sebesar 35,1 persen. Jadi, penguatan rupiah selama tahun ini sebesar 5,64 persen masih belum menutup kemerosotan tahun lalu, apalagi dibandingkan posisi 2 Agustus 2011.

rp

Kekhawatiran penguatan rupiah bakal mengganggu ekspor rasanya kurang beralasan. Toh sewaktu rupiah melorot, ekspor boro-boro naik, malahan terus merosot. Mengingat mayoritas ekspor kita adalah komoditas, perubahan harga karena faktor nilai tukar tidak sensitif terhadap permintaan.

Bagaimana dengan ekspor manufaktur? Produk manufaktur yang diekspor memiliki kandungan impor relatif tinggi. Berarti, harga bahan baku yang diimpor dalam rupiah turun. Jadi kenaikan harga barang ekspor kita dalam mata uang pengimpor dikompensasikan oleh penurunan harga bahan baku yang diimpor. Jadi pengaruh netonya bisa dikatakan netral.

Mengapa para pejabat tinggi khawatir atas penguatan nilai tukar rupiah yang yang di mata mereka relatif drastis? Boleh jadi karena mereka tahu betul faktor penopangnya belum meyakinkan. Pertama, meskipun menunjukkan trend penurunan, laju inflasi di Indonesia masih yang tertinggi di ASEAN-5. Kedua, penopang utama perolehan valuta asing adalah dari selisih antara ekspor dan impor barang dan jasa (current account) yang masih defisit, sedangkan kebanyakan negara ASEAN menikmati surplus.

Oleh karena itu, penguatan rupiah belakangan ini lebih disebabkan karena pelemahan dollar AS dan sentimen positif yang membuat peningkatan dana asing masuk. Dana asing itu kebanyakan bersifat jangka pendek yang sewaktu-waktu bisa keluar.

Namun, jika pemerintah bisa menjaga sentimen positif dengan konsisten melaksanakan penyesuaian struktural, kita patut optimistis perekonomian akan terus membaik. Tidak pula menempuh jalan pintas yang kontraproduktif.

Berapa Uang Gelap Keluar-Masuk Indonesia?


IFF-Update_2015-Cover-327x423Harian Kompas edisi hari ini (Minggu,21 Februari 2016) menurunkan berita berjudul Aliran Dana Gelap ke Luar Negeri Capai Rp 914 Triliun. Aliran uang gelap sebanyak itu terjadi selama kurun waktu 2010-2014. Kompas mengutip dari hasil riset Perkumpulan Prakarsa.

Menurut berita itu,  berdasarkan hasil survei Global Financial Integrity selama periode 2004-2013, besarnya aliran dana gelap dari Indonesia menduduki peringkat ke-9 dari 149 negara. Peringkat berdasarkan rata-rata tahunan dua komponen arus keluar dana gelap (illicit financial outflows), yaitu: (1) deliberate trade misinvoicing (gross excluding reversals atau GER); dan (2) leakages in the balance of payments (hot money narrow atau HMN).

Komponen pertama bisa berupa under-invoicing maupun over-invoicing untuk nilai ekspor dan impor.

Komponen kedua diperoleh dari pos “selisih perhitungan bersih” (net errors and omissions) di dalam neraca pembayaran (balance of payments). Pos ini kerap dijadikan proksi dari pelarian modal (capital flights).

Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang aliran dana gelap, ada baiknya kita menelusuri data dari Global Financial Integrity. Peraga di bawah menunjukkan top-10 negara berdasarnya rerata tahunan nilai illicit financial flows (IFF).

top10_illicit_money

Asia paling menonjol dalam illicit financial flows. Selama kurun waktu 2004-2014, Asia menyumbang 38,8 persen, menyusul negara berkembang Eropa sebesar 25,5 persen, dan Western Hemisphere 20,0 persen. Asia pun tercatat dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 8,6 persen.

