Menkeu Rajin Mencari Kambing Hitam


Nilai tukar rupiah terus merosot. Kemarin (19/8/2015), nilai tukar rupiah per 1 dollar AS adalah Rp 13.824. Sehari sebelumnya rupiah bertengger di titik terendah dalam 17 tahun terakhir, Rp 13.831 per dollar AS.

Kemerosotan nilai tukar rupiah bukanlah fenomena baru. Pelemahan rupiah sudah berlangsung empat tahun. Sepanjang sejarah, rupiah tidak pernah melemah sedemikian lama. Jadi masalah di balik pemelahan rupiah bersifat struktural, karena fondasi ekonomi kita lemah.

rp

Menteri Keuangan sangat naif dengan mengatakan pelemahan rupiah murni karena faktor eksternal. Banyak pihak luar yang disalahkan Menteri Keuangan, menteri lain, Gubernur BI, Presiden dan Wakil Presiden.

Berikut adalah sejumlah pemberitaan tentang ucapan Menteri Keuangan yang konsisten mengambing-hitamkan faktor eksternal.

http://finance.detik.com/read/2015/08/19/183727/2995935/6/dolar-as-nyaris-rp-13900-menkeu-tidak-ada-tekanan-internal?f9911023

http://www.antaranews.com/berita/482908/menkeu-sebut-pelemahan-rupiah-karena-faktor-eksternal

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/09/29/100100926/Menkeu.Rupiah.Melemah.Gara-gara.Yellen.Bukan.karena.UU.Pilkada

http://www.gainscope.co.id/menkeu-sebut-pelemahan-rupiah-karena-faktor-eksternal/

http://www.klikpositif.com/news/read/17372/menkeu-pelemahan-rupiah-karena-faktor-eksternal.html

http://economy.okezone.com/read/2015/01/07/278/1088921/rupiah-anjlok-pemerintah-salahkan-yunani

http://finance.detik.com/read/2015/01/07/141336/2796443/6/penjelasan-menteri-bambang-soal-anjloknya-rupiah-di-awal-tahun

http://sp.beritasatu.com/home/jangan-panik-meski-rupiah-melemah/80540

http://news.analisadaily.com/read/idealkah-nilai-tukar-rupiah-saat-ini/114030/2015/03/06

http://www.koran-sindo.com/read/947635/150/faktor-eksternal-dorong-pelemahan-rupiah-1420688386

Kalau benar murni faktor eksternal di belakang pelemahan rupiah, tentunya rupiah tidak seterpuruk mata uang negara tetangga.

currency

Risiko Besar Menghadang


Negeri kita tak lagi bertirai. Semua kejadian dapat disaksikan oleh dunia. Segala langkah dan ucapan harus serba terukur, karena semua bisa dinilai.  Tak bisa  lagi dipoles agar dapat nilai ekstra.

Sebulan terakhir indeks saham gabungan terpangkas 432 poin atau melorot 7,8 persen, dari 5.518,675 pada 31 Maret menjadi 5.086,425 pada 30 April.

Tahun lalu, tepatnya 2 April 2014, kinerja pasar saham Indonesia year to date dalam US$ terms terbaik di dunia. Namun, setahun kemudian (29 April 2015) terperosok menjadi kelima dari bawah. Yang lebih buruk dari Indonesia hanya Yunani, Turki, Mesir, dan Kolombia. (Berdasarkan senarai saham yang tertera di majalah The Economist: http://econ.st/1OHQ1eq). Hampir semua negara di seluruh kawasan mencatatkan pertumbuhan positif.

Posisi terkuat rupiah tahun ini hanya di level Rp 12.444 per dollar AS. Bahkan sempat mencapai titik terlemah sejak krisis pada 16 Maret 2015 di posisi Rp 13.237 per dollar AS. Pada 3o April 2015, kurs bertengger di posisi Rp 12.937 per dollar AS. Nilai tukar rupiah sudah melemah 10,9 persen dibandingkan setahun yang lalu.

Pertumbuhan kredit hanya 12,2 persen, di bawah target Bank Indonesia sebesar  15-17 persen untuk tahun 2015. Penjualan mobil turun 9,1 persen pada Januari dan merosot lebih dalam lagi sebesar 20,6 persen pada Februari dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.

Penjualan sepeda motor juga turun tajam, masing-masing 11,5 persen pada Januari dan 16,3 persen pada Februari tahun ini. Penjualan semen, makanan olahan, omzet perdagangan eceran semuanya turun.

Nilai ekspor terus menerus turun sejak tahun 2012 dan semakin parah pada Januari-Maret 2015 yang anjlok dua dijit yaitu 11,7 persen. Melesunya perekonomian juga ditunjukkan oleh penurunan impor nonmigas sebesar 5,0 persen pada Januari-Maret 2015.

Realisasi penerimaan pajak triwulan pertama tahun ini (Januari-Maret) baru mencapai 15,32 persen dari target penerimaan pajak 2015 dan turun 5,63 persen dibandingkan triwulan I 2014.

Menghadapi kondisi perekonomian yang mengalami pelemahan secara nyaris merata, saatnya menghimpun segenap potensi kekuatan, bahu membahu mengejar ketertinggalan. Jangan membuang-buang energi untuk sesuatu yang absurd, apalagi memperkeruh keadaan.

Dalam situasi yang semakin tak terkendali, pemimpin justru harus menunjukkan ia mampu memegang kendali penuh. Bertindak sebagai konduktor agar segenap pemain alat musik dan pelantun lagunya membaca partitur yang sama dan memahami gerak-gerik sang konduktor. Hanya dengan begitu pengunjung puas menikmati keanggunan alunan musik dan lagu. Pemimpin harus memiliki helicopter view, sehingga bias mensinergikan seluruh bawahannya untuk mencapai tujuan akhir bersama, bukan bertindak sendiri-sendiri sesuka hati.

Dinamika Perekonomian Indonesia di Tengah Turbulensi Perekonomian Global: Peluang dan Tantangan bagi Perekonomian Sumatera Selatan


Catatan: Berapa bagian dari naskah  ini sebagian sudah dimuat dalam dua tulisan sebelumnya bertajuk “Seberapa Tangguh Indonesia Menghadapi Potensi Krisis,” “Tak Bisa Melangkah Mundur,” dan “Pergeseran Kekuatan Ekonomi Dunia.” Tulisan ini mengalami perbaikan dari naskah yang dibacakan pada Orasi Wisuda Universitas Sjakhyakirti Palembang, 18 April 2015.

***

DINAMIKA PEREKONOMIAN INDONESIA DI TENGAH TURBULENSI PEREKONOMIAN GLOBAL: PELUANG DAN TANTANGAN BAGI PEREKONOMIAN SUMATERA SELATAN[1]

(Faisal Basri)[2]

Hari-hari belakangan ini kita kerap membaca di media massa kekhawatiran tentang pelemahan nilai tukar rupiah. Pada minggu kedua Maret 2015 nilai tukar rupiah menembus Rp 13.000 per dollar AS. Titik terendah pasca krisis tahun 1998 terjadi pada 16 Maret 2015, yaitu Rp 13.237 per dollar AS. Kemarin (Jumat 17 April 2015), kurs tengah Bank Indonesia tercatat Rp 12.863 per dollar AS. Pelemahan rupiah sebenarnya sudah cukup lama terjadi, yakni sejak Agustus 2011. Lihat Peraga 1.

Sejak awal Januari 2015, tidak hanya rupiah yang mengalami pelemahan, melainkan hampir semua mata uang dunia. Tercatat setidaknya rupiah menguat terhadap Euro, dollar kanada dollar Austrlia, dan ringgit Malaysia. Lihat Peraga 1a.

1] Naskah yang dipersiapkan untuk Orasi Ilmiah Wisuda Universitas Sjakyakirti, Palembang, 18 April 2015.

[2] Dosen pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Universitas Tanjung Pura.

1
1a

Kita pun menyaksikan dan langsung merasakan dampak dari volatilitas harga minyak dan komiditas lainnya. Sejak akhir tahun 2014, harga minyak mentah meluncur turun hingga mencapai titik terendah pada Januari 2015. Pemerintah Indonesia di bawah pemerintahan baru mengubah kebijakan subsidi minyak secara drastis sehingga kini kita dihadapkan pada harga bahan bakar minyak yang kian kerap berubah. Lihat Peraga 2.

2


Kedua contoh itu menyadarkan kita betapa lingkungan internasional sangat peka terhadap perkembangan ekonomi nasional dan tentu saja dunia usaha. Padahal, perubahan tidak sebatas kedua hal itu. Perubahan telah merambah hampir segenap aspek kehidupan. Oleh karena itu, mau tak mau kita harus kian memahami dinamika lingkungan global, tidak hanya di bidang ekonomi, tetapi juga sosial dan geopolitik.

Pergeseran Kekuatan Ekonomi Dunia

Hingga paruh pertama tahun 1990-an, produk domestik bruto (PDB) riil Benua Eropa dan Benua Amerika masih lebih besar ketimbang Benua Asia. Namun, pertumbuhan pesat yang berkelanjutan di negara-negara Asia pasca Perang Dunia II—seraya negara-negara Eropa dan Amerika cenderung mengalami perlambatan pertumbuhan—membuat pangsa Asia terus naik sampai akhirnya mengalahkan Eropa pada pertengahan 1990-an dan melampaui Amerika pada awal tahun 2000-an. Kini, kekuatan Asia telah jauh melampaui Eropa maupun Amerika, masing-masing sekitar 45 persen, 23 persen, dan 27 persen. Peranan Benua Afrika praktis tidak mengalami perubahan dalam setengah abad terakhir, hanya sekitar 5 persen. Lihat Peraga 3.

3

Berdasarkan PDB menurut paritas daya beli (Gross Domestic Product/GDP based on purchasing power parity/PPP) tahun 2013 versi Bank Dunia, empat negara Asia bertengger di jajaran sepuluh besar dunia, masing-masing China di posisi ke-2, India dan Jepang di posisi ke-3 dan ke-4, serta Indonesia di urutan ke-9. Benua Amerika hanya diwakili oleh dua negara yaitu Amerika Serikat di posisi puncak dan Brazil ke-7. Sisanya adalah empat negara Eropa, yaitu Jerman (ke-5), Rusia (ke-6), serta Prancis (ke-8) dan Inggris (ke-10). Pada tahun 2014, China menyusul Amerika Serikat sehingga berada di posisi puncak, sedangkan Indonesia naik satu peringkat (ke-8) menyusul Prancis. Lihat Peraga 4.

4

Asia juga unggul sebagai negara pengekspor. Dari 30 top exporters dunia, Asia menempatkan sepuluh negara. China lagi-lagi menjadi jawaranya. Posisi puncak sudah dinikmati China sejak tahun 2009, menggantikan posisi Jerman yang selama bertahun-tahun selalu di posisi pertama. Sembilan negara Asia lainnya adalah Jepang (ke-4), Korea (ke-7), Hong Kong (ke-9), Singapura (ke-14), India (ke-19), Taiwan (ke-20), Thailand (ke-24), Malaysia (ke-25), dan Indonesia (ke-27). Posisi Indonesia tahun 2013 naik empat peringkat dari tahun 2008. Kesepuluh negara Asia itu menguasai 30,2 persen ekspor dunia pada tahun 2013, meningkat dari 26,7 persen pada tahun 2008. Lihat Peraga 5.

5

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, bahkan tertinggi di dunia serta keterbukaan kebanyakan negara Asia membuat impor mereka pun naik pesat. Semua kawasan di dunia semakin membidik pasar Asia yang menjanjikan. Impor Asia meningkat dari 26,4 persen pada tahun 2008 menjadi 32,2 persen pada tahun 2013. Lihat Peraga 6.

6

Tak heran jika Asia-Pasifik menjadi mesin utama perdagangan dunia. Perdagangan Trans-Pasifik tumbuh pesat mengalahkan perdagangan Trans-Atlantik. Hal ini antara lain terlihat dari nilai perdagangan antara Amerika Serikat dengan Asia-Pasifik yang sejak tahun 1980-an telah melampaui perdagangan Amerika Serikat dengan Eropa. Lihat Peraga 7. Tidak berlebihan muncul julukan abad ini merupakan “Abad Asia”.

7

Tak pelak lagi, Asia semakin solid sebagai kesatuan kawasan sebagaimana terbukti dari porsi perdagangan intra-Asia yang meningkat konsisten sejak akhir 1990-an dan sebaliknya perdagangan Asia dengan Amerika Serikat dan Eropa turun sangat tajam dari sekitar 37 persen di akhir 1990-an menjadi hanya 23 persen pada tahun 2012. Lihat Peraga 8.

8

Peranan Asia yang kian meningkat dalam percaturan ekonomi dunia membuat kawasan ini akan semakin menjadi tulang punggung utama perekonomian dunia. Pada tahun 2015 sumbangan Asia baru mencapai sekitar 34 persen dalam PDB dunia (World GDP). Pada tahun 2030 diproyeksikan naik menjadi 40 persen dan pada tahun 2050 peranannya akan lebih dari separuh PDB dunia. Lihat Peraga 9.

9

Prospek yang cukup menjanjikan itu mendorong arus masuk penanaman modal asing langsung (foreign direct investment inflows). Dari 778 miliar dollar AS penanaman modal asing langsung yang mengalir ke negara berkembang, sebanyak 426 miliar dollar AS atau 55 persen menuju Asia. Asia Timur dan Asia Tenggara merupakan tujuan investasi yang paling menarik dengan menyerap sebesar 347 miliar dollar AS atau 81 persen dari keseluruhan penanaman modal asing langsung di Asia.[1]

Mencermati Perubahan Mendasar Perekonomian Dunia

Mengiringi pergeseran kekuatan ekonomi dunia, muncul berbagai perubahan yang menjadi fenomena baru. Pertama, gejolak semakin kerap terjadi. Hampir semua gejolak itu dipicu oleh krisis keuangan sebagai akibat dari cengkeraman financially-driven capitalism.Uang telah menjelma menjadi komoditas yang diperjualbelikan, tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat tukar (medium of exchange), penyimpan nilai (store of value), dan unit perhitungan (unit of account).

Sudah barang tentu, pemilik modal berada di atas angin. Mereka leluasa memutarkan uangnya 24 jam ke seantero pasar finansial dunia dan mengakumulasi modal dengan cepat dalam suatu tatanan yang mengarah pada zero sum game. Instrumen yang diperjualbelikan tidak sebatas surat berharga seperti saham dan berbagai jenis surat utang yang dituruntemurunkan seperti subprime mortgage yang menjadi pemicu krisis finansial gobal tahun 2008.

Kedua, harga komoditas tidak lagi semata-mata ditentukan oleh interaksi permintaan-penawaran fisik tetapi sudah terseret ke dalam kegiatan spekulasi sehingga terjadilah financialization of commodities. Surat berharga dengan underlying komoditas ini nilainya berlipat ganda dari nilai transaksi pertamanya sehingga membuat harga komoditas semakin bergejolak.

Masih banyak lagi fenomena yang menyertai financially-driven capitalism yang telah mendunia, seperti ketimpangan yang semakin parah, degradasi lingkungan, dan konsumerisme eksesif.

Kesemua perkembangan dan fenomena baru itu merembes ke seluruh negara termasuk Indonesia. Perbedaannya sebatas intensitas pengaruh dan daya tahan setiap negara.

Perekonomian Indonesia

Setelah mengalami krisis parah pada tahun 1998, perekonomian Indonesia mengalami perubahan mendasar. Sektor perbankan yang sempat semaput akibat didera krisis tahun 1998 telah mengalami konsolidasi. Pembelajaran krisis 1998 melahirkan perbankan yang lebih berhati-hati dan sistem pengawasan ekstra ketat. Ada yang harus dibayar untuk itu, yakni ekspansi kredit perbankan terbata-bata sehingga porsinya terhadap PDB relatif sangat rendah dibandingkan dengan negara tetangga. Lihat Peraga 10.

10

Pasar finansial lainnya demikian pula. Nilai pasar obligasi Indonesia sangat rendah, baik untuk obligasi negara maupun obligasi korporasi. Bahkan pencapaian Indonesia lebih rendah ketimbang Vietnam sekalipun. Lihat Peraga 11.

11

Sekalipun pasar saham tumbuh pesat dalam lima tahun terakhir, namun nilai kapitalisasi pasarnya juga tergolong rendah dibandingkan dengan Asean-5 (Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina). Lihat Peraga 12.

12

Pasar valuta asing juga relatif cetek. Pelemahan nilai tukar rupiah yang masih terus berlanjut tidak sepenuhnya disebabkan oleh rencana The Fed menaikkan suku bunga, melainkan juga oleh transaksi di pasar valuta asing yang relatif sangat tipis, hanya sekitar dua miliar dollar AS sehari, padahal kebutuhan valuta asing tiga BUMN (Pertamina, PLN, dan Garuda) saja seharinya sudah mencapai ratusan juta dollar AS.

Beberapa faktor fundamental yang menopang rupiah sebetulnya justru menunjukkan perbaikan. Kemerosotan harga minyak di pasar dunia menyebabkan impor minyak Indonesia turun sangat tajam selama Januari-Februari 2015 dibandingkan periode yang sama tahun 2014, yaitu masing-masing sebesar 44,39 persen untuk impor minyak mentah dan 44,86 persen untuk impor bahan bakar minyak (BBM). Sedemikian besar pengaruh penurunan harga minyak ini terlihat dari transaksi perdagangan minyak Februari 2015 yang mulai surplus kembali setelah lebih dari 10 tahun (sejak 2003) selalu mengalami defisit. Perbaikan transaksi perdagangan minyak membuat transaksi perdagangan total dalam dua bulan pertama tahun 2015 juga mencatatkan suplus setelah selama 2012-2014 mengalami defisit.

Surplus perdagangan memberikan sumbangsih terhadap perbaikan defisit akun lancar (current account). Namun, karena surplus transaksi modal (modal portofolio, penanaman modal asing langsung, dan modal lainnya) lebih besar dari defisit akun lancar, maka neraca pembayaran Indonesia pada triwulan pertama tahun ini (Januari-Maret) diperkirakan mengalami surplus, sehingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah mereda. Berbeda dengan kebanyakan negara emerging markets, Indonesia tidak mengalami tekanan modal keluar (capital outflows). Lihat Peraga 13. Kondisi demikian patut dijaga dan dipertahankan agar sovereign rating Indonesia lebih baik lagi.[2]

13

Faktor itulah yang antara lain membuat daya tahan Indonesia terhadap gejolak eksternal cukup tangguh, walaupun ketangguhannya turun dibandingkan kondisi sebelum krisis finansial global tahun 2008. Daya tahan Indonesia jauh lebih baik ketimbang India yang tergolong rentan. Lihat Peraga 14.

14

Walaupun tekanan eksternal tidak separah seperti yang dialami beberapa negara emerging markets, perekonomian Indonesia masih dihadapkan pada beberapa kendala struktural. Salah satu yang terpenting adalah masih dangkalnya sektor finansial seperti tercermin dari financial development index.[3]

Selain itu, proporsi penduduk dewasa yang memiliki akun di lembaga keuangan formal (financial inclusion index) masih sangat rendah. Walaupun mengalami peningkatan tajam dari 19,6 persen pada tahun 2011 menjadi 36,1 persen pada tahun 2014, porsi penduduk dewasa yang memiliki akun di lembaga keuangan jauh tertinggal dibandingkan rata-rata negara tetanChina 78,9 persen, Thailand 78,1 persen) dan juga rata-rata negara Asia Timur dan Asia Tenggara (69 persen). Lihat Peraga 15.

15

Peranan sektor finansial dalam perekonomian ibarat jantung dan uang ibarat darah di dalam tubuh manusia. Jika darah yang beredar dalam tumbuh relatif sedikit, maka tubuh cepat lemas. Jika dipaksakan berlari kencang risikonya mudah semaput. Jika darah mengalir tidak merata ke sekujur tubuh, maka ada organ tubuh yang bisa mengalami gangguan fungsional.

Sektor finansial yang merupakan jantung perekonomian sudah barang tentu harus prima agar bisa berfungsi menyedot dan memompakan darah (uang) dalam jumlah yang cukup dan merata ke sekujur tubuh (sektor perekonomian). Oleh karena itu, salah satu tantangan terbesar untuk memacu pertumbuhan lebih tinggi dan berkelanjutan adalah membenahi sektor finansial atau mengupayakan pendalaman sektor finansial (financial deepening).

Mencermati kondisi obyektif di atas, tampaknya target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar rata-rata 7 persen selama kurun waktu 2015-2019 amat sulit tercapai kecuali dengan upaya ektra keras.

Yang tak kalah penting adalah pembenahan kelembagaan, yakni bagaimana secara efektif mentransformasikan extractive political and economic institutions menjadi inclusive political and economic institutions. Hanya dengan begitu pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan bisa terwujud. Lihat Peraga 16.

16

Prospek Perekonomian Sumatera Selatan

Provinsi Sumatera Selatan memiliki bekal yang cukup untuk mengarungi segala tantangan di tengah berbagai perubahan di tingkat dunia maupun nasional. Sejarah membuktikan kejayaan Sriwijaya pada abad ke-9 ditandai dengan kekuasaannya hingga ke Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Kerajaan Sriwijaya menguasai jalur perdagangan di Asia Tenggara dan memiliki pengaruh kuat di jalur perdagangan antara China dan India.

Struktur perekonomian Sumatera Selatan tergolong cukup berimbang antara sektor penghasil barang dan sektor jasa. Masih dominannya sektor penghasil barang menjadi modal penting untuk memelihara pertumbuhan berkelanjutan dan yang berkeadilan.

Tantangan terbesar boleh jadi adalah mendorong sektor industri manufaktur agar bisa tumbuh lebih cepat sehingga bisa menggantikan peranan sektor pertambangan yang sampai kini menjadi tulang punggung utama perekonomian. Dengan kata lain, prospek perekonomian Sumatera Selatan bakal lebih cerah jika berhasil mentransformasikan perekonomian dari dominasi sektor ekstraktif menjadi perekonomian yang lebih bertumpu pada penguatan industri seraya menjaga sektor pertanian tetap tumbuh cukup memadai untuk mempertahankan Sumatera Selatan sebagai lumbung pangan.

Dengan landasan sektor penghasil barang yang kuat (sektor pertanian, sektor pertambangan, dan sektor industri manufaktur), pertumbuhan sektor jasa yang mulai menggeliat dalam beberapa tahun terakhir bakal lebih sehat. Karena, bagaimanapun, sektor jasa yang sehat baru bisa terwujud jika sektor penghasil barang juga tumbuh sehat.

Tiada kata terlambat bagi Sumatera Selatan untuk mempersiapkan diri agar kekayaan alamnya, terutama yang tidak terbarukan atau non-renewable resources menjadi modal untuk memodernisasikan perekonomian dan menyejahterakan rakyatnya. Sumber kekayaan alam yang cukup melimpah jangan sampai menjadi kutukan, melainkan harus menjadi berkah.

Mari kita tengok pembelajaran dari kisah Raja Mesir (Fir’aun) yang bermimpi melihat tujuh lembu gemuk dan tujuh yang kurus serta tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh yang kering (QS 12:46). Tak seorang pun ahli penerjemah mimpi Fir’aun yang bisa menjelaskan makna di balik mimpi itu kecuali Nabi Yusuf.

Nabi Yusuf mengajarkan tentang teori siklus bisnis (business cycle). Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam 7 tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang 7 tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.” (QS 12:47-49)

Jika kita belajar dari ilmu Nabi Yusuf, maka kita tidak akan lupa diri ketika harga batubara, minyak kelapa sawit, dan karet meroket. Sebaliknya, kita pun tidak akan terperanjat dan terpukul ketika harga-harga komoditas itu jatuh.

Sumber daya alam yang relatif melimpah di Sumatera Selatan menjadi modal dasar untuk memodernisasikan perekonomian dan menjadi bekal untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia. Jangan sampai kekayaan sumber daya alam justru menjadi kutukan (resource curse), melainkan harus menjadi berkah bagi rakyat Sumatera Selatan.

Salah urus sumber daya alam tidak saja menjadi ancaman bagi pembangunan berkelanjutan tetapi juga ancaman bagi demokrasi. Ada baiknya kita mengingat kembali peringatan Alexis de Tocqueville:

“A democratic power is never likely to perish for lack of strength or of its resources, but it may very well fall because of the misdirection of its strength and the abuse of its resources.”  (Sebuah kekuatan Demokratik kemungkinan besar tak akan binasa/lenyap dikarenakan minimnya kekuatan atau kekurangan sumber dayanya, tetapi kejatuhannya bisa disebabkan oleh salah tujuan/penyesatan dari kekuatan tersebut dan penyalahgunaan sumber daya.)

Sudah saatnya generasi muda maju ke jajaran terdepan menyongsong tantangan baru, menguakkan dan membentuk Indonesia baru di tengah proses “Indonesia in making” untuk membawa Indonesia ke pintu gerbang kejayaan sebagaimana telah terwujud pada masa kejayaan Sriwijaya.

Kita usung terus semangat perubahan. Tiada kata putus asa. Bentangkan terus asa. Meminjam pesan Martin Luther King Jr:

“We must accept finite disappointment, but we must never lose infinite hope.”

Makin banyak contoh perubahan nyata di berbagai negara justru terjadi di tingkat lokal. Kebangkitan bersemi di mana-mana di tengah pemerintahan nasional justru mengalami disfungsional. Di Amerika Serikat begitu. Di Indonesia juga tampaknya demikian. Di banyak negara Timur Tengah mengalami kondisi yang lebih memilukan.[4]

Pengalaman nyata Rektor Universitas Sjakhyakirti yang menjadi salah seorang pelopor memajukan energi terbarukan sangat membanggakan. Pohon Kaliandra sebagai sumber energi terbarukan bisa dipanen dalam waktu hanya sembilan bulan. Dengan teknologi sederhana, kayu dari hasil panen diolah menjadi sejenis briket setara dengan batubara berkalori 6 sanpai 7. Pohon Kaliandra ditanam di antara pohon Kalimuru yang menghasilkan sawn timber. Kalimuru ini bisa di panen setelah berusia 5 tahun. Bunga Kaliandra sangat disukai oleh lebah sehingga membuka kegiatan ekonomi produktif tambahan. Selain itu, bisa punya mengembangkan pohon Jerenang yang merambat di batang pohon Kaliandra. Pohon Jerenang menghasilkan resin yang bisa digunakan sebagai zat pewarna alami untuk tekstil atau kain. Dengan Pengembangan terpadu kita bisa membangun desa mandiri energi dan desa mandiri sejahtera yang ramah lingkungan.

Pohon Kaliandra dibalut pohon Jernang//Di sela-sela pohon Kalimuru yang kokoh menaungi//Lulusan Universitas Sjakhyakirti siap jadi pejuang//Sarjana terpuji dan mumpuni.

Bergabunglah dengan gelombang perubahan yang sedang menggeliat. Perpanjang senarai tokoh-tokoh muda lokal, beberapa di antaranya: Tri Rismaharini (Walikot Surabaya), Ridwan Kamil (Walikota Bandung), Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng), Bima Arya (Walikota Bogor), Hugua (Bupati Wakatobi), Suyoto (Bupati Bojonegoro), Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah).

***


[1] Lihat data terinci dalam publikasi United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), World Investment Report 2014, hal. xiv.

[2] Sejauh ini empat dari lima Rating Agencies terkemuka (Moody’s, Fitch, Rating and Investment, dan Japan Credit Rating Agency) telah memasukkan Indonesia dalam kategori investment grade( setara BBB-). Tinggal Standard & Poor’s yang masih menempatkan Indonesia satu notch di bawah investment grade (BB+)

[3] Publikasi World Economic Forum (WEF) tentang ini menunjukkan Indonesia berada di urutan ke-50 dari 62 negara yang disurvei. Di antara negara Asean, hanya Vietnam yang berada di bawah Indonesia (ke-52). Selebihnya di atas Indonesia, yaitu Singapura (ke-4), Malaysia (ke-18), Thailand (ke-34), dan Filipina (ke-49). Semua negara BRICS juga lebih tinggi dari Indonesia, yaitu Brazil di urutan ke-32, Rusia ke-39, India ke-40, China ke-23, dan Afrika Selatan ke-28).

[4] Tengok buku femomenal Benyamin R. Barber, If Mayors Ruled the World: Dysfunctional Nations, Rising Cities, New Haven and London: Yale University Press, 2014.

[

Indeks Harga Saham Indonesia (IDX) Kembali ke Zona Positif


Image

Indeks harga saham Indonesia (IDX) selama tiga hari berturut-turut mengalami kenaikan. Hari ini (10/09) IDX naik tajam sebesar 166,88 poin atau 4 persen ke aras 4.358,143. Kenaikan ini membuat pertumbuhan year to date (ytd) kembali positif, hampir 1 persen. Sedangkan untuk year on year (yoy) lebih tinggi lagi, yaitu 4,75 persen.

Dalam $ terms, IDX ytd maupun yoy masih negatif karena kemerosotan rupiah yang cukup besar. Dua hari terakhir nilai tukar rupiah sedikit menguat. Hari ini kurs tengah BI Rp 11.180 per dollar AS.

Menduga Aliran Dana “Panas”


Ada satu pos di neraca pembayaran dengan nama net errors & omissions (NEO) atau selisih perhitungan bersih. Pos ini bukan merupakan transaksi, melainkan sebagai penampung kesalahan pencatatan dan selisih perbedaan penghitungan. Kesalahan pencatatan rasanya tak signifikan, sehingga bisa dikatakan sebagian besar NEO mencerminkan selisih perhitungan.

Selisih perhitungan muncul karena berbagai sebab. Misalnya, ekspor dalam dokumen PEB (pemberitahuan ekspor barang) tercatat 100 juta dollar ÀS, tetapi aliran dana yang masuk ke Indonesia hanya 75 juta dollar AS. Selisih 25 juta dollar AS dicatat di NEO dengan tanda negatif. Sebaliknya, jika ada aliran dana masuk tetapi tak jelas asal usulnya, maka besarnya dana masuk itu dicatat di NEO dengan tanda positif (plus).

Contoh lain, warga Indonesia membeli dollar AS di pasar valuta asing atau money changer untuk tujuan yang tidak diketahui. Uang itu disimpan di safe deposit box atau di “bawah bantal”. Maka dollar berkurang di pasar dengan jumlah yang dicatat di NEO dengan tanda negartif (minus).

Indonesia beberapa kali mengalami NEO positif. Artinya, ada dana tak jelas yang masuk, bisa bermotifkan pencucian uang, bisa juga motif lain.

Sejak tahun 2008 NEO selalu negatif (minus). Ini menandakan dana bersih (neto) yang tidak jelas juntrungannya lebih banyak menyedot cadangan devisa atau net capital outflow. Dalam kajian pelarian modal NEO kerap dijadikan sebagai proxy-nya.

neo

Sejak tahun 2008 NEO berfluktuasi. Terendah tahun 2008 sebesar -238 juta dollar AS dan tertinggi tahun 2011 sebesar -3,4 miliar dollar AS. Tahun 2012 turun menjadi 0,5 miliar dollar AS. Namun, selama semester I-2013 naik kembali cukup tajam menjadi -1,3 miliar dollar AS. Hal inilah yang menambah tekanan pada neraca pembayaran dan pemburukan rupiah.

Selama kurun waktu 2008-semester I-2013, akumulasi NEO mencapai 9,9 miliar dollar AS. Harta kekayaan pejabat dan warga Indonesia lainnya dalam dollar berkontribusi terhadap akumulasi NEO yang nilainya lumayan besar, lebih dari 10 persen cadangan devisa. Jika para pejabat dan warga Indonesia lainnya yang beternak dollar menjual dollarnya, maka kontribusinya terhadap NEO akan positif, juga positif terhadap cadangan devisa dan nilai tukar rupiah.

Perkembangan Kekayaan US$ Presiden SBY


Negeri ini sangat membutuhkan suri tauladan dari para pemimpinnya, terutama pemimpin tertinggi, apalagi ketika sedang mengalami krisis. Presiden bisa memelopori penguatan rupiah dengan menjual kekayaannya dalam dollar AS. Presiden menunjukkan kepada rakyat bersedia lebih dahulu sedikit “berkorban” demi kemaslahatan perekonomian dan rakyat banyak.

sby

Sebagian besar data berdasarkan LHKPN dari KPK. Pada tahun 2004 kekayaan Presiden SBY dalam bentuk dollar AS masih nihil. Kekayaan SBY dalam dollar AS baru muncul tahun 2007. Setelah itu jumlahnya meningkat pesat hingga mencapai lebih dari setengah juta dollar AS atau 42 persen dari kekayaan total.

Saya menemukan cukup banyak yang berlatar belakang tentara/polisi dengan  kekayaan dalam valuta asing senilai 100.000 dollar AS atau lebih. KASAD, Jenderal Moeldoko memiliki 450.000 dollar AS. Irjen Saud Usman Nasution (Kapolda Sumsel) memiliki 100.000 dollar AS.

Di jajaran pimpinan DPR muncul nama Priyo Budi Santoso dengan kekayaan dalam valas sebesar 195.960 dollar AS berdasarkan pelaporan tanggal 1 Desember 2009. Juga ada nama Lukman Hakim Saefuddin dengan kekayaan dalam valas sebesar 102.274 dollar AS.

Di jajaran eksekutif yang menonjol adalah Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, dengan kekayaan mata uang asing sebesar 626.677 dollar AS (berdasarkan LHKPN 2009). Ada juga M. Chatib Basri, Kepala BKPM dan Menteri Keuangan) yang berdasarkan LHKPN 2012 memiliki 365.506 dollar AS.

Saya sekedar menyampaikan beberapa petinggi negeri saja yang telah saya cek ulang berkali-kali dan jumlahnya 100.000 dollar atau lebih. Jumlah itu sebatas yang dilaporkan kepada KPK atau Ditjen Pajak.

Data yang disajikan tidak boleh jadi sudah tidak mencerminkan keadaan dewasa ini. Semoga mereka menjadi pelopor penguatan rupiah. Semoga kekayaan dollarnya sudah banyak yang ditukarkan ke rupiah.

Salah Kaprah Menghitung Nilai Rupiah


Seminggu ini halaman depan media massa dipenuhi berita kemerosotan rupiah dan kejatuhan harga saham. Ada yang mengganggu pada pemberitaan tentang besaran kemerosotan nilai tukar rupiah.

Ambil contoh cuplikan ini: “Sementara kurs tengah BI menunjukkan nilai rupiah turun 72 poin atau 0,67 persen ke level Rp 10.795 per dollar AS.” (Kompas, 23 Agustus 2013, hal. 1 dan 15.)

Angka 0,67 persen didapat dari kurs tanggal 22 Agustus 2013 (Rp 10.795 per dollar AS) dibandingkan dengan kurs sehari sebelumnya (Rp 10.723 per dollar AS) atau bisa dirumuskan

(Rp 10.795 – Rp10.723) / Rp 10.723 x 100 persen = +0,67145 persen.

Jika disederhanakan kita dapatkan angka +0,67 persen yang persis dengan isi berita.

Angka +0,67 persen itu sebetulnya bukan besaran kemerosotan rupiah, melainkan besaran penguatan dollar AS, karena yang menjadi acuan adalah dollar AS. Bukti penguatnya adalah tanda positif, yang berarti memang dollar AS-lah yang menguat, sebagaimana terlihat di bawah ini.

Tanggal 21 Agustus US$1 = Rp 10.723

Tanggal 22 Agustus US$1 = Rp 10.795

Seharusnya, kalau kita hendak menghitung perubahan nilai rupiah, acuannya harus rupiah, sebagai berikut.

Tanggal 21 Agustus Rp 1 = US$0.000093255748

Tanggal 22 Agustus Rp 1 = US$0.00009263547

Dengan menggunakan formula persentase perubahan yang sama, kita akan memperoleh angka penurunan nilai rupiah sebesar -0,66698. Jika disederhanakan menjadi dua angka di belakang koma, kita memperoleh angka yang persis sama dengan isi berita, yaitu -0,67 persen. Tanda minus berarti memang nilai rupiah merosot.

Jika faktor tanda (plus dan minus) diabaikan, perbedaan kedua perhitungan sangat kecil. Namun, jika kita menghitung perubahan untuk kurun waktu yang lebih panjang, perbedaannya semakin melebar.

Image

Baris pertama membandingkan kurs 23 Agustus 2013 dengan kurs terkuat rupiah pada 2 Agustus 2011. Perhitungan yang benar menghasilkan kemerosotan rupiah sebesar 22,01 persen, sedangkan cara yang salah kaprah menghasilkan kemerosotan sebesar 28,23 persen dan baris ketiga perubahan rupiah year to date.

Baris kedua menghitung perubahan nilai tukar rupiah year on year dan baris ketiga untuk year to date. Ada pun baris keempat dan kelima masing-masing menghitung perubahan rupiah pada posisi 23 Agustus 2013 dibandingkan sebulan yang lalu dan seminggu yang lalu.

Memang, agak kurang menyenangkan menghitung dengan cara yang benar, karena menghasilkan angka di belakang koma yang banyak, nol koma nol nol nol nol ……. Semoga nanti, kalau rupiah sudah diredenominasi akan lebih nyaman.

Semoga pula tidak lagi terjadi salah kaprah yang lain seperti ucapan Wakil Presiden: “Wakil Presiden Boediono saat kuliah umum peserta program pendidikan Lemhannas menolak istilah pelemahan rupiah. Bagi mantan Gubernur BI itu, kondisi di pasar valuta ini lebih mengindikasikan terjadinya fenomena penguatan dollar AS. Maka, istilah pelemahan rupiah perlu diganti dengan istilah penguatan dollar AS. ”Implikasi kebijakan (dari kedua istilah tersebut) berbeda. Jangan sampai kita salah mendefiniskan masalah yang terjadi kini,” ujarnya.” (“ADB: Jangan Anggap Enteng,” Kompas, 23 Agustus 2013, hal. 1 dan 15.)

Paket Kebijakan untuk Redam Gejolak


Indeks saham (IDX) minggu ini turun 8,7 persen. Untuk year to date turun 3,2 persen, sedangkan year on year masih tumbuh positif 0,2 persen.

Yang parah adalah nilai tukar rupiah. Minggu ini nilai tukar rupiah merosot 4,20 persen. Selama bulan Agustus rupiah merosot 5,25 persen, sedangkan year to date dan year on year  turun masing-masing 10,86 persen dan 12,47 persen. Jika dibandingkan dengan nilai terkuatnya Rp 8.460 pada 2 Agustus 2011, nilai tukar rupiah sudah terkikis sebesar 22,01 persen.

Pidato Presdien kala mengantar RAPBN 2014 di depan DPR tampaknya tak bisa meredam pemburukan tersebut. Tampaknya pemerintah menyadarinya dan pada  Jumat, 23 Agustus 2013, pemerintah mengumumkan empat paket kebijakan yang lebih terukur untuk menjinakkan gejolak perekonomian, sebagai berikut:

Paket I untuk menekan defisit akun semasa (current account) dan menjaga nilai tukar rupiah, meliputi: (1) mendorong ekspor dengan memberikan deduction tax bagi perusahaan yang mengekspor minimal 30 persen dari produksi; (2) menurunkan impor migas dengan meningkatkan porsi penggunaan biodiesel dalam solar dari yang sekarang sekitar 2 persen menjadi 10 persen yang bersifat mandatory agar mengurangi konsumsi solar yang berasal dari impor; (3) meningkatkan tarif PPnBM atas barang impor seperti mobil CBU dan barang bermerek dari yang sekarang 75 persen menjadi 125 persen sampai 150 persen; dan (4) mendorong ekspor mineral dengan memberikan relaksasi prosedur terkait kuota.

Paket II untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat dengan tetap menjaga agar defisit APBN di kisaran 2,4%, meliputi: (1) tax deduction bagi industri padat karya; (2) Relaksasi fasilitas kawasan berikat; (3) penghapusan PPN buku nonfiksi, (4)  Penghapusan PPnBM atas barang yang sudah tak tergolong mewah; (5) menyusun formula UMP untuk mencegah PHK dengan skema kenaikan UMP yang mengacu pada KHL produktivitas dan pertumbuhan ekonomi dengan membedakan kenaikan upah minimum UMK, industri padat karya, dan industri padat modal; (6) insentif untuk  jangka menengah berupa addition deduction untuk kegiatan litbang; dan (7) optimalisasi penggunaan tax allowance untuk insentif investasi

Paket III untuk menjaga daya beli masyarakat dan inflasi, meliputi: Berkoordinasi dengan BI yang bertanggung jawab dari sisi moneter, sedangkan pemerintah akan meredam harga volatile food dengan  mengubah tata niaga daging sapi dan hortikultura dari pembatasan sistem kuota menjadi mekanisme yang andalkan harga.

Paket IV untuk mempercepat realisasi investasi, meliputi: (1) penyederhanaan perizinan dengan mengefektifkan fungsi pelayanan satu pintu dan menyederhanakan jenis perizinan yang menyangkut kegiatan investasi. Misalnya, perizinan investasi hulu migas dari 69 jenis menjadi hanya 8 perizinan; (2) segera meevisi PP tentang DNI (Daftar Negatif Investasi) yang lebih ramah bagi investor; (3) pempercepat program investasi berbasis agro, CPO, kakao, rotan, mineral, logam, bauksit, nikel dan tembaga dengan memberikan insentif berupa tax holiday dan tax allowance serta percepatan renegosiasi kontrak karya dan PKP2B.

Pemburukan berbagai indikator makroekonomi sebetulnya sudah terjadi cukup lama. Paket yang dikeluarkan minggu ini setidaknya diharapkan bisa menahan pemburukan yang sudah cukup dalam.

Tekanan utama terhadap defisit current account adalah impor BBM. Pemerintah menjawabnya dengan kebijakan menambah porsi biodiel dalam solar menjadi 10 persen dan bersifat mandatory. Yang bisa paling diandalkan adalah biodiesel dari CPO. Tampaknya untuk mewujudkannya tak bisa cepat dalam hitungan 1-2 bulan. Kalaupun ini bisa menurunkan impor BBM (solar), ongkosnya adalah penurunan ekspor CPO. Jadi secara neto tak akan berarti untuk memperbaiki defisit transaksi perdagangan dan akun semasa. Tidak mudah juga dengan serta merta mengubah alokasi CPO untuk biodiesel karena pengusaha sudah menandatangini kontrak penjualan ekspor jangka panjang.

Peningkatan PPnBM atas barang-barang impor bermerek seperti mobil sport CBU juga tak banyak membantu. Jumlah mobil mewah impor hanya bilangan ribuan. Serta merta sirna penghematan impornya dengan akan bertambahnya produksi mobil yang mencapai ratusan ribu karena pemberian  insentif pembebasan PPnBM untuk “mobil murah dan ramah lingkungan”. Produksi mobil tahun ini diperkirakan lebih besar dari tahun lalu dan bisa mencapai 1,2 juta unit.

Yang segera bisa dilakukan adalah mendorong ekspor mineral. Itu pun tak bisa terlalu banyak diharapkan, karena walaupun colume ekspor meningkat, nilainya tak meningkat secara proporsional mengingat harganya sedang menurun.

Pada paket II, sebagian tujuan bisa tercapai, terutama menjaga defisit APBN. Yang lebih pelik adalah persoalan UMP.

Paket III juga bisa terlaksana tanpa banyak hambatan. Biang keladi kenaikan harga daging dan holtikultura memang tata niaga yang buruk dan menimbulkan praktik pemburuan rente.

Sedangkan Paket IV tidak ditujukan untuk menyelesaikan persoalan jangka pendek. Ini berkaitan dengan perbaikan sistem insentif, Hasilnya baru terlihat dua sampai tiga tahun ke depan.

Agaknya dosis paket ekonomi yang baru dikeluarkan belum memadai untuk menjawab persoalan terkini. Kita berharap dosis ditambah dengan mempersiapkan paket kebijakan ekonomi yang lebih menggigit.

Akselerasi Pemburukan Indikator Makroekonomi


Pemburukan indikator-indikator makroekonomi setelah lebaran sudah semakin memprihatinkan. Indeks harga saham gabungan hari ini turun lagi cukup tajam. Bahkan sudah di zona “merah”. Pertumbuhan indeks saham year to date sudah minus 3,3 persen, sedangkan year on year pertumbuhannya mendekati nol, akan tepatnya hanya tumbuh 0,3 persen. Jika imbalan dihitung berdasarkan US$, pertumbuhan year on year angkanya sudah negatif. Padahal sebagian besar pasar saham dunia sedang bergairah. Semakin sedikit negara yang mengalami pertumbuhan negatif. Pasar saham Eropa mulai bangkit.

Image

Imbal hasil saham dalam US$ semakin tergerus inflasi dan nilai tukar rupiah yang terus merosot.

Kurs rupiah terus merangkak naik mendekati Rp 11.000 per dollar AS. Hari ini kurs tengah BI berada di aras Rp 10.504 per dollar AS.

Image

Peraga di atas menunjukkan penurunan nilai rupiah semakin cukup dan terlama sepanjang sejarah.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