Transaksi perdagangan luar negeri mengalami surplus selama tiga bulan berturut-turut dengan kecenderungan membesar. Pada Oktober 2013, surplus perdagangan hanya 0,03 miliar dollar AS, lalu naik menjadi 0,79 miliar dollar AS pada November, dan meningkat tajam lagi menjadi 1,52 miliar dollar AS pada Desember. Peningkatan surplus perdagangan itu lebih disebabkan kenaikan ekspor yang lebih tinggi ketimbang kenaikan impor dan penurunan impor.

Data produk domestik bruto triwulan IV-2013 yang dirilis Badan Pusat Statistik, Rabu (5/2), juga menunjukkan geliat ekspor. Tak tanggung-tanggung, ekspor menyumbang hampir dua pertiga pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2013, melampaui sumbangan konsumsi rumah tangga sebesar 51 persen. Selama lebih dari satu dasawarsa, konsumsi rumah tangga hampir selalu jadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.

Menurut Menteri Keuangan, penguatan kinerja ekspor belakangan ini menunjukkan kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia untuk mengatasi defisit perdagangan berhasil efektif (Kompas, 4/2). Prestasi yang lebih “spektakuler” disampaikan Wakil Menteri Perdagangan dalam konferensi pers, Senin (3/2), “Surplus nonmigas tahun 2013 meningkat 118,2% dibandingkan tahun lalu yang hanya mencapai 3,9 miliar dollar AS.”

Pemerintah tak boleh lekas puas. Peningkatan ekspor Desember bisa dikatakan semu karena dua alasan. Pertama, penyumbang terbesar peningkatan ekspor adalah minyak dan gas, yakni senilai 638 juta dollar AS. Padahal, di bulan yang sama, impor minyak dan gas juga naik sebesar 283 juta dollar AS. Walaupun pada Desember nilai defisit perdagangan minyak turun, ternyata volume impor bahan bakar minyak (BBM) masih saja naik, dari 2,7 juta ton pada November menjadi 2,9 juta ton pada Desember atau kenaikan sebesar 7,4 persen. Kenaikan harga BBM bersubsidi ternyata belum cukup ampuh menurunkan konsumsi BBM. Terbukti dari konsumsi BBM bersubsidi pada semester II-2013 naik dibandingkan semester I-2013, masing-masing 15,5 juta ton dan 14,1 juta ton atau naik sebesar 9,9 persen. Kedua, lonjakan ekspor bijih, kerak, dan abu besi senilai 280 juta dollar AS dari November ke Desember. Sepanjang 2013, ekspor komoditas tambang belum diolah itu naik tajam sebesar 1,46 miliar dollar AS. Apalagi penyebabnya kalau bukan tindakan pengusaha menggenjot ekspor menjelang pemberlakuan larangan ekspor mineral mentah mulai 12 Januari 2014.

Kenaikan ekspor kedua komoditas primer itu mencapai 918 juta dollar AS, hampir sama dengan peningkatan ekspor total sebesar 1,04 miliar dollar AS.

Peningkatan surplus perdagangan nonmigas selama 2013 sebesar 4,66 miliar dollar juga semu. Hampir sepertiga peningkatan itu disumbang oleh peningkatan ekspor mineral mentah. Surplus perdagangan nonmigas yang meningkat lebih banyak disebabkan penurunan impor ketimbang peningkatan ekspor sebagaimana terlihat dari penurunan impor mesin dan peralatan sebesar 1,8 miliar dollar AS. Penurunan ini yang menjelaskan mengapa pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto pada triwulan IV-2013 masih terus menurun untuk keenam kalinya berturut-turut sejak triwulan III-2012. Peningkatan ekspor mineral mentah dan penurunan impor mesin menyumbang 70 persen terhadap peningkatan surplus perdagangan nonmigas.

Sudah begitu, transaksi perdagangan total justru mengalami peningkatan defisit, dari 1,6 miliar dollar AS tahun 2012 menjadi 4,1 miliar dollar AS tahun 2013. Rongrongan defisit migas kian menjadi-jadi. Pada 2013 defisit migas naik 125 persen menjadi 12,6 miliar dollar AS sehingga menambah tekanan terhadap defisit akun lancar (current account). Tekanan dari sektor migas akan terus berlanjut karena produksi minyak mentah 2014 diperkirakan lebih rendah dari 2013 (826 ribu barrel per hari), bahkan bisa jadi di bawah 800 ribu barrel per hari.

Akar persoalan sudah terang benderang. Masalah keseimbangan eksternal kian memburuk. Pada masa Orde Baru, kita hanya mengalami defisit akun lancar, tetapi sekarang juga defisit perdagangan total.

Janganlah mengambinghitamkan pertumbuhan ekonomi sebagai biang keladi peningkatan defisit akun lancar sebagaimana dikatakan mantan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution. Benahilah industri manufaktur, perkokoh strukturnya. Perkuat di tengah, agar impor bahan baku/penolong dapat ditekan. Porsi impor bahan baku/penolong dalam impor total terus naik, dari 73,1 persen tahun 2012 menjadi 76,1 persen pada 2013. Impor plastik dan barang dari plastik serta bahan kimia organik saja tahun 2013 sudah menyedot devisa senilai 15 miliar dollar AS. Belum lagi impor besi dan baja yang menghabiskan 10 miliar dollar AS.

Membangun industri tidak bisa dengan cara simsalabim seperti sesumbar Menteri Koordinator Perekonomian yang mengatakan, dengan pengolahan dan pemurnian produk tambang, ekspor akan meningkat 27 miliar dollar AS pada tahun 2016-2017.

Tekanan terhadap akun lancar akan semakin berat mengingat pertumbuhan industri manufaktur hampir selalu lebih rendah daripada pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, peranan industri manufaktur dalam produk domestik bruto melorot secara konsisten, dari titik tertingginya 29 persen pada 2001 menjadi hanya 23,7 persen tahun 2013.

Musuh perekonomian adalah penguasa yang bekerja sama dengan para pemburu rente yang tidak rela industri kita kokoh, khususnya industri yang mengolah bahan baku. Kalau struktur industri kita kokoh, mereka bakal kehilangan rente, terutama dari perdagangan ekspor dan impor minyak mentah, BBM, kondensat, dan nafta.

[Dimuat di Harian Kompas, Senin, 10 Februari 2014, hal. 15]