Sumber terbesar dari illicit financial flows adalah GER, yaitu rata-rata sebesar 83 persen selama kurun waktu 2004-2013, dengan rincian 52 persen  dalam bentuk export under-invoicing dan 31 persen dalam bentuk import over-invoicing. Sedangkan HMN hanya 17 persen.

Pola untuk Indonesia menunjukkan porsi HMN jauh lebih kecil, yaitu 7,3 persen. Perbedaan tampak pula dari kecenderungan Indonesia yang mengalami penurunan sejak 2009, sedangkan trend dunia naik.

Hasil perhitungan Perkumpulan Prakarsa sebesar Rp 941 triliun sangat boleh jadi merupakan penjumlahan dari HMN dan GER lalu dikalikan dengan kurs.

Illicit-ina

Untuk HMN, kita bisa menganalisis dengan data time series lebih panjang bersumber dari database IMF yang tertera pada sumber peraga di bawah. Selama periode 1984-2015 (data 2014 dan 2015 bersumber dari Bank Indonesia), Indonesia mengalami aliran dana gelap keluar sebanyak 24 kali sedangkan aliran dana gelap masuk sebanyak 8 kali.  Sejak 2004 Indonesia hanya sekali mengalami aliran dana gelap masuk, yaitu tahun 2006. Kenyataan ini membuat HMN lebih sering menekan neraca pembayaran Indonesia.

GFI hanya menggunakan dana gelap keluar dalam menghitung illicit financial outflow. Dengan kata lain data GFI bukan nilai bersih atau neto.

errors_and_omissions_ina

Kita patut memberikan apresiasi kepada Perkumpulan Prakarsa yang telah mengangkat fenomena uang haram yang membuat perekonomian kurang darah. Dan yang lebih penting lagi, lalulintas uang haram itu turut memberikan andil bagi politik uang yang merusak demokrasi di Tanah Air.

Wow … Indonesia Terbaik


Majalah Economist terbaru yang terbit kemarin (19Februari 2016) dalam Global Stock Markets menunjukkan kinerja pasar saham Indonesia adalah yang terbaik per 17 Februari 2016 (year-to-date). Dalam US$ terms kinerja pasar saham Indonesia naik 5,9 persen dibandingkan dengan indeks akhir tahun 2015.

globa_stock_markets

Sampai kemarin, bursa saham Indonesia (dalam rupiah) tumbuh positif 4,04 persen (year-to-date). Pertumbuhan positif yang lebih tinggi dalam US$ terms dibandingkan dengan dalam rupiah disebabkan oleh nilai tukar rupiah yang menguat (apresiasi).

idx

Secara tahunan (year-on-year) index saham Indonesia masih negatif 11,35 persen dalam rupiah dan dalam US$ minus 16,7 persen per 10 Februari 2016. Namun, jika dibandingkan dengan kebanyakan negara berkembang atau emerging markets dan beberapa  negara maju, posisi Indonesia masih lebih baik.

idx-$

Pasar saham Indonesia pernah menghasilkan kinerja terbaik seperti sekarang pada 2 April 2014.

saham-2014

Kinerja pasar saham Indonesia sangat dipengaruhi oleh investor asing. Perkembangan positif dalam dua minggu terakhir diharapkan berlanjut. Tidak hanya di pasar saham, tetapi juga diharapkan terjadi di pasar obligasi, dan terutama penanaman modal asing langsung.

Arus modal masuk asing sangat menentukan stabilitas makroekonomi karena defisit perdagangan barang dan jasa (current account) diperkirakan bakal meningkat. Kinerja ekspor barang (merchandise exports) masih terus tertekan hingga Januari lalu. Lihat Kinerja Ekspor Indonesia Terus Melemah.

Harus pula diantisipasi risiko arus modal keluar dari emerging markets yang diperkirakan bakal terjadi cukup besar walaupun tidak sebesar tahun lalu.

Blog at WordPress.com.

Up ↑