Jatuh-Bangun Perekonomian Indonesia


Setelah krisis politik dan ekonomi terdahsyat sepanjang sejarah Indonesia merdeka pada tahun 1998, pertumbuhan ekonomi tidak pernah lagi menyentuh 7 persen. Pemulihan pertumbuhan pasca-krisis terhenti pada 2007 sebagai imbas dari krisis finansial global yang dipicu oleh letupan subprime mortgage di Amerika Serikat pada 2008. Sempat naik kembali tahun 2010, namun setelah itu, selama lima tahun berturut-turut, Indonesia mengalami kemerosotan pertumbuhan ekonomi. Lihat Peraga 1.

peraga-1

Dengan menggunakan trend line polinomial tampak pertumbuhan jangka panjang Indonesia mengalami kecenderungan melambat. Padahal, Indonesia masih dalam tahapan negara sedang membangun (developing country) yang sedang menempuh industrialisasi (industrializing) dengan pendapatan per kepala (income per capita) yang masih relatif rendah. Dengan pendapatan per kapita 3.630 dollar AS pada tahun 2014, Indonesia masih berada dalam kelompok negara berpendapatan menengah-bawah (lower-middle income).

Perlambatan pertumbuhan ekonomi terus berlanjut selama lima tahun terakhir. Lihat Peraga 2. Optimisme yang dikumandangkan setiap masa kampanye tidak kunjung menjadi kenyataan. Target pertumbuhan ekonomi yang tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) selalu meleset ke bawah. Bahkan, belakangan ini sudah berada di bawah 5 persen.

peraga-2

Jika Indonesia gagal mengakselerasikan pembangunan dan kerap terantuk sebagaimana terjadi sejak kemerdekaan, maka ancaman di depan mata adalah masuk ke dalam perangkap pendapatan menengah (middle income trap). Lebih baik saja tidak cukup. Alon-alon asal kelakon akan membuat Indonesia semakin tercecer dalam kancah regional dan global. Lihat Peraga 3.

peraga-3

Setelah Perang Dunia II, banyak negara meraih kemerdekaan. Negara-negara di Asia mulai meletakkan dasar-dasar pembangunan pada waktu yang hampir bersamaan. Sebagaimana terlihat pada Peraga 4, sampai awal tahun 1970-an, tingkat pendapatan per kapita Indonesia, China, Korea, Malaysia, dan Thailand tidak jauh berbeda. Bahkan, sampai tahun 1997 pendapatan per kapita Indonesia lebih tinggi ketimbang China. Namun, sejak 1998 China kian meninggalkan Indonesia. Kesenjangan antara China dan Indonesia semakin melebar. Pendapatan per kapita China terus melaju kencang, sedangkan gerak maju Indonsia sudah melandai. Lihat Peraga 5.

peraga-4peraga-5

Korea paling melesat, disusul kemudian oleh China, Malaysia, dan Thailand. Indonesia paling tertinggal dibandingkan dengan keempat negara itu.

Memang, Indonesia bukanlah negara yang paling tercecer. Indonesia menyusul Filipina pada tahun 2011. Bertolak dari kinerja kedua negara dalam beberapa tahun terakhir, posisi Indonesia bisa kembali disusul oleh Filipina. Sementara itu, walaupun dalam banyak hal perekonomian Timor-Leste masih tertinggal dari Indonesia, negara baru yang memisahkan diri dari Indonesia ini sempat menyusul Indonesia dan berpeluang menyusul kembali. Lihat Peraga 6.

peraga-6

Sesat Pikir Tarif Jalan Tol


Pemerintah mulai 1 November 2015 kembali menaikkan tariff jalan toll di berbagai ruas. Untuk menarik pengusahaan jalan  tol, pemerintah menjamin kenakan tarif setiap dua tahun. Namun, sayangnya pemerintah gegabah dengan hanya memperhitungkan kenaikan ongkos operasional. Bukankah yang harus diperhitungkan juga adalah sisi pendapatan pengusaha jalan toll?

Pengusaha tertarik membangun dan mengoperasikan jalan toll karena iming-iming laba. Salah satu metode untuk menghitung kelayakan proyek adalah NPV. Jika NPV lebih besar dari nol, proyek menjadi layak atau feasible.

atoll

Dalam perhitungan NPV, dibuatlah asumsi jumlah kendaraan yang masuk jalan toll dan tarifnya untuk setiap jenis kendaraan.

Seharusnya, pemerintah membandingkan antara asumsi jumlah kendaraan yang masuk jalan toll sebagaimana tertera dalam feasibility study dengan kenyataan. Lazimnya, asumsi jumlah kendaraan yang masuk jalan toll lebih rendah dari kenyataan. Salah satu indikasinya adalah kemacetan yang kerap terjadi di jalan toll.

Tengok saja senarai di bawah yang menunjukkan cukup banyak ruas toll gemuk yang turut menikmati kenaikan tariff. Apalagi mengingat ruas-ruas jalan toll iu sudah berusia lama sekali, yang seharusnya juga menjadi bahan pertimbangan.

Hujah bahwa jalan toll gemuk harus “mensubsidi” jalan toll “kurus” tidak sepenuhnya bias diterima, karena setiap ruas toll punya feasibility masing-masing. Sangat patut diduga, feasibility study itu tidak memasukkan faktor cross subsidy.

Berikut adalah senarai ruas toll yang menikmati kenaikan harga:

1. Jakarta-Bogor-Ciawi toll road from Rp 8,000 to Rp 8,500

2. Tangerang toll road from Rp 5,000 to Rp 5,500

3. Jakarta inner toll road from Rp 8,000 to Rp 9,000

4. Jakarta outer toll road from Rp 8,000 to Rp 8,500

5. Padalarang-Cileunyi toll road from Rp 8,000 to Rp 8,500

6. Semarang ABC section toll road from Rp 2,000 to Rp 2,500

7. Surabaya-Gempol toll road from Rp 4,000 to Rp 4,500

8. Palimanan-Plumbon-Kanci toll road from Rp 5,000 to Rp 5,500

9. Cipularang toll road from Rp 34,000 to Rp 37,500

10. Belawan-Medan-Tanjung Morawa toll road from Rp 6,000 to Rp 7,000

11. Serpong-Pondok Aren toll road from Rp 5,000 to Rp 6,000

12. Ujung Pandang 1 and 2 toll roads from Rp 3,000 to Rp 3,500

13. Pondok Aren-Ulujami toll road from Rp 2,500 to Rp 3,000

14. Bali Mandara toll road from Rp 10,000 to Rp 11,000

15. Tangerang-Merak toll road from Rp 36,000 to Rp 41,500

(Source: http://www.thejakartapost.com/news/2015/11/01/increased-fares-15-toll-roads-take-effect-sunday.html#sthash.tmenrFHN.dpuf)

Sudah Lebih 4 Tahun Rupiah Melemah Kok Dibilang Sementara!!


Hari Rabu (23/9/2015), nilai tukar rupiah kembali mencatatkan rekor terendah baru, Rp 14.623 per dollar AS. Sudah empat tahun lebih rupiah merana. Terlama dalam sejarah.

Sejak 2 Agustus 2011, rupiah sudah terkikis nilainya terhadap dollar AS sebesar 42,14 persen.

aaarp

Jadi, tak benar pernyataan Gubernur Bank Indonesia bahwa pelemahan rupiah bersifat sementara. Lihat:

http://www.antaranews.com/berita/511777/bi-meyakini-pelemahan-rupiah-hanya-sementara

http://bisnis.tempo.co/read/news/2010/05/19/087248966/pelemahan-rupiah-dinilai-hanya-sementara

http://wartaekonomi.co.id/read/2015/08/11/68018/bi-pelemahan-rupiah-bersifat-sementara.html

http://m.tribunnews.com/bisnis/2015/08/11/bi-sebut-pelemahan-rupiah-hanya-sementara

Cukup sudah mengambinghitamkan faktor eksternal yang bersifat jangka pendek, karena pelemahan rupiah sudah berlangsung lama. Niscaya ada masalah struktural yang membuat rupiah lunglai berkepanjangan.

.

 

Carut-marut Pengelolaan Pangan Nasional


Selama Mei-Agustus 2015, bahan makanan merupakan punyumbang terbesar laju inflasi, yakni rata-rata sebesar 52,2 persen.

Penyebabnya sangat terang benderang. Tidak ada lonjakan permintaan, kecuali menjelang lebaran lalu. Tak ayal, penyebab utamanya adalah pasokan yang seret. Sesumbar Menteri Pertanian bahwa produksi berbagai jenis pangan meningkat patut dipertanyakan.

Karena yakin produksi naik, Menteri Pertanian mengendalikan impor dengan ketat. Lihat: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/09/24/104534626/Mentan.Klaim.Hemat.Rp.50.Triliun.berkat.Pengendalian.Impor.Pangan.

Karena teramat yakin Indonesia surplus beras, menteri Pertanian menolak impor beras. Lihat: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/03/31/121100826/Menteri.Amran.Tolak.Tawaran.Impor.Beras.dari.Thailand

Padahal nyata-nyata Indonesia mengalami dampak sangat buruk akibat El Niño.

Ternyata harga beras merangkak naik dan dampak El Niño diperkirakan bakal panjang. Akhirnya pemerintah akan mengimpor beras 1,5 juta ton dari Thailand. Lihat: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/09/24/175509926/Elnino.Pemerintah.Kembali.Impor.Beras.1.5.Juta.Ton.dari.Thailand

Sama halnya dengan daging sapi. Mentan meyakini pasokan daging sapi cukup sehingga kuota impor tidak perlu ditambah.

Namun, beberapa waktu kemudian berubah. Lihat http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/08/18/203126326/Pemerintah.Siap.Buka.Keran.Impor.200.000.Ekor.Sapi?utm_campaign=related&utm_medium=bp&utm_source=bisniskeuangan&

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/09/24/151708926/Indonesia.Akan.Impor.11.000.Sapi.Indukan.dari.Australia

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/05/19/082727526/Kemendag.Tambah.Kuota.Impor.Sapi?utm_campaign=related&utm_medium=bp-kompas&utm_source=bisniskeuangan&

Bukan hanya beras dan daging sapi. Beberapa bahan pangan lainnya mengalami hal yang mirip.

Kita tentu amat senang kalau dapat mengurangi impor pangan. Yang penting usaha keras dan terukur, bukan hanya gembar-gembor. Akhirnya nanti masyarakat berpendapatan rendah yang paling terkena dampaknya berupa kenaikan harga-harga pangan yang mencekik daya beli mereka.

Tidak ada jalan pintas, simsalabim.

Jangan gampang menjadikan mafia sebagai kambing hitam. Yang harus dibenahi adalah manajemen pasokan, distribusi, dan tata niaga.

The Capital-Freeze Index: Mengukur Kerentanan Indonesia


Tampaknya daya tahan Indonesia menghadapi gejolak eksternal kian terkikis. Majalah terkemuka di dunia, The Economist, menghitung derajat kerentanan dengan menggunakan tiga indikator: kondisi akun semasa (current account), rata-rata pertumbuhan kredit selama tiga tahun terakhir, dan nisbah utang luar negeri (utang kotor jangka pendek plus pembayaran cicilan utang luar negeri) terhadap cadangan devisa.

Pada tahun 20014 posisi Indonesia hanya lebih baik dari Venezuela, Turki, dan Ukraina. Indek total Indonesia sebesar 160, yang berarti lebih separuh dari tingkat tertinggi sebesar 300.

 aeconomist

Namun, jika dimutakhirkan sampai semester I 2015 (Indonesia-2015),  indeks Indonesia turun cukup tajam menjadi 115, sehingga tidak sampai separuh dari indeks tertinggi. Posisi Indonesia menjadi lebih baik dari negara-negara Amerika Latin (Meksiko, Brazil, dan Argentina) serta Rusia.

Negara-negara ASEAN, China, dan India lebih baik dari Indonesia.

Semoga saja tingkat kerentanan Indonesia tidak merosot. Cukup banyak faktor yang menunjang Indonesia untuk menghadapi gejolak eksternal. Modalnya para petinggi kompak, tidak cakar-cakaran.

Indonesia: Infrastruktur dan Pembangunan


ainfra

Salah satu faktor yang membuat perjalanan ekonomi Indonesia tertatih-tatih dan kerap mengalami kemerosotan adalah ketersediaan infrastruktur. Menurut kajian McKinsey, nilai stok infrastruktur yang memadai rata-rata sekitar 70 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Jika mengacu pada kajian itu, ketersediaan infrastruktur di Indonesia jauh dari memadai, yaitu hanya 30 persen.

ainfrastructure

Keterbatasan infrastruktur menimbulkan konsekuensi yang serius. Pertama, pola pertumbuhan tidak mengikuti pola normal. Sektor penghasil barang (pertanian, pertambangan, dan industri manufaktur) tidak bisa berkembang secara optimal karena lebih sensitif terhadap ketersediaan infrastruktur ketimbang sektor jasa. Padahal, sebagian besar penduduk di negara berkembang bertumpu pada sektor penghasil barang (tradables).

Lebih khusus lagi, perkembangan industri manufaktur bakal tersendat. Peranannya terhadap PDB turun sebelum mencapai titik optimal, sebelum tuntas di tahapan industrialized. Dengan kata lain, terjadi gejala deindustrialisasi.

Daya saing perekonomian tidak kunjung membaik karena pengusaha yang hendak membangun pabrik harus menanggung ongkos tetap (fixed cost) yang lebih tinggi. Mereka harus membangun pembangkit listrik sendiri (captive power) karena listrik belum menjangkau lokas pabrik. Industri terkonsentrasi di Jawa atau lebih khusus lagi Jabodtabek yang listriknya berkecukupan. Kalaupun harus memiliki pembangkit sendiri, tujuannya untuk cadangan karena masalah keandalan. Juga harus membangun pelabuhan dan jalan sendiri.

Padahal infrastruktur dasar itu sepatutnya disediakan oleh negara.

 

Faisal Basri: The Fed Bakal Tunda Kenaikan Suku Bunga


Ekonom senior itu mengungkapkan sejumlah analisisnya.

Oleh : Daurina Lestari, Fikri Halim

Kamis, 17 September 2015 | 00:20 WIB

VIVA.co.id – Ekonom Faisal Basri memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan menunda kenaikan suku bunga. Dia menduga The Fed akan menaikkan suku bunga pada Oktober atau Desember.

“Kalau saya sih sekarang 50-50, tapi lebih kepada tidak menaikkan suku bunga bulan ini. Kemungkinan masih tahun ini, kalau enggak bulan Oktober, ya Desember,” ujar Faisal usai diskusi di Popular Mansion, Jakarta, Rabu 16 September 2015.

Ia menjelaskan bahwa probabilitas The Fed untuk menaikkan suku bunga masih di bawah 50 persen. Hal itu berdasarkan pengamatannya dengan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed masih rendah.

“Seorang senior atau mantan (pejabat The Fed) bilang probabilitasnya 20 persen, kemudian tiga orang lagi berpendapat probabilitasnya kurang dari 50 persen. Mereka mengatakan, The Fed tidak menaikkan suku bunga pada September, karena dalam rapat itu, masih ada kemungkinan akan dinaikkan pada Okotober atau Desember,” ujarnya.

Faisal menjelaskan bahwa perekonomian Amerika saat ini sangat membaik di mana meningkat dari 2,3 persen menjadi 3,6 persen. Untuk ukuran negara maju seperti Amerika, kenaikan pertumbuhan seperti ini merupakan hal yang luar biasa.

Analisis Faisal ini berdasarkan indikator ekonomi AS, yakni angka pengangguran di Amerika Serikat pada tahun ini adalah yang terendah selama tujuh tahun terakhir, yaitu sebesar 5,1 persen.

Kedua, lanjut faisal, belanja masyarakat Amerika masih belum bergairah, karena inflasinya 0,3 persen.

“Padahal, target inflasi The Fed itu dua persen, jadi ini kan belum bergairah.  Kalau suku bunga dinaikkan, ini makin enggak bergairah. Jadi, masih gamang,” katanya.

Kemudian, ada saran dari Dana Moneter Internasional (IMF), agar AS tidak menaikkan suku bunganya tahun ini dengan alasan volatilitas.

“Karena, kalau suku bunga dinaikkan, uang-uang mengalir makin banyak ke Amerika. Dolar makin kuat, ekspornya hancur, impornya naik, akhirnya menambah pengangguran kan. Akhirnya malah menciptakan lapangan kerja di negara lain,” kata dia.

Sumber: http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/675202-faisal-basri–fed-bakal-tunda-kenaikan-suku-bunga

Growth can reach 5.4 percent in 2016: Economist


Thursday, 17 September 2015 14:58 WIB

Jakarta (ANTARA News) – Economist Faisal Basri of the University of Indonesia has forecast that Indonesias economic growth can be accelerated to reach 5.4 percent in 2016 although global economic pressures will still exist.

Speaking at a discussion organized by a private radio station on Wednesday night, Basri stated that the flow of investment, which is forecast at six percent in 2016, will become a main driver of the countrys economic growth.

“We will strongly feel the impact of deregulation in the field of investment next year,” the economist noted.

He lauded the governments plan to expedite the realization of its budget expenditure. However, he pointed out that in the final three months of 2015, the stimulus provided by the realization of the budget will not significantly help the economy.

“We cannot yet be free from private investment. Therefore, deregulations must be implemented seriously,” he added.

Besides investment, household consumption will also support economic growth in 2016. This is only possible if the government is able to restore the purchasing power of the people and raise household consumption to five percent after it dropped to 4.9 percent in the second semester of 2015.

He remarked that one of the effective steps to restore the purchasing power of the people is to lower the price of premium gasoline. On the other hand, the global crude price is showing a downward trend.

According to the National Development Planning Ministry (PPN), the economic growth assumption set at 5.5 percent in the draft state budget 2016 could be achieved if household consumption and investment climate could be maintained well.

The government should also be able to execute its fiscal budget and draft an accurate program and policy such as restoring the purchasing power of the people.

“An increase in investment and consumption will clearly be seen, especially if the rupiah currency becomes stable. If the rupiah is unstable, the investors will show lesser interest. Low purchasing power and domestic market being under pressure will discourage the flow of investment, as there will be no demand,” Bambang Prijambodo, an expert staff of PPN, noted on a separate occasion.

Meanwhile, Chairman of the Indonesian Chamber of Commerce and Industry (Kadin) Suryo Bambang Sulisto stated that synergy among associations plays an important role to counter the slowdown in economic growth.

“Integration among associations is necessary to fight for their interests that can affect the nations economy,” Sulisto noted on Wednesday.

According to Sulisto, a business association should help to build good relations between small entrepreneurs and large businesses.

“In Japan, the integration of the interests of small and medium enterprises can be represented by large companies with the assistance of business associations,” he pointed out.

Associations should be integrated to define their goals and interests as part of the efforts to create economic prosperity.

He urged the entrepreneurs to realize a better economy that will help to improve the welfare of the people.

“Indonesian businesses should act as the drivers of the nation to create prosperity in trade and industry,” he affirmed.

Meanwhile, Vice Chairman of the Indonesian Chamber of Commerce and Industry Noke Kiroyan remarked that an association can improve the performance of its members to realize a conducive climate, create opportunities, and develop their businesses.

Therefore, an association is expected to initiate, facilitate, and increase business transactions.

“If all associations can carry out these functions, business activities and economic growth will increase,” he emphasized.(*)

Source: http://www.antaranews.com/en/news/100554/growth-can-reach-54-percent-in-2016-economist

Kenangan dengan Prof. Ali Wardhana


aaliwardhana

Innalillah wainna ilaihi rooji’un. Telah berpulang ekonom putra terbaik bangsa, Prof. Ali Wardhana, Senin, 14 September 2015. Pak Ali adalah Menteri Keuangan terlama (1968-83).

Hingga kini masih terngiang-ngiang kuliah perdana yang disampaikan Pak Ali sebagai Dekan Fakultas Ekonomi UI kepada mahasiswa baru tahun 1978. Pak Ali membumikan saripati ilmu ekonomi dalam bahasa keseharian sehingga mudah dipahami oleh mahasiswa baru yang belum tahu apa-apa tentang ekonomi sekalipun. Satu istilah yang disampaikannya yang tidak pernah saya lupa adalah: fallacy of composition.

Karena kuliah perdana itulah yang kian membulatkan pilihan saya untuk memilih jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan (ESP) yang sekarang berganti nama menjadi program studi ekonomi. Fakultas pun sudah berganti nama menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Berbeda dengan sekarang yang sejak masuk sudah memilih jurusan atau program studi, di masa Pak Ali sebagai dekan, pemilihan jurusan baru dilakukan pada tahun ketiga.

Angkatan 1978 masih beruntung memperoleh bekal dari ekonom generasi pertama. Selain Pak Ali, saya memperoleh bekal dari Prof. Sumitro Djojohadikusumo selama dua semester (mata kuliah Perekonomian Indonesia dan Seminar Perekonomian Indonesia), Prof. M. Sadli (Perekonomian Indonesia). Seharusnya saya pun diajar oleh Prof. Subroto selama dua semester untuk mata kuliah Ekonomi Internasional Lanjutan dan Seminar Ekonomi Internasional. Sayangnya sekalipun Prof. Subroto tak pernah hadir di perkuliahan. Yang selalu masuk kelas adalah Pak Sri Hadi. Prof. Emil Salim merupakan dosen yang paling rajin, tak pernah bolos. Kalau berhalangan dicari waktu penggantinya. Sesibuk apa pun, Prof Emil Salim menyempatkan waktu mengajar. Jika sidang kabinet atau acara lain molor, kami setia menunggu berjam-jam. Mata kuliah yang diasuh oleh Prof. Emil Salim adalah Masalah dan Kebijakan dalam Pembangunan.

Semasa menjadi asisten dosen, setidaknya saya bertemu dengan senior-senior yang menjadi menteri pada forum tahunan bertajuk prospek perekonomian Indonesia. Biasanya pembahasan dilakukan di kawasan puncak. Kami yang berkiprah sepenuhnya di kampus memperoleh informasi dari tangan pertama tentang latar belakang kebijakan-kebijakan pemerintah dan persoalan-persoalan yang dihadapi beserta dengan data pendukungnya, sehingga lebih mudah memahami dinamika perekonomian. Prof. Ali Wardhana hampir selalu hadir dalam forum itu.

Kenangan yang juga tak terlupakan adalah ketika Dr. Sri Mulyani dan saya diundang makan siang oleh Prof. Ali Wardhana dan Prof. Widjojo Nitisastro di ruangan privat restoran Italia “Ambiente” di Hotel Aryaduta Tugu Tani. Kalau tak salah ingat kejadiannya sekitar tahun 1999. Ambiente merupakan restoran favorit Pak Widjojo.

Dalam pertemuan itu Prof. Ali lebih banyak bicara. Ia menceritakan proses penanganan krisis 1998. “Di ruangan inilah Pak Widjojo memberikan masukan atau briefing kepada Tim IMF yang dipimpin oleh Hubert Neiss,” kata Prof. Ali. Masukan itulah yang akhirnya tertera dalam Letter of Intent (LoI) berupa matriks rencana aksi yang bersifat mengikat. Misalnya menghapuskan program mobil nasional dan melumatkan monopoli cengkeh.

Sebagian isi rencana aksi itu sebetulnya merupakan penyakit lama yang menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung tersesaikan karena terkait dengan kepentingan keluarga Soeharto. Momentum krisis dimanfaatkan untuk membakar lemak-lemak yang kian menyelubungi perekonomian dengan menggunakan “tangan” IMF.

Pak Ali juga menceritakan pengalaman Indonesia terpaksa meminta bantuan IMF di masa awal Orde Baru. Kala itu LoI ditandatangani oleh Frans Seda. Betapa sakitnya kita waktu itu harus menelan pil pahit resep IMF. Prof. Ali wanti-wanti jangan sampai kita meneken LoI lagi. Kala itu, Hubert Neiss sudah menjadi tim IMF ke Indonesia, mungkin baru sebagai asisten. Ternyata sejarah berulang. Kita minta bantuan darurat dari IMF untuk mengatasi krisis 1998 sehingga harus menelan pil yang amat pahit.

Bekal dari pertemuan itu betul-betul berguna ketika saya ditunjuk oleh Presiden Gusdur menjadi anggota Tim Asistensi Ekonomi Presiden bersama dengan Prof. Widjojo, DR. Sri Mulyani, dan Alim Markus (pemilik Maspion Group).

Prof. Ali adalah sosok teknokrat handal, arif, dan berwibawa. Ia tidak mengumbar pernyataan. Sangat jarang melayani wawancara door stop. Ucapan-ucapannya sangat terukur dan tentu saja menjadi terpercaya dan kredibel sehingga menjadi acuan dunia usaha dan masyarakat luas.

Suatu ketika saya bertemu Prof. Ali Wardhana di kampus. Ia menyapa saya dan berujar: “Saya selalu mendengarkan acara anda di Delta FM setiap hari Senin pagi.” [Saya sempat menjadi host acara dialog ekonomi di Delta FM selama sekitar dua tahun.] Begitulah sosok yang selalu hangat kepada murid-muridnya, mendorong yang muda untuk maju dan berkarya.

Selamat jalan Prof. Ali Wardhana. Suri tauladan dan ilmu yang Bapak alirkan kepada kami sungguh sangat berharga. Insya Allah menjadi amal ibadah, bakal menemui Sang Pencipta.

Orang Indonesia Kian Gemar Melancong ke Luar Negeri


Koran berbahaya Inggris, The  Jakarta Post, edisi Jumat, 11 September 2015, hal. 14, menurunkan berita berjudul “Braving economic slump, RI travelers plan more overseas trips,” (https://shar.es/1vNGXe).

Sekalipun perekonomian sedang menghadapi tekanan berat dan nilai tukar rupiah melorot, orang Indonesia berencana melancong ke luar negeri lebih kerap dengan tujuan lebih banyak negara. Menurut survei yang dilakukan oleh penyedia kartu, Visa, rata-rata orang Indonesia yang disurvei berencana melakukan perjalanan lima kali untuk dua tahun ke depan,  hampir dua kali lipat lebih banyak ketimbang responden global yang hanya tiga kali.

Tujuan perjalanan orang Indonesia juga lebih jauh, tidak melulu ke Singapura, Malaysia, dan Thailand yang merupakan tujuan tradisional, melainkan semakin banyak yang ke Jepang, Korea, dan China. Yang berencana pergi ke Jepang naik menjadi 21 persen, meningkat berlipat ganda ketimbang tahun 2013 yang hanya 9 persen.

Tentu saja hampir seluruh orang Indonesia yang melancong ke luar negeri adalah strata menengah ke atas. Kegemaran belanja mereka tergolong tinggi. Saya menduga belanja mereka di luar negeri lebih besar daripada data yang ditangkap oleh Bank Indonesia sebagaimana tertera di bawah.

Berdasarkan data Bank Indonesia, ekspor kita (belanja turis mancanegara selama melancong ke Indonesia) masih lebih besar ketimbang impor (belanja orang Indonesia yang melancong ke luar negeri). Tampak surplus yang kita nikmati cenderung membesar. Semoga ke depan sektor pariwisata ini lebih banyak menyumbang pundi-pundi devisa Indonesia. Semakin banyak negara yang memperoleh fasilitas bebas visa diharapkan menjadi salah satu pemicunya.

aaturis

Dengan semakin banyak orang Indonesia berencana ke luar negeri semoga diimbangi dengan semakin banyak turis mancanegara yang masuk ke Indonesia. Sampai tahun 2014, turis yang masuk belum mencapai 10 juta, jauh lebih kecil ketimbang turis asing yang masuk ke Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Berharap tahun ini jumlah wisman menembus 10 juta.

aawisman