Ekspor Masih Loyo

Hari ini (18/8/29015), Badan Pusat Statistik merilis data perdagangan luar negeri (ekspor dan impor) terbaru. Transaksi perdagangan Juli membukukan surplus bulanan tertinggi sejak Desember 2013, yaitu sebesar 1,33 miliar dollar AS, sehingga menambah akumulasi surplus Januari-Juli menjadi5,73 miliar dollar AS.

Sayangnya, perbaikan transaksi perdagangan lebih disebabkan oleh impor yang turun lebih tajam ketimbang penurunan ekspor. Impor pada bulan Juli merosot 28,44 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu dan merosot 22,36 persen dibandingkan bulan sebelumnya (Juni 2015). Penurunan impor terjadi baik untuk migas maupun nonmigas, masing-masing sebesar 45,02 persen dan 21,46 persen untuk month-to-month. Penurunan impor, khususnya nonmigas, mengindikasikan produksi semakin lesu, mengingat kandungan impor cukup tinggi bagi kebanyakan industri kita. Mengingat pula produk industri manufaktur yang berorientasi ekspor cukup banyak yang bergantung pada bahan baku/penolong impor. Dengan kata lain, produk ekspor kita memiliki kandungan impor cukup besar. Porsi impor bahan baku/penolong dalam impor total mencapai 75.,65 persen.

Tidak heran jika ekspor pun turun. Pada Juli 2105 ekspor turun 15,53 persen (month-to-month) dan 19,23 persen (year-on-year). Secara kumulatif (Januari-Juli) ekspor turun 12,81 persen. Impor migas turun tajam (-37,35 persen) disebabkan harga minyak turun tajam. Tetapi, ekspor nonmigas pun turun sebesa r7,55 persen.

atrade

Perbaikan transaksi perdagangan terutama disebabkan oleh kemerosotan tajam impor minyak mentah dan BBM.

aoil

Patut dicatat ekspor kendaraan bermotor terus naik.  Nilai ekspor kendaraan bermotor selama kurun waktu Januari-Juli mencapai 3,2 miliar dollar AS dan untuk pertama kali mencetak surplus. Jumlah kendaraan bermotor yang diekspor pun terus naik, yang selama periode Januari-Juni mencapai 107,4 ribu unit.

Penurunan ekspor yang masih dua dijit terutama disebabkan oleh kemerosotan harga komoditas. Hingga akhir tahun ini harga komoditas diperkirakan masih tertekan.

acommodity_prices

Cara terbaik untuk membuat transaksi perdagangan kita sehat berkelanjutan adalah dengan strategi menyerang, bukan bertahan. Sejauh ini tampaknya pemerintah cenderung memilih taktik bertahan dengan mengekang impor lewat kuota, larangan, dan menaikkan bea masuk.

Mana ada negara yang mau membuka pasarnya bagi produk ekspor Idonesia jika pemerintah mengekang ekspor mereka ke Indonesia. Sejarah membuktikan pertumbuhan ekonomi kita lebih kencang dengan membuka diri.

Vietnam yang komunis saja memilih strategi menyerang, ikut dalam TPP (Trans Pacific Partnership) dan baru saja menandatangani pakta perdagangan bebas dengan Uni Eropa. Tak ayal, penanaman modal asing langsung mengalir deras ke Vietnam. Sekarang Vietnam menjadi negara terkemuka dalam ekspor elektronik. Juga mulai bergigi dalam ekspor tekstil dan pakaian jadi. Sebaliknya, ekspor Indonesia untuk kedua barang itu jalan di tempat.

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Ekonomi Internasional and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Ekspor Masih Loyo

  1. schroblinger says:

    Bang anda mendukung TPP? alasannya apa? TPP itu bukannya akal2an korporasi2 itu bang karena dikeluarkannya saja begitu rahasia.

    • faisal basri says:

      Tidak rahasia. Perundingannya alot. Partai republic menolak, anggota demokrat juga ada yang menolak. Pesan tulisan ini adalah: kalau mau jadi Negara besar, ya harus ofensif. Kita minta negara lain membuka diri untuk produk ekspor kita tetapi kita makin menutup diri terhadap ekspor mereka ke sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s