Untuk Meredam Kemerosotan Rupiah, Mulailah dengan yang Sekarang Juga Bisa Dilakukan


nat
news.infoshop.org

Hari ini (4/9/2018), kurs atau nilai tukar rupiah berdasarkan JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) kembali melemah di aras Rp 14.840 per dollar AS. Pada penutupan pasar hari ini versi Bloomberg bertengger di dahan yang lebih tinggi, Rp 14.935 per dollar AS. Sudah tujuh hari berturut-turut rupiah terdepresiasi.

Sudah dua hari nilai tukar rupiah mencapai titik terlemah sejak dua dasawarsa silam ketika Indonesia diterpa badai krisis ekonomi, juga lebih buruk ketimbang posisi terlemah pada 29 September 2015.

Screen Shot 2018-09-04 at 19.00.24

Masih banyak yang bisa dilakukan untuk meredam pelemahan rupiah. Strategi menyerang patut diterapkan secepatnya. Upaya kolektif oleh segenap elemen bangsa pun sangat ditunggu. Pelemahan rupiah dewasa ini berbeda dengan kondisi tahun 2013 dan 2015. Kali ini tekanan domestik amat berat dan mengakumulasi akibat penyesuaian struktural sengaja dihambat oleh pemerintah. Ongkos penundaan sangat mahal karena menghadapi lingkungan global yang kian tidak bersahabat. Ditambah lagi dengan momentum menjelang pemilu yang ditandai oleh elektabilitas calon petahana yang nyaris tidak beranjak dari hasil pemilihan presiden empat tahún lalu (padahal sudah kerja, kerja, dan kerja), sehingga mendorong pemerintah semakin banyak menggelontorkan kebijakan-kebijakan populis.

Harus diakui bahwa pemburukan dewasa ini adalah konsekuensi logis dari apa yang telah dilakukan dalam empat tahun terakhir yang melampaui batas kemampuan.

Belum terlambat untuk melakukan koreksi.

Pertama, dosis kenaikan suku bunga acuan (BI 7-day repo rate) belum memadai untuk mengobati penyakit yang ertambah kronis. Dosis perlu segera ditambah dengan kenaikan suku bunga acuan severas 50 basis poin agar cadangan devisa tidak terlalu banyak terkikis.

Kedua, melakukan “himbauan moral” agar para petinggi negeri mengorbankan ternak dollarnya. Sangat tidak elok jika peternakan milik para pengelola negara sampai mencapai ratusan ribu dollar AS, bahkan ada yang mencapai jutaan dollar AS. Untuk mengakses senarai kekayaan pejabat, bisa dilihat di sini.

Ketiga, berhemat belanja valuta asing dengan tidak melakukan studi banding ke luar negeri, menekan jumlah delegasi ke luar negeri, menyeleksi ketat perjalanan luar negeri oleh pejabat negara dan jajaran BUMN, melarang BUMN menggelar tarvel fair seraya menggalakkan wisata domestik, dan melarang BUMN melakukan pembayaran dalam dollar.

Keempat, menargetkan seluruh perwakilan di luar negeri untuk memperluas serta membuka pasar baru di masing-masing negara tempat bertugas.

Kelima, menjadwal ulang proyek-proyek strategis sekalipun terutama yang oros devisa, termasuk belanja pertahanan. Jika kondisi sudah normal kembali, belanja yang tertunda bisa diperhitungkan.

Keenam, pembersihan dapur rumah sendiri dengan menertibkan (kalau perlu memecat) para menteri yang membuat pasar domestik sering kebobolan. Patut diduga, praktek-praktek pemburuan berada di balik arus impor yang semakin deras.

Screen Shot 2018-09-04 at 19.50.45

 

5 Comments

  1. Sudah banyak negara-negara emerging market berada dalam situasi sangat “kritis” (Turki, Venezuela, dll). Bauran senjata (kebijakan) apakah yang paling ampuh agar INA tidak terlambat terkena serangan yang lebih tajam selain menaikkan suku bunga acuan severas 50 basis poin? Pasalnya, impor BBM INA turut andil dalam mempengaruhi situasi “sulit” saat ini? Saatnya kita mengencangkan sabuk pengaman! Terima kasih, Pak Faisal.

  2. selamat siang,

    mengacu kepada saran anda tentang apa yang pemerintah harus lakukan:

    1. kenaikan suku bunga saya rasa patut untuk diharapkan, namun sepertinya dengan buru2 menaikkan suku bunga akan menciutkan perekonomian lokal karena naiknya bunga pinjaman dan potensi gagal bayar jika suku bunga dinaikkan secara banyak ditambah masuknya arus uang ke fix income yang mengacu kepada naiknya suku bunga sehingga banyak modal “mati” di fix income.. namun 50 basis poin saya rasa tidak terlalu banyak.. saya rasa pemerintah sudah merencanakan ini , hanya menunggu waktu yang tepat agar tidak memperlambat ekonomi dalam negeri secara tidak optimum..

    2. apakah jutaan dollar yg ditukar akan mempengaruhi nilai tukar dollar secara signifikan? walaupun secara psikologi, menukarkan dollar ke rupiah dari pihak pejabat2 adalah aksi nasionalisme dan itu baik bagi negara sebagai tanda teladan dari para negarawan2 sehingga akan ada “reflexive effect” yaitu masyarakat mungkin akan melakukan hal serupa sehingga potensi rupiah menguat ada di sana..

    3.apakah penghematan ini akan efektif secara signifikan? karena proporsi pengeluaran untuk studi banding harusnya tidak besar jika dilakukan dengan benar dan efisien. Bagaimana dengan strategi agresif pemerintah menggalakkan eksport? bukankah lobi2 ke luar negeri dperlukan untuk membuka jalan eksport sehingga otomatis perjalanan ke luar negeri oleh para delegasi negara diperlukan? dalam hal ini bukankah perjalan ke luar negeri diperlukan sebagai “modal” utk membuka jalan? sudahkah pemerintah menggalakkan pariwisata? strategi ini saya banyak dengar tetapi informasi mengenai apakah pemerintah sudah menggalakkan pariwisata ini sudah dilakukan? kalau tidak salah kemarin tim ekonomi ibu Sri , Pak Endang, Pak Darmin, dan Pak menteri perindustrian (maaf lupa namanya) pernah mengatakan tentang strategi ini.

    4. bukankah ini sudah dilakukan? menteri perdagangan menjelaskan strategi pemerintah dalam hal ini.. ada beberapa agreement sudah sah dan beberapa dalam tahap diskusi.. kalau tidak salah australia apa akan ada trade deal dengan indonesia dan sudah sah..

    5. bukankah ini sudah dilakukan? proyek2 infrastruktur yang memakan banyak barang import dibekukan?

    6. menteri mana yang membuat kebobolan pasti diganti?.. seorang menteri sosial sudah tertangkap korupsi oleh kpk… pemerintah sepertinya sudah melakukan ini?

    mengacu kepada pendapat anda : “Kali ini tekanan domestik amat berat dan mengakumulasi akibat penyesuaian struktural sengaja dihambat oleh pemerintah.”.. tolong jelaskan bagaimana pemerintah menghambat penyesuaian struktural?

    “Harus diakui bahwa pemburukan dewasa ini adalah konsekuensi logis dari apa yang telah dilakukan dalam empat tahun terakhir yang melampaui batas kemampuan.” pemburukan apa yang anda maksud? apakah menurunnya konsumsi secara sedikit di awal2 pemerintahan ini? dan batas kemampuan apa? penambahan infrastruktur? bukankah ada potensi untuk negara ini pecah karena kesenjangan ekonomi dari satu pulau ke pulau lainnya? sebelum pemerintahan ini, bukankah kita sering mendengar gerakan makar di pulau2 lain? dan sekarang berkurang karena kesejahteraan jangka pendek masyarakat di pulau2 lain diperhatikan?

    bukankah sejak menteri keuangan diganti ekonomi membaik dan bahkan pertumbuhan ekonomi
    (gdp growth) mencapai target baru2 ini apa?

    bukankah pembangunan infrastruktur adalah strategi agresif jangka panjang?

    mohon pencerahannya…. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.