Timor-Leste Sudah Menyusul Indonesia?

Tingkat kesejahteraan rata-rata penduduk Timor-Leste berdasarkan gross domestic product (GDP) per kapita yang telah disesuaikan dengan purchasing power parity (PPP) dalam international US$ adalah sebesar US$1.709, sepertiga dari Indonesia yang besarnya US$4,956.[1] Namun, jika menggunakan indikator Gross National Income (GNI) per kapita berdasarkan PPP, Timor-Leste sejak tahun 2007 telah menyusul Indonesia. Data terakhir yang tersedia tahun 2012, GNI per kapita Timor-Leste sebesar US$6.230 sedangkan Indonesia sebesar US$4,730.[2]

gni

Ketika masih menjadi bagian dari Indonesia, Timor Timur tergolong provinsi dengan persentase penduduk miskin terbesar bersama Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Setelah berpisah dengan Indonesia, Timor Timur bisa melaju lebih kencang, sedangkan tetangga terdekatnya, Nusa Tenggara Timur, masih saja dengan status provinsi yang persentase penduduk miskinnya tertinggi setelah Papua dan Papua Barat. Sebagai negara yang relatif baru membangun dengan penduduk hanya 1,2 juta jiwa, Timor-Leste masih banyak menghadapi keterbatasan.

Namun, negeri ini bisa belajar banyak dari keberhasilan dan kegagalan negara lain, termasuk Indonesia, sehingga terbuka peluang untuk maju lebih cepat. Majalah Economist edisi terbaru mencantumkan Timor-Leste sebagai salah satu dari 10 negara yang diproyeksikan bakal mengalami pertumbuhan ekonomi paling cemerlang tahun 2014.[3]

Anggapan bahwa Timor-Leste bisa tumbuh tinggi karena relatif baru merdeka dan berawal dari tingkat yang rendah tidak cukup kuat. Di jajaran 10 besar ada Mongolia, Tanzania, Irak, Laos, dan Macau. Jika alasannya karena perekonomian Timor-Leste relatif sangat kecil, buktinya banyak perekonomian yang ukurannya kecil mengalami perkembangan tersendat-sendat. Bermuda dan Puerto Rico, misalnya, masuk dalam kelompok 10 besar yang pertumbuhannya tahun 2014 diproyeksikan paling buruk. Sebaliknya, negara sangat besar bisa juga tumbuh tinggi seperti China.

gdp_forecasts

Pertumbuhan ekonomi Timor-Leste pada mulanya berfluktuasi tajam karena ketergantungan perekonomiannya terhadap minyak dan kopi. Laju inflasi cukup tinggi, hampir selalu dua digit. Penyebab utamanya adalah persoalan supply bottlenecks. Walau demikian, sejak 2007 pertumbuhan ekonomi tidak lagi berfluktuasi tajam, bahkan hampir selalu di atas 10 persen dan diperkirakan berlanjut hingga tahun 2015.

growth

Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya setelah pemilihan umum yang lalu, sejumlah inisiatif telah digulirkan untuk memperkokoh landasan bagi pertumbuhan berkelanjutan, seperti pelayanan satu atap dalam  perizinan usaha, penyiapan undang-undang pertanahan, menghapuskan monopoli di jasa telekomunikasi dengan kehadiran dua pelaku baru, pembenahan bandara, dan konsultasi publik tentang undang-undang pertambangan. Jika Timor-Leste diuntungkan oleh keputusan arbitrase atas the maritime treaty yang mengatur the greater sunrise gas and condensate field, masa depan penerimaan negara dari sektor migas bakal lebih pasti. Jika di Indonesia kekayaan minyak sudah menjelma menjadi semacam “kutukan”, bagi Timor-Leste sangat berpotensi sebagai “berkah”.

The Petroleum Fund, yang merupakan sovereign wealth funds negara, sudah mencapai 14 miliar dollar AS pada Juli 2013, naik dari 11,8 miliar dollar AS pada akhir 2012. The Petroleum Fund relatif cepat mengakumulasi karena hanya sebagian kecil penerimaan Negara dari minyak yang dialirkan ke anggaran Negara bagi kebutuhan generasi sekarang. Sebagian besar sisanya dikelola untuk kepentingan generasi yang akan datang demi menegakkan keadilan antargenerasi.

Untuk kasus Indonesia, seluruh penerimaan minyak (bagi hasil minyak dan pajak keuntungan perusahaan minyak) yang pada tahun 2012 sebesar Rp 177 triliun habis dibelanjakan, bahkan masih kurang untuk menutup subsidi BBM sebesar Rp 240 triliun. Hal lain yang patut dikagumi dari Timor-Leste adalah kesungguhan pemerintah melindungi rakyatnya dari goncangan eksternal dan internal. Social protection index versi Asian Development Bank Timor-Leste menunjukkan Timor–Leste berada di urutan ke-11, jauh di atas Indonesia yang tercecer di urutan ke-27 dari 35 negara di Asia. Pemerintah Timor-Leste tak menunggu kaya untuk melindungi rakyatnya dari goncangan gelombang globalisasi yang juga merasuki negeri tetangga terdekat kita.

spi

Kita sepatutnya cepat sadar akan kesalahan di masa lalu, mau mengubah pola pikir yang mengedepankan kepentingan rakyat banyak dan menegakkan keadilan.

Informasi tambahan Timor-Leste (Indonesia):

Jumlah penduduk 1,2 juta jiwa (246,9 juta jiwa)

Pertumbuhan penduduk 2,9 persen (1,2 persen)

Luas daratan 14.870 km2 (1.904.570 km2)

GDP (PPP, international $) $2,1 miliar ($1,2 triliun)

GDP per kapita (PPP, international $) $1.709 ($4.956)


[1] World Bank, “East Asia and Pacific Economic Update: Rebuilding Policy Buffers, Reinvigorating Growth,” October 2013, hal. 89-92 dan 127-129.
[2] Data diambil dari World Bank, World Development Indicators.
[3] GDP forecasts, The Economist, Vol. 410, No. 8868, January 4th 2014, hal. 69.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Development and tagged , , . Bookmark the permalink.

56 Responses to Timor-Leste Sudah Menyusul Indonesia?

  1. Julio says:

    Terimakasih Pak Faisal..saya puas dengan posting Anda diatas…sebagai rakyat TL, kami memang sangat berharap prestasi ini terus dipertahankan dan ditingkatkan. Tidak harus merasa dianggap enteng, Indonesia seharusnya berbenah, saya setuju, hasil dari minyak masuk ke Petroleum Fund lalu bukan dihabiskan ke APBN dan mengenai Social protection index, saya setuju Indonesia sepatutnya cepat sadar akan kesalahan di masa lalu, kepentingan rakyat harus utama dan itu harus adil.
    Sekali lagi terimah kasih

    • faisal basri says:

      Pak Julio, saya bangga bisa cepat membangun Negeri, bersendikan keadilan dan mengutakamakan kesejahteraan rakyat. Semoga pemimpin TL konsisten melaksanakan agenda pembangunan yg berkeadilan dan memperkuat sistem. Awal yg baik ini niscaya akan lebih bermakna dengan memperkuat institutions, mewujudkan inclusive economic and political institutions. Selamat berjuang.

  2. Olivia Alves says:

    Pak Faisal terimakasih atas informasinya. padahal minggu kemrin materi kita tentang PPP bru di bahas…. saya akan membawakan referensi ini ke kampus, biar bisa berdiskusikan lagi..
    sebagai anak Timor Leste mengucapkan Terimakasih banyak

    • faisal basri says:

      Terima kasih, sama-sama, Ibu Olivia. Jika ada bahan bacaan yang dibutuhkan dan kebetulan saya memilikinya, dengan senang hati berbagi.

      • manseji says:

        Pak Faisal, terima kasih karena telah berbagi infonya. Terus terang saya pribadi rindu sama indonesia karena saya hidup di zamannya Indonesia yaitu zaman 1990an yang mana di saat itu sangat indah sekali. Waktu itu saya masih kecil dan merasakan keramahtamahan orang indonesia yang waktu itu kita hidup berdampingan namun sekarang sudah tak mendengar lagi kabar mereka semua. Saya merasa teman-teman saya pergi tanpa kata-kata perpisahan. Saya berharap rakyat Indonesia bisa hidup berdampingan seperti zaman tahun 1990an.

  3. Leandro says:

    Analisa yang bagus dan sangat realistis pak Faisal.

  4. tetap indonesia says:

    jgn lupa pak faisal menurut hemat saya dgn minim nya pemasukan dari sektor pajak, dan investasi langsung dari dalam ataupun luar negeri dan di ikuti dgn jumlah penduduk yg terus meningkat serta pendapatan negara tertinggi hanya dari sektor minyak yg notabene pasti akan habis tantangan negara timor leste sebenar nya untuk bisa bertahan atau tidak nya akan di lihat 20-30 thn kedepan bukan di lihat perhitungan angka2 saat ini saja..

    • faisal basri says:

      Semoga Timor-Leste mampu menyejahterakan rakyatnya. Mereka membangun dengan cara yang benar, setidaknya dalam hal yg mendasar, mengelola kekayaan alamnya dan melindungi rakyatnya. Bukti nyata, GNI per kapita Timor-Leste telah menyusul Indonesia.

  5. fernandofontesdosreis says:

    Terima kasih banyak atas analisisnya pak. semoga bisa lebih baik lgi kedepannya dan dengan pertumbuhan ekonomi yg baik ini bisa membawa berkah buat rakyat TL dan tentangganya rakyat Indonesia.

    • faisal basri says:

      Terima kasih, sama-sama. Kita berharap sekawasan maju terus bersama, bersinergi. Kawasan Asia Tenggara memiliki prospek yang cerah. Semoga perkembangan politik mendukung.

  6. Apeu says:

    i like this news it’s really good to read and keep trying Timor-Leste to look after your society in the future …thank’s for posting this Mr Faisal…………

  7. abel says:

    Sayangnya di TimorLeste tingkat korupsinya pun tidak kalah hebatnya dengan Indonesia. Bisa dibilang untuk soal korupsi Timor Leste sudah lebih pintar dari gurunya Indonesia. Saking pintarnya banyak koruptor di Timor Leste yang lolos dari jeratan hukum. KPK di Indonesia bisa dikatakan lebih galak dari KAK (komisi anti korupsi) nya Timor Leste, yg bisa dibilang harimau bergigi ompong. Semoga semua korupsi bisa mampus baik di Indonesia maupun Timor Leste. Salam dari Timor Leste pak. Saya sangat suka dengan artikel bapak. Terima Kasih.

    • faisal basri says:

      Semoga orang-orang baik di Timor-Leste tetap bersuara dan menyuarakan kebenaran. Jangan patah semangat. Perkuat institusi politik dan ekonomi agar terhindar segelintir orang “merampok” kekayan Negara. Terima kasih, sama-sama, Bung Abel.

    • Ze Chavez says:

      Para koruptor bukannya bebas dari jeratan hukum..tapi lagi kebingungan karena sebentar lagi akan mengikuti senior mereka lucia lobato…tinggal tunggu saatnya tiba..semua kasus korupsi sudah diproses…sekian

  8. gomes says:

    selamat sore pak Faisal,

    saya sangat kagum dengan perkiraan analisis yg ditunjukkan pada website ini…menurut pengamat saya selama pemerintah TL membangun negara ini khususnya kementrian pertanian tidak menunjukkan produksi dan produktivitas dalam negeri dan kenyataannya semua sembilan bahan pokok termasuk sayuran diimpor dari Indonesia, dan negara lain. kira2 indikator apa yang bapak gunakan dalam SPI. karena banyak lahan tidur, irigasi, harga input yang mahal, perubahan iklim menunjukkan ada kemadekan dalam menjalankan program-program pertanian serta adanya Good Quality Report semuanya bagus di implementasikan pada masy petani tetapi uang masuk saku dan lain sebagainya. atau karena bpk melihat dari sisi lain seperti Jasa, pembangunan pemboran minyak yg sekarang ada masalah dengan Australia?

    mohon di jelaskan pak

    terima kasih …

    Gomes

    • faisal basri says:

      Selamat malam, Pak Gomes

      SPI saya dapatkan dari ADB sebagaimana saya cantumkan di bawah tabel di tulisan. Mungkin masih banyak yang kelemahan, namun Timor-Leste setidaknya telah mulai membangun negeri dengan prioritas yang menurut standar internasional patut dipuji. Pujian juga karena membentuk Petroleum Fund, yang menunjukkan pemerintah peduli dan telah menegakkan prinsip keadilan antar-generasi. Dalam kedua hal ini, sungguh Indonesia harus belajar.

  9. Pingback: Timor-Leste Sudah Menyusul Indonesia? | Timor Leste Merdeka

  10. mat sore pak faisal,trus trang saya hanya bisa mengerti garis besarnya aja ttg apa yg bpk sampaikan. saya msuk TL thn 1999 keluar th 2006. slama sya tggl disana yg sya liat dn rasakan ttg ekonomix sgt sulit. Menurut hemat sya tingkt kesulitanx dr kurangx perhatian pemerintah pd sektor pertanianx dn peternakan, padahal lahanx sgt luas dn subur apalg peternakanx sgt bagus itu hrs ada campur tgn pemerintah untuk lebih membrikan perhatianx agar kedua sektor itu bsa mensejahterakan rakyat TL bkan hax dr migas. Dan soal korupsi kalau bisa bg yg terbukti korupsi hukumanx mati aja biar gk ad yg mau coba tuk korupsi krn korupsi itu penyebab rakyat jd miskin dn susah. jgn seperti negara sya ini tmpt berkembangbiak para koruptor yg bagai penyakit kronis yg udah gk bisa sembuh!Slamat tuk TL smoga lebih baik lagi.

    • faisal basri says:

      Terima kasih banyak atas komentarnya dan tambahan informasinya. Sektor pertanian perlu diperkuat untuk meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan rakyat. Diversifikasi perekonomian dan penguatan sector keuangan agar financial inclusion index cepat meningkat. Sektor keuangan adalah jantung perekonomian. Memperkuat institutions adalah tantangan terbesar, agar institusi ekonomi dn politik bersifat inklusif. Ini yang jadi kuncipemberntasan korupsi. maju terus.

  11. Ameta says:

    Pak Faisal, terima kasih sudah berikan semangat dan harapan buat Timor Leste lewat article ini. Dan article ini memang sangat bermutu dan bermanfaat buat referensi.
    Sebagai orang Timor, saya merasa banga sekali dengan pertumbuhan ekonomi di Timor Leste. Tapi saya mau berkomentar tentang Social Security index. Menurut saya, Pemerintah Timor Leste terlalu melindungi rakyatnya, dan itu bisa cenderung ke “dimanjakan”. Itu bahaya buat pertumbuhan jangka panjang kalo kami rakyat Timor sukanya mau dilindungi tapi tidak mai melindungi negara. Contohnya: korupsi di Timor Leste sangat bertumbuh. Menurut saya, pemerintah seharusnya mulai mendidik penduduknya untuk melihat kedepan “beyond the horizon”.
    Anyway, komentar saya ini bukannya mau mennegativekan Timor Leste, tapi saya berharap supaya kami rakyat Timor Leste bisa belajar banyak lagi sebelum semuanya terlambat.
    Thanks

    • faisal basri says:

      Terima kasih banyak telah berkunjung. Semangat terus dan semoga korupsi lambat laun bisa diberantas. Sebagai dua Negara yang bertetangga, banyak sekali yg bis dilakukan utuk sharing prosperity.

  12. Juvinal dias says:

    GNI TL meningkat di tahun 2007 Saat TL mulai mendapatkan pendapatan minyaknya. Satu Hal yg perlu di garis bawahi adalah 90% state budget Dari oil revenue. GDP non oilnya Cuma 25% Dari total GDP oil. Keterbatasan SDA juga Akan menjadi Kendala tersendiri bagi sustainability economy TL di masa Depan

  13. tetap indonesia says:

    saya juga sempat melihat blog orang2 timles di sana mereka menurut saya seperti euphoria yg sangat2 berlebihan seperti katak dalam tempurung merasa seolah olah negara mereka sangat2 kaya raya karena minyak.. tapi pada saat saya me lihat2 dan saya coba mem banding2 kan pada blog pembangunan

    http://www.skyscrapercity.com/forumdisplay.php?f=402

    ternyata sampai saat inipun ibukota negara timles dili saya rasa hanya sejajar bahkan tidak lebih modern dari ibukota2 kabupaten/kota di indonesia..
    karena menurut saya sektor minyak itu investasi nya seperti gambling dan sangat2 besar biaya modal awal nya kemudian blm tentu juga langsung pasti dapat ada minyak nya bisa jadi area nya kering ( dry hole ), apalagi saya dengar sempat terjadi ketegangan dgn pihak australia tentang bagi hasil nya bahkan sampai ke arbitrase international segala.. dari kasus tersebut bisa saja memicu keengganan pihak investor dari banyak negara yg ingin berinvestasi di sana tentang kepastian keuntungan investasi nya.. jika tidak ada negara yg mau berinvestasi pada bidang explorasi minyak maka tidak menutup kemungkinan malah pendapatan negara timles menjadi sangat2 kecil.. karena sektor2 pendapatan negara lain nya masih belum bergerak dgn maksimal..

  14. Timorese says:

    Hi Pak Faisal,
    Figures and your analysis are objective as far as, I, too, have known it from various sources. Timorese should be proud of this progress, and are expected to manage the current capital allocated for the different aspect of development for the future. It is normal for any country to have its economy growth is significant when the public spending is big, particularly, small economy like Timor Leste. I agreed with some of my country men above and even with my brothers from Indonesia that single source of funding for the development have its own drawbacks which will become a boomerang in the future if the current actions do not match with the perfect visions translated in various social, and economic policies. Groundbreaking policies, well, it is of course a facet where we start, but that is not everything. Determinant factor for the success has something to do with the commitment to do what you have planned.

    The reality speaks differently, surely I am talking about the future probability. You mentioned the diversification of economy. This is the key for the future sustainable economy. It would be interesting too if you try to look at some microeconomics data records. This is to show the real impact of the wealth and to see the scale of the impact, at the bottom level.

    I should be honest that the government of Timor Leste is doing a great job in serving its needy people, and heroes. Free education and health, subsidies for vulnerable and veteran etc are the evidences. Counting the country’s population size, probably nearly half of the people might have benefited from these policies which people would be happy because they get money just from the government. Only the rest are expected to be generative for the economy because they do not have any source of income like the majority of people, and they must work to create something. It sounds like when I was a kind, I heard that in some European countries, citizens are paid although they don’t work. This is a plus in terms of social equity, but, don’t you think this is a virus for the future national economy if those beneficiaries are not empowered to become the actors?. looking forward for more discussions on this.

    I got also another point of your article. It is true that Indonesia, a powerful, rich, large country, still walking very slow, whereas relatively new comers and small have come closer and some even have passed as you described. Indonesia should get rid of corruption virus and take the figures you presented as an urge to move. I remember one of my friends told me that a person would feel ashamed if his junior college is more successful than him. This analogy is appropriate to make Indonesia feel that way. The point is experiences are worth to be learnt. Indonesia should feel that way to move, and Timor Leste should learn the failures from Indonesia.

    Oil will dry up in the coming decades. Now, people are heavily relying on free services which are funded from that single source, OIL. If this continues longer, you cannot even expect taxes because there is nothing to be taxed. Well, maybe some but not enough when oil dries out. We can still boast with the savings from oil, but current spending flow is just uncontrollable and have no sustainable results at the end. This will create a big hassle for the future generations.

    By the way, thank you Pak for bringing this up. I really appreciate this article. I sound like too critical, but that’s the way I love my country. I need to think critically and recognize the minuses because boasting does not make any better.

    Salam, Pak

  15. Lo ma pinter doang kritik giliran negara mau hapus subsidi di tv lo teriak2 menolak alasannya bla-bla inevisien lah apa lah. Giliran negara udah terbebani subsidi nanti lo bilang harus naikin bbm, giliran begini lo teriak2 panas-panasin timor leste menyalip indonesia berdasar gni. Klo Jadi ekonom jangan jadi politikus. Biar konsiten menilai sesuatu sesuai dengan kenyatan tdk mudah terpengaruh pembawa acara.

  16. Foje says:

    hai pak faisal…….mkasaih atas analisisnya. tapi pak gw ingin gimana menurut bapak proses arbitrase internasional antara tL vs australia. apakah ada dampaknya terhadap kedua negara tersebut????

  17. Drs.Hendi Permana Kusuma,M.M. says:

    Ternyata WNTL sama dgn para WNI yang punya mood serta obsesi majukan negaranya & sangat peduli pada negaranya.Saya sangat senang dgn website ini sebab bermutu & edukatif sekaligus sebagai tempat utk saling curhat bersama.Bila di antara kalian ada yang ingin diskusi atau curhat baik secara pribadi maupun problem di negara Timor Leste mulai dari Ekonomi dan sebagainya boleh bicara pada Saya lewat email.
    Demikian pula bagi kalian semua di Timor Leste dari Kota & Desa mana pun yang ingin berkenalan & bersahabat dgn Saya silakan kirim email ke Saya di sertai BIodata Kalian.Di jamin pasti di balas ! Ini alamat email Saya : hendi.pk@gmail.com
    Terimakasih !

    • Drs.Hendi Permana Kusuma,M.M. says:

      Bila kalian ingin berbicara lebih cepat pada Saya bisa via SMS saja ke nomor HP :
      62811255798.Tapi bagi yg ingin berkenalan via SMS tolong berikan juga alamat email &
      Biodata kalian.Sekali lagi Saya ucapkan banyak Terimakasih bagi kalian yang berkenalan dengan Saya & Terimakasih pula dgn Bapak Faisal Basri dkk termasuk para moderator & admin yang baik hati atas pemuatan postingan Saya ini !

  18. Tapi GDP perkapita tidak selalu membuktikan tingkat kesejahteraan warganya.

    • faisal basri says:

      Tentu saja tidak. Tengok elemen yang diperkenalkan pemerintah Timor-Leste dalam hal perlindungan sosial dan prinsip keadilan antar-generasi sebagaimana tercermin dari kehadiran Petroleum Fund. Patut kita contoh. Jangan malu mencontoh yang baik dari mana pun, apalagi dari sesama saudara.

  19. joedi says:

    Saya lama hidup di timor leste dan saya berharap warga timor leste mau belajar belajar dan belajar…..krn selama ini saya lihat mental mereka blm siap…..krn kebanyakan manager atau profesional masih dipegang org asing…..disiplin mereka kurang dan merasa sudah puas….kalau mereka tetap seperti itu…..20 thn lagi blm tentu bisa menyusul indonesia….pemerataan pembangunan tdk ada….yg kaya akan semakin kaya dan yg miskin akan bertambah parah…..saya mulai distrik bobonaro sampai lospalos sdh datangi dan ikut membangun….jadi yg Bpk sampaikan kira nya cuma ada di dalam kertas…..coba bapak turun survey ke lapangan…..krn data tdk sesuai dgn kondisi lapangan krn pemerataan pembangunan tdk ada…..saya sdh 11 thn di timor leste dgn penghasilan 20.000 dollar perbulan….coba bandingan dgn rakyat timor yg penghasilannya 115 dollar sampai 300 dollar…..????

    • faisal basri says:

      Kita pun patut belajar dari Timor-Leste tentang perlindungan sosial dan Petroleun Fund. Sebagai sesama tetangga, kita sama-sama belajar.

      • suryo sumpeno says:

        Saling belajar, saling menghormati dan selalu berfikir positif. Semoga kemajuan yg dicapai Timor Leste akan memacu Indonesia untuk lebih maju lagi. Terima kasih kpd pak Faisal Basri.

    • DILI says:

      Joedi, Kita kalau udah mendapatkan gaji USD 20.000 dan tidak tahu berterima kasih itu namanya kualat. anda akan merasakan itu suatu saat. Harusnya anda yang sudah 11 tahun di TL dan mendapatkan gaji sebesar itu lebih objective melihat sesuatu, kami menerima gaji kecil disesuaikan dengan kenyataan hidup di TL orang asing memang gaji besar dikarenakan biaya hidup mereka di negara mereka masing masing mahal makanya di sesuaikan. Orang Indonesia banyak yang cari hidup ke TL itu udah membuktikan kalau TL memang lebih berpontensi maju ketimbang Indonesia. Pemerintah dan sector swasta kami saat ini membayar gaji bear kepada expat tapi Pemerintah kami juga banyak mengirim orang TL untuk sekolah di Universitas besar seperti di USA, CANADA, JERMAN, PORTUGAL, KOREA, CHINA, JEPANG, AUSTRALIA, NEW ZELAND dan FIJI. Orang orang ini sudah mulai ada yang balik ke Timor Leste dan menenpati tempat atau posisi vital, hitung hitung 10-15 tahun ke depan kami akan mempunyai banyak tenaga kualifikasi yang bisa mendapatkan gaji USD 20.000 dan mulai memulangkan semua expat yang dari luar, karena kami akan hanya membutuhkan tenaga kerja buruh kasar dari Indonesia yang bisa kami perintah. Jangan lupa Timor Leste dulu merupakan kota paling indah se asia tenggara pada jaman Portu, setelah masuk indonesia kota DIli dan yang lainnya jadi berangtakan dikarenakan pembangunan yang tidak beraturan seperti di Indonesia. Saat ini kami sedang memikirkan bagaimana merubah kembali DIli sebagai kota terindah se asia tenggara.

      • yuli says:

        Menurutmu begitu ya. Ah saya nggak mau diperintah2, kerja di Indonesia saja selama ini juga baik2 saja kok. Tapi saya mendukung perlunya pemberantasan korupsi baik di TL ataupun Indonesia.

  20. agusto pereira says:

    GNI per kapita Timor-Leste sebesar US$6.230 sedangkan Indonesia sebesar US$4,730….???Membandingkan kesejahteraan penduduk antara ke dua negara indonesia dan timor leste berdasarkan data ADB yg bpk faisal kutip itu bkn cerminan kesejahteraan keseluruhan rakyat ke dua negara…mungkin ada baiknya Bp.faisal bisa turun atau datang langsung ke timor leste biar lbh tahu dan jelas…trmksh,, VIVA CNRT

  21. ttogelcom says:

    …………..KISAH NYATA…………..
    Assalamu Alaikum Saya Ibu Siti Dari Kota Makassar Ingin Berbagi Cerita
    dulunya saya pengusaha sukses harta banyak dan kedudukan tinggi tapi semenjak
    saya ditipu oleh teman hampir semua aset saya habis,
    saya sempat putus asa hampir bunuh diri,tapi saya buka
    internet dan menemukan nomor Ki Kanjeng,saya beranikan diri untuk menghubungi beliau,saya dikasi solusi,
    awalnya saya ragu dan tidak percaya,tapi saya coba ikut ritual dari Ki Kanjeng alhamdulillah sekarang saya dapat modal dan mulai merintis kembali usaha saya,
    sekarang saya bisa bayar hutang2 saya di bank Mandiri dan BNI,terimah kasih Ki,mau seperti saya silahkan hub Ki
    Kanjeng Taat Pribadi di nmr 085325576777 Kyai Dari Probolinggo,ini nyata demi Allah kalau saya bohong,indahnya berbagi,assalamu alaikum.

    KEMARIN SAYA TEMUKAN TULISAN DIBAWAH INI SYA COBA HUBUNGI TERNYATA BETUL,
    BELIAU SUDAH MEMBUKTIKAN KESAYA !!!

    ((((((((((((DANA GHAIB)))))))))))))))))

    Pesugihan Instant 10 MILYAR
    Mulai bulan ini (juli 2015) Kami dari padepokan mengadakan program pesugihan Instant tanpa tumbal, serta tanpa resiko. Program ini kami khususkan bagi para pasien yang membutuhan modal usaha yang cukup besar, Hutang yang menumpuk (diatas 1 Milyar), Adapun ketentuan mengikuti program ini adalah sebagai berikut :

    Mempunyai Hutang diatas 1 Milyar
    Ingin membuka usaha dengan Modal diatas 1 Milyar
    dll

    Syarat :

    Usia Minimal 21 Tahun
    Berani Ritual (apabila tidak berani, maka bisa diwakilkan kami dan tim)
    Belum pernah melakukan perjanjian pesugihan ditempat lain
    Suci lahir dan batin (wanita tidak boleh mengikuti program ini pada saat datang bulan)
    Harus memiliki Kamar Kosong di rumah anda

    Proses :

