Anatomi Defisit Akun Lancar (Current Account)


dailyhunt.id

Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas gambaran umum neraca pembayaran 2018. Untuk memudahkan pembaca, berikut kembali ditampilkan ringkasan neraca pembayaran. Pada tahun 2018, neraca pembayaran Indonesia mengalami tekanan berat akibat pembengkakan defisit akun lancar (current account). Agak tertolong pada triwulan IV terjadi lonjakan arus modal masuk sehingga bisa meredam dampak defisit current account yang meningkat.

Current account menghimpun seluruh transaksi perdagangan luar negeri suatu negara yang meliputi ekspor dan impor barang dan jasa. Jika current account mengalami defisit, berarti negara itu membeli barang dan jasa dari luar negeri (impor) lebih banyak dari menjual barang dan jasa ke luar negeri (ekspor).

Pada tahun 2018, defisit current account Indonesia membengkak hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Ada baiknya kita menelusuri penyebab utamanya.

Mari kita awali dengan mencermati perdagangan barang. Selama kurun waktu 2013-2016, defisit current account beriringan dengan kemerosotan ekspor dan impor barang. Sebaliknya, pada tahun 2017 dan 2018 ekspor dan impor barang mengalami peningkatan. Pada talun 2017, ekspor dan impor meningkatkan masing-masing sebesar 17 persen dan 16 persen. Peningkatan ekspor dan impor yang hampir sama membuat defisit current account tidak menggelembung, bahkan turun dari 1,8 persen PDB tahun 2016 menjadi 1,6 persen PDB tahun 2017.

Pada tahun 2018, impor barang melonjak, tiga kali lebih tinggi dari peningkatan ekspor: impor naik 21 persen sedangkan ekspor naik hanya 7 persen. Akibatnya, untuk pertama kali dalam sejarah Indonesia mengalami defisit perdagangan barang, walau hanya USD 431 juta.

Cukup banyak pemberitaan yang mengutarakan impor minyak sebagai biang keladi defisit perdagangan. Memang impor minyak meningkat tajam dari USD22,9 miliar tahun 2017 menjadi USD29,2 miliar tahun 2018 atau kenaikan sebesar USD6,3 miliar. Akibatnya, defisit minyak (minyak mentah dan BBM) naik dari USD12,8 miliar menjadi USD18,4 miliar atau kenaikan senilai USD 5,6 miliar. Meskipun demikian, minyak ternyata bukan penyebab utama defisit perdagangan barang.

Yang menjadi penyebab utama defisit perdagangan barang (trade deficit) adalah surplus perdagangan nonmigas yang merosot tajam. Tak tanggung-tanggung, perdagangan nonmigas yang pada tahun 2017 masih menikmati peningkatan dari tahun sebelumnya tiba-tiba “terjun bebas” dari USD25,3 miliar menjadi hanya 11,2 miliar atau kemerosotan senilai USD14,1 miliar.

Yang juga menyumbang terhadap pemburukan transaksi perdagangan adalah perdagangan emas. Jika pada tahun-tahun sebelumnya kita menikmati surplus perdagangan emas, pada tahun 2018 berbalik menjadi defisit. Artinya, impor emas lebih besar dari ekspor emas.

Perdagangan barang tertolong oleh surplus gas yang naik senilai USD1,3 miliar.

[Catatan: angka-angka transaksi perdagangan versi Bank Indonesia berbeda dengan versi Badan Pusat Statistik (BPS). Perbedaannya terletak pada angka nilai impor. Versi BI berdasarkan nilai f.o.b. (free on board), jadi nilai barang semata; sedangkan versi BPS berdasarkan nilai c.i.f. (cost, insurance, and freight), jadi meliputi nilai barang plus ongkos angkut dan asuransi. Analisis berdasarkan data BPS bisa dilihat di sini.]

Komponen kedua dari current account adalah jasa nonfaktor, yaitu jasa-jasa yang bukan merupakan faktor produksi. Sepanjang masa komponen ini selalu defisit. Penyumbang defisit terbesar adalah jasa transportasi, terutama angkutan laut. Tahun 2018 Defisit jasa transportasi meningkat relatif tajam sejalan dengan peningkatan impor dan ekspor, mengingat hampir seluruh angkutan barang ekspor dan impor lewat laut dilakukan oleh perusahaan pelayaran asing.

Ironis memang, kita sebagai negara maritim dan negara kepulauan terbesar di dunia tidak memiliki armada yang tangguh di tingkat internasional. Padahal, pada abad II masehi bangsa Nusantau (begitu sebutan di masa itu untuk Nusantara) telah menjejakkan kaki di benua Afrika dengan armada dan sistem navigasi buatan sendiri).

Defisit jasa nonfaktor terbesar kedua dan ketiga ialah jasa telekomunikasi, komputer dan informasi dan pembayaran royalti atas kekayaan intelektual, misalnya software dan film. Yang juga mengalami defisit adalah jasa bisnis lainnya, jasa arusansi dan dana pensiun, jasa keuangan, serta jasa pemeliharaan dan reparasi.

Satu-satunya jasa nonfaktor yang memberikan sumbangan positif relatif besar adalah jasa perjalanan atau pariwisata. Di era pemerintahan Presiden Jokowi, parisiwata menunjukkan perkembangan pesat dan tercermin dari sumbangannya terhadap penerimaan devisa yang selalu meningkat setiap tahun. Beberapa jasa nonfaktor lainnya memberikan sumbangan positif namun tidak signifikan.

Jasa faktor (factor services) terdiri dari dua kelompok, yatu pendapatan primer dan pendapatan sekunder. Kelompok pertama merupakan balas jasa atas faktor produksi tenaga kerja (employment compensation) dan balas jasa atas modal. Indonesia mengalami defisit untuk semua komponen pendapatan primer. Bahkan, sebetulnya, penyumbang defisit curent account terbesar adalah komponen ini, bukan perdagangan barang.

Pada tahun 2018, defisit pendapatan primer turun setelah mencapai puncaknya tahun 2017. Penurunan itu disebabkan oleh berkurangnya bagian laba yang dibawa pulang oleh pemilik PMA (penanaman modal asing) langsung. Penurunan bisa disebabkan oleh penurunan laba atau sebagian laba ditanamkan kembali di Indonesia.

Sementara itu, pendapatan investor asing dari investasi portofolio menunjukkan peningkatan dari USD8,6 miliar tahun 2017 menjadi USD9,7 miliar tahun 2018. Peningkatan terbesar berasal dari pendapatan bunga utang. Artinya, Indonesia (pemerintah dan swasta) membayar bunga lebih banyak pada tahun 2018, yaitu senilai USD6,5 miliar. Angka ini adalah angka netto, yaitu pembayaran bunga ke luar negeri sebesar USD9,0 miliar dikurangi pendapatan bunga dari luar negeri sebesar USD2,4 miliar. [Sekedar catatan, pembayaran cicilan utang dicatat di akun finansial, bukan di current account.]

Komponen terakhir adalah pendapatan sekunder. Penjelasannya bisa dilihat pada tulisan sebelumnya.

***

2 Comments

    1. Ekspor product manufaktur lokal harus di genjot spt halnya Indomie, Batik, CPO dll.
      Mengurangi impor dengan cara berhemat juga penting.
      Menggenjot pengembangan renewable juga penting, spt halnya Geothermal, Hydro dan MiniHydro, PLTBayu, PLTSurya dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.