Pengapuran Tulang Kaki Akibatkan Tak Bisa Berlari Kencang: Gejala Dini Deindustrialisasi


playbuzz.com

playbuzz.com

Kestabilan makroekonomi yang terjaga tidak otomatis mengindikasikan seluruh organ tubuh perekonomian berfungsi baik. Bisa saja inflasi (suhu tubuh) rendah, suku bunga (tekanan darah) menurun, nilai tukar rupiah (detak jantung) “anteng” (volatilitas rendah), dan sebagainya, mengahasilkan pertumbuhan ekonomi yang melemah.

Terbukti, hasil pemeriksaan dengan MRI (magnetic resonance imaging) menemukan ada organ tubuh yang tidak berfungsi normal. Di tulang kaki terjadi pengapuran yang menyebabkan kaki tidak bisa leluasa mengayun, apalagi berlari kencang. Ternyata, pengapuran tidak hanya dialami orang berusia lanjut. Indonesia yang masih tergolong belia pun terkena pengapuran. Tes dengan menggunakan X-ray maupun CT scan tak mampu mengidentifikasi pengapuran itu, apalagi sekedar dari pengukuran suhu tubuh, tekanan darah, dan detak jantung.

Kedua kaki bisa diibaratkan sebagai sektor industri manufaktur dalam perekonomian. Negara-negara yang menjalani tahapan pembangunan dengan mulus menjadi negara maju pada umumnya melewati tahapan industrialisasi yang matang.

Di awal pembangunan, sektor pertanian mendominasi perekonomian. Ketergantungan pada alam dan tenaga kerja tidak bisa membuat sektor pertanian sebagai motor pertumbuhan terus menerus. Tuntutan modernisasi pertanian dan peningkatan produktivitas petani menyebabkan sektor ini mengurangi jumlah pekerja. Oleh karena itu harus ada sektor yang menampung kelebihan tenaga kerja di sektor pertanian. Sehingga, industrialisasi menjadi keharusan.

Industrialisasi dan modernisasi pertanian berlangsung seirama, Pertama, industrialisasi memungkinkan komoditas pertanian diolah lebih lanjut untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi. Kedua, sektor industri menghasilkan beragam produk manufaktur yang dibutuhkan petani sejalan dengan peningkatan pendapatan mereka dan tuntutan peningkatan produktivitas. Petani butuh pacul, linggis, alat pengering, mesin penggiling, traktor, dan berbagai kebutuhan rumahtangga. Petani mampu menyerap produk manufaktur karena kenaikan daya beli sebagai hasil dari peningkatan produktivitas berkelanjutan.

Kelebihan tenaga kerja di sektor pertanian beransur-angsur beralih ke sektor industri, sehingga semakin banyak penduduk yang bekerja di sektor industri. Di negara yang penduduknya banyak, pasar domestik menjadi andalan, sedangkan di negara kecil industrialisasi berorientasi pada pasar luar negara (export oriented).

Indonesia memulai industrialisasi dengan kombinasi orientasi pasar dalam negeri dan orientasi ekspor. Opsi kedua sempat dominan karena pertimbangan keterbatasan daya beli petani akibat pembangunan pertanian belum mencapai titik optimum dan tidak berkelanjutan.

Diselipi dengan unsur pragmatisme, sektor industri manufaktur Indonesia tumbuh pesat pada awal pemerintahan Orde Baru (1968-71) dengan pertumbuhan rerata setahun 11,6 persen. Industri manufaktur mulai menonjol peranannya sebagai motor pertumbuhan. Pada kurun waktu yang sama pertumbuhan ekonomi rerata setahun mencapai 8,1 persen.

Akselerasi industrialisasi selanjutnya terjadi pada periode 1974-81 yang menghasilkan pertumbuhan 14,2 persen per tahun. Pertumbuhan ekonomi pada kuwun waktu yang sama mencapai 7,5 persen. Dengan demikian pertumbuhan industri manufaktur hampir dua kali lipat dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

Pada paruh pertama 1980-an, banyak tantangan menghadang. Kemerosotan harga minyak dunia dan krisis Pertamina menginterupsi gerak maju industri manufatur. Namun, mulai 1985 kembali bangkit, bahkan akreselerasi industri berlangsung paling panjang (1985-96) dengan mencetak pertumbuhan 10,7 persen per tahun. Selama 1974-81 dan 1985-96, pertumbuhan industri manufaktur selalu lebih tinggi dari pertumbuhan PDB, bahkan sempat dua kali lipat lebih.

Pasca krisis 1998 pertumbuhan manufaktur meredup, tetapi masih kerap lebih tinggi dari pertumbuhan PDB. Sejak 2005 industri manufaktur mamasuki era baru:  pertumbuhannya selalu lebih rendah dari pertumbuhan PDB, dengan pengecualian tahun 2011.

mfg-gdp

Perlambatan laju industri manufaktur terjadi tatkala industrialisasi belum mencapai titik matang. Di tengah jalan muncul ambisi melakukan lompatan dengan menerapkan perlindungan berlebihan. Fondasi yang belum kokoh dan dana terbatas ditambah dengan praktek pemburuan rente yang masif turut memperparah krisis 1998.

Sumbangan industri manufaktur baru mencapai 29 persen pada 2001 tetapi sudah mencapai titik puncak dan setelah itu mengalami trend penurunan hingga kini hanya 20,4 persen. Negara-negara Asia Timur & Pasifik baru mengalami penurunan setelah mencapai 37,8 persen dan data terakhir masih 28 persen. China mencapai puncak pada aras 40,1 persen dan kini masih 29,7 persen. Korea yang telah menjema sebagai negara industri maju mencapai titik puncak pada aras 31 persen dan setelah turun sedikit hingga sekarang masih cukup tinggi di aras 29,7 persen. Malaysia dan Thailand mencapai titik tertinggi hampir sama, masing-masing 30,9 persen dan 31,1 persen. Brazil, yang penduduknya lebih banyak dari Indonesia, sumbangan industri manufakturnya terhadap PDB mencapai puncak sebesar 34,6 persen, namun mengalami kemerosotan yang relatif cepat menjadi hanya 11,7 persen pada 2016. Brazil sempat mengalami lost decade dan belakangan ini mengalami penurunan pendapatan per kapita dalam dollar AS yang relatif tajam selama tiga tahun terakhir.

share

Dibandingkan dengan kebanyakan negara dalam kelompok Emerging markets, penurunan sumbangan industri manufaktur dalam PDB di Indonesia berlangsung lebih cepat. Sebaliknya, sektor jasa menyeruak relatif cepat dan sudah melampaui 50 persen PDB sejak 2010. Pada semester pertama 2017, peranan sektor jasa sudah mencapai 58,2 persen. Indonesia telah menjelma sebagai negara jasa. Sebagai perbandingan, sampai 2015, sektor jasa di China masih seimbang dengan sektor barang, padahal China jauh lebih maju dari Indonesia.

structure

Apakah kinerja industrialisasi yang terseok-seok menyebabkan Indonesia semakin tertinggal dalam memajukan kesejahteraan rakyatnya sebagaimana terlihat pada indikator pendapatan nasional bruto per kapita baik berdasarkan nilai dollar berlaku maupun  paritas daya beli (purchasing power parity/PPP) ataupun dengan menggunakan indikator PDB per kapita.

12

3

Bolehlah sebagai pelipur lara kita membandingkan ukuran PDB nominal yang menempatkan Indonesia di urutan ke-16 dunia, sehingga kita menjadi satu-satunya negara ASEAN yang masuk sebagai anggota G-20. [Pada Sea Games baru-baru ini di Malaysia, perolehan medali Indonesia di urutan kelima, di bawah Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Singapura.] PDB Indonesia pada 2016 senilai 932 miliar dollar AS, lebih tinggi ketimbang bekas penjajah Belanda, Swiss, dan Saudi Arabia.

Lebih mencolok lagi kalau menggunakan PDB berdasarkan PPP yang mendudukkan Indonesia di posisi ke-8 dunia dengan nilai 3 triliun dollar AS pada tahun 2016. Posisi Indonesia itu lebih tinggi dibandingkan dengan Inggris, Prancis, dan Italia.

 

 

 

 

 

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Development, Industri, Manufactures. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s