    Proses ritual selama 2 hari 2 malam di dalam gua
    Harus siap mental lahir dan batin
    Sanggup Puasa 2 hari 2 malam ( ngebleng)
    Pada malam hari tidak boleh tidur

    Biaya ritual Sebesar 10 Juta dengan rincian sebagai berikut :

    Pengganti tumbal Kambing kendit : 5jt
    Ayam cemani : 2jt
    Minyak Songolangit : 2jt
    bunga, candu, kemenyan, nasi tumpeng, kain kafan dll Sebesar : 1jt

    Prosedur Daftar Ritual ini :

    Kirim Foto anda
    Kirim Data sesuai KTP

    Format : Nama, Alamat, Umur, Nama ibu Kandung, Weton (Hari Lahir), PESUGIHAN 10 MILYAR

    Kirim ke nomor ini : 085325576777
    SMS Anda akan Kami balas secepatnya

    Maaf Program ini TERBATAS hanya untuk 25 Orang saja..

  22. Canjo Reis says:

    Pak Faisal, bagus sekali survey anda, hal ini sangat manarik bagi saya namun di sisi lain perlu kita ketahui bersama bahwa Indonesia itu sangat kaya tetapi yang kaya tetap kaya yang miskin tetap miskin, jadi ratio GNI per kapita itu menunjukkan elastisitas yang bertolak belakang, begitupun dengan perkapita GNI di Timor-Leste, pak Faisal katakan bahwa itu cenderung lebih tinggi ketimbang dengan perkapita GNI di Indonesia namun itupun garis elastisitasnya sangat bertolak belakang sebab masyarakat di pelosok Timor-Leste sulit sekali untuk mendapatkan 1 atau 2 dollar per hari, hal ini menunjukkan bahwa pihak tertentu (pihak X) yang sudah berlimpahan dollar yang berakhibatkan GNI perkapita Timor Leste meningkat.

  23. Malau Malau says:

    Bank Dunia (Worl Bank, 1996a, 258f), “GNP per kapita adalah tolak ukur yang bermanfaat sebagai informasi tentang produktivitas ekonomi rata-rata, tetapi baik kemakmuran maupun keberhasilan proses perkembangan masyarakatnya tidak bisa di ukur”

    • faisal basri says:

      Sepakat sekali. GDP per kapita hanya menunjukkan rerata, tidak mencerminkan ketimpangan atau kualitas pembangunan.

      • wiwid says:

        TL udah sangat maju,, dan merdeka tapi anehnya kok ga punya bank central y,,,, negara yg uda merdeka haram hukumnya klu ga punya bank central

      • faisal basri says:

        Yang menonjol dr TL adalah sejak awal menyadari pentingnya social protection. Kedua menabung hasil minyaknya untuk generasi mendatang. Dalam kedua hal ini kita kalah jauh.

      • wiwid says:

        GDP adl seluruh jumlah barang & jasa yg ada di suatu negara baik yg diproduksi dalam negeri atau import,, nah di TL brp % produsi dlm negeri dan yg impor ? Andaikan yg impor 70% dari indonesia artinya cadangan devisa/dolarnya akan masuk ke indonesia,,, kan lama2 akan habis msuk ke indo, sementara GNP mengalami kenaikan dan ternyata kesedian dolar makin menipis akibatnya terjadi resesi berat krn tdk adanya bank central sbg penyeimbang current flow ,, sementara dgn mengandalkan usd sbg mata uang negaranya berarti bank central ikut amerika / the Fed , apakah tdk bahaya??

      • faisal basri says:

        TL memperoleh devisa utamanya dari ekspor minyak yang bisa digunakan untuk mengimpor dari Indonesia. Tantangan bagi TL adalah mendiversifikasikan perekonomiannya.

      • wiwid says:

        Bank central adalah kunci utama penentu kebijakan ekonomi dlm negeri TL,, misal dgn mencetak uang dolar timur leste diawal merdeka dulu,, nah sampai sekarang pake USD artinya semua kebijakan ikut the Fed,, yg ke2 rakyat bakal ga percaya lagi jika TL membuat uang sendiri krn sudah keenakan pake usd,, ke3 jika minyak habis artinya usd hbis krn selama ini defisit lebih besar yaitu selalu import ke indonesia,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s