faisal basri

wear the robes of fire — kesadaran nurani dan akal sehat


  • gas+pump
    gladlynews.com

    Harga rerata nasional BBM untuk jenis regular gasoline (setara RON 92) di Amerika Serikat pada 7 Maret 2016 adalah  1,81 dollar AS per gallon. Dengan kurs jual BI pada tanggal yang sama Rp 13.094 per dollar AS, harga RON 92 di AS Rp 6.261 per liter (1 gallon = 3,7854118 liter).eceran RON 92 (Pertamax) di Indonesia pada 7 Maret 2016 adalah Rp 7.950 per liter.  Berarti harga RON 92 di Indonesia lebih mahal sebesar Rp 1.689 ketimbang di AS.

    Jika kita keluarkan segala jenis pajak, perbedaannya lebih besar. National average excise taxes per gallon untuk gasoline di AS adalah 0,4928. Jadi, harga RON 92 di AS tidak termasuk pajak adalah Rp 4.556 per liter. Sedangkan harga RON 92 (Pertamax) tanpa pajak di Indonesia adalah Rp 6.913. Jadi perbedaannya Rp 2.357 per liter lebih mahal di Indonesia.

    Bahkan harga RON 92 tanpa pajak di AS lebih murah ketimbang Premium (RON 88) yang harganya Rp 6.130. Perbedaannya sebesar Rp 783.

    Sahabat saya di Kementerian ESDM mengatakan perbandingan dengan AS tidak fair karena kilang di sana sangat efisien atau bahkan paling efisien di dunia. Untuk itu, mari kita bandingkan juga dengan Malaysia.

    Karena RON 92 tak lagi dipasarkan di Malaysia, terpaksa kita menggunakan acuan harga RON 95 (setara Pertamax Plus). Di Malaysia, harga RON 95 pada 7 Maret 2016 adalah RM 1,60 atau Rp 5.131/liter (kurs jual BI 7/3/16 RM 1 = Rp 3.206,96).

    Karena di Malaysia RON 95 tidak dikenakan pajak, maka untuk memperoleh perbandingan setara, pajak 15 persen di Indonesia kita keluarkan, sehingga harga RON 95 (Pertamax Plus) tanpa pajak adalah Rp 7.696 per liter.

    Jadi, harga RON 95 di Indonesia lebih mahal sebesar Rp 2.565 per liter dibandingkan di Malaysia.

    Dibandingkan dengan harga Premium (RON 88) tanpa pajak sekalipun (Rp 6.130), harga RON 95 di Malaysia lebih murash. Bedanya cukup signifikan, yaitu Rp 999.

    Ternyata, perbandingan dengan Malaysia menghasilkan perbedaan yang lebih lebar ketimbang membandingkan dengan AS. Padahal yang kita bandingkan dengan malaysia adalah jenis BBM yang jauh lebih bermutu.

    Masih mau berkilah? Keterlaluan.

    Semoga para petinggi negeri tergerak nurani dan akal sehatnya untuk membenahi formula dan mekanisme penentuan harga BBM dan mengumumkannya ke publik.

    Rakyat mungkin tidak menuntut harga BBM untuk terus diturunkan. Tapi tolong selisih yang besar itu dijelaskan larinya ke mana.

    Apakah mafia kembali berkeliaran?


  • Hingga hari ini (year-to-date) nilai tukar rupiah telah menguat 5,64 persen, terbaik kedua di antara Emerging Markets setelah Brazilian real. Menurut Bloomberg, rupiah mengalami kenaikan harian 13 hari berturut-turut, terlama dalam enam tahun terakhir. Menurut data Bank Indonesia, kenaikan harian di luar hari libur hanya delapan hari berturut-turut.

    currency
    Source: Bloomberg

    Sementara kalangan, termasuk pejabat tinggi, mulai khawatir rupiah menguat terlalu terlalu cepat. Mereka takut penguatan rupiah mengganggu ekspor dan meningkatkan impor terutama impor barang konsumsi.

    Mereka barangkali lupa bahwa rupiah sudah tergolong lama mengalami kemerosotan. Tahun lalu saja nilai tukar rupiah merosotan sebesar 9,39 persen. Jika dibandingkan dengan aras tertingginya pada 2 Agustus 2011, nilai tukar rupiah hari ini melemah sebesar 35,1 persen. Jadi, penguatan rupiah selama tahun ini sebesar 5,64 persen masih belum menutup kemerosotan tahun lalu, apalagi dibandingkan posisi 2 Agustus 2011.

    rp

    Kekhawatiran penguatan rupiah bakal mengganggu ekspor rasanya kurang beralasan. Toh sewaktu rupiah melorot, ekspor boro-boro naik, malahan terus merosot. Mengingat mayoritas ekspor kita adalah komoditas, perubahan harga karena faktor nilai tukar tidak sensitif terhadap permintaan.

    Bagaimana dengan ekspor manufaktur? Produk manufaktur yang diekspor memiliki kandungan impor relatif tinggi. Berarti, harga bahan baku yang diimpor dalam rupiah turun. Jadi kenaikan harga barang ekspor kita dalam mata uang pengimpor dikompensasikan oleh penurunan harga bahan baku yang diimpor. Jadi pengaruh netonya bisa dikatakan netral.

    Mengapa para pejabat tinggi khawatir atas penguatan nilai tukar rupiah yang yang di mata mereka relatif drastis? Boleh jadi karena mereka tahu betul faktor penopangnya belum meyakinkan. Pertama, meskipun menunjukkan trend penurunan, laju inflasi di Indonesia masih yang tertinggi di ASEAN-5. Kedua, penopang utama perolehan valuta asing adalah dari selisih antara ekspor dan impor barang dan jasa (current account) yang masih defisit, sedangkan kebanyakan negara ASEAN menikmati surplus.

    Oleh karena itu, penguatan rupiah belakangan ini lebih disebabkan karena pelemahan dollar AS dan sentimen positif yang membuat peningkatan dana asing masuk. Dana asing itu kebanyakan bersifat jangka pendek yang sewaktu-waktu bisa keluar.

    Namun, jika pemerintah bisa menjaga sentimen positif dengan konsisten melaksanakan penyesuaian struktural, kita patut optimistis perekonomian akan terus membaik. Tidak pula menempuh jalan pintas yang kontraproduktif.


  • Petugas Memeriksa Sapi Potong
    KONTAN/Cheppy A. Muchlis

    Pada Februari 2016 terjadi deflasi 0,09 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, harga beras dan daging sapi terus naik sekaligus menjadi penyumbang terbesar kenaikan harga-harga umum. Harga eceran rerata daging sapi di Indonesia pada Januari 2016 adalah Rp 104.120 per kg. Pada bulan yang sama, harga daging sapi di pasaran internasional 3,50 dollar AS per kg atau sekitar Rp 48.500 per kg dengan kurs rerata bulan Januari Rp 13.857 per dollar AS. Bahkan koran Kontan memberitakan harga daging sapi di pasaran bertahan tinggi di kisaran Rp 125.000 sampai Rp 130.000 per kg.

    beef
    Beef monthly international price (USD/kg). Source: World Bank
    price-beef-bps
    Beef domestic average retail price (Rp/kg). Source: BPS.

    Untuk menurunkan harga daging sapi, terutama di Jakarta, pemerintah gencar mendatangkan sapi dari NTT dengan kapal khusus. Menteri Pertanian berjanji membeli sapi hidup dari NTT dengan harga lebih tinggi, dari yang sebelumnya Rp 25 ribu sampai Rp 26 ribu per kg menjadi Rp 28 ribu hingga Rp 31 ribu per kg. Sapi itu nantinya dijual di Jakarta dalam bentuk daging dengan harga Rp 85.000 per kg.

    Ampuhkah tambahan pasokan sapi dari NTT untuk menurunkan harga daging sapi di Jakarta dalam jangka pendek? Menurut para ahli persapian di NTT, paling banter NTT hanya mampu memasok sapi ke Jakarta sebanyak 136 ekor per hari atau sekitar 9,1 persen dari kebutuhan sapi Jakarta per hari sebanyak 1.500 ekor. Itu dengan catatan sejumlah masalah lokal yang cukup pelik bisa dibenahi (“Stop Sistem Kuota Lokal,” Victory News, Jumat, 4 Maret 2016, hal. 1 dan 5). Sejauh ini, sapi yang sudah dikirim ke Jakarta dari NTT masih jauh dari 136 ekor per hari.

    Menurut Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dan Ketahanan Pangan DKI Jakarta, kebutuhan sapi Jakarta per hari 165 ton, yang mana 97 persen merupakan sapi impor. Pemerintah DKI Jakarta bertekad menaikkan pasokan sapi lokal menjadi 30 persen dalam 5 sampai 6 tahun ke depan. Jadi tidak bisa dalam jangka pendek.

    Ada yang tidak sinkron antara ambisi pemerintah pusat dengan realitas di lapangan. Untuk menjaga keberlanjutan usaha peternakan sapi, pemerintah daerah NTT membatasi pengiriman sapi ke Jawa 65 ribu ekor per tahun ke pulau Jawa. Belakangan, kuota ke Jawa diturunkan dari 1.500 ekor per pekan menjadi 800 ekor per pekan. Berarti rata-rata sehari hanya 114 ekor. Jumlah itu untuk seluruh pulau Jawa. Kalau semua dikirim ke Jakarta, tentu alokasi ke Jawa di luar Jakarta bakal turun. Bagaimana pula dengan alokasi sapi dari NTT ke Kalimantan dan daerah-daerah lain? Bukankah selama ini peternak di NTT tidak mengalami masalah pemasaran? Selama ini tidak pula tendengar NTT mengalami excess supply (dengan relevant market mencakup seluruh wilayah Indonesia) sehingga harga sapi di NTT anjlok.

    Tidak ada jurus “simsalabim” untuk menurunkan harga daging sapi dalam jangka pendek tanpa menambah pasokan nasional. Kalaupun dipaksakan lebih banyak sapi dari NTT digelontorkan ke Jakarta, bukankah alokasi sapi untuk NTT sendiri dan daerah sekitarnya yang selama ini dipasok dari NTT akan berkurang sehingga bakal meningkatkan harga daging sapi di sana? Jangan mengatasi masalah di Jakarta tetapi menimbulkan masalah di tempat lain.

    Kalau hendak meningkatkan produksi sapi nasional, pemerintah perlu membenahi sisi pasokan, antara lain pembibitan dan ketersediaan pakan ternak. Kedua, pembenahan tata niaga di tingkat nasional dan daerah.***


  • Di blog ini saya pernah menulis Salah Kaprah Menghitung Nilai Rupiah.

    Bloomberg memeragakan penguatan rupiah terhadap dollar AS dengan benar. Garis putih menunjukkan penguatan rupiah terhadap dollar AS sejak awal Januari.

    Pada akhir pekan ini (4/3), Rp 1 = 0,00007599. Akhir tahun lalu nilai Rp 1 = 0,00007249. Dengan demikian rupiah menguat sebesar 4,83 persen.

    -1x-1
    Bloomberg

    Bandingkan dengan penampakan di laman Bank Indonesia (BI). Judul di laman BI “Kurs tengah USD -IDR”. Berarti laman BI bukan mengukur nilai tukar rupiah melainkan nilai tukar dollar AS terhadap rupiah. Pada 4 Maret, satu dollar AS = Rp 13.159.

    BI menggunakan skala normal, ke arah bawah semakin turun, ke arah atas semakin naik. Memang, kenyataannya nilai dollar AS semakin melemah terhadap rupiah.

    kurs_bi
    Kurs tengah USD – IDR (Sumber: Bank Indonesia)

    Penampakan di laman BI juga benar adanya, tetapi terbalik dengan penampakan Bloomberg. BI yang milik Indonesia mengukur nilai dollar AS terhadap rupiah, sedangkan Bloomberg yang milik warga AS dan berkantor pusat di AS, mengukur nilai rupiah terhadap dollar AS.

    BI boleh jadi membuat penampakan seperti itu untuk tujuan kepraktisan dan lebih komunikatif. Kalau menampakkan nilai rupiah terhadap dollar AS, angka di belakang koma bakal banyak dan diawali empat angka nol seperti terlihat di penampakan Bloomberg.

    Cermati pula angka di skala yang tanpa koma atau titik, tetapi di angka kurs harian menggunakan koma. Peraga di bawah saya ambil dari laman BI versi bahasa Indonesia.

    Kesan sepintas, tampilan di laman BI menunjukkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Kesan selanjutnya rupiah mengalami kemerosotan karena arahnya ke bawah.

    Untuk mengatasi persolan kedua, saya menggunakan skala terbalik (inverted scale): ke arah atas berarti penguatan rupiah dan ke arah bawah pelemahan rupiah. Cara ini pun tidak menunjukkan pengukuran yang benar, tetapi setidaknya memberikan kesan sepintas yang konsisten dengan kelaziman: skala ke arah atas berarti nilai tukar rupiah menguat atau naik, skala ke arah bawah melemah atau turun. Cara Bloomberglahyang benar.

    kurs

    Kalau rencana redenominasi terlaksana, katakanlah Rp 10.000 menjadi Rp 1, maka BI mungkin akan mengikuti cara Bloomberg.


  • Luar biasa. Kinerja indeks saham Indonesia dalam USD terms terbaik di dunia tiga minggu berturut-turut. Per 2 Maret, meningkat 9,2 persen (year-to-date). Selain karena indeks meningkat hingga menembus aras 4.800, juga disebabkan oleh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

    tiga

    Hingga 4 Maret 2016, indeks saham Indonesia telah mengalami peningkatan 17,56 persen dibandingkan posisi terendah 28 September2015. Jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2015, indeks saham Indonesia naik 5,47 persen. Namun, jika dibandingkan posisi setahun yang lalu (year-on-year), indeks kita masih mengalami penurunan sebesar 11.52 persen.

    Bloomberg juga menangkap geliat pasar saham dan rupiah.

    bloom

    Hari ini indeks saham dan rupiah melanjutkan trend kenaikan. Indeks ditutup pada aras 4.850,883 sedangkan rupiah menguat ke aras Rp 13.159.

    Sentimen positif selama tiga minggu terakhir diharapkan bakal berlanjut jika pemerintah tidak  melakukan kesalahan tak perlu. Pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan di antara para pembantu presiden tidak sepatutnya dihumbar ke publik. Serahkan saja ke Menko Perekonomian agar sinyal ke pasar kuat.

    Harus terus diantisipasi efek balik lalulintas modal, karena tahun ini diperkirakan modal keluar dari emerging markets masih cukup besar walaupun tidak sebesar tahun lalu yang mencapai lebih dari setengah triliun dollar AS.

    Kunci bagi perbaikan berkelanjutan adalah pembenahan struktural, antara lain menyemaraskkan industrialisasi dan memerangi berbagai distorsi pasar yang kian meruyak.

     


  • 1fc469c9-063d-43db-b67f-db0f5cdb8065_169
    Foto: M Rofiq

    Dana Aditiasari – detikfinance
    Rabu, 02/03/2016 19:10 WIB

    Jakarta -Upaya Pemerintah mendorong swasembada garam dinilai belum optimal. Ekonom Faisal Basri memandang, dalam hal swasembada ini Pemerintah baru fokus pada pengurangan Impor namun hampir tak melakukan pembenahan di sisi Produksi.

    “Masalahnya kita mau swasembada tapi kita nggak selesaikan masalah di hulu. Main short cut (jalan pintas) saja di hilir. Kalau mau swsembada itu kita harus selesaikan dulu masalah di hulu. Masalah di hulu itu masalah produksi,” kata dia saat berbincang dengan awak media di Tea Addict, Jakarta, Rabu (2/3/2016).

    Harusnya, sebelum melakukan pembatasan impor garam, pemerintah terlebih dahulu melakukan pembenahan. Seperti penerapan teknologi tepat guna, peningkatan mutu sumberdaya manusia hingga pembenahan sistem perindustrian garam.

    “Sekarang peningkatan produksi kita cuma dibekali plastik lebar-lebar itu (membran) yang katanya bisa menjernihkan garam. Nggak bisa, itu harus ada perlakuan khusus lagi. Nggak bisa hanya mengandalkan itu,” kata dia.

    Namun Faisal menilai, Langkah yang ditempuh pemerintah untuk mencapai swasembada garam saat ini dinilai terlalu dipaksakan. Akibat swasembada yang dipaksakan ini, harga-harga kebutuhan pangan jadi mahal dan justru membebani masyarakat.

    “Orang boleh bilang saya hiperbola. Tapi saya kasih gambaran gini. Ada barang-barang yang kita produksi dan kita ekspor. Ketika pasar dunia turun kita juga mengalami penurunan harga. Tapi ada produk-produk yang kita impor, ketika pasar dunia turun kita malah naik harganya. Itu karena swasembada,” kata dia.

    Faisal pun menjelaskan hubungan swasembada dengan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok yang terjadi saat ini. Menurutnya, saat ini Pemerintah masih berpikiran sempit bahwa swasembada berarti tidak impor.

    Maka pemerintah dengan agak dipaksakan, menurut Faisal, akhirnya mengambil jalan pintas dengan mengurangi volume impor agar dianggap berprestasi tak melakukan impor dan swasembada dikatakan berhasil.

    Tapi pemerintah lupa, produksi di dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan dan permintaan dari dalam negeri sendiri. Akibatnya terjadi ketimpangan di lapangan antara kebutuhan dengan produksi tadi.

    “Karena kita dilarang impor, tapi produksi dalam negeri belum memadai. Hasilnya suplai di dalam negeri nggak ada, harga jadi mahal,” tutur dia.

    Lebih parahnya, hal serupa tak hanya dialami garam semata. Komoditas lain yang juga dipaksakan swasembadanya, turut mengalami kenaikan harga.

    “Contoh jagung, di pasar dunia murah, di Indonesia malah mahal. Daging, di pasar dunia sedang murah, di Indonesia naik. Karena apa? Karena tukang bakso sekarang sudah mulai kekuarangan daging,” kata mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas itu.
    (dna/hns)

    Sumber: http://de.tk/6KRywe

     


  • PAMEKASAN,11/9-HARGA GARAM NAIK. Seorang petani memanen garam olahannya di Desa Bunder, Pademawu, Pamekasan
    FOTO ANTARA/ Saiful Bahri/ed/pd/09

    Kompas Cetak | 3 Maret 2016 | Hal. 18

    JAKARTA, KOMPAS — Target swasembada garam dinilai tidak efektif untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Ini karena target swasembada dan penutupan impor garam tidak diimbangi dengan efisiensi produksi dan peningkatan daya saing.

    Demikian dikemukakan pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Faisal Basri, Rabu (2/3), di Jakarta. Swasembada garam konsumsi yang telah dicapai sejak 2012 terbukti tidak mampu meningkatkan taraf kesejahteraan petani. Harga garam di tingkat petani terus anjlok di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) garam. Untuk garam industri, pemerintah menargetkan, swasembada bisa tercapai pada 2017.

    Faisal menilai, upaya swasembada garam konsumsi dan industri yang berlangsung saat produksi garam rakyat belum efisien dan berdaya saing hanya akan berujung memiskinkan petani. Produktivitas petani garam masih rendah, produksinya juga tidak efisien. Akibatnya, harga garam dari petani tidak mampu bersaing dengan garam impor.

    Di sisi hilir, tata niaga garam hancur karena HPP garam gagal terlaksana. Hingga kini, tidak ada kebijakan mekanisme dana talangan untuk menyerap garam rakyat. “Industri hulu garam harus segera dibenahi dengan membuat skala produksi yang ekonomis,” ujar Faisal.

    Sementara itu, belum terlihat upaya pemerintah menyediakan fasilitas pengolahan garam rakyat untuk menghasilkan produk keperluan konsumsi dan industri, seperti produksi makanan dan minuman, pengeboran minyak, farmasi, serta garmen.

    Terobosan

    Menurut Faisal, terobosan di sisi hulu dapat dilakukan dengan mendorong produktivitas dan perluasan lahan garam. Fungsi PT Garam perlu direvitalisasi agar berhenti menjadi produsen garam dan fokus pada pengolahan garam rakyat. Dengan demikian, BUMN garam tersebut bisa menyerap garam rakyat dan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.

    Selama ini, peran PT Garam sebagai produsen sekaligus badan penyangga garam terbukti tidak efektif memperbaiki harga garam rakyat. Sebaliknya, BUMN garam ini justru bersaing dengan petani garam dalam produksi dan pemasaran.

    Secara terpisah, Direktur Utama PT Garam Achmad Budiono mengemukakan, pembangunan fasilitas pengolahan untuk menghasilkan kualitas garam industri sulit dilakukan. Hal itu karena biaya produksi garam belum efisien dan harganya lebih tinggi ketimbang garam impor. Selisih harga garam nasional kualitas industri dengan garam industri yang diimpor dari Australia ditaksir Rp 245 per kilogram.

    “Penyediaan fasilitas pengolahan garam untuk menghasilkan garam kualitas industri membutuhkan campur tangan pendanaan pemerintah,” ujar Achmad.

    Hingga saat ini, kebutuhan garam untuk industri manufaktur mencapai 1,7 juta ton per tahun dan sepenuhnya diimpor. (LKT)

    Sumber: http://print.kompas.com/baca/2016/03/03/Revitalisasi-Garam-Nasional-Mendesak


  • Dana Aditiasari – detikfinance
    Rabu, 02/03/2016 20:09 WIB

    unloading
    Foto: Alfathir Yulianda

    Jakarta -Upaya pemerintah menekan volume impor untuk mencapai swasembada pangan dinilai dapat memicu kenaikan harga bahan pangan. Bukan hanya itu, Swasembada yang dipaksakan pun dikhawatirkan dapat mengakibatkan jumlah masyarakat miskin bertambah.

    “Buruh itu sekitar 1/3 pengeluarannya untuk makan. Kalau impor dibatasi karena alasan swasembada, maka harga pangan jadi naik. Kalau harga pangan naik, orang jadi nggak bisa beli makanan,” tutur Ekonom Faisal Basri ditemui di Tea Addict, Jakarta, Rabu (2/3/2016).

    Bila harga pangan makin tinggi, maka pengeluaran untuk kebutuhan pangan juga ikut meningkat. Akibatnya, porsi pengeluaran untuk kebutuhan lain pun menjadi menurun. Daya beli masyarakat untuk keperluan lain juga akan menurun.

    Kondisi seperti ini yang dapat mengakibatkan jumlah masyarakat miskin bertambah.

    “Makin tinggi harga makanan, makin banyak orang miskin karena dia nggak sanggup beli makan. Begitulah kenapa angka kemiskinan bisa naik,” tandasnya.

    Faisal menambahkan, perlu ada perubahan cara pandang terkait penyediaan pangan bagi masyarakat. Menurutnya, ketahanan pangan lebih penting dari swasembada pangan.

    “Food security itu lebih penting dari swasembada,” tutur dia.

    Menurutnya, yang dimaksud ketahanan pangan adalah negara menjamin warga negaranya mudah memperoleh akses pangan. Bukan hanya mudah, tetapi juga murah.

    Faisal menuturkan, dalam hal penyediaan pangan Indonesia bisa belajar dari negara tetangga, Singapura.

    “Singapura tidak memproduksi pangan, tapi food security indeksnya nomor 5 di dunia. Indonesia malah peringkat 74,” tuturnya.

    Menurutnya, bila pemerintah masih memaksakan swasembada pangan namun tidak menyelesaikan permasalahan produksi pangan di dalam negeri, maka masyarakat juga yang akan dirugikan. Pasalnya, karena harga pangan jadi mahal dan sulit dijangkau oleh masyarakat terutama mereka yang berpenghasilan rendah.

    “Peringkat kedaulatan pangan itu bukan bergantung pada swasembada, tapi pada seberapa mudah masyarakat memperoleh akses pangan. Kelaparan bukan karena beras nggak ada, tapi karena masyarakat nggak bisa beli beras,” tegas dia.
    (dna/hns)

    Sumber: http://de.tk/6dQ6G9

     


  • Kemarin (1 Maeret 2016) Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk ke Indonesia. Kepala BPS mengatakan bom Thamrin memengaruhi kunjungan wisman. Lihat Bom Thamrin Pengaruhi Kunjungan Wisatawan. Pada Januari 2016, jumlah wisman turun 17,44 persen dibandingkan Desember 2015.

    Data yang disampaikan Kepala BPS merujuk pada kunjungan orang asing secara keseluruhan, meliputi wisatawan reguler; WNA yang masuk melalui Pos Lintas Batas; dan  WNA pengunjung singkat lainnya (<1 tahun) yang terdiri dari tidak untuk bekerja (wisman lansia, diklat, dakwah/rohaniawan, penelitian), dan bekerja paruh waktu ( konstruksi, konsultan, instruktur, dll).

    Jika kita batasi pada wisman reguler, penurunannya sebesar 20 persen, dari 913.828 menjadi 740.570. Jumlah wisman reguler menyumbang sekitar 90 persen dari keseluruhan kunjungan orang asing ke Indonesia.

    Bom Thamrin boleh jadi menjadi salah satu penyebab penurunan. Namun, penurunan pada bulan Januari dibandingkan Desember tahun sebelumnya selalu terjadi, karena bulan Desember adalah puncak kunjungan wisatawan setiap tahun. Bahkan tahun Januari tahun lalu penurunannya lebih tinggi, yaitu 21 persen, dibandingkan dengan Desember tahun sebelumnya.

    wisman_jan

    Bukan kali ini saja kepala BPS berspekulasi tentang data yang dikeluarkan oleh instansinya sendiri. Lihat di sini.

    Ada baiknya BPS menahan diri untuk menganalisis data yang dirilisnya sendiri.


  • gas-station-indonesia-wiki
    automotiveit.com

    Pemerintah Indonesia meninjau harga BBM bersubsidi dan BBM “penugasan” tiga bulan sekali. Terakhir, pemerintah mengubah harga BBM per 5 Januari 2016. Berarti penyesuaian selanjutnya akan dilakukan 5 April 2016.

    Sementara itu Pertamina baru saja mengumumkan senarai harga baru BBM non-subsidi yang berlaku mulai 1 Maret 2016. Data berikut berlaku untuk DKI Jakarta.

    Di Malaysia harga semua jenis BBM diumumkan pemerintah sebulan sekali. Harga terbaru berlaku mulai 1 Maret 2016.

    percent

    Rakyat Malaysia menikmati penurunan harga lebih besar ketimbang rakyat Indonesia. Untuk jenis BBM yang sama (RON 95), penurunan harga di Malaysia sebesar 8,57 persen, sedangkan di Indonesia hanya 1,32 persen. Jika dibandingan untuk kurun waktu yang lebih panjang, perbedaannya semakin jomplang.

    malaysia

    Harga RON 95 di Malaysia tidak dikenakan pajak. Jika kita tambahkan pajak 15 persen seperti di Indonesia, maka harganya menjadi Rp 5,914 per liter. Sedangkan harga RON 95 di Indonesia per 1 Maret 2016 adalah Rp 8.850 per liter. Perbedaan yang hampir Rp 3.000 per liter sungguh sangat besar.

    Lebih membuat miris, harga RON 95 di Malaysia plus pajak 15 persen lebih murah Rp 1.136 ketimbang harga premium di Indonesia yang perbedaan RON-nya sangat besar yaitu 7.

    Mengapa pemerintah dan DPR tidak tergerak memertanyakan perbedaan yang mencolok itu. mengapa tidak dipertanyakan pula “keganjilan peredaan harga antara Premium, Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Plus?

    Saatnya kita menuntut transparansi formula perhitungan harga BBM di Tanah Air, termasuk harga Avtur dan harga BBM untuk kapal yang tak kalah mahalnya.