Menteri yang Masih Saja Terus Bermimpi

Petugas Memeriksa Sapi Potong

KONTAN/Cheppy A. Muchlis

Pada Februari 2016 terjadi deflasi 0,09 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, harga beras dan daging sapi terus naik sekaligus menjadi penyumbang terbesar kenaikan harga-harga umum. Harga eceran rerata daging sapi di Indonesia pada Januari 2016 adalah Rp 104.120 per kg. Pada bulan yang sama, harga daging sapi di pasaran internasional 3,50 dollar AS per kg atau sekitar Rp 48.500 per kg dengan kurs rerata bulan Januari Rp 13.857 per dollar AS. Bahkan koran Kontan memberitakan harga daging sapi di pasaran bertahan tinggi di kisaran Rp 125.000 sampai Rp 130.000 per kg.

beef

Beef monthly international price (USD/kg). Source: World Bank

price-beef-bps

Beef domestic average retail price (Rp/kg). Source: BPS.

Untuk menurunkan harga daging sapi, terutama di Jakarta, pemerintah gencar mendatangkan sapi dari NTT dengan kapal khusus. Menteri Pertanian berjanji membeli sapi hidup dari NTT dengan harga lebih tinggi, dari yang sebelumnya Rp 25 ribu sampai Rp 26 ribu per kg menjadi Rp 28 ribu hingga Rp 31 ribu per kg. Sapi itu nantinya dijual di Jakarta dalam bentuk daging dengan harga Rp 85.000 per kg.

Ampuhkah tambahan pasokan sapi dari NTT untuk menurunkan harga daging sapi di Jakarta dalam jangka pendek? Menurut para ahli persapian di NTT, paling banter NTT hanya mampu memasok sapi ke Jakarta sebanyak 136 ekor per hari atau sekitar 9,1 persen dari kebutuhan sapi Jakarta per hari sebanyak 1.500 ekor. Itu dengan catatan sejumlah masalah lokal yang cukup pelik bisa dibenahi (“Stop Sistem Kuota Lokal,” Victory News, Jumat, 4 Maret 2016, hal. 1 dan 5). Sejauh ini, sapi yang sudah dikirim ke Jakarta dari NTT masih jauh dari 136 ekor per hari.

Menurut Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dan Ketahanan Pangan DKI Jakarta, kebutuhan sapi Jakarta per hari 165 ton, yang mana 97 persen merupakan sapi impor. Pemerintah DKI Jakarta bertekad menaikkan pasokan sapi lokal menjadi 30 persen dalam 5 sampai 6 tahun ke depan. Jadi tidak bisa dalam jangka pendek.

Ada yang tidak sinkron antara ambisi pemerintah pusat dengan realitas di lapangan. Untuk menjaga keberlanjutan usaha peternakan sapi, pemerintah daerah NTT membatasi pengiriman sapi ke Jawa 65 ribu ekor per tahun ke pulau Jawa. Belakangan, kuota ke Jawa diturunkan dari 1.500 ekor per pekan menjadi 800 ekor per pekan. Berarti rata-rata sehari hanya 114 ekor. Jumlah itu untuk seluruh pulau Jawa. Kalau semua dikirim ke Jakarta, tentu alokasi ke Jawa di luar Jakarta bakal turun. Bagaimana pula dengan alokasi sapi dari NTT ke Kalimantan dan daerah-daerah lain? Bukankah selama ini peternak di NTT tidak mengalami masalah pemasaran? Selama ini tidak pula tendengar NTT mengalami excess supply (dengan relevant market mencakup seluruh wilayah Indonesia) sehingga harga sapi di NTT anjlok.

Tidak ada jurus “simsalabim” untuk menurunkan harga daging sapi dalam jangka pendek tanpa menambah pasokan nasional. Kalaupun dipaksakan lebih banyak sapi dari NTT digelontorkan ke Jakarta, bukankah alokasi sapi untuk NTT sendiri dan daerah sekitarnya yang selama ini dipasok dari NTT akan berkurang sehingga bakal meningkatkan harga daging sapi di sana? Jangan mengatasi masalah di Jakarta tetapi menimbulkan masalah di tempat lain.

