Ekonomi Global dan Indonesia di Tengah Kecamuk Pandemik COVID-19


Nestapa tak terperikan akibat wabah pandemik coronavirus COVID-19 sudah kian terasa. Hingga Jumat (8/5), pk.22:15, COVID-19 telah menjangkiti hampir 4 juta orang dan menewaskan 272 ribu orang di 212 negara dan teritori di setiap benua kecuali Antartika.

Ongkos ekonomi berdasarkan perhiutngan konservatif Asian Development Bank (ADB) setara dengan Depresi Besar 1929-1939 yang mencapai titik terdalam pada 1933, yaitu US$4,1 triliun atau hampir 5 persen produk domestik bruto (PDB) dunia. Angka itu tampaknya akan terus menggelembung untuk waktu yang lebih lama.

Hari in (8/5) Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan tingkat pengangguran meroket ke 14,7 persen. Bulan Maret angkanya masih 4,4 persen. Akibat lonjakan luar biasa, peraga di bawah yang menjadi berantakan. Jadi sengaja saya tampilkan hanya sampai kondisi Maret 2020.

Untuk menggambarkan kondisi terbaru sampai April, sengaja saya tampilkan khusus mulai tahun 2020. Hasilnya seperti ini:

Pada bulan Maret 2020, nonfarm payroll yang tertendang keluar dari pasar kerja masih hanya 870,000. Sebulan kemudian melonjak 23,6 kali lipat menjadi 20.500.000.

Sejak 15 Maret hingga 2 Mei 2020, tercatat sebanyak 33,5 juta orang telah mengajukan klaim asuransi kehilangan pekerjaan (initial jobless claims).

Laju pertumbuhan AS pada triwulan I-2020 mengalami kontraksi sebesar 4,8 persen. Pada triwulan II-2020 diperkirakan kontraksi akan lebih dalam.

Kondisi di Zona Eropa lebih parah dan lebih buruk dari krisis finansial global tahun 2008-2009. Uni Eropa telah mengambil ancang-ancang menggelontorkan dana penyelamatan senilai US$2,2 triliun.

Namun, tampaknya belum akan mampu untuk membuat negara-negara Eropa utama terhindar dari kontraksi terdalam tahun ini. Italia merupakan negara terparah, menyusul kemudian Spanyol. Derajat keterpurukan sangat terkait dengan keparahan akibat COVID-19.

Sekalipun sebagai asal COVID-19, perekonomian China tahun ini masih bisa tumbuh positif sebesar 1,2 persen. India juga diperkirakan masih tumbuh positif tahun ini.

IMF memperkirakan perekonomian dunia akan mengalami kontrasi 3 persen tahun ini.

Penulis memperkirakan perekonomian Indonesia akan mengalami kontraksi sebesar 1,5 perssen.

Perkiraan baseline penulis lebih baik ketimbang proyeksi Bank Dunia dengan skenario rendah (lower case).

Pada triwulan I-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di zona positif, yaitu 2,97 persen, merosot dari 4,97 pada triwulan sebelumnya.

Sektor yang paling dalam kemerosotan pertumbuhannya adalah sektor transportasi dan pergudangan, jasa perusahaan, dan penyediaan akomodosi dan makan minum. Sementara itu, pertumbuhan sektor industri pengolahan mengalami penurunan pertumbuhan yang relatif rendah dan lebih kecil ketimbang pertumbuhan PDB. Hal ini disebabkan karena petumbuhan industri manufaktur sudah dalam kecenderungan melambat cukup lama dan hampir selalu tumbuh lebih rendah daripada pertumbuhan PDB.

Pada triwulan I-2020 belum satu pun dari 17 sektor yang mengalami kontraksi. Puncak kemerosotan diperkirakan terjadi pada triwulan II dan triwulan III.

Sampai awal Maret 2020 sudah tiga juta lebih pekerja yang terdampak COVID-19.

Mengantisipasi Gejolak Sosial (Update)


[Dimutakhirkan dengan data BPS terbaru dan ditambahkan berbagai informasi terkait pada 8 Mei pk.20:10.]

Angkatan kerja pada Agustus 2019 berjumlah 133,56 juta orang. Sebanyak 126,51 juta orang dengan status bekerja dan sisanya 7,05 juta orang menganggur, sehingga tingkat pengangguran terbuka (TPT) adalah 5,28 persen. Seseorang dikategorikan tidak mengganggur jika dalam seminggu terakhir bekerja setidaknya selama satu jam.

Berdasarkan data terbaru yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) hari Selasa kemarin (5/5), jumlah angkatan kerja pada Februari 2020 adalah 137,91 orang, terdiri dari 131,03 bekerja dan sisanya 6,88 juta (4,99 persen) penganggur. Tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2020 terendah sejak tahun 1998.

Data terbaru BPS yang menunjukkan penurunan TPT terjadi karena belum ada kasus terkonfirmasi COVID-19 di Indonesia. Kasus pertama diumumkan pemerintah pada 2 Maret.

Dewasa ini diperkirakan jumlah angkatan kerja sekitar 135 juta orang lebih. Akibat pandemik COVID-15 ada tambahan sekitar 3 juta orang tidak bekerja, baik karena pemutusan hubungan kerja, dirumahkan, dan cuti di luar tanggungan. Dengan demikian TPT naik menjadi sekitar 7,4 persen, tertinggi sejak tahun 2009.

* Februari. **Mei (perkiraan penulis). Sumber: BPS

Catatan: Sampai 2004 adalah data tahunan, sejak 2005 data tahunan berdasarkan rerata Februari dan Agustus. Sejak 2013 TPT Februari selalu lebih rendah dari Agustus, karena pengaruh musiman, terutama karena Februari adalah musim panen sehingga menyerap lebih banyak pekerja.

Jika pandemik berkepanjangan, jumlah penganggur tentu bakal lebih tinggi, berpotensi menembus dua digit seperti yang terjadi tahun 2005. Belum lagi dengan memperhitungkan tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri yang terpaksa kembali ke tanah air akibat pandemik global.

Jakarta dan Jawa Barat merupakan pusat pandemik. Banten berbatasan dengan Jakarta dan masuk sepuluh provinsi dengan kasus COVID-19 terbanyak.

Banten merupakan provinsi yang TPT-nya tertinggi (8,01 persen). Disusul oleh Jawa Barat (7,69 persen). Ada pun TPT Jakarta hanya sedikit bi bawah TPT nasional, yaitu 4,93 persen.

Pada Februari 2020, usia 15-24 tahun adalah kelompok dengan TPT tertinggi (16,3 persen), naik dibandingkan posisi Februari 2019. Sedangkan kelompok usia 25-59 tahun hanya 3,1 persen dan kelompok usia 60 tahun ke atas hanya 1,1 persen. Pada kedua kelompok terakhir ini terjadi penurunan tingkat pengangguran dibandingkan setahun sebelumnya.

Pengangguran usia muda yang cukup tinggi membuat kondisi kian rentan terhadap gejolak. Mereka berpendidikan cukup tinggi tetapi banyak yang tidak terserap di pasar kerja. TPT tertinggi justru dialami oleh tamatan sekolah menengah kejuruan (8,5 persen), lalu sekolah menengah atas dan tamatan Diploma I/II/III, masing-masing 6,8 persen.

Jadi profil umum penganggur kita adalah berusia muda dan berpendidikan cukup tinggi. Jutaan tambahan angkatan kerja dengan ciri itu niscaya amat sulit terserap di pasar kerja, apalagi kalau pandemik COVID-19 berkepanjangan. Untuk mempertahankan pekerja yang sudah ada saja, dunia usaha sudah babak-belur.

Dilihat secara sektoral, pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan merupakan penyerap terbanyak tenaga kerja. Sekitar 18,5 juta pekerja diserap oleh industri pengolahan. Kelompok pekerja ini paling rentan karena hampir semua tidak bisa bekerja dari rumah (WFH). Selain itu sektor ini terdisrupsi oleh sistem mata rantai pasokan global dan kemerosotan nilai tukar rupiah. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan kebanyakan perusahaan hanya bisa bertahan sampai bulan Juni.

Pemetaan yang seksama atas profil ketenagakerjaan akan sangat membantu untuk meredam keresahan sosial. Bukan dengan kursus atau pelatihan online tentunya. Yang paling dibutuhkan adalah cash transfer agar mereka bisa bertahan hidup. Setidaknya butuh dana untuk itu sampai Agustus-Desember.

Segala pembangunan fisik harus ditinjau ulang. Pembangunan ibukota baru sangat bisa ditunda sampai setidaknya lima tahun ke depan. Anggaran pertahanan sangat memungkinkan dipangkas separuhnya dari Rp122,4 triliun. Juga anggaran kementerian PUPR yang berjumlah Rp95,6. Alihkan separuhnya untuk infrastruktur terkait dengan penguatan sumber daya manusia.

Ingat, kita sedang mengalami keadaan sangat tidak normal. Dibutuhkan tindakan luar biasa untuk menghadapinya. Relokasi anggaran yang dilakukan pemerintah masih mencerminkan kondisi “normal” atau sedikit tidak normal, belum menunjukkan kegentingan yang dihadapi oleh masyarakat luas dan tekanan sosial yang amat berat.

Mobilisasi Nasional untuk “Triple T” Kunci Perangi Coronavirus


Berita baik terus berlanjut hingga hari ini (19/4) sejak tulisan yang saya unduh tiga hari yang lalu. Sudah lima hari berturut-turut jumlah pengidap coronavirus COVID-19 yang dinyatakan sembuh lebih banyak ketimbang yang meninggal dunia.

Perkembangan itu menghasilkan jumlah kumulatif pasien yang sembuh sudah lebih banyak dari jumlah kumulatif yang wafat sejak 16 April. Hal ini tercermin dari bidang berwarna hijau kian lebar (luas) dibandingkan bidang berwarna merah.

Sayangnya jumlah kematian kembali melonjak, dari 15 orang kemarin menjadi 47 orang hari ini, menyebabkan tingkat kematian (case fatality rate) naik lagi dari 8,6 persen menjadi 8,9 persen, masih tetap tertinggi di Asia.

Peningkatan jumlah pasien sembuh yang lebih banyak ketimbang pasien yang meninggal dunia belum diimbangi oleh penurunan kasus positif baru, sehingga jumlah kasus aktif terus menunjukkan kecenderungan meningkat.

Kapan kasus aktif (active cases) mencapai puncaknya sangat bergantung pada jumlah tes. Per hari ini, baru 42.219 orang atau 154 orang per satu juta penduduk yang sudah dites. India jauh lebih tinggi, yaitu 270 orang per satu juta penduduk, Fulipina 547, dan Malaysia 3.114.

Kunci untuk menjinakkan wabah coronavirus adalah dengan testing, karena dengan cara inilah kita akan mengetahui jumlah potensi musuh yang mendekati sebenarnya, bukan dengan tebak-tebakan. Dari hasil testing itulah kita bisa melakukan tracing, baru kemudian treating (Triple T)

Tanpa melakukan “Triple T” dengan benar dan efektif, maka Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akan mubazir dan berkepanjangan, sehingga ongkos sosial dan ekonominya tak terperikan.

Sejatinya Perpu yang diterbitkan adalah untuk mobilisasi nasional mengatasi wabah coronavirus, bukan Perpu yang fokus pada penyelamatan ekonomi, penambahan utang, dan jaminan kebal hukum bagi para pembuat kebijakan. Perpu cuma menangani hilir, sedangkan hulunya keropos. Sehebat apa pun penanganan hilir akhirnya akan jebol juga kalau hulunya tidak ditangani secara tuntas dan efektif.

Tanpa “Triple T” yang benar dan efektif, kebijakan apa pun yang ditempuh akan bersifat tambal-sulam.

Berita Baik COVID-19, Semoga Berlanjut


Hari ini (16/4), terjadi lonjakan luar biasa jumlah pasien coronavirus COVID-19 yang dinyatakan sembuh, dari hanya 20 pasien kemarin menjadi 102 pasien atau kenaikan lebih lima kali lipat. Juga tergolong peningkatan sangat tajam jika dibandingkan dengan rerata harian selama seminggu sebelumnya yang berjumah 32 pasien.

Berita baik kedua, dalam dua hari berturut-turut jumlah pasien sembuh lebih banyak ketimbang jumlah kematian.

Karena tambahan kasus positif harian (daily cases) masih mengalami trend peningkatan, maka kasus aktif (active cases) pun masih terus meningkat dan tampaknya masih jauh untuk mencapai titik puncak. Namun, untuk pertama kalinya hari ini jumlah kumulatif pasien sembuh sudah lebih banyak dari jumlah kumulatif kematian. Ini berita baik ketiga.

Jika kita mampu menekan jumlah kasus positif baru, mempercepat penyembuhan, dan menekan kematian, maka puncak kurva bisa lebih cepat seperti yang telah dialami Iran. Jerman, Swiss, Korea Selatan, dan China telah melampauai fase ini lebih awal.

Walapun jumlah kasus di Indonesia relatif sedikit, di urutan ke-37, namun tingkat kematian (case fatality rate/CFR)) tergolong tinggi, yaitu 9,0 peren. Di antara negara dengan penduduk di atas 10 juta, CFR Indonesia berada di urutan ke-13 di dunia dan tertinggi di Asia.

Jumlah kasus yang relatif rendah dengan tingkat kematian yang relatif tinggi di Indonesia boleh jadi karena jumlah test sangat rendah. Baru dilakukan 30.000 test sejauh ini atau hanya 132 test per satu juta penduduk. Di Malaysia sudah 87,183 test atau 2.694 test per sejuta penduduk. Vietnam yang jumlah kasusnya sangat sedikit (268) dan belum ada kasus kematian telah melakukan 135.938 test atau 1.398 per satu juta penduduk.

Setiap celah yang bisa mengakibatkan lonjakan dan pemburukan patut kita tutup rapat-rapat. Yang terpenting adalah menekan jumlah pemudik. Terlalu mahal ongkos yang harus ditanggung jika terjadi gelombang mudik sekalipun hanya sepertiga dari biasanya.

Berharap Coronavirus di Indonesia Tak Seganas di AS dan Eropa


Sampai hari ini pk. 16:16, jumlah kumulatif pengidap coronavirus COVID-19 di dunia (210 negara dan teritori) mencapai 1.786.769 orang. Ada pun yang meninggal dunia telah menembus 100.000 orang, persisnya 109.275 orang. Dengan demikian, tingkat kematian karena coronavirus (case fatality rate/CFR) dunia adalah 6.1 persen.

CFR Indonesia tertinggi di Asia. Bidang berwarna biru adalah negara dengan penduduk di atas 10 juta dan yang berwarna kuning adalah negara dengan penduduk di bawah 10 juta.

Sudah barang tentu CFR Indonesia juga tertinggi di ASEAN. Ada tiga negara ASEAN yang belum mengalami kasus kematian, yaitu Vietnam, Cambodia, dan Laos. Dua tetangga dekat kita (Timor-Leste dan PNG) sejauh ini masing-masing hanya ada dua kasus terkonfirmasi dan tidak ada kasus kematian.

CountryPopulation (2018)Total casesTotal deathsCase fatality rate
Indonesia267,663,4354,2413738.795
Myanmar53,708,3953837.895
Philippines106,651,9224,6482976.390
Malaysia31,528,5854,683761.623
Thailand69,428,5242,551381.490
Brunei Darussalam428,96213610.735
Singapore5,638,6762,29980.348
Vietnam95,540,39525800.000
Cambodia16,249,79812200.000
Lao PDR7,061,5071800.000
Timor-Leste1267972200.000
Papua New Guinea8606316200.000

Jumlah kematian di Indonesia lebih banyak ketimbang jumlah pasien yang telah sembuh.

Akumulasi kasus yang terjangkit coronavirus di Indonesia hari ini (12/4) berjumlah 4.241 orang. Sebanyak 359 pasien dinyatakan telah sembuh dan 373 orang meninggal dunia. Sisanya adalah kasus aktif (active cases).

Banyak kajian dengan menggunakan modelling mengindikasikan kasus di Indonesia jauh lebih banyak daripada yang setiap hari dilaporkan oleh juru bicara Gugus Tugas COVID-19, setidaknya puluhan kali lipat.

Jika pengujian cepat dan pengujian lainnya lebih banyak, maka diperkirakan sampai beberapa minggu ke depan jumlah kasus akan terus meningkat. Ada yang memperkirakan puncak kasus terjadi bulan Mei sampai Juni.

Jika kita membandingkan dengan kasus global, tampak bahwa pola Indonesia masih menunjukkan bahwa puncak pada fase awal pun belum terjadi. Untuk kasus global, jumlah yang sudah sembuh jauh lebih besar ketimbang jumlah kematian. CFR global adalah 6,1 persen. Jadi CFR Indonesia di atas CFR dunia.

Iran adalah salah satu negara yang telah mengalami fase stabil dengan active cases yang sudah menurun. Jumlah kematian harian juga mengalami penurunan, walaupun kembali meningkat dalam dua hari terakhir. Yang menggembirikan jumlah yang sembuh terus menunjukkan peningkatan dan jauh di atas jumlah kematian.

Setelah kawasan Jobodetabek ditetapkan dengan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kita berharap puncak wabah coronavirus akan lebh cepat dengan kurva yang melandai.

Kuncinya adalah faktor jumlah pemudi, terutama dari Jabodetadek.

Ketika Gelombang Mudik Tak Terbendung


Jakarta adalah episentrum wabah coronavirus di Indonesia. Sekitar separuh kasus terkonfirmasi (confirmed cases) dan jumlah kematian disumbang oleh Jakarta. 

Per 8 April 2020NasionalDKI JakartaPersen DKI Jakarta
Kasus terkonfirmasi2.9561.47049,7
Meninggal24011447,5

Jika pusat episentrum diperluas dengan memasukkan kota/kabupaten di sekitar Jakarta atau Jabodetabek (Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Depok, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi), porsinya mencapai sekitar 70 persen.

Oleh karena itu, keberhasilan mengendalikan penyebaran coronavirus COVID-19 secara nasional sangat bergantung pada penanganan di Jabodetabek. Jangan sampai medan pertempuran meluas dan massif ke seluruh penjuru Tanah Air. Walaupun coronavirus telah menyebar ke 32 provinsi, kita masih punya waktu untuk meredamnya jika episentrum coronavirus bisa ditaklukkan.

Tak terbayangkan jika penyebaran kian merata ke selruh provinsi mengingat daya dukung kita sangat terbatas.

Jumlah dokter per 1.000 penduduk di Indonesia sangat sedikit dan jauh lebih rendah ketimbang negara-negara tetangga. Untuk jumlah perawat dan bidan, Indonesia hanya lebih baik dibandingkan Vietnam dan Iran.

Jumlah tempat tidur di rumah sakit (hospital beds) sangat terbatas.

Masalah semakin pelik karena persebaran dokter, perawat, dan tempat tidur di rumah sakit tidak merata. Lebih mengkhawatirkan lagi kondisi di daerah-daerah tujuan mudik utama. Jumlah dokter per 10.000 penduduk di semua tujuan mudik utama di bawah rerata nasional, dengan Jawa Barat yang paling parah.

Untuk jumlah perawat (tidak termasuk bidan) per 10.000 penduduk, Jawa Barat menduduki peringkat terbawah. Jawa Timur dan Lampung di bawah rerata nasional, sedangkan Jawa tengah sama dengan rerata nasional.

Ketersediaan tempat tidur rumah sakit sama mengkhawatirkannya. Semua tujuan mudik utama di bawah rerata nasional.

Jadi bisa dibayangkan betapa akan tunggang-langgang daerah-daerah tujuan utama mudik jika mengalami ledakan wabah coronavirus yag dibawa oleh pemudik dari pusat episentrum Jabodetabek.

Belum terlambat untuk menerapkan strategi nasional dengan kehadiran komandan perang di pusat medan laga. Sejauh ini, pemerintah daerah di Jabodetabek sudah amat sadar akan bahaya yang menghadang, tidak saja terhadap penduduk mereka, melainkan juga bagi kepentingan nasional.

Jabodetabek butuh panglima perang. Juga Indonesia, tentunya. Teramat berat rasanya kalau diserahkan kepada masing-masing kepala daerah dan kerja sama sesama mereka semata. Sekali lagi, ini bukan persoalan Jabodetabek, melainkan sudah menjadi persoalan nasional yang genting.

Sekalipun Jakarta sudah mulai kewalahan, bagaimanapun kesiapan Jakarta jauh lebih baik ketimbang daerah-daerah tujuan utama mudik. Semoga ini jadi pertimbangan bagi saudara-saudara kita yang hendak mudik.

Menangi Pertempuran agar Peperangan Lebih Cepat Usai dan Sedikit Korban Jiwa


[Diperbarui 25 Maret pk.03:06]

Perang Dunia II mungkin akan lebih lama dan lebih banyak menelan korban seandaikan Amerika Serikat tidak menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang membuat Jepang takluk. Momen itu pula yang membuat Indonesia mempercepat proklamasi kemerdekaan. 

Indonesia bukan peserta Perang Dunia Kedua, namun dari sekitar 62,5 juta jiwa yang tewas di seluruh dunia akibat perang itu, Indonesia menduduki peringkat keempat dengan korban jiwa total sekitar 4 juta orang atau sekitar 6 persen dari total penduduk di tahun 1939. Indonesia hanya kalah dari Uni Soviet (hampir 24 juta), China (lebih dari 19 juta) dan Polandia (sekitar 5 juta jiwa). Sekitar 2,5 juta orang Indonesia itu tewas akibat kelaparan, dan sekitar satu juta orang tewas akibat kerja paksa. Generasi milenial di Indonesia tampaknya tidak bisa membayangkan kekejian bala tentara Jepang itu. Jika China dan Korea (Utara maupun Selatan) sampai kini terus mewaspadai kemungkinan bangkitnya militerisme Jepang, mereka memang punya alasan kuat untuk itu.

Jumlah korban tewas di Hindia Belanda menunjukkan betapa buruknya perekonomian di masa itu. Jutaan orang tidak hanya tidak bisa makan, melainkan juga tidak bisa berpakaian layak, sampai banyak yang harus mengenakan karung goni, ban dalam, kertas bekas dan bahan lainnya yang tentu saja tidak layak menjadi bahan pakaian. Pagar rumah dan alat-alat pertanian dari besi, kotak tembakau dari aluminium, sepeda, apalagi motor dan mobil, dirampas. Siapa yang kedapatan punya kendaraan bermotor atau radio, bakal dihukum mati. Jepang adalah seburuk-buruknya penjajah, dan penjajahan Jepang adalah era teror yang jangan sampai terulang lagi kapan pun.

***

Kini seluruh dunia sedang berjibaku memerangi coronavirus. Hingga Selasa siang (24 Maret) coronavirus sudah menyebar ke 196 negara dan teritori. Tinggal segelintir negara yang belum tersentuh oleh virus yang tak mengenal suku, ras, musim, kaya-miskin, jabatan, dan agama.

Korban jiwa memang belum seberapa dibandingkan dengan korban Perang Dunia II dan wadah virus di awal abad XX yang menelan jutaan orang.

Belum ada ahli yang bisa memastikan kapan coronavirus bisa ditaklukkan. Tak seorang pun tahu berapa banyak “musuh” yang telah menyusup ke jantung pertahanan dan menyeberang ke garis perbatasan kita. Kita tak bisa membedakan siapa musuh dan siapa kawan. Yang pasti, pasukan elite (dokter dan perawat) kita sudah mulai bertumbangan, puluhan telah kena peluru musuh. 

Prajurit dari berbagai jenjang kian banyak tewas. Sampai hari ini sudah 55 orang meninggal dunia. Untuk pertama kali, tambahan pasukan Indoenesia yang terjangkit menembus 100 orang hari ini, persisnya 107 orang. Tak ada tambahan satu pun yang pulih atau sembuh. Korban terjangkit coronavirus (confirmed cases) di Indonesia mencapai 686 orang, mendekati jumlah korban di beberapa negara Eropa yang sudah menjadi pusat pandemik seperti Yunani, Finlandia, Polandia, dan Luksemburg. Yang masih terbaring di rumah sakit (active cases) sebanyak 601 orang.

Per 25 Maret 2020 pk.02:50. Sumber menggunakan GMT.
Sumber: https://www.worldometers.info/coronavirus/

Jumlah pasukan elit (dokter) per 1.000 penduduk di Indonesia hanya 0,4. Itu cuma separuh dari India (0,8), seperlima dari Brazil (2,1) dan China (1.8). Juga jauh lebih kecil ketimbang Thailand (0,8), dan Vietnam (0,8), dan Malaysia (1.5). Jumlah dokter paru tentu jauh lebih sedikit lagi.

Peralatan tempur mereka terbatas sehingga amat rentan jadi sasaran tembak musuh. Amunisi pun terbatas. Bentengi segera mereka dengan pelindung diri yang memadai.

Intelejen kita belum mengetahui secara persis kekuatan musuh dan kesiapan prajurit (rakyat). Presiden sudah memerintahkan semua gubernur membuat peta kesadaran coronavirus dan menyusun rencana aksi.

Sungguh kita dan hampir semua negara di dunia belum pernah menghadapi peperangan dengan “hantu” seganas coronavirus. Untuk menghadapinya, mau tak mau seluruh medan lagi harus dibuat seterang mungkin, karena hantu takut menghadapi medan yang terang benderang. Hantu leluasa dalam kegelapan.

Dalam menghadapi musuh nyata di masa lalu, kerajaan-kerajaan membangun benteng agar musuh tak gampang menyerang maupun menyusup.

Image result for benteng-benteng yang mengelilingi kota di masa lalu
Benteng Salahudin di Kairo yang dibangun pada abad ke-12. Sumber: tfamanasek.com

Kini, ketika informasi intelejen masih minim, hampir tak ada pilihan kecuali dengan melakukan isolasi terbatas dan mengecek kesiapan sebanyak mungkin pasukan. Ongkosnya memang sangat mahal. Derita tak terperikan. Namun, sekali kita berhasil memetakan musuh, peperangan bisa lebih cepat kita akhiri dengan kemenangan, dengan korban sekecil mungkin.

Kita jatuhkan bom atom itu. Bom atom berisi unsur: isolasi terbatas, pendekatan berbasis scientific, logistik yang tangguh, dan pertahanan rakyat semesta. Dan tertu saja kehadiran panglima perang yang dikelilingi oleh para kepala staf yang mumpuni dan penesehat kelas wahid yang dimiliki Negeri ini.

Tentara dan polisi kita siagakan sebagai pendukung utama. Kini saatnya para dokter dan ahli yang dijajaran terdepan. Betul kata Menteri Pertahanan bahwa tenaga medis yang di jajaran terdepan. Merekalah pahlawan dalam perang ini. Masih menurut Menhan, ia hanya terlatih menghadapi musuh yang terlihat.

Mari kita semua menyiapkan amunisi dan logistik yang memadai. Lindungi pasukan yang paling rentan. Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah. Seiring dengan itu, solidaritas sosial kita gaungkan. Satu orang yang mampu menanggung dua orang tak mampu.

Insya Allah kita bisa.

Catatan:

Lockdown a situation in which people are nor allowed to enter or leave a building or area freely because of an emergency. –Cambridge Dictionary

Jangan Biarkan Pemerintah Sendiri Lawan Corona! (Podcast)


NEWS – Redaksi CNBC Indonesia, CNBC Indonesia 22 March 2020 14:04

Jakarta, CNBC Indonesia- Ekonomi dan pendiri INDEF Faisal Basri menyebut kondisi saat ini adalah kondisi darurat. Di mana untuk perang melawan mencegah penyebaran covid-19 harus dilakukan bersama-sama oleh berbagai kalangan.

“Jangan biarkan pemerintah sendiri. Rakyat, dunia usaha, semuanya harus bergerak bersama untuk melawan corona,” kata Faisal dalam wawancara Podcast CNBC Indonesia, Sabtu (21/3/2020).

Agar semua pihak bisa membantu, Faisal juga mendorong pemerintah untuk transparan dan memangkas jalur birokrasi agar semuanya cepat ditangani. Buka saluran-saluran yang memudahkan pengusaha untuk berkontribusi. 

Ia bahkan menyarankan pemerintah mulai melakukan tindakan tegas bagi oknum-oknum yang diketahui memburu rente di tengah krisis saat ini. Misal ditemukan kelangkaan salah satu barang bahan pokok, dan serta ditelusuri ternyata ada penimbunan yang disengaja oleh oknum, disarankan dikenakan sanksi yang tidak main-main.

“Kalau perlu hukum gantung, meski hukumnya memang tidak ada saat ini. Tapi lagi masa seperti ini harus tegas, kalau ada yang manfaatkan langung hukum.” 

PILIHAN REDAKSIFaisal Basri: 176 Negara Kena, Corona Itu Perang DuniaFaisal Basri: Trump Dikelilingi Ahli Virus & Pandemi, Jokowi?

Wabah corona, semestinya tidak menganggu perjalanan barang sampai ke tujuan. Sebab hal tersebut juga tidak terjadi di negara lain, jadi ketika ada barang yang langka mesti ditelusuri. 

Faisal sangat yakin Indonesia bisa melampaui masa-masa krisis ini. “Kita sangat mampu, kita punya dokter-dokter hebat yang mestinya diberdayakan. Kita kritik pemerintah itu kkarena kita sayang.”

Kondisi lainnya yang menurut Faisal juga menguntungkan Indonesia adalah kondisi geografis sebagai negara kepulauan. Jika lockdown atau isolasi terbatas diberlakukan, sangat mudah bagi pemerintah ketimbang negara kontinen seperti Amerika Serikat yang semuanya daratanya. “Kalau kita ingin lockdown, kita bisa kunci di Jawa dan tidak menyebar ke pulau lainnya.”

Obrolan dan masukan Faisal Basri lebih lanjut bisa disimak dan didengarkan di podcast Cuap-Cuap Cuan by CNBC Indonesia di bawah ini:

(gus/gus)

Tingkatkan Kewaspadaan: Bersama Kita Bisa


Tak dinyana begitu cepat wadah coronavirus menyebar ke seantero dunia. Sudah 185 negara terjangkit atau 95 persen dari 195 negara di muka bumi, di setiap benua kecuali Antartika. Jadi, tinggal 10 negara yang belum dijamah oleh coronavirus COVID-19.

Jika mobilitas coronavirus sedemikian tinggi dan cepat menjelajah lintas negara dan lintas benua, apalah susahnya menyeberang antarprovinsi, lintas laut, lintas sungai, dan lintas danau.

Sejauh ini coronavirus telah menyebar di 16 provinsi: Bali, Sumatera (4), Sulawesi (3), Kalimnatan (2), dan Jawa (6).

Seluruh provinsi di Jawa sudah terjangkit. Terbanyak di DKI Jakarta. Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua masih bersih. Situs Zona Utara bekerja sama dengan beberapa media, perguruan tinggi, dan AJI Bandung membuat peta interaktif yang bisa dilihat di zonautara.com.

Mari kita bahu-membahu untuk menjaga agar zona hijau tetap hijau dan yang sudah terlanjur merah tidak semakin parah.

Dengan upaya kolektif yang sudah ditunjukkan oleh banyak kelompok (perguruan tinggi, kalangan profesi, komunitas, media, dan civil society lainnya, serta dunia usaha), insya Allah tugas mulia memerangi wabah yang sangat liar ini bisa membuahkan hasil yang menjanjikan.

Mari kita rajut kebersamaan. Pemerintah dengan seluruh jajarannya menjadi lem perekat yang akan sangat efektif memobilisasikan seluruh sumber daya nasional.

Bersama kita bisa.