Sedikit Koreksi untuk Menteri Pariwisata


t-0Tak diragukan lagi, pariwisata Indonesia tumbuh sangat pesat dalam tiga tahun terakhir. Wisatawan mancanegara telah menembus 10 juta pada 2015. Setahun berikutnya tumbuh dua digit (12,6 persen) dan Januari-September tahun ini kian mengakselerasi dengan pertumbuhan tahunan (year-on-year) sebesar 25 persen. Tiga bulan tersisa tahun ini diperkirakan turis asing akan bertambah sekitar 3,5 juta sampai 4 juta.

t-1

Kinerja sektor turisme sudah menonjol  dan memperoleh pengakuan dari dalam negeri maupun luar negeri. Kerja keras pemerintah pusat dan daerah telah membuahan hasil nyata, tanpa harus dibumbui dengan penggunaan indikator yang salah kaprah.

Salah satu contoh yang menunjukkan salah kaprah adalah dengan mengklaim sektor pariwisata bakal menjadi penyumbang devisa terbesar mulai tahun ini. Saya mendengarkan langsung presentasi Menteri Pariwisata pada awal bulan ini. Salah satu peraga yang ditampilkan adalah sumbangan pariwisata berada pada posisi ketiga selama 2013-2015 dan naik ke peringkat kedua pada 2016.

t-2

Pertama, membandingkan sumbangan sektor pariwisata dalam penerimaan devisa dengan ekspor komoditas atau barang tidaklah apple to apple. Di dalam sektor pariwisata terkandung berbagai produk seperti hotel, restoran, transportasi udara, dan mungkin banyak lagi. Sedangkan komoditas ekspor yang diperbandingkan bersifat tunggal. Ada kemungkinan  tumpang tindih di situ.

Sektor lain bisa pula mengklaim seperti sektor pariwisata. Misalnya sektor industri kreatif.

Jika kecenderungan seperti itu semakin menjamur, penerimaan devisa Indonesia menggelembung, lebih besar atau jauh lebih besar dari yang tercatat resmi di neraca pembayaran Indonesia yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.

Data yang disampaikan oleh Menteri Pariwisata saja sudah berbeda dengan data Bank Indonesia.

Menurut data Kementerian Pariwisata, pada tahun 2016 sektor pariwisata menyumbang devisa sebanyak 12,2 miliar dollar AS. Sementara itu, data Bank Indonesia untuk tahun yang sama hanya 11,2 miliar dollar AS.

t3

Kedua, yang dihitung oleh Kementerian Pariwisata hanya devisa yang masuk. Padahal kian banyak orang Indonesia yang melancong ke luar negeri. Menurut survei turisme global yang dilakukan Visa, turis Indonesia berniat melancong lebih jauh, lebih lama, dan lebih banyak pengeluaran per kunjungan. jadi ada baiknya indokator sumbangan devisa pariwisata menggunakan konsep neto. Jika demikian, sumbangan netto sektor turisme dalam penerimaan devisa pada 2016 hanya 3,7 miliar dollar AS, jauh lebih rendah ketimbang batubara dan minyak sawit yang praktis tidak ada impornya.

Memang sumbangan netto sektor pariwisata masih positif. Berbeda dengan ekspor migas yang menduduki posisi teratas hingga 2015, tetapi nilai impornya lebih banyak, sehingga sumbangan netto migas sudah negatif.

Ketiga, mungkin karena khilaf, sumbangan sektor listrik (electricity) pada peraga yang disampaikan menteri Pariwisata menduduki posisi keenam selama 2014-2016. Rasanya kita belum pernah mengekspor listrik. Dari penelusuran terhadap data ekspor, sangat boleh jadi itu bukan listrik, melainkan ekspor kendaraan bermotor dan komponennya (kode HS 87).

Semoga presentasi Pak Menteri di kemdian hari akan jauh lebih akurat.

Selamat bekerja dan sukses selalu untuk dunia pariwisata Indonesia.

 

2 Comments

  1. Terima kasih Pak atas koreksinya, hendaknya data yang disajikan pejabat tinggi setingkat menteri jauh lebih akurat dan dipertimbangkan dengan teliti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s