Ketika Gelombang Mudik Tak Terbendung


Jakarta adalah episentrum wabah coronavirus di Indonesia. Sekitar separuh kasus terkonfirmasi (confirmed cases) dan jumlah kematian disumbang oleh Jakarta. 

Per 8 April 2020NasionalDKI JakartaPersen DKI Jakarta
Kasus terkonfirmasi2.9561.47049,7
Meninggal24011447,5

Jika pusat episentrum diperluas dengan memasukkan kota/kabupaten di sekitar Jakarta atau Jabodetabek (Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Depok, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi), porsinya mencapai sekitar 70 persen.

Oleh karena itu, keberhasilan mengendalikan penyebaran coronavirus COVID-19 secara nasional sangat bergantung pada penanganan di Jabodetabek. Jangan sampai medan pertempuran meluas dan massif ke seluruh penjuru Tanah Air. Walaupun coronavirus telah menyebar ke 32 provinsi, kita masih punya waktu untuk meredamnya jika episentrum coronavirus bisa ditaklukkan.

Tak terbayangkan jika penyebaran kian merata ke selruh provinsi mengingat daya dukung kita sangat terbatas.

Jumlah dokter per 1.000 penduduk di Indonesia sangat sedikit dan jauh lebih rendah ketimbang negara-negara tetangga. Untuk jumlah perawat dan bidan, Indonesia hanya lebih baik dibandingkan Vietnam dan Iran.

Jumlah tempat tidur di rumah sakit (hospital beds) sangat terbatas.

Masalah semakin pelik karena persebaran dokter, perawat, dan tempat tidur di rumah sakit tidak merata. Lebih mengkhawatirkan lagi kondisi di daerah-daerah tujuan mudik utama. Jumlah dokter per 10.000 penduduk di semua tujuan mudik utama di bawah rerata nasional, dengan Jawa Barat yang paling parah.

Untuk jumlah perawat (tidak termasuk bidan) per 10.000 penduduk, Jawa Barat menduduki peringkat terbawah. Jawa Timur dan Lampung di bawah rerata nasional, sedangkan Jawa tengah sama dengan rerata nasional.

Ketersediaan tempat tidur rumah sakit sama mengkhawatirkannya. Semua tujuan mudik utama di bawah rerata nasional.

Jadi bisa dibayangkan betapa akan tunggang-langgang daerah-daerah tujuan utama mudik jika mengalami ledakan wabah coronavirus yag dibawa oleh pemudik dari pusat episentrum Jabodetabek.

Belum terlambat untuk menerapkan strategi nasional dengan kehadiran komandan perang di pusat medan laga. Sejauh ini, pemerintah daerah di Jabodetabek sudah amat sadar akan bahaya yang menghadang, tidak saja terhadap penduduk mereka, melainkan juga bagi kepentingan nasional.

Jabodetabek butuh panglima perang. Juga Indonesia, tentunya. Teramat berat rasanya kalau diserahkan kepada masing-masing kepala daerah dan kerja sama sesama mereka semata. Sekali lagi, ini bukan persoalan Jabodetabek, melainkan sudah menjadi persoalan nasional yang genting.

Sekalipun Jakarta sudah mulai kewalahan, bagaimanapun kesiapan Jakarta jauh lebih baik ketimbang daerah-daerah tujuan utama mudik. Semoga ini jadi pertimbangan bagi saudara-saudara kita yang hendak mudik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.