Pagi ini sarapan berbagai buah yang tersaji di restoran salah satu hotel di Bangkok, persis di sebelah lokasi ledakan bom minggu lalu. Semua buah dicicipi. Ada langsat, markisa, pisang, rambutan, pepaya, semangka, dan lengkeng.

aaaaaaa

Semua buah yang saya cicipi rasanya kalah dengan buah-buahan tropis kita. Duku Palembang dan langsat Pontianak jauh lebih nikmat. Markisa Brastagi dan markisa hutan Sarongge jauh lebih manis ketimbang markisa yang saya santap pagi ini. Pisang kita lebih enak daripada pisang yang tertera di foto. Pepaya pun demikian. Rambutan kita jauh lebih unggul ketimbang rambutan Bangkok.

Satu-satunya yang kita kalah barangkali cuma lengkeng. Namun, dua minggu lalu saya menikmati lengkeng Singkawang ketika bertandang ke Pontianak. Ukuran lengkeng Singkawang sama besar dengan lengkeng Bangkok tetapi rasa manisnya tidak kalah. Karena pasokannya masih terbatas, harga lengkeng Singkawang lebih mahal ketimbang lengkeng Bangkok.

Kita agaknya masih kalah dalam hal kemasan atau penyajian. Langsat Bangkok disajikan masih utuh di tangkainya seperti buah anggur.

Masalah mendasar yang kita hadapi adalah soal harga. Akibat ongkos transportasi yang mahal karena urusan logistik yang buruk, harga buah-buahan di daerah produsen jatuh ketika musim panen. Perbedaan harga di tingkat konsumen bisa sampai lima-delapan kali lipat lebih tinggi ketimbang di tingkat produsen.

aduku