Lanjut ke konten

Penanganan Coronavirus Tak Bertaji


Data per 9 Maret pk.11:44.

Wabah coronavirus (COVID-19) terus menjelajah ke seantero penjuru dunia. Jejaknya telah hadir di setiap benua kecuali Antartika. Hingga Senin siang (9/3), lebih dari 110 ribu jiwa di 109 negara telah terjangkit virus yang asal muasalnya dari Wuhan, China.

Coronavirus jauh lebih dahsyat dari SARS yang terjadi pada 2002-2003. Dampaknya terhadap perekonomian dunia juga demikian.

Perekonomian China dalam kancah dunia tahun 2003 belum seberapa. Sekarang China sudah menjelma sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia.

Kecepatan penularan kini telah bergeser dari China ke luar China. Lebih dari seperempat yang pernah dan masih terjangkit berada di luar China, terbanyak di Italia. Selain terbanyak, Italia juga menjadi negara yang tercepat penambahan penderitanya dan terbanyak jumlah kematiannya di luar China. Di Asia, Iran terbanyak merenggut nyawa dan tercepat penambahan korban tertular.

Data 9 Maret sementara.
.Source: worldometer.info

Senin (8/3) sejauh ini tercatat sebagai hari paling mematikan dengan jumlah 228 orang wafat. Rekor sebelumnya, 158 orang, terjadi pada 23 Februari.

Data 9 Maret sementara
Source: worldometer.info

Sejauh ini tak ada yang bisa memperkirakan berapa banyak lagi negara yang bakal dijamah coronavirus dan hingga kapan bakal mereda atau sirna dari muka bumi. Obat mujarabnya pun belum tersedia.

Sampai hari Senin (9/3), berdasarkan pengumuman resmi pemerintah, korban yang positif terjangkit coronavirus di Indonesia hanya enam orang. Cara pemerintah menangani wabah coronavirus sangat buruk. Setiap pejabat tinggi seenaknya mengeluarkan komentar dan kebijakan. Sudah saatnya Presiden sebagai commander in chief menertibkan dengan keras jajaran di bawahnya. Karena, yang sedang kita hadapi mirip dengan perang.

Gambar

Segala daya upaya harus mengutamakan agar penularan tidak meluas. Celah sekecil apa pun harus ditutup, Kemungkinan munculnya cluster baru harus diantisipasi dan diisolasi agar terkendali dan tidak meluas.

Anggaran harus diprioritaskan bagi pengadaan perlengkapan dan alat pendeteksi dini dan pengujian menyeluruh serta penguatan tenaga medis yang cakap serta penyediaan informasi yang lebih rinci dan akurat. Semua itu bertujuan untuk meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah mampu mengendalikan wabah coronavirus, sehingga tidak menimbulkan kepanikan.

Strong public health response adalah kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan kredibilitas pemerintah.

Jangan buat kebijakan yang justru berpotensi meningkatkan penyebaran wabah. Jangan mengambil langkah tanpa pemahaman mendalam atas peta persoalan dan tanpa berdasarkan data.

Kebijakan pemerintah memberikan diskon tiket pesawat terbang serta pembebasan pajak hotel dan restoran bukanlah kebijakan yang tepat. Tanpa diskon pun tarif tiket pesawat dan hotel sudah dicukur habis-habisan oleh pengusaha. Tanpa dikomandoi pun, mereka sudah banting harga. Alihkan saja dana ratusan miliar itu untuk pengadaan peralatan, perlengkapan, dan pelatihan kilat bagi tenaga medis dan rumah sakit. Dana pengganti untuk daerah dari penghapusan pajak hotel dan restoran bisa dialokasikan untuk memperkokoh kapasitas daerah dalam menghadapi wabah, karena merekalah garda terdepan dalam memerangi coronavirus.

Silakan saja Bank Indonesia menurunkan bunga acuan, tetapi jangan berharap banyak bakal berdampak signifikan.

Identifikasilah kebijakan-kebijakan yang bisa meredam dampak negatif dari gangguan rantai pasokan akibat kesulitan penyediaan bahan baku dan komponen. Jika ada celah mengisinya dari produk lokal, genjotlah! Ini momentum bagus untuk memajukan industri dalam negeri, bahkan untuk mengisi celah pasar ekspor.

Dunia dibikin limbung oleh kehadiran coronavirus. Perekonomian dunia kian tidak menentu. Pasar finansial dunia goncang. Senin siang (9/3) harga minyak terjun bebas.

Harga 9 Maret pk.12:31.
Sumber: Wall Street Journal.

Antisipasilah dengan seksama dampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Bloomberg menghitung dampak coronavirus terhadap kemerosotan pertumbuhan ekonomi berbagai negara dengan mengedepankan empat skenario.

Skenario pertama, sebatas pukulan besar kepada China dan menyebar ke seluruh dunia. Jika ini yang terjadi, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tertekan sebesar 0,3 persen dari perkiraan baseline tanpa kehadiran coronavirus.

Skenario kedua (wabah menyebabkan disrupsi yang terlokalisir) tidak mencantumkan dampaknya terhadap Indonesia.

Untuk skenario ketiga (penularan yang menyebar luas), pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terpangkas sebesar 2,8 persen. Jika kita menggunakan baseline sebesar 5,0 persen untuk tahun 2020 sebagaimana diprediksi oleh Dana Moneter Internasional (IMF), maka pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bakal hanya 2,2 persen.

Yang paling suram adalah skenario keempat, yaitu pandemik global. Jika skenario ini yang terjadi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya 0,4 persen.

Semua kemungkinan di atas patut diwaspadai. Segala potensi yang berserakan harus kita himpun. Singkirkan dulu benih-benih yang berpotensi memecah belah kekuatan Bangsa.

Untuk itu, bekukan dulu rancangan undang-undang Omnibus Law Cipta lapangan Kerja. Singkirkan kalau landasan pijaknya lemah.

[Dikoreksi 9 Maret 2020. Kalimat dan peraga tentang pendatang dari China tidak dilarang ternyata tidak benar dan oleh karena itu dihapus.]

faisal basri Lihat Semua

Faisal Basri is currently senior lecturer at the Faculty of Economics, University of Indonesia and Chief of Advisory Board of Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA). His area of expertise and discipline covers Economics, Political Economy, and Economic Development.

His prior engagement includes Economic Adviser to the President of Republic of Indonesia on economic affairs (2000); Head of the Department of Economics and Development Studies, Faculty of Economics at the University of Indonesia (1995-98); and Director of Institute for Economic and Social Research at the Faculty of Economics at the University of Indonesia (1993-1995), the Commissioner of the Supervisory Commission for Business Competition (2000-2006); Rector, Perbanas Business School (1999-2003).

He was the founder of the National Mandate Party where he was served in the Party as the first Secretary General and then the Deputy Chairman responsible for research and development. He quit the Party in January 2001. He has actively been involved in several NGOs, among others is The Indonesian Movement.

Faisal Basri was educated at the Faculty of Economics of the University of Indonesia where he received his BA in 1985 and graduated with an MA in economics from Vanderbilt University, USA, in 1988.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: