Menangi Pertempuran agar Peperangan Lebih Cepat Usai dan Sedikit Korban Jiwa


[Diperbarui 25 Maret pk.03:06]

Perang Dunia II mungkin akan lebih lama dan lebih banyak menelan korban seandaikan Amerika Serikat tidak menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang membuat Jepang takluk. Momen itu pula yang membuat Indonesia mempercepat proklamasi kemerdekaan. 

Indonesia bukan peserta Perang Dunia Kedua, namun dari sekitar 62,5 juta jiwa yang tewas di seluruh dunia akibat perang itu, Indonesia menduduki peringkat keempat dengan korban jiwa total sekitar 4 juta orang atau sekitar 6 persen dari total penduduk di tahun 1939. Indonesia hanya kalah dari Uni Soviet (hampir 24 juta), China (lebih dari 19 juta) dan Polandia (sekitar 5 juta jiwa). Sekitar 2,5 juta orang Indonesia itu tewas akibat kelaparan, dan sekitar satu juta orang tewas akibat kerja paksa. Generasi milenial di Indonesia tampaknya tidak bisa membayangkan kekejian bala tentara Jepang itu. Jika China dan Korea (Utara maupun Selatan) sampai kini terus mewaspadai kemungkinan bangkitnya militerisme Jepang, mereka memang punya alasan kuat untuk itu.

Jumlah korban tewas di Hindia Belanda menunjukkan betapa buruknya perekonomian di masa itu. Jutaan orang tidak hanya tidak bisa makan, melainkan juga tidak bisa berpakaian layak, sampai banyak yang harus mengenakan karung goni, ban dalam, kertas bekas dan bahan lainnya yang tentu saja tidak layak menjadi bahan pakaian. Pagar rumah dan alat-alat pertanian dari besi, kotak tembakau dari aluminium, sepeda, apalagi motor dan mobil, dirampas. Siapa yang kedapatan punya kendaraan bermotor atau radio, bakal dihukum mati. Jepang adalah seburuk-buruknya penjajah, dan penjajahan Jepang adalah era teror yang jangan sampai terulang lagi kapan pun.

***

Kini seluruh dunia sedang berjibaku memerangi coronavirus. Hingga Selasa siang (24 Maret) coronavirus sudah menyebar ke 196 negara dan teritori. Tinggal segelintir negara yang belum tersentuh oleh virus yang tak mengenal suku, ras, musim, kaya-miskin, jabatan, dan agama.

Korban jiwa memang belum seberapa dibandingkan dengan korban Perang Dunia II dan wadah virus di awal abad XX yang menelan jutaan orang.

Belum ada ahli yang bisa memastikan kapan coronavirus bisa ditaklukkan. Tak seorang pun tahu berapa banyak “musuh” yang telah menyusup ke jantung pertahanan dan menyeberang ke garis perbatasan kita. Kita tak bisa membedakan siapa musuh dan siapa kawan. Yang pasti, pasukan elite (dokter dan perawat) kita sudah mulai bertumbangan, puluhan telah kena peluru musuh. 

Prajurit dari berbagai jenjang kian banyak tewas. Sampai hari ini sudah 55 orang meninggal dunia. Untuk pertama kali, tambahan pasukan Indoenesia yang terjangkit menembus 100 orang hari ini, persisnya 107 orang. Tak ada tambahan satu pun yang pulih atau sembuh. Korban terjangkit coronavirus (confirmed cases) di Indonesia mencapai 686 orang, mendekati jumlah korban di beberapa negara Eropa yang sudah menjadi pusat pandemik seperti Yunani, Finlandia, Polandia, dan Luksemburg. Yang masih terbaring di rumah sakit (active cases) sebanyak 601 orang.

Per 25 Maret 2020 pk.02:50. Sumber menggunakan GMT.
Sumber: https://www.worldometers.info/coronavirus/

Jumlah pasukan elit (dokter) per 1.000 penduduk di Indonesia hanya 0,4. Itu cuma separuh dari India (0,8), seperlima dari Brazil (2,1) dan China (1.8). Juga jauh lebih kecil ketimbang Thailand (0,8), dan Vietnam (0,8), dan Malaysia (1.5). Jumlah dokter paru tentu jauh lebih sedikit lagi.

Peralatan tempur mereka terbatas sehingga amat rentan jadi sasaran tembak musuh. Amunisi pun terbatas. Bentengi segera mereka dengan pelindung diri yang memadai.

Intelejen kita belum mengetahui secara persis kekuatan musuh dan kesiapan prajurit (rakyat). Presiden sudah memerintahkan semua gubernur membuat peta kesadaran coronavirus dan menyusun rencana aksi.

Sungguh kita dan hampir semua negara di dunia belum pernah menghadapi peperangan dengan “hantu” seganas coronavirus. Untuk menghadapinya, mau tak mau seluruh medan lagi harus dibuat seterang mungkin, karena hantu takut menghadapi medan yang terang benderang. Hantu leluasa dalam kegelapan.

Dalam menghadapi musuh nyata di masa lalu, kerajaan-kerajaan membangun benteng agar musuh tak gampang menyerang maupun menyusup.

Image result for benteng-benteng yang mengelilingi kota di masa lalu
Benteng Salahudin di Kairo yang dibangun pada abad ke-12. Sumber: tfamanasek.com

Kini, ketika informasi intelejen masih minim, hampir tak ada pilihan kecuali dengan melakukan isolasi terbatas dan mengecek kesiapan sebanyak mungkin pasukan. Ongkosnya memang sangat mahal. Derita tak terperikan. Namun, sekali kita berhasil memetakan musuh, peperangan bisa lebih cepat kita akhiri dengan kemenangan, dengan korban sekecil mungkin.

Kita jatuhkan bom atom itu. Bom atom berisi unsur: isolasi terbatas, pendekatan berbasis scientific, logistik yang tangguh, dan pertahanan rakyat semesta. Dan tertu saja kehadiran panglima perang yang dikelilingi oleh para kepala staf yang mumpuni dan penesehat kelas wahid yang dimiliki Negeri ini.

Tentara dan polisi kita siagakan sebagai pendukung utama. Kini saatnya para dokter dan ahli yang dijajaran terdepan. Betul kata Menteri Pertahanan bahwa tenaga medis yang di jajaran terdepan. Merekalah pahlawan dalam perang ini. Masih menurut Menhan, ia hanya terlatih menghadapi musuh yang terlihat.

Mari kita semua menyiapkan amunisi dan logistik yang memadai. Lindungi pasukan yang paling rentan. Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah. Seiring dengan itu, solidaritas sosial kita gaungkan. Satu orang yang mampu menanggung dua orang tak mampu.

Insya Allah kita bisa.

Catatan:

Lockdown a situation in which people are nor allowed to enter or leave a building or area freely because of an emergency. –Cambridge Dictionary

Jangan Biarkan Pemerintah Sendiri Lawan Corona! (Podcast)


NEWS – Redaksi CNBC Indonesia, CNBC Indonesia 22 March 2020 14:04

Jakarta, CNBC Indonesia- Ekonomi dan pendiri INDEF Faisal Basri menyebut kondisi saat ini adalah kondisi darurat. Di mana untuk perang melawan mencegah penyebaran covid-19 harus dilakukan bersama-sama oleh berbagai kalangan.

“Jangan biarkan pemerintah sendiri. Rakyat, dunia usaha, semuanya harus bergerak bersama untuk melawan corona,” kata Faisal dalam wawancara Podcast CNBC Indonesia, Sabtu (21/3/2020).

Agar semua pihak bisa membantu, Faisal juga mendorong pemerintah untuk transparan dan memangkas jalur birokrasi agar semuanya cepat ditangani. Buka saluran-saluran yang memudahkan pengusaha untuk berkontribusi. 

Ia bahkan menyarankan pemerintah mulai melakukan tindakan tegas bagi oknum-oknum yang diketahui memburu rente di tengah krisis saat ini. Misal ditemukan kelangkaan salah satu barang bahan pokok, dan serta ditelusuri ternyata ada penimbunan yang disengaja oleh oknum, disarankan dikenakan sanksi yang tidak main-main.

“Kalau perlu hukum gantung, meski hukumnya memang tidak ada saat ini. Tapi lagi masa seperti ini harus tegas, kalau ada yang manfaatkan langung hukum.” 

PILIHAN REDAKSIFaisal Basri: 176 Negara Kena, Corona Itu Perang DuniaFaisal Basri: Trump Dikelilingi Ahli Virus & Pandemi, Jokowi?

Wabah corona, semestinya tidak menganggu perjalanan barang sampai ke tujuan. Sebab hal tersebut juga tidak terjadi di negara lain, jadi ketika ada barang yang langka mesti ditelusuri. 

Faisal sangat yakin Indonesia bisa melampaui masa-masa krisis ini. “Kita sangat mampu, kita punya dokter-dokter hebat yang mestinya diberdayakan. Kita kritik pemerintah itu kkarena kita sayang.”

Kondisi lainnya yang menurut Faisal juga menguntungkan Indonesia adalah kondisi geografis sebagai negara kepulauan. Jika lockdown atau isolasi terbatas diberlakukan, sangat mudah bagi pemerintah ketimbang negara kontinen seperti Amerika Serikat yang semuanya daratanya. “Kalau kita ingin lockdown, kita bisa kunci di Jawa dan tidak menyebar ke pulau lainnya.”

Obrolan dan masukan Faisal Basri lebih lanjut bisa disimak dan didengarkan di podcast Cuap-Cuap Cuan by CNBC Indonesia di bawah ini:

(gus/gus)

Tingkatkan Kewaspadaan: Bersama Kita Bisa


Tak dinyana begitu cepat wadah coronavirus menyebar ke seantero dunia. Sudah 185 negara terjangkit atau 95 persen dari 195 negara di muka bumi, di setiap benua kecuali Antartika. Jadi, tinggal 10 negara yang belum dijamah oleh coronavirus COVID-19.

Jika mobilitas coronavirus sedemikian tinggi dan cepat menjelajah lintas negara dan lintas benua, apalah susahnya menyeberang antarprovinsi, lintas laut, lintas sungai, dan lintas danau.

Sejauh ini coronavirus telah menyebar di 16 provinsi: Bali, Sumatera (4), Sulawesi (3), Kalimnatan (2), dan Jawa (6).

Seluruh provinsi di Jawa sudah terjangkit. Terbanyak di DKI Jakarta. Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua masih bersih. Situs Zona Utara bekerja sama dengan beberapa media, perguruan tinggi, dan AJI Bandung membuat peta interaktif yang bisa dilihat di zonautara.com.

Mari kita bahu-membahu untuk menjaga agar zona hijau tetap hijau dan yang sudah terlanjur merah tidak semakin parah.

Dengan upaya kolektif yang sudah ditunjukkan oleh banyak kelompok (perguruan tinggi, kalangan profesi, komunitas, media, dan civil society lainnya, serta dunia usaha), insya Allah tugas mulia memerangi wabah yang sangat liar ini bisa membuahkan hasil yang menjanjikan.

Mari kita rajut kebersamaan. Pemerintah dengan seluruh jajarannya menjadi lem perekat yang akan sangat efektif memobilisasikan seluruh sumber daya nasional.

Bersama kita bisa.

Corona Itu Ibarat Perang Dunia, RI Butuh Lockdown (Podcast)


NEWS – Gustidha Budiartie, CNBC Indonesia 20 March 2020 13:17

Jakarta, CNBC Indonesia- Ekonom senior dan pendiri INDEF Faisal Basri mengatakan dampak dari virus corona yang makin mewabah ini semakin dahsyat di dunia. Saat ini sudah 176 dari 195 negara yang ada di dunia mencatatkan kasus positif covid-19. 

“Ini artinya 90% negara di dunia ini sudah kena. Ini tidak pernah terjadi pandemi sedemikian rupa di dunia. Dulu pernah ada tapi tahun 400,” ujar Faisal Basri dalam wawancara podcast CNBC Indonesia, Kamis (19/3/2020).

Persebaran virus ini luar biasa, dan tidak ada yang bisa memprediksi kapan berakhirnya dan masih meraba-raba bagaimana cara mengatasinya. 

“Semua orang masih belajar, sampai kapan dan seberapa jauh,” kata dia.

Ia menjelaskan, semua negara kewalahan mengatasi virus satu ini bahkan untuk negara adidaya seperti AS. Negara tersebut lewat pemerintahnya sudah mengucurkan stimulus besar-besaran untuk menjaga kondisi ekonominya, sampai US$ 850 miliar. Tapi toh, tetap tidak tertolong.

“Indeks tetap turun, dan ada ketakutan akan terjadinya resesi serta angka pengangguran bisa tembus 20%. Padahal sekarang angka pengangguran di Amerika Serikat terendah sepanjang sejarah, hanya 3,5%” 

Amerika, lanjutnya, sebagai negara terbesar di dunia pun tak mempan tak berdaya dengan corona. Ia membandingkan dengan kondisi 2008 juga di mana dunia terkena krisis keuangan global, tapi itu masalah ekomomi ada obat ekonominya dan ampuh.” 

Sementara, yang dihadapi dunia saat ini bukan masalah ekonomi. “Ini adalah ketakutan, psikologi, dan bahkan nyawa. Virus ini sudah 90% menjangkiti negara di dunia, ini ibaratnya perang dunia.”

Pernyataan Faisal Basri lebih jauh bisa didengarkan di podcast “Cuap Cuap Cuan” dari CNBC Indonesia di bawah ini: 

(gus/gus)

Data Coronavirus Terkini yang Perlu Dicermati (Update)


[Deperbarui 26 Maret pk.17:47]

1. Wabah coronavirus sudah menjelma sebagai pandemik dunia, telah merasuk ke 198 negara dan teritori di setiap benua kecuali Antarika. Jumlah anggota PBB adalah 193 negara dan dua negara dengan status negara peninjau bukan anggota. Selebihnya adalah teritori..

Diperbarui pada 26 Maret pk.17:15. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

2. Per 26 Maret pk.17:15 (10:12 GMT), jumlah terjangkit di seluruh dunia sudah mendekati setengah juta orang dan jumlah kematian melampaui 20.000 jiwa. Lebih dari 70 persen yang terjangkit dan 85 persen yang meninggal dunia berada di luar China.

Diperbarui pada 26 Maret pk.17:15. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/
Diperbarui pada 26 Maret pk.17:15. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

3. Jumlah kumulatif kematian di China melandai dalam sebulan terakhir, sebaliknya di luar China mengakselerasi dengan kecepatan tinggi.

Diperbarui pada 26 Maret pk.17:15. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

4. Dalam 10 hari terakhir jumlah kematian setiap hari terus meningkat. Pada 26 Maret pk.17:15 tercatat 2.390 kematian. Jumlah kematian harian di Italia mencapai rekor tertinggi baru pada 21 Maret sebanyak 793 jiwa. Jumlah kematian tertinggi di China jauh lebih kecil, yaitu hanya 150 jiwa pada 23 Februari 2020.

Diperbarui pada 26 Maret pk.17:15. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

5. Jumlah kasus terjangkit di Italia dan Spanyol sudah melampauii China.

6. Kematian kumulatif di Italia telah melampaui China sejak 19 Maret dan kini sudah hampir dua kali lipat dari China. Kini jumlah kematian di Italia sudah dua kali lipat lebih dari kematian di China. Jumlah kematian di Spanyol juga telah melampaui kematian di China.

7. Indonesia mengalami tingkat kematian (case fatality rate) tertinggi kedua di Asia dan di urutan ke-13 di dunia.

Case fatality rate (CFR) atau tingkat fatalitas kasus (coronavirus) adalah jumlah kematian yang dilaporkan per jumlah kasus yang dilaporkan, dinyatakan dalam persentase.

CountryPopulation (2018)Total casesTotal deathsCase fatality rate
Gambia2,280,1023133.333
Zimbabwe14,439,0183133.333
Sudan41,801,5333133.333
Cabo Verde543,7674125.000
Guyana779,0045120.000
Cayman Islands64,1746116.667
Curacao159,8496116.667
Gabon2,119,2757114.286
Niger 22,442,9487114.286
Bangladesh161,356,03939512.821
San Marino33,7852082110.096
Italy60,431,28374,3867,50310.087
Indonesia267,663,435893788.735
Iraq38,433,600346298.382
Paraguay6,956,0713738.108
Iran81,800,26929,4062,2347.597
Spain46,723,74947,6103,4347.213
Algeria42,228,429302216.954
Philippines106,651,922707456.365
Netherlands17,231,0176,4123565.552
France66,987,24425,2331,3315.275
United Kingdom66,488,9919,5294654.880
Egypt98,423,595456214.605
Hungary9,768,785226104.425
Mauritius1,265,3034824.167
Congo, Dem. Rep.84,068,0914824.167
Guatemala17,247,8072414.167
China1,392,730,00081,2853,2874.044
Jamaica2,934,8552514.000
Belgium11,422,0684,9371783.605
Burkina Faso19,751,53511443.509
Ukraine44,622,51611643.448
Japan126,529,1001,307453.443
Albania2,866,37614653.425
Tunisia11,565,20417352.890
Greece10,727,668821222.680
Morocco36,029,13822562.667
Dominican Republic10,627,165392102.551
Turkey82,319,7242,433592.425
Equador17,084,3571,173282.387
Afganistan37,172,3868422.381
Cyprus1,189,26513232.273
Nigeria195,874,7404612.174
Azerbaijan9,942,3349322.151
Brazil209,469,3332,297482.090
Argentina44,494,50238782.067
Denmark5,797,4461,724341.972
Montenegro622,3455211.923
India1,352,617,328693131.876
Peru31,989,25648091.875
Panama4,176,87344381.806
Lebanon6,848,92533361.802
Cuba11,338,1385711.754
Sweden10,183,1752,526441.742
Bosnia and Herzegonina3,323,92917331.734
North Macedonia2,082,95817731.695
Romania19,473,936906141.545
United States327,167,43468,5731,0361.511
Lithuania2,789,53327441.460
Portugal10,281,7622,995431.436
South Korea51,635,2569,2411311.418
Switzerland8,516,54310,8971531.404
Guadeloupe395,7007311.370
Poland37,978,5481,031141.358
Bulgaria7,024,21624231.240
Mexico126,190,78840551.235
Malaysia31,528,5852,031231.132
Serbia6,982,08438441.042
Costa Rica4,999,44120120.995
Hong Kong7,451,00041040.976
Bahrain1,569,43941940.955
Slovenia2,067,37252850.947
Canada37,058,8563,290300.912
Taiwan23,780,45223520.851
Colombia49,648,68547040.851
Pakistan212,215,0301,06380.753
Austria8,847,0376,001420.700
Moldova3,545,88314910.671
UAE9,630,95933320.601
Luxembourg607,7281,33380.600
Ireland4,853,5061,56490.575
Germany82,927,92237,3232060.552
Norway5,314,3363,066140.457
Russia144,478,05065830.456
Thailand69,428,52493440.428
Australia24,992,3692,43190.370
Czechia10,625,6951,65460.363
Finland5,518,05088030.341
Singapore5,638,67663120.317
Iceland353,57473720.271
Chile18,729,1601,14230.263
Croatia4,089,40044210.226
Saudi Arabia33,699,94790020.222
Israel8,883,8002,36950.211
Diperbarui pada 26 Maret pk.17:15. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

8. Semua negara di Eropa dan semua negara bagian di Amerika Serikat telah terjangkit coronavirus. Di Amerika Serikat setiap dua hari kasus kumulatif meningkat dua kali lipat. Amerika Serikat menyusul Jerman dalam hal jumlah kasus pada 21/3. Keesokan harinya (22/3), Amerika Serikat menyusul Spanyol, sehingga berada di urutan ketiga setelah China dan Italia.

9. Pola kumulatif kasus terkonfirmasi Indonesia paling tajam dibandingkan dengan beberapa negara yang kasusnya paling banyak. Belakangan pola Amerika Serikat yang menunjukkan peningkatan paling tajam

10. Negara yang lebih efektif menangani wabah coronavirus memiliki kinerja lebih baik di pasar saham.

11. Kita harus memobilisasi segala sumber daya agar penularan coronavurus terkendali dan menelan korban jiwa disedikit mungkin.

12. Angka kematian semakin tinggi sejalan dengan usia.

13. Bagi yang mengidap pre-existing medical condition harus lebih berhati-hati dan waspada.

14. Dari negara-negara yang kasus terkonfirmasinya melebihi 100 orang, ada 19 negara yang tidak/belum mengalami kasus kematian. Berikut adalah senarai berdasarkan jumlah kasus:

CountryPopulation (2018)Total casesTotal deaths
South Africa57,779,6227090
Qatar2,781,6775370
Estonia1,320,8844040
Armenia2,951,7762650
Latvia1,926,5422210
Slovakia5,447,0112160
New Zealand4,885,5002050
Kuwait4,137,3091950
Uruguay3,449,2991890
Jordan9,956,0111720
Vietnam95,540,391410
Faeroe Islands48,4971320
Malta483,5301290
Brunei Darussalam428,9621090
Sri Lanka21,670,0001020
Oman4,829,483990
Cambodia16,249,798960
Venezuela28,870,195910
Belarus9,485,386860

15. Kasus di Indonesia sudah menjalar ke 27 provinsi, bertambah tiga provinsi dalam 24 jam terakhir. Semua pulau besar telah terjangkit coronavirus.

Semoga kita bisa belajar dari pengalaman banyak negara.

Menghadapi Kemungkinan Terburuk


The Fed, Bank Sentral Amerika Serikat, hari minggu (15/3) melakukan langkah dramatis dengan memangkas suku bunga acuan (the Fed Funds Rate) sebesar 100 basis poin sehingga meluncur ke kisaran 0 persen (batas bawah) dan 0,25 persen (batas atas). Padahal belum genap dua minggu (3 Maret) The Fed menurunkan bunga acuan sebesar 50 basis poin. Langkah drastis ini serupa dengan yang dilakukan The Fed ketika menghadapi krisis finansial global tahun 2008.

Tidak hanya itu. The Fed juga meluncurkan program quantitative easing (QE) baru berupa pembelian surat utang pemerintah (U.S. Treasury bonds) setidaknya bernilai 500 miliar dollar AS dan sisanya pembelian mortgage-backed securities.

The Fed memandang langkah darurat harus ditempuh untuk meredam wabah coronavirus yang telah menekan kehidupan masyarakat dan mengganggu kegiatan ekonomi di banyak negara, termasuk Amerika Serikat.

Dua hari sebelumnya Presiden Donald Trump mendeklarasikan coronavirus sebagai darurat nasional dan menggelontorkan dana federal sebesar 50 miliar dollar AS untuk mengatasi coronavirus.

Tekanan berat terhadap perekonomian yang dipicu oleh wabah yang sudah menjadi pandemik dan telah menerjang 162 negara tidak pernah terjadi sebelumnya. Faktor psikologis sangat dominan, sehingga resep ekonomi standar tampaknya belum bertaji. Sehari setelah keputusan The Fed menurunkan suku bunga acuan, justru pasar saham AS kembal terjun bebas. Dow Jones melorot nyaris 13 persen atau hampir 3.000 poin dan sempat dihentikan sementara selama 15 menit beberapa detik setelah pembukaan pasar.

Keesokan harinya Gedung Putih mengeluarkan jurus tambahan berupa paket stimulus jumbo senilai 850 miliar dollar AS untuk menghindari perekonomian AS terjun bebas menuju resesi. pasar saham bereaksi positif. Indeks Dow Jones naik 5,2 persen dan S&P naik 6 persen. Hari Selasa itu Dow Jones ditutup di aras 21.237 dan S&P 2.529.

Sementara itu wadah coronavirus di Eropa kian parah. Dalam sehari, 531 orang terenggut nyawanya di seluruh Eropa pada 15 Maret, sekitar 80 persen dari kematian di seluruh dunia. Sampai 15 Maret, pengidap coronavirus di Eropa mendekati dua pertiga dari seluruh yang terjangkit di luar China.

Sejauh ini berbagai prediksi tentang dampak wabah coronavirus terhadap perekonomian global cukup beragam. kebanyakan kajian menunjukkan dampak yang relatif kecil atau moderat.

Kajian OECD meyakini bahwa wabah coronavirus tidak akan menyeret perekonomian dunia ke jurang resesi. Sebagian besar negara yang pertumbuhannya terkoreksi tahun ini akan rebound tahun 2021.

Untuk Indonesia, pertumbuhan tahun 2020 akan terpangkas 0,2 persen dari 5,0 persen menjadi 4,8 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali meningkat menjadi 5,1 persen pada tahun 2021.

Proyeksi OECD ini tampaknya belum memperhitungkan terjadinya epidemik global.

Asian Development Bank baru saja mengeluarkan kajian dampak coronavirus terhadap negara-negara Asia. Yang paling terdampak adalah Maldives, Cambodia, dan Thailand. Dampak terhadap Indonesia relatif kecil dengan menggunakan worse-case scenario sekalipun, mirip dengan kajian OECD.

Dampak kemerosotan sektor turisme terhadap produk domestik bruto (PDB) bagi Indonesia juga relatif kecil dibandingkan dengan Thailand, Singapura, Vietnam, dan Filipina.

Jika Indonesia berhasil mengendalikan penyebaran coronavirus dengan dengan strong public health response, pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan merosot tahun ini di kisaran 4,5 persen akan cepat rebound.

Sejauh ini indeks harga saham gabungan dan nilai tukar rupiah terkoreksi cukup dalam. Dibandingkan posisi akhir tahun lalu, sampai hari ini (18/3) IHSG terkoreksi 31,6 persen.

Menarik untuk mencermati peraga di bawah yang menunjukkan kemampuan mengendalikan penyebaran coronavirus menghasilkan kinerja pasar saham yang lebih baik.

Dalam dua hari terakhir, Nnlai tukar rupiah telah bertengger di atas Rp15.000 per dollar AS dan kian mendekati titik terendah Rp15.253 pada 11 Oktober 2018.

Kepemimpinan yang cepat tanggap dan mampu meyakinkan masyarakat dan pasar dalam menghadapi krisis akan sangat membantu pemulihan ekonomi. Kita berharap dengan begitu bisa melampaui krisis berat ini melewati V-shape, bukan U-shape.

Bersama Kita Bisa (Video)


Ekonomi Politik Faisal Basri – Cokro TV Episode 14

Hanya satu yang bisa dilakukan untuk menangani pandemi, yaitu solidaritas bersama. Simak selengkapnya penjelasan Faisal Basri di Ekonomi Politik Faisal Basri hanya di Cokro TV. –Redaksi Cokro TV

Selengkapnya bisa disaksikan di sini

Versi tulisan yang dimutakhirkan secara berkala bisa dilihat juga di blog ini.

Bersama Kita Bisa


Hand in hand

[Ditambah dan diperbarui 20 Maret 2020 pk.04:05]

World Health Organization (WHO) telah mendeklarasikan wabah coronavirus COVID-19 yang menyebar sangat cepat sebagai pandemik global pada 11 Maret 2020. Sudah 178 negara (91 persen) dari 195 negara di dunia terjangkit virus baru ini. Jadi tinggal 17 negara yang belum terjamah, sejauh ini.

China dapat meredam penyebaran coronavirus. Jumlah penderita baru berhasil ditekan hanya belasan orang saja. China juga berhasil menekan jumlah kematian setiap hari dari ratusan selama kurun waktu 10-23 Februari menjadi sekitar 8-13 orang saja pada periode 16-18 Maret.

Dari 80.928 orang yang pernah terjangkit di China, 70.420 di antaranya telah sembuh. Dikurangi yang meninggal dunia sebanyak 3.245 orang, kini jumlah pasien yang terinfeksi tinggal 7.263 orang, terdiri dari 4.989 orang (69 persen) dalam kondisi ringan dan 2.274 orang (31 persen) dalam kondisi serius atau kritis.

Sebaliknya, penyebaran meningkat pesat di luar China, terutama di Eropa yang menurut WHO telah menjadi episentrum pandemik. Sejak 15 Maret, jumlah yang terjangkit dan meninggal dunia di luar China telah melampaui yang terjadi di China.

* Per 20 Maret pk.03:55. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

Seraya melandai bahkan nyaris mendatar di China, peningkatan kasus terkonformasi coronavirus di luar Eropa meningkat pesat.

* Per 20 Maret pk.03:55. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

Peningkatan lebih kentara di luar China dibandingkan dengan di China terlihat dari data kasus baru. Kasus baru di China masing-masing hanya 21 orang pada 16-17 Maret. Sebaliknya, di luar China menunjukkan peningkatan eksponensial.

Jumlah kematian dalam lima hari terakhir mengalami lonjakan. Dari hanya 73 orang pada 1 Maret menjadi 228 orang pada 8 Maret, lalu meningkat nyaris dua kali lipat menjadi 448 orang pada 13 Maret, dan mencapai angka tertinggi sebanyak 686 orang pada 15 Maret. Sehari kemudian sedikit menurun, namun kembali melonjak keesokan harinya (17/3) menjadi 817 orang. Data sementara tanggal 19 Maret (GMT) sudah menembus 1.000 kematian.

* Per 20 Maret pk.03:55. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

Sejauh ini, korban meninggal terbanyak di luar China adalah Italia (2.503), Iran (988), Spanyol (533), Prancis (175), Amerika Serikat (113), dan Korea Selatan (84). Kematian di AS menyusul Korea pada 17 Maret. Presiden AS telah mendeklarasikan keadaan darurat nasional 13 Maret.

* Per 20 Maret pk.03:55. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

Saatnya seluruh negara berkolaborasi untuk mengatasi coronavirus, satu sama lain berbagi informasi serta belajar dari keberhasilan dan kegagalan. China sudah terbukti dalam waktu yang relatif cepat bisa menjinakkan coronavirus. Pengalaman banyak negara lain juga meyakinkan kita bahwa membuka diri dapat mempermudah penanganan. Kita berharap kasus aktif dan yang berstatus serius/kritis bisa segera ditekan semaksimal mungkin.

* Per 20 Maret pk.03:55. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

Karena semakin banyak yang sembuh dan sangat sedikit tambahan kasus baru, kasus aktif di China menurun hingga 7.264 orang dan yang dalam status kritis tinggal 2.274 orang. Sebaliknya, di kasus aktif di luar China meningkat dengan pola eksponensial.

* Per 20 Maret pk.03:55. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

Di antara yang menyandang kasus aktif, hanya lima persen yang dalam kondisi serius atau kritis.

* Per 20 Maret pk.04:05. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

Siapa pun bisa terjangkit coronavirus, tak peduli ras, suku, bangsa, agama, musim, maupun status/jabatan (mulai dari rakyat biasa, menteri, anggota parlemen, isteri perdana menteri).

Namun, siapa pun yang terjangkit, insya Allah bisa sembuh dan kemungkinan sembuhnya cukup tinggi. Yang perlu lebih waspada adalah orang berusia lanjut dan yang memiliki pre-existing condition. Semakin tua yang terjangkit, kemungkinan meninggal dunia lebih tinggi. Yang mengidap penyakit kardiovaskuler jika terjangkit coronavirus kemungkinan meninggalnya lebih tinggi. Menyusul kemudian yang mengidap diabetes, penyakit gangguan pernafasan kronis, tekanan darah tinggi, dan kanker.

Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/
As of 18 March 1:21 AM
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/
As of 18 March 1:21 AM

Bagaimana Kita Menyikapinya?

Sejauh ini pengidap coronavirus di Indonesia masih relatif sedikit, jauh lebih rendah ketimbang negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Boleh jadi lebih banyak yang belum terdeteksi. Untuk itu, tak ada jalan lain kecuali lebih meningkatkan kewaspadaan. Penetapan keadaan darurat perlu secepatnya diputuskan sebelum wabah kian meluas.

Pertama, belajar dari kasus negara lain. Di Eropa, Italia dan Spanyol adalah negara paling banyak terjangkit dan korban jiwa. Sementara itu, Jerman dan Swedia sudah ribuan warganya yang terjangkit, namun jumlah kematian sangat rendah, masing-masing 13 orang dan 6 orang. Dari yang berstatus masih kasus aktif (Jerman 6.189 orang dan Swedia 1.039 orang), yang dalam keadaan kritis masing-masing hanya dua orang.

Negara tetangga dekat kita, Malaysia dan Singapura masing-masing telah terjangkit sebanyak 566 orang dan 243 orang, namun tidak seorang pun yang meninggal dunia. Demikian juga dengan Israel dan Saudi Arabia (Asia); Portugal, Finlandia, dan Islandia (Eropa); Brazil (Amerika Selatan) yang jumlah penderitanya ratusan namun belum satu orang pun terenggut jiwanya.

* Per 19 Maret pk.17:03. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

Pola Indonesia mirip dengan Italia. Indonesia

* Per 19 Maret pk.17:03. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/
* Per 19 Maret pk.17:03. Sumber data menggunakan GMT.
Sourcehttps://www.worldometers.info/coronavirus/

Belajarlah dari kisah kegagalan dan keberhasilan negara-negara lain.

Kedua, Ibarat menghadapi perang, harus ada satu komando. Komandan harus kredibel dan kompeten agar diikuti seluruh jajaran di bawahnya. Mengingat musuh yang dihadapi adalah “hantu” virus yang tak kelihatan kasat mata, komandan harus memiliki pengetahuan khusus yang mendalam tentang musuh yang dihadapi dan dibantu oleh tenaga inti yang mengetahui seluk-beluk kekuatan dan kelemahan musuh. Kumpulkanlah para dokter spesialis ahli virus atau penyakit menular, ahli biologi, ahli farmasi, ahli kesehatan masyarakat, dan ahli komunikasi paling terkemuka yang kita miliki. Pilih salah satu dari mereka sebagai komandan.

Bisa juga komandan adalah sosok yang telah teruji membuktikan kepemimpinan yang mumpuni dalam menyelesaikan masalah besar, yang mampu mengoordinasikan segenap jajaran yang multisektoral dan multidisiplin, dan yang berhasil memobilisasikan segenap potensi bangsa. Komandan jenis ini dibantu oleh tim inti sebagaimana telah diutarakan di atas dan memperoleh kewenangan luas untuk mencairkan ego sektoral.

Kita berharap Presiden merevisi total desain dua tim khusus yang telah dibentuk, yaitu Satgas dan Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Coronavirus. Sebaiknya hanya ada satu tim saja yang langsung di bawah Presiden.

Seluruh kebijakan dan langkah-langkah strategis berasal dari unit atau tim di bawah Presiden itu. Unit atau tim ini secepat mungkin merekrut tenaga profesional terbaik yang ada di negeri ini.

Apa pun status yang ditetapkan, apakah keadaan darurat atau keadaan luar biasa, yang penting tim ini bisa keluar dari belenggu birokrasi dan gaya koordinasi dalam keadaan normal. Dengan begitu, diharapkan pula seluruh jajaran di daerah (provinsi dan kabupaten/kota) tunduk kepada garis komando tim/unit tunggal di bawah Presiden ini.

Tentara, polisi, menteri, birokrasi, aparat di daerah seluruhnya merupakan unsur pendukung.

Tim juga menyusun langkah-langkah untuk melibatkan seluruh elemen masyarakat demi untuk membatasi penyebaran wabah.

Setiap hari Tim memutakhirkan data yang terinci dan akurat. Di alam keterbukaan, informasi yang kredibel adalah salah satu kunci keberhasilan mengatasi desas-desus dan kesimpangsiuran.

Jika setiap hari masyarakat memperoleh informasi tentang kemajuan dalam memerangi coronavirus, maka akan terjaga kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dan segala langkah yang ditempuhnya.

Dalam keadaan luar biasa yang membutuhkan kebersamaan, agaknya amat bijaksana jika setiap kebijakan yang berpotensi besar memicu ketegangan baru atau memecah belah berbagai elemen bangsa dikesampingkan dulu. Langkah nyata segera adalah menarik kembali rancangan undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja.

Bersama kita bisa.

Penanganan Coronavirus Tak Bertaji


Data per 9 Maret pk.11:44.

Wabah coronavirus (COVID-19) terus menjelajah ke seantero penjuru dunia. Jejaknya telah hadir di setiap benua kecuali Antartika. Hingga Senin siang (9/3), lebih dari 110 ribu jiwa di 109 negara telah terjangkit virus yang asal muasalnya dari Wuhan, China.

Coronavirus jauh lebih dahsyat dari SARS yang terjadi pada 2002-2003. Dampaknya terhadap perekonomian dunia juga demikian.

Perekonomian China dalam kancah dunia tahun 2003 belum seberapa. Sekarang China sudah menjelma sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia.

Kecepatan penularan kini telah bergeser dari China ke luar China. Lebih dari seperempat yang pernah dan masih terjangkit berada di luar China, terbanyak di Italia. Selain terbanyak, Italia juga menjadi negara yang tercepat penambahan penderitanya dan terbanyak jumlah kematiannya di luar China. Di Asia, Iran terbanyak merenggut nyawa dan tercepat penambahan korban tertular.

Data 9 Maret sementara.
.Source: worldometer.info

Senin (8/3) sejauh ini tercatat sebagai hari paling mematikan dengan jumlah 228 orang wafat. Rekor sebelumnya, 158 orang, terjadi pada 23 Februari.

Data 9 Maret sementara
Source: worldometer.info

Sejauh ini tak ada yang bisa memperkirakan berapa banyak lagi negara yang bakal dijamah coronavirus dan hingga kapan bakal mereda atau sirna dari muka bumi. Obat mujarabnya pun belum tersedia.

Sampai hari Senin (9/3), berdasarkan pengumuman resmi pemerintah, korban yang positif terjangkit coronavirus di Indonesia hanya enam orang. Cara pemerintah menangani wabah coronavirus sangat buruk. Setiap pejabat tinggi seenaknya mengeluarkan komentar dan kebijakan. Sudah saatnya Presiden sebagai commander in chief menertibkan dengan keras jajaran di bawahnya. Karena, yang sedang kita hadapi mirip dengan perang.

Gambar

Segala daya upaya harus mengutamakan agar penularan tidak meluas. Celah sekecil apa pun harus ditutup, Kemungkinan munculnya cluster baru harus diantisipasi dan diisolasi agar terkendali dan tidak meluas.

Anggaran harus diprioritaskan bagi pengadaan perlengkapan dan alat pendeteksi dini dan pengujian menyeluruh serta penguatan tenaga medis yang cakap serta penyediaan informasi yang lebih rinci dan akurat. Semua itu bertujuan untuk meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah mampu mengendalikan wabah coronavirus, sehingga tidak menimbulkan kepanikan.

Strong public health response adalah kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan kredibilitas pemerintah.

Jangan buat kebijakan yang justru berpotensi meningkatkan penyebaran wabah. Jangan mengambil langkah tanpa pemahaman mendalam atas peta persoalan dan tanpa berdasarkan data.

Kebijakan pemerintah memberikan diskon tiket pesawat terbang serta pembebasan pajak hotel dan restoran bukanlah kebijakan yang tepat. Tanpa diskon pun tarif tiket pesawat dan hotel sudah dicukur habis-habisan oleh pengusaha. Tanpa dikomandoi pun, mereka sudah banting harga. Alihkan saja dana ratusan miliar itu untuk pengadaan peralatan, perlengkapan, dan pelatihan kilat bagi tenaga medis dan rumah sakit. Dana pengganti untuk daerah dari penghapusan pajak hotel dan restoran bisa dialokasikan untuk memperkokoh kapasitas daerah dalam menghadapi wabah, karena merekalah garda terdepan dalam memerangi coronavirus.

Silakan saja Bank Indonesia menurunkan bunga acuan, tetapi jangan berharap banyak bakal berdampak signifikan.

Identifikasilah kebijakan-kebijakan yang bisa meredam dampak negatif dari gangguan rantai pasokan akibat kesulitan penyediaan bahan baku dan komponen. Jika ada celah mengisinya dari produk lokal, genjotlah! Ini momentum bagus untuk memajukan industri dalam negeri, bahkan untuk mengisi celah pasar ekspor.

Dunia dibikin limbung oleh kehadiran coronavirus. Perekonomian dunia kian tidak menentu. Pasar finansial dunia goncang. Senin siang (9/3) harga minyak terjun bebas.

Harga 9 Maret pk.12:31.
Sumber: Wall Street Journal.

Antisipasilah dengan seksama dampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Bloomberg menghitung dampak coronavirus terhadap kemerosotan pertumbuhan ekonomi berbagai negara dengan mengedepankan empat skenario.

Skenario pertama, sebatas pukulan besar kepada China dan menyebar ke seluruh dunia. Jika ini yang terjadi, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tertekan sebesar 0,3 persen dari perkiraan baseline tanpa kehadiran coronavirus.

Skenario kedua (wabah menyebabkan disrupsi yang terlokalisir) tidak mencantumkan dampaknya terhadap Indonesia.

Untuk skenario ketiga (penularan yang menyebar luas), pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terpangkas sebesar 2,8 persen. Jika kita menggunakan baseline sebesar 5,0 persen untuk tahun 2020 sebagaimana diprediksi oleh Dana Moneter Internasional (IMF), maka pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bakal hanya 2,2 persen.

Yang paling suram adalah skenario keempat, yaitu pandemik global. Jika skenario ini yang terjadi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya 0,4 persen.

Semua kemungkinan di atas patut diwaspadai. Segala potensi yang berserakan harus kita himpun. Singkirkan dulu benih-benih yang berpotensi memecah belah kekuatan Bangsa.

Untuk itu, bekukan dulu rancangan undang-undang Omnibus Law Cipta lapangan Kerja. Singkirkan kalau landasan pijaknya lemah.

[Dikoreksi 9 Maret 2020. Kalimat dan peraga tentang pendatang dari China tidak dilarang ternyata tidak benar dan oleh karena itu dihapus.]