faisal basri

wear the robes of fire — kesadaran nurani dan akal sehat


  • Menteri BUMN memerintahkan BUMN yang melantai di bursa melakukan buyback sahamnya (lihat berita bertajuk “Pemerintah Akan “Buyback” Saham BUMN Rp 10 Triliun Besok – Kompas.com http://kom.ps/AFtKlw). Informasi yang saya peroleh dari kalangan istana, tidak ada pembicaraan resmi di antara para menteri ekonomi dan Presiden tentang langkah Menteri BUMN ini. Apakah langkah itu merupakan inisiatif Rini sendiri? Entahlah.

    Lebih parah lagi kalau mengunakan dana pensiun seperti tertera di berita @cnnindonesia: “Buyback Saham, Menteri Rini Minta BUMN Gunakan Dana Pensiun”  (http://cnn.id/74489). Uang dana pensiun bukan milik pemerintah atau BUMN. Uang pensiun adalah milik peserta dan hanya dikelola semata-mata untuk kepentingan anggota/peserta. Pengelola dana pensiun bertindak hanya untuk kepentingan terbaik anggotanya. Jika dana pensiun membeli saham, keputusannya dilakukan secara profesional oleh pengelola dana pensiun itu dengan pertimbangan matang demi hasil terbaik bagi peserta. Itu merupakan fiduciary duty dari pengelola dana pesiun.

    Mengapa buyback dalam keadaan gonjang-ganjing ekonomi dunia ibarat menggarami lautan? Tengok saja kondisi pasar saham dunia pada akhir April 2015. Hampir semua negara maju dan emerging markets menikmati imbal hasil positif dalam dollar AS.

    aapril

    Namun, setelah gejolak besar di China, ketika indeks saham Shanghai melorot 8,5 persen, harga saham di hampir seluruh dunia pun berguguran. China yang bergelimangan dana tak kuasa menahan kemerosotan harga sahamnya. Jika pada akhir April indeks saham China (SSEA) paling perkasa di dunia, pada 26 Agustus menderita pertumbuhan negatif 12,4 pesen. Hanya segelintir negara yang mencatatkan pertumbuhan positif.

    Posisi Indonesia di kedua titik waktu itu berada di kelompok terburuk bersama dengan Yunani, Turki, dan Brazil.

    aaugustHari Kamis (27/8), indeks saham Indonesia mengalami rebound cukup tinggi, yakni 193 poin atau 4,6 persen. Apakah kenaikan ini karena buyback? Tanpa buyback pun, indeks saham kita bakal cenderung menguat sebagaimana terjadi di hampir semua pasar saham dunia. Indeks Shanghai naik 5,34 persen, Hang Seng naik 3,6 persen, Jerman DAX naik 3,18 persen, dan Prancis CAC 40 naik 3,49 persen.

    Dalam kondisi pertumbuhan melambat dan laju investasi sangat rendah, sangat bijak kalau dana BUMN digunakan untuk investasi. Kalau BUMN memiliki dana valuta asing, segerakan tukar ke rupiah.


  • Rabu, 26 Agustus 2015 | 09:24 WIB

    JAKARTA, KOMPAS.com – Pengamat ekonomi politik dari Universitas Indonesia yang juga mantan Ketua Tim Reformasi dan Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi (TRTKM), Faisal Basri, menengarai belum juga diturunkannya harga jual bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan premium yang menjadi domain pemerintah, lantaran pemerintah ingin memperkecil utang ke PT Pertamina (Persero).

    Kepada Kompas.com, Faisal menuturkan, pada April 2015 lalu seharusnya harga BBM bersubsidi jenis premium naik menjadi di atas Rp 8.000 per liter. Lebih tepatnya, kata Faisal, di level Rp 8.400 per liter. Lebih jauh dia menerangkan, lantaran premium tidak lagi mendapat subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maka selisih (rugi jual) pada waktu itu dibebankan kepada Pertamina sebagai badan usaha penyalur.

    “Nah kalau seharusnya (sekarang) harga premium dan solar turun tapi pemerintah tak menurunkan, sangat boleh jadi pemerintah bayar utang agar kerugian Pertamina berkurang,” kata Faisal, Rabu (26/8/2015).

    Kendati begitu, Faisal mengatakan ia yakin harga BBM bisa turun apabila rumus yang digunakan Pertamina untuk menyusun harga jual, direformasi. “Ingat pula kemerosotan rupiah, karena impor pakai dollar. Jika penurunan harga minyak lebih besar dari depresiasi rupiah, harga bbm berpeluang turun,” kata Faisal.

    Sementara itu, Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahaean mencoba menghitung harga jual BBM dengan rumus yang biasa digunakan Pertamina dan pemerintah. Pada harga minyak mentah berjalan 40 dollar AS per barel dan kurs 14.000 per dollar AS, maka harga premium seharusnya Rp 5.700 per liter.

    Sedangkan pada harga minyak mentah berjalan 50 dollar AS per barel, dan kurs 14.000 per dollar AS, maka harga premium seharusnya Rp 6.900 per liter. Perhitungan Ferdinand, pada saat harga minyak mentah 40 dollar AS per barel dan kurs 14.000 per dollar AS, maka MOPS yang telah dikonversikan, menjadi Rp 3.552,01 per liter. Sedang pada saat harga minyak mentah 50 dollar AS per barel, maka MOPS-nya Rp 4.402,52 per liter.

    Namun demikian, Ferdinand mengaku besar kemungkinan teradapat perbedaan hasil hitungan. “Yang suka beda itu, perhitungan kita dengan Pertamina adalah MOPS. Pertamina suka pakai harga beli lama karena stok. Pertanyaannya sekarang, MOPS di angka berapa dollar AS per barel menurut Pertamina?” kata Ferdinand.

    Sekadar informasi, harga jual premium saat ini adalah Rp 7.400 per liter di wilayah Jawa dan Bali, sedangkan di luar Jawa dan Bali Rp 7.300 per liter. Adapun solar bersubsidi dijual Rp 6.900 per liter, sedangkan minyak tanah Rp 2.500 per liter.

    Pihak Pertamina telah menyampaikan, perseroan menanggung kerugian Rp 12 triliun lantaran menjual premium dan solar di bawah harga keekonomian, sepanjang periode Januari-Juli tahun ini.

    Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang menegaskan, harga jual BBM saat ini bisa turun, jika dan hanya jika pada waktu harga crude naik beberapa waktu lalu, harga jual BBM juga dinaikkan.

    “Waktu crude naik dulu, harganya belum dinaikkan. Sehingga harus dilihat apakah harga rata-rata satu bulan, tiga bulan, dan enam bulan crude sekarang ini sudah di bawah harga jual sekarang,” kata Ahmad kepada Kompas.com, Senin (25/8/2015).

    Penulis: Estu Suryowati

    Editor: Erlangga Djumena

    Sumber: http://kom.ps/AFtLQs


  • Selasa, 25 Agustus 2015 | 11:01 WIB

    JAKARTA, KOMPAS.com – Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Faisal Basri menyarankan pemerintah melakukan tiga langkah yang dia sebut sebagai upaya “menolong” rakyat di tengah merosotnya ekonomi saat ini. Menurut dia, pemerintah harus menjaga daya beli masyakat sekaligus menjaga inflasi terkendali di level rendah.

    “Tidak banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk menolong rakyat. APBN sedang dalam tekanan. Penerimaan negara dari pajak dan dari minyak sangat tertekan. Belanja harus dipangkas. Pemerintah berkonsentrasi saja mengurus dirinya sendiri. Yang penting jangan ganggu konsumsi rumah tangga dan investasi swasta,” tulis Faisal seperti dikutip dalam blog pribadinya, Jakarta, Senin (24/8/2015).

    Langkah pertama, Faisal menyarankan pemerintah menurunkan harga BBM bersubsidi dan mencermati penetapan harga BBM tak bersubsidi agar tetap sesuai dengan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM yakni terdapat margin keuntungan maksimum 10 persen. “Inilah bentuk stimulus nyata bagi rakyat banyak”, kata dia.

    Selanjutnya langkah kedua, Faisal meminta pemerintah jangan main-main dengan kuota impor sapi. Menurut dia apabila pemerintah main-main dengan kuota impor sapi, justru hanya menguntungkan para pengusaha penggemukan sapi. Di sisi lain, masyakat justru menanggung beban lantaran harga daging sapi menjadi mahal.

    Sementara langkah ketiga, pemerintah disarankan harus memermudah investasi. Saat ini kata dia, ada perusahaan minyak asing besar (major oil company) yang hendak investasi senilai 12 miliar dollar AS tetapi kesulitan investasi di Indonesia.

    Ada lagi kata Faisal, perusahaan asing yang hendak menjual gas ke PLN, sudah lima bulan tetapi tidak ditanggapi oleh PLN.

    Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas itu yakin, jika ketiga hal yang ia sarankan terealisasi, maka rakyat akan amat terbantu di tengah kondisi ekonomi yang sulit saat ini.

    Penulis: Yoga Sukmana

    Editor: Erlangga Djumena

    Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2015/08/25/110100426/Faisal.Basri.Menurunkan.Harga.BBM.Ben


  • Perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah memasuki tahun keempat. kemerosotan ekspor juga sudah memasuki tahun keempat. Nilai tukar rupiah terus mengalami kecenderungan melemah pun sejak empat tahun silam setelah mencapai titik terkuatnya Rp 8.460 pada 2 Agustus 2011.

    Jadi tidak ada yang baru dan serba mendadak. Bedanya, belakangan ini pemburukan mengakselerasi. Tak usah menyalahkan pihak atau faktor luar sebagaimana kerap diklaim oleh pemerintah dan Bank Indonesia. Bahkan berkali-kali Menteri Keuangan mengatakan kemerosotan rupiah murni disebabkan faktor eksternal.

    Kalau memang murni faktor eksternal, mengapa Indonesia terpuruk sedemikian dalam dibandingkan negara-negara tetangga seperti Vietnam, Filipina, dan Thailand.

    Ibarat virus yang senantiasa gentayangan di seputar kita, tubuh kita tidak akan mudah terserang penyakit jika daya tahan tubuh kita prima. Kalau ternyata kita amat mudah terserang virus, berarti daya tahan kita lemah. Ada sesuatu yang bermasalah di dalam tubuh kita.

    Demikian pula dengan sosok perekonomian. Jika perekonomian sangat rentan terhadap gejolak eksternal, berarti daya tahan perekonomian Indonesia sangat rapuh, sedemikian mudah diombang-ambingkan oleh hembusan dari luar. Bank Sentral Amerika Serikat baru saja mewacanakan kenaikan suku bunga, kita sudah muntah darah berkepanjangan. Yunani mengalami gagal bayar utang-utangya, kita juga terkena imbasnya. China mendevaluasi mata uangnya, pasar saham dan rupiah lungkai.

    Dulu, di masa Orde Baru hingga krisis besar tahun 1998, ketika rupiah anjlok ekspor naik tajam. Sekarang, rupiah lunglai dari Rp 8.460 per dollar AS menjadi Rp 14.102 per dollar AS (kurs kemarin, 26/8), ekspor terus merosot, bahkan merosotnya semakin tajam.

    Sepatutnya kita menelisik akar masalahnya, seperti kita menemukenali akar masalah mengapa tubuh kita kerap terserang penyakit, sering lemas, dan tak bisa berlari kencang. Mungkin kurang darah, mungkin jantung lemah sehingga tidak bisa menyedot dan memompakan darah secara optimal, mungkin ada pembuluh darah yang tersumbat, boleh jadi ada luka di dalam tubuh sehingga demam tinggi, dan sebagainya. Untuk itu, ada baiknya melakukan check-up atau general medical examination.

    Setelah mencermati dengan lebih mendalam berdasarkan data yang tersedia, kita menjumpai beberapa masalah struktural.

    Pertama, jantung perekonomian amat lemah. Kemampuannya menyedot dan memompakan darah amat rendah. Kemampuan menyedot darah, sebagaimana tercermin dari besarnya dana pihak ketiga perbankan hanya 40 persen PDB; sedangkan kemampuan memompakan darah, sebagaimana terlihat dari besarnya kredit perbankan hanya 35,6 persen PDB. Bandingkan dengan negara tetangga di ASEAN yang kebanyakan di atas 100 persen.

    akredit

    Bagaimana mungkin jantung bakal berfungsi optimal jika financial inclusion index kita masih teramat rendah. Jumlah kantor bank saja hanya 20.118, melayani penduduk yang berjumlah 250 juta lebih. Hanya 36 persen orang dewasa yang terhubung dengan layanan perbankan dan lembaga keuangan lainnya.

    afininc

    Jumlah bank di Indonesia teramat banyak, tidak kunjung mengalami konsolidasi. Ada 119 bank tetapi kecil-kecil. Di kancah ASEAN bank-bank kita tercecer. Menurut besarnya ekuitas, bank terbesar, Bank Mandiri, hanya di urutan ke-8. Tiga bank terbesar di ASEAN semuanya bank Singapura. Berdasarkan besaran asset, Bank Mandiri di urutan ke-11. Tiga besar juga diduduki seluruhnya oleh bank Singapura. Di urutan 4-6 seluruhnya diduduki bank Malaysia, dan di urutan 7-10 seluruhnya diduduki bank Thailand.

    aequity

    aaset

    Kalaulah pemerintah memiliki komitmen yang kuat untuk memperkokoh jantung perekonomian, gabungkan saja Bank Mandiri dan Bank BNI menjadi “Bank Nusantara”. Serta merta posisi “Bank Nusantara” naik ke urutan ke-5 dari segi ekuitas dan urutan ke-7 dari segi asset.

    Dengan begitu, jantung perekonomian bakal semakin kuat, mampu merambah ke berbagai pelosok tanah air dan menyalurkan kredit ke semakin banyak pengusaha. Sehingga, ketergantungan kita pada kucuran darah dari luar negeri bakal berkurang.

    (bersambung)


  • Harga saham berguguran di seantero dunia. Dow Jones Industrial Average turun 588,4 poin atau minus 3,57 persen. Indeks harga saham di Eropa juga turun rata-rata sekitar 4 sampai 5,3 persen. Intervensi pemerintah China tak kuasa menahan laju kemerosotan indeks harga saham. Kemarin indeks Shanghai melorot 8,5 persen.

    China yag punya kemewahan dalam bentuk kemelimpahan likuiditas saja tak mampu menjinakkan pasar saham, apatah lagi Indonesa yang modalnya paspasan. Perintah menteri BUMN kepada sejumlah BUMN untuk membeli balik saham-sahamnya (buyback) patut dipertanyakan. Apakah tindakan itu merupakan inisiatif pribadi Rini Sumarno tanpa konsultasi dengan jajaran menteri ekonomi?

    Menghadapi situasi genting seperti sekarang, tidak boleh ada inisiatif pribadi. Semua harus dibicarakan dengan menteri-menteri lainnya, juga dengan Bank Indonesia. Setelah itu satu suara sampaikan pesan ke publik.

    Menggelontorkan uang sampai Rp 10 triliun untuk buyback saham sama saja menggarami lautan.

    Kalau BUMN punya uang lebih, dorong mereka untuk mempercepat investasi, jangan buyback saham. Seandainya melakukan buyback, dana BUMN yang disimpan di bank akan ditarik. Bank akan mengalami kekeringan dana. Muncul masalah baru.

    Pemerintah jangan ngotot dengan rencana belanja. Amputasilah besaran belanja. Tunda proyek-proyek yang kurang mendesak. Kalau dipaksakan, seraya penerimaan negara diperkirakan bakal seret, amat bahaya kalau pembiayaan belanja pemerintah diperoleh dari tambahan utang dengan mengeluarkan surat utang negara atau global bonds. Paling banter pinjam dari lembaga internasional seperti Bank Dunia dan ADB.


  • Hari ini (24/8) nilai tukar rupiah nyaris (Rp 2 rupiah lagi) menembus Rp 14.000 per dollar AS. Indeks harga saham sudah turun 20,34 persen (year-to-date) dan 19,91 persen (year-on-year) dan hari ini ditutup di aras 4.163,729, turun 3,97 persen.

    Kemerosotan nilai tukar dan pasar saham dialami semua emerging markets tanpa kecuali. Hari ini, indeks saham Shanghai melorot 8,49 persen. Indeks Hang Seng turun 5,17 persen.

    Beberapa menit lalu, harga minyak mentah WTI sudah menjauh dari 40 dollar AS per barrel, persisnya 38,97 dollar per barrel; sedangkan harga minyak mentah Brent merosot ke aras 43,88 dollar AS per barrel.

    Semua harga komoditi di laman http://online.wsj.com/mdc/public/page/mdc_commodities.html berwarna merah, tanpa kecuali, termasuk harga emas.

    Di tengah gejolak perekonomian dunia yang dipicu oleh ketidakmampuan pemerintah China mengendalikan pasar saham (dan boleh jadi juga dalam meredam kemerosotan perekonomian) serta ketidakpastian langkah The Fed, ada baiknya pemerintah bekerja keras untuk melindungi sebagian besar rakyatnya.

    Langkah yang diperlukan untuk itu adalah menjaga agar inflasi terkendali di level rendah, terutama harga pangan dan kebutuhan pokok lainnya. Jika Indonesia bisa memanfaatkan momentum penurunan harga berbagai komoditas di pasar dunia, rasanya inflasi bakal rendah. Memang ada efek negatif terhadap inflasi dari pelemahan rupiah. Namun, penurunan harga-harga komoditas di pasar dunia cukup banyak yang lebih tajam dari penurunan nilai tukar rupiah, sehingga efek nettonya positif terhadap inflasi.

    Tidak banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk menolong rakyat. APBN sedang dalam tekanan. Penerimaan negara dari pajak dan dari minyak sangat tertekan. Belanja harus dipangkas. Pemerintah berkonsentrasi saja mengurus dirinya sendiri. Yang penting jangan ganggu konsumsi rumah tangga dan investasi swasta.

    Ada tiga langkah yang dapat dilakukan pemerintah untuk mencapai tujuan itu. Pertama, turunkan harga BBM bersubsidi dan cermati penetapan harga BBM tak bersubsidi agar sesuai dengan kepmen ESDM (margin maksimum 10 persen). Inilah bentuk stimulus nyata bagi rakyat banyak.

    Kedua, jangan main-main dengan kuota impor. Kuota impor daging, misalnya, hanya menguntungkan para pengusaha penggemukan sapi.

    Ketiga, permudah investasi. Ada perusahaan minyak asing besar (major oil company) yang hendak investasi 12 miliar dollar AS tetapi sulitnya setengah mati. Ada perusahaan asing yang hendak menjual gas ke PLN sudah lima bulan dicueki oleh dirut PLN.

    Kalau ketiga hal itu terealisasikan, rakyat kebanyakan akan amat terbantu.


  • Nilai tukar rupiah terus merosot. Kemarin (19/8/2015), nilai tukar rupiah per 1 dollar AS adalah Rp 13.824. Sehari sebelumnya rupiah bertengger di titik terendah dalam 17 tahun terakhir, Rp 13.831 per dollar AS.

    Kemerosotan nilai tukar rupiah bukanlah fenomena baru. Pelemahan rupiah sudah berlangsung empat tahun. Sepanjang sejarah, rupiah tidak pernah melemah sedemikian lama. Jadi masalah di balik pemelahan rupiah bersifat struktural, karena fondasi ekonomi kita lemah.

    rp

    Menteri Keuangan sangat naif dengan mengatakan pelemahan rupiah murni karena faktor eksternal. Banyak pihak luar yang disalahkan Menteri Keuangan, menteri lain, Gubernur BI, Presiden dan Wakil Presiden.

    Berikut adalah sejumlah pemberitaan tentang ucapan Menteri Keuangan yang konsisten mengambing-hitamkan faktor eksternal.

    http://finance.detik.com/read/2015/08/19/183727/2995935/6/dolar-as-nyaris-rp-13900-menkeu-tidak-ada-tekanan-internal?f9911023

    http://www.antaranews.com/berita/482908/menkeu-sebut-pelemahan-rupiah-karena-faktor-eksternal

    http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/09/29/100100926/Menkeu.Rupiah.Melemah.Gara-gara.Yellen.Bukan.karena.UU.Pilkada

    http://www.gainscope.co.id/menkeu-sebut-pelemahan-rupiah-karena-faktor-eksternal/

    http://www.klikpositif.com/news/read/17372/menkeu-pelemahan-rupiah-karena-faktor-eksternal.html

    http://economy.okezone.com/read/2015/01/07/278/1088921/rupiah-anjlok-pemerintah-salahkan-yunani

    http://finance.detik.com/read/2015/01/07/141336/2796443/6/penjelasan-menteri-bambang-soal-anjloknya-rupiah-di-awal-tahun

    http://sp.beritasatu.com/home/jangan-panik-meski-rupiah-melemah/80540

    http://news.analisadaily.com/read/idealkah-nilai-tukar-rupiah-saat-ini/114030/2015/03/06

    http://www.koran-sindo.com/read/947635/150/faktor-eksternal-dorong-pelemahan-rupiah-1420688386

    Kalau benar murni faktor eksternal di belakang pelemahan rupiah, tentunya rupiah tidak seterpuruk mata uang negara tetangga.

    currency


  • Pada hari proklamasi kemerdekan ke-70, saya menulis di blog ini dengan judul “Kemiskinan dan Ketimpangan Setelah 70 Tahun Merdeka” (http://wp.me/p1CsPE-1bl). Indeks Gini atau Koefisien Gini meningkat terus setelah krisis 1998. Koefisien Gini mengukur tingkat kesenjangan pendapatan. Angka Koefisien Gini berkisar antara nol (ektrem tidak timpang atau ekstrem merata) sampai satu (ketimpangan ekstrem atau paling timpang). Angka di bawah 0,4 masuk dalam kategori baik, angka antara 0,3 sampai 0,4  masuk kategori sedang, dan angka di atas 0,4 tergolong kategori buruk.

    Koefisien Gini yang tercantum di tulisan sebelumnya itu sebetulnya tidak mencerminkan ketimpangan pendapatan karena sampai sekarang kita tidak memiliki data tentang pendapatan rumah tangga. Data yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik (BPS) adalah data pengeluaran yang menjadi proksi pendapatan.

    Sudah barang tentu Koefisien Gini berdasarkan data pengeluaran menghasilkan angka ketimpangan yang lebih baik atau lebih rendah ketimbang data pendapatan. Perbedaannya bisa mencapai 0,2.

    Perbedaan kaya-miskin dalam hal pengeluaran atau belanja jauh lebih kecil (konvergen) dibandingkan perbedaan kaya-miskin berdasarkan pendapatan. Sekaya-kayanya seseorang, makanan yang masuk ke dalam perutnya sangatlah terbatas. Kenikmatan yang mereka dapatkan terkendala dengan waktu. Orang kaya yang sakit-sakitan tidak bisa menikmati kekayaannya secara maksimal.

    Jika Koefisien Gini berdasarkan data pengeluaran menghasilkan angka 0,41 (ketimpangan sedang) selama tiga tahun terakhir, maka kalau ditambah 0,2 menjadi 0,61 (ketimpangan buruk).

    Indikator apa lagi yang bisa kita gunakan untuk memperkuat konstatasi bahwa kondisi ketimpangan di Indonesia sudah masuk kategori buruk?

    Pertama, kajian Thomas Piketty (buku karanganya Capital in the Twenty-First Century)yang mengunakan proksi yang lebih dekat dengan pendapatan menunjukkan pola perkembangan ketimpangan Indonesia serupa dengan pola negara-negara maju yang mengalami pemburukan ketimpangan, termasuk Amerika Serikat yang paling buruk itu. ketimpangan di Indonesia lebih buruk dari China dan India.

    apiketty

    Kedua, struktur kepemilikan simpanan di bank. Ternyata simpanan senilai 100 juta atau kurang sangat dominan, mencapai 97,78 persen rekening. Jumlah rekening dengan nominal Rp 100 juta sampai Rp 300 juta atau kurang hanya 1,01 persen. Selebihnya hanya “nol koma” dan yang di atas Rp 5 miliar hanya 0,04 persen.

    asimpanan

    Ketiga, financial inclusion index Indonesia relatif sangat rendah, hanya 36,1 persen. Artinya hanya 36,1 persen penduduk usia dewasa yang memiliki akun di bank, lembaga keuangan lainnya, dan mobile account. Mayoritas orang miskin sudah barang tentu tak pernah menyentuh jasa keuangan formal.

    afii

    Keempat, masih di sektor keuangan, jumlah investor saham berdasarkan jumlah sub-rekening efek di C-BEST belum sampai setengah juta atau  persisnya 448.248 sub-rekening (per Mei 2015).

    Kelima, pemilikan obligasi pemerintah maupun korporasi tampaknya juga hampir 100 persen dikuasai orang-orang kaya dan kondisinya lebih buruk ketimbang ketimpangan dalam pemilikan simpanan di bank dan obligasi (surat utang).

    Keenam, ketimpangan dalam pemilikan lahan sebagaimana terlihat dari Koefisien Gini untuk pemilikan tanah sangat tinggi, menembus angka 0,7. Data Sensus Petanian terbaru (2013) menunjukkan perbaikan (kembali ke 0,6) walaupun masih saja dalam kategori buruk.

    .atanahKetujuh, observasi keseharian.


  • Hari ini (18/8/29015), Badan Pusat Statistik merilis data perdagangan luar negeri (ekspor dan impor) terbaru. Transaksi perdagangan Juli membukukan surplus bulanan tertinggi sejak Desember 2013, yaitu sebesar 1,33 miliar dollar AS, sehingga menambah akumulasi surplus Januari-Juli menjadi5,73 miliar dollar AS.

    Sayangnya, perbaikan transaksi perdagangan lebih disebabkan oleh impor yang turun lebih tajam ketimbang penurunan ekspor. Impor pada bulan Juli merosot 28,44 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu dan merosot 22,36 persen dibandingkan bulan sebelumnya (Juni 2015). Penurunan impor terjadi baik untuk migas maupun nonmigas, masing-masing sebesar 45,02 persen dan 21,46 persen untuk month-to-month. Penurunan impor, khususnya nonmigas, mengindikasikan produksi semakin lesu, mengingat kandungan impor cukup tinggi bagi kebanyakan industri kita. Mengingat pula produk industri manufaktur yang berorientasi ekspor cukup banyak yang bergantung pada bahan baku/penolong impor. Dengan kata lain, produk ekspor kita memiliki kandungan impor cukup besar. Porsi impor bahan baku/penolong dalam impor total mencapai 75.,65 persen.

    Tidak heran jika ekspor pun turun. Pada Juli 2105 ekspor turun 15,53 persen (month-to-month) dan 19,23 persen (year-on-year). Secara kumulatif (Januari-Juli) ekspor turun 12,81 persen. Impor migas turun tajam (-37,35 persen) disebabkan harga minyak turun tajam. Tetapi, ekspor nonmigas pun turun sebesa r7,55 persen.

    atrade

    Perbaikan transaksi perdagangan terutama disebabkan oleh kemerosotan tajam impor minyak mentah dan BBM.

    aoil

    Patut dicatat ekspor kendaraan bermotor terus naik.  Nilai ekspor kendaraan bermotor selama kurun waktu Januari-Juli mencapai 3,2 miliar dollar AS dan untuk pertama kali mencetak surplus. Jumlah kendaraan bermotor yang diekspor pun terus naik, yang selama periode Januari-Juni mencapai 107,4 ribu unit.

    Penurunan ekspor yang masih dua dijit terutama disebabkan oleh kemerosotan harga komoditas. Hingga akhir tahun ini harga komoditas diperkirakan masih tertekan.

    acommodity_prices

    Cara terbaik untuk membuat transaksi perdagangan kita sehat berkelanjutan adalah dengan strategi menyerang, bukan bertahan. Sejauh ini tampaknya pemerintah cenderung memilih taktik bertahan dengan mengekang impor lewat kuota, larangan, dan menaikkan bea masuk.

    Mana ada negara yang mau membuka pasarnya bagi produk ekspor Idonesia jika pemerintah mengekang ekspor mereka ke Indonesia. Sejarah membuktikan pertumbuhan ekonomi kita lebih kencang dengan membuka diri.

    Vietnam yang komunis saja memilih strategi menyerang, ikut dalam TPP (Trans Pacific Partnership) dan baru saja menandatangani pakta perdagangan bebas dengan Uni Eropa. Tak ayal, penanaman modal asing langsung mengalir deras ke Vietnam. Sekarang Vietnam menjadi negara terkemuka dalam ekspor elektronik. Juga mulai bergigi dalam ekspor tekstil dan pakaian jadi. Sebaliknya, ekspor Indonesia untuk kedua barang itu jalan di tempat.


  • Bung Karno pernah berkata dengan lantang: “Tidak boleh ada kemiskinan di bumi Indonesia merdeka.”

    Setelah 70 tahun proklamasi kemerdekaan, jumlah dan persentase penduduk miskin Indonesia memang berkurang. Namun, sejak krisis 1998, penurunan kemiskinan kian melambat. Bahkan sempat tiga kali mengalami peningkatan.

    Yang juga perlu dicermati, penurunan jumlah penduduk miskin di Indonesia lebih lambat dibandingkan negara-negara tetangga seperti China, Vietnam, dan Kamboja.

    apoor

    Hal itu menunjukkan penduduk miskin sangat rentan terhadap gejolak ekonomi. Apalagi mengingat sistem perlindungan sosial di Indonesia sangat buruk. Skor indeks perlindungan sosial Indonesia sangat rendah, hanya 0,044, di urutan ke-27 dari 35 negara di Asia Pasifik. Alokasi dana untuk berbagai macam jaminan sosial hanya 1,2 persen dari produk domestik bruto (PDB), di peringkat ke-28. Posisi Indonesia ini terendah di antara negara ASEAN, bahkan jauh tercecer dibadingkan dengan Timor-Leste sekalipun.

    aprotection

    Penduduk miskin di atas mencerminkan kemiskinan ektrem berdasarkan garis kemiskinan yang ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik. Tidak berarti penduduk yang hidup di atas garis kemiskinan kesejahteraannya sudah memadai.

    Jika kita menggunakan indikator jumlah rumah tangga yang berhak memperoleh RASKIN (beras miskin) yang pada tahun 2014 sebanyak 15.530.897 dan rata-rata rumah tangga miskin lima jiwa, maka penduduk yang hidup di bawah garis kemikinan berjumlah 77,6 juta jiwa. Angka itu setara dengan 31 persen atau hampir sepertiga jumlah penduduk.

    Jangan ditanya kualitas beras yang didapat orang miskin. Sangat memilukan. Rakyat miskin kerap menerima raskin berkutu, berbatu, dan bau apek. Belum lagi jumlah beras yang diterima disunat. Berikut segelintir contoh.

    http://m.detik.com/news/berita/2972309/cek-gudang-bulog-di-tolikara-mensos-temukan-beras-tidak-layak

    http://wartakota.tribunnews.com/2015/07/13/terlalu-bulog-distribusikan-beras-busuk-ke-warga

    http://www.juangnews.com/raskin-seperti-makanan-binatang-bupati-bireuen-marahi-bulog/

    http://m.beritajatim.com/ekonomi/242839/dinsos_temukan_dua_tronton_raskin_buloq_sampang_berkwalitas_jelek.html

    http://kabar17.com/2015/07/bupati-temukan-kutu-beras-di-gudang-bulog-kendal/

    http://matatelinga.com/view/Berita-Sumut/28325/4000-Ton-Beras-Bulog-Busuk-dan-Berkutu-Dibongkar-Pelabuhan-Belawan.html#.VZnunj8xfJs

    Ketimpangan Memburuk

    Dengan kasat mata kita menyaksikan jurang kaya-miskin kian menganga. Mudah menjumpai kontras kaya-miskin karena si kaya dengan arogan mempertontonkan kekayaannya: kesombongan perilaku pengguna moge (motor gede), mobil mewah berseliweran di jalan raya dan diparkir di depan pintu gerbang hotel dan mal, penggunaan jet pribadi, acara partai-partai di hotel mewah, mobil-mobil mewah dikawal polisi, pesta perkawinan, dan banyak lagi.

    Data pun menunjukkan angka ketimpangan di Indonesia semakin memburuk. Sepanjang sejarah, indeks gini mencapai tingkat tertingi.

    agini

    Jangan sampai kondisi itu berlanjut sehingga menimbulkan kecemburuan sosial yang bisa berujung pada kerusuhan sosial sebagaimana terjadi di beberapa tempat di Amerika Serikat, Eropa, Brazil, Timur Tengah.

    Kemrdekaan pada hakekatnya adalah memberantas kemiskinan dan menegakkan keadilan, memberdayakan yang papa dan melindunginya.