BI Rate Harusnya Turun Lagi


Bank Indonesia akan menggelar rapat dewan gubernur (RDG) bulanan pada 17-18 Februari 2016. Rapat bulanan itu hampir bisa dipastikan bakal menurunkan BI rate. Yang ditunggu adalah seberapa besar penurunannya. Kalau BI bersikukuh dengan konservatismenya, penurunan paling banter hanya 25 basis poin seperti bulan lalu.

Ruang untuk menurunkan BI rate lebih progresif terbuka lebar. Faktor pertama, laju inflasi menunjukkan kecenderungan menurun. Tingkat inflasi Februari (year-on-year) diperkirakan turun. Pengaruh imported inflation sangat tidak berarti, bahkan sebaliknya berpotensi menyumbang bagi penurunan inflasi. Sangat ironis kalau kita tidak bisa memanfaatkan tren inflasi dunia yang sangat rendah akibat kemerosotan harga seluruh jenis komoditas. Negara tetangga Singapura sudah mengalami deflasi, demikian juga di Thailand. Inflasi di Vietnam hanya 0,6 persen. Kalau inflasi di Indonesia relatif sangat tinggi dan tertinggi di ASEAN-6, niscaya ada yang salah dengan kita. Segeralah dibenahi. Dengan ekspektasi inflasi yang menurun, peluang BI rate turun lebih dari 25 basis poin semakin besar.

inflasi

Faktor kedua, ketakutan terhadap kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS (The Fed) hampir pupus sama sekali, setidaknya sampai April atau bahkan Juni. Sudah muncul wacana di AS tentang kemungkinan The Fed menerapkan suku bunga negatif. Setidaknya The Fed sudah mengingatkan lembaga keuangan AS untuk melakukan stress test kalau mereka menghadapi kemungkinan suku bunga negatif. Lihat Janet Yellen: Negative rates possible in U.S.

Dua raksasa ekonomi dunia sudah menerapkan suku bunga negatif. Bank Sentral Eropa (European Central Bank) memberlakukannya sejak tahun lalu, Jepang mengumumkan akhir Januari lalu akan mulai memberlakukannya mulai besok (16 Februari). Tiga negara Eropa juga sudah menerapkan kebijakan suku bunga negatif. Bahkan minggu lalu bank sentral Swedia memangkas kembali suku bunga acuan dari minus 0,35 persen menjadi 0,5 persen.

negatif_rate

Kemungkinan modal akan lari dari Indonesia relatif sangat kecil karena suku bunga riil obligasi Indonesia jauh lebih tinggi dari negara-negara maju. Bahkan, perbedaan suku bunga yang cukup tinggi itu mendorong modal asing masuk.

Bank Indonesia tentu berbagi keyakinan dengan serangkaian kebijakan pemerintah yang mendorong modal masuk, terutama penanaman modal asing langsung. Selain itu pasar saham Indonesia belakangan ini cukup menarik minat asing. Beberapa hari terakhir, pembelian bersih asing mencapai triliunan rupiah. Kinerja pasar saham Indonesia jauh di atas rerata emerging markets.

stock_market

Faktor ketiga, harga bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini kerap menjadi momok Bank Indonesia untuk sementara waktu sirna. Bank Dunia baru saja memotong prediksi harga minyak menjadi hanya 37 dollar AS untuk tahun 2016. Risiko kenaikan harga BBM di dalam negeri hampir nihil, bahkan seharusnya harga BBM turun dari tingkat sekarang. Harga BBM di Indonesia sudah teramat mahal jika dibandingkan dengan Malaysia.

oil_price_projectiongasoline_malaysia

Sudah saatnya Bank Indonesia menerapkan kebijakan moneter yang proaktif meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Ingat, angka pengangguran sudah naik. Kita tidak memiliki keleluasaan mendorong terus kebijkan fiskal yang ekspansif karena basis pajak masih sangat rendah dan dunia usaha butuh waktu untuk konsolidasi.

Bukankah sekarang perbedaan BI rate dan laju inflasi relatif tinggi sampai mencapai 311 basis poin dan berpotensi lebih tinggi lagi sejalan dengan ekspektasi inflasi yang menurun?

birate-inflation

Saatnya Bank Indonesia membayar utang atas kekeliruannya menerapkan suku bunga tinggi sejak 2013.

bi rate

 

About faisal basri

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development. His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003). He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement. Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.
This entry was posted in Makroekonomi, Monetary Policy. Bookmark the permalink.

3 Responses to BI Rate Harusnya Turun Lagi

  1. Terima kasih pak Faisal Basri analisa yang tajam dan detail data pendukung. Saya mau tanya dikit pak. Mengingat Posisi kredit bank saat ini diatas dana masyarakat, dan pertumbuhan kredit juga lebih cepat dari pertumbuhan damas, maka banyak bank mengalami masalah likuiditas dengan LDR tinggi. Apabila BI rate turun (dari sisi inflasi mungkin OK), namun tidak dibarengi dengan upaya BI/ pemerintah mengguyur likuiditas di pasar, maka sebagian bank2 akan tetap memasang bunga tinggi agar dapat bertahan, dan mungkin akhirnya BI rate dicuekin dan tidak kredibel. Mau pasar rate ceiling? kalau bank kurang likuiditas bagaimana? yang terjadi pemerintah malah makin gencar menerbitkan SBN (bahkan dengan front loading) sebagai sumber pembiayaan APBN dan menyerap likuiditas pasar. Yang beli asing? memang ada likuiditas dolar (rupiahnya diserap pemerintah juga). Sebagian bank menggunakan dolar untuk mendanai kredit rupiah dan tidak di hedge, dan menglami rugi kurs yang cukup dasyat. Di USA waktu FED rate diturunkan, diikuti dengan QE policy dimana pemerintah membeli SBN US makanya bunga bank juga ikut turun. Kalau dilihat dari sisi ini, apakah mungkin BI rate diturunkan? dan apakah bank2 akan mengikuti BI rate yang turun tersebut?

    • faisal basri says:

      Terima kasih, sama-sama. LDR sekarang kira-kira sama dengan tahun 2013, tapi tahun 2013 BI rate lebih tinggi dari sekarang.

      Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, bunga acuan di sana jauh lebih rendah ketimbang BI rte walaupun LDR lebih tinggi dari kita. Korea, Singapura, dan Thailand LDRnya di atas 100 persen, sedangkan kita 90,5 persen.

      Memang bank-bank kecil LDRnya sudah ada yang di atas 100 persen, tetapi bank-bank besar masih di bawah 90 persen.

      Yang bikin bunga tinggi antara lain adalah pemerintah. Tengok SUN retail 9 persen.

    • faisal basri says:

      Perbandingan LDR di dengan negara tetangga bisa dilihat dihttps://asianbondsonline.adb.org/regional/data/creditrisk.php?code=Loans_To_Deposit_Ratio.

      Bisa saja bank-bank komersial tidak mengikuti langkah BI. Belakangan ini bunga kredit turun sebelum BI rate turun. Ini bahaya karena BI dipandang tidak kredibel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s