Menikmati Kedai Kopi Tertua di Kairo


El Fishawy merupakan kedai kopi tertua di Mesir, sudah berusia lebih dari dua abad. Lokasinya berada di dalam kawasan Khan El Khalili Bazaar, Kairo, yang bersebelahan dengan Masjid Imam Hussein.

Kedai legendaris ini nyaris tak pernah sepi pengunjung, utamanya di malam hari. Pengunjungnya dari beragam usia. kopi-luar

  Suasana di teras kedai

Di sekelilingnya adalah jejeran kios yang sebagian besar menjajakan produk khas Mesir, khususnya cenderamata.

kopi-dalam
Suasana di dalam kedai

Ketika sedang sendirian menikmati kopi pahit khas Mesir, muncul seorang lelaki membawa gitar tradisional  Mesir yang masih terbungkus. Pengamen itu menawarkan jasanya. Ia bertanya lagu apa yang saya sukai. Saya memintanya melantunkan lagu Umm Kulthum. Sambil memetik gitar, ia melantunkan lagu Umm Kulthum dengan penuh penghayatan.

Lumayan panjang lagunya. Pengamen dengan penampilan rapi itu menyanyikan satu lagu lagi yang juga cukup panjang setelah saya membayarnya lebih dari yang telah disepakati.

kopikopi_ber2

Pembuatan kopi sangat sederhana. Air dimasukkan ke dalam wadah kecil sersama dengan bubuk kopi, lalu dimasak. Setelah mendidih, kopi disajikan dengan gelas kecil. Kita sendiri yang menuangkan kopi ke gelas.

Semakin nikmat rasanya menikmati kopi pekat dengan diiringi alunan lagu. Betul-betul kopi yang menimbulkan jejak rasa (after taste).

Konon, salah seorang sastrawan terkenal Mesir kerap memperoleh inspirasi dan menulis karya-karyanya sambil menikmati kopi di kedai El Fishawy ini.

Kekayaan Buah Tropis Kita


Pagi ini sarapan berbagai buah yang tersaji di restoran salah satu hotel di Bangkok, persis di sebelah lokasi ledakan bom minggu lalu. Semua buah dicicipi. Ada langsat, markisa, pisang, rambutan, pepaya, semangka, dan lengkeng.

aaaaaaa

Semua buah yang saya cicipi rasanya kalah dengan buah-buahan tropis kita. Duku Palembang dan langsat Pontianak jauh lebih nikmat. Markisa Brastagi dan markisa hutan Sarongge jauh lebih manis ketimbang markisa yang saya santap pagi ini. Pisang kita lebih enak daripada pisang yang tertera di foto. Pepaya pun demikian. Rambutan kita jauh lebih unggul ketimbang rambutan Bangkok.

Satu-satunya yang kita kalah barangkali cuma lengkeng. Namun, dua minggu lalu saya menikmati lengkeng Singkawang ketika bertandang ke Pontianak. Ukuran lengkeng Singkawang sama besar dengan lengkeng Bangkok tetapi rasa manisnya tidak kalah. Karena pasokannya masih terbatas, harga lengkeng Singkawang lebih mahal ketimbang lengkeng Bangkok.

Kita agaknya masih kalah dalam hal kemasan atau penyajian. Langsat Bangkok disajikan masih utuh di tangkainya seperti buah anggur.

Masalah mendasar yang kita hadapi adalah soal harga. Akibat ongkos transportasi yang mahal karena urusan logistik yang buruk, harga buah-buahan di daerah produsen jatuh ketika musim panen. Perbedaan harga di tingkat konsumen bisa sampai lima-delapan kali lipat lebih tinggi ketimbang di tingkat produsen.

aduku

Rekomendasi Final Tim Reformasi Tata Kelola Migas: Memperkokoh Kelembagaan Sektor Migas Indonesia


Pengantar:

Tim Reformasi Tata Kelola Migas telah menyelesaikan rekomendasi final di ujung masa tugasnya dan telah memaparkan kepada publik pada 13 Mei 2015.

Di dalam Laporan itu tercantum pula tiga rekomendasi yang telah dihasilkan Tim, tercantum dalam Lampiran 2, Lampiran 3, dan Lampiran 4.

Laporan dalam bentuk pdf  bisa diunduh di Rekomendasi_final.

Semoga bermanfaat.

Terima kasih banyak.

 

Ketoprak Mafia Migas


Sekitar dua pertiga produksi minyak Blok Cepu berada di Kabupaten Bojonegoro. Kabupaten ini bakal memperoleh bagi hasil minyak yang cukup besar ketika produksi Blok Cepu mencapai puncaknya yang diperkirakan mencapai 205.000 barrel per hari dalam beberapa tahun ke depan. Tentu saja, dana minyak sudah mulai mengalir ke pundi-pundi APBD Kabupaten Cepu dalam beberapa tahun terakhir.

Bupati Suyoto (akrab dengan panggilan Kang Yoto) sadar betul potensi besar dari usaha minyak. Potensi itu harus membuat rakyat Bojonegoro sejahtera, sumber daya manusianya harus dipacu agar mumpuni dan makmur ketika minyak sudah mongering. Kang Yoto ingin memastikan energi fosil yang tak terbarukan ini tidak menjadi kutukan (resource curse), melainkan harus menjadi berkah buat rakyatnya.

Untuk menyampaikan pesan kepada rakyatnya tentang kesadaran itu, Kang Yoto menggelar pentas ketoprak. Pertunjukan yang dipadati penonton dari beragam kalangan itu berlangsung Jumat malam, 27 Maret 2015, di Pendopo Kabupaten Bojonegoro.

IMG_9943

Bupati sebagai pemeran utama (berkostum warna hijau). Di sebelah kiri Bupati, berjilbab merah, adalah ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro. Selebihnya adalah para pejabat Kabupaten Bojonegoro kecuali yang di sebelah kanan Bupati, yaitu  Bapak Supramu Santoso (berkostum hitam dengan kaos oblong), pendiri Supreme Energy yang bergerak dalam usaha panas bumi (geothermal). Pak Supramu merupakan putra Bojonegoro yang sangat peduli terhadap pembangunan kampung halamannya. Pak Supramu berperan sebagai penasehat Bupati.

Dialog 90 persen dalam bahasa Jawa. Sejauh yang bisa saya tangkap dan atas bantuan seorang tokoh Bojonegoro yang duduk di sebelah saya yang sesekali menerjemahkan isi dialog, kira-kira begini jalan ceritanya.

Mafia migas dilakoni oleh dua lelaki tambun (pojok kanan berkostum merah). keduanya berusaha keras dengan segala cara menguasai sumur minyak. Sedangkan sumur minyak disimbolkan oleh peran dua perempuan cantik dengn rambut panjang terurai (kedua dan ketiga dari kiri). Kedua lelaki tambun tak henti mengejar kedua gadis. Sekelompok satria dipimpin oleh Pak Gatot (mantan direktur Bank Indonesia yang sekarang membantu pemerintah Kabupaten Bojonegoro, tak tampak dalam gambar) bertempur dengan mafia migas untuk melindungi sumur minyak. Ringkas cerita, kedua mafia migas berhasil ditaklukkan.

Setelah itu, Pak Bupati bertitah kepada rakyatnya: sumber daya minyak harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat, mencerdaskan kehidupan rakyat, hasilnya disisihkan untuk generasi mendatang, untuk mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi agar taktaka minyak habis perekonomian Bojonegoro sudah maju. Jangan sampai kekayaan minyak jadi kutukan karena hanya dinikmati oleh segelintir orang, apalagi kalau penikmatnya orang luar Bojonegoro. Jangan sampai kekayaan minyak hanya jadi cawe-cawe pemburu rente.

Di sela-sela titah Bupati, Pak Supramu memberi saran bagaimana memajukan Bojonegoro. Banyak sekali saran yang disampaikan, mulai dari landasan pemikiran filosofis hingga usulan praktis. Pak Supramu tak sekedar memberikan saran tetapi juga turut serta aktif berkiprah langsung dalam berbagai bentuk. Pernah membantu pengadaan sapi untuk digemukkan, ternak itik, dan di bidang pendidikan serta dakwah. Pak Supramu membangun masjid dengan arsitektur yang sangat indah. Masjid Birru Pertiwi dilengkapi dengan bangunan kelas untuk kegiatan, antara lain pendidikan untuk guru agar menghasilkan anak didik berkarakter, berakhlak mulia, dan menyejukkan.

Bentuk komunikasi pemimpin dengan rakyat lewat pagelaran ketoprak sangat efektif untuk membumikan gagasan pemimpin untuk memajukan rakyatnya. Petuah dibungkus dengan bahasa rakyat diselingi guyon. Mafia migas yang ibarat “hantu” hadir lewat tingkah laku yang bisa dijumpai dalam kehidupan keseharian.

 

 

 

 

 

Karya Membanggakan Mahasiswa UNY: Mobil Hybrid


Hari Sabtu minggu lalu, saya menghadiri acara seminar yang digelar BEM FE Iniversitas Negeri Yogyakarta bertajuk “Meneropong Perekonomian Indonesia Pasca 2014.” Di teras gedung Fakultas Teknik, tempat acara diselenggarakan, dipamerkan dua mobil karya tim mahasiswa UNY lintas-fakultas: satu mobil listrik dan satu lagi mobil hybrid. Foto di bawah ini adalah mobil hybrid.

car-uny

Mobil ini tahun lalu meraih penghargaan kategori inovatif di Korea Selatan. Minggu ini akan dibawa kembali ke Korea Selatan mengikuti ajang lomba.

Ada cerita miris tentang liku-liku proyek mobil yang sosoknya mirip dengan F-1. Ban yang digunakan pun sejenis yg digunakan mobil di ajang F-1. Diimpor dari Amerika Serikat. Harga keempat ban sekitar Rp 26 juta.

Ironisnya ban itu tertahan di bea cukai bandara Soekarno-Hatta. Surat dari Rektor dan pejabat lain yang menerangkan ban itu digunakan untuk tujuan ajang kreativitas, riset, dan menggalakkan inovasi, ternyata tidak mempan. Mereka harus membayar Rp 26 juta ke bea cukai. Proses sampai keluar dari gudang memakan waktu 1 bulan. Bea Cukai mengklaim uang Rp 26 juta itu untuk bayar sewa gudang.

Memang terkadang susah berbuat baik di negeri ini. Semoga tidak menyurutkan semangat adik-adik mahasiswa untuk terus berkarya.


Eco Bike

Bersepeda dengan rekan-rekan wartawan di Kitakyushu yang dijuluki smart city. Dengan sepeda batere yang dicharge dgn tenaga surya, mengayuh di tanjakan tak menimbulkan peluh.

Blog at WordPress.com.

Up ↑