Nasib Lapisan Terbawah Belum Kunjung Terangkat

6 komentar

senayanpost.com

Hampir dua pertiga penduduk miskin yang berjumlah 27,76 juta jiwa pada September 2016 berada di pedesaan. Mayoritas penduduk miskin di pedesaan bertumpu pada sektor pertanian. Sekalipun demikian, peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan di pedesaan jauh lebih besar daripada komoditas bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Harga bahan makanan yang lebih bergejolak sangat menekan penduduk miskin. Cukup banyak petani yang merupakan kon sumen neto pangan, termasuk beras. Artinya beras yang mereka produksi lebih kecil ketimbang yang mereka konsumsi.

worldbank.org

Ketika musim panen, apalagi panen serentak atau panen raya, harga jautuh; sebaliknya ketika paceklik dan mereka harus membeli beras, harganya melambung. Meskipun pemerintah berkomintmen membeli berapa pun hasil produksi sejumlah komoditas pertanian, nasib petani tak banyak tertolong.

Kenaikan harga beras di tingkat eceran naik lebih cepat dibandingkan peningkatan harga gabah kering di tingkat petani. Sebaliknya, jika harga merosot, harga gabah kering di tingkat petani melorot lebih tajam ketimbang penurunan harga di tingkat konsumen.

Pembenahan mata rantai distribusi harus menjadi perhatian utama untuk  meningkatkan kesejahteraan petani.

Penurunan kemiskinan di pedesaan kian sulit jika nilai tukar petani tidak kunjung membaik. Sejak Oktober 2014 nilai tukar petani menunjukkan kecenderungan menurun.

tot
tot-food

Kemerosotan lebih tajam untuk nilai tukar pangan, terutama sejak Maret-April 2016, lalu relatif stabil selama kurun waktu Mei 2016 sampai Januari 2017. Pada Februari 2017 kembali merosot tajam.

informal

Nasib pekerja bebas di sektor pertanian juga tak membaik. Upah riil mereka sejak November 2014 justru turun sebesar 3,49 persen. Setiap tahun upah riil butuh tani mengalami penurunan.

Walaupun juga menurun, upah riil pekerja informal di perkotaan–yang diwakili oleh upah buruh bangunan–sempat naik tipis pada tahun pertama pemerintahan Jokowi. Namun setelah itu berbalik turun. Sejak pemerintahan Jokowi hingga Februari 2017, upah riil buruh bangunan turun 1,68 persen.

Tekanan lebihj berat di sektor pertanian bioleh jadi memperbesar urbanisasi. Namun, karena tingkat pendidikan yang rendah dan tidak memiliki keterampilan, mereka menyemut di sektor informal, antara lain sebagai buruh bangunan. Kondisi kelebihan pasokan tenaga kerja itulah yang mungkin membuat upah riil buruh bangunan juga ikut tertekan.

Pebenahan sektor pertanian juga sudah barang tentu sangat membantu untuk memperkecil ketimangan. Selain itu turut pula membantu mengurangi tekanan urbanisasi sehingga tidak memperparah daya serap perkotaan.

Untuk meningkatkan jam kerja efektif petani, industrialisasi di pedesaan merupakan keniscayaan. Industrialisasi dengan penerapan teknologi tepat guna.

6 comments on “Nasib Lapisan Terbawah Belum Kunjung Terangkat”

  1. Kalau Pertanian dikelola seperti halnya Australia niscaya Indonesia akan bangkit Pak?dimulai dari mana Pak?supaya bisa seperti Australia…modern dan sangat rapi

    1. Arable land kita relatif terbatas. Kekayaan laut perlu terus didorong. Insya Allah kita bisa memanfaatkan keunggulan ang kita miliki dengan mengembangkan model sendiri.

  2. Selamat siang pak Faisal, saya izin bertanya. Seperti yang diketahui, belakangan terakhir kontribusi sektor informal terus berkembang dan mengalami peningkatan. Hal ini selaras dengan apa yang dibahas dalam tulisan tersebut.Lebih lanjut, sektor informal itu tercipta karena adanya kegagalan dari urbanisasi dalam penciptaan peluang kerja. Namun, di sisi lain, apabila terjadi krisis justru sektor informal dapat menjadi alternatif sebagai peluang kerja setidaknya untuk memperoleh penghasilan agar mampu survive. Lantas, menurut pak Faisal apakah sektor informal ini sebenarnya memiliki prospek dalam pembangunan makro atau justru sebalknya ya pak? Dan jika kemungkinan iya, apakah perlu adanya perhatian pemerintah terhadap sektor informal? Terima kasih pak.

  3. Selamat siang pak Faisal, saya izin bertanya. Seperti yang diketahui, belakangan terakhir kontribusi sektor informal terus berkembang dan mengalami peningkatan. Hal ini selaras dengan apa yang dibahas dalam tulisan tersebut.Lebih lanjut, sektor informal itu tercipta karena adanya kegagalan dari urbanisasi dalam penciptaan peluang kerja. Namun, di sisi lain, apabila terjadi krisis justru sektor informal dapat menjadi alternatif sebagai peluang kerja setidaknya untuk memperoleh penghasilan agar mampu survive. Lantas, menurut pak Faisal apakah sektor informal ini sebenarnya memiliki prospek dalam pembangunan makro atau justru sebalknya ya pak? Dan jika kemungkinan iya, apakah perlu adanya perhatian pemerintah terhadap sektor informal? Terima kasih pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.