Syarat Indonesia Bangkit Sungguhan dan Melaju: Pendongkrak Utama (I)


Negara-negara yang sangat maju di dunia niscaya memiliki keunggulan dalam satu atau lebih bidang atau terdepan dalam bidang tertentu. Amerika Serikat memiliki Microsoft, Apple, unggul dalam indusri pesawat terbang, dan menjadi pusat keuangan dunia. Jerman dan Jepang memiliki industri otomotif terkemuka, Korea memiliki industri elektronik kebanggaan seperti Samsung dan LG, China menguntit di berbagai bidang. Singapura mampu menyejahterakan rakyatnya dengan menjadi “hub” di Asia Tenggara untuk berbagai aktivitas ekonomi.

Di Asean, Malaysia paling banyak didatangi turis mancanegara, kedua terbanyak Thailand. Filipina sangat ditopang oleh pendapatan pekerjanya di luar negeri. Namun, turis atau tenaga kerja saja tidak membuat kedua negara itu mampu tumbuh berkelanjutan dan naik kelas menjadi negara maju.

Negara-negara lain yang berstatus sebagai emerging markets seperti Brazil, Meksiko, Argentina, dan India juga kerap terseok-seok. Kesemuanya terancam middle-income trap.

Kalau mau terbebas dari middle-income trap dan tahan banting, Indonesia harus apik mempersiapkan diri, memiliki keunikan yang bisa diandalkan sebagaimana negara-negara terdepan di dunia. Jika Indonesia ingin menjadi negara terpandang, maju, dan menyejahterakan rakyatnya, menguasai teknologi di bidang tertentu adalah syarat utamanya atau paling tidak salah satu yang terpenting.

Pada peraga ditunjukkan enam langkah yang perlu dilakukan pemerintah sebagai bagian dari penyesuaian struktural.

abuss

Tentang “Strengthening and deepening financial markets” sudah dibahas pada tulisan “Menemukenali Akar Masalah Keterpurukan Ekonomi” (http://wp.me/p1CsPE-1cc).

Tentang “Accelerating industrialization, utilizing relocation from China” dibahas pada tulisan “Memacu Industrialisasi untuk Menopang Pertumbuhan Berkualitas” (http://wp.me/p1CsPE-1cW).

Tentang “Liberalizing property sector, allowing foreign ownership” diuraikan dalam tulisan “Asing boleh Memiliki Properti, Mengapa Tidak?” (http://wp.me/p1CsPE-19x).

Untuk “Reducing logistics cost, increasing the role of sea transportation” sudah beberapa kali diulas di blog ini. Insya Allah tulisan baru tentang ini akan menyusul. Juga tentang “Promote fair competititon.”

Tulisan ini membahas topik terakhir–bukan berarti urgensinya paling rendah–yakni “Energy efficiency.” Topik ini sengaja dipercepat pembahasannya karena berpeluang menjadi ujung tombak utama kemajuan Indonesia dan peningkatan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan, serta menempatkan Indonesia secara terhormat di panggung dunia.

Sebagai awal, berikut adalah tujuh kesempatan emas bagi Indonesia untuk maju dan sejahtera.

Kesempatan yang Bukan Ilusi

  1. Indonesia berpeluang menghemat penggunaan BBM khususnya dan energi umumnya, sehingga juga menekan impor dengan cukup signifikan.
  2. Indonesia menjadi salah satu pelopor penggunaan energi ramah lingkungan dan bahkan terbuka kesempatan menjadi pemasok energy ramah lingkungan.
  3. Indonesia berpeluang menjadi produsen energy yang melibatkan masyarakat luas dan pemerintah daerah.
  4. Indonesia bakal menjadi pusat riset dan pengembangan teknologi energi alternatif yang ramah lingkungan dengan harga kompetitif bahkan lebih murah dari energi konvensional.
  5. Konsep pengembangan energi alternatif menjadi motor pertumbuhan yang lebih menyebar sekaligus mempercepat pemberantasan kemiskinan.
  6. Indonesia bakal menjadi pelopor dalam menjawab persoalan climate change.
  7. Mengantarkan Indonesia sebagai negara maju dan diperhitungkan dalam percaturan dunia.

Semoga  kesempatan di atas bukan sekedar mimpi.

Berharap inisiatif ini memperoleh masukan dan kritik tajam nantinya setelah pemaparan lebih terinci pada tulisan-tulisan selanjutnya.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Agriculture, Development. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s