Mitos “Negara dengan Garis Pantai Terpanjang Kedua di Dunia Kok Impor Garam”


Sebagai negara maritim dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia tidak sepatutnya mengimpor garam jutaan ton setiap tahun.ย 

Begitulah mitos yang melekat pada banyak orang, tidak hanya di kalangan awam, melainkan juga kerap didengungkan oleh kaum berpendidikan dan pejabat tinggi.

Mitos itu benar adanya jika garam diproduksi di laut, karena dua pertiga luas Indonesia berupa laut.

Masalahnya, garam diproses di darat. Perlu hamparan lahan untuk memproses air laut menjadi garam. Lokasi produksi pada umumnya di pantai. Padahal, pantai bisa pula digunakan untuk kegiatan ekonomi lain seperti hotel dan sarana rekreasi yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi ketimbang untuk memproduksi garam.

Kawasan pantai yang luas tidak otomatis layak untuk usaha garam jika curah hujan tinggi. Selain itu tingkat kelembaban juga menjadi faktor penentu.

Kasus seperti Indonesia juga dialami oleh empat negara lain yang masuk dalam kelompok 10 besar negara dengan garis pantai terpanjang, yaitu Rusia, Filipina, Jepang, dan Selandia Baru. Serupa seperti Indonesia, keempat negara itu bukan merupakan produsen garam terkemuka. Bahkan, Jepang justru merupakan pengimpor terbesar kedua di dunia.

Produsen terbesar di dunia adalah China. Padahal, panjang garis pantainya hanya seperempat dari Indonesia. Amerika Serikat, sebagai produsen terbesar kedua, hanya memiliki garis pantai yang panjangnya hanya sepertiga dari garis pantai Indonesia.

Sekalipun China dan Amerika Serikat berada di urutan pertama dan kedua produsen garam dunia, kedua negara itu juga merupakan negara pengimpor terbesar ketiga dan pertama. Tak ada jargon swasembada walaupun keduanya memiliki garis pantai yang lumayan panjang dan menjadi produsen garam terkemuka.

Mengapa Amerika Serikat dan China butuh banyak garam? Karena kebutuhan garam paling banyak adalah untuk industri. Industri jauh lebih banyak menyerap garam ketimbang rumah tangga. Tengoklah negara-negara pengimpor utama adalah negara industri maju. Di luar Amerika Serikat (urutan pertama), Jepang (ke-2), dan China (ke-3), ada Jerman, Korea, dan Taiwan.

salt

Mengapa India yang panjang garis pantainya hanya di urutan ke-20 bisa menjadi produsen garam terbesar ke-3 di dunia? Karena, sumber produksi garam tidak hanya dari air laut (sea brine), melainkan juga dari air danau (lake brine), sub-soil brine, dan deposit garam tambang (rock salt deposits). Hampir semua garam di Indonesia dihasilkan dari air laut.

himalayan rock salt

usefulinnovation.com

morton salt

mortonsalt.com

 

Sumber data:

Central Intelligence Agency 2010,ย The World Factbook 2010, ISSN 1553-8133, Washington, DC, viewed 6th February, 2010, <https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/index.html>.

http://www.indexmundi.com/minerals/?product=salt

http://www.worldatlas.com/articles/20-top-salt-exporting-countries.html

http://www.worldsrichestcountries.com/top-salt-importers.html

 

 

 

 

mortonsalt.com

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Agriculture, Industri, Public Policy, Salah Kaprah. Bookmark the permalink.

12 Responses to Mitos “Negara dengan Garis Pantai Terpanjang Kedua di Dunia Kok Impor Garam”

  1. Om Baha says:

    Jadi tau nih. Bagus pembahasannya membuka wawasan.

  2. hilfans says:

    mungkin faktor lainnya bisa dimasukkan juga pak, yaitu ya karena tidak ada usaha untuk menaikkan kapasitas produksi garam di indonesia, jadi alesannya faktor-faktor diatas yang bapak sebutkan itu muncul.. cmiiw…

    • faisal basri says:

      Memang produksi bisa dinaikkan. Namun yang menjadi fokus tulisan ini adalah mitos seolah impor itu tercela karena kita punya garis pantai terpanjang kedua di dunia.

      • rosidmuhtadi says:

        Katakanlah yang sekarang heboh karena blow up media, terus kedepannya apa bisa ada peningkatan? Minimal mengurangi import lah, kalo belum bisa swasembada.
        Salut buat Bapak yang tulisannya faktual ๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚

      • faisal basri says:

        Insya Allah bisa. Pada dasarnya kita sdh swasembada untuk garam konsumsi dan garam untuk indutri makanan-minuman serta beberapa industri aneka. Harapannya ke depan kita bisa mengisi kebutuhan garam industri.

  3. Pria Tampan Mempesona says:

    karena indonesia melakukan pengolahan produksi garam secara konvensional yg bergantung pada alam. Harusnya teknologi digunakan secara masif, agar bisa seperti India.

  4. Pingback: Punya Laut yang Luas Tapi Indonesia Impor Garam? – Victory News

  5. Alvi Muhayat says:

    Menarik pak artikelnya. Mengingat cuaca di sekitar pantai dan petani garam yang sedikit, apa bisa pak kita mengikuti cara negara lain seperti penambangan garam? Lalu, apakah Indonesia sendiri juga punya tambang garam yang potensial ya pak?

    • faisal basri says:

      Dari para ahli yang saya dengar, yg potensial dikembangkan adalah di Madura (saya lupa persisnya) yg lokasinya relatif bersih dan masih belum disentuh serta di NTT. KKP telah meluncurkan beberapa inisiatif untuk meningkatkan produktivitas garam rakyat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s