Musuh Utama Kita: Ekonomi Boros


maltatoday.com.mt

Pemerintah memandang penyebab utama perlambatan pertumbuhan ekonomi selama lima tahun terakhir adalah investasi. Oleh karena itu, segala bentuk hambatan investasi harus dienyahkan.

Pemberantasan korupsi dipandang menghambat investasi dan aktivitas dunia usaha. Oleh karena itu, KPK harus dilemahkan.

Pemerintah daerah dituding mempersulit perizinan yang banyak dan berbelit-belit. Oleh karena itu, kewenangan daerah harus dilucuti dan ditarik ke pusat.

Pekerja sering dikeluhkan oleh pengusaha tertentu karena menuntut kenaikan upah melulu setiap tahun, terlalu banyak menikmati hak-hak normatif yang membebani usaha. Oleh karena itu, sebagian hak-hak pekerja harus dipangkas.

Pasar tenaga kerja sangat kaku dan ongkos pemutusan hubungan kerja (PHK) sangat mahal. Oleh karena itu, pasar tenaga kerja harus direformasi agar fleksibel.

Ketentuan tentang lingkungan dipandang mengekang dunia usaha dan menakutkan pengusaha karena ada sanksi pidana. Oleh karena itu, regulasi tentang lingkungan harus dilonggarkan, sanksi pidana harus dihapus, dan masyarakat sipil tidak dilibatkan dalam monitoring. Serahkan saja sepenuhnya kepada masyarakat sekitar yang terdampak, tak perlu pendampingan

Untuk memerangi itu semua, jika ditangani satu persatu bakal sangat repot dan memakan waktu. Oleh karena itu harus ada langkah radikal segera. Maka lahirlah rancangan undang-undang (RUU) “sapu jagat” bernama omnibus law (OL). Pembahasan RUU terus berlangsung walapun di tengah pandemik COVID-19 yang justru sedang menanjak. Sejauh ini ada tiga rancangan undang-undang yang sudah diserahkan kepada DPR, yaitu: OL Cipta Kerja, OL Perpajakan, dan OL Ibu Kota Negara.

Salah Diagnosis

Diagnosis yang salah bakal melahirkan kebjakan yang keliru. Hasilnya bakal sangat fatal.

Investasi nyata-nyata bukan biang keladi dari pertumbuhan ekonomi yang melambat. Pertumbuhan investasi (diukur dengan pembentukan modal tetap domestik bruto/PMTDB) Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan banyak negara tetangga dan negara Emerging Markets seperti Malaysia, Afrika Selatan, Brazil, dan bahkan China sekalipun.

Pertumbuhan yang cukup tinggi itulah yang membuat sumbangan investasi bagi perekonomian (produk domestik bruto/PDB) selama lima tahun terakhir di bawah pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla justru terus meningkat dan mencapai aras tertinggi dalam sejarah. Pencapaian itu di atas rerata kelompok negara berpendapatan menengah bawah (lower middle income)–yang mana Indonesia bertengger di kelompok ini–dan bahkan juga dibandingkan dengan kelompok negara berpendapatan menengah tinggi (upper middle income).

Indonesia menduduki peringkat teratas di ASEAN. Indonesia tidak sedang mengalami paceklik investasi, termasuk investasi asing.

Sesekali memang pertumbuhan investasi Indonesia turun, terutama pada tahun penyelenggaraan pemilihan umum.

Oleh karena itu, masalah investasi di Indonesia bukan soal besarannya. Yang terjadi adalah investasi cukup besar tetapi hasilnya sedikit. Sebut saja: EKONOMI BOROS atau roda ekonomi tidak berputar dengan efisien. Salah satu ukuran yang lazim dipakai adalah ICOR (incremental capital-ouput ratio). Selama lima tahun terakhir, rerata ICOR Indonesia adalah 6,5. Artinya, untuk menambah satu unit output, kita butuh tambahan rerata 6,5 unit modal. Padahal selama pemerintahan sebelumnya pasca Orde Lama, hanya butuh tambahan rerata 4,3 unit modal. Tentu ada persoalan mendasar yang muncul dalam lima tahun terakhir sehingga butuh satu setengah kali lipat tambahan modal untuk menghasilkan tambahan satu unit output dibandingkan era kepemimpinan sebelumnya. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, ICOR Indonesia juga relatif jauh lebih tinggi.

Dalam dokumen “Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal Tahun 2021” (hal.16) yang ditandatangani Menteri Keuangan pada Mei 2020, pemerintah mengakui bahwa ICOR Indonesia mengalami peningkatan secara konsisten dan lebih tinggi dibandingkan dengan negara peer-nya seperti Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Menurut pemerintah, idealnya angka ICOR di kisaran 3 (bukan 3 persen sebagaimana tercantum dalam Dokumen, karena ICOR bukan dalam persentase). Berarti ICOR Indonesia melampaui dua kali lipat dari angka ideal.

Amat disayangkan, argumen pemerintah agaknya kurang tepat. Dalam pandagan pemerintah, peningkatan ICOR Indonesia disebabkan oleh kesiapan teknologi dan kapasitas berinovasi dalam memanfaatkan investasi yang masuk. Padahal tidak ada perubahan signifikan dalam hal teknologi dan inovasi dibandingkan dengan era-era sebelumnya. Niscaya ada faktor spesifik yang hadir dalam lima tahun terakhir.

Buat apa menggenjot investasi kalau membiarkan pemborosan dan “kebocoran” kian menjadi-jadi, sehingga hasil yang dirasakan oleh rakyat tidak “nendang” karena lebih banyak dinikmati oleh segelintir orang atau kelompok. Oligarki semakin kokoh dan kian mencengkeram. Tak lagi jelas batas antara penguasa dan pengusaha. Mereka semakin bertaji karena menguasai media, terutama televisi. Undang-undang dibuat untuk melegalkan sepak terjang mereka. Akhirnya, demokrasi terancam.

Mereka akan berjaya jika kita tak bersuara dan hanya berdiam diri.

Boros Walau “Kere”

Walaupun sangat lelah bersimbuh keringat, para pemain sepakbola atau olah raga lainnya tidak mengumbar nafsu untuk memerangi dahaganya dengan minum sebanyak-banyaknya. Mereka hanya meneguk sedikit air minum, kumur-kumur lalu menyemprotkannya keluar mulut mereka, lalu membasuh kepala dan wajah. Itulah cara efektif untuk menjaga kebugaran.

Dalam ekonomi pun serupa. Tidak bisa investasi asal disumpalkan sebanyak mungkin. Lihat dulu kondisi perekonomian: daya serap dan daya dukungnya, sumber pembiayaannya, momennya, dan cara mewujudkannya,

Praktik ekonomi biaya tinggi (high cost economy) semakin runyam jika tidak ditopang oleh kemampuan sendiri: sudah kere, boros pula.

Betapa kere kita terlihat dari kondisi sektor finansial dan perpajakan. Sumber dana dalam negeri untuk membiayai investasi dan pembangunan terutama berasal dari kredit perbankan, pasar modal (keluarkan surat utang dan menjual saham di bursa atau go public), dan pajak.

Secara keseluruhan, sektor finansial kita masih kedodoran. Sejak krisis ekonomi terparah tahun 1998, indeks pembangunan finansial kita praktis jalan di tempat. Indonesia hanya lebih baik dari Vietnam.

Baik aspek istitusi finansial maupun pasar finansial sangat cetek dengan efisiensi pasar finansial yang rendah.

Kemampuan sektor keuangan dalam menyalurkan kredit tak sampai 50 persen dari PDB. Dengan Myanmar saja kita kalah. Jangan bandingkan dengan China dan rerata negara Asia Pasifik yang lima kali lipat dari Indonesia. Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Brazil sekitar tiga sampai empat kali lipat dari Indonesia.

Kapasitas pasar modal Indonesia tak kalah tertinggal, terutama pasar obligasi. Pasar obligasi dalam mata uang lokal hanya sedikit lebih tinggi dari Vietnam. Bagaimana surat utang pemerintah bisa terserap oleh warganya sendiri untuk menutup defisit APBN?

Maka terpaksalah menngundang lebih banyak investor asing. Pemilikan asing dalam obligasi negara dalam mata uang lokal di Indonesia tergolong sangat tinggi dan tertinggi di antara negara Emerging Markets.

Yang agak lumayan adalah pasar saham. Kapitalisasi di pasar saham mengalami peningkatan dalam 20 tahun terakhir dan lebih tinggi ketimbang China, Rusia, Meksiko, dan Turki. Namun masih lebih rendah dibandingkan dengan Vietnam yang relatif baru mengenal bursa saham.

Ketergantungan yang cukup tinggi pada investor asing di pasar modal membuat stabilitas makroekonomi cukup rentan. Uang panas (hot money) kerap merongrong stabilitas nilai tukar dan neraca pembayaran. Dalam “sekejap” investor asing keluar pasar sebagaimana terjadi pada Maret lalu.

Semakin parah sumber pembiayaan investasi dari dalam negeri karena nisbah pajak (tax ratio) terus menerus turun sampai titik terendah dalam 50 tahun terakhir.

Jadi, dari mana lagi kita mewujudkan keborosan? Dari mana lagi kalau bukan dengan berutang lebih banyak ke luar negeri.

Bagaimana cara membayar kewajiban utang kepada investor luar negeri dan utang bilateral maupun multilateral? Membayar cicilan dan bunga utang tak bisa dengan rupiah, melainkan dengan valuta asing.

Dari mana kita memperoleh valuta asing? Utamanya dari ekspor. Gara-gara pandemik global, nilai perdagangan dunia merosot tajam. Akibatnya pasar ekspor kita mengkerut.

Ditambah lagi porsi ekspor manufaktur Indonesia relatif sangat rendah akibat terjadi gejala dini deindustrialisasi.

Kebanyakan produk manufaktur yang kita ekspor adalah barang-barang yang berteknologi rendah yang tentunya dengan nilai tambah yang relatif rendah pula.

Sekalipun kita gabung yang berteknologi tinggi dan menengah, tetap saja porsinya masih rendah.

Padahal devisa dari ekspor bukan semata-mata untuk membayar kewajiban utang, tetapi terutama untuk membiayai impor. Repotnya, impor semakin beragam dan sebaliknya ekspor semakin tidak beragam. Walaupun data yang tersedia tidak mutakhir, namun kenyataan sekarang tidak jauh berbeda.

Maka, untuk membiayai perilaku boros, jalan pintasnya adalah dengan mengeruk kekayaan alam semakin dalam, merambah kawasan hutan, dan melonggarkan ketentuan tentang perlindungan lingkungan. Yang paling dekat dengan kekuasaan akan meraup rente paling banyak. Oligarki semakin mencengkeram. Demokrasi terancam.

Ekspor Masih Loyo, Defisit Perdagangan Melebar


Ekspor bulan Juni melorot sebesar 8,6 persen dibandingkan Mei dan selama Januari-Juni 2013 turun 6,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Walaupun impor total juga turun lebih cepat, namun tak mampu mengimbangi penurunan ekspor, sehingga defisit perdagangan meningkat dari $590 juta pada Mei menjadi $847 juta pada Juni. Defisit perdagangan kumulatif Januari-Juni sudah  mencapai $3,3 miliar, dua kali lipat dari defisit sepanjang tahun 2012. Apalagi biang keladinya kalau bukan defisit minyak yang terus naik.

Image

Transaksi perdagangan nonmigas belum kunjung membaik. Walaupun selama Januari-Juni mencatatkan surplus, namun selama tiga bulan terakhir menderita defisit. Ini sudah lampu kuning, harus diwaspadai secara seksama. Jika tidak, nilai tukar rupiah bakal terus tertekan.

Karena, defisit migas terus naik. Selama Januari-Juni, defisit migas sudah melampaui defisit migas keseluruhan tahun 2012.

Image

Ditambah lagi sejak tahun 2013 minyak mentah pun sudah defisit dengan kecenderungan membengkak.

Image

Apa lagi yang bisa digadaikan?

Sesat Pikir Upaya Peningkatan Ekspor


Transaksi perdagangan luar negeri Indonesia berdasarkan pencatatan Badan Pusat Statistik (BPS) sudah mengalami defisit (impor barang lebih besar ketimbang ekspor barang) sejak 2012. Sejauh ingatan, baru kali ini kita mengalami defisit perdagangan, mungkin sejak zaman Majapahit. Defisit perdagangan tahun 2012 tercatat 1,7 miliar dollar AS. Selama lima bulan pertama tahun ini (Januari-Mei), defisit naik tajam menjadi 2,5 miliar dollar AS.

bps-trade

BPS menggunakan metode fob (free on board) untuk nilai ekspor dan cif (cost, insurance, and freight) untuk nilai impor, Menurut investorpedia.com, pengertian fob adalah: “A trade term requiring the seller to deliver goods on board a vessel designated by the buyer. The seller fulfills its obligations to deliver when the goods have passed over the ship’s rail. When used in trade terms, the word “free” means the seller has an obligation to deliver goods to a named place for transfer to a carrier.”

Ringkasnya, pembeli bertanggung jawab membayar ongkos sampai barang masuk ke kapal, ongkos kapal, dan asuransi. Boleh dikatakan bahwa nilai ekspor fob mencerminkan nilai barang semata.

Sudah barang tentu nilai ekpor cif lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor fob, namun bukan karena nilai barangnya yang lebih tinggi, melainkan semata-mata karena di dalam nilai barang itu ada unsur jasa muat, jasa pengapalan, dan jasa asuransi.

Bank Indonesia (BI) mencatat nilai ekspor maupun nilai impor berdasarkan fob Jadi transaksi perdagangan luar negeri yang tercantum dalam Neraca Pembayaran yang dikeluarkan oleh BI boleh dikatakan murni nilai barangnya semata, artinya telah mengeluarkan unsur jasa berdasarkan metode cif. Untuk transaksi jasa, termasuk jasa cost, insurance and freight, BI memasukkannya dalam kelompok tersendiri, yakni transaksi jasa.

bi

Berdasarkan data BI tersebut, transaksi perdagangan luar negeri kita sejauh ini masih surplus. Tahun 2012 surplus sebesar 8,6 miliar dollar AS dan triwulan I-2013 surplus 1,6 miliar dollar AS. Sedangkan untuk transaksi jasa memang selama ini selalu defisit.

Kalau pemerintah bersikukuh menerapkan metode cif mulai Agustus 2013 untuk data ekspor (lihat http://t.co/BuhxP18qKb), sudah barang tentu transaksi perdagangan luar negeri kita tahun 2012 dan 2013 serta merta akan surplus, yang nilainya kira-kira sama dengan nilai surplus versi BI.

Menteri Perdagangan beralasan bahwa metode cif bakal memperbaiki akun semasa (current account) yang pada tahun 2012 memburuk tajam menjadi defisit sebesar 24,2 miliar dollar AS, dari yang tadinya masih surplus sebesar 1,7 miliar dollar AS tahun sebelumnya.

TIdak semudah itu. Karena, penyebab utama defisit jasa adalah pengeluaran untuk ongkos kapal. Sekitar 90 persen ekspor-impor kita diangkut oleh kapal berbendera asing. Jadi, terlepas dari basis perhitungan berdasarkan fob atau cif, yang menikmati jasa perkapalan tetap saja asing. Jadi tak berdampak signifikan terhadap defisit jasa kita yang memang bersifat struktural.

Kalau pemerintah bertekat hendak meningkatkan ekspor, kuncinya adalah meningkatkan daya saing, memangkas praktik ekonomi biaya tinggi, dan membenahi sistem transportasi yang kian karut marut.

Sebatas mengubah metode pencatatan dari fob menjadi cif sama saja dengan membohongi diri sendiri.***