Kalau hendak meningkatkan produksi sapi nasional, pemerintah perlu membenahi sisi pasokan, antara lain pembibitan dan ketersediaan pakan ternak. Kedua, pembenahan tata niaga di tingkat nasional dan daerah.***

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Agriculture, Salah Kaprah, Sesat Pikir, Tata Niaga and tagged , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Menteri yang Masih Saja Terus Bermimpi

  1. fajar says:

    Mmg perlu cepat disadari kekuatan produksi belum memenuhi “kerakusan konsumsi”. Kesiapan produksi jangka panjang untuk menyiapkan siap bertemunya konsumsi perlu pola pembibitan,penggemukan yang terencana.Apakah dengan cara kombinasi impor dan pengadaan dlm negeri yg terencana sdh disiapkan? Tentunya kalau sdh terencana, bergaining harga impor akan lbh bisa ditekan. Tagline “Kerja, Kerja dan Kerja” dpt diartikan “Teori Kerja, Hati Kerja, Logika Kerja” ..

  2. YAKOBUS FILIPUS ASYAR DAHAL says:

    Bang Faisal…. masalahnya MEREKA TERUS BERBOHONG dgn MENYAJIKAN JANJI SURGA…

    • faisal basri says:

      Kita suarakan terus yang tidak benar.

    • masuyung says:

      Kalau anda dipihak Pemerintah, harapan adalah mimpi yang harus diwujudkan dan itu disampaikan kepada masyarakat untuk mendorong semangat agar lebih produktif. sudah sekian lama pemerintah memberikan bantuan kepada masyarakat utk meningkatkan produktifitas peternakan, baik melalui pemberian hibah, bantuan sarana prasarana, dan pembangunan demplot, namun sampai sekarangpun itu belum membantu. Kenyataannya baik pemerintah dan masyarakat kita sendiri masih kurang berkeringat, dan berupaya dengan kerja, kerja dan kerja. Upaya Pemerintah dengan memberikan kapal ternak sudah tepat, tinggal pemerintah dalam jangka panjang harus menyiapkan dan mengembangkan peternakan di setiap daerah.
      Saya mohon kepada Pemerintah perlu menerbitkan kebijakan khusus, beri kami bantuan modal dengan kredit khusus bagi peternak dengan bunga yang rendah, beri kami asuransi untuk mengurangi risiko di peternakan, kenalkan kepada kami teknologi yang tepat untuk meningkatkan produktifitas, berikan kami informasi yang cukup, untuk membantu pemasaran dan harga, dan berikan kebijakan kepada semua Pemerintah Daerah untuk menargetkan jumlah populasi ternak, supaya pemerintah dapat mengatur distribusi ternak sehingga tercapai keseimbangan populasi dan harga.

  3. Ahmad Mikail says:

    Asslkm Pak faisal. mohon analisa bapak tentang harga beras. bagaiaman senarai pasoka harga beras di dalam negeri. dan apakah sudah efektif tol laut yang dicanankan pak jokowi terhadap peningkatan produksi beras dari luar pulau jawa. terima kasih sekali pak analisanya.

  4. Afandi says:

    Dear Pak Faisal Basri

    Perkenalkan kami dari Majalah Akuntan Indonesia, saat ini sedang menulis liputan tentang UU Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan untuk edisi Mei 2016. Kami sangat berharap bapak berkenan menjadi salah satu narasumber tulisan kami. Apakah kami boleh melakukan interview secara langsung ataukah Bapak mau kami interview melalui daftar pertanyaan untuk Bapak Faidsal langsung jawab langsung via email.

    Mohon berkenan dapat mengirimkan email Bapak.

    Terima kasih

    Afandi
    081355566074

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s