Masa Depan Pertanian di Pundak Generasi Muda


wHari ini (22/10), menyembul sescercah harapan akan masa depan Indonesia. Generasi milenial terbukti mampu mendobrak cara pandang dan pendekatan pembangunan pertanian konvensional. Mereka tidak memedulikan kebijakan pemerintah yang justru menjadi kendala bagi kemajuan sektor pertanian dan peningkatan kesejahteraan petani. Sektor pertanian kian ditinggalkan oleh generasi muda, sehingga rata-rata usia petani semakin tua. Nasib petani, khususnya petani pangan dan buruh tani, kian jauh tertinggal. Akibatnya, mayoritas penduduk miskin berada di pedesaan yang sebagian besar bertumpu pada sektor pertanian. Hasil produksi petani semakin susut tergerus oleh kenaikan harga barang dan jasa yang dibeli petani. Selisih harga di tingkat petani dan di tingkat konsumen akhir sangat lebar karena mata rantai perdagangan yang panjang. Petani tercerai berai menghadapi kaum kapitalis kota. Kala musim panen harga  barang yang dihasilkan petani anjlok, sedangkan ketika harga tinggi di masa paceklik, mereka tidak lagi memiliki stok yang bisa dijual.

Kemunculan generasi milenial yang menjadi pelopor kemunculan agripreneur dengan menggunakan teknologi digital dan the internet of things (IoT) merupakan harapan baru bagi petani dan sektor pertanian Indonesia. Tiga tokoh dari kiri (foto atas) menawarkan konsep baru memecah kebuntuan. Mereka memangkas mata rantai perdagangan, menyediakan modal (bahkan sampai Rp 2 miliar) dengan fintech, membantu penyediaan bibit, pupuk, dan banyak lagi. Pendekatan ke petani dilakukan dengan memahami terlebih dahulu konteks sosial dan budaya dengan penuh asa. Tokoh keempat (paling kanan) bergelut di hilir dengan riset untuk menghasilkan formula produk yang ramah lingkungan dan prinsip lestari.

Keempat tokoh berbagi dengan ratusan generasi muda dari berbagai daerah, dari Barat sampai ke Timur.

Salut kepada Forum for Young Indonesians (FYI) dan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) yang menggelar acara bertema “Our Food, Our Future!” Berharap kepeloporan mereka menjadi awal kebangkitan sektor pertanian yang merupakan ujung tombak peningkatan gizi masyarakat.

Sesi pembuka dengan subtema “Unleashing the Potential of Youth in Sustainable Development” diisi oleh Prof. Boediono (mantan Wakil Presiden), Prof. Emil Salim, DR. Nila F. Moeloek (Menteri Kesehatan), dan saya. Sesi ini lebih bersifat sebagai pembuka wawasan untuk memahami peta permasalahan makro dan pemacu semangat bagi generasi muda. Keberhasilan sepenuhnya ada di tangan mereka.

Siang ini akan dilanjutkan dengan pembahasan yang sepenuhnya diisi oleh pelaku yang hampir semua generasi milenial.

Salut kepada Ibu Menteri Kesehatan yang rencananya bakal hadir sampai acara usai.

f-1

f-2

[Dua foto terakhir ditambahkan pada 22/10/2017, pk.20:25]

Nasib Lapisan Terbawah Belum Kunjung Terangkat


senayanpost.com

Hampir dua pertiga penduduk miskin yang berjumlah 27,76 juta jiwa pada September 2016 berada di pedesaan. Mayoritas penduduk miskin di pedesaan bertumpu pada sektor pertanian. Sekalipun demikian, peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan di pedesaan jauh lebih besar daripada komoditas bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Harga bahan makanan yang lebih bergejolak sangat menekan penduduk miskin. Cukup banyak petani yang merupakan kon sumen neto pangan, termasuk beras. Artinya beras yang mereka produksi lebih kecil ketimbang yang mereka konsumsi.

worldbank.org

Ketika musim panen, apalagi panen serentak atau panen raya, harga jautuh; sebaliknya ketika paceklik dan mereka harus membeli beras, harganya melambung. Meskipun pemerintah berkomintmen membeli berapa pun hasil produksi sejumlah komoditas pertanian, nasib petani tak banyak tertolong.

Kenaikan harga beras di tingkat eceran naik lebih cepat dibandingkan peningkatan harga gabah kering di tingkat petani. Sebaliknya, jika harga merosot, harga gabah kering di tingkat petani melorot lebih tajam ketimbang penurunan harga di tingkat konsumen.

