Apakah Petani Semakin Sejahtera?

Petani semakin sejahtera jika penghasilan dari bertani bisa membeli barang dan jasa yang dibutuhkannya lebih banyak. Itu akan terjadi jika harga hasil pertanian naik lebih tinggi dari harga barang dan jasa yang dibeli petani. Badan Pusat Statistik mengeluarkan salah satu indikator kesejahteraan petani, yaitu “nilai tukar petani” (NTP).

Selama pemerintahan Presiden Joko Widodo, NTP cenderung turun, dengan catatan dalam dua bulan terakhir mengalami kenaikan. NTP mencapai titik terendah di bawah 100 pada Maret 2017.

tot-1

Kemerosotan lebih tajam dialami oleh NTP khusus tanaman pangan. Angka tertinggi terjadi pada November 2017, yaitu sebesar 104,1. Namun, setelah itu mengalami penurunan hingga titik terendah sebesar 95,4 pada Maret 2017. NTP tanaman pangan berada di bawah angka 100 sejak April 2016 hingga Mei 2017. Memang dalam dua bulan terakhir ada kenaikan.

tot-2

Jutaan petani tidak memiliki lahan. Mereka bekerja sebagai buruh tani. Nasib buruh tani    pun memprihatinkan. Upah riil buruh tani cenderung turun cukup tajam, dari tingkat tertinggi sebesar Rp 39.516 per hari pada menjadi Rp 37.380 per hari pada Mei 2017. Sejak awal pemerintahan Presiden Joko Widodo hingga Mei 2017, upah riil buruh tani turun sebesar 2,82 persen. Penurunan upah riil buruh tani lebih tajam dibandingkan penurunan upah riil buruh bangunan di perkotaan sebesar 1,78 persen.

tot-3

Kondisi di atas yang membuat penduduk miskin terkonsentrasi di perdesaan. Hampir dua pertiga penduduk miskin berada di perdesaan. Per September 2016, dari 27,76 juta penduduk miskin, 17,28 juta jiwa berada di perdesaan. Penduduk miskin di perkotaan hanya 10,49 juta jiwa.

poor-1

Penurunan jumlah penduduk miskin di perdesaan boleh jadi karena mereka amat tertekan bekerja di desa sehingga pindah ke kota. Perpindahan penduduk miskin desa ke kota membuat ketimpangan di desa turun dan jauh lebih rendah ketimbang ketimpangan di kota. Hal ini terlihat dari nisbah gini.

gini-1

Sudah saatnya untuk meninjau ulang efektivitas program pemerintah dalam memajukan sektor pertanian. Dana yang digelontorkan ke sektor pertanian tidak sebanding dengan peningkatan produksi pertanian, sebagaimana diingatkan oleh Bank Dunia: “In agriculture, large increases in government spending have not been associated with similar increases in agricultural production or even rice production, such that the ratio of spending to output in agriculture is increasing (Figure). This is partly because a large proportion of the increase in central government spending has gone to subsidize inputs (fertilizer subsidies, other agricultural subsidies, and MoA social aid). This proportion reached 47% in 2015, while only 3% was spent on R&D and extension services.”

Ternyata, perdagangan (ekspor minus impor) pangan Indonesia pun tidak menunjukkan perbaikan berarti. Bahkan pada tahun 2016 defisit pangan menunjukkan kenaikan. Untuk urusan perut ini, Indonesia sudah tekor  (lebih besar impor daripada ekspor) sejak 2007.

trade

Kisruh pangan justru kian kerap terjadi.

Quo vadis sektor pertanian.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Agriculture. Bookmark the permalink.

3 Responses to Apakah Petani Semakin Sejahtera?

  1. Firlan Hasan says:

    Mohon maaf pak faisal basri, anda tiada henti2nya mencari kekurangan pemerintah hanya karena berlandaskan pemikiran anda yang dikuasai oleh pesimisme dan kebanyakan dzu udzon. Sebaiknya anda lebih jernih lah dalam mengemukakan suatu hal, bulan puasa ini lah saatnya pak.

  2. Ayu Noer Annisa says:

    Yang punya lahan pun belum tentu sejahtera, pengeluaran besar utk pupuk. Apalagi klo lahannya sedikit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s