Faisal Basri: Corona Itu Perang Dunia, RI Butuh Lockdown (video)


Cuap Cuap Cuan – Podcast CNBC Indonesia

Ekonom senior dan pendiri INDEF, Faisal Basri akan membahas habis habisan soal efek corona ke Indonesia. Inilah perang dunia sesungguhnya. Faisal Basri mengatakan dampak dari virus corona yang makin mewabah ini semakin dahsyat di dunia, tanpa lockdown dan isolasi yang serius, RI bisa jatuh ke dalam bahaya. Simak wawancara Tim Redaksi CNBC Indonesia dengan Ekonom Senior dan pendiri INDEF, Faisal Basri dalam Podcast Cuap Cuap Cuan berikut.

Rekaman berlangsung pada 19 Maret 2020.

Selengkapnya bisa dilihat di sini.

Ekonomi Global dan Indonesia di Tengah Kecamuk Pandemik COVID-19


Nestapa tak terperikan akibat wabah pandemik coronavirus COVID-19 sudah kian terasa. Hingga Jumat (8/5), pk.22:15, COVID-19 telah menjangkiti hampir 4 juta orang dan menewaskan 272 ribu orang di 212 negara dan teritori di setiap benua kecuali Antartika.

Ongkos ekonomi berdasarkan perhiutngan konservatif Asian Development Bank (ADB) setara dengan Depresi Besar 1929-1939 yang mencapai titik terdalam pada 1933, yaitu US$4,1 triliun atau hampir 5 persen produk domestik bruto (PDB) dunia. Angka itu tampaknya akan terus menggelembung untuk waktu yang lebih lama.

Hari in (8/5) Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan tingkat pengangguran meroket ke 14,7 persen. Bulan Maret angkanya masih 4,4 persen. Akibat lonjakan luar biasa, peraga di bawah yang menjadi berantakan. Jadi sengaja saya tampilkan hanya sampai kondisi Maret 2020.

Untuk menggambarkan kondisi terbaru sampai April, sengaja saya tampilkan khusus mulai tahun 2020. Hasilnya seperti ini:

Pada bulan Maret 2020, nonfarm payroll yang tertendang keluar dari pasar kerja masih hanya 870,000. Sebulan kemudian melonjak 23,6 kali lipat menjadi 20.500.000.

Sejak 15 Maret hingga 2 Mei 2020, tercatat sebanyak 33,5 juta orang telah mengajukan klaim asuransi kehilangan pekerjaan (initial jobless claims).

Laju pertumbuhan AS pada triwulan I-2020 mengalami kontraksi sebesar 4,8 persen. Pada triwulan II-2020 diperkirakan kontraksi akan lebih dalam.

Kondisi di Zona Eropa lebih parah dan lebih buruk dari krisis finansial global tahun 2008-2009. Uni Eropa telah mengambil ancang-ancang menggelontorkan dana penyelamatan senilai US$2,2 triliun.

Namun, tampaknya belum akan mampu untuk membuat negara-negara Eropa utama terhindar dari kontraksi terdalam tahun ini. Italia merupakan negara terparah, menyusul kemudian Spanyol. Derajat keterpurukan sangat terkait dengan keparahan akibat COVID-19.

Sekalipun sebagai asal COVID-19, perekonomian China tahun ini masih bisa tumbuh positif sebesar 1,2 persen. India juga diperkirakan masih tumbuh positif tahun ini.

IMF memperkirakan perekonomian dunia akan mengalami kontrasi 3 persen tahun ini.

Penulis memperkirakan perekonomian Indonesia akan mengalami kontraksi sebesar 1,5 perssen.

Perkiraan baseline penulis lebih baik ketimbang proyeksi Bank Dunia dengan skenario rendah (lower case).

Pada triwulan I-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di zona positif, yaitu 2,97 persen, merosot dari 4,97 pada triwulan sebelumnya.

Sektor yang paling dalam kemerosotan pertumbuhannya adalah sektor transportasi dan pergudangan, jasa perusahaan, dan penyediaan akomodosi dan makan minum. Sementara itu, pertumbuhan sektor industri pengolahan mengalami penurunan pertumbuhan yang relatif rendah dan lebih kecil ketimbang pertumbuhan PDB. Hal ini disebabkan karena petumbuhan industri manufaktur sudah dalam kecenderungan melambat cukup lama dan hampir selalu tumbuh lebih rendah daripada pertumbuhan PDB.

Pada triwulan I-2020 belum satu pun dari 17 sektor yang mengalami kontraksi. Puncak kemerosotan diperkirakan terjadi pada triwulan II dan triwulan III.

Sampai awal Maret 2020 sudah tiga juta lebih pekerja yang terdampak COVID-19.

Mengantisipasi Gejolak Sosial (Update)


[Dimutakhirkan dengan data BPS terbaru dan ditambahkan berbagai informasi terkait pada 8 Mei pk.20:10.]

Angkatan kerja pada Agustus 2019 berjumlah 133,56 juta orang. Sebanyak 126,51 juta orang dengan status bekerja dan sisanya 7,05 juta orang menganggur, sehingga tingkat pengangguran terbuka (TPT) adalah 5,28 persen. Seseorang dikategorikan tidak mengganggur jika dalam seminggu terakhir bekerja setidaknya selama satu jam.

Berdasarkan data terbaru yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) hari Selasa kemarin (5/5), jumlah angkatan kerja pada Februari 2020 adalah 137,91 orang, terdiri dari 131,03 bekerja dan sisanya 6,88 juta (4,99 persen) penganggur. Tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2020 terendah sejak tahun 1998.

Data terbaru BPS yang menunjukkan penurunan TPT terjadi karena belum ada kasus terkonfirmasi COVID-19 di Indonesia. Kasus pertama diumumkan pemerintah pada 2 Maret.

Dewasa ini diperkirakan jumlah angkatan kerja sekitar 135 juta orang lebih. Akibat pandemik COVID-15 ada tambahan sekitar 3 juta orang tidak bekerja, baik karena pemutusan hubungan kerja, dirumahkan, dan cuti di luar tanggungan. Dengan demikian TPT naik menjadi sekitar 7,4 persen, tertinggi sejak tahun 2009.

* Februari. **Mei (perkiraan penulis). Sumber: BPS

Catatan: Sampai 2004 adalah data tahunan, sejak 2005 data tahunan berdasarkan rerata Februari dan Agustus. Sejak 2013 TPT Februari selalu lebih rendah dari Agustus, karena pengaruh musiman, terutama karena Februari adalah musim panen sehingga menyerap lebih banyak pekerja.

Jika pandemik berkepanjangan, jumlah penganggur tentu bakal lebih tinggi, berpotensi menembus dua digit seperti yang terjadi tahun 2005. Belum lagi dengan memperhitungkan tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri yang terpaksa kembali ke tanah air akibat pandemik global.

Jakarta dan Jawa Barat merupakan pusat pandemik. Banten berbatasan dengan Jakarta dan masuk sepuluh provinsi dengan kasus COVID-19 terbanyak.

Banten merupakan provinsi yang TPT-nya tertinggi (8,01 persen). Disusul oleh Jawa Barat (7,69 persen). Ada pun TPT Jakarta hanya sedikit bi bawah TPT nasional, yaitu 4,93 persen.

Pada Februari 2020, usia 15-24 tahun adalah kelompok dengan TPT tertinggi (16,3 persen), naik dibandingkan posisi Februari 2019. Sedangkan kelompok usia 25-59 tahun hanya 3,1 persen dan kelompok usia 60 tahun ke atas hanya 1,1 persen. Pada kedua kelompok terakhir ini terjadi penurunan tingkat pengangguran dibandingkan setahun sebelumnya.

Pengangguran usia muda yang cukup tinggi membuat kondisi kian rentan terhadap gejolak. Mereka berpendidikan cukup tinggi tetapi banyak yang tidak terserap di pasar kerja. TPT tertinggi justru dialami oleh tamatan sekolah menengah kejuruan (8,5 persen), lalu sekolah menengah atas dan tamatan Diploma I/II/III, masing-masing 6,8 persen.

Jadi profil umum penganggur kita adalah berusia muda dan berpendidikan cukup tinggi. Jutaan tambahan angkatan kerja dengan ciri itu niscaya amat sulit terserap di pasar kerja, apalagi kalau pandemik COVID-19 berkepanjangan. Untuk mempertahankan pekerja yang sudah ada saja, dunia usaha sudah babak-belur.

Dilihat secara sektoral, pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan merupakan penyerap terbanyak tenaga kerja. Sekitar 18,5 juta pekerja diserap oleh industri pengolahan. Kelompok pekerja ini paling rentan karena hampir semua tidak bisa bekerja dari rumah (WFH). Selain itu sektor ini terdisrupsi oleh sistem mata rantai pasokan global dan kemerosotan nilai tukar rupiah. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan kebanyakan perusahaan hanya bisa bertahan sampai bulan Juni.

Pemetaan yang seksama atas profil ketenagakerjaan akan sangat membantu untuk meredam keresahan sosial. Bukan dengan kursus atau pelatihan online tentunya. Yang paling dibutuhkan adalah cash transfer agar mereka bisa bertahan hidup. Setidaknya butuh dana untuk itu sampai Agustus-Desember.

Segala pembangunan fisik harus ditinjau ulang. Pembangunan ibukota baru sangat bisa ditunda sampai setidaknya lima tahun ke depan. Anggaran pertahanan sangat memungkinkan dipangkas separuhnya dari Rp122,4 triliun. Juga anggaran kementerian PUPR yang berjumlah Rp95,6. Alihkan separuhnya untuk infrastruktur terkait dengan penguatan sumber daya manusia.

Ingat, kita sedang mengalami keadaan sangat tidak normal. Dibutuhkan tindakan luar biasa untuk menghadapinya. Relokasi anggaran yang dilakukan pemerintah masih mencerminkan kondisi “normal” atau sedikit tidak normal, belum menunjukkan kegentingan yang dihadapi oleh masyarakat luas dan tekanan sosial yang amat berat.

Berita Baik COVID-19, Semoga Berlanjut


Hari ini (16/4), terjadi lonjakan luar biasa jumlah pasien coronavirus COVID-19 yang dinyatakan sembuh, dari hanya 20 pasien kemarin menjadi 102 pasien atau kenaikan lebih lima kali lipat. Juga tergolong peningkatan sangat tajam jika dibandingkan dengan rerata harian selama seminggu sebelumnya yang berjumah 32 pasien.

Berita baik kedua, dalam dua hari berturut-turut jumlah pasien sembuh lebih banyak ketimbang jumlah kematian.

Karena tambahan kasus positif harian (daily cases) masih mengalami trend peningkatan, maka kasus aktif (active cases) pun masih terus meningkat dan tampaknya masih jauh untuk mencapai titik puncak. Namun, untuk pertama kalinya hari ini jumlah kumulatif pasien sembuh sudah lebih banyak dari jumlah kumulatif kematian. Ini berita baik ketiga.

Jika kita mampu menekan jumlah kasus positif baru, mempercepat penyembuhan, dan menekan kematian, maka puncak kurva bisa lebih cepat seperti yang telah dialami Iran. Jerman, Swiss, Korea Selatan, dan China telah melampauai fase ini lebih awal.

Walapun jumlah kasus di Indonesia relatif sedikit, di urutan ke-37, namun tingkat kematian (case fatality rate/CFR)) tergolong tinggi, yaitu 9,0 peren. Di antara negara dengan penduduk di atas 10 juta, CFR Indonesia berada di urutan ke-13 di dunia dan tertinggi di Asia.

Jumlah kasus yang relatif rendah dengan tingkat kematian yang relatif tinggi di Indonesia boleh jadi karena jumlah test sangat rendah. Baru dilakukan 30.000 test sejauh ini atau hanya 132 test per satu juta penduduk. Di Malaysia sudah 87,183 test atau 2.694 test per sejuta penduduk. Vietnam yang jumlah kasusnya sangat sedikit (268) dan belum ada kasus kematian telah melakukan 135.938 test atau 1.398 per satu juta penduduk.

Setiap celah yang bisa mengakibatkan lonjakan dan pemburukan patut kita tutup rapat-rapat. Yang terpenting adalah menekan jumlah pemudik. Terlalu mahal ongkos yang harus ditanggung jika terjadi gelombang mudik sekalipun hanya sepertiga dari biasanya.

Berharap Coronavirus di Indonesia Tak Seganas di AS dan Eropa


Sampai hari ini pk. 16:16, jumlah kumulatif pengidap coronavirus COVID-19 di dunia (210 negara dan teritori) mencapai 1.786.769 orang. Ada pun yang meninggal dunia telah menembus 100.000 orang, persisnya 109.275 orang. Dengan demikian, tingkat kematian karena coronavirus (case fatality rate/CFR) dunia adalah 6.1 persen.

CFR Indonesia tertinggi di Asia. Bidang berwarna biru adalah negara dengan penduduk di atas 10 juta dan yang berwarna kuning adalah negara dengan penduduk di bawah 10 juta.

Sudah barang tentu CFR Indonesia juga tertinggi di ASEAN. Ada tiga negara ASEAN yang belum mengalami kasus kematian, yaitu Vietnam, Cambodia, dan Laos. Dua tetangga dekat kita (Timor-Leste dan PNG) sejauh ini masing-masing hanya ada dua kasus terkonfirmasi dan tidak ada kasus kematian.

CountryPopulation (2018)Total casesTotal deathsCase fatality rate
Indonesia267,663,4354,2413738.795
Myanmar53,708,3953837.895
Philippines106,651,9224,6482976.390
Malaysia31,528,5854,683761.623
Thailand69,428,5242,551381.490
Brunei Darussalam428,96213610.735
Singapore5,638,6762,29980.348
Vietnam95,540,39525800.000
Cambodia16,249,79812200.000
Lao PDR7,061,5071800.000
Timor-Leste1267972200.000
Papua New Guinea8606316200.000

Jumlah kematian di Indonesia lebih banyak ketimbang jumlah pasien yang telah sembuh.

Akumulasi kasus yang terjangkit coronavirus di Indonesia hari ini (12/4) berjumlah 4.241 orang. Sebanyak 359 pasien dinyatakan telah sembuh dan 373 orang meninggal dunia. Sisanya adalah kasus aktif (active cases).

Banyak kajian dengan menggunakan modelling mengindikasikan kasus di Indonesia jauh lebih banyak daripada yang setiap hari dilaporkan oleh juru bicara Gugus Tugas COVID-19, setidaknya puluhan kali lipat.

Jika pengujian cepat dan pengujian lainnya lebih banyak, maka diperkirakan sampai beberapa minggu ke depan jumlah kasus akan terus meningkat. Ada yang memperkirakan puncak kasus terjadi bulan Mei sampai Juni.

Jika kita membandingkan dengan kasus global, tampak bahwa pola Indonesia masih menunjukkan bahwa puncak pada fase awal pun belum terjadi. Untuk kasus global, jumlah yang sudah sembuh jauh lebih besar ketimbang jumlah kematian. CFR global adalah 6,1 persen. Jadi CFR Indonesia di atas CFR dunia.

Iran adalah salah satu negara yang telah mengalami fase stabil dengan active cases yang sudah menurun. Jumlah kematian harian juga mengalami penurunan, walaupun kembali meningkat dalam dua hari terakhir. Yang menggembirikan jumlah yang sembuh terus menunjukkan peningkatan dan jauh di atas jumlah kematian.

Setelah kawasan Jobodetabek ditetapkan dengan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kita berharap puncak wabah coronavirus akan lebh cepat dengan kurva yang melandai.

Kuncinya adalah faktor jumlah pemudi, terutama dari Jabodetadek.