Dinamika Perekonomian Indonesia di Tengah Turbulensi Perekonomian Global: Peluang dan Tantangan bagi Perekonomian Sumatera Selatan

Catatan: Berapa bagian dari naskah  ini sebagian sudah dimuat dalam dua tulisan sebelumnya bertajuk “Seberapa Tangguh Indonesia Menghadapi Potensi Krisis,” “Tak Bisa Melangkah Mundur,” dan “Pergeseran Kekuatan Ekonomi Dunia.” Tulisan ini mengalami perbaikan dari naskah yang dibacakan pada Orasi Wisuda Universitas Sjakhyakirti Palembang, 18 April 2015.

***

DINAMIKA PEREKONOMIAN INDONESIA DI TENGAH TURBULENSI PEREKONOMIAN GLOBAL: PELUANG DAN TANTANGAN BAGI PEREKONOMIAN SUMATERA SELATAN[1]

(Faisal Basri)[2]

Hari-hari belakangan ini kita kerap membaca di media massa kekhawatiran tentang pelemahan nilai tukar rupiah. Pada minggu kedua Maret 2015 nilai tukar rupiah menembus Rp 13.000 per dollar AS. Titik terendah pasca krisis tahun 1998 terjadi pada 16 Maret 2015, yaitu Rp 13.237 per dollar AS. Kemarin (Jumat 17 April 2015), kurs tengah Bank Indonesia tercatat Rp 12.863 per dollar AS. Pelemahan rupiah sebenarnya sudah cukup lama terjadi, yakni sejak Agustus 2011. Lihat Peraga 1.

Sejak awal Januari 2015, tidak hanya rupiah yang mengalami pelemahan, melainkan hampir semua mata uang dunia. Tercatat setidaknya rupiah menguat terhadap Euro, dollar kanada dollar Austrlia, dan ringgit Malaysia. Lihat Peraga 1a.

1] Naskah yang dipersiapkan untuk Orasi Ilmiah Wisuda Universitas Sjakyakirti, Palembang, 18 April 2015.

[2] Dosen pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Universitas Tanjung Pura.

1

1a

Kita pun menyaksikan dan langsung merasakan dampak dari volatilitas harga minyak dan komiditas lainnya. Sejak akhir tahun 2014, harga minyak mentah meluncur turun hingga mencapai titik terendah pada Januari 2015. Pemerintah Indonesia di bawah pemerintahan baru mengubah kebijakan subsidi minyak secara drastis sehingga kini kita dihadapkan pada harga bahan bakar minyak yang kian kerap berubah. Lihat Peraga 2.

2
Kedua contoh itu menyadarkan kita betapa lingkungan internasional sangat peka terhadap perkembangan ekonomi nasional dan tentu saja dunia usaha. Padahal, perubahan tidak sebatas kedua hal itu. Perubahan telah merambah hampir segenap aspek kehidupan. Oleh karena itu, mau tak mau kita harus kian memahami dinamika lingkungan global, tidak hanya di bidang ekonomi, tetapi juga sosial dan geopolitik.

Pergeseran Kekuatan Ekonomi Dunia

Hingga paruh pertama tahun 1990-an, produk domestik bruto (PDB) riil Benua Eropa dan Benua Amerika masih lebih besar ketimbang Benua Asia. Namun, pertumbuhan pesat yang berkelanjutan di negara-negara Asia pasca Perang Dunia II—seraya negara-negara Eropa dan Amerika cenderung mengalami perlambatan pertumbuhan—membuat pangsa Asia terus naik sampai akhirnya mengalahkan Eropa pada pertengahan 1990-an dan melampaui Amerika pada awal tahun 2000-an. Kini, kekuatan Asia telah jauh melampaui Eropa maupun Amerika, masing-masing sekitar 45 persen, 23 persen, dan 27 persen. Peranan Benua Afrika praktis tidak mengalami perubahan dalam setengah abad terakhir, hanya sekitar 5 persen. Lihat Peraga 3.

3

Berdasarkan PDB menurut paritas daya beli (Gross Domestic Product/GDP based on purchasing power parity/PPP) tahun 2013 versi Bank Dunia, empat negara Asia bertengger di jajaran sepuluh besar dunia, masing-masing China di posisi ke-2, India dan Jepang di posisi ke-3 dan ke-4, serta Indonesia di urutan ke-9. Benua Amerika hanya diwakili oleh dua negara yaitu Amerika Serikat di posisi puncak dan Brazil ke-7. Sisanya adalah empat negara Eropa, yaitu Jerman (ke-5), Rusia (ke-6), serta Prancis (ke-8) dan Inggris (ke-10). Pada tahun 2014, China menyusul Amerika Serikat sehingga berada di posisi puncak, sedangkan Indonesia naik satu peringkat (ke-8) menyusul Prancis. Lihat Peraga 4.

4

Asia juga unggul sebagai negara pengekspor. Dari 30 top exporters dunia, Asia menempatkan sepuluh negara. China lagi-lagi menjadi jawaranya. Posisi puncak sudah dinikmati China sejak tahun 2009, menggantikan posisi Jerman yang selama bertahun-tahun selalu di posisi pertama. Sembilan negara Asia lainnya adalah Jepang (ke-4), Korea (ke-7), Hong Kong (ke-9), Singapura (ke-14), India (ke-19), Taiwan (ke-20), Thailand (ke-24), Malaysia (ke-25), dan Indonesia (ke-27). Posisi Indonesia tahun 2013 naik empat peringkat dari tahun 2008. Kesepuluh negara Asia itu menguasai 30,2 persen ekspor dunia pada tahun 2013, meningkat dari 26,7 persen pada tahun 2008. Lihat Peraga 5.

5

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, bahkan tertinggi di dunia serta keterbukaan kebanyakan negara Asia membuat impor mereka pun naik pesat. Semua kawasan di dunia semakin membidik pasar Asia yang menjanjikan. Impor Asia meningkat dari 26,4 persen pada tahun 2008 menjadi 32,2 persen pada tahun 2013. Lihat Peraga 6.

6

Tak heran jika Asia-Pasifik menjadi mesin utama perdagangan dunia. Perdagangan Trans-Pasifik tumbuh pesat mengalahkan perdagangan Trans-Atlantik. Hal ini antara lain terlihat dari nilai perdagangan antara Amerika Serikat dengan Asia-Pasifik yang sejak tahun 1980-an telah melampaui perdagangan Amerika Serikat dengan Eropa. Lihat Peraga 7. Tidak berlebihan muncul julukan abad ini merupakan “Abad Asia”.

7

Tak pelak lagi, Asia semakin solid sebagai kesatuan kawasan sebagaimana terbukti dari porsi perdagangan intra-Asia yang meningkat konsisten sejak akhir 1990-an dan sebaliknya perdagangan Asia dengan Amerika Serikat dan Eropa turun sangat tajam dari sekitar 37 persen di akhir 1990-an menjadi hanya 23 persen pada tahun 2012. Lihat Peraga 8.

8

Peranan Asia yang kian meningkat dalam percaturan ekonomi dunia membuat kawasan ini akan semakin menjadi tulang punggung utama perekonomian dunia. Pada tahun 2015 sumbangan Asia baru mencapai sekitar 34 persen dalam PDB dunia (World GDP). Pada tahun 2030 diproyeksikan naik menjadi 40 persen dan pada tahun 2050 peranannya akan lebih dari separuh PDB dunia. Lihat Peraga 9.

9

Prospek yang cukup menjanjikan itu mendorong arus masuk penanaman modal asing langsung (foreign direct investment inflows). Dari 778 miliar dollar AS penanaman modal asing langsung yang mengalir ke negara berkembang, sebanyak 426 miliar dollar AS atau 55 persen menuju Asia. Asia Timur dan Asia Tenggara merupakan tujuan investasi yang paling menarik dengan menyerap sebesar 347 miliar dollar AS atau 81 persen dari keseluruhan penanaman modal asing langsung di Asia.[1]

Mencermati Perubahan Mendasar Perekonomian Dunia

Mengiringi pergeseran kekuatan ekonomi dunia, muncul berbagai perubahan yang menjadi fenomena baru. Pertama, gejolak semakin kerap terjadi. Hampir semua gejolak itu dipicu oleh krisis keuangan sebagai akibat dari cengkeraman financially-driven capitalism.Uang telah menjelma menjadi komoditas yang diperjualbelikan, tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat tukar (medium of exchange), penyimpan nilai (store of value), dan unit perhitungan (unit of account).

Sudah barang tentu, pemilik modal berada di atas angin. Mereka leluasa memutarkan uangnya 24 jam ke seantero pasar finansial dunia dan mengakumulasi modal dengan cepat dalam suatu tatanan yang mengarah pada zero sum game. Instrumen yang diperjualbelikan tidak sebatas surat berharga seperti saham dan berbagai jenis surat utang yang dituruntemurunkan seperti subprime mortgage yang menjadi pemicu krisis finansial gobal tahun 2008.

Kedua, harga komoditas tidak lagi semata-mata ditentukan oleh interaksi permintaan-penawaran fisik tetapi sudah terseret ke dalam kegiatan spekulasi sehingga terjadilah financialization of commodities. Surat berharga dengan underlying komoditas ini nilainya berlipat ganda dari nilai transaksi pertamanya sehingga membuat harga komoditas semakin bergejolak.

Masih banyak lagi fenomena yang menyertai financially-driven capitalism yang telah mendunia, seperti ketimpangan yang semakin parah, degradasi lingkungan, dan konsumerisme eksesif.

Kesemua perkembangan dan fenomena baru itu merembes ke seluruh negara termasuk Indonesia. Perbedaannya sebatas intensitas pengaruh dan daya tahan setiap negara.

Perekonomian Indonesia

Setelah mengalami krisis parah pada tahun 1998, perekonomian Indonesia mengalami perubahan mendasar. Sektor perbankan yang sempat semaput akibat didera krisis tahun 1998 telah mengalami konsolidasi. Pembelajaran krisis 1998 melahirkan perbankan yang lebih berhati-hati dan sistem pengawasan ekstra ketat. Ada yang harus dibayar untuk itu, yakni ekspansi kredit perbankan terbata-bata sehingga porsinya terhadap PDB relatif sangat rendah dibandingkan dengan negara tetangga. Lihat Peraga 10.

10

Pasar finansial lainnya demikian pula. Nilai pasar obligasi Indonesia sangat rendah, baik untuk obligasi negara maupun obligasi korporasi. Bahkan pencapaian Indonesia lebih rendah ketimbang Vietnam sekalipun. Lihat Peraga 11.

11

Sekalipun pasar saham tumbuh pesat dalam lima tahun terakhir, namun nilai kapitalisasi pasarnya juga tergolong rendah dibandingkan dengan Asean-5 (Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina). Lihat Peraga 12.

12

Pasar valuta asing juga relatif cetek. Pelemahan nilai tukar rupiah yang masih terus berlanjut tidak sepenuhnya disebabkan oleh rencana The Fed menaikkan suku bunga, melainkan juga oleh transaksi di pasar valuta asing yang relatif sangat tipis, hanya sekitar dua miliar dollar AS sehari, padahal kebutuhan valuta asing tiga BUMN (Pertamina, PLN, dan Garuda) saja seharinya sudah mencapai ratusan juta dollar AS.

Beberapa faktor fundamental yang menopang rupiah sebetulnya justru menunjukkan perbaikan. Kemerosotan harga minyak di pasar dunia menyebabkan impor minyak Indonesia turun sangat tajam selama Januari-Februari 2015 dibandingkan periode yang sama tahun 2014, yaitu masing-masing sebesar 44,39 persen untuk impor minyak mentah dan 44,86 persen untuk impor bahan bakar minyak (BBM). Sedemikian besar pengaruh penurunan harga minyak ini terlihat dari transaksi perdagangan minyak Februari 2015 yang mulai surplus kembali setelah lebih dari 10 tahun (sejak 2003) selalu mengalami defisit. Perbaikan transaksi perdagangan minyak membuat transaksi perdagangan total dalam dua bulan pertama tahun 2015 juga mencatatkan suplus setelah selama 2012-2014 mengalami defisit.

Surplus perdagangan memberikan sumbangsih terhadap perbaikan defisit akun lancar (current account). Namun, karena surplus transaksi modal (modal portofolio, penanaman modal asing langsung, dan modal lainnya) lebih besar dari defisit akun lancar, maka neraca pembayaran Indonesia pada triwulan pertama tahun ini (Januari-Maret) diperkirakan mengalami surplus, sehingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah mereda. Berbeda dengan kebanyakan negara emerging markets, Indonesia tidak mengalami tekanan modal keluar (capital outflows). Lihat Peraga 13. Kondisi demikian patut dijaga dan dipertahankan agar sovereign rating Indonesia lebih baik lagi.[2]

13

Faktor itulah yang antara lain membuat daya tahan Indonesia terhadap gejolak eksternal cukup tangguh, walaupun ketangguhannya turun dibandingkan kondisi sebelum krisis finansial global tahun 2008. Daya tahan Indonesia jauh lebih baik ketimbang India yang tergolong rentan. Lihat Peraga 14.

14

Walaupun tekanan eksternal tidak separah seperti yang dialami beberapa negara emerging markets, perekonomian Indonesia masih dihadapkan pada beberapa kendala struktural. Salah satu yang terpenting adalah masih dangkalnya sektor finansial seperti tercermin dari financial development index.[3]

Selain itu, proporsi penduduk dewasa yang memiliki akun di lembaga keuangan formal (financial inclusion index) masih sangat rendah. Walaupun mengalami peningkatan tajam dari 19,6 persen pada tahun 2011 menjadi 36,1 persen pada tahun 2014, porsi penduduk dewasa yang memiliki akun di lembaga keuangan jauh tertinggal dibandingkan rata-rata negara tetanChina 78,9 persen, Thailand 78,1 persen) dan juga rata-rata negara Asia Timur dan Asia Tenggara (69 persen). Lihat Peraga 15.

15

Peranan sektor finansial dalam perekonomian ibarat jantung dan uang ibarat darah di dalam tubuh manusia. Jika darah yang beredar dalam tumbuh relatif sedikit, maka tubuh cepat lemas. Jika dipaksakan berlari kencang risikonya mudah semaput. Jika darah mengalir tidak merata ke sekujur tubuh, maka ada organ tubuh yang bisa mengalami gangguan fungsional.

Sektor finansial yang merupakan jantung perekonomian sudah barang tentu harus prima agar bisa berfungsi menyedot dan memompakan darah (uang) dalam jumlah yang cukup dan merata ke sekujur tubuh (sektor perekonomian). Oleh karena itu, salah satu tantangan terbesar untuk memacu pertumbuhan lebih tinggi dan berkelanjutan adalah membenahi sektor finansial atau mengupayakan pendalaman sektor finansial (financial deepening).

Mencermati kondisi obyektif di atas, tampaknya target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar rata-rata 7 persen selama kurun waktu 2015-2019 amat sulit tercapai kecuali dengan upaya ektra keras.

Yang tak kalah penting adalah pembenahan kelembagaan, yakni bagaimana secara efektif mentransformasikan extractive political and economic institutions menjadi inclusive political and economic institutions. Hanya dengan begitu pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan bisa terwujud. Lihat Peraga 16.

16

Prospek Perekonomian Sumatera Selatan

Provinsi Sumatera Selatan memiliki bekal yang cukup untuk mengarungi segala tantangan di tengah berbagai perubahan di tingkat dunia maupun nasional. Sejarah membuktikan kejayaan Sriwijaya pada abad ke-9 ditandai dengan kekuasaannya hingga ke Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Kerajaan Sriwijaya menguasai jalur perdagangan di Asia Tenggara dan memiliki pengaruh kuat di jalur perdagangan antara China dan India.

Struktur perekonomian Sumatera Selatan tergolong cukup berimbang antara sektor penghasil barang dan sektor jasa. Masih dominannya sektor penghasil barang menjadi modal penting untuk memelihara pertumbuhan berkelanjutan dan yang berkeadilan.

Tantangan terbesar boleh jadi adalah mendorong sektor industri manufaktur agar bisa tumbuh lebih cepat sehingga bisa menggantikan peranan sektor pertambangan yang sampai kini menjadi tulang punggung utama perekonomian. Dengan kata lain, prospek perekonomian Sumatera Selatan bakal lebih cerah jika berhasil mentransformasikan perekonomian dari dominasi sektor ekstraktif menjadi perekonomian yang lebih bertumpu pada penguatan industri seraya menjaga sektor pertanian tetap tumbuh cukup memadai untuk mempertahankan Sumatera Selatan sebagai lumbung pangan.

Dengan landasan sektor penghasil barang yang kuat (sektor pertanian, sektor pertambangan, dan sektor industri manufaktur), pertumbuhan sektor jasa yang mulai menggeliat dalam beberapa tahun terakhir bakal lebih sehat. Karena, bagaimanapun, sektor jasa yang sehat baru bisa terwujud jika sektor penghasil barang juga tumbuh sehat.

Tiada kata terlambat bagi Sumatera Selatan untuk mempersiapkan diri agar kekayaan alamnya, terutama yang tidak terbarukan atau non-renewable resources menjadi modal untuk memodernisasikan perekonomian dan menyejahterakan rakyatnya. Sumber kekayaan alam yang cukup melimpah jangan sampai menjadi kutukan, melainkan harus menjadi berkah.

Mari kita tengok pembelajaran dari kisah Raja Mesir (Fir’aun) yang bermimpi melihat tujuh lembu gemuk dan tujuh yang kurus serta tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh yang kering (QS 12:46). Tak seorang pun ahli penerjemah mimpi Fir’aun yang bisa menjelaskan makna di balik mimpi itu kecuali Nabi Yusuf.

Nabi Yusuf mengajarkan tentang teori siklus bisnis (business cycle). Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam 7 tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang 7 tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.” (QS 12:47-49)

Jika kita belajar dari ilmu Nabi Yusuf, maka kita tidak akan lupa diri ketika harga batubara, minyak kelapa sawit, dan karet meroket. Sebaliknya, kita pun tidak akan terperanjat dan terpukul ketika harga-harga komoditas itu jatuh.

Sumber daya alam yang relatif melimpah di Sumatera Selatan menjadi modal dasar untuk memodernisasikan perekonomian dan menjadi bekal untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia. Jangan sampai kekayaan sumber daya alam justru menjadi kutukan (resource curse), melainkan harus menjadi berkah bagi rakyat Sumatera Selatan.

Salah urus sumber daya alam tidak saja menjadi ancaman bagi pembangunan berkelanjutan tetapi juga ancaman bagi demokrasi. Ada baiknya kita mengingat kembali peringatan Alexis de Tocqueville:

“A democratic power is never likely to perish for lack of strength or of its resources, but it may very well fall because of the misdirection of its strength and the abuse of its resources.”  (Sebuah kekuatan Demokratik kemungkinan besar tak akan binasa/lenyap dikarenakan minimnya kekuatan atau kekurangan sumber dayanya, tetapi kejatuhannya bisa disebabkan oleh salah tujuan/penyesatan dari kekuatan tersebut dan penyalahgunaan sumber daya.)

Sudah saatnya generasi muda maju ke jajaran terdepan menyongsong tantangan baru, menguakkan dan membentuk Indonesia baru di tengah proses “Indonesia in making” untuk membawa Indonesia ke pintu gerbang kejayaan sebagaimana telah terwujud pada masa kejayaan Sriwijaya.

Kita usung terus semangat perubahan. Tiada kata putus asa. Bentangkan terus asa. Meminjam pesan Martin Luther King Jr:

“We must accept finite disappointment, but we must never lose infinite hope.”

Makin banyak contoh perubahan nyata di berbagai negara justru terjadi di tingkat lokal. Kebangkitan bersemi di mana-mana di tengah pemerintahan nasional justru mengalami disfungsional. Di Amerika Serikat begitu. Di Indonesia juga tampaknya demikian. Di banyak negara Timur Tengah mengalami kondisi yang lebih memilukan.[4]

Pengalaman nyata Rektor Universitas Sjakhyakirti yang menjadi salah seorang pelopor memajukan energi terbarukan sangat membanggakan. Pohon Kaliandra sebagai sumber energi terbarukan bisa dipanen dalam waktu hanya sembilan bulan. Dengan teknologi sederhana, kayu dari hasil panen diolah menjadi sejenis briket setara dengan batubara berkalori 6 sanpai 7. Pohon Kaliandra ditanam di antara pohon Kalimuru yang menghasilkan sawn timber. Kalimuru ini bisa di panen setelah berusia 5 tahun. Bunga Kaliandra sangat disukai oleh lebah sehingga membuka kegiatan ekonomi produktif tambahan. Selain itu, bisa punya mengembangkan pohon Jerenang yang merambat di batang pohon Kaliandra. Pohon Jerenang menghasilkan resin yang bisa digunakan sebagai zat pewarna alami untuk tekstil atau kain. Dengan Pengembangan terpadu kita bisa membangun desa mandiri energi dan desa mandiri sejahtera yang ramah lingkungan.

Pohon Kaliandra dibalut pohon Jernang//Di sela-sela pohon Kalimuru yang kokoh menaungi//Lulusan Universitas Sjakhyakirti siap jadi pejuang//Sarjana terpuji dan mumpuni.

Bergabunglah dengan gelombang perubahan yang sedang menggeliat. Perpanjang senarai tokoh-tokoh muda lokal, beberapa di antaranya: Tri Rismaharini (Walikot Surabaya), Ridwan Kamil (Walikota Bandung), Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng), Bima Arya (Walikota Bogor), Hugua (Bupati Wakatobi), Suyoto (Bupati Bojonegoro), Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah).

***


[1] Lihat data terinci dalam publikasi United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), World Investment Report 2014, hal. xiv.

[2] Sejauh ini empat dari lima Rating Agencies terkemuka (Moody’s, Fitch, Rating and Investment, dan Japan Credit Rating Agency) telah memasukkan Indonesia dalam kategori investment grade( setara BBB-). Tinggal Standard & Poor’s yang masih menempatkan Indonesia satu notch di bawah investment grade (BB+)

[3] Publikasi World Economic Forum (WEF) tentang ini menunjukkan Indonesia berada di urutan ke-50 dari 62 negara yang disurvei. Di antara negara Asean, hanya Vietnam yang berada di bawah Indonesia (ke-52). Selebihnya di atas Indonesia, yaitu Singapura (ke-4), Malaysia (ke-18), Thailand (ke-34), dan Filipina (ke-49). Semua negara BRICS juga lebih tinggi dari Indonesia, yaitu Brazil di urutan ke-32, Rusia ke-39, India ke-40, China ke-23, dan Afrika Selatan ke-28).

[4] Tengok buku femomenal Benyamin R. Barber, If Mayors Ruled the World: Dysfunctional Nations, Rising Cities, New Haven and London: Yale University Press, 2014.

[

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Development, Ekonomi Internasional, Ekonomi Politik and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Dinamika Perekonomian Indonesia di Tengah Turbulensi Perekonomian Global: Peluang dan Tantangan bagi Perekonomian Sumatera Selatan

  1. B.MADE BALI DENPASAR says:

    ASSALAMU ALAIKUM
    ALHAMDULILLAH HIROBBIL ALAMIN
    atas RAHMAT SERTA HIDAYAH RIDHO DARI ALLAH SWT. , beliau punya solusi MASALAH HUTANG PIUTANG, BUTUH MODAL USAHA, INGIN MERUBAH NASIB,
    BANGKRUT USAHA,DI CACI MAKI,DI HINA,MENYENGSARAKAN/MENZHOLIMI ANDA ,KINI SAATNYA ANDA BANGKIT DARI KETERPURUKAN, AGAR ORANG LAIN TIDAK MENGHINA ANDA,
    BELIAU SIAP MEMBANTU ANDA DENGAN…
    -JUAL MUSUH
    -NIKAH JIN
    -DANA GOIB
    -UANG BALIK
    -UANG MATENG
    -MEGGNDKAN UANG
    -GENDAM PENAKLUK
    -PENGASIHAN
    -PELET HITAM
    -PELET PUTIH
    -SANTET MATI
    -ANGKA/SIO JITU
    di jamin 100% berhasil
    hubungi BELIAU :
    KH SA’ID ABDULLAH WAHID
    (AHLI ILMU GO’IB)
    HP: 082334608008
    D/A : BATU AMPAR-GULUK GULUK –
    SUMENEP – MADURA
    JAWA TIMUR
    TERIMA KASIH WASSALAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s