Pengelolaan BUMN dan Kereta Kencana


pixabay.com
pixabay.com

Kereta kencana yang dihela empat kuda jantan mengangkut penuh lampu kristal menuju tempat peristirahatan raja di puncak bukit. Medan yang dihadapi sepanjang perjalanan tidaklah mudah: jalan berkelok bertabur kerikil tajam, tidak ada lampu penerang jalan pada malam hari, tak jarang melalui jurang menganga di kedua sisi jalan,  dan kala melalui jalan mendatar harus menembus hutan belanta, serta tidak ada petunjuk jalan padahal kerap menemui jalan bercabang.

Baru di kelokan pertama sudah terdengar gemuruh teriakan kelompok demogog-populis. Dari arah atas, bertengger di pepohonan rimbun, beberapa orang memanah dan melontarkan batu sebesar telur angsa dari ketepel. Ratusan meter kemudian menyeruak kawanan xenophibia menghadang. Mendekati tujuan akhir, muncul kawanan begal hendak merampas lampu-lampu kristal.

pinterest.com
pinterest.com

Kusir harus cekatan mengendalikan kuda-kuda penghela yang kerap meringkik berlawanan arah ketika menghadapi berbagai rintangan dan ancaman. Juga ketika ada kuda yang berulah melangkah tak seirama dengan tiga kuda lainnya.

Kusir harus berbekal peta agar tidak tersesat tatkala menembus rimba belantara. Asisten kusir harus selalu waspada setiap saat menghadapi para pengganggu. Kusir dan asisten kusir wajib saling bahu membahu dan berkomunikasi dengan frekuensi yang sama agar tidak terjadi salah paham. Pembagian tugas harus jelas, tidak boleh sesuka hati. Mereka harus sepakat bulat kapan memecut kuda agar berlari lebih kencang dan kapan berhenti sejenak mengatur strategi untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk.

ebay.ca
ebay.ca

Tim kusir tentu harus merupakan sosok-sosok yang sangat dipercaya oleh si empunya lampu kristal. Rekam jejaknya terpuji, tidak pernah menyalahgunakan kepercayaan yang diembannya, amanah, kredibel, dan konsisten. Ditambah dengan integritas tinggi, kereta kencana terjamin sampai ke tujuan dengan seisinya utuh tanpa kerusakan berarti.

***

Mengelola badan usaha milik negara (BUMN) tentu saja lebih pelik karena banyak pemangku kepentingan terlibat atau merasa berhak pula untuk bersuara.

BUMN yang berjumlah 118 dengan sekitar 800 anak-cucu memiliki latar belakang, sejarah, karakteristik bisnis, ukuran, misi, fungsi, peranan, dan permasalahan yang berbeda-beda. Perlu terlebih dahulu memetakan seluruh BUMN agar kita paham betul tentang keberadaan masing-masing BUMN sesuai dengan hakekat keberadaannya.

artcrystal.cz
artcrystal.cz

Boleh jadi, lingkungan strategis suatu BUMN dewasa ini telah sangat berubah dibandingkan ketika dilahirkan. Misalnya, negara memandang perlu membangun industri sandang untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya. Usaha swasta yang ada di bidang sandang mengalami keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Oleh karena itu, pemerintah menjadi pelopor untuk meningkatkan produksi sandang dengan menghadirkan industri bahan baku yang dibutuhkan oleh pelaku usaha yang dikelola oleh swasta di hilir. Ketika swasta sudah mampu, negara undur diri.

Secara azali, kehadiran BUMN dan sekaligus yang membedakannya dengan perusahaan swasta adalah faktor eksternalitas atau maslahat sosial. Jika dalam proses inventarisasi dalam rangka pemetaan BUMN faktor eksternalitas ini tidak ada sama sekali, maka BUMN tak lagi perlu dipertahankan. Kerangka konseptual versi penulis maupun versi PwC bisa membantu memetakan BUMN dan bentuk penanganannya. Jadi, tidak ada solusi tunggal untuk menangani atau mengelola BUMN.

konseppwc

Di sinilah persoalan utama dengan konsep Kementerian BUMN yang menerapkan solusi tunggal: holding BUMN. Menurut salah seorang petinggi Kementerian BUMN, ultimate goal dari holdingisasi BUMN adalah terbentuknya super holding semacam Temasek di Singapura dan Hasanah di Malaysia. Rasanya harus berpikir ulang untuk meniru konsep Singapura dan Malaysia. Konteks dan lingkungan strategis di kedua negara itu sangat berbeda dengan Indonesia. Bukankah sebetulnya kita sudah memiliki super holding yang tak lain tak bukan adalah Kementerian BUMN yang tak dimiliki oleh Singapura dan Malaysia?

Namun, tetap ada yang perlu ditiru, terutama praktek yang mengikuti best practices di dunia. Sebagai contoh, untuk perbankan, pilihan yang lazim dan mengikuti best practice adalah konsolidasi perbankan lewat merger dan akuisisi. Nah, di Indonesia yang dipilih adalah lewat holding. Anehnya lagi, induk holding adalah PT Danareksa yang bukan bank.

Alasan pemilihan induk holding bank sama dengan pemilihan induk-induk holding lainnya. PT Inalum memimpin holding “tambang” atau “industri pertabangan,” PT Perumnas memimpin holding perumahan, PT Pertamina memimpin holding migas. Satu-satunya kriteria induk holding adalah karena pemilikan sahamnya 100 persen oleh negara, bukan karena kompetensi, senioritas, ukuran, citra terpuji, dan lain-lain.

Dengan konsep holding, bank BUMN tetap ada empat. Tak terjadi konsolidasi perbankan di tanah air. Pemerintah sendiri dan otoritas perbankan (OJK) mendorong terjadinya konsolidasi perbankan nasional, tetapi tidak memberikan contoh untuk dirinya sendiri. Pantas saja peranan perbankan di Indonesia untuk memajukan usaha di Indonesia sangat tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga.

Perbankan adalah jantung utama perekonomian yang fungsinya menyedot “darah” dari masyarakat dalam bentuk dana pihak ketiga (giro, tabungan, dan deposito) dan memompakan kembali “darah” ke masyarakat dalam bentuk kredit. Sampai sekarang, fungsi “jantung” perekonomian Indinesia belum kunjung pulih dari posisi sebelum krisis. Bagaimana mungkin pertumbuhan bakal mencapai 7 persen kalau kemampuan memompakan darah ke sekujur perekonomian masih sedemikian lemah.

Di kawasan ASEAN, bank terbesar kita (Bank Mandiri) hanya menduduki posisi ke-11 berdasarkan aset. Posisi tiga teratas diisi semuanya oleh Singapura, posisi keempat sampai keenam semuanya oleh bank Malaysia, dan posisi ketujuh sampai kesepuluh semuanya oleh Thailand. Jika Bank Mandiri dan Bank BNI digabung menjadi Bank “Nusantara” seketika naik ke urutan ketujuh.

credit-1credit-2

 

topno

Kita bukannya menentang konsep holding. Yang kita persoalkan adalah holding sebagai solusi tunggal dan logika pemilihan induk holding.

Yang lebih penting lagi, sebaik apa pun konsep yang dipilih, kalau kusir tidak kredibel, kereta kencana akan sulit sampai ke tujuan dengan selamat.

Akar masalahnya ada pada sosok Sang Menteri. Seraya membenahi beberapa BUMN dengan konsep holdingnya, beberapa BUMN lain ia rusak. Contoh yang paling anyar adalah menyuruh Perum Bulog mengambil alih pabrik gula milik swasta murni yang bobrok, yang kredit macetnya di Bank BRI (bank BUMN dan sudah go public) lebih satu triliun rupiah. Bulog merogoh kocek puluhan miliar rupiah untuk diberikan kepada pemilik lama, dan pemilik swasta masih diberikan pemilikan saham 30 persen. Bulog dan BRI kena getahnya. Bukankah Bulog merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan yang bertugas melakukan stabilisasi harga pangan? Mengapa dipaksa masuk ke industri yang bukan merupakan kompetensinya? Bukankah pemerintah telah memiliki puluhan pabrik gula yang kebanyakan terseok-seok?

Konsistensi jadi sirna, membuat konsep yang bagus sekalipun jadi kehilangan legitimasinya.

 

 

Presiden: “New Normal!!!” Apa Iya?


rebecaschiller.com
rebecaschiller.com

Harian Kompas hari ini (29/11) mewartakan pidato Presiden pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia kemarin. “Presiden menyampaikan, situasi saat ini adalah situasi normal baru. Banyak perbedaan dan pergeseran yang mengubah perekonomian dunia dan nasional. Pada periode harga komoditas yang tinggi, pertumbuhan konsumsi rumah tangga bisa mencapai 17 persen. Namun, saat ini konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,93 persen.”

 

Perekonomian dunia dan Indonesia memang telah banyak berubah.

Dalam tataran makroekonomi misalnya, sejumlah ekonom meyakini Phillips curve yang menjelaskan hubungan negatif antara inflasi dan pengangguran tak lagi hadir atau setidaknya meredup di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Tidak semua ekonom mengamini, antara lain Olivier Blanchard dan Janet Yellen. Muncul pula fenomena secular stagnation  sebagaimana dikemukakan Lawrence Summers yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi rendah beriringan dengan inflasi rendah dan suku bunga rendah di negara-negara maju. Yang tidak sepakat pun cukup banyak. Jika beberapa fenomena baru belum beroleh konsensus, apatah lagi cara menanganinya.

phillips_curve

Telah hadir pula Revolusi Industri IV dan era ekonomi digital. Jika fenomena makroekonomi baru sebatas terjadi di negara-negara maju, era ekonomi digital telah merasuk ke seluruh penjuru dunia. Inilah pesan penting Presiden Joko Widodo. Kita sudah memasuki era baru: pola pikir harus berubah dan pendekatan pembangunan pun harus berubah.

Betapa penting memahami perubahan dalam konteks. Kita potret dulu persoalan mendasar yang menghadang dan akar masalahnya. Apakah kita sudah berada di jalur yang benar sehingga yang dibutuhkan adalah penguatan dan percepatan atau kita berada di rel yang salah.

Kembali ke ucapan Presiden. Data menunjukkan sepanjang sejarah Indonesia merdeka, pertumbuhan konsumsi rumahtangga hampir mencapai 17 persen hanya sekali, yakni pada 1981. Sejak 1979 sampai 1981 konsumsi rumah tangga tumbuh dua digit. Tetapi setelah itu anjlok menjadi 3,4 persen. Pertumbuhan dua digit hanya terjadi sekali  sebelumnya pada 1974 dan setelahnya pada 1995. Boom komoditas memang menjadi pemicunya. Namun, boom komoditas terakhir hanya mampu mendongkrak pertumbuhan konsumsi rumahtangga ke aras tertinggi 5,5 persen pada 2012-2013.

cp
Sumber: Bank Dunia

Setelah krisis ekonomi 1998 pertumbuhan konsumsi rumahtangga tak pernah menembus 6 persen. Pada periode yang sama, pertumbuhan konsumsi rumahtangga di China dan India relatif jauh lebih tinggi dari Indonesia. Bahkan, China menikmati pertumbuhan rerata 11,1 persen selama 1991-2016 (data yang tersedia hanya sejak 1991). Sementara itu, India menunjukkan akselerasi pertumbuhan konsumsi rumahtangga.

Dibandingkan dengan Filipina dan Malaysia pun, pertumbuhan konsumsi rumahtangga Indonesia kerap lebih rendah. Tampak jelas pola di Indonesia mendatar, seolah kekurangan tenaga untuk mengakselerasi.

c

Jangan-jangan pola Indonesia menunjukkan ketidaknormalan sudah sejak lama, sebelum fenomena baru dunia sekalipun.

Banyak faktor di balik fenomena ganjil yang dialami Indonesia. Antara lain adalah transformasi struktural yang tidak mulus atau tidak mengikuti pola normal. Industrialisasi meredup ketika kita belum mencapai tingkat matang berindustri. Pekerja informal lebih banyak ketimbang pekerja formal. Pekerja di sektor pertanian masih dominan sedangkan peranannya di dalam produk domestik bruto turu lebih cepat. Akibat dari semua itu, nisbah pajak rendah dan bahkan terus turun.

Perlu cetak biru baru bagi Indonesia agar terhindar dari middle income trap.

Presiden berjanji menawarkan strategi baru setelah melakukan akselerasi pembangunan infrastruktur.

 

 

Faisal Basri Kritik ‘Kawin Paksa’ Holding BUMN Tambang


Setyo Aji Harjanto , CNN Indonesia | Selasa, 28/11/2017 15:39 WIB
Faisal Basri Kritik 'Kawin Paksa' Holding BUMN TambangEkonom Universitas Indonesia, Faisal Basri menganggap Inalum tidak cocok menjadi perusahaan induk (holding) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang pertambangan. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Jakarta, CNN Indonesia — Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri menganggap, PT Indo Asahan Alumunium (Persero) atau Inalum tidak cocok menjadi perusahaan induk (holding) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang pertambangan.

Inalum nantinya menaungi PT Bukit Asam (Persero) Tbk, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk dan PT Timah (Persero) Tbk.

Faisal Basri menilai, Inalum tidak cocok karena perusahaan tersebut bergerak di bidang Industri atau hilir bukan bergerak di bidang tambang (hulu).

“Jadi ini mah kawin paksa namanya. Ini bukan zaman Siti Nurbaya, jadi ini argumennya enggak ada yang lain, kecuali dia 100 persen milik negara kok. Ini maksa banget menurut saya,” jelas Faisal dalam acara Menakar Untung Rugi Holding BUMN, Jakarta (27/11).

Ia menambahkan, hal ini terkesan dipaksakan karena Inalum memiliki struktur pasar yang berbeda dengan perusahaan tambang yang dibawahinya. Menurut Faisal, struktur pasar dari alumunium, alumina, bauksit, dan batu bara tidak dapat disamakan.

“Batu bara orientasinya ekspor dan dalam negeri, alumunium juga orientasinya ekspor dan dalam negeri, bauksit sebagian besar diekspor. Jadi struktur pasarnya beda. Kalau dipaksakan jadi aneh,” terangnya.

Menurut Faisal, sebaiknya Inalum disinergikan dengan industri yang bergerak di hilir, seperti dengan industri yang memanfaatkan hasil alumunium, contohnya industri pesawat dan mobil.

Holding BUMN tambang efektif berlaku pada 29 November 2017 mendatang setelah pengalihan saham pemerintah pemerintah pada Bukit Asam , Antam dan Timah ke Inalum.

Faisal mengimbau pemerintah harus memiliki acuan yang jelas dalam membentuk Holding BUMN.

“Walaupun tidak ada kewajiban, alangkah baiknya diuji secara akademik, kemudian best practice dilaksanakan dengan baik. Lebih baik konsepnya jelek tapi konsisten, daripada bagus tapi tidak konsisten,” terang Faisal. (gir)

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20171128103700-85-258549/faisal-basri-kritik-kawin-paksa-holding-bumn-tambang/

 

Rongrongan Baru: Defisit Migas


Print
reforminer.com

Cadangan devisa akhir Oktober 2017 turun hampir 3 miliar dollar AS dibandingkan akhir September 2017. Penurunan cadangan devisa itu antara lain karena Bank Indonesia mengamankan nilai tukar rupiah agar tidak merosot lebih dalam pasca Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan dua bulan berturut-turut pada Agustus dan September, sehingga depresiasi rupiah hanya 1,7 persen pada bulan Oktober 2017.

Tekanan terjadi pula karena berbulan-bulan investor asing di pasar saham melakukan penjualan bersih. Lalu lintas modal menikmati peningkatan surplus tertolong oleh peningkatan penanaman modal asing langsung (foreign direct investment).

Tekanan baru muncul dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Sudah memasuki bulan kelima harga minyak mentah terus merangkak naik. Harga rerata harian minyak keranjang OPEC (OPEC basket price) pada November hingga akhir minggu lalu sudah bertengger di atas 60 dollar AS per barrel. Dibandingkan harga rerata harian bulan Juni sudah naik 34 persen.

price

Sementara itu pemerintah telah mengumumkan tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi. Akibatnya permintaan BBM di dalam negeri terus naik tanpa adanya koreksi harga. Karena produksi dalam negeri bergeming, maka impor minyak mentah dan BBM meningkat.

Akibatnya, defisit minyak, terutama BBM, melonjak. Selama Januari-Oktober 2017 impor defisit minyak (minyak mentah dan BBM) mencapai 11,8 miliar dollar AS, naik 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan sudah lebih besar dibandingkan keseluruhan tahun 2016 sebesar 11 miliar dollar AS. Sampai akhir tahun ini defisit minyak berpotensi mendekati atau bahkan melebihi defisit tahun 2015 yang mencapai 14,4 miliar dollar AS.

Defisit minyak Januari-Oktober 2017 sudah melampaui penerimaan devisa dari turis asing Januari-September 2017 sebesar 9,4 miliar dollar AS dan tahun 2016 sebesar 11,2 miliar dollar AS. Kementerian Pariwisata mengklaim tahun ini sektor pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar.

migas

Sedemikian besarnya defisit minyak, sehingga surplus gas tidak bisa menutupi defisit minyak, sekedar separuhnya sekalipun. Secara keseluruhan, perdagangan migas defisit 6,7 miliar dollar AS selama Januari-Oktober 2017.

Gairah Menabung Meningkat, Investasi Sebaliknya


norwichcreditunion.org.uk
norwichcreditunion.org.uk

Ada fenomena kurang lazim terjadi sejak Oktober 2016. Pertumbuhan dana pihak ketiga di perbankan melonjak dari hanya 3,15 persen pada September 2016 menjadi 8,4 persen sebulan kemudian. Setelah itu menembus dua digit dan terus bertahan di kisaran 10 persen dan naik ke aras tertinggi menjadi 11,69 persen pada September 2017.

Peningkatan dana pihak ketiga (giro, tabungan, dan deposito berjangka) sejalan dengan data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan kenaikan tabungan masyarakat. Pada triwulan II-2016, porsi pendapatan masyarakat yang ditabung sebesar 18,60 persen. Pada triwulan yang sama tahun 2017 naik menjadi 20,77 persen. Data yang dilansir Mandiri Institute mengindikasikan peningkatan tabungan dari 20,6 persen pada Juli menjadi 21,1 persen pada Agustus 2017.

Sebaliknya, pertumbuhan kredit perbankan menunjukkan kecenderungan menurun dengan selalu di aras satu digit selama 21 bulan berturut-turut. Pada September 2017 pertumbuhan  kredit kembali turun cukup tajam menjadi 7,86 persen dari 8,26 persen pada bulan sebelumnya. Dengan kecenderungan seperti itu, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit hanya 8 persen pada akhir tahun ini.

credit

Tak ayal, loan-to-deposit ratio (LDR) mengalami penurunan, dari 91,7 persen pada September tahun lalu menjadi 88,7 persen pada September 2017. Tiga bulan terakhir LDR terus turun. Uang masyarakat semakin banyak yang mengendap di perbankan.

Rilis Badan Pusat terakhir melunjukkan pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto atau sederhananya sebut saja investasi, paa triwulan III-2017 naik cukup tajam menjadi 7,11 persen dari 5,35 persen pada triwulan II-2017. Mengingat kredit perbankan cenderung turun, maka boleh dikatakan yang menopang pertumbuhan investasi adalah belanja modal pemerintah, sehingga menyelamatkan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2017 tetap sedikit di atas 5 persen.

Apa gerangan yang terjadi dengan investasi swasta yang masih lemah padahal peringkat kemudahan berbisnis sudah tiga tahun naik sangat tajam? Boleh jadi ada faktor politik yang juga memengaruhinya.

Indonesia Economic and Tourism Outlook 2018


baliCatatan: Hari ini (17/11), komunitas pariwisata Bali menggelar acara ITO 2018 Hospitality Talk dengan tema “Indonesia Outlook 2018: Leveraging Creativity through Digital Emotional Media Revolution in Tourism Industry,” di Ayodya Resort, Nusa Dua.

Bahan yang saya siapkan untuk acara pagi ini merupakan pemutakhiran data (terutama data neraca pembayaran triwulan III yang baru dikeluarkan oleh Bank Indonesia) serta beberapa tambahan dari bahan presentasi acara serupa di Jakarta pada awal November.

Bagi yang berminat, silakan tengok presentasi dalam bentuk pdf:

20171117-ITO_Hospitality_Talk-tourism_outlook

 

Tantangan Meningkatkan Penerimaan Devisa Netto Sektor Pariwisata


Mount Bromo - 10 of The Best Indonesia Tourist Attractions
captureindonesia.com

Pada tulisan sebelumnya (14/11), ditunjukkan penerimaan devisa dari tulis asing yang datang ke Indonesia menunjukkan peningkatakan dari tahun ke tahun tanpa henti, tidak seperti pendapatan ekspor komoditas yang berfluktuasi seperti roller coaster. Data yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia ini lebih rendah ketimbang yang disampaikan oleh Kementerian Pariwisata.

Di sisi lain, pengeluaran devisa yang dibelanjakan oleh pelancong Indonesia di luar negeri juga menunjukkan kecenderungan meningkat sejak 2013 dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya, walaupun tidak secepat devisa yang masuk.

t3

Jika kita menelaah lebih dalam, tampak ada kecenderungan pengeluaran turis asing per kapita mengalami penurunan. Sebaliknya, pengeluaran turis Indonesia di luar negeri menunjukkan peningkatan.

capita

Ada baiknya promosi untuk turis domestik lebih digencarkan mengingat sedemikian banyak obyek wisata di dalam negeri yang bisa dikunjungi yang tak kalah menarik ketimbang obyek wisata di luar negeri.

 

Pertumbuhan di Kawasan Timur Indonesia Melambat


Pemerintah sangat gencar membangun kawasan timur Indonesia. Namun, justru laju pertumbuhan di kawasan itu mengalami perlambatan. Di semua pulau/kelompok pulau (Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, serta Maluku dan Papua) pertumbuhan ekonomi menunjukkan kecenderungan menurun dalam dua tahun terakhir. Yang paling melorot adalah Bali dan Nusa Tenggara. Sementara itu, meskipun mengalami penurunan, Sulawesi masih tumbuh di atas rata-rata nasional dan sekaligus tertinggi.

kti

Sumatera dan Jawa sangat mendominasi dalam pembentukan PDB nasional. Sejak 2010, dominasinya nyaris tidak berubah, sekitar 80 persen. Kaimantan mengalami penurunan, demikian pula dengan Maluku dan Papua. Sebaliknya, Bali dan Nusa Tenggara menunjukkan peningkatan.

pulau

 

 

Sedikit Koreksi untuk Menteri Pariwisata


t-0Tak diragukan lagi, pariwisata Indonesia tumbuh sangat pesat dalam tiga tahun terakhir. Wisatawan mancanegara telah menembus 10 juta pada 2015. Setahun berikutnya tumbuh dua digit (12,6 persen) dan Januari-September tahun ini kian mengakselerasi dengan pertumbuhan tahunan (year-on-year) sebesar 25 persen. Tiga bulan tersisa tahun ini diperkirakan turis asing akan bertambah sekitar 3,5 juta sampai 4 juta.

t-1

Kinerja sektor turisme sudah menonjol  dan memperoleh pengakuan dari dalam negeri maupun luar negeri. Kerja keras pemerintah pusat dan daerah telah membuahan hasil nyata, tanpa harus dibumbui dengan penggunaan indikator yang salah kaprah.

Salah satu contoh yang menunjukkan salah kaprah adalah dengan mengklaim sektor pariwisata bakal menjadi penyumbang devisa terbesar mulai tahun ini. Saya mendengarkan langsung presentasi Menteri Pariwisata pada awal bulan ini. Salah satu peraga yang ditampilkan adalah sumbangan pariwisata berada pada posisi ketiga selama 2013-2015 dan naik ke peringkat kedua pada 2016.

t-2

Pertama, membandingkan sumbangan sektor pariwisata dalam penerimaan devisa dengan ekspor komoditas atau barang tidaklah apple to apple. Di dalam sektor pariwisata terkandung berbagai produk seperti hotel, restoran, transportasi udara, dan mungkin banyak lagi. Sedangkan komoditas ekspor yang diperbandingkan bersifat tunggal. Ada kemungkinan  tumpang tindih di situ.

Sektor lain bisa pula mengklaim seperti sektor pariwisata. Misalnya sektor industri kreatif.

Jika kecenderungan seperti itu semakin menjamur, penerimaan devisa Indonesia menggelembung, lebih besar atau jauh lebih besar dari yang tercatat resmi di neraca pembayaran Indonesia yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.

Data yang disampaikan oleh Menteri Pariwisata saja sudah berbeda dengan data Bank Indonesia.

Menurut data Kementerian Pariwisata, pada tahun 2016 sektor pariwisata menyumbang devisa sebanyak 12,2 miliar dollar AS. Sementara itu, data Bank Indonesia untuk tahun yang sama hanya 11,2 miliar dollar AS.

t3

Kedua, yang dihitung oleh Kementerian Pariwisata hanya devisa yang masuk. Padahal kian banyak orang Indonesia yang melancong ke luar negeri. Menurut survei turisme global yang dilakukan Visa, turis Indonesia berniat melancong lebih jauh, lebih lama, dan lebih banyak pengeluaran per kunjungan. jadi ada baiknya indokator sumbangan devisa pariwisata menggunakan konsep neto. Jika demikian, sumbangan netto sektor turisme dalam penerimaan devisa pada 2016 hanya 3,7 miliar dollar AS, jauh lebih rendah ketimbang batubara dan minyak sawit yang praktis tidak ada impornya.

Memang sumbangan netto sektor pariwisata masih positif. Berbeda dengan ekspor migas yang menduduki posisi teratas hingga 2015, tetapi nilai impornya lebih banyak, sehingga sumbangan netto migas sudah negatif.

Ketiga, mungkin karena khilaf, sumbangan sektor listrik (electricity) pada peraga yang disampaikan menteri Pariwisata menduduki posisi keenam selama 2014-2016. Rasanya kita belum pernah mengekspor listrik. Dari penelusuran terhadap data ekspor, sangat boleh jadi itu bukan listrik, melainkan ekspor kendaraan bermotor dan komponennya (kode HS 87).

Semoga presentasi Pak Menteri di kemdian hari akan jauh lebih akurat.

Selamat bekerja dan sukses selalu untuk dunia pariwisata Indonesia.

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