Lanjut ke konten

Nasib Kopi Indonesia Semoga Tak Seperti Gula


Kamis lalu (30/4), saya menerima kiriman dua bungkus kopi Sarongge masing-masing 250 gram dari Mas Tosca Santoso. Saya sudah menikmati varian 1535 (100 persen Arabica). Ketika membuat tulisan ini, saya ditemani secangkir kopi yang saya seduh dengan menggunakan moka pot. Sunguh nikmat dan meninggalkan jejak rasa (after taste) cukup lama. Insya Allah besok saya akan mencoba varian Ki Hujan yang diracik dengan sedikit Robusta.

Perjuangan tak kenal lelah dan totalitas Mas Tosca membina petani dari nol telah membuahkan hasil yang membanggakan. Ia menggunakan pendekatan community development sebagai bagian dari pelestarian hutan.

Sebagian besar produksi kopi nasional dihasilkan oleh perkebunan rakyat. Pada tahun 2019, perkebunan rakyat menyumbang 96 persen produksi nasional yang berjumlah 761,1 ribu ton.

Sejak masa kolonial, kopi merupakan salah satu andalan ekspor Indonesia. Komoditas andalan lainnya adalah karet, tembakau, kopra, dan gula. Minyak bumi mulai diekspor sekitar tahun 1910 dan di puncak kejayaan pada tahun 1977 ketika produksi mencapai tingkat tertinggi sebanyak 1,7 juta barrel per hari. Produksi minyak sekarang tak sampai separuh dari tahun 1977.

Sayangnya gula meredup. Indonesia terakhir kali mengekspor gula pada tahun 1967. Lambat-laun Indonesia menjadi negara pengimpor gula. Impor gula meningkat pesat sejak 2011 dan mencapai puncaknya tahun 2018. Dalam sepuluh tahun, impor gula meningkat 5 kali lipat. Sangat ironis, Indonesia yang tadinya pengekspor gula terpandang di dunia menjelma sebagai pengimpor, bahkan sejak 2016 menjadi pengimpor gula terbesar di dunia. Puncak impor terjadi tahun 2018. Manisnya rente impor gula tak terperikan, keuntungannya mencapai triliunan rupiah. Lihat Benalu di Lingkungan Presiden.

Keuntungan trilunan rupiah diperoleh para pemburu rente ketika pemerintah mematok harga eceran gula tertinggi Rp12.500 per kg. Bayangkan sekarang harga gula terus merangkak naik mendekati Rp20.000 per kg. Tak terdengar lagi “polisi pasar” menindak pedagang yang menjual di atas harga eceran tertinggi.

Ada tanda-tanda dunia perkopian Indonesia mengalami kemunduran. Indonesia sempat menjadi negara pengekspor kopi terbesar ketiga di dunia. Namun, mulai tahun 2000-an, Vietnam menyusul Indonesia dan sejak 2006 Vietnam telah menjadi negara pengekspor terbesar kedua setelah Brazil. Posisi Indonesia tahun 2019 melorot di urutan keenam.

Produktivitas tanaman kopi di Indonesia relatif rendah, tak beranjak dari kisaran 600-700 kg per hektar, jauh tertinggal dari Vietnam yang mencapai hampir 3 ton per hektar.

Pada tahun 2018 terjadi lonjakan impor kopi, dari hanya 14 ribu ton tahun 2017 menjad 79 ribu ton. Sebagian besar impor berasal dari Vietnam, yaitu 31,7 ribu ton. Tentu saja hampir semua adalah Robusta yang merupakan andalan Vietnam. Negeri ini memang pengekspor Robusta terbesar di dunia. Robusta impor ini terutama diserap oleh industri pengolah kopi yang tidak membutuhkan kopi berkualitas tinggi.

Jika kita lengah dan salah arah dalam menerapkan kebijakan perkopian nasional, boleh jadi sebentar lagi Indonesia bakal menjadi pengimpor neto kopi.

Sosok seperti Mas Tosca sangat dibutuhkan untuk memajukan kopi Indonesia sekaligus menyejahterakan petaninya. Riset mutlak harus digalakkan.

Memasuki tahun 2020 harga kopi Robusta terus tertekan dan kembali di bawah US$2 per kg. Sebaliknya harga kopi Arabica mulai mencoba bangkit dan menembus US$3 per kg dalam lima bulan terakhir.

faisal basri Lihat Semua

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development.

His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003).

He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement.

Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.

11 tanggapan untuk “Nasib Kopi Indonesia Semoga Tak Seperti Gula Tinggalkan komentar

    • Data menggunakan HS 0901: COFFEE, WHETHER OR NOT ROASTED OR DACAFFEINATED; COFFEE HUSKS AND SKINS; COFFEE SUBSTITUTES CONTAINING COFFEE IN ANY PROPORTION. Jadi semua jenis kopi. Jerman memang terkenal kopi olahannya, kebanyakan kopi instan yang harganya berlipat-lipat dari biji kopi. Beberapa waktu lalu saya dapat kiriman kopi instan dari Jerman.

  1. Tulisan luar biasa yang menhenyakkan kesadaran saya.
    Ngeri nasib gula.
    Apakah ada peluang gula bangkit lagi?
    Untuk kopi agar makin perkasa ekspor bidang apa saja yang perlu segera riset mendalam?
    Matur suwun…

  2. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Selamat malam Pak Faisal Basri
    Saya ERFAN, mantan staf ahli Bupati Bondowoso saat seminar Pengembangan Potensi Ekonomi Wilayah di Bondowoso thn 2009, yg menjemput bpk di bandara Juanda dan menemani waktu ke kebun Blawan PTPN XII

    Saya menjd sangat prihatin stlh membaca artikel bpk ttg prospek kopi Indonesia.
    Sebagai orang yg pernah diberi tugas mengembangkan klaster kopi arabika rakyat JAVA IJEN RAUNG Bondowoso sungguh terusik dg perkembangan perkopian di Indonesia. Upaya meningkatkan produksi dan kualitas kopi rakyat itu seperti tdk berarti. Selama kurang lebih 2 thn saya ikut mengembangkan klaster kopi rakyat di Bondowoso yg sdh bersertifikat IG dr Kemenkum HAM RI thn 2013, ketika saya diberi tugas di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bondowoso.
    Saya memang merasakan kurang adanya greget pemerintah dlm mendorong pengembangan perkopian Indonesia. Upaya memperluas pasar terasa sangat lemah. Bahkan kegiatan promosi produk kopi Indonesia di luar negeri sangat minim. Peran Kementerian Perdagangan jg sangat jauh dr harapan. Pengerahan kekuatan kantor perwakilan kita di luar negeri msh konvensional. Sepertinya tdk ada insentif yg bisa mendorong peningkatan ekspor produk kopi Indonesia. Saya makin mengetahui kekurangan aktifitas promosi itu stlh anak sendiri ditugaskan di KBRI Bucharest – Rumania. Dan saat inipun saya msh di Bucharest. Tetapi rencana promosi mandiri ke Milan, Dhoha dan Moldova tdk bisa terlaksana akibat wabah virus corona. Semoga masih ada harapan utk mempertahankan posisi kopi Indonesia di pasar global. Terima kasih. Wassalam

    • Wa’alaikumussalam wrwb.

      Pak Erfan yb. Teringat kembali ketika mengunjungi Ijen dan sempat menyeruput kopi yang nikmat. Teringat pula penjelasan betapa telatennya para pengelola perkebunan di masa klonial. Juga ketika melihat proses menghasilkan kopi luwak.

      Kawan-kawan saya yang berkecimpung langsung membina petani juga mengeluh tak ada sama sekali bantuan pemerintah untuk petani kopi. Riset sudah lama dilupakan sehingga produktivitas tetap rendah.

      Teman-teman di Lampung dengan inisiatif sendiri berupaya membantu patani kopi agar harga kopi di tingkat petani lebih baik. Sungguh sangat berat menghadapi pedagang besar yang memiliki jaringan hingga ke desa-desa.

      Saya masih menaruh harapan besar kopi kita bisa dikelola lebih baik dan lebih menyejahterakan petani.

      Setuju sekali tentang peranan perwakilan luar negeri perlu ditingkatkan.

      Semoga sehat selalu, Pak.

      Tabik
      faisal basri

  3. Padahal masih banyak kopi2 petani lokal yg belum terserap ke industri & akhirnya terpaksa dijual murah. Pada akhirnya yg mendapat banyak untung dari gelombang kopi yg hits itu bukan petani

    • Betul sekali. Perkopian dunia dikuasai tak lebih dari lima jari. Mereka semakin mencengkeram dan mendikte harga. Jaringannya sampai ke desa-desa. Mereka tak perlu kualitas, yang penting harga murah

  4. Sebenarnya masalah kopi atau gula tidak seperti yg ditulis diatas. Sejarah kopi cukup panjang , bahkan sebenarnya VOC beruntung besar dari perdagangan Kopi bukan dari sekedar rempah-rempah. Tanam paksa 40 tahun menghasilkan lebih dari 200 trilyun (setara uang sekarang) , belum lagi yang ditanam di lahan-lahan keraton jogja-solo (lihat buku nya Keraton dan Kompeni nya , Vincent J.H Houben).

    Tanam kopi kita bisa per pohon mencapai 5 kg (Lini-S-Arabica) pada umur 4 tahun dan apabila satu hektar ada 2000 an tanaman , maka produktivitas bisa mencapai 10 ton per ha per panen , atau kalau kondisi baik dapat 20 ton per ha per tahun. .

    Yang jadi masalah utama adalah penangan pasca panen yang tidak pernah terjadi secara serius. Misalnya , dari petik merah kopi dan di kupas (pulper) tidak boleh lebih dari 8 jam. Keterbatasan pengetahuan hulu hilir proses ini yang jadi masalah utama.

  5. Betul , tapi sebenarnya ini karena kita tidak paham apa yang terjadi di lapangan . Robusta temanggung sudah lama per ha diatas 3 ton – 5 ton , dan robusta temanggung ini juga cukup besar produksi nya baik masuk ke pasar lokal atau dibeli untuk di export.

    Yang jadi masalah adalah edukasi di semua lini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: