Upaya Menahan Kemerosotan Rupiah

Sampai minggu ini rupiah masih mengalami tekanan. Jumat lalu (4/9) nilai tukar rupiah mencetak rekor terendah baru sejak 1998, di aras Rp 14.178 per dollar AS. Selama tahun 2015, nilai tukar rupiah hingga jumat lalu merosot sebesar 12,26 persen. Kemerosotan itu terkesan relatif kecil dibandingkan dengan beberapa negara tetangga seperti Malaysia.

Namun, jika dibandingkan dengan titik tertingginya Rp 8.460 pada 2 Agustus 2011, rupiah sudah melorot sesar 40,33 persen. Perlu diingat, rupiah tidak pernah mengalami kecenderungan melemah sedemikian lama (sudah berlangsung selama lima tahun).

[Menghitung perubahan nilai tukar rupiah dari 2 Agustus 2011 sampai 4 September 2015 adalah dengan cara: (1 : 14.178 – 1 : 8.460)/(1 : 8.460); bukan dengan cara: (14.178 – 8.460) / 8.460. Cara pertama menghasilkan -40,33, sedangkan cara kedua menghasilkan +67,59. Cara kedua sebetulnya mengukur penguatan dollar AS, sedangkan cara pertama mengukur pelemahan rupiah. Lihat https://faisalbasri01.wordpress.com/2013/08/24/salah-kaprah-menghitung-nilai-rupiah/%5D

aarp

Kemerosotan atau depresiasi rupiah sayangnya tidak mampu mendongkrak ekspor, karena harga komoditas belum kunjung pulih, baik untuk komoditas pertanian, pertambangan maupun energi. Tekanan terhadap harga komoditas diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir tahun ini. Itulah konsekuensi dari dominasi komoditas dalam ekspor Indonesia.

acommodity_prices

Salah satu komponen terbesar aliran dana keluar adalah repatriasi laba perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Berdasarkan data neraca pembayaran yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, besarnya repatriasi laba perusahaan asing yang dicatat sebagai pembayaran atas pendapatan modal ekuitas nilainya mengalami peningkatan.

Seandainya pemerintah bisa merayu perusahaan asing untuk menginvestasikan separuh dari laba yang biasanya mereka kirim ke negara asalnya dengan memberikan insentif fiskal, maka tekanan modal keluar akan berkurang cukup signifikan, yakni sekitar 8 miliar dollar AS sampai 9 miliar dollar AS.

Selain itu, investasi akan bertambah dengan jumlah yang sama, kapasitas produksi meningkat, dan penyerapan tenaga kerja pun bertambah.

arepatriasi

Upaya lain adalah dengan mengaktifkan kembali perjanjian dengan China dalam bilateral currency swap arrangement untuk mengurangi transaksi dalam dollar AS. Perjanjian ini sudah ada sejak 2009 untuk perdagangan, investasi, dan likuiditas. Nilainya cukup signifikan mengingat China merupakan tujuan ekspor dan asal impor terbesar bagi Indonesia. Perjanjian itu berlaku untuk tiga tahun. Namun setelah itu terbengkalai. Lalu tahun 2013 perjanjian diperbarui sampai 2016. Sayang sekali hanya 2 persen yang termanfaatkan. Fasilitas ini senilai Rp 175 triliun. Perlu segera ditemukan kendalanya.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Ekonomi Internasional, Financial Sector, Makroekonomi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s