Pembenahan mata rantai distribusi harus menjadi perhatian utama untuk  meningkatkan kesejahteraan petani.

Penurunan kemiskinan di pedesaan kian sulit jika nilai tukar petani tidak kunjung membaik. Sejak Oktober 2014 nilai tukar petani menunjukkan kecenderungan menurun.

tot

Kemerosotan lebih tajam untuk nilai tukar pangan, terutama sejak Maret-April 2016, lalu relatif stabil selama kurun waktu Mei 2016 sampai Januari 2017. Pada Februari 2017 kembali merosot tajam.tot-food

 

informal

Nasib pekerja bebas di sektor pertanian juga tak membaik. Upah riil mereka sejak November 2014 justru turun sebesar 3,49 persen. Setiap tahun upah riil butuh tani mengalami penurunan.

Walaupun juga menurun, upah riil pekerja informal di perkotaan–yang diwakili oleh upah buruh bangunan–sempat naik tipis pada tahun pertama pemerintahan Jokowi. Namun setelah itu berbalik turun. Sejak pemerintahan Jokowi hingga Februari 2017, upah riil buruh bangunan turun 1,68 persen.

Tekanan lebihj berat di sektor pertanian bioleh jadi memperbesar urbanisasi. Namun, karena tingkat pendidikan yang rendah dan tidak memiliki keterampilan, mereka menyemut di sektor informal, antara lain sebagai buruh bangunan. Kondisi kelebihan pasokan tenaga kerja itulah yang mungkin membuat upah riil buruh bangunan juga ikut tertekan.

Pebenahan sektor pertanian juga sudah barang tentu sangat membantu untuk memperkecil ketimangan. Selain itu turut pula membantu mengurangi tekanan urbanisasi sehingga tidak memperparah daya serap perkotaan.

Untuk meningkatkan jam kerja efektif petani, industrialisasi di pedesaan merupakan keniscayaan. Industrialisasi dengan penerapan teknologi tepat guna.

 

Tol Laut dan Nasib Pilu Petani


Pemerintah telah maju selangkah dalam merealisasikan konsep tol laut. Pada tanggal 11 Desember 2015, untuk pertama kalinya KM Camara Nusantara I, kapal khusus ternak, bersandar di pelabuhan Tanjung Priok mengangkut 353 ekor sapi dari Nusa Tenggara Timur. Dengan kehadiran kapal khusus ternak ini diharapkan harga daging sapi bisa ditekan karena ongkos angkut jauh lebih murah. Sapi dari sentra-sentra peternak menjadi lebih tradable sehingga peternak pun diharapkan menikmati harga jual yang lebih tinggi.

kapal_ternak

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Kita berharap pemerintah segera mempeluas penggunaan kapal khusus untuk berbagai kebutuhan agar semakin banyak produk petani lebih bisa menjangkau sentra-sentra konsumen besar yang lebih jauh dari sentra produksi.

Kemarin malam kami sekeluarga berbelanja di salah satu kedai buah-buahan di kawasan Panglima Polim, Jakarta. Duku Pontianak kualitas premium dibandrol Rp 34.000 per kilogram.

Minggu lalu saya ke Pontianak. Pedagang duku bertaburan di pinggir jalan. Sebatas mata memandang dan di tempat-tempat yang penulis singgahi, harga duku (masyarakat Pontianak menamakannya langsat) seragam tanpa kecuali, semuanya dengan harga Rp 5.000 per kg. Semua dengan kualitas premium. Tidak ada satu pun yang busuk atau asam. Di toko buah yang kami datangi, kualitas seperti itu berlabel duku madu.

Salah seorang mahasiswa MM-Untan di kelas penulis adalah petani duku. Sang mahasiswa dengan wajah kecut mengatakan harga duku di tingkat petani hanya Rp 2.000 per kg. Ia bercerita suatu waktu harga duku pernah Rp 10.000 untuk 7 kg. Saya kerap mengalami sendiri Rp 10.000 untuk tiga kg. Harga duku kerap anjlok lebih parah karena tidak bisa disimpan lama.

Di Pontianak, nasib jeruk, manggis, durian, naga merah, dan cempedak hampir sama. Lebih parah lagi, musim buah-buahan hampir bersamaan.

Mengapa perbedaan harga duku di Jakarta dan di Pontianak sangat mencolok? Satu-satunya cara mengakut duku dari Pontianak adalah dengan pesawat terbang. Kalau diangkut dengan kapal laut, duku sudah busuk sesampai di Jakarta. Tidak perlu kapal khusus seperti kapal ternak, cukup fasilitas pengatur suhu agar duku tetap segar sampai sentra konsumen. Perlu juga tempat penampungan sementara dengan pengatur suhu. Alangkah lebih elok kalau sebagian duku bisa diolah. [Penulis belum pernah menemukan produk duku olahan.]

Dengan topangan sarana pendukung, niscaya disparitas harga dapat ditekan. Petani menikmati harga lebih tinggi dan berlipat ganda (katakanlah Rp 7.500 per kg) sedangkan harga di tingkat eceran di Jakarta turun tajam menjadi, katakanlah, Rp 20.000 per kg.

Seandainya kasus serupa berlaku untuk puluhan produk, termasuk sayur mayur, betapa sejahteranya para petani kita dan jutaan konsumen turut gembira.

Saatnya petani pun bergerak bahu membahu bersatu-padu dengan mendirikan syarikat dagang petani (SDP) untuk menghadapi kaum kapitalis kota yang selama ini paling banyak menikmati rente.

Semoga realisasi konsep tol laut atau “Pendulum Nusantara” tidak berhenti untuk sapi.

Pertalite dan Nasib Harga BBM Bersubsidi Ketika Harga Minyak Melorot


Jumat (24/7), harga minyak mentah WTI (West Texas Intermediate) mencapai titik terendah 47,97 dollar AS per barrel. Sementara itu minyak mentah Brent nyaris mencapai titik terendah baru sejak Januari 2015.

oil

Harga rerata bulanan kedua jenis minyak mentah itu pada Juni turun dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan berlanjut pada Juli ini. Demikian juga untuk OPEC basket price yang month-to-date (sampai 23 Juli) bertengger di aras 55,3 dollar AS per barrel.

opec

Apakah kecenderungan harga minyak mentah yang menurun dalam dua bulan terakhir akan mendorong pemerintah untuk menurunkan harga bensin Premium dan minyak solar? Tampaknya kecil peluang pemerintah menurunkan harga BBM. Kita tengok perkembangan harga BBM bersubsidi sejak 1980.

bbm

Pemerintah terakhir kali menaikkan harga BBM “bersubsidi” pada 27 Maret 2015 yang mulai berlaku sehari kemudian. Sejak itu harga minyak mentah merangkak naik hingga Mei tetapi pemerintah tidak melakukan penyesuaian terhadap harga BBM bersubsidi hingga sekarang. Pemerintah tidak lagi meninjau harga BBM setiap bulan–yang lalu diubah menjadi setiap dua minggu, lalu kembali setiap bulan–melainkan setiap tiga bulan.

Perlu diketahui, menurut keputusan pemerintah, bensin Premium tidak lagi disubsidi. Oleh karena itu kata bersubsidi dalam tanda petik. Tidak ada alokasi anggaran untuk subsidi bensin Premium. Yang disubsidi hanya minyak solar dan minyak tanah. Untuk minyak solar, alokasi subsidi maksimum Rp 1.000 per liter.

Berdasarkan rumus penetapan harga yang juga ditetapkan pemerintah–yang selalu berubah itu–harga bensin Premium dan minyak solar pada bulan Mei seharusnya di atas Rp 8.000, karena harga rerata minyak mentah bulan April naik dibandingkan bulan sebelumnya. Untuk bulan Juni, harga BBM seharusnya naik lagi karena harga minyak mentah bulan Mei naik hingga tingkat tertinggi. Peningakatan harga minyak mentah sudah barang tentu membuat harga referensi MOPS (Means of Platts Singapore) yang menjadi acuan harga untuk RON 92 dan Gasoil.

Di masa lalu, jika harga yang ditetapkan pemerintah lebih rendah dari harga pasar (harga indeks pasar atau harga patokan), selisihnya ditutup oleh subsidi yang dibebankan pada APBN. Karena tidak ada lagi alokasi subsidi untuk bensin premium di APBN 2015, maka selisihnya (kerugian) ditanggung Pertamina.

Untuk minyak solar, karena pemerintah hanya mengalokasikan subsidi maksimum Rp 1.000 per liter, Pertamina juga harus menanggung kerugian jika selisih harga yang ditetapkan pemerintah dan harga indeks pasar/harga patokan lebih dari Rp 1.000.

Bisa dibayangkan berapa kerugian Pertamina setiap hari. Praktek seperti ini sangat tidak sehat. Besaran subsidi yang tercantum dalam APBN jadi semu, tidak mencerminkan yang sebenarnya. Besaran subsidi yang tadinya di APBN sekarang dialihkan menjadi kerugian Pertamina. Kebijakan fiscal jadi tidak kredibel, ibaratnya pemerintah membohongi diri sendiri. Sangat tidak sehat.

Sangat boleh jadi, karena itulah pemerintah merestui Pertamina mengeluarkan jenis BBM baru: PERTALITE. Jenis BBM ini, seperti juga Premium, tidak ada referensi harganya di MOPS karena negara di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur sudah mengharamkan penggunaannya. Thailand dan Malaysia, bahkan, telah bermigrasi ke RON 95 sebagai BBM kualitas terendah.

Pemerintah memberikan kompensasi kepada Pertamina untuk mengurangi kerugian menjual RON 88 dan solar dengan menjual Pertalite yang harganya tidak diatur pemerintah. Bahkan, tampaknya pemerintah merestui pula kehadiran Pertalite untuk menghapuskan Premium secara bertahap. INGAT: pertalite bukan produk kilang, melainkan cuma sekedar produk campuran. Dari mana asal barang itu, Pertamina masih merahasiakannya. Entah mengapa.

Karena Pertalite tidak bisa serta merta menutup kerugian Premium, agaknya pemerintah akan  memanfaatkan kemerosotan harga minyak untuk menambah nafas Pertamina (baca: bayar utang ke Pertamina), yakni dengan tidak mengutik-utik harga premium dan solar yang berlaku sekarang.

Bagi perekonomian, langkah itu sungguh tidak produktif. Masyarakat dan dunia usaha kehilangan kesempatan untuk dapat “energi” tambahan dalam menghadapi berbagai cabaran dari segala penjuru.

“Fidel Castro” dan Ayah Akmal


Di tengah hingar bingar politik Jakarta, Jumat dan Sabtu kemarin saya menikmati kesejukan berdialog dengan petani. Jumat siang hingga malam kami mengunjungi “surau” pertanian organik di puncak bukit dekat pabrik Semen Padang. Desiran angin sore membuat hati saya kian teduh berdiskusi dengan para pelopor gerakan petani dan gerakan pertanian organik.

Komunitas petani di sana beragam latar belakang: pejuang senior berusia 75 tahun yang dijuluki Fidel Castro, karena bercambang dan berjanggut lebat, Bung Fauzan yang menjadi “pemimpin”, tiga gadis sarjana pertanian sebagai relawan , seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas, dan beberapa petani yang berasal dari masyarakat sekitar.

Ada lagi seorang senior berusia 73 tahun yang kami sapa “Ayah,” yang kental pengalaman politik. Ia termasuk dedengkot PSI dan bergabung dengan PRRI. Belakangan ini “Ayah” makin semangat terjun ke gerakan pertanian organik. Bahkan, pada 17 Mei nanti, Ayah siap meresmikan surau atau bale di kaki Gunung Merapi sebagai wadah pertemuan petani berbagi gagasan dan pengalaman. Ayah masih menyisakan cita-cita bahwa  lima tahun ke depan akan ada perubahan mendasar di negeri ini.

castro

Alhamdulillah, lahan kritis seluas 2,9 hektar yang mulai digarap pertengahan 2006 sudah hijau, rimbun, dan menghasilkan. Mereka sepenuhnya menerapkan sistem pertanian organik. Fidel Castro adalah penyandang hadiah Kalpataru karena jasanya menghijaukan lahan kritis. Dialah yang mengajak generasi yang lebih muda seperti Bung Fauzan terjun mengolah lahan kritis yang kami datangi.

Kami berdiskusi di pondok kayu sederhana, bertingkat. Minuman yang disuguhkan adalah “teh” rosella, berwarna merah. Mereka sudah belajar dari alam, tak henti, seperti jargon yang diusung oleh Ayah: “berjuang sampai mati.”

Tak ada pembicaaan politik, kecuali hanya sekitar 10 menit menjelang akhir pertemuan. Namun,sesungguhnya, sepanjang perbincangan sangat sarat muatan politiknya, yakni politik menyejahterakan petani, menjadikan petani kita mandiri dan bermartabat. Mereka tak haus kursi dan kekuasaan, tapi dahaga menyaksikan petani jadi tuan di negeri sendiri. Mereka sedang berjuang menerapkan agriculture development, bukan agrobisnis dan agroindustri. Lho, apa bedanya ……

* Dimuat pertama kali di Kompasiana, 3 mei 2009.

Blog at WordPress.com.

Up ↑