Menyikapi Tantangan Ekonomi 2016


Perekonomian dunia tahun 2016 tampaknya akan terus menghadapi tekanan dan gejolak. Negara-negara maju masih akan mengalami fenomena yang disebut oleh Larry Summers, mantan Menteri Keuangan Amerika Serikat, sebagai secular stagnation, yakni ketidakmampuan negara-negara maju untuk tumbuh pada tingkat yang memadai sekalipun kebijakan moneter sudah sangat longgar dengan suku bunga mendekati nol persen. Kenaikan suku bunga jangka pendek oleh The Fed sebesar 0,25 persen menjadi 0,5 persen diperkirakan paling banyak akan dilakukan dua kali lagi tahun 2016 karena di tengah jalan bakal menghadapi potensi ancaman makin nyata terhadap pemulihan ekonomi AS yang sejauh ini cukup menggembirakan.

Transisi dan konsolidasi ekonomi di Tiongkok akan terus berlanjut sehingga terus menekan pertumbuhan ekonomi di bawah 7 persen. Pelemahan pertumbuhan ekonomi di Tiongkok, yang merupakan perekonomian terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, tentu saja semakin menekan pertumbuhan ekonomi dunia. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2016 diperkirakan tidak akan jauh beranjak dari pencapaian tahun 2015.

Perdagangan dunia juga mengalami tekanan. Sudah tiga tahun berturut-turut pertumbuhan perdagangan dunia lebih rendah dari pertumbuhan output dunia, suatu fenomena yang sangat langka selama ini. Baltic dry index yang mengukur pergerakan petikemas di seluruh dunia menukik ke titik terendah sejak indeks itu diperkenalkan tahun 1985, ke aras di bawah 500 pada November 2015.

baltic

Proyeksi terkini oleh Bank Dunia menunjukkan harga komoditas energi, tambang, dan petanian seluruhnya masih akan tertekan pada tahun 2016.

commodity

Persaingan dengan negara-negara tetangga bakal semakin berat karena Vietnam dan Malaysia sudah masuk Trans-Pacific Partnership (TPP) mereka bisa menggunakan jalan bebas hambatan memasuki  pasar Amerika Serikat, Kanada,  Jepang, Australia, dan Selandia Baru. Vietnam pun telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas pada Juli 2015.

Oleh karena itu, Vietnam punya daya tarik yang lebih kuat bagi investor asing untuk membangun pabrik atau industri manufaktur yang berorientasi ekspor. Sebaliknya, investor yang masuk ke Indonesia kebanyakan berorientasi pasar dalam negeri sehingga tidak banyak meningkatkan kapasitas ekspor.

Setiap tantangan menghadirkan kesempatan. Setiap ancaman menghadirkan peluang. Harga minyak yang melorot hendaknya dijadikan momentum untuk berbenah diri, menghimpun tenaga untuk lebih siap menghadapi kemungkinsn sebaliknya. Landasan fiskal diperkokoh dan jaring-jaring pengaman sosial diperkuat.

Kemerosotan harga komoditas pertanian dimanfaatkan untuk peremajaan tanaman, bukan justru menerlantarkannya, sehingga ketika menghadapi siklus kenaikan harga kita bisa menikmatinya secara maksimal.

Itulah makna dari kisah Nabi Yusuf yang termaktub dalam Al-Kitab bab Kejadian dan Al-Qur’an 12:46-49.

 

 

Ekspor Masih Loyo


Hari ini (18/8/29015), Badan Pusat Statistik merilis data perdagangan luar negeri (ekspor dan impor) terbaru. Transaksi perdagangan Juli membukukan surplus bulanan tertinggi sejak Desember 2013, yaitu sebesar 1,33 miliar dollar AS, sehingga menambah akumulasi surplus Januari-Juli menjadi5,73 miliar dollar AS.

Sayangnya, perbaikan transaksi perdagangan lebih disebabkan oleh impor yang turun lebih tajam ketimbang penurunan ekspor. Impor pada bulan Juli merosot 28,44 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu dan merosot 22,36 persen dibandingkan bulan sebelumnya (Juni 2015). Penurunan impor terjadi baik untuk migas maupun nonmigas, masing-masing sebesar 45,02 persen dan 21,46 persen untuk month-to-month. Penurunan impor, khususnya nonmigas, mengindikasikan produksi semakin lesu, mengingat kandungan impor cukup tinggi bagi kebanyakan industri kita. Mengingat pula produk industri manufaktur yang berorientasi ekspor cukup banyak yang bergantung pada bahan baku/penolong impor. Dengan kata lain, produk ekspor kita memiliki kandungan impor cukup besar. Porsi impor bahan baku/penolong dalam impor total mencapai 75.,65 persen.

Tidak heran jika ekspor pun turun. Pada Juli 2105 ekspor turun 15,53 persen (month-to-month) dan 19,23 persen (year-on-year). Secara kumulatif (Januari-Juli) ekspor turun 12,81 persen. Impor migas turun tajam (-37,35 persen) disebabkan harga minyak turun tajam. Tetapi, ekspor nonmigas pun turun sebesa r7,55 persen.

atrade

Perbaikan transaksi perdagangan terutama disebabkan oleh kemerosotan tajam impor minyak mentah dan BBM.

aoil

Patut dicatat ekspor kendaraan bermotor terus naik.  Nilai ekspor kendaraan bermotor selama kurun waktu Januari-Juli mencapai 3,2 miliar dollar AS dan untuk pertama kali mencetak surplus. Jumlah kendaraan bermotor yang diekspor pun terus naik, yang selama periode Januari-Juni mencapai 107,4 ribu unit.

Penurunan ekspor yang masih dua dijit terutama disebabkan oleh kemerosotan harga komoditas. Hingga akhir tahun ini harga komoditas diperkirakan masih tertekan.

acommodity_prices

Cara terbaik untuk membuat transaksi perdagangan kita sehat berkelanjutan adalah dengan strategi menyerang, bukan bertahan. Sejauh ini tampaknya pemerintah cenderung memilih taktik bertahan dengan mengekang impor lewat kuota, larangan, dan menaikkan bea masuk.

Mana ada negara yang mau membuka pasarnya bagi produk ekspor Idonesia jika pemerintah mengekang ekspor mereka ke Indonesia. Sejarah membuktikan pertumbuhan ekonomi kita lebih kencang dengan membuka diri.

Vietnam yang komunis saja memilih strategi menyerang, ikut dalam TPP (Trans Pacific Partnership) dan baru saja menandatangani pakta perdagangan bebas dengan Uni Eropa. Tak ayal, penanaman modal asing langsung mengalir deras ke Vietnam. Sekarang Vietnam menjadi negara terkemuka dalam ekspor elektronik. Juga mulai bergigi dalam ekspor tekstil dan pakaian jadi. Sebaliknya, ekspor Indonesia untuk kedua barang itu jalan di tempat.

Membangkitkan Kembali Perekonomian Indonesia


Rabu lalu (8/7), Bank Dunia untuk kesekian kalinya mengoreksi prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2015, kali ini dari 5,2 persen menjadi 4,7 persen. Jika prediksi Bank Dunia tepat atau setidaknya jika realisasi pertumbuhan  ekonomi Indonesia di bawah 5 persen tahun ini, maka perlambatan pertumbuhan bakal terjadi selama lima tahun berturut-turut. Niscaya ada yang tak beres menjangkiti perekonomian Indonesia. Masalah struktural harus dienyahkan.

Pertumbuhan ekonomi tertinggi setelah krisis tahun 1998 terjadi pada tahun 2010, yaitu sebesar 6,4 persen. Setelah itu mengalami penurunan terus menerus, menjadi 6,2 persen tahun 2011, 6,0 persen tahun 2012, 5,6 persen tahun 2013, dan 5,0 persen tahun 2014.

agdp

Pola pertumbuhan mengalami perubahan mendasar (structural change). Sebelum krisis, ujung tombak pertumbuhan adalah sektor tradables (penghasil barang: pertanian, pertambangan, dan industri manufaktur).  Setelah krisis, sektor nontradables mengedepan dengan laju pertumbuhan yang kian jauh lebih tinggi dari sektor tradables.

Ketika pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mengalami kemerosotan selama kurun waktu 201-13, sektor nontradable mampu bertahan dengan laju pertumbuhan tinggi di aras 7,1-7,2 persen. Sebaliknya, pertumbuhan sektor tradables merosot tajam dari 5,1 persen (2011) menjadi 4,7 persen (2012) dan 3,7 persen (2013). Bahkan, pada triwulan I-2015, tatkala pertumbuhan PDB terus merosot, sektor nontradables menikmati peningkatan pertumbuhan dan sebaliknya sektor tradables mengalami kemerosotan pertumbuhan.

Tak ayal, kesenjangan pertumbuhan kedua sektor itu kian menganga hingga mencapai lebih dari dua kali lipat: 6,3 persen (nontradables) versus 2,7 persen (tradables).

aquality

Kemajuan sektor nontradables tampak nyata dari PDB seri 2010. Pada PDB versi sebelumnya hanya tercantum 6 sektor jasa, sedangkan pada PDB seri 2010 menggelembung menjadi 14 sektor. Peningkatan jumlah sektor jasa menunjukkan perubahan dinamika dalam perekonomian. Tak dinyana, sumbangan sektor tradable dalam perekonomian tinggal 44,2 persen.

asector

Sumbangsih sektor pertanian dan pertambangan secara alamiah memang akan terus turun. Namun, bagi Indonesia yang belum tuntas melalui tahapan industrialisasi dan sedang pada tahap industrializing, peranan sektor industri manufaktur dalam perekonomian sejatinya masih berpotensi besar untuk terus naik. Kenyataan justru sebaliknya. Sumbangan tertinggi sektor industri manufaktur hanya 29 persen pada tahun 2001. Setelah itu turun hingga mencapai titik terenda 23,7 persen pada tahun 2014 berdasarkan PBD seri 2010. Berdasarkan PDB seri 2010, sumbangan industri manufaktur terkoreksi ke bawah, tinggal 21 persen.

Pengalaman negara-negara yang telah berhasil menapaki tahapan industrialisasi menunjukkan sumbangan sektor industri manufaktur dalam PDB pada umumnya sampai 35 persen. China bahkan mencapai di atas 40 persen dan Malaysia 30 persen.

asharemfg

Pasca krisis 1998 pertumbuhan industri manufaktur nyaris hampir selalu lebih rendah dari pertumbuhan PDB. Selama kurun waktu 2011-14, industri manufaktur tumbuh hanya 5,3 persen rata-rata setahun, lebih rendah ketimbang pertumbuhan PDB sebesar 5,7 persen. Pada triwulan I-2015, pertumbuhan industri manufaktur kian terseok dibandingkan dengan pertumbuhan PDB. Bahkan lima subsektor industri manufaktur mengalami pertumbuhan negatif. Kondisi itu bertolak belakang dengan sebelum krisis, kalamana pertumbuhan industri manufaktur mencapai sekitar dua kali lebih tinggi dari pertumbuhan PDB.

amfg

Untuk bangkit, hampir tak ada pilihan kecuali menggenjot industri manufaktur. Industrialisasi harus digalakkan kembali.

Peluang emas jangan disia-siakan. China sedang mengalami restrukturisasi industri. Pemerintah China bertekad mendorong domestic demand, antara lain dengan meningkatkan upah buruh, agar ketergantungan pada pasar luar negeri (ekspor) berkurang. Mau tak mau relokasi industri ke luar negeri semakin gencar. Investor asing di China sudah melalukannya, demikian pula investor domestik. Diperkirakan ada 100 juta lapangan kerja yang bakal tercipta di negara-negara yang menjadi limpahan industri manufaktur China. Jika Indonesia mampu menyerap 20 persennya saja, itu berarti ada potensi sebanyak 20 juta pekerja. Jika terwujud, dijamin angka pengangguran di Indonesia turun tajam dan porsi pekerja formal akan meningkat tajam. Sekedar catatan, per Februari 2015 jumlah penganggur berdasarkan definisi Badan Pusat Statistik (BPS) adalah 7,45 juta.

Sejauh ini yang paling banyak menyerap potensi relokasi itu adalah Vietnam. Apalagi Vietnam menjadi anggota dari Trans-Pacific Partnership (TPP) sehingga akses ke pasar Amerika Serikat bakal lebih leluasa.

Kita memiliki kelebihan lebih banyak ketimbang Vietnam, apalagi dibandingkan dengan negara-negara di Afrika dan Asia Selatan.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