Harga Pangan (Terutama Beras) Mengancam Penduduk Miskin


Tahun 2015 ditandai oleh bencana El Niño dan kebakaran lahan terlama dan terparah. Pulau Kaliman tan dan Sumatera paling menderita akibat kebakaran lahan. Perekonomian Kalimantan pada triwulan III-2015 mengalami kontraksi atau pertumbuhan negatif, sedangkan pertumbuhan ekonomi Sumatera terburuk kedua. Dampak El Niño lebih merata. Berbulan-bulan tidak turun hujan menyebabkan kekeringan di seluruh Indonesia, menyebabkan gagal…

Dua Dunia Senantiasa Saling Bersandingan


Dua dunia, hadir berdampingan. Tuhan menciptakan keduanya: kehidupan duniawi dan kehidupan rohani. Dalam hampir segala aspek kehidupan pun selalu begitu, berpasang-pasangan: ada suka dan duka, ada baik dan buruk, ada amarah dan cinta kasih. Dalam berbisnis, ada laba-rugi, keberhasilan-kegagalan, dan kemajuan-kemunduran. Ada pula tantangan, ancaman, dan bahaya; namun senantiasa hadir pula kesempatan (opportunity). Berbekal ilmu…

Refleksi Akhir Tahun: Mengapa Perekonomian Indonesia Kian Loyo?


Pada 11 Desember 2015, di blog ini saya menayangkan tulisan berjudul “Jatuh-Bangun Perekonomian Indonesia” (http://wp.me/p1CsPE-1f6). Mengapa perekonomian Indonesia kerap terantuk dan mengalami stagnasi sehingga semakin tertinggal dengan negara-negara tetangga? Belum mencapai tingkat pendapatan per kapita yang cukup tinggi tetapi sudah melambat dan cenderung melandai. Banyak faktor yang memengaruhinya. Di antara yang terpenting dan bersifat mendasar, sangat boleh jadi salah satunya…

Tak Perlu Gentar Menghadapi MEA


Pada abad kedua masehi, serombongan warga Nusantara dengan kapal dan sistem navigasi yang didisain sendiri telah menjelajah hingga ke Afrika, menjual hasil bumi Nusantara dan membeli produksi lokal di sana untuk dibawa pulang. Setengah abad kemudian, kerajaan Sriwijaya menguasai perairan Nusantara dan sangat disegani di Selat Malaka dan Samudera Hindia. Tidak sebatas melakukan perdagangan lintas…

Jatuh-Bangun Perekonomian Indonesia


Setelah krisis politik dan ekonomi terdahsyat sepanjang sejarah Indonesia merdeka pada tahun 1998, pertumbuhan ekonomi tidak pernah lagi menyentuh 7 persen. Pemulihan pertumbuhan pasca-krisis terhenti pada 2007 sebagai imbas dari krisis finansial global yang dipicu oleh letupan subprime mortgage di Amerika Serikat pada 2008. Sempat naik kembali tahun 2010, namun setelah itu, selama lima tahun…

Sesat Pikir Tarif Jalan Tol


Pemerintah mulai 1 November 2015 kembali menaikkan tariff jalan toll di berbagai ruas. Untuk menarik pengusahaan jalan  tol, pemerintah menjamin kenakan tarif setiap dua tahun. Namun, sayangnya pemerintah gegabah dengan hanya memperhitungkan kenaikan ongkos operasional. Bukankah yang harus diperhitungkan juga adalah sisi pendapatan pengusaha jalan toll? Pengusaha tertarik membangun dan mengoperasikan jalan toll karena iming-iming laba. Salah satu metode untuk…

Sudah Lebih 4 Tahun Rupiah Melemah Kok Dibilang Sementara!!


Hari Rabu (23/9/2015), nilai tukar rupiah kembali mencatatkan rekor terendah baru, Rp 14.623 per dollar AS. Sudah empat tahun lebih rupiah merana. Terlama dalam sejarah. Sejak 2 Agustus 2011, rupiah sudah terkikis nilainya terhadap dollar AS sebesar 42,14 persen. Jadi, tak benar pernyataan Gubernur Bank Indonesia bahwa pelemahan rupiah bersifat sementara. Lihat: http://www.antaranews.com/berita/511777/bi-meyakini-pelemahan-rupiah-hanya-sementara http://bisnis.tempo.co/read/news/2010/05/19/087248966/pelemahan-rupiah-dinilai-hanya-sementara http://wartaekonomi.co.id/read/2015/08/11/68018/bi-pelemahan-rupiah-bersifat-sementara.html…

Carut-marut Pengelolaan Pangan Nasional


Selama Mei-Agustus 2015, bahan makanan merupakan punyumbang terbesar laju inflasi, yakni rata-rata sebesar 52,2 persen. Penyebabnya sangat terang benderang. Tidak ada lonjakan permintaan, kecuali menjelang lebaran lalu. Tak ayal, penyebab utamanya adalah pasokan yang seret. Sesumbar Menteri Pertanian bahwa produksi berbagai jenis pangan meningkat patut dipertanyakan. Karena yakin produksi naik, Menteri Pertanian mengendalikan impor dengan…

The Capital-Freeze Index: Mengukur Kerentanan Indonesia


Tampaknya daya tahan Indonesia menghadapi gejolak eksternal kian terkikis. Majalah terkemuka di dunia, The Economist, menghitung derajat kerentanan dengan menggunakan tiga indikator: kondisi akun semasa (current account), rata-rata pertumbuhan kredit selama tiga tahun terakhir, dan nisbah utang luar negeri (utang kotor jangka pendek plus pembayaran cicilan utang luar negeri) terhadap cadangan devisa. Pada tahun 20014…

Indonesia: Infrastruktur dan Pembangunan


Salah satu faktor yang membuat perjalanan ekonomi Indonesia tertatih-tatih dan kerap mengalami kemerosotan adalah ketersediaan infrastruktur. Menurut kajian McKinsey, nilai stok infrastruktur yang memadai rata-rata sekitar 70 persen dari produk domestik bruto (PDB). Jika mengacu pada kajian itu, ketersediaan infrastruktur di Indonesia jauh dari memadai, yaitu hanya 30 persen. Keterbatasan infrastruktur menimbulkan konsekuensi yang serius. Pertama,